Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 152944 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ansyori
"Demam Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus Chikungunya dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes sp. Kasus demam Chikungunya di Kecamatan Limo selama bulan november 2011 - Januari 2012 tercatat sebanyak 193 kasus. Salah satu manajemen demam Chikungunya adalah pengendalian vektor. Ada beberapa alternatif kegiatan yang bisa dilakukan dalam pengendalian vektor demam Chikungunya.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prioritas kriteria dan alternatif kegiatan pengendalian vektor dalam manajemen demam Chikungunya di Kecamatan Limo Kota Depok. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menganalisis perbandingan berpasangan antar elemen yang dilakukan 10 informan expert.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kriteria yang menjadi pertimbangan prioritas dalam memilih alternatif kegiatan pengendalian vektor adalah lingkungan (0,357), prioritas kedua kelembagaan (0,252), kemudian sosial (0,226), selanjutnya ekonomi (0,092) dan prioritas paling akhir adalah teknologi (0,073), sedangkan alternatif kegiatan pengendalian vektor yang menjadi prioritas utama adalah gerakan 3M (0,482), prioritas kedua adalah pengelolaan barang bekas (0,282), selanjutnya larvasida (0,143) dan prioritas terakhir adalah pemberantasan nyamuk dewasa (0,093).

Chikungunya fever is a disease caused by Chikungunya virus and is transmitted through the bite of Aedes sp. Chikungunya fever cases in the District Limo during November 2011 - January 2012, there were 193 cases. One of Chikungunya fever management is vector control. There are several alternative activities that can be done in vector control.
This study aims to analyze the priority criteria and alternative vector control activities in the management of Chikungunya fever in the District of Limo, Depok. This study is an analytical study by using Analytical Hierarchy Process (AHP) to analyze the pairwise comparisons between elements that done by 10 expert informants.
The results showed that the criteria to be considered a priority in choosing alternative vector control activities are environmentally (0,357), second priority is institutional (0,252), and social (0.226), further economic (0.092) and the last priority is technology (0,073), for the alternative vector control activities, the top priority is the movement of 3M (0,482), second priority is the management of used goods (0.282), further of larvicides (0.143) and the last priority is the eradication of adult mosquitoes (0.093).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T36041
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fatmi Yumantini Oktikasari
"Pada Oktober 2006, di Kota Depok terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) chikungunya yang menyerang 200 warga di Kelurahan Cinere, Kecamatan Limo, Kota Depok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor sosiodemografi dan lingkungan serta faktor dominan yang mempengaruhi KLB chikungunya di Kelurahan Cinere Kecamatan Limo Kota Depok. Desain studi yang digunakan adalah kasus kontrol dengan jumlah kasus dan kontrol masing-masing sebanyak 118 kasus. Faktor yang diteliti adalah pendidikan, pengetahuan, kepadatan hunian, umur, pekerjaan, jenis kelamin, mobilitas, perilaku penggunaan obat anti nyamuk, keberadaan jentik nyamuk, ketersediaan Tempat Penampungan Air, dan ketersediaan kasa nyamuk. Hasil penelitian menunjukkan empat variabel berhubungan dengan KLB chikungunya, yaitu pendidikan (OR=1,9: 1,12-3,23), umur (OR= 2,1: 1,22-3,46), dan kepadatan hunian (OR=2,2: 1,25-3,80). Dari hasil analisis multivariat didapatkan faktor yang paling dominan adalah kepadatan hunian dan diikuti oleh pendidikan. Probabilitas KLB chikungunya sebesar 2,1 kali pada subyek yang huniannya tidak padat dan berpendidikan rendah.
