Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 23686 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Rehabilitasi jantung pada klien pasca bedah pintas koroner sangat penting, yang dilakukan sedini mungkin sejak awal perawatan, dilanjutkan setelah pulang dari RS. Program latihan fase II dimulai sejak klien keluar dari RS hingga 4-8 minggu. Tujuan penelitian adalah mengidentiiikasi tingkat kemarnpuan fisik klien pasca CABG setelah mengikuti program latihan fase II. Metoda penelitian menggunakan deskripsi sederhana dengan mengidentifikasi kapasitas fungsional yang dinilai melalui subyektif (kuesioner) ada tidaknya keluhan, kemampuan aktivitas, latihan, dan kapasitas aerobik melalui uji latih beban. Responden adalah pasien pasca CABG 85 orang, laki~
laki dan wanita, yang telah mengikuti Iatihan fase II dan telah dilakukan uji latih beban setelah 12 kali Iatihan. Hasil penelitian menunjukkan klien terbanyak 57,5% berusia 50-S9 tahun, laki-laki lebih banyak 96,4% , tidak ada keluhan 80%, kegiatan yang mampu dilakukan dalam kategori sedang (5-7 METS) 68%, kapasitas aerobik 2 6 METS 90,6%, dan belum kembali bekerja 80%.
Tingkat kemampuan fisik klien pasca CABG setelah mengikuti program fase II bervariasi tetapi pada umumnya memenuhi sasaran program yaitu 68% mampu melakukan aktivitas 6 METS, berjalan lebih 3 km/30 menit, tidak ada keluhan dan dapat mencapai kapasitas aerobik 2 6 METS."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
TA5425
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"Penelitian ini bertujuan mengidentiflkasi Iama waktu yang diperlukan pemberian Iatihan
fisik rehabilitasi jantung sudah dapat meningkatkan kemampuan melakukan aktifitas
kehidupan sehari-hari pada penderita pasca CABG. Pcnelitian dilakukan di Pusat Jantung
Nasional Harapan Kita, Sampel diambil secara random dengan kriteria sampel berusia antara 40-60 tahun, kondisi penyakit dalam stratifikasi rendah- sedang dan sudah dapat melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari secara mandiri tampa keluhan angina, sesak napas, cepat lelah. Sampel diperoleh sebanyak 30 responden yang memenuhi kriteria dan sudah diberikan penjelasan tentang maksud, tujuan serta sara pengisian kuesioner yang merupakan alat pengumpul data. Kuesioner berisi lembar persetujuan responden, data demografi 8 item meliputi : nama(inisial), usia, jenis kelamin, pendidikan, suku bangsa, agama, pekerjaan dan status perkawinan. Sedangkan pertanyaan setelah berapa hari diberikan latihan fisik rehabilitasi penderita pasca CABG sudah dapat melakukan aktifitas sebanyak 10 item, berupa kemampuan membaca, menulis, bergerak pindah dari tempar tidur, toileting, makan sendiri, mandi sendiri, berwudhu, bersholat, barpakaian dan naik tangga. Data yang terkumpul diteliti, ditabulasi dan diolah dengan menggunakan metode statistik tendensi sentral yaitu mean, median dan modus. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan
prosentase mean dan modus."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5258
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Wenny Fitrina Dewi
"Background:
Cardiac rehabilitation in patients with Coronary Artery Bypass Surgery (CABG) is an effective way in reducing mortality in patients with coronary heart disease (CHD). The presence of impaired cardiac autonomic function is increase the risk of arrhythmias and sudden death. Exercise training as one component of cardiac rehabilitation can improve autonomic function that can be measured indirectly with Heart Rate Recovery (HRR). The aim of this study is to assess the effect of the frequency of physical exercise on improved of HRR.
