Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 193262 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dewi Masyithah Darlan
"Infeksi Strongyloides stercoralis adalah infeksi yang disebabkan oleh cacing nematoda usus pada manusia. Pada individu dengan imunokompromais, S.stercoralis menyebabkan morbiditas yang berat hingga kematian. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh infeksi S.stercoralis pada individu dengan imunokompromais. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kasus kontrol dan dilaksanakan pada Maret - Juni 2013. Subyek merupakan pasien dengan kondisi imunokompromais dan imunokompeten berasal dari rumah sakit dan laboratorium di Jakarta. Bahan klinis (feses) yang berasal dari subyek dikirim ke laboratorium Departemen Parasitologi FKUI. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling. Seluruh bahan klinis (feses) diperiksa dengan pemeriksaan langsung sediaan basah dan dilanjutkan dengan kultur Harada Mori. Kondisi imun pasien tersebut diketahui dengan menggunakan rekam medik/ surat pengantar yang ada. Total feses yang berhasil dikumpulkan sebanyak 170 feses; Laki-laki sebanyak 108 dan perempuan 62 orang. Kisaran umur pasien yaitu 2-80 tahun dengan rata-rata 33,41 ± 22,65. Pasien dengan imunokompromais sebanyak 31 (18,2%, 31/170) dan imunokompeten 139 (81,8%, 139/170). Sebanyak 18 (10,6%, 18/170) feses positif larva S.stercoralis; 11 (10,2%, 11/108) laki-laki dan 7 (11,3%, 7/62) perempuan. Dari subyek yang positif infeksi S.stercoralis diperoleh 6 (19,4%, 6/31) yang mempunyai status imunokompromais sedangkan pada imunokompeten 12 (8,6%, 12/139). Pada studi ini diperoleh OR 2,54 dengan P-value 0,082 (95% CI: 0,871 - 7.043). Hal ini menunjukkan bahwa status imunokompromais mempunyai hubungan yang positif terhadap infeksi S.stercoralis walaupun secara statistik tidak ada perbedaan signifikan. Dari hasil studi ini dapat menjadi masukan bagi klinisi untuk dasar pengambilan kebijakan untuk meningkatkan penatalaksanaan infeksi dengan keluhan diare terutama pada penderita imunokompromais.

Strongyloides stercoralis infection is an infection caused by the human intestinal nematode worms. In immunocompromised individuals, S.stercoralis cause severe morbidity and fatality. The purpose of this study was to determine the effect of S.stercoralis infection among individual with immunocompromised state. A case control study was conducted between March-June 2013. Subjects were patients with immunocompromised and immunocompetent condition came from hospitals and laboratories in Jakarta . Who submitted their fecal specimen to parasitology FKUI. Sampling method was done by consecutive sampling technique. Direct examination with wet preparation was performed on the whole specimens followed by filter paper tube Harada Mori culture technique. The patient's immune status was identified from the medical record. There were 170 samples obtained from patients aged 2-80 years old (mean 33,1 ± 22,7); consisted of 108 men and 62 women; immunocompromised patients with as many as 31 (18.2 %, 31/170) and 139 immunocompetent (81.8 %, 139/170). A total of 18 (10.6 %, 18/170) faecal specimens was positive larval S.stercoralis which was proportionately similar between male and female patients. It was found that 6 (19,4%, 6/31) with immunocompromised and 12 immunocompetent (8,6%, 12/139). The odd ratio (OR) was 2,54 with P-value of 0,082 (95% CI: 0,871 to 7,043). Suggesting that immunocompromised state has a positive association to infection S.stercoralis although no statistically significant difference. this study recommends the clinician to increase awarness on S. stercoralis infection and management of infection with symptoms of diarrhea, especially in immunocompromised patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dedi Suyanto
"Pendahuluan: Kadar obat yang rendah dalam darah pasien TB paru diduga berhubungan dengan respon pengobatan yang buruk seperti kegagalan konversi sputum mikroskopis, yang merupakan risiko terjadinya kegagalan pengobatan. Namun berbagai penelitian menunjukan hasil kontroversial, sebagian menunjukan terdapat hubungan antara kadar obat dengan konversi sputum akhir intensif, sebagian lagi menunjukan respon terapi yang sama baiknya untuk kadar normal maupun kadar rendah. Faktor yang diduga menyebabkan perbedaan hasil ini adalah perbedaan MIC rifampisin dan isoniazid terhadap Mycobacterium tuberculosis (MTB) pada pasien-pasien TB di setiap wilayah.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar rifampisin dan isoniazid darah dengan konversi, serta hubungan rasio kadar puncak rifampisin dan isoniazid darah terhadap MIC (Cmax/MIC) dengan konversi sputum pasien TB paru di akhir fase intensif.
