Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 73811 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fenia Novaliana R.
"Makalah ini mengkaji berbagai makna dibalik penanda-penanda tertentu dalam film Iron Lady. Film ini berisi beberapa penggambaran dari penanda-penanda yang ditampilkan bersama dengan unsur-unsur sinematografi. Pada umumnya, orang-orang tidak begitu memperhatikan penanda dalam sebuah film dan mereka cenderung fokus pada jalan cerita dari film tersebut. Namun, beberapa penanda dalam film Iron Lady menyiratkan suatu makna tertentu. Adanya keterkaitan antara figur 'Iron Lady' dan feminisme, analisis dari penandapenanda tersebut merujuk pada perspektif feminis. Beberapa penanda dalam film ini mengenalkan pada latar belakang dari isu perempuan serta kondisi perempuan pada era tersebut. Penanda-penanda yang mencolok meliputi kalung mutiara, court shoes, topi, dan kancing. Dalam film ini, penanda mengindikasikan bahwa Margaret Thatcher mencerminkan konsepfeminisme eksistensial yang diperkenalkan oleh Simone de Beauvoir. Penonton dapat lebih memperkaya pengetahuan mengenai isu yang diangkat dalam sebuah film jika mereka mengetahui makna dibalik penanda-penanda dalam film tersebut.

This paper examines various ideas behind certain signifiers in the movie Iron Lady. This movie contains several portrayals of signifiers that are strongly emphasized by the cinematographic elements. Most people are likely to pay less attention to signifiers in a movie and they consider the storyline is the most important one. However, it is argued that certain signifiers in the movie Iron Lady imply particular ideas. Since the figure of 'Iron Lady' is commonly associated with feminism, the discussion of the signifiers in this paper refers to feminist perspective. Certain signifiers in this movie introduce the background of some women issues as well as the condition of women in that era. Those prominent signifiers are pearls, court shoes, a hat, and a button. In this movie, the signifiers indicate that Margaret Thatcher embodies the concept of existentialist feminism which was proposed by Simone de Beauvoir. In this respect, it is better for spectators to acknowledge the meaning of signifiers in a movie to enhance a broader knowledge of the issue that is brought up in the movie."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Syifa Karina, auhtor
"Penulisan dalam skripsi ini dilakukan terhadap makna beauty yang dipahami secara berbeda, luas, dan banyak. Adapun metode penulisan yang ditempuh untuk menjawab permasalahan dalam skripsi ini adalah metode kepustakaan, metode dekonstruktif maupun metode analisis kritis. Dalam menganalisa problem beauty untuk mendapati pemahaman ontologis perspektif feminis, digunakan teori Speculum Luce Irigaray. Potret mengenai kecantikan perempuan dalam media ataupun definisi kecantikan tidak mewakili bagaimana perempuan yang 'seutuhnya' melainkan bagaimana perempuan 'seharusnya'. Definisi beauty perempuan yang katanya bersifat subjektif masih terdapat ideologi patriarki dan dikekang. Perempuan dituntut untuk tampil cantik dan menarik demi diakui feminitasnya oleh laki-laki, dalam hal pendefinisian akan cantik atau tubuhnya pun masih melalui sudut pandang laki-laki dan bukan berasal dari dirinya sendiri.

