Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 156717 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Miftah Rizkiawelly Fitri
"Film cepat hancur merupakan alternatif sediaan konvensional yang membutuhkan polimer pembentuk film dengan sifat yang kuat, elastis dan cepat hancur. Koproses merupakan salah satu metode untuk memperoleh eksipien dengan gabungan sifat unggul dua atau lebih eksipien. Penelitian ini bertujuan untuk membuat eksipien koproses MDS-PVP dengan tiga perbandingan, mengkarakterisasinya dan menggunakannya sebagai polimer dalam film cepat hancur. Film cepat hancur dievaluasi terhadap penampilan, rasa, waktu hancur, kekuatan elongasi dan peregangannya. Hasil karakterisasi eksipien koproses MDS-PVP pada tiga perbandingan menunjukkan adanya perubahan sifat fisik dan fungsional, tapi tidak mengubah karakter kimia masing-masing eksipien. MDS- PVP digunakan sebagai polimer dalam formulasi film. Evaluasi film cepat hancur menunjukkan bahwa film dengan MDS-PVP (1:1) sebagai polimer memiliki kriteria yang baik sebagai film cepat hancur dengan waktu hancur 23,3 ± 1,53 detik, sifat mekanik yang baik dan disolusi propranolol HCl lebih dari 80 % pada detik ke- 120 (kurang dari tiga menit). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa MDS-PVP (1:1) dapat digunakan sebagai polimer pembentuk film cepat hancur.

Fast dissolving film is an alternative for conventional dosage form which required film former polymer with good mechanic properties and ability to rapidly disintegrated. Coprocess is one method to obtain an excipient with combination of good properties from two or more excipients. The aim of the study was to produce coprocess excipient of MDS-PVP in three different ratios, characterize it and apply it as polymer in fast dissolving film. Fast dissolving film was evaluated on its appearance, taste, disintegration time, swelling index, elongation break and tensile strength. The results of characterization of co-process MDS-PVP show the difference of physical properties without change in the chemical character of each excipient. MDS-PVP was used as polymert for formulation of fast dissolving film. Film which has MDS-PVP (1:1) as polimer had good criteria as fast dissolving film with disintegration time of 23.3 ± 1.53 seconds. It also showed good appearance, good mechanical properties, and better drug release profile. The results demonstrate that MDS-PVP (1:1) has great potential to be excipient for fast dissolving film."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S47546
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rani Wulandari
"Film cepat hancur dirancang untuk cepat hancur dan larut dalam saliva tanpa bantuan air sehingga dibutuhkan polimer pembentuk film yang cepat melarut. Tujuan penelitian ini adalah membuat maltodekstrin suksinat dari maltodekstrin DE 10-15 sebagai eksipien untuk film cepat hancur. Maltodekstrin suksinat (MDS) diperoleh dengan cara mengesterifikasi maltodekstrin dengan asam suksinat anhidrida pada kondisi basa dalam medium berair dan dikarakterisasi sifat kimia, fisik, dan fungsionalnya.
MDS yang dihasilkan memiliki derajat substitusi sebesar 0,177 ± 0,004, kelarutan dalam aquadest 1: 21, dan indeks mengembang 41,76 ± 1,71% dalam dapar fosfat pH 6,8. Evaluasi formula film cepat hancur menggunakan MDS sebagai eksipien menunjukkan yang baik sebagai film cepat hancur dengan waktu hancur in vitro 24,33 ± 5,86 detik, kekuatan tensil 9,77 kg/cm2 dan pelepasan obat metoklopramid HCl mencapai ± 80% dalam 2 menit. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa MDS dapat digunakan sebagai eksipien untuk film cepat hancur.

Fast dissolving film is designed to rapidly disintegrate and dissolve in saliva without need of water so that it takes the film-forming polymer that dissolves quickly. The aims of this study was to produce the maltodextrin succinate from maltodextrin DE 10-15 as the exipient for fast dissolving film. Maltodextrin Succinate (MDS) was obtained by esterification of maltodextrin using succinic acid anhydride in base condition of aqueous medium and characterized its chemical, physical, and functional properties.
