Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 130187 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Melva Monika
"Penelitian tentang sejauhmana efektifitas penggunaan kasur dekubitus terhadap pencegahan Iuka dekubitus di RS. Siloam Karawaci dengan jumlah responden 30 orang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif korelasi dengan tujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan efektifitas penggunaan kasur dekubitus terhadap pencegahan Iuka dekubitus. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi Iangsung terhadap responden dengan 3 kali pengumpulan data.
Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia responden 30-60 tahun (76,7 %). Jenis kelamin terbanyak adaIah Iaki-laki dengan persentase 56,7 %. Responden yang obesitas memiliki persentase 43,3 % sedangkan angka kejadian luka dekubitus sebanyak 70 % responden tidak terjadi luka, 26,7 % tenjadi Iuka dekubitus stadium 1, dan sebanyak 3,3 % responden terjadi Iuka dekubitus stadium 2 dengan tingkat ketergantungan total. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan penggunaan kasur dekubitus terhadap pencegahan Iuka dekubitus."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
TA5498
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Khoeruni Aulia Saida
"Spondilitis tuberkulosis manifestasi tuberkulosis ekstrapulmoner hasil dari penyebaran hematogen tuberkulosis ke vertebral melalui aliran darah dan paling sering melibatkan persimpangan thorakolumbar. Tanda-tanda lanjutan penyakit ini adalah paraparesis dan paraplegia, kejadian ini dilaporkan pada 4% sampai 30% kasus. Pasien spondilitis tuberkulosis mengalami gangguan neuromuskuler sehingga mengalami gangguan mobilitas dan sangat rentan terhadap perkembangan ulkus dekubitus akibat jaringan terlalu lama terpapar oleh tekanan. Analisis dilakukan pada pasien laki-laki berusia 55 yang mengalami paraparesis akibat spondilitis tuberkulosis sehingga muncul ulkus dekubitus dan menjalani operasi debridement ulkus. Masalah keperawatan yang muncul adalah risiko infeksi, risiko ketidakseimbangan elektrolit, ketidakseimbangan nutrisi:kurang dari kebutuhn tubuh. Tujuan penulisan ini yaitu memaparkan hasil analisis asuhan keperawatan dengan perawatan luka menggunakan honey dressing pada pasien spondilitis tuberkulosis dan post debridement ulkus dekubitus. Penerapan perawatan luka dengan honey dressing ini dilakukan dari tanggal 18-20 April 2023, balutan diganti sehari sekali. Dari penerapan intervensi ini, terbukti menurunkan skor PUSH tool (Pressure Ulcer Scale for Healing) namun, perlu penilaian dengan durasi lebih lama untuk melihat kemajuan luka. Kesimpulannya perawatan luka dengan honey dressing dapat dilakukan untuk meningkatkan kesembuhan luka, selain itu honey dressing ini mudah dicari, efektif, dan ekonomis.

Tuberculosis spondylitis is manifestations of extrapulmonary tuberculosis result from hematogenous spread of tuberculosis to the vertebrae via the bloodstream and most commonly involve the thoracolumbar junction. Later signs of the disease are paraparesis and paraplegia, which have been reported in 4% to 30% of cases. Patients with tuberculosis spondylitis have neuromuscular disorders that cause impaired mobility and are highly susceptible to the development of decubitus ulcers due to prolonged tissue exposure to pressure. The analysis was performed on a 55-year-old male patient who had paraparesis due to tuberculosis spondylitis resulting in decubitus ulcers and underwent ulcer debridement surgery. The problems that arise are the risk of infection, the risk of electrolyte imbalance, nutritional imbalance: less than the body's needs. The purpose of this paper is to present the results of an analysis of wound care using honey dressing in patients with tuberculosis spondylitis and decubitus ulcer post debridement. The implementation of wound care with honey dressing is carried out from April 18-20 2023, the dressing is changed once a day. From the implementation of this intervention, it is proven to reduce the score of the PUSH (Pressure Ulcer Scale for Healing) tool but requires an assessment with a longer duration to see the progress of the wound. In conclusion, wound care with honey dressing can be done to improve wound healing, besides that honey dressing is easy to find, effective, and economical."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Asiandi
"Lingkup permasalahan luka tekan belum dapat diketahui dengan pasti sehingga sulit menentukan biaya sesungguhnya untuk penatalaksanaannya. Luka tekan merupakan kondisi yang belum biasa dilaporkan dan institusi meyakini keberadaan luka tekan adalah gambaran negatif dari mutu perawatan. Penggunaan skala risiko luka tekan adalah cara untuk mencegah terjadinya luka tekan sehingga mutu perawatan tarhadap klien dapat ditingkatkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui skala pengkajian risiko luka tekan yang paling sesuai digunakan dalam praktik keperawatan. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif perbandingan untuk mengetahui kesesuaian pengkajian risiko luka tekan dinilai dengan skala Norton, skala Braden, dan skala Gosnell. Penelitian ini dilakukan terhadap 30 responden klien fraktur (n = 30) di RSUP Fatmawati Jakarta dengan cara melakukan satu kali observasi dan penilaian langsung dengan skala Norton, skala Braden, dan skala Gosnell.