This thesis discuss the meaning of beauty that is understood differently, in wide range, and in many ways. To answer this problem, author use literally method, deconstructive, as well as critical analysis method. To analyze the problem of beauty to get fully understanding about ontological feminist perspective, using the theory of Speculum by Luce Irigaray. The image of women's beauty in media or in the definition of beauty itself does not define women as 'whole' and does not describe what women 'should be'. Definition of beauty which is known as subjective matter, but in the actualization still contains ideology patriarchy. That ideology force women to appeared beautifully and attractive in order to be acknowledge their femininity by social."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
S59342
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kiara Citra Rasaski
"Modernisasi dan westernisasi yang terjadi secara masif pada masa awal Korea menyebabkan banyaknya wacana barat terinstitusi dan diimplementasi ke dalam sistemnya. Konsep feminisme, keadilan, dan kesetaraan atas hak-hak perempuan di Korea belum menjadi dikursus aktif hingga tahun 1993. Prinsip Konfusianisme yang menjadi akar dari nilai dan tradisi Korea dianggap mengopresi dan membatasi ruang gerak perempuan, sehingga menyebabkan perempuan Korea memulai perlawanannya melalui aktivisme sosial untuk menuntut hak-hak dasarnya. Menggunakan metode kritik epistemologi feminis, penelitian ini dilakukan untuk menelaah pengaruh pemikiran barat terhadap konseptualisasi dan praktik Konsep Feminisme dalam masyarakat Konfusianisme Korea dan juga perkembangannya pada era kontemporer ini. Didukung dengan teori stand point serta interseksionalitas, peneliti menemukan bahwa aktivisme perempuan di Korea hingga saat ini memancarkan retorika feminis-radikal dengan perjuangan kelas dan sedikit isu gender di dalamnya. Perbedaan budaya yang kontras juga menyebabkan kontradiksi yang kompleks dan rumit hadir dalam feminisme kontemporer Korea.

Modernization and westernization that occurred massively in the early days of Korea cause many western discourses to be institutionalized and implemented into its system. The concept of feminism, justice, and equality for women’s rights in Korea did not become an active discourse until 1993. The Confucian principles which are the roots of Korean values and traditions are considered to suppress and limit women’s movement, causing Korean women to start their resistance through social activism to claim their basic rights. Using the method of criticism of feminist epistemology, this research was conducted to examine the influence of western thought on the conceptualization and practice of the concept of feminism in Korean Confucian society and also its development in the contemporary era. Supported by Standpoint Theory by Sandra Harding and Kimberlé Crenshaw’s intersectionality concept, the author found that women’s activism in Korea exudes radical-feminist rhetoric with class struggle and gender issues in it. The contrasting cultural differences also lead to complex and complicated contradictions present in contemporary Korean Feminism.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hearty, Free
"Penelitian ini melihat kontestasi pemikiran feminisme dan ideologi patriarki dalam tiga teks berbudaya Arab-Muslim, yakni: Women at Point Zero (WAPZ) karya Nawal El Saadawi (1976), A Wife for My Son (AWfMS) karya Ali Ghalem (1969), dan The Beginning and The End (TBTE) karya Naguib Mahfoudz (1949). Karena yang diamati adalah pertarungan ideologi, maka karya sastra di sini diperlakukan sebagai satu aspek budaya. Dengan begitu pendekatan yang digunakan adalah pendekatan budaya. Pengkajian budaya lebih mengamati aspek politis dari kehadiran teks sastra. Dalam hal ini teks sastra dianggap bisa menyosialisasikan berbagai hal untuk membangun atau meruntuhkan suatu ideologi.
Pendekatan budaya feminis, khususnya feminis Muslim, digunakan untuk mengamati bagaimana gagasan feminis dimunculkan menghadapi dominasi laki-laki, dan bagaimana citra perempuan sebagai korban atau citra perempuan yang berpotensi memperjuangkan kesetaraan ditampilkan dalam teks-teks WaPZ, AWfMS dan TBTE. Pendekatan budaya post-feminis yang digagas Naomi Wolf digabungkan dengan pandangan Fatima Mernissi dari feminis Muslim, digunakan untuk mengamati ketiga teks. Naomi Wolf menggunakan pendekatan Feminis Korban dan Feminis Kekuasaan untuk melihat permasalahan yang dihadapi perempuan dalam memperjuangkan ideologi feminisme. Feminis Kekuasaan adalah cara yang melihat potensi perempuan dan menganggap perempuan sebagai manusia biasa, sama seperti laki-laki, untuk menjadi setara. Kesetaraan memang sudah menjadi hak perempuan tanpa harus dimohon dari orang lain. Sedangkan Feminis Korban adalah cara yang digunakan dengan membuat catatan penderitaan perempuan karena kejahatan lelaki di bawah budaya patriarki, sebagai jalan menuntut hak. Gagasan Wolf ini sejalan dengan pemikiran Fatima Mernissi yang melihat permasalahan dengan melakukan pendekatan yang mempraktekkan toleransi, menunjukkan potensi diri, dan bukannya pembenaran diri sendiri. Wolf dan Mernissi punya pandangan sama, bahwa perlu membangun citra baru perempuan yang mengemukakan potensi diri yang mampu dan berhak untuk setara dengan laki-laki.