The obtained MDS had 0.177 ± 0.004 as its substitution degree, solubulity in distilled water was 1:21 and swelling index was 41.76 ± 1.71% in phosphate buffer pH 6.8. Evaluation of the fast dissolving film formulas using MDS as exipient showed a good criteria as fast dissolving film with in vitro disintegration time 24.33 ± 5.86 seconds, tensile strength 9.77 kg/cm2 and metoklopramid HCl drug release reached ±80% in 2 minutes. Therefore, it can be concluded that the MDS can be used as the excipient for fast dissolving oral films.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S45724
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rosyida Amalia
"Film cepat hancur merupakan alternatif sediaan konvensional yang membutuhkan eksipien polimer dengan sifat mekanik baik dan waktu hancur relatif singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi hasil hidrolisis pati singkong dan karakter film yang dihasilkan dari eksipien tersebut. Pembuatan eksipien maltodekstrin dilakukan dengan memodifikasi pati singkong secara enzimatis. Pemutusan ikatan 1,4-α-glikosida oleh enzim α-amilase (Clearflow AA®) pada medium berair dan kondisi netral (pH 6,5-7,0), dan pemanasan pada suhu 95±5ºC selama 45 menit dengan konsentrasi enzim o,1% (v/b). Hasil hidrolisis berupa serbuk maltodekstrin dengan DE 10-15 yang mempunyai perbedaan karakter, baik kimia, fisik, maupun fungsional dibanding pati singkong. Maltodekstrin DE 10-15 digunakan sebaga,m i eksipien dalam formulasi film cepat hancur dengan konsentrasi 5% (b/v) dan 7,5% (b/v). Hasil menunjukkan bahwa film yang mengandung (5% (b/v) MD, 17,5% (b/v) plasticizer memiliki karakter waktu hancur (13,79±0,22 detik), kadar air (11,32±4,76% (v/b)), pH sediaan (6,80±0,03), juga memiliki karakter fisik lebih baik, ditinjau dari bobot (44,67±1,77 g) dan ketebalan (0,10±0,01 mm). film yang mengandung 7,5% (b/b) MD, 20% (b/b) plasticizer (106,47±2,88%, menit kedua) mempunyai profil pelepasan obat tercepat. Dari hasil penelitian, menunjukkan bahwa maltodekstrin DE 10-15 dapat digunakan sebagai eksipien polimer dalam film cepat hancur.

Fast dissolving film is an alternative for conventional dosage form which needs polymeric excipient with good mechanic and dissolving time which relatively short. The aimed of this study was to determine the yield potential of cassava starch hydrolysis and the resulting film character of the excipient. Meltodextrin excipient was made by modifying the cassava starch enzimatically, breaking the bond of 1,4-α-glicosides by the α-amylase enzyme (Clearflow AA®) in aqueous medium and neutral conditions (pH 6.5 to 7.0) by heating at 95±5ºC during 45 minutes with the concentration of certain enzyms (0.1% (v/w)). The result from hydrolysis was maltodextrin powder with DE 10-15 which has different characters, whether chemical, physical, and functional than cassava starch. Maltodextrin DE 10-15 was used as excipients in the formulation of the fast dissolving film by a concentration of 5 and 7.5% (w/v). Films with 5% (w/v) MD, 17.5% (w/v) plasticizer has character disintegration time (13.79±0.22 seconds), moisture content (11.32±4.76% (v/w)), films pH (6.80±0.03), and also have better physical characteristics, in terms of weight (44.67±1.77 g) and thickness (0.10±0.01 mm). Film with 7.5% MD (w/v), 20% (w/v) plasticizer (106.47±2.88% in two minutes) has faster drug release profile. From these results, shown that the maltodextrin DE 10-15 can be used as a polymeric excipient in the fast dissolving films."