Metode: Desain penelitian adalah kasus kontrol dengan jumlah sampel sebanyak 40 orang, yang terbagi dalam kelompok kasus (tidak konversi, n=20) dan kelompok kontrol (konversi, n=20). Kadar rifampisin dan isoniazid darah diukur pada dua jam setelah minum obat yang merupakan perkiraan kadar puncak rifampisin dan isoniazid, menggunakan metode LC/MS-MS. Data MIC diambil dari 20 isolat kultur MTB sputum pasien TB paru kasus baru di RSP dr. H.A Rotinsulu Bandung menggunakan metode MGIT.
Hasil: Dari 40 pasien didapatkan rerata kadar rifampisin 5,58±2,41 mg/L dengan 36 pasien (90%) diantaranya memiliki kadar puncak di bawah normal. Untuk isoniazid didapatkan median kadar 1,46 (0,40-6,10) mg/L dengan 32 pasien (80%) diantaranya memiliki kadar puncak isoniazid di bawah normal. Pada penelitian ini didapatkan MIC rifampisin 0,25 mg/L dan MIC isoniazid 0,05 mg/L, lebih rendah dibanding kadar kritis masing-masing obat.

Introduction: Low plasma drug concentration in pulmonary TB patients are thought to be associated with poor treatment outcomes such as microscopic sputum conversion failure, which is a risk of treatment failure. However, various studies showed controversial results, some showed that there was an association between drug concentration with sputum conversion at the end of intensive phase, while others showed the same good outcome for normal and low concentrations. Factors thought to cause these controversial in results are the differences in the MIC of rifampicin and isoniazid against Mycobacterium tuberculosis in TB patients in each region. This study aims to determine the association between blood rifampicin and isoniazid concentratiom with sputum conversion, as well as the association between the ratio of peak blood concentration of rifampicin and isoniazid to MIC (Cmax/MIC) with sputum conversion of pulmonary TB patients at the end of the intensive phase.
Methods: The study design was a case-control study with a sample size of 40 subjects, which were divided into a case group (non-conversion, n=20) and a control group (conversion, n=20). The blood concentration of rifampicin and isoniazid were measured two hours after taking the drug which is an estimate of the peak concentrations of rifampicin and isoniazid, using the LC/MS-MS method. MIC data were taken from 20 MTB sputum culture isolates from new cases of pulmonary TB patients at RSP dr. H.A Rotinsulu Bandung using the MGIT method.
Results: Of the 40 patients, the mean concentration of rifampicin was 5.58 ± 2.41 mg/L with 36 patients (90%) of whom had peak concentrations below normal. For isoniazid, the median concentration was 1.46 (0.40-6.10) mg/L with 32 patients (80%) of whom had peak concentration of isoniazid below normal. In this study, the MIC of rifampicin 0.25 mg/L and MIC of isoniazid 0.05 mg/L were lower than the critical concentration of each drug. There was no association between blood rifampicin concentration (OR: 11.18; 95% CI: 0.20-223.00, p= 0.106), blood isoniazid concentration (OR: 3.86; 95% CI: 0.67-22 .22, p= 0.235), and the Cmax/MIC ratio of rifampicin (OR: 0.474; 95% CI: 0.039-5.688, p=1.00) with intensive final sputum conversion. However, there was an association between low concentration of both drugs simultaneously (OR: 6.00; 95% CI: 1.08-33.27, p = 0.028), and the Cmax/MIC ratio of isoniazid (OR: 4.333; 95% CI: 1.150). -16,323, p= 0.027) with sputum conversion at the end of the intensive phase.