Nawal El Saadawi yang terkenal sebagai feminis yang aktif menggugat kekuasaan lelaki, dalam teks WAPZ menggunakan cara Feminis Korban. Nawal menggambarkan "catatan daftar kehancuran hidup Firdaus" dalam usahanya menggugat kekuasaan lelaki. Dalam kata pengantar dan cerita narator, Nawal membangun citra Firdaus yang korban kejahatan lelaki, sebagai perempuan yang berani dan terhormat. Namun lewat Firdaus yang menarasikan kisah hidupnya, yang muncul adalah gambaran kelemahan perempuan yang dengan mudah dibodohi dan ditindas lelaki tanpa pemberontakan yang berani. Keberanian Firdaus yang dimunculkan dengan membunuh mucikari dan menolak mengajukan grasi, tidak membangun citra baru perempuan. Keputusan membunuh muncul karena keadaan terdesak, tidak menunjukkan keberanian.
Dalam AWfMS, Ghalem tidak setajam dan sekeras Nawal mengangkat perjuangan perempuan yang menuntut perubahan. Namun caranya yang terkesan hati-hati mengusung gagasan perubahan dan modernisasi, Ghalem lebih menunjukkan bentuk pembelaan terhadap laki-laki. Laki-laki dalam teks dimunculkan juga sebagai korban budaya. Apalagi Ghalem secara tegas membedakan pemikiran tentang perubahan dan modernisasi dengan gagasan feminisme yang diangkat tokoh Fatouma. Sama seperti Nawal, Ghalem juga tidak membangun citra baru perempuan. Perempuan masih dimunculkan sebagai korban dalam konsep "Feminis Korbrm", dengan sifat dan sikap yang telah dibentuk budaya patriarki. Fatiha, tokoh utama, berontak hanya dalam gagasan. Sedangkan sikap dan pilihan hidup bertentangan dengan pikiran-pikiran yang menolak dominasi laki-laki. Ia menolak kawin paksa, tapi tidak menolak ketika dipaksa kawin dengan lelaki yang tidak dia kenal. Ia ingin mandiri tapi menggantungkan hidup kepada suami. Pada akhir kisah, Fatiha berontak dengan meninggalkan suami dan rumah mertua, tapi ditolak oleh orang tuanya. Menunggu dan berharap, seperti inilah citra perempuan yang ditampilkan. Khas patriarkis.
Dalam TBTE, Mahfoudz memunculkan tokoh perempuan yang berbeda. Mahfoudz menyorot potensi perempuan tidak dengan perspektif feminisme. Namun ketika potensi tersebut disorotnya, gambaran ini meruntuhkan mitos-mitos yang membagi kerja laki-laki dan perempuan. Gambaran ini bahkan membangun citra baru perempuan yang kuat, tegas, dan mandiri dalam membuat keputusan-keputusan. Citra seperti ini memungkinkan perempuan menunjukkan kemampuan dan berjuang memperoleh hak secara setara dengan laki-laki. Cara yang menyorot potensi perempuan seperti ini disebut sebagai "Feminis Kekuasaan".
Ketiga teks menunjukkan cara yang berbeda memunculkan kontestasi pemikiran feminisme dan ideologi patriarki. Perbedaan ini menampakkan bahwa kepedulian tentang diskriminasi jender dan kehendak memperjuangkan kesetaraan, tidak serta merta membuat sesorang bisa mengatur langkah strategis untuk memperjuangkan kesetaraan tersebut. Hal ini menunjukkan pula bahwa seorang feminis yang memperjuangkan keberpihakkan terhadap perempuan, bisa pula terjebak dalam perilaku yang dikonstruksi budaya patriarki. Secara sadar atau tidak, mereka terjebak dalam sikap yang meminggirkan perempuan dan mengukuhkan kekuasaan laki-laki.