2013
S47332
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nina Rustiana
"ABSTRAK
Film cepat hancur merupakan suatu bentuk sediaan padat yang larut atau
hancur dalam 1 menit dalam rongga mulut dengan adanya air liur tanpa minum
atau dikunyah. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengkarakterisasi
sediaan film cepat hancur salbutamol menggunakan maltodekstrin suksinat
sebagai eksipien. Maltodekstrin suksinat yang diperoleh dari suksinilasi
maltodekstrin menggunakan anhidrida suksinat memiliki derajat substitusi 0,18
± 0,01; pH (5% larutan dalam akuades) 6,76 ± 0,03; kadar air 7,33 ± 0,21 %;
ukuran partikel 355 – 710 µm; laju alir 4,51 ± 0,301 g/detik; indeks
mengembang selama 4 menit 17,99%; viskositas (25%) 29,14 cps. Film cepat
hancur yang menggunakan maltodekstrin suksinat 5% memberikan bobot 24,16 ±
2,1 mg; ketebalan 101,5 ± 5,025 µm; waktu hancur 41,5 ± 5,5 detik; kadar air
50,66 ± 0,09 %; kadar salbutamol sulfat 2,10 ± 0,03 mg/film; pH 5,87 ± 0,03;
pelepasan obat selama 1 menit 105,43 ± 0,68%; tensile strength 7,097 ± 0,582
kg/cm2; elongasi 1,5 ± 0,1 %; fluks penetrasi rata-rata 1,314 µg/cm2.menit;
sesuai uji kesukaan 66,67% responden menyukai penampilan film; 13,33%
responden menyukai rasa film serta waktu hancur rata-rata sebesar 13,47 ± 3,23
detik. Dapat disimpulkan bahwa eksipien maltodekstrin suksinat dapat digunakan
sebagai eksipien pembentuk film cepat hancur.
ABSTRACT
Fast disintegration film was the solid dosage form which dissolve or
disintegrate in 1 minute with saliva without water or chewing. The purposes of
this research were to prepare and characterize of salbutamol fast disintegration
film containing maltodextrin succinate as an excipient. Maltodextrine succinate
was obtained from succinilation of maltodextrine using succinat anhidride. The
maltodextrine succinate had the characterized as follows : degree of substitution
(DS), 0.18 ± 0.01; pH (5% in aquadest), 6.76 ± 0.03; moisture content, 7.33 ±
0.21%; particle size, 355-710 µm; flow rate, 4.51 ± 0.31 g/secon; swelling index
17.99% and viscosity (25%) 29.14 cps. The fast disintegration film that
containing maltodextrine succinate 5% had weight 24.16 ± 2.1 mg; thickness,
101.5 ± 5.025 µm; disintegration time, 41.5 ± 5.5 secon; moisture content, 50.66 ±
0.09%; assay, 2.10 ± 0,03 mg/film; pH, 5.87 ± 0.03; in vitro drug release, 1
minute, 105.43 ± 0.68 %; tensile strength, 7.007 ± 0.582 kg/cm²; elongation, 1.5
± 0.1%; penetration flux 1.314 µg/cm2.minute. According to hedonic test,
66.67% like the film appearence , 13.33% like the flavour, and disintegration time
were 13.47 ± 3.23%. The result of this study showed that maltodextrine succinate
can be used as excipient for fast disintegration film ."