Metod:
The data used for this analysis include 100 patients who underwent second phase of cardiac rehabilitation after CABG at Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Jakarta between July and October 2013. Patients were categorized into group I (exercise 3 times a week) : 40 people and group II (5 times a week exercise) : 60 people. Heart rate recovery was measured with a 6 minute walk test (6MWT). Measurements were performed 2 times, in the early phase and the evaluation phase after 12 times. Increased HRR from both groups were analyzed by linear regression analysis.
Result :
In our study, age, gender, diabetes mellitus, psychological, smoking, coronary artery bypass surgery and the duration of aortic cross clamp did not affect the increase of HRR. Five times a week exercise training gives significant increase of HRR compare to 3 times a week exercise training after analyzed multivariate linear regression ( RR 2.9, 95% KI 1.53 to 4.40, p <0.001 ).
Conclusion:
Frequency of physical exercise 5 times a week give a better response to the increase in HRR than exercise 3 times a week.

Latar Belakang:
Rehabilitasi jantung pada pasien Bedah Pintas Arteri Koroner (BPAK) merupakan tindakan efektif dalam menurunkan mortalitas pada pasien dengan Penyakit Jantung Koroner (PJK). Adanya gangguan fungsi otonom jantung dikatakan meningkatkan risiko aritmia dan kematian mendadak. Latihan fisik sebagai salah satu komponen rehabilitasi jantung dapat meningkatkan fungsi otonom yang dapat diukur secara tidak langsung dengan Heart Rate Recovery (HRR). Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh frekuensi latihan fisik terhadap peningkatan HRR.
Metode:
Sebanyak 100 pasien pasca BPAK yang melakukan rehabilitasi jantung fase II dipilih secara konsekutif sejak 1 Juli ? 15 Oktober 2013 di Pusat Jantung nasional Harapan Kita, Jakarta. Pasien dikelompokkan menjadi kelompok I (3 kali latihan seminggu) sebanyak 40 orang dan kelompok II (5 kali latihan seminggu) sebanyak 60 orang. Heart rate recovery satu menit diukur dengan uji jalan 6 menit/6 minute walk test (6MWT). Pengukuran dilakukan 2 kali, pada fase awal dan fase evaluasi setelah 12 kali. Peningkatan HRR dari kedua kelompok dianalisa dengan analisa regresi linier.
Hasil:
Pada studi kami, usia, gender, diabetes melitus, psikologis, merokok, bedah pintas arteri koroner dan lamanya aortic cross clamp setelah dianalisa tidak mempengaruhi peningkatan HRR secara bermakna. Frekuensi latihan 5 kali seminggu memberikan peningkatan HRR yang bermakna secara statistik dibandingkan 3 kali seminggu setelah dianalisa dengan regresi linier multivariate (RR 2,9; 95 % IK 1,53-4,40, p<0,001)
Kesimpulan: Frekuensi latihan fisik 5 kali seminggu memberikan respon yang lebih baik terhadap peningkatan HRR dibandingkan latihan 5 kali seminggu."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T58695
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Program rehabilitasi jantung merupakan proses berkelanjutan yang ditujukan pada kiien
infark miokard yang sifatnya fleksibel karena perkembangannya disesuaikan dengan
kebutuhan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif sederhana yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi klien infark miokard untuk mengikuti program rehabilitasi jantung. Sampel terdiri dari 49 responden yang mengikuti program rehabilitasi di klub jantung koroner Rawamangun. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuisioner dan data dianalisa dengan metode statistik deskriptif sederhana. Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi responden untuk mengikuti program rehabilitasi jantung dipengaruhi oleh kebutuhan psikologis( 87,75 % ), kebutuhan biologis ( 81,63 % ), kebutuhan sosial ( 75,51 % ) dan kebutuhan spiritual (69, 38 % )."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2004
TA5401
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Trisna Desmiati
"Latihan merupakan komponen penting dari program rehabilitasi pasien pasca infark miokard akut. Pada penelitian ini 29 penderi ta pasca infark miokard akut tanpa komplikasi, umur antara 33-65 tahun, dikonsulkan ke UPF Rehabilitasi Medik RSJ Harapan Kita. Penderita dibagi atas 2 kelompok. Kelompok I (15 orang) mengikuti latihan di UPF Rehabilitasi Medik RSJHK, kelompok II (14 orang) latihan sendiri di rumah. Kapasitas fungsional awal dengan pemeriksaan treadmil test tidak berbeda bermakna antara ke dua kelompok (5,830 SD 1,235 dan 6,208 SD 1,979). Setelah 2 bulan kapasi tas fungsional berbeda bermakna antara 2 kelompok (9,078 SD 1,086 dan 7,586 SD 1,519). Peningkatan kapasitas fungsional kelompok I lebih besar dibandingkan kelompok II (55,7% dan 22,05%). Kesimpulan latihan rumah boleh dipilih sebagai alternatiflain bila latihan di pusat latihan tidak memungkinkan pada pasien pasca infark miokard tanpa komplikasi, tapi latihan di pusat latihan lebih baik.