The Contestation of Feminist Ideas and Patriarchal Ideology: An Analysis on Three Arab-Muslim Culture Literary Texts from a Moslem Feminist PerceptionThis research explores the contestation of feminist ideas and patriarchal ideology in three Arab-Moslem culture literary texts: Women at Point Zero (WaPZ) by Nawal El Saadawi (1976), A Wife for My Son (AWfMS) by Ali Ghalem(1969), and The Beginning and The End(TBTE) by Naguib Mahfoudz (1949). Referring to ideology contestation the above, literary works are viewed from a cultural aspect. Thus, the approach used is cultural. Cultural study perceives political aspects of a literary text. In this case, the literary text is assumed as being able to include everything, to build, or to destroy an ideology.
A cultural approach of feminists, especially Moslem feminists, is used to view how feminists ideas develop when the domination of men, and how the image of women as victims, or those having the potential to fight for equality is presented in the texts of WaPZ, AWIMS and TBTE. The cultural approach of post-feminism initiated by Naomi Wolf coupled with the view of Moslem feminist, Fatima Mernissi, is used to analyze those three texts. Naomi Wolf uses a Victim Feminist and Power Feminist approach to see problems facing women in their fight for feminist ideology. A Power Feminist approach is one way of seeing women's potential and assuming women as ordinary human beings, to become equal to men. Equality is truly considered as a woman's right without having to wrench it from others. A Victim Feminist approach shows women's suffering caused by men's under the culture of patriarchy, as a vehicle to demand justify. Wolfs idea is in line with Fatima Mernissi's, i.e. addressing problems through tolerance, showing self-potentials rather than self-justification. Both Wolf and Mernissi express it is necessary to build a new image of women, showing their self-potentials and entitled to be equal to men.
Nawal El Saadawi, famous as an active feminist, attacks men's power in the WaPZ text in a Victim Feminist manner. Nawal depicts "notes on the list of Firdaus living destruction" in an effort to fight men's power. In the narrator's account and preface, Nawal builds Firdaus image as the victim of men. But through Firdaus account of her life story, shows woman's weakness, i.e. she is easily cheated and victimized by men without offering resistance. The bravery of Firdaus by killing a pimp and refusing clemency does not produce a new image of women. The decision to kill is based on reason rather than bravery.
In AWfMS, Ghalem is not as keen and hard as Nawal in raising the problem of women's struggle for change. However, by a seemingly careful way of introducing change and modern ideas, Ghalem defends men. Man in literary text is considered also a cultural victim. More than anything else, Ghalem expresses the idea of change and modernization by introducing feminist Fatouma. Like Nawal, Ghalem does not build a new image of women. Woman is still a victim in the "Victim Feminist" concept, in which character are formed by patriarchal culture. Fatiha, the leading character, opposes patriarchy only in her mind. Her attitude and choices to live are against men's domination. She refuses a forced marriage, but agrees to be married to man she's never seen before. She wishes to be self-supporting, but depends economically on her husband. The end of the story shows how Fatiha rebels by leaving her husband and parent's in-law's house, but her parents refused to take her back. She just waits and hopes, a woman's image, typically built by patriarchy.
In TBTE Mahfoudz presents a different woman figure. Mahfoudz highlights the potential of woman unlike that approved of feminism. However, when emphasizing such potential, this picture demolishes myths with respect to the labor division of men and women. In fact, this picture builds a new image of woman who is strong, coherent, and self-supporting in making decisions. This image enables women to show their ability and to struggle for rights equal to men's. Stressing woman's potential like this is perceived as "Power Feminist".