2013
T35158
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitepu, Nathasya
"Tablet cepat hancur (TCH) merupakan tablet yang didesain untuk hancur di rongga mulut dan segera melarut dengan adanya saliva sehingga tidak memerlukan bantuan air. Oleh karena itu dibutuhkan suatu eksipien penghancur yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi tablet cepat hancur famotidin dengan menggunakan eksipien hasil koproses maltodekstrin suksinat (MDS) dan polivinil pirolidon (PVP) sebagai eksipien, serta mengevaluasi tablet cepat hancur yang dihasilkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Koproses MDS-PVP merupakan eksipien hasil modifikasi fisika secara koproses antara maltodekstrin suksinat (MDS) dan polivinil pirolidon (PVP) dalam berbagai perbandingan. Hasil modifikasi dikarakterisasi dan diformulasikan menjadi tablet cepat hancur dengan metode granulasi kering, kemudian dievaluasi. Ko-MDSPVP (3:1) menunjukkan karakteristik yang terbaik sebagai eksipien penghancur ditinjau dari kelarutan yang tinggi dalam aquadest sebesar 94,40 + 0,75% dan daya mengembang sebesar 18,99 + 0,33%. Evaluasi tablet cepat hancur menunjukkan bahwa formula A yang mengandung 25% ko-MDS-PVP 3:1 memiliki kriteria yang terbaik sebagai tablet cepat hancur dengan nilai kekerasan 3,61+ 0,46 Kp, keregasan 0,76 + 0,02%, waktu hancur in vitro 2,66 + 0,38 menit, dan waktu pembasahannya 3,03 + 0,29 menit. Berdasarkan hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa ko-MDS-PVP dapat digunakan sebagai eksipien penghancur pada tablet cepat hancur.

Fast disintegrating tablet (FDT) is tablet which is designed to rapidly dissolve and disintegrate in presence saliva, thus it needs no water. Therefore, disintegrant is needed to folmulate this dosage form.. the aim of this research were to formulate FDT of famotidine using coprocess maltodextrin succinate (MDS) and polyvinyl pyrrolidone (PVP) as disintegrant, and evaluate the FDT in accordance to pharmacopoeia. Coprocess MDS-PVP is physical-modified excipient from MDS and PVP in several ratio. The Co-MDS-PVP are characterized, formulated into FDT by dry-granulation method and evaluated. Co-MDS-PVP (3:1) showed the best characteristic as disintegrant due to its higher solubility in aquadest (94,40 + 0,75%) and swelling index (18,99 + 0,33%). The evaluation of FDT showed that formula A which contain 25% Co-MDS-PVP 3:1 was the best formula due to its hardness of 3,16 + 0,46 Kp, friability 0,76 + 0,02%, in vitro disintegration time 2,66 + 0,38 minutes, and wetting time 3,03 + 0,29 minutes. Based on results above, it can be concluded that Co-MDS-PVP can be used as disintegrant in FDT."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S52512
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Putri Anggraweni
"Tablet cepat hancur merupakan suatu bentuk sediaan padat yang larut atau hancur dalam 1 menit dalam rongga mulut dengan adanya air liur tanpa minum atau dikunyah. Penelitian ini bertujuan untuk membuat dan mengkarakterisasi sediaan tablet cepat hancur ketoprofen menggunakan maltodekstrin suksinat sebagai eksipien. Maltodekstrin suksinat yang diperoleh dari suksinilasi maltodekstrin menggunakan anhidrida suksinat memiliki derajat substitusi 0,18 ± 0,01; pH (5% larutan dalam akuadest) 6,76 ± 0,03; kadar air 7,2275 ± 0,21%; ukuran partikel 355 – 710 μm; laju alir 4,51 ± 0,301 g/detik; indeks mengembang selama 4 menit 17,99%; viskositas (25%) 29,14 cps. Tablet cepat hancur yang menggunakan maltodekstrin suksinat 25% memberikan bobot 98,70 ± 3,91 mg; ketebalan 2,99 ± 0,04 mm; diameter 6,08 ± 0,02 mm; kekerasan 2,75 ± 0,54 Kp; keregasan 0,60 ± 0,12%; waktu hancur 15,67 ± 1,37 detik; kadar 104,53 ± 0,002%; pelepasan obat 83,57 ± 8,20% dalam 20 menit; fluks penetrasi rata-rata 0,5473 μg/cm2.menit, sesuai uji kesukaan 70% responden menyukai penampilan tablet; 6,67% responden menyukai rasa tablet serta waktu hancur rata-rata sebesar 225,47 ± 16,16 detik. Dapat disimpulkan bahwa eksipien maltodekstrin suksinat dapat digunakan sebagai eksipien utama tablet cepat hancur.