Exercise training is an important component of rehabilitative care for the patients who had an acute myocardial infarction. In this study, 29 uncomplicated acute myocardial infarction 33 years - 65 years old were admitted to UPF Medical Rehabilitation Harapan Kita Hospital. They were divided into two groups, 15 of the group I who performed hospital exercise and 14 of the group II who performed home exercise. They were no significant different of the initial functional capacity test by treadmill between the two group (5,830 SD 1,235 vs 6,208 SD 1,979). The functional capacity were found significant different between the two group after two months exercise (9,078 SD 1,086 vs 7,586 SD 1,519). The functional capacity increased significantly greater in group I during 2 month evaluation (55,7% vs 22,05%). Conclusion home exercise can be used as an alternative program in cardiac rehabilitation but hospital exercise is better."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia , 1994
T59074
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Danaparamita Hapsari
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas latihan aerobik rehabilitasi jantung fase dua berbasis rumah dibandingkan berbasis rumah sakit pada pasien penyakit jantung koroner pascaintervensi koroner perkutan. Jumlah subjek penelitian sebesar 32 subjek, dengan masing-masing 15 subjek pada tiap kelompok yang dapat dianalisis. Subjek rata-rata berusia 57,97±11,59 tahun dan didominasi oleh laki-laki (80%). Kedua kelompok menunjukkan peningkatan bermakna uji jalan enam menit setelah 6 minggu intervensi dibandingkan sebelum (berbasis rumah sakit 397±78-450±73 m; berbasis rumah 350±106-454±67 m) nilai p<0,05. Peningkatan uji jalan enam menit tidak berbeda bermakna secara statistik pada kelompok berbasis rumah sakit (62 m) dibandingkan kelompok berbasis rumah (61 m) nilai p>0,05. Kesimpulan penelitian ini adalah latihan aerobik rehabilitasi jantung fase dua selama 6 minggu secara signifikan meningkatkan jarak tempuh uji jalan enam menit dan peningkatan tidak berbeda bermakna berbasis rumah sakit dibandingkan berbasis rumah pada pasien pasien penyakit jantung koroner pascaintervensi koroner perkutan.