The three texts offer different points of view in contesting feminist ideas and patriarchal ideology. This difference shows that the concern for gender discrimination and the will of fighting for equality do not necessarily make someone able to plan strategic steps to fight for equality. It is also indicates that feminists fighting for women's preference can be trapped also in a patriarchal cultured behavior. Consciously or not, they are trapped in an attitude forcing out women and confirming men's power.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2005
D538
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nilla Silvianty Alamsyah
"Penelitian ini bertujuan memperlihatkan ide representasi tokoh perempuan dalam alih wahana dari buku memoar ke film Eat Pray Love. Metode deskriptif analisis dengan teori feminisme tentang gender dan patriarki digunakan untuk melihat bagaimana tokoh-tokoh perempuan tersebut merepresentasikan ide perempuan sebagai bentuk perempuan modern. Dari hasil analisis tampak bahwa tokoh perempuan-perempuan modern dengan sengaja menampilkan tokoh-tokoh mandiri, pintar, berani bersuara dan tampil di depan umum, serta bersama-sama kaum laki-laki melakukan berbagai perjuangan dalam dunia ini.

This analysis aims to show the representation of an independent woman in the adaptation from memoir book to film Eat Pray Love. Descriptive analytical method and feminism theory about gender and patriarchal are used to see how the woman character represent her ideas as to form representation. From the characters who are intelligent and courageous women and men can be shown how important to work together and become independent and modern people in this world."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
T28708
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Endah Triastuti
"Tesis ini menelusuri bagaimana implikasi pengubahan yang dilakukan Disney dalam film animasi Mulan terhadap perempuan dan masyarakat Cina dengan menggunakan alat analisa semiotik Roland Barthes. Sistem bertingkat pada semiotik Barthes memperlihatkan bagaimana sebuah pesan yang sama, yaitu Mulan, dapat dilihat dari sisi yang berbeda. Menurut Disney, Mulan menjadi sebuah pesan tentang kepahlawanan seorang perempuan, karenanya Disney berani mengklaim bahwa Mulan dibuat dengan rasa keberpihakan kepada perempuan dan masyarakat non Barat.
Dilihat dari kerangka pemikiran feminisme dan mengacu pada perbedaan antara versi Cina dan versi Disney, film animasi Mulan menjadi sebuah pesan bahwa perempuan mengalami subordinasi yang bertingkat-tingkat. Subordinasi pertama terhadap perempuan terjadi ketika seseorang terlahir dengan jenis kelamin perempuan. Dengan bertopang pada mitos, masyarakat telah memberikan sekumpulan karakter pada perempuan yang mereka sebut sebagai karakter feminin. Masyarakat menjadikan karakter tersebut sebagai alasan yang kuat untuk menyebut perempuan sebagai mahluk yang subordinat dan menindas perempuan.
Subordinasi berikutnya terhadap perempuan terjadi ketika karakter feminin yang seolah menjadi karakter alamiah perempuan dilekatkan pada sesuatu (benda/orang/kelompok). Sehingga pada akhirnya apapun yang dinilai memiliki karakter feminin akan ditempatkan pada posisi yang subordinat dan mengalami penindasan. Karena mereka yang ingin berkuasa atas sesuatu pada akhirnya menggunakan cara-cara yang sama dengan cara-cara yang digunakan laki-laki untuk menguasai perempuan. Melalui pendekatan etnografis, saya menemui bahwa di tingkat penonton terdapat tiga kelompok berkenaan dengan makna yang mereka berikan terhadap Mulan: yaitu kelompok lover, kelompok ironist serta kelompok hater."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2004
T11970
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gadis Arivia Effendi
"Disertasi ini mengekplorasi persoalan-persoalan filsafat dan feminisme. Di dalam eksplorasi ini, peneliti menunjukkan dominasi pemikiran maskulin di dalam filsafat Barat. Sebanyak 14 filsuf terkenal diteliti mulai dari filusuf-filsuf Yunani hingga filsuf-filsuf kontemporer dalam teks-teks filosofis mereka tentang perempuan. Temuan-temuan yang dicapai adalah bahwa kebanyakan filsuf-filsuf meminggirkan perempuan dalam mainstream filsafat dan tidak memberikan ruang bagi pemikiran feminin. Peneliti menggunakan pendekatan dekonstruksi untuk memperlihatkan bagaimana cara berpikir maskulin beroperasi dan dengan pendekatan yang sama berhasil menyuarakan filsuf-filsuf perempuan dengan cara baca yang baru. Penelitian ini juga mengajukan konsepkonsep baru yang disebut filsafat feminis dengan memperhatikan filsafat sebagai yang bertubuh dan bergender dengan demikian mengakui epistemologi standpoint, sexual difference metafisikalontologi, kepedulian dalam etika dan secara umum menerima persoalan-persoalan ranah privat (domestik) sebagai persoalan-persoalan filosofis. Konsep-konsep ini dapat berkonstribusi banyak untuk kemajuan filsafat dan masa depan filsafat dimana peranan keadilan gender sangat penting. Pemikiran feminis merupakan teori pembebasan dalam teori-teori sosial dan pembebasan bagi filsafat itu sendiri.