Hasil observasi dan penilaian menunjukkan 7 klien berisiko dan 23 klien berisiko tinggi dinilai dengan skala Norton, 7 klien berisiko dan 23 klien berisiko tinggi dinilai dengan skala Braden, Serta 30 klien berisiko dan tidak ada klien yang berisiko tinggi dinilai dengan skala Gosnell. Koefisien reliabilitas skala ditentukan dengan teknik reliabilitas konsistensi internal menggunakan rumus Alfa Cronbach. Koefisien reliabilitas skala Norton r = 0,13, skala Braden r = 0,46, skala Gosnell r = 0,59. Hasil uji hipotesa dengan derajat kebebasan dk=2 dan tarap kesalahan 0,05 diperoleh harga Chi Kuadrat tabel (5,591) lebih kecil daripada harga Chi Kuadrat hitung (47,08). Kesimpulan, terdapat perbedaan kesesuaian pengkajian risiko luka tekan dinilai dengan skala Norton, skala Braden, dan skala Gosnell. Reliabilitas skala Gosnell lebih tinggi daripada dua skala pembanding lainnya, sehingga skala Gosnell paling sesuai digunakan dalam praktik keperawatan."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5206
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
London: Mosby, 2001
616.545 PRE
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Satriyo
"Sering (10-20%) ditemukan pada pasien MH. Berbagai terapi topikal ulkus neuropatik sederhana MH, antara lain salap seng oksida (ZnO) 10% masih belum optimal dan menunjukkan keterbatasan. Beberapa penelitian memperlihatkan manfaat penambahan faktor pertumbuhan pada penyembuhan berbagai jenis ulkus. Terdapat beberapa metode untuk mengekstraksi faktor pertumbuhan autolog, salah satunya dengan konsentrat fibrin kaya trombosit (FKT).
Tujuan : Menilai tingkat kesembuhan ulkus neuropatik sederhana MH yang diobati secara topikal dengan konsentrat FKT dibandingkan dengan menggunakan salap ZnO 10%.
Metode : Penelitian ini merupakan suatu uji klinis acak terkontrol, terbuka, dengan desain paralel. Dilakukan randomisasi untuk membagi 50 subyek menjadi dua kelompok, yaitu kelompok uji (konsentrat FKT) dan kelompok pembanding (salap ZnO 10%). Pengobatan dan evaluasi dilakukan tiap minggu selama enam minggu.
Hasil : Pada akhir pengobatan, proporsi tingkat kesembuhan baik (pengecilan ulkus > 75%) kelompok uji adalah 40% dan proporsi tingkat kesembuhan baik pada kelompok pembanding adalah 32%. Perbedaan 8% proporsi tingkat kesembuhan baik di antara kedua kelompok tersebut tidak bermakna secara statistik (p = 0,56) (RR 1,3; IK95%: 0,6-2,6).
Kesimpulan : Tidak terdapat perbedaan bermakna antara tingkat kesembuhan ulkus neuropatik sederhana MH yang diobati secara topikal menggunakan konsentrat FKT dibandingkan dengan salap ZnO 10%.

Disability found in leprosy patients. Various topical treatment for simple neuropathic ulcer in leprosy patients, such as 10% zinc oxide (ZnO) ointment is still not optimal and show limitations. Recent studies have shown the benefits of the addition of growth factors in the healing of various types of ulcers. There are several methods for extracting autologous growth factors, one of which is plateletrich fibrin (PRF) concentrate.