Fast disintegration tablet was the solid dosage form which dissolve or disintegrate in 1 minute with saliva without adding water or chewing. The purposes of this research were to prepare and characterize of ketoprofen fast disintegration tablet containing maltodextrin succinate as excipient. Maltodextrine succinate was obtained from succinylation of maltodextrine using succinate anhidride. The maltodextrine succinate had the parameters as follows: degree of substitution, 0.18 ± 0.01; pH (5% in aquadest), 6.76 ± 0.03; moisture content, 7.2275 ± 0.21%; particle size, 355-710 μm; flow rate, 4.51 ± 0.31 g/second; swelling index 17.99% and viscosity (25%) 29.14 cps. The fast disintegration tablet that contain maltodextrine succinate 25% had weight 98.70 ± 3.91 mg; thickness 2.99 ± 0.04 mm; diameter 6.08 ± 0.02 mm; hardness 2.75 ± 0.54 Kp; friability 0.60 ± 0.12%; disintegration time 15.67 ± 1.37 second; assay 104.53 ± 0.002%; in vitro drug release, 20 minutes, 83.57 ± 8.20%; penetration flux 0.5473 μg/cm2.minute. According to hedonic test, 70% like the tablet appearence, 6.67% like the flavour, and disintegration time were 225.47 ± 16.16%. The result of this study showed that maltodextrine succinate can be used as excipient for fast disintegration tablet."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2014
T38953
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kalonica Kusumawardani
"ABSTRAK
Dalam membuat sediaan film membutuhkan banyak eksipien dengan fungsi yang berbeda, sehingga dibutuhkan eksipien koproses yang memiliki fungsi sebagai polimer pembentuk film dan plasticizer. Penelitian ini bertujuan untuk Memperoleh eksipien koproses dari PVP, Maltodextrin dan PEG sebagai polimer pembuat film, dan menghasilkan film cepat hancur yang memenuhi persyaratan. Eksipien koproses PVP-MD-PEG dibuat dengan metode co-drying menggunakan spray dryer, dengan perbandingan 1:1:1 E1 , 2:2:1 E2 , 1:2:1 E3 , 2:1:1 E4 , 3:1:1 E5 , dan 1:3:1 E6 . Karakterisasi eksipien meliputi uji kadar air, waktu hancur, dan ketahanan pelipatan. Eksipien E2, E3, E4, dan E5 dibuat menjadi film cepat hancur F1, F2, F3, dan F4 berturut-turut, dengan salbutamol sulfat 4,8mg tiap 2x3cm film menggunakan metode solvent casting. Evaluasi meliputi uji waktu hancur, ketahanan pelipatan, elongasi, dan pelepasan obat in vitro. Hasil menunjukkan kadar air eksipien 5,14 hingga 8,30 , waktu hancur film eksipien koproses dibawah 60 detik, dan ketahanan pelipatan diatas 300 kali untuk film eksipien E2 dan E4. Film cepat hancur memiliki waktu hancur 13,57 hingga 22,62 detik, ketahanan pelipatan F1 dan F3 diatas 300 kali, elongasi 2,74 hingga 7,65 , dan pelepasan obat mencapai 80,47 hingga 90,86 pada menit ke-3. Eksipien koproses E4 yang membentuk film cepat hancur F3 merupakan eksipien terbaik untuk formulasi film cepat hancur.

ABSTRACT
Many excipients were needed in the making of film dosage form, hence the addition of co process excipient as film forming polymer was mandatory. This research was aimed to obtain co proses excipient from PVP, Maltodextrin, and PEG as a film forming polymer and to produce fast dissolving oral films that meet the requirements. Co process excipient PVP MD PEG was made using spray dryer, with ratio 1 1 1 E1 , 2 2 1 E2 , 1 2 1 E3 , 2 1 1 E4 , 3 1 1 E5 , and 1 3 1 E6 . Excipient characterization included water content, disintegrating time, and folding endurance. Excipient E2, E3, E4, and E5 were made into fast dissolving oral film F1, F2, F3, and F4 respectively, with 4.8 mg salbutamol sulphate in each 2x3 cm film using solvent casting method. Evaluation performed included disintegrating time, folding endurance, elongation, and in vitro drug release. The results for excipient water content 5.14 to 8.30 , excipient disintegrating time below 60s, and folding endurance above 300 times for E2 and E4. Fast dissolving oral films had disintegrating time from 13.57 to 22.52s, folding endurance of F1 and F3 above 300x, elongation 2.74 to 7.65 , and drug release reached 80.47 to 90.86 at 3min. Co proses excipient E4 that produce fast dissolving oral film F3 was the best excipient for fast dissolving oral film formulation."