This dissertation explores the relationship between philosophy and feminism. The researcher hypothesizes that masculine thoughts dominate Western philosophy. The texts on women from fourteen prominent Western philosophers ranging from Greek to contemporary were analyzed The findings are that most philosophers marginalized women and that mainstream Western philosophy provides little space for feminine thinking. The researcher uses deconstruction to show how masculine thoughts operate in a Western philosophical context and with the same tools, the researcher brings out the voices of women philosophers and a new interpretation of their philosophical works. This research also proposes new concepts in the discourse of philosophy, arguing philosophy as gendered and embodied, therefore, creating space for a feminist philosophy which includes standpoint epistemology, sexual difference in metaphysics/ ontology, and care in ethics. In the whole, this dissertation would like to put forward issues of the private sphere (domestic issues) as issues in philosophy. "the private is philosophy". It is the researcher's hope that these concepts will contribute to the progress of philosophical thought and a future where gender justice plays an important role in society. Feminist thought is a liberation in social theory and feminism in philosophy liberates philosophy itself."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
D527
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sylvana Gustin Santoso
"Perilaku seksisme masih dijumpai di negara dengan tingkat kesetaraan gender yang cukup tinggi, salah satunya negara Jerman. Di era feminisme yang cukup baik, perilaku seksisme justru dilakukan oleh sesama perempuan. Sesama perempuan ini membentuk persaingan intraseksual atau feminine rivalry dengan standar yang dibuat laki-laki. Standar tersebut dibuat bukan karena pengaruh langsung dari laki-laki, melainkan melalui proses internalisasi objektifikasi perempuan terhadap diri sendiri dan orang lain. Isu tersebut akan diteliti melalui film Freibad (2022) yang disutradarai oleh Doris Dörrie. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori Representasi oleh Stuart Hall dan teori film Auteur. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa persaingan antar perempuan banyak terjadi di ruang lingkup feminisme. Kehadiran laki-laki yang minim nyatanya masih memiliki pengaruh besar terhadap pandangan perempuan terhadap sesamanya. Kebebasan perempuan masih terkekang oleh standar laki-laki yang diaplikasikan kepada diri sendiri dan perempuan lain.

Sexist behavior is still found in countries with high gender equality index, such as Germany. In the feminism era, sexist behavior is actually carried out by fellow women. These women form an intrasexual competition or feminine rivalry with standards made by men. These standards are no longer made because of direct influence of men, but through the internalization process of women’s objectification of themselves and others. This issue will be researched through the film Freibad (2022) directed by Doris Dörrie. This study is conducted using the qualitative method through Representation theory by Stuart Hall and Auteur film theory. The results of this study show that competition between women occurs in the scope of feminism. The insignificant presence of men still has big influence on women’s view towards each other. Women’s freedom is still limited by male standards applied to themselves and other women."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Monica Kansy
"[ ABSTRAK
“Brave” adalah sebuah film animasi komputer dari Amerika yang bertemakan fantasi komedi yang
diproduksi oleh Pixar Animation Studios dan di diterbitkan oleh Walt Disney Pictures pada tahun 2012. Film
ini berbeda dari cerita fairy tales klasik. Film ini mempresentasikan perempuan sebagai tokoh utama.