Objective : To assess the healing response of simple neuropathic ulcers in leprosy patients treated topically with PRF concentrate compared to 10% ZnO ointment.
Methods : Randomized, open, controlled clinical trials, with parallel design. Fifthy subjects randomly allocated into two trial groups, the intervention group (PRF concentrate) and the control group (10% ZnO ointment). Treatment and evaluation was performed every week for six weeks.
Results : At the end of treatment, the proportion of good healing response (> 75% closure) in the intervention group and the control group was 40% and 32% respectively. The 8% difference in the proportion of good healing response was not statistically significant (p = 0,56) (RR 1,3; 95%CI: 0,6-2,6).
Conclusion : There was no significant difference in the healing response of simple neuropathic ulcers in leprosy patients treated topically with PRF concentrate compared to 10% ZnO ointment.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nandang Ahmad Waluya
"Ulkus diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis diabetes melitus (DM). Terjadinya ulkus diabetik diawali dengan adanya neuropati dan penyakit vaskular perifer sebagai dampak hiperglikemia serta adanya trauma akibat kurangnya pasien melakukan perawatan kaki. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kepatuhan pasien dengan kejadian ulkus diabetik dalam konteks asuhan keperawatan pada pasien DM di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini menggunakan rancangan crossectional study. Jumlah sampel penelitian 88 responden terdiri dari 44 orang pasien DM dengan ulkus dan 44 orang pasien DM tanpa ulkus. Teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling dan acak sederhana. Analisis statistik yang digunakan yaitu uji Chi Square dan regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara kepatuhan pasien DM (p=0,000), kepatuhan memonitor glukosa darah (p=0,000), diet (p=0,000), aktivitas (p=0,023), perawatan kaki (p=0,000), kunjungan berobat (p=0,000) dengan kejadian ulkus diabetik. Kepatuhan kunjungan berobat merupakan faktor paling dominan berhubungan dengan kejadian ulkus diabetik (OR=8,95). Karakteristik demografi jenis kelamin merupakan faktor pengganggu. Sedangkan umur, tingkat pendidikan dan status ekonomi bukan faktor pengganggu. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara ketidakpatuhan pasien DM dengan kejadian ulkus diabetik. Saran peneliti yaitu pasien perlu mendapat pendidikan kesehatan, pemeriksaan kaki secara teratur, pasien harus mematuhi terhadap saran petugas kesehatan. Perlu dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakpatuhan pasien DM.

Diabetic ulcer is one of chronic complications of Diabetes Mellitus. Neuropathy and peripheral vascular disease are the beginning of ulcer, as the result of hyperglycemia condition, and a trauma caused by lack of foot care. The aim of this study is to identify the relation of patient adherence with diabetic ulcer occurance in the context of nursing care of patient with diabetes mellitus at Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung. Crossectional study design was used in this study. The samples size were 88 patients with diabetes mellitus, consisted of 44 patients with diabetic ulcer and 44 patients without diabetic ulcer. Samples were selected by simple random and consecutive sampling technique. Chi Square and a multiple logistic regression were used to examine the relation of patient adherence with occurrence diabetic ulcers.
The result showed that there was a significant corelation of diabetes mellitus patient adherence (p=0,000), adherence of monitoring blood glucose level (p=0,000), diet (p=0,000), activities (p=0,023), foot care (p=0,000), and visiting health care provider (p=0,000) with diabetic ulcer occurence. Adherence of visiting health care provider was the most dominant factor related to diabetic ulcer occurence (OR=8,95). Sex was confounding factor. Whereas age, education and economic level were not confounding factors. It is concluded that there was a relationship between patient adherence and the occurance of diabetic ulcer. Recommendations of this research were patient need to get health education, regular foot examination, patient adherence to recommendations health care provider. Further research about factors related to nonadherence in diabetes mellitus patients need to be done.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Pujiarto
"Penelitian ini membahas persepsi perawat terhadap pengkajian resiko luka tekan Metode Braden dan Waterlow di Unit perawatan bedah Rumah Sakit Dr. Hi. Abdul Moeloek Propinsi Lampung. Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimen postest only design dengan responden 30 perawat. Responden diberikan pelatihan pengkajian resiko luka tekan dengan menggunakan Metode Braden dan Waterlow, kemudian diberikan kuisioner tentang persepsi perawat terhadap kedua metode tersebut. Deskripsi kategori dan skor kategori Metode Braden yang dipersepsikan sulit adalah persepsi sensori dan kelembaban, Deskripsi kategori dan skor kategori Metode Waterlow adalah perbandingan berat badan terhadap tinggi badan, deficit neurologis, obat-obatan, jenis kulit dan daerah resiko yang terlihat. Hasil uji statistik dengan Chi Square diperoleh nilai p value = 0,201 dengan α = 0,05 dapat disimpulkan tidak ada perbedaan persepsi perawat terhadap Metode Braden dan Waterlow, kedua metode samasama dipersepsikan mudah.