[, ]: 2017
S68984
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rindi Irsan Artomo
"Tablet Cepat Hancur (TCH) adalah sediaan tablet yang didesain untuk segera hancur di rongga mulut tanpa bantuan air maupun dikunyah sehingga dibutuhkan eksipien yang mudah hancur atau larut dengan adanya air. Saat ini, TCH dibuat dengan menggunakan superdisintegran dari bahan-bahan impor. Padahal banyak eksipien yang terdapat di Indonesia yang sangat potensial untuk dikembangkan, salah satunya adalah maltodekstrin DE 10-15.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menghasilkan maltodekstrin suksinat (MDS) dari maltodekstrin DE 10-15 dan mengetahui karakteristiknya sebagai eksipien penghancur yang digunakan dalam formula TCH. MDS merupakan maltodekstrin DE 10-15 yang termodifikasi melalui proses suksinilasi dengan asam suksinat anhidrida dalam medium berair. MDS kemudian dikarakterisasi dan diformulasi menjadi lima formula TCH dengan verapamil HCl sebagai model obat. TCH yang dibuat melalui metode granulasi kering kemudian dievaluasi.
Hasil karakterisasi menunjukkan MDS memiliki derajat subtitusi sebesar 0,1772, kelarutan sebesar 1:21 bagian dalam akuades, dan mampu mengembang dua kali lebih baik dibandingkan maltodekstrin DE 10-15. Hasil evaluasi TCH menunjukkan bahwa formula 3 yang dibuat dengan menggunakan MDS sebagai eksipien penghancur pada konsentrasi 15% memiliki kriteria yang baik sebagai tablet cepat hancur. Formula 3 memiliki kekerasan 3,71 Kp, keregasan 0,98%, waktu hancur in vitro 71,2 detik, waktu pembasahan 37,2 detik, dan verapamil HCl terdisolusi sebesar 96,91% dalam waktu 10 menit. Hasil ini menunjukkan bahwa MDS sangat potensial untuk digunakan sebagai eksipien penghancur pada TCH.

Fast Disintegration Tablet (FDT) are tablet dosage forms which disintegrate in the patient’s mouth rapidly without water needed or chewed, so FDT’s need an excipient that easily disintegrated or soluble with the presence of water. Nowadays, FDT was made of superdisintegrant from import commodities. Besides there were many excipients in Indonesia that have potential to be developed, one of those was maltodextrin DE 10-15.
The aim of this research was to produce maltodextrin succinate (MDS) from maltodextrin DE 10-15 and find out its characteristics as tablet disintegrant to be applied in FDT’s formulas. MDS are maltodextrin DE 10-15 that has been through modification by succinylation using succinic anhydride in aqueous medium. MDS was characterized and then formulated into five FDT’s formulas using verapamil HCL as drug model. FDT that has been produced by dry granulation method was evaluated.