This study aims to determine the effectiveness of home-based phase II cardiac rehabilitation aerobic exercise compared to hospital-based in patients with coronary heart disease after percutaneous coronary intervention. Total subjects were 32 subjects, with 15 subjects in each group that could be analyzed. The average subject’s age was 57.97±11.59 years old and dominated by men (80%). Both groups showed a significant increase in the six-minute walk test after 6 weeks of intervention compared to baseline (hospital-based 397±78-450±73 m; home-based 350±106-454±67 m) with p value<0.05. The increase in the six-minute walk test was not statistically significantly different in the hospital-based group (62 m) compared to the home-based group (61 m) with p value>0.05. The conclusion of this study is Cardiac rehabilitation aerobic exercise in phase two for 6 weeks significantly increased the distance traveled on the six-minute walk test and the increase was not significantly different from hospital-based compared to home-based in patients with coronary heart disease after percutaneous coronary intervention."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Septiana Hannani Adina Putri
"Pada pasien dengan penyakit jantung terutama pada pasien pasca Intervensi Koroner Perkutan (IKP) penting dilakukan perawatan lanjutan yaitu rehabilitasi jantung. Data menunjukkan bahwa jumlah partisipasi pada rehabilitasi jantung menurun, terutama pada fase II. Padahal banyak manfaat yang didapatkan dari mengikuti rehabilitasi jantung salah satunya adalah mengurangi tingkat mortalitas dan meningkatkan kesehatan jantung. Tujuan dari Penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap partisipasi rehabilitasi jantung fase II pada pasien pasca Intervensi Koroner Perkutan (IKP). Desain penelitian menggunakan cross sectional study. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 84 responden yang telah melakukan IKP dan sudah mengikuti rehabilitasi jantung Fase I. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode consecutive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi rehabilitasi jantung fase II dipengaruhi oleh usia, tingkat pendidikan, riwayat merokok, efikasi diri, dan dukungan keluarga dengan efikasi diri menjadi faktor dominan. Penelitian ini merekomendasikan untuk dilakukan pengkajian keperawatan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap rehabilitasi jantung fase II dan melakukan edukasi serta memberi pilihan untuk melakukan rehabilitasi jantung di rumah.

Cardiac Rehabilitation was important for patient with cardiac disease especially patient post Percutaneous Coronary Intervention. Data shows that participation of cardiac rehabilitation in Phase II was decreasing, whereas a lot of benefit from cardiac rehabilitation, including decrease mortality rate and increase the cardiac health. Aim of this study was to identify factors that Affecting Participation of Cardiac Rehabilitation phase II at Patient Post Percutaneous Coronary Intervention. The research configuration utilized a cross sectional review. The example in this study added up to 84 individuals who had percutaneous coronary intervention and already participate in cardiac rehabilitation phase I. Result shows that participation of cardiac rehabilitation phase II was affected by age, education level, smoking history, self efficacy and family support. The dominant factor was self efficacy. This research recommend to do nursing assesment to know the factors that affecting participation of cardiac rehabilitation phase II and made health education for patient and give them choises to do cardiac rehabilitation at home."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asri Muttaqin
"Tesis ini disusun untuk mengetahui manfaat program rehabilitasi jantung fase II pada SKA terhadap kualitas hidup. Desain: prospektif kohort. Subjek: stabil, mengikuti program rehabilitasi jantung fase II (SOP rehabilitasi medik divisi kardiovaskuler RSCM). Subjek (n=26) mengisi kuesioner demografi dan riwayat penyakit jantungnya. Kualitas hidup sebelum, minggu ke-4, selesai rehabilitasi jantung fase II dinilai dengan SF-36. Karakteristik subjek:  usia 64 (44-81) tahun; jenis kelamin laki-laki (69.2%), perempuan (30.8%); pendidikan SLTA/sederajat (46.2%), perguruan tinggi (38.5%), SLTP/sederajat (11.5%), SD (3.8%); intervensi PCI (69.2%), CABG (30.2%); hipertensi dislipidemia (84.6%), DM (34.6%); risiko kardiovaskuler tinggi (57.7%), sedang (34.6%), rendah (7.7%); tidak merokok (53.8%), perokok berat (26.9%), sedang(15.4%) dan ringan(3.8%). Skor kualitas hidup sebelum, setelah 4 minggu, setelah selesai mengikuti fase II program rehabilitasi jantung: fungsi fisik 68.27±16.4, 83.65±10.6, 95(80-100); peranan fisik 37.5(0-100), 75(0-100), 100(50-100); emosi 66(0-100), 66(0-100), 100(66-100); energi 77.5(35-95), 80.58±10.5, 90(60-100); jiwa 94(60-100), 96(60-100), 96(72-100); sosial 88(50-100), 88(63-100), 100(87-100); nyeri 72.73±21.3, 90(45-100), 100(67-100); kesehatan umum 66.92±13, 72.5±14.4, 90(45-100). Analisis statistik: analisis univariat, bivariat, multivariat, uji proporsi.  Kesimpulan: skor kualitas hidup meningkat bermakna sebelum, 4 minggu, selesai rehabilitasi jantung fase II pada skala fungsi fisik (p=0.000); peranan fisik (p=0.001, p=0.02, p=0.000); energi (p=0.009, p=0.005, p=0.001); nyeri (p=0.05, p=0.03, p=0.000); kesehatan umum (p=0.045, p=0.000, p=0.000).