On october 2005, in Depok occured chikungunya outbreaks that attack 200 citizen at Cinere, Limo Sub District, Depok City. This study purpose is to know the impact of sosidemographic and enviromental factor on chikungunya outbreaks at Cinere, Limo Sub District, Depok City. Research design is case control study. The number of case group and control group is 118 patient. Factor studied are education, knowlwdge, house density, age, occupation, sex, mobility, anti-mosquito chemical, existance of mosquito-larva, container, and wire netting. The result of the study suggest that there are three variabels that involved in chikungunya outbreaks, namely education (OR=1,9: 1,12-3,23), age (OR= 2,1: 1,22-3,46), and house density (OR=2,2: 1,25-3,80). Multivariat analysis showed that the most dominant factors are house density, and followed by education. Probability of chikungunya outbreaks is 2,1 for low house density and low educatio"
Universitas Indonesia, 2008
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rafi Haidar
"This research is based on the potential crisis in the economic and banking sector due to COVID-19. The existence of this potential can be seen from the development of a fairly high number of NPLs in 2020. This potential crisis, caused by COVID-19, cannot be underestimated because of its impact which not only affects the financial sector directly but also affects the patterns and habits of the community. Changes in habit patterns such as users' dependence on technology, reduced public interest in making transactions, the existence of work habits at home and so on, can create complex conditions that can create difficulty for banks to survive their original conditions. Resilience as the ability of a company or institution to deal with uncontrolled situations needs to be improved more deeply. So far, research on bank resilience has only focused on the financial sector and ignores other variables that may affect future performance. This study aims to provide new factors beyond finance that can serve as a resilience factor in banking. The approach used comes from the science of management strategy. In ensuring the resilience factor of the Analytical Hierarchy Process (AHP) method is used to obtain validation, that the resilience factor can affect the banking sector in Indonesia. With the new resilience factor, it is hoped that the bank institution can survive in a complex situation that will continue to develop and come in the future.

Penelitian ini didasarkan pada potensi krisis di sektor ekonomi dan perbankan akibat COVID-19. Adanya potensi ini dapat terlihat dari perkembangan jumlah NPL yang cukup tinggi di tahun 2020. Potensi krisis, yang disebabkan oleh COVID-19, ini tidak bisa dianggap remeh karena dampaknya yang tidak hanya berdampak pada sektor keuangan secara langsung tetapi juga mempengaruhi pola dan kebiasaan masyarakat. Adanya perubahan pola kebiasaan seperti ketergatungan pengguna terhadap tekhnologi, berkurangnya minat masyarakat untuk bertransaksi, adanya kebiasaan kerja di rumah dan lain sebagainya, dapat menciptakan kondisi kompleks yang dapat menyulitkan perbankan untuk bertahan pada kondisi semula. Resiliensi sebagai kemampuan suatu perusahaan atau institusi dalam menghadapi situasi tidak terkendali perlu di tingkatkan lebih dalam. Selama ini penelitian ketahanan pada bank hanya berfokus pada sektor keuangan dan mengabaikan variabel lain yang dapat mempengaruhi kinerja ke depan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan faktor-faktor baru di luar keuangan yang dapat dijadikan sebagai faktor ketahanan dalam perbankan. Pendekatan yang digunakan berasal dari ilmu strategi manajemen. Dalam memastikan faktor resiliensi metode Analytical Hierarchy Process (AHP) digunakan untuk mendapatkan validasi, bahwa faktor resiliensi dapat berpengaruh dalam sektor perbankan di Indonesia. Dengan adanya faktor resiliensi yang baru diharapkan institusi bank dapat bertahan dalam menjalani siatuasi kompleks yang akan terus berkembang dan dating di masa yang akan datang."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yosua Sigit Wicaksono