The results showed that MDS has 0.1772 degree of substitution, solubility was 1:21 portion in aquadest, and capable to swell two times better than maltodextrin DE 10-15. The results from FDT’s evaluation shows that formula 3 that has been produced using MDS as tablet disintegrant at 15% of concentration had the best characteristics as FDT. Formula 3 exhibited 3.71 Kp of hardness, 0.98% of friability, 71.2 seconds of in vitro disintegration time, 37.2 seconds of wetting time, and 96.91% verapamil HCl dissoluted in 10 minutes. This results shows that MDS was very potential to be used as disintegrant in FDT.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S47004
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rina Adriany
"Tablet Cepat Hancur (TCH) telah dikembangkan bagi pasien yang sulit menelan tablet konvensional atau kapsul terutama untuk obat-obat yang mempunyai dosis besar seperti sediaan herbal. Ekstrak herbal umumnya mempunyai karakteristik lengket, higroskopis sehingga mempunyai flowabilitas dan kompresibilitas yang buruk, selain itu mempunyai rasa tidak enak dan dosis besar, karena itu dibutuhkan suatu metode dan eksipien yang dapat mengatasi karakteristik tersebut agar didapatkan TCH yang aman, berkhasiat dan disukai konsumen. Dilakukan penelitian pembuatan sediaan TCH dengan bahan aktif ekstrak buah oyong (Luffa acutangula (L) Roxb) yang hancur dan larut dengan cepat di saliva. Digunakan eksipen yang dibuat dengan cara ko-proses maltodekstrin suksinat (MDS), polivinilpirolidon (PVP) dan manitol (Mnt) rasio 1: 1: 8; 2: 1: 7 dan 3: 1: 6.
Massa TCH dibuat dengan 3 metode, yaitu eksipien tunggal ko-proses MDS, PVP dan Mnt ditambahkan ekstrak dan dilakukan spray drying (formula F1, F2, F3), eksipien ko-proses dikeringkan dengan spray dryer dan ekstrak ditambahkan secara fisik (formula F4, F5, F6), eksipien (tanpa ko-proses) dan ekstrak dicampur secara fisik (formula F7, F8, F9), kemudian masing-masing massa tablet dikempa, selanjutnya TCH yang dihasilkan dikarakterisasi dan dievaluasi. Terhadap TCH juga dilakukan uji stabilitas dipercepat, uji hedonik serta uji khasiat pada hewan coba. Fraksi aktif ekstrak buah oyong dilakukan uji antisindrom metabolik, uji toksisitas akut, skrining fitokimia dan standardisasi ekstrak.
Hasil penelitian menunjukan bahwa TCH formula F2 mempunyai performans sediaan tablet terbaik dan memenuhi karakteristik farmakope. Studi stabilitas dipercepat tidak terlihat adanya perubahan fisik, uji hedonik TCH F2 disukai oleh konsumen. Fraksi aktif ekstrak buah oyong terbukti berkhasiat sebagai antisindrom metabolik pada hewan coba, dikategorikan praktis tidak toksik dan memenuhi persyaratan standardisasi ekstrak. Senyawa Cucurbitacin diduga sebagai zat berkhasiat dalam buah oyong, berat molekul senyawa ini ditemukan dalam ekstrak dan serum darah hewan uji yang diberi TCH. Fraksi aktif buah oyong telah berhasil dibuat TCH menggunakan eksipien tunggal MDS-PVP-Mnt rasio 2:1:7 dengan metode koproses - spray drying dan dapat dijadikan alternatif antisindrom metabolik.

Fast Disintegrating Tablet (FDT) has been developed for patients who have difficulty swallowing conventional tablets or capsules especially medicines which have a high dose. Herbal extracts generally have characteristics of sticky, hygroscopic and therefore have poor flowability and compressibility. In addition, it possesses faintly aromatic odor and somewhat unpleasant taste, so that it took a special method and excipient that could cover these characteristics in order to fulfill with requirements of quality, safety, efficacy and preferred by consumers. FDT using the squash (Luffa acutangula (L) Roxb) fruit extract are disintegrated and dissolve rapidly in saliva is proposed. Excipient used is made by the coprocess maltodextrin succinate (MDS), polyvinylpyrrolidone (PVP) and mannitol (Mnt) ratio of 1: 1: 8; 2: 1: 7 and 3: 1: 6 then characterized.
The mass of FDT was made by three methods are co-process excipient was added the extract and sprayed drying (formulas F1, F2, F3), co-process and sprayed drying of excipient then physically added the extract (formula F4, F5, F6), physically mixed the extract with excipient without co-process (formula F7, F8, F9), then each mass of FDT was compressed then the resulting FDT was characterized and evaluated. The hedonic test and the efficacy test in experimental animals have done and some testings on anti-metabolic syndrome, acute toxicity, phytochemical screening and standardization were also carried out to the active fraction of squash fruit extract.