The focus of this study how the nurses perception in assessment risk of the pressure ulcers Braden and Waterlow Method at surgery care unit Dr. Hi. Abdul Moeloek Hospital Lampung Province.This research uses pre-experiment postest only design with 30 nurses. They have been given training about study of the pressure ulcers risks using Braden and Waterlow Method, before answered the questionnaire. Perception base on the Braden Method that is perceived difficult are sensory perception and humidity, while perception according to Waterlow Method description and category score are ratio weight to high, neurogical deficit, drugs, skin type, and risk area which is seen. The statistical test result by Chi square show p value = 0.201 with α = 0.05, therefore it can be concluded that there is no differentiation in the nurses perceptions base on Braden and Waterlow Methods. Both are perceived as easy."
Depok: Universitas Indonesia, 2010
T28436
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Mailani Wulandari
"ABSTRAK
Luka tekan masih menjadi masalah utama bagi pelayanan kesehatan khususnya keperawatan. Pengawasan yang ketat diperlukan untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas perawatan. Penelitian ini membahas hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan perawat terhadap praktik pencegahan luka tekan di ruang rawat inap di RS Persahabatan Jakarta tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan desain analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Total sampel sebanyak 107 perawat dan menggunakan kuesioner PUKT Pieper rsquo;s Pressure Ulcer Knowledge Test dan kepatuhan yang dimodifikasi. Hasil analisis Chi Square didapatkan bahwa dari 63,6 68 perawat yang memiliki pengetahuan baik/tinggi terdapat 55,9 38 perawat yang patuh terhadap praktek pencegahan luka tekan, namun tidak ditemukan adanya hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan perawat dalam pelaksanaan praktik pencegahan luka tekan p value = 0,442; OR = 1,478; 95 CI 0,670 ndash; 3,259 . Perawat di RS Persahabatan Jakarta disarankan terus meningkatkan pengetahuannya agar tercipta kepatuhan yang tinggi dalam pelaksanaan praktik pencegahan luka tekan dan diperlukan adanya perawat yang bertanggung jawab secara khusus terhadap pasien yang memiliki risiko luka tekan. Hal ini diharapkan dapat menurunkan angka kejadian luka tekan di layanan kesehatan.

ABSTRACT
Pressure ulcer remains a major problem for health services, especially in nursing care. Strict observation is required to prevent a low quality of nursing care. This study aimed to identify relationship between level of knowledge and nurse compliance with prevention of pressure ulcer in inpatient ward at Persahabatan Hospital in 2017. The study design was analytic with cross sectional approach. 107 nurses were selected by purposive sampling method and it used PUKT Pieper rsquo s Ulcer Knowledge Test and compliance questionnaire as instrument. Chi square analysis result indicated nearly half 63,6 68 of the nurses had good knowledge and 55,9 38 of them had good compliance on prevention of pressure ulcer, but there was not found significant correlation between level of knowledge with nurse compliance in prevention of pressure ulcer p value 0,442 OR 1,478 95 CI 0,670 ndash 3,259 . The study suggested all nurses of Persahabatan Hospital to improve their knowledge in order to improve compliance in prevention of pressure ulcer and the ward at Persahabatan Hospital must to been have the nurses who was specifically responsible for patients who have the risk of pressure ulcer injuries. It was expected that the incidence of pressure ulcer can be decreased in health service."
2017
S68987
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rani Lisa Indra
"Cairan NaCl 3% pada penelitian sebelumnya terbukti mampu menarik kelebihan eksudat dan mengurangi bau luka karena bersifat hipertonik. Penelitian eksperimen dengan penyamaran ganda dilakukan untuk mengetahui efektivitas perawatan luka dengan cairan NaCl 3% terhadap penurunan jumlah eksudat dan bau ulkus diabetik. Intervensi dilakukan selama 14 hari terhadap 15 sampel yang dibagi menjadi kelompok NaCl 0,9% dan NaCl 3% melalui randomisasi blok.