Conclusion: There was no association between blood rifampicin concentration, blood isoniazid concentration, and the Cmax/MIC ratio of rifampicin with microscopic sputum conversion at the end of the intensive phase. However, there was an association between low concentration of both drugs and the Cmax/MIC ratio of isoniazid and sputum conversion at the end of the intensive phase.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syamsu Nur Riza Ananda
"Kasus chronic pulmonary aspergillosis (CPA) di Indonesia memiliki prevalensi ±83.000 penderita dengan penambahan kasus baru sebanyak 17.561 pasien dengan riwayat tuberkulosis paru-paru setiap tahunnya, disebabkan oleh kapang Aspergillus spp. Gen calmodulin (CaM) merupakan markah genetik Aspergillus yang memiliki spesifikasi sekuens tinggi untuk membedakan tiap spesies Aspergillus, namun studi mengenai profil sekuensnya pada isolat penderita CPA pasca tuberkulosis di Indonesia belum ditemukan laporannya. Penelitian ini menggunakan gen CaM untuk dianalisis sekuens DNA-nya sekaligus mengidentifikasi dan memantau spesies Aspergillus dari 31 isolat spesimen klinis pasien CPA beriwayat tuberkulosis paru-paru dari 6 rumah sakit umum di Jakarta. Ekstraksi DNA dilakukan menggunakan metode PCI lalu gen CaM diamplifikasi dengan primer Cmd5 dan Cmd6, selanjutnya dilakukan sekuensing DNA. Hasil menunjukkan sekuens gen CaM Aspergillus spp. memiliki wilayah lestari dan polimorfik khas antar spesies intraseksi maupun interseksi (Nigri, Fumigati, dan Flavi). Hasil identifikasi molekuler menunjukkan spesies terdiri dari A. niger (n = 3), A. fumigatus (n = 17), A. flavus (n = 4), A. tubingensis (n = 2), A. welwitschiae (n = 2), A. tamarii (n = 2), dan A. brunneoviolaceus (n = 1). Spesies A. welwitschiae dan A. tamarii dikonfirmasi menjadi salah satu spesies kriptik penyebab CPA pada pasien beriwayat tuberkulosis paru-paru di Jakarta, Indonesia.

The number of chronic pulmonary aspergillosis (CPA) cases in Indonesia reached a prevalence number ±83.000 patients with increasing rate of 17.561 patients with lung tuberculosis medical history each year, caused by Aspergillus fungi. Calmodulin (CaM) gene is a biomarker for Aspergillus which has high sequence specifity to distinguish among species within the group, however a report to characterize its sequence profile on post-tuberculosis CPA isolates in Indonesia has not yet been found. The aims of this research are to conduct sequence analysis on Aspergillus CaM genes, also to identify and monitor the species from 31 isolates of post-tuberculosis CPA patient’s clinical specimens obtained from 6 public hospital in Jakarta. The results showed that CaM gene from Aspergillus spp. have unique conserved and polymorphic regions both intra/intersectionally (among Nigri, Fumigati, and Flavi) within the genus. The molecular identification results revealed a species consisiting A. niger (n = 3), A. fumigatus (n = 17), A. flavus (n = 4), A. tubingensis (n = 2), A. welwitschiae (n = 2), A. tamarii (n = 2), and A. brunneoviolaceus (n = 1). A. welwitschiae and A. tamarii are confirmed to be one of cryptic species responsible for causing human post-tuberculosis CPA in Jakarta, Indonesia.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Salsha Nur Alfaiza
"TBC masih merupakan masalah kesehatan dunia, bahkan Indonesia. Pemerintah telah menerapkan program DOTS untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat TBC, namun angka tersebut masih belum mencapai target. Selama pandemi Covid-19, program DOTS tetap diselenggarakan dengan adanya penyesuaian pengelolaan input dan process. Tujuan dari penelitian ini yakni mengetahui gambaran pelaksanaan program DOTS selama pandemi Covid-19 di wilayah kerja Puskesmas Depok Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Teknik pengumpulan data wawancara mendalam kepada informan utama, yakni Penanggung Jawab Program DOTS, Dokter Penanggung Jawab Program DOTS, Ketua Kader dan PMO, sedangkan informan pendukung, yakni Pasien TBC. Peneliti mengambil data secara daring melalui Zoom Meeting. Hasil penelitian bahwa pelaksanaan program DOTS di tengah pandemi Covid-19 dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan, diantaranya wajib memakai masker dua rangkap dan mencuci tangan pakai sabun. Sumber daya PMO dan petugas puskesmas yang berdedikasi memiliki peran penting dalam upaya penyembuhan pasien TBC. Selain itu, ketersediaan anggaran, sarana, dan prasarana yang cukup dapat menunjang keberlangsungan program agar efektif. Kegiatan utama yang masih rutin diadakan yakni pengobatan TBC melalui pemberian Obat Anti Tuberkulosis yang tidak pernah kurang. Terdapat beberapa kendala dalam program DOTS, antara lain jumlah sumber daya kader kesehatan yang sedikit, kurang tersedianya Tes Cepat Molekuler, dan kurang mendukungnya ruangan pasien TBC. Beberapa kegiatan utama di Puskesmas selama pandemi mengalami penurunan jumlah kegiatan, diantaranya investigasi kontak, skrining, penyuluhan, serta pelatihan. Selain itu terdapat beberapa masalah di pelaksanaan program DOTS yang terjadi