The results indicated that the FDT F2 formula showed the best pharmaceutical performance and meet the characteristics of pharmacopoeia. In the short-term stability testing, FDT did not appear to physical changes, while in the hedonic testing resulted acceptable palatability. Cucurbitacin compound which was found in the squash fruit extract and in the blood serum of animals treated by FDT was suspected as active substance, pharmacological experiments confirm its therapeutic efficacy and safety. In conclusion, the active fraction of squash fruit had successfully created FDT using a single excipient of MDS-PVP-Mnt (ratio of 2: 1: 7) with co-process - spray drying method and can be an alternative as antimetabolic syndrome."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2015
D2067
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Puspa Rahmawati Wardani
"Tablet cepat hancur adalah tablet yang didesain agar mampu hancur di dalam mulut tanpa bantuan air dengan waktu yang singkat. Oleh sebab itu diperlukan suatu eksipien disintegran yang sesuai yang dapat memfasilitasi penghancuran tablet. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik eksipien koproses maltodekstrin DE 10-15 dan polivinil alkohol sebagai penghancur tablet dalam formula tablet cepat hancur yang dibuat dengan metode kempa langsung. Koproses MD – PVA dibuat 3 perbandingan yaitu 1:1, 2:1, 3:1 dan dikarakterisasi sifat fisik, kimia, dan fungsionalnya.
Berdasarkan karakteristik tersebut dipilih perbandingan 1:1 yang memiliki kriteria terbaik sebagai penghancur karena memperlihatkan indeks mengembang 156,32% dalam 2 jam. Evaluasi terhadap 6 formula tablet cepat hancur menunjukan bahwa formula 4 yang mengandung eksipien koproses MD - PVA 1:1 sebanyak 20% memiliki kriteria yang baik sebagai tablet cepat hancur dengan kekerasan 4,40 Kp, keregasan 0,891%, waktu hancur 2,26 menit, dan waktu pembasahan 2,32 menit.
Uji kesukaan pada 30 orang panelis menunjukan 63,33% suka terhadap rasa tablet cepat hancur ekstrak rosela, dan 76,67% panelis menyatakan tidak terdapat residu dalam mulut ketika tablet tersebut telah hancur sempurna. Uji waktu hancur rata-rata tablet cepat hancur ekstrak rosela di rongga mulut panelis adalah sebesar 2,89 menit. Dengan demikian koproses MD-PVA mampu digunakan sebagai eksipien penghancur dalam tablet cepat hancur.

A fast disintegrating tablet is tablet which designed to be disintegrated in the mouth within seconds, without using water. Thus, it needs appropriate disintegrating excipients to facilitate disintegration of the tablet. This research was intended to study the characteristics of coprocessed excipient of maltodextrin DE 10-15 and polyvinylalcohol as tablet disintegrator in fast disintegrating tablet’s formula which was produced using direct compression method. The physical, chemical, and functional properties of MD-PVA coprocessed with ratio of 1:1, 2:1, and 3:1 were characterized.
Based on those characteristics, the MDPVA 1:1 was chosen as the best disintegrator excipient since it showed swelling index of 156.32% in 2 hours. The evaluation on six formula of FDT showed that formula F4 which contains 20% coprocessed excipient MD-PVA 1:1 was the best FDT with 4.40 Kp of hardness, 0.891% of friability, 2.26 minutes of disintegrating time, and 2.32 minutes of wetting time.
Hedonic test was performed on 30 respondens and showed that 63.33% of respondens like FDT of roselaextract and 76.67% people stated that there were no residual inside the mouth after the tablet disintegrated completely. In vivo disintegrating time of roselaextract FDT was 2.89 minutes. Hence MD-PVA coprocessed suitable to be used as dissolving excipient for fast-disintegrating tablet.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S52949
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>