Tidak terdapat perbedaan signifikan jumlah eksudat setelah intervensi antara kedua kelompok namun terdapat perbedaan signifikan pada skor bau luka. Perawatan ulkus diabetik dengan NaCl 3% tidak lebih efektif dalam menurunkan jumlah eksudat luka dibandingkan NaCl 0,9% namun lebih efektif NaCl 3% dalam menurunkan skor bau.

Previous studies on wound care had proved that NaCl 3% solution able to absorbs the wound exudate and reduces the odor because it is hypertonic. A randomized controlled trial with double blinded technique was conducted to determine the effectiveness of wound care using NaCl 3% solution to decrease amount of exudate and odor of diabetic ulcers. Interventions performed for 14 days on 15 subjects blocked randomly allocated to NaCl 0,9% and NaCl 3% groups.
The result showed that there was no significant difference in the amount of exudate between the groups, however there was significant difference in the odor score. Wound care using NaCl 3% is no more effective to reduce the amount of exudate than NaCl 0,9%, however NaCl 3% is effective to reduce the odor score of diabetic ulcer.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
T44545
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mo Tualeka
"ABSTRAK
Latar Belakang: Mortalitas pasien perforasi tukak peptik (PTP) masih stabil pada
angka 20-50% dimana penyebab terbanyak adalah sepsis. Tantangan ini memicu para
ahli bedah untuk meneliti faktor-faktor yang berhubungan dengan mortalitas dan
morbiditas penyakit ini. Selain pembedahan untuk kontrol infeksi, antibiotika
preoperatif diketahui menurunkan angka mortalitas. Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan kesesuaian antibiotika empiris dengan hasil kultur sensitifitas
antibiotika terhadap ketahanan hidup 30 hari pasien perforasi tukak peptik di RSUPN
Dr Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta. Metode: Studi kohort terhadap pasien
PTP sejak Januari 2012 hingga Agustus 2015 di Departemen Bedah FKUI/RSCM
Jakarta, dimana PTP akibat keganasan dan trauma tembus dieksklusikan. Pola kuman
dan antibiotika pada pasien PTP disajikan sebagai studi pendahuluan. Hasil: dari 45
pasien yang didapat, angka mortalitas pasien PTP di RSCM sebesar 31,1% dan
ketahanan hidup sebesar 68,9%. Pola kuman pada pasien PTP adalah Escherichia coli
sebagai kuman Gram negatif terbanyak (35,85%) dan Streptococcus alfahemolytic
sebagai kuman Gram positif terbanyak (15,09%). Antibiotika lini kedua yang sesuai
untuk pasien PTP adalah Sulbactam/Ampicillin.
Tidak terdapat hubungan antara skor
Boey dan ketahan hidup, namun syok preoperatif memengaruhi ketahanan hidup
(nilai OR 14,67). Begitu juga dengan komorbiditas memengaruhi ketahanan hidup
sebesar 10,54 kali. Lama persiapan operasi tidak bermakna terhadap ketahanan hidup,
sedangkan durasi operasi memengaruhi ketahanan hidup sebesar 7,5 kali. Antibiotika
empiris yang sesuai dengan hasil kultur memengaruhi ketahanan hidup sebesar 12,57
kali. Kesimpulan: Pemberian antibiotika empiris yang tepat terbukti berhubungan
dengan ketahanan hidup pasien perforasi tukak peptik.;

ABSTRACT
Background: Mortality of patients with peptic ulcer perforation (PUP) was stable at
20-50%, which is the most common cause is sepsis. This challenge prompted the
surgeon to examine the factors associated with mortality and morbidity of this
disease. In addition to surgery to control infection, preoperative antibiotics are
known to reduce mortality. This study aims to determine the suitability of empiric
antibiotics relationship with antibiotic sensitivity culture results to the 30 days
survival of perforated peptic ulcer patients in Dr Cipto Mangunkusumo General
Hospital (RSCM) in Jakarta. Methods: A cohort study of patients PUP since January
2012 to August 2015 at Department of Surgery Faculty of medicine/RSCM Jakarta,
where PUP due to malignancy and penetrating trauma were excluded. Patterns of
bacteria and antibiotics in PUP patients presented as a preliminary study. Results:
45 patients were obtained, the mortality rate of patients in RSCM PUP by 31.1% and
amounted to 68.9% survival. Patterns of bacteria in a patient PUP is Escherichia
coli as most Gram-negative bacteria (35.85%) and Streptococcus alfahemolytic as
most Gram-positive bacteria (15.09%). The second line antibiotics are appropriate
for the PUP patients is sulbactam/ampicillin. There was no relationship between
Boey?s score and survivability, but the preoperative shock affect survival (OR 14.67).