selama pandemi Covid-19, yaitu masyarakat yang cenderung individualis, kurang terbuka, dan memiliki mobilitas yang tinggi, sehingga petugas puskesmas dan kader kesehatan seringkali kesulitan dalam melakukan pemantauan terkait dengan investigasi kontak dan pengobatan pasien TBC. Dampaknya, cakupan pengobatan TBC tidak mencapai target, yakni sebesar 71,87% berdasarkan Renstra Puskesmas Depok Jaya Tahun 2021—2026. Hasil penelitian menyarankan untuk Puskesmas dapat memberikan pelatihan kepada kader kesehatan terkait dengan penyikapan investigasi kontak dan edukasi penyakit TBC yang baik kepada masyarakat disesuaikan dengan kondisi pandemi Covid-19, memberikan pelatihan kepada PMO terkait memotivasi pasien TBC dalam minum obat secara teratur dan pemeriksaan cek dahak secara rutin, serta perlu melengkapi sarana dan prasarana yang mendukung terkait kebutuhan program DOTS.

TB is still a global health problem, even in Indonesia. The government has implemented the DOTS program to reduce morbidity and mortality due to tuberculosis, but this figure has not yet reached the target. During the Covid-19 pandemic, the DOTS program will continue to be held with adjustments to input and process management. The purpose of this study is to describe the implementation of the DOTS program during the Covid-19 pandemic in the Depok Jaya Health Center work area. This research uses a qualitative approach with a case study design. Data collection technique is in-depth interview with the main informants are the person in charge of the DOTS Program, the doctor in charge of the DOTS Program, the head of the cadre, and the medical supervisors, while the supporting informants are the TB patients. Researchers took data online through Zoom Meeting. The results showed that the DOTS program in the mindst of the Covid-19 pandemic was carried out by implementing health protocols, including the obligation to wear two masks and wash hands with soap. Medication supervisor and health center officer resources have an important role in efforts to cure TB patients. In addition, the availability of sufficient budget, facilities, and infrastructure can support the sustainability of the program to be effective. The main activity that is still routinely held is TB treatment through the provision of Anti Tuberculosis Drugs which is never lacking. There are several obstacles in the DOTS program, including the small number of health cadre resources, the lack of availability of Molecular Rapid Tests, and the lack of support for TBC patient rooms. Several main activities at the Health Center during the pandemic experienced a decrease in the number of activities, including contact investigation, screening, counselling, and training. In addition, there are several problems in the implementation of the DOTS program that occurred during the Covid-19 pandemic. People who tend to be individualistic, less open, and have high mobility, so that health center officers and health cadres often find it difficult to carry out monitoring related to contact investigations and patient treatment. As a result, TB treatment coverage did not reach the target, which is 71,87% based on the Depok Jaya Health Center Strategic Plan 2021—2026. The results of the study suggest that the Puskesmas can provide training to health cadres related to the attitude of contact investigations and TB education to the communities adapted to the Covid-19 pandemic conditions, provide training to medication supervisors related to motivating TB patients to take medication regularly and check sputum regularly, and complete supporting facilities and infrastructure related to the needs of the DOTS program."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Deandria Nabila Fernanda Putri
"Spondilitas tuberkulosa atau Pott’s Disease merupakan infeksi tuberculosis extrapulmonal yang mengenai satu atau lebih tulang belakang. Spondilitas tuberkulosa memiliki 50% kasus yang terjadi dari kasus TB tulang. Penanganan penyakit ini dilakukan dengan terapi medikamentosa dan pembedahan. Namun, saat ini terapi medikamentosa lebih diutamakan. Terapi medikamentosa merupakan metode penanganan TB dengan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) lini pertama yaitu rifampisin (RIF), isoniazid (INH), pirazinamid (PZA), dan etambutol (ETH). Terapi menggunakan obat ini dilakukan dengan oral selama kurang lebih 6 bulan. Hal ini menyebabkan ketidaknyamanan penderita dan menyebabkan terjadinya resistensi OAT akibat konsumsi obat yang tidak teratur. Pada penelitian ini dilakukan enkapsulasi terhadap OAT ke dalam mikropartikel PLGA untk mengetahui pengaruhnya terhadap profil rilis. Enkapsulasi dilakukan dengan metode emulsifikasi dan penguapan pelarut, kemudian dikeringkan dengan freeze dry sehingga menghasilkan butiran-butiran mikropartikel. Kemudian ditambahkan pula asam askorbat untuk mengetahui pula pengaruhnya terhadap profil rilis OAT. Pada penelitian ini dilakukan uji SEM untuk mengetahui karakteristik dari mikropartikel dan uji HPLC untuk mengetahui profil rilis OAT dalam satu bulan.