"Tanah Longsor merupakan bencana geologi yang paling banyak dijumpai di Kota dan Kabupaten Bogor. Berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pada tahun 2013 – 2018 telah terjadi 44 bencana tanah longsor di Kota Bogor dan 139 bencana tanah longsor di Kabupaten Bogor, mengakibatkan 68 orang meninggal dunia. Penelitian ini bertujuan untuk pengembangan studi bencana tanah longsor di Kota dan Kabupaten Bogor, sehingga dapat bermanfaat untuk meminimalisir jumlah keterjadian dan dampak yang dihasilkan dari bencana longsor didaerah tersebut. Pada penelitian ini, peta kerentanan bencana tanah longsor dari area studi dibuat menggunakan metode analytical hierarchy process (AHP) dan artificial neural network (ANN). Sebanyak 84 titik lokasi keterjadian bencana tanah longsor dan 84 titik lokasi yang tidak mengalami bencana tanah longsor diolah menjadi landslide inventory map. Faktor penyebab bencana tanah longsor yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 17 faktor, yaitu bentuk lereng, kemiringan lereng, topographic wetness index (TWI), aspek lereng, elevasi, stream power index (SPI), jarak terhadap sungai, kerapatan sungai, jarak terhadap kelurusan, kerapatan kelurusan, normalized differential vegetation index (NDVI), jenis litologi, jenis tanah, curah hujan, tutupan lahan, jarak terhadap jalan, dan kerapatan bangunan. Data yang diperlukan untuk membuat peta dari setiap faktor penyebab bencana tanah longsor yaitu, data digital elevation model (DEM), peta rupa bumi Indonesia (RBI), data Citra Landsat 8, peta geologi teknik, data curah hujan, dan peta Jenis Tanah. Landslide inventory map dan peta dari setiap faktor penyebab bencana tanah longsor diolah menjadi peta kerentananan bencana tanah longsor menggunakan kedua metode tersebut. Berdasarkan peta kerentanan bencana tanah longsor yang dihasilkan, wilayah selatan daerah penelitian memiliki tingkat kerentanan bencana tanah longsor yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. Proses validasi dari peta kerentanan bencana tanah longsor yang dihasilkan dilakukan dengan menggunakan kurva receiver operating characteristic (ROC). Nilai area under curve (AUC) untuk tingkat keberhasilan metode AHP dan ANN masing-masing adalah 0,834 dan 0,818, hal tersebut menujukkan bahwa metode AHP lebih unggul dalam menjelaskan hubungan bencana tanah longsor dengan faktor penyebabnya. Kedua metode tersebut menghasilkan peta kerentanan bencana tanah longsor yang baik dengan tingkat akurasi lebih dari 81%.
Landslide is one of the most common disaster in Bogor City and Bogor Regency. BNPB stated that between 2013-2018 there have been 44 landslides in Bogor City and 139 landslides in Bogor Regency with death toll of 68 persons. Therefore, it is important to generate map to identify landslide susceptibility in study area. In this study, landslide susceptibility map of study area was created using analytical hierarchy process (AHP) and artificial neural network (ANN) methods. A total of 84 points of landslide occurrence locations and 84 secure location points of landslides are processed into landslide inventory map. The landslide causative factors in this study amounted to 17 factors, including slope form, slope gradient, topographic wetness index (TWI), slope aspect, elevation, stream power index (SPI), distance to river, river density, distance to lineament, lineament density, normalized differential vegetation index (NDVI), lithology type, soil type, rain intensity, land cover, distance to road, and building density. The data used to create maps of each landslide causative factors, including digital elevation model (DEM), Bakosurtanal Map, Landsat 8 Imagery, engineering geology map, geological map, and soil type map. Landslide inventory map and maps of each landslide causative factors are processed into landslide susceptibility map using both methods. Based on landslide susceptibility maps obtained in this study, the southern region of the study area has a higher level of landslide susceptibility than other regions. To validate the result, Receiver Operating Characteristic (ROC) applied. The areas under the curve (AUC) for the success rate of the AHP and ANN methods were 0,834 and 0,818, respectively, indicating that the AHP method is superior in explaining the relationship of landslide with each causative factors. Both methods produce a good landslide susceptibility map with the accuracy being higher than 81%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmawati Kusumastuti Roosadiono
"Chikungunya adalah penyakit berbasis vektor berupa nyamuk Aedes sp. dan agen berupa alphavirus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui difusi dan pola penyebaran kasus chikungunya. Untuk melihat difusi dan pola persebaran kasus chikungunya digunakan analisis spasial. Difusi kasus chikungunya terlihat menyebar ke segala arah dan pola persebarannya random (menyebar). Selain itu, dilihat pula hubungan antara keberadaan bidan dan kader terhadap kasus chikungunya. Terdapat perbedaan yang bermakna antara masing-masing bidan dengan kasus chikungunya (p=0,007). Perbedaan signifikan juga terlihat antara perbedaan masing-masing kader dengan kasus chikungunya (p=0,022). Namun, hubungan antara tempat pemulung dengan kasus chikungunya tidak terdapat perbedaan yang bermakna (p=0,389). Intervensi harus dilakukan secara merata di wilayah penelitian. Pemberantasan sarang nyamuk merupakan cara yang efektif untuk wilayah penelitian ini.