The purpose of this thesis is to find phase II cardiac rehabilitation program’s benefit in ACS on quality of life. Design: prospective cohort. Subjects: stable, participated in phase II cardiac rehabilitation program (Cardiovascular Division, Medical Rehabilitation Polyclinic, RSCM). Subjects (n=26) filled demographic questionnaires and heart disease histories. Quality of life were assessed using SF-36: before, 4th week, complete phase II cardiac rehabilitation. Subjects characteristics: age 64(44-81) years; male (69.2%), female (30.8%); education: senior high school/equivalent (46.2%), college (38.5%), junior/equivalent (11.5%), elementary school (3.8%); interventions: PCI (69.2%), CABG (30.2%); hypertension dyslipidemia (84.6%), DM (34.6%) cardiovascular risk: high (57.7%), moderate (34.6%), low (7.7%); smoking: none (53.8%), heavy (26.9%), moderate (15.4%), light (3.8%). SF-36 scores: before, after 4 weeks, complete phase II cardiac rehabilitation program: physical function 68.27±16.4, 83.65±10.6, 95(80-100); physical roles 37.5(0-100), 75(0-100), 100(50-100); emotional 66(0-100), 66(0-100), 100(66-100); energy 77.5(35-95), 80.58±10.5, 90(60-100); mental 94(60-100), 96(60-100), 96(72-100); social 88(50-100), 88(63-100), 100(87-100); pain 72.73±21.3, 90(45-100), 100(67-100); general health 66.92±13, 72.5±14.4, 90(45-100). Statistical analysis: univariate analysis, bivariate, multivariate, proportion testing.  Conclusion: quality of life score increased significantly before, after 4 weeks, complete phase II cardiac rehabilitation on scale: physical function (p=0.000); physical role (p=0.001, p=0.02, p=0.000); energy (p=0.009, p=0.005, p=0.001); pain (p=0.05, p=0.03, p=0.000); general health (p=0.045, p=0.000, p=0.000)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bambang Dwiputra
"Latar Belakang: Proprotein convertase subtilisin kexin-9 PCSK-9 merupakan protein yang menghancurkan reseptor low density lipoprotein LDL sehingga penurunan kadarnya dapat menurunkan kadar LDL. Sebagai bagian dari pencegahan sekunder, latihan resistensi direkomendasikan pada pasien pasca bedah pintas arteri koroner BPAK.
Tujuan: Mengetahui efek tambahan latihan resistensi terhadap kadar PCSK-9 pada pasien pasca bedah pintas arteri koroner yang menjalani rehabilitasi fase II.
Metode: Studi eksperimental randomisasi acak tersamar tunggal membagi 87 pasien pasca BPAK menjadi dua kelompok. Kelompok kontrol n=43 adalah pasien yang menjalani rehabilitasi fase II standar sementara kelompok intervensi n=44 adalah pasien yang menjalani rehabilitasi fase II ditambah dengan latihan resistensi tersupervisi. Kadar PCSK-9 diperiksa sebelum dan sesudah rehabilitasi fase II pada kedua kelompok.