Tuberculosis Spondility or Pott's Disease is an extrapulmonal tuberculosis infection that hits one or more of the spine. Tuberculosis spondilitas has 50% of cases occurring from bone TB cases. Treatment of this disease is carried out with medical therapy and surgery. However, nowadays medikamentosa therapy takes precedence. Medikamentosa therapy is a method of handling TB using first-line Anti Tuberculosis Drug (ATD), namely rifampicin (RIF), isoniazid (INH), pyrazinamide (PZA), and ethambutol (ETH). Therapy using this drug is done orally for approximately 6 months. This causes discomfort of the sufferer and causes the occurrence of ATD resistance due to irregular consumption of the drug. In this study, encapsulation of ATD into PLGA microparticles to determine its effect on release profile. Encapsulation is done by emulsification and evaporation methods of solvent, then dried with freeze dry resulting in microparticle granules. Then added ascorbic acid to know also the effect on the profile of ATD release. In this study, SEM test was conducted to find out the characteristics of microparticles and HPLC test to find out ATD release profile in one month."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Saraswati
"Penyakit tuberkulosis (TB) paru sering mendasari aspergilosis paru kronis (APK). Diagnosis APK masih menjadi tantangan karena gejala klinis dan hasil pemeriksaan yang tidak khas serta data penelitian yang terbatas. Pemeriksaan immunochromatography test (ICT) Aspergillus dilaporkan bermanfaat dalam diagnosis cepat APK. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kaitan hasil ICT Aspergillus dengan karakteristik klinis pasien TB paru. Penelitian dengan desain potong lintang ini merupakan bagian penelitian sebelumnya tentang diagnosis APK di Indonesia dan berlangsung pada Februari–November 2021. Pemeriksaan ICT Aspergillus dilakukan di laboratorium Departemen Parasitologi FKUI sesuai protokol (LD Bio Diagnostics, Lyon, France).
Dari 89 pasien TB paru yang memenuhi kriteria inklusi, terdapat 50 pasien (56,2%) laki-laki. Sebanyak 42,6% pasien dalam rentang usia 45-64 tahun, 56,2% berpendidikan akhir SMP/SMA, dan 53,9% merupakan pekerja. Karakteristik klinis pasien TB paru dalam penelitian ini menunjukkan indeks massa tubuh (IMT) normal pada 36 pasien (40,4%). Penyakit asma didapatkan pada 3,4% pasien, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) 4,5%, diabetes mellitus (DM) 16,9%, hipertensi 6,7%, dan kanker paru 1,1%. Hasil pemeriksaan ICT Aspergillusmenunjukkan hasil positif pada 11 pasien (12,4%). Pada penelitian ini, didapatkan hubungan bermakna antara hasil pemeriksaan ICT Aspergillus dengan penyakit penyerta pada pasien TB paru, yaitu asma (p = 0,039).

Pulmonary tuberculosis (TB) is the most common underlying disease of chronic pulmonary aspergillosis (CPA). Diagnosing CPA is still a challenge because of no typical pathognomonic clinical symptoms and examination result. Aspergillus Immunochromatography Test (ICT) is reported to be useful for rapid diagnosis of CPA. This study was used to determine relation between the results of Aspergillus ICT and the clinical characteristics of pulmonary TB patients. This cross-sectional study was part of the previous research on CPA diagnosis in Indonesia. Aspergillus ICT examination was carried out in FKUI Department of Parasitology laboratory according to the protocol (LD Bio Diagnostics, Lyon, France).