Masalah yang akan dibahas di sini adalah bagaimana tokoh-tokoh perempuan direpresentasikan dalam film
“Brave”. Penelitian ini menggunakan semiotik dan kode televisi oleh John Fiske. Beberapa subtema yang
digunakan adalah feminism dalam kekuatan, feminism dalam kepemimpinan, feminism dalam stereotip,
feminism dalam karakterisasi, dan feminism dalam kebebasan. Lebih lanjjut lagi, film ini menunjukan
beberapa perubahan mendasar dari stereotip film Disney.

ABSTRACT
"Brave" is an American computer-animated fantasy comedy film produced by Pixar Animation Studios and
released by Walt Disney Pictures in 2012. This film is different from classic fairy tales. This film
represented a tough woman as the main character. The problem that will be discussed here is how the female
characters are represented in "Brave". This study uses semiotics, particularly codes of television by John
Fiske. Subthemes are used to analyze feminism in power, feminism in leadership, feminism in stereotypes,
feminism in characterization, and feminism in freedom. The conclusion of this study is that the film contains
feminism in power, leadership, stereotypes, characterization, and freedom. Furthermore, this film shows
some basic changes from the common stereotype of Disney movie.;"Brave" is an American computer-animated fantasy comedy film produced by Pixar Animation Studios and
released by Walt Disney Pictures in 2012. This film is different from classic fairy tales. This film
represented a tough woman as the main character. The problem that will be discussed here is how the female
characters are represented in "Brave". This study uses semiotics, particularly codes of television by John
Fiske. Subthemes are used to analyze feminism in power, feminism in leadership, feminism in stereotypes,
feminism in characterization, and feminism in freedom. The conclusion of this study is that the film contains
feminism in power, leadership, stereotypes, characterization, and freedom. Furthermore, this film shows
some basic changes from the common stereotype of Disney movie., "Brave" is an American computer-animated fantasy comedy film produced by Pixar Animation Studios and
released by Walt Disney Pictures in 2012. This film is different from classic fairy tales. This film
represented a tough woman as the main character. The problem that will be discussed here is how the female
characters are represented in "Brave". This study uses semiotics, particularly codes of television by John
Fiske. Subthemes are used to analyze feminism in power, feminism in leadership, feminism in stereotypes,
feminism in characterization, and feminism in freedom. The conclusion of this study is that the film contains
feminism in power, leadership, stereotypes, characterization, and freedom. Furthermore, this film shows
some basic changes from the common stereotype of Disney movie.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
M. Nuruzzaman
"Terlibatnya laki-laki -feminis laki-laki- dalam perjuangan dan pembelaan terhadap perempuan mendapatkan tantangannya ketika beberapa kelompok feminis melakukan penolakan dan penerimaanya, dengan argumentasi yang berbeda, kelompok feminis yang menerima laki-laki sebagai pemebela perempuan beralasan bahwa tidak semua laki-laki memperlakukan perempuan buruk, dan banyak laki-laki (feminis laki-laki) yang memiliki perasaan yang lama dengan perempuan bahwa ada persoalan ketimpangan dalam relasi sosial anti laki-laki dan perempuan yang harus diperbaiki. Sementara itu perjuangan sosialisasi wacana dari gerakan perempuan mendapatkan benturannya ketika berhadapan dengan wacana keagamaan. Pesantren -yang di dalamnya terdiri dari Kiai, pengetahuan yang diproduksinya (wacana agama) dan budaya yang dihasilkan dari pengetahuan agama- sebagai basis Islam tradisional dianggap memiliki peran yang besar dalam melakukan subordinasi terhadap perempuan, namun dari beberapa kasus munculnya pembelaan terhadap perempuan justru bermula dari kelompok Islam tradisionalis atau pesantren, misalnya pernyataan bahwa perempuan boleh menjadi kepala negara. Dengan sikap tersebut pesantren menjadi penting untuk dilibatkan dalam melakukan sosialisasi wacana dan gerakan perempuan.