Chikungunya is vector borne disease with Aedes sp. as vector and Alphavirus as agent. The aim of this study is to determine the diffusion and spreads pattern of Chikungunya case. To determine the diffusion and spreads pattern, this study used spatial analysis method. The diffusion of chikungunya case spreads to all direction with random spread pattern. Otherwise, this study also determine the relationship between midwife and health cadre existence against chikungunya case. There is significant difference between each midwife with chikungunya case (p=0,007). There is also significant difference between each health cadre with chikungunya case (p=0,022). But, there is significant difference between scavenger's place with chikungunya case (p=0,389). Health intervention must be done in all area of study location. Mosquito's nest eradication is an effective way for this study location."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Tamrin
"Diabetes melitus merupakan sekelompok gangguan metabolisme tubuh, ditandai dengan hiperglikemik kronis yang dapat mengakibatkan komplikasi akut dan kronis. Prevalensi penyakit DM meningkat pada agregat dewasa sebagai kelompok rentan. Karya Ilmiah akhir Spesialis ini menggunakan integrasi teori manajemen, community as partner, family centre nursing, dan health promotion model. Pelaksanaan intervensi dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga pada 10 keluarga binaan dan asuhan keperawatan komunitas pada 65 diabetesi dewasa dengan purposive sampling. Terjadi peningkatan tingkat kemandirian keluarga dalam merawat agregat dewasa dengan DM. 90% kemandirian keluarga setelah intervensi adalah Tingkat kemandirian III dan 10% Tingkat Kemandirian IV. Terjadi peningkatan pengetahuan sebanyak 18,3%, sikap sebesar 22% dan perilaku sebesar 56% pada agregat dewasa dengan DM. Intervensi Dialatama merupakan suatu bentuk intervensi latihan yang efektif untuk mengatasi masalah gaya hidup kurang gerak, dan diagnosis keperawatan seperti ketidakefektifan pemeliharaan Kesehatan, perilaku Kesehatan cenderung berisiko, risiko ketidakstabilan gula darah, risiko disfungsi neurovaskuler perifer dan beberapa diagnosis lainnya. Intervensi Dialatama ini dapat diberikan kepada individu, kelompok maupun komunitas. Intervensi bisa dilakukan oleh masyarakat secara umum, baik yang memiliki masalah aktual maupun yang berisiko. Diharapkan Program Dialatama dapat terus dijalankan oleh diabetes secara aktif dan mandiri.