From the 89 pulmonary TB patients who met the inclusion criteria, there were 56,2% male patients, 42,6% of patients are within 45-64 years old age range, 56,2% have a final education of middle/high school, and 53,9% are workers, and normal body mass index (BMI) in 36 patients (40,4%). Asthma was found in 3,4% of patients, 4.5% of chronic obstructive pulmonary disease (COPD), 16.9% of diabetes mellitus (DM), 6.7% of hypertension, and 1.1% of lung cancer. Aspergillus ICT showed positive results in 11 patients (12,4%) and were related to the asthma variable (p = 0,039) in statistical analysis.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gultom, Eddy T.M.
"Ruang lingkup dan metode penelitian
Spesies radikal babas dan derivatnya berperan sangat panting pada cedera sel. Sampai saat ini penelitian untuk membuktikan peran obat golongan penghambat sistem renin angiotensin (SRA) dalam cedera sel adalah dengan model cedera iskemia-reperfusi. Cedera sel akibat iskemia-reperfusi disebabkan oleh pembentukan spesies oksigen reaktif yang berlebihan. Dari beberapa penelitian tersebut terbukti bahwa cedera sel dengan model cedera iskemiareperfusi dapat dihambat oleh obat golongan tersebut yang diduga bekerja sebagai antioksidan/antiradikal.
Penelitian ini ingin membuktikan lebih lanjut apakah obat golongan penghambat SRA yakni kaptopril dan losartan dapat menghambat cedera sel hati dengan model lain. Model yang digunakan adalah kerusakan atau cedera sel hati yang diinduksi dengan dengan parasetamol dosis toksik, CCI4, dan etanol. Kerusakan sel hati akibat bahan-bahan hepatotoksik tersebut disebabkan oleh metabolit reaktif baik berupa spesies oksigen reaktif atau spesies radikal babas, yang merupakan hasil metabolisme dari masing-masing bahan tersebut.
Untuk mengetahui efek proteksi kaptopril dan losartan dilakukan pengukuran kadar enzim SGOT dan SGPT, serta pemeriksaan histopatologi jaringan hati. Sedangkan untuk mengetahui apakah efek proteksi ini diperantarai oleh sifat antioksidan/antiradikal kaptopril dan losartan, dilakukan pengukuran kadar MDA hati dan MDA serum.
Penelitian ini menggunakan 54 ekor tikus putih galur Sprague Dawley yang dibagi menjadi 3 grup secara acak yang masing-masing terdiri dari 18 ekor. Kemudian masing-masing grup dibagi secara acak menjadi 3 kelompok. Grup P diberi parasetamol dosis tunggal 2500 mg/KgBB, grup C diberi CCI4 dosis tunggal 2 ml/KgBB. Grup E diberi etanol dengan konsentrasi bertingkat 35%, 50%, 60%, dan 70% dengan dosis 10 ml/KgBB/hari mulai dari hari pertama Sampai hari ke 4. Setiap grup tersebut terdiri dari kelompok yang tidak diproteksi, kelompok yang diproteksi dengan kaptopril, dan kelompok yang diproteksi dengan losartan. Dua puluh empat jam setelah perlakuan terakhir dilakukan laparatomi untuk pengambilan darah dan pengangkatan hati. Darah diambil untuk pengukuran kadar SGOT, SGPT, dan kadar MDA serum. Hati diangkat untuk pengukuran kadar MDA hati dan pemeriksaan histopatologi. Data kadar SCOT, SGPT, dan MDA dianalisis dengan uji statistik ANOVA satu arah dan perbandingan berganda Tukey. Data histopatologi dianalisis dengan uji perbandingan berganda non parametrik Kruska}-Wallis.
Hasil
- Hasil uji statistik kadar SCOT dan SGPT pada semua kelompok yang diproteksi dengan kaptopril atau losartan Iebih rendah secara bermakna dibanding dengan kelompok yang tidak diproteksi.
Hasil uji statistik tingkat kerusakan hati pada grup P, kelompok yang diproteksi dengan kaptopril dan losartan Iebih rendah secara bermakna dibanding dengan kelompok yang tidak diproteksi. Hasil uji statistik tingkat kerusakan hati berupa degenerasi steatosis pads grup C dan grup E, kelompok yang diproteksi dengan kaptopril dan losartan lebih rendah secara bermakna dibanding dengan kelompok yang tidak diproteksi. Tetapi tingkat kerusakan hati berupa degenerasi nekrosis pada grup C dan grup E tidak terdapat perbedaan, sehingga tidak dilakukan uji statistik.