Hasil: Setelah menyelesaikan rehabilitasi fase II, didapatkan perbedaan kadar PCSK-9 yang bermakna antara kelompok kontrol dan intervensi 377,1 SD 125 vs 316,6 111,1 ng/ml, ?= -60,5 ng/ml, 95 CI -7,5 -113,4, p=0.026. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kadar LDL p=0,07, kolesterol total p=0,99, high density lipoprotein HDL p=0,44, dan trigliserid p=0,56 antara kedua kelompok pada akhir rehabilitasi fase II.
Kesimpulan: Tambahan latihan resistensi dapat menurunkan kadar PCSK-9 secara bermakna pada pasien pasca bedah pintas arteri koroner yang menjalani rehabilitasi fase II.

Background: Pro protein Convertase Subtilisin Kexin 9 PCSK 9 is a protein degrading low density lipoprotein LDL receptor that lower LDL. As secondary prevention, resistance training is recommended after coronary artery bypass surgery CABG as a complement to aerobic exercise.
Objective: To determine the effects of additional resistance training on PCSK 9 levels and lipid profile in post CABG patients who undergo phase II cardiac rehabilitation.
Methods: A single blinded randomized clinical trial of 87 post CABG patients was devided into two groups. The control group n 43 consisted of patients who received standard phase II cardiac rehabilitation while intervention group n 44 received standard program and supervised resistance training. PCSK 9 level and lipid profile examination were performed pre and post training.
Results: After completion of phase II cardiac rehabilitation, mean PCSK9 levels in intervention group decrease significantly compared to control group control vs intervention, 377,1 SD 125 vs 316,6 111,1 ng ml, 60,5 ng ml, 95 CI 7,5 113,4 , p 0.026 . Nonetheless, there are still no significant changes in terms of LDL level p 0,07 , total cholesterol p 0,99 , high density lipoprotein p 0,44 and triglyseride levels p 0,56 pre and post intervention between two groups.
Conclusion: The additional resistance training can reduce significantly PCSK 9 levels in patients after CABG surgery who underwent phase II cardiac rehabilitation.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T58904
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
I Made Mertha
"Tesis ini membahas pengaruh latihan aktifitas rehabilitasi jantung fase I terhadap efikasi diri dan kecemasan pasien PJK di RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian dilakukan berdasarkan kenyataan PJK sebagai penyakit kardiovaskuler dan pembuluh darah dengan angka kematian yang terus meningkat. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain kuasi eksprimen tanpa kelompok kontrol. Sampel diambil dengan menggunakan teknik consecutive sampling dengan jumlah sampel 30 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner efikasi diri dengan 17 item pertanyaan dan kuesioner kecemasan dengan 18 item pertanyaan.Hasil uji validitas dan realibilitas menggunakan Alpha Cronbach dengan hasil baik.
Analisis data didapatkan bahwa terdapat pengaruh bermakna latihan aktifitas terhadap peningkatan efikasi diri (p=0,001), dan terhadap penurunan kecemasan responden (p=0,001) setelah dilakukan intervensi latihan aktifitas. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa pengambil kebijakan di RSUP Sanglah Denpasar menyusun dan menetapkan protap program rehabilitasi jantung fase I bagi pasien PJK selama dirawat.

This study investigated the effect of Phase-1 heart rehabilitation activity exercise on self-efficacy and anxiety of patients with coronary heart disease (CHD) at Sanglah General Central Hospital. The study was undergone based on the fact that mortality rate due to CHD the increased progressively. This study was a quantitative research using a quasi experimental design without control group. A number of 30 samples were involved and approached using consecutive sampling. A validated questionnaire including 17 questions to explore self-efficacy and 18 questions to measure anxiety, were used.
Statistical analysis indicated that there was a significant effect of the exercise on increased self-efficacy (p=0.001) and patients? activity (p=0.001). It was recommended that the hospital?s decision maker need to develop and to authorize a standardized operational procedure containing Phase-1 heart rehabilitation for hospitalized CHD patients."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2010
T28435
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>