Diabetes Mellitus is metabolic disease because alter secretion, act of insulin or both, showed by hyperglycemia. The prevalence of DM increased in the aggregate of adults as a susceptible group. This specialist's final scientific work uses the integration of management theory, community as partner, family center nursing, and health promotion model. Implementation of the intervention with the approach of family nursing care in 10 assisted families and community nursing care for 65 adult diabetics with purposive sampling. There was an increase in the level of family independence in caring for the aggregate of adults with DM. 90% of family independence after the intervention is Level III independence and 10% Independence Level IV. There was an increase in knowledge as much as 18.3%, attitudes by 22% and behavior by 56% in the aggregate of adults with DM. Dialatama intervention is an effective form of exercise intervention to overcome sedentary lifestyle problems, and nursing diagnoses such as ineffective health maintenance, health behaviors that tend to be at risk, risk of blood sugar instability, risk of peripheral neurovascular dysfunction and several other diagnoses. This Dialatama intervention can be given to individuals, groups or communities. Interventions can be carried out by the general public, both those who have actual problems and those who are at risk. It is hoped that the Dialatama Program can continue to be run by diabetics actively and independently"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Cecilia Natapura
"The study is to find out the major type of institutional investors who own the biggest fund in the capital market and to study their behaviors which can affect the market. There are three types of investors: intuitive investors, emotional investors, and rational investors. To analyze the main factor of decision making, the researcher used Analytical Hierarchy Process (AHP) and spread questionnaires to several Indonesian fund managers. The result shows that most institutional investors are rational (55%), 45% are emotional and none of them are intuitive. The main factor influencing them to make an investment decision is the country’s economic conditions (25.12%),
along with accounting information (liquidity, rentability, solvability, and quality of financial reports).
"
[s.l]: [s.n], 2009
AJ-pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Hutagalung, Grace Putri
"Industri tahu merupakan salah satu subsektor pangan yang berkembang pesat di Indonesia, namun menyumbang limbah cair dalam jumlah besar yang belum dikelola secara optimal, khususnya oleh pelaku usaha mikro dan kecil. Limbah cair tahu memiliki kandungan bahan organik tinggi seperti protein, karbohidrat, dan lemak, yang berdampak signifikan terhadap kualitas lingkungan apabila dibuang tanpa pengolahan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor dan sub-faktor prioritas dalam pengelolaan limbah cair industri tahu dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Validasi awal terhadap 15 sub-faktor dilakukan menggunakan metode Aiken’s V dengan melibatkan delapan orang pakar, dan hasilnya menunjukkan bahwa seluruh sub-faktor memiliki validitas isi yang tinggi. Selanjutnya, perhitungan AHP melibatkan empat orang pakar untuk memperoleh bobot dan prioritas setiap faktor. Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor lingkungan memiliki bobot tertinggi (0,358), diikuti oleh faktor teknis (0,323), faktor ekonomi (0,175), dan faktor sosial (0,144). Sub-faktor dengan bobot tertinggi adalah ketersediaan lahan untuk pengolahan (0,139), ketersediaan teknologi tepat guna (0,125), dan baku mutu limbah cair (0,116). Temuan ini diharapkan menjadi dasar perumusan strategi pengelolaan limbah cair yang aplikatif dan mendukung keberlanjutan usaha industri tahu skala kecil di Indonesia.

The tofu industry is one of the rapidly growing food sub-sectors in Indonesia, but it contributes a large amount of liquid waste that has not been optimally managed, especially by micro and small business actors. Tofu liquid waste has a high organic content such as protein, carbohydrates, and fat, which have a significant impact on environmental quality if disposed of without treatment. This study aims to determine priority factors and sub-factors in the management of tofu industry liquid waste using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method. Initial validation of 15 sub-factors was carried out using the Aiken's V method involving eight experts, and the results showed that all sub-factors had high content validity. Furthermore, the AHP calculation involved four experts to obtain the weight and priority of each factor. The results of the analysis showed that environmental factors had the highest weight (0.358), followed by technical factors (0.323), economic factors (0.175), and social factors (0.144). The sub-factors with the highest weights were the availability of land for processing (0.139), the availability of appropriate technology (0.125), and liquid waste quality standards (0.116). These findings are expected to be the basis for formulating applicable liquid waste management strategies and supporting the sustainability of small-scale tofu industry businesses in Indonesia."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dita Maryani
"Penelitian ini menghasilkan rancangan alat bantu berupa Sistem Pakar Kombinasi Analytical Hierarchy Process (AHP) Berbasis Web dalam Pemilihan Alat Kontrasepsi didasarkan tidak ditemukannya satu metode kontrasepsi yang aman dan efektif bagi semua klien kecuali telah disesuaikan dengan karakteristik individu. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol. Keputusan yang dihasilkan konsultasikb.com hanya berupa saran-saran yang harus dikonsultasikan kepada Tenaga Kesehatan.