- Hasil uji statistik kadar MDA hati pada semua kelompok yang diproteksi dengan kaptopril dan losartan Iebih rendah secara bermakna dibanding dengan kelompok yang tidak diproteksi. Perbedaan bermakna kadar MDA serum hanya ditemukan pada grup C, yaitu kelompok yang diproteksi dengan kaptopril dan losartan lebih rendah secara bermakna dibanding kelompok yang tidak diproteksi.
Kesimpulan
1. Kaptopril dan losartan dapat mencegah cedera sel hati tikus yang diinduksi dengan parasetamol, CCI4, dan etanol.
2. Mekanisme kerja obat golongan penghambat SRA dalam mencegah cedera set diduga selain karena adanya gugus -SH pada kaptopril, juga melalui hambatan efek farmakodinamik angiotensin II dalam pembentukan spesies radikal bebas dan derivatnya.
3. Obat golongan penghambat SRA mempunyai efek antioksidan/antiradikal."
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T2041
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"HSV is known as a type of virus capable of causing infection in human being. The secondary herpes infection does not produce hazardous outcome in immunocompetent hosts because it usually heals spontaneusly within 1-2 weeks. However HSV reactivation in immunocompromised patients is a potential danger, leading to significant, morbidity, secondary bacterial and fungal infection, and occasionally disseminated viral infection, thus influencing the survival rate. The purpose of this paper was to describe the measures that could be performed to prevent HSV reactivation in immunocompromised patients. We concluded that anti-HSV titer screening, early detection of HSV shedding, lymphocyte and monocyte counts, and antiviral prophylaxis were essential in anticipating HSV reactivation in immunocompromised hosts."
Journal of Dentistry Indonesia, 2003
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Diana Sunardi
"Tujuan: Mengoptimalkan tumbuh kembang anak dengan mengetahui hubungan antara pola pemberian ASI dan MP·ASI dengan stunting pada bayi usia 6-12 bulan dan mengkatkan kadar seng serum bayi usia 6-12 bulan.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain nested case control. Subyek penelitian adalah bayi stunting dan tidak stunting.
Hasil: Jumlah subyek 90 bayi usia 6-12 bulan, 30 kasus, 60 kontrol. Kelompok kasus diambil secara purposive, sedangkan kelompok kontrol adalab bayi tidak stunting dengan matching jenis kelamin dan usia dalam rasio satu banding dua yang diambil acak sederhana. Subyek terdiri atas 45 bayi perempuan dan 45 bayi Iaki-laki. Sebagian besar (73,3%) subyek berusu.9-12 bulan. Berat badan lahir <-1 SD ditemukan pada 24,4% subyek dan panjang badan lahir <-1 SD pada 15,9% subyek (n= 44). Responden, yaitu ibu subyek, sebagian besar (87,8%) berusia antara 17-'15 lahun dan 58,9"10 berpendidikan rendah. Hampir seluruh subyek (96,7%) mendapat asupan seng di bawah AKG 2004. Pada penelitian ini didapatkan BB lahir <-1 SD merupakan faktor risiko yang bennakna (OR =1,51; P < 0,001) Untuk stunting. Uji statistik menuujukkan pola pemberian ASI dan MP-ASI kalegori tidak baik meningkatkan risiko stunting (OR = 1,122; 95% CI 0,351-3,581), walaupun seeara statistik tidak bermakna. Dengan analisis tambahan didapatkan tidak dilanjutkanya ASI setelah mendapat MP-ASI merupakan faktor risiko bermakna Untuk stunting (p ~0,039; OR 5,8). Rerata kadar seng serum bayi stunting 12,4 ± 1,7 umoL, yaitu termasuk dalam rentang marjinaI (10,7-<13 umol/L). Sebanyak 56,1% subyek stunting mempunyai kadar seng serum di bawah niIai normal (13 umol/L) dan 20% mempunyai kadar seng serum rendah «10,7 umol/L). Uji kore1asi menunjukan tidak ada hubungan antara kadar seng serum dengan asupan seng dan panjang badan untuk usia.
Kesimpulan: Pola pemberian ASI dan MP-ASI kategori tidak baik meningkatkan risiko stunting. Rerata kadar seng serum bayi stunting pada peneitian ini berada dalam rentang marjinal.