Likewise with comorbidities affecting the survival of 10.54 times. Time to surgery on
survival was not significant, while the duration of surgery affecting the survival of 7.5
times. Empiric antibiotics in accordance with the culture results affects survival of
12.57 times. Conclusion: The provision of appropriate empiric antibiotic shown to be
associated with survival in patients with peptic ulcer perforation.
;Background: Mortality of patients with peptic ulcer perforation (PUP) was stable at
20-50%, which is the most common cause is sepsis. This challenge prompted the
surgeon to examine the factors associated with mortality and morbidity of this
disease. In addition to surgery to control infection, preoperative antibiotics are
known to reduce mortality. This study aims to determine the suitability of empiric
antibiotics relationship with antibiotic sensitivity culture results to the 30 days
survival of perforated peptic ulcer patients in Dr Cipto Mangunkusumo General
Hospital (RSCM) in Jakarta. Methods: A cohort study of patients PUP since January
2012 to August 2015 at Department of Surgery Faculty of medicine/RSCM Jakarta,
where PUP due to malignancy and penetrating trauma were excluded. Patterns of
bacteria and antibiotics in PUP patients presented as a preliminary study. Results:
45 patients were obtained, the mortality rate of patients in RSCM PUP by 31.1% and
amounted to 68.9% survival. Patterns of bacteria in a patient PUP is Escherichia
coli as most Gram-negative bacteria (35.85%) and Streptococcus alfahemolytic as
most Gram-positive bacteria (15.09%). The second line antibiotics are appropriate
for the PUP patients is sulbactam/ampicillin. There was no relationship between
Boey?s score and survivability, but the preoperative shock affect survival (OR 14.67).
Likewise with comorbidities affecting the survival of 10.54 times. Time to surgery on
survival was not significant, while the duration of surgery affecting the survival of 7.5
times. Empiric antibiotics in accordance with the culture results affects survival of
12.57 times. Conclusion: The provision of appropriate empiric antibiotic shown to be
associated with survival in patients with peptic ulcer perforation.;Background: Mortality of patients with peptic ulcer perforation (PUP) was stable at
20-50%, which is the most common cause is sepsis. This challenge prompted the
surgeon to examine the factors associated with mortality and morbidity of this
disease. In addition to surgery to control infection, preoperative antibiotics are
known to reduce mortality. This study aims to determine the suitability of empiric
antibiotics relationship with antibiotic sensitivity culture results to the 30 days
survival of perforated peptic ulcer patients in Dr Cipto Mangunkusumo General
Hospital (RSCM) in Jakarta. Methods: A cohort study of patients PUP since January
2012 to August 2015 at Department of Surgery Faculty of medicine/RSCM Jakarta,
where PUP due to malignancy and penetrating trauma were excluded. Patterns of
bacteria and antibiotics in PUP patients presented as a preliminary study. Results:
45 patients were obtained, the mortality rate of patients in RSCM PUP by 31.1% and
amounted to 68.9% survival. Patterns of bacteria in a patient PUP is Escherichia
coli as most Gram-negative bacteria (35.85%) and Streptococcus alfahemolytic as
most Gram-positive bacteria (15.09%). The second line antibiotics are appropriate
for the PUP patients is sulbactam/ampicillin. There was no relationship between
Boey?s score and survivability, but the preoperative shock affect survival (OR 14.67).
Likewise with comorbidities affecting the survival of 10.54 times. Time to surgery on
survival was not significant, while the duration of surgery affecting the survival of 7.5
times. Empiric antibiotics in accordance with the culture results affects survival of
12.57 times. Conclusion: The provision of appropriate empiric antibiotic shown to be
associated with survival in patients with peptic ulcer perforation."
2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>