This research resulted in a tool design called Web Based Expert System Combined with Analytical Hierarchy Process (AHP) in Contraceptives Selection by reason of not found a contraception method which is safe and effective for all clients unless they have been adapted to the individual characteristics. This study was a case control. A decision produced by konsultasikb.com is kind of suggestions that still have to be consulted further to the Health Scientist."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Feri Haldi
"Gerakan tanah merupakan bencana alam yang banyak menimbulkan kerugian harta benda, korban jiwa maupun luka-luka, kerusakan properti dan juga infrastruktur. Salah satu cara untuk mengurangi kerugian tersebut adalah dengan melakukan pemetaan potensi bencana gerakan tanah (slide hazard zonation). Pemetaan potensi bencana gerakan tanah dilakukan di Kabupaten Bandung Barat yang merupakan salah satu daerah di Indonesia dengan frekuensi keterjadian gerakan tanah yang tinggi. Metode yang digunakan adalah dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Pada penelitian ini digunakan 15 faktor pemicu terjadinya gerakan tanah, yaitu sudut lereng, arah lereng, kelas lereng, elevasi, elevasi relatif, Stream Power Index (SPI), Topographic Wetness Index (TWI), Normalized Differential Vegetation Index (NDVI), kerapatan liniasi, jarak terhadap liniasi, litologi, jenis tanah, curah hujan, kerapatan sungai, dan juga jarak terhadap sungai. Sedangkan faktor risiko gerakan tanah berupa penggunaan lahan, kerapatan bangunan, dan juga jarak terhadap jalan. Kabupaten Bandung Barat secara umum memiliki potensi kerentanan gerakan tanah moderate dengan persentase area sebesar 17,37%. Sedangkan kelas very low menyusun sekitar 15,97% luas daerah penelitian, low 16,96%, moderately high 16,75%, high 16,73%, dan juga very high 16,19%. Sedangkan untuk risiko gerakan tanah Kabupaten Bandung Barat didominasi area dengan tingkat moderately high dengan persentase area sebesar 22,36%. Sedangkan kelas very low menyusun sekitar 15,95% luas daerah penelitian, low 16,79%, moderate 18,70%, high 15,57%, dan juga very high 10,59%. Untuk potensi bencana gerakan tanah, Kabupaten Bandung Barat didominasi oleh tingkat moderate dengan persentase area sebesar 18,41%. Sedangkan kelas very low menyusun sekitar 15,22% luas daerah penelitian, low 15,20%, moderately high 16,88%, high 17,14%, dan juga very high 17,12%.

Landslide is a natural disaster that causes a huge loss in properties, fatalities, and public utilities. One of the ways to decrease those loss is by mapping the landslide susceptibility area (landslide hazard zonation). The landslide susceptibility mapping was applied in West Bandung Regency because the area has high landslide occurence frequency. The method used in this research is the Analytical Hierarchy Process (AHP). There are 15 landslide triggering factors considered in this research, such as: slope angle, slope aspect, slope curvature, elevation, relative elevation, Stream Power Index (SPI), Topographic Wetness Index (TWI), Normalized Differential Vegetation Index (NDVI), lineaments density, distance to lineaments, lithology, soil types, rainfall intensity, drainage density, and distance to drainage. As for the risk triggering factors, there are land use, building density, and distance to roads. In general, landslide hazard in West Bandung Regency is in moderate class with 17,37% total area. The very low class is about 15,97% of total area, low 16,96%, moderately high 16,75%, high 16,73%, and very high 16,19%. Besides, the landslide risk in West Bandung Regency dominated by moderately high class with 22,36% total area. The very low class is about 15,95% total area, low 16,79%, moderately 18,70%, high 15,57%, and very high 10,59%. Finally, the landslide susceptibility in West Bandung Regency dominated by moderate class with 18,41% total area. The very low class is about 15,22% total area, low 16,20%, moderately high 16,88%, high 17,14%, and very high 17,12%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>