Melihat hal tersebut, permasalahan utama penelitian ini adalah melihat gagasan KH. Husien Muhammad sebagai feminis laki-laki tentang persoalan-persoalan yang dihadapai perempuan, inti dari penelitian ini adalah, melihat gagasan-gagasan KH. Husien Muhammad sebagai ulama pesantren (Islam tradisonalis) terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan dengan perspektif Islam terutama wacana Islam klasik, karena gagasannya KH. Husien dianggap sebagai kiai feminis dan menjadi pembuka dalam melakukan perubahan-perubahan wacana keagamaan pesantren. Analisisnya difokuskan pada gagasan-gagasan KH. Husien Muhammad sebagai ulama pesantren yang memproduksi wacana-wacana keagamaan dan aktifitasnya sebagai kiai yang melakukan pembelaan terhadap perempuan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi terhadap KH. Husien Muahammad dan gagasan-gagasannya baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk diskusi, dan studi pustaka. Juga beberapa kiai di sekitar pesantren Cirebon, dan teman-teman aktifitas Husien lainnya.
Dari hasil analisis menunjukan bahwa pada awalnya Husien juga sangat resisten terhadap reinterpretasi wacana agama yang melakukan pembelaan terhadap perempuan, namun karena seringnya ia mengikuti kegiatan tentang masalah-masalah yang dihadapi perempuan gagasannya berubah menjadi pembela terhadap perempuan, bahkan dia dianggap dan dijadikan rujukan utama oleh para. aktifis perempuan dalam menyelesaikan masalah-masalah agama dan perempuan. Husien adalah laki-laki yang memahami dan merasakan ketertindasan perempuan yang dilakukan oleh tafsir agama, padahal Husain yakin dalam ajaran agama, Tuhan tidak membedakan laki-laki dan perempuan, sehingga Husien melakukan tafsir ulang terhadap teks-teks agama yang melakukan subordinasi terhadap perempuan.
Diskusi teoritik yang dihasilkan adalah (1) KH. Husien adalah feminis laki-laki yang sangat diperlukan atau sekutu yang efektif oleh kelompok feminis lainnya, karena Husien melakukan perjuangan pembelaan terhadap perempuan dari perepektif yang jarang orang menguasainya, malah kadang agama menjadi legitimasi untuk mensubordinasi perempuan terus menerus. (2) Husien sebagai ulama adalah alat sosialisasi wacana jender bagi masyarakat Islam tradisonalis yang masih memegang teguh budaya hormat pada guru atau kiai, karena Husien adalah kiai maka wacana yang diusung Husien diharapkan akan menyebar ke masyarakat pesantren secara luas. (3) Reinterpretasi terhadap teks-teks agama yang dilakukan Husien tidak akan terlalu besar mengundang kritik atau resisiten karena Husien dianggap memiliki legitimasi dalam melakukan reinterpretasi terhadap teks.
Rekomendasi kebijakan yang diusulkan adalah: (1) Laki-laki tidak selalu menjadi musuh utama perempuan bahkan kadang menjadi sekutu paling utama dalam melakukan perjuangan pembelaan terhadap perempuan.(2) Aktifis demokrasi dan jender kebanyakan berlatar belakang pendidikan sekuler yang lebih mengandalkan pada alat analisis sosial dan filsafat atau berlatar belakang pendidikan agama tetapi tidak memiliki otoritas keagamaan yang diakui oleh masyarakat, maka sangat penting seorang yang memiliki otoritas keagamaan melakukan interpretasi terhadap teks-teks agama untuk melakukan pembelaan terhadap perempuan dengan legitimasi teks agama pula. (3) Aktifis perempuan perlu mendorong gagasan keadilan dan kesetaraan terhadap perempuan masuk ke dalam masyarakat secara luas dengan menggunakan berbagai macam strategi, tidak terkecuali pesantren dengan mengubah kesadaran mereka dengan gagasan-gagasan Islam dan jender. (4) Sehubungan ada kesadaran bahwa agama menjadi alat legitimasi subordinasi perempuan -terutama di pesantren- maka dibutuhkan argumentasi-argumentasi keagamaan yang melawan pemahaman keagamaan dengan disesuaikan pengetahuan dan kemampuan masyarakat pesantren."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2004
T13829
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>