Objective: Aim of the study was to optimize child grosth by investigating the relationship between breastfeeding and complementary feeding practice and stunting among 6-12 mo infants, and to examine the zinc status of 6-12 months old stunted infants.
Method : A "nested" case-control design was used in this study. Subjects were stunted and nonstunted infants.
Results : A total of90 subjects of 6-12 mo infants in Tangerang participated in this study (30 cases and 60 _Is). Purposive sampling was used to obtain cases, while simple random sampling was used among matched controls (by gender and age). Gender were equally distributed in both groups. Mostof1he subjects (733%) were between 9-12 mo. Birth weight <-1 SD were found in 24.4% and length (n = 44) <-I SO in 15.9% subjects. Respondents, the subjects'mothers; mostly (87.8%) were between 17-35 yr and 58.9% were low educated.. Almost all (96.7%) subjects had zinc intake below Indonesian RDA 2004. This study demonstrated that birth weight <-1 SD was a significance risk factor (p<0.001; OR = 7.57) fur stunting. Statistical analysis showed that inappropriate breastfeeding and complementary feeding practice increased 1he risk fur stunting (OR= 1.122; 95% Cl 0351-3587), although statistically not significant. Further analysis showed that not continuing breastfeeding was a significant risk further for stunting (OR = 5.8 and p = 0.039). Mean serum zinc levels of 1he stunted subjects was 12.4 ± 1.7 umol/L (marginal levels 10.7-<13 pmollL). Serum zinc levels of 56.7% stunted subjects were under be normal levels (13 umol/L) and 20% hail low serum zinc levels <10.7 umol/L). Serum zinc levels did not show relationship with zinc in lake and height for age Z-score.
Conclusion : inappropriate feeding practice increased 1he risk for stunting. Mean serum zinc levels of stunted subjects in this study were in marginal range.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2008
T32010
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa Ihda Tartila
"Anak merupakan salah satu populasi yang terdampak dalam aspek kesehatan akibat infeksi coronavirus disease-19 (COVID-19). Meskipun angka kejadian COVID-19 pada populasi anak lebih kecil dibandingkan dengan populasi usia yang lebih tua, upaya pencegahan infeksi COVID-19 pada anak tetap perlu diperhatikan dan diusahakan. Salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan adalah meningkatkan daya tahan tubuh untuk dapat meminimalisir risiko infeksi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya orangtua meningkatkan daya tahan tubuh anak selama pandemi COVID-19 berdasarkan kebudayaan daerah Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Penelitian menggunakan kuesioner berisi 13 item pertanyaan yang dikembangkan berdasarkan teori Culture Care Diversity and Universality oleh Leininger. Penelitian dilaksanakan dengan metode pendekatan survei secara daring yang melibatkan 106 orangtua dengan menggunakan teknik pengambilan sampel jenis non-proportional quota sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat persamaan upaya (culture care universality) melalui pendekatan faktor kekerabatan (69,8%), sosial (49,1%), kebijakan dan peraturan yang berlaku (78,3 %), pengetahuan (85,8%), dan pemanfaatan tanaman obat keluarga (65,1 %), serta terdapat variasi budaya (culture care diversity) melalui pendekatan teknologi, agama dan falsafah hidup, gaya hidup, pemanfaatan sarana atau fasilitas kesehatan, serta jenis TOGA yang digunakan dalam praktik peningkatan daya tahan tubuh anak selama pandemi berdasarkan kebudayaan berbagai daerah.

Children are one of the populations affected by health aspects due to infection with coronavirus disease-19 (COVID-19). Although the incidence of COVID-19 in the pediatric population is smaller than the older population, efforts to prevent COVID-19 infection in children still need to be considered and sought. One of the prevention efforts that can be done is to increase immunity to minimize the risk of infection in children. The research aims to identify the efforts of parents to increase their child's immunity during the COVID-19 pandemic based on the regional culture of West Sumatra, DKI Jakarta, West Java, East Kalimantan, and South Sulawesi. The study used a questionnaire containing 13 question items which were developed from the theory of Culture Care Diversity and Universality by Leininger. The research was conducted using an online survey approach involving 106 parents using a non-proportional quota sampling technique. The results showed that there were similarities in efforts (culture care universality) through the approach of kinship factors (69.8%), social (49.1%), applicable policies and regulations (78.3%), knowledge (85.8%), resistance and utilization of family medicinal plants (65.1% %), as well as the presence of culture through a variety of approaches to technology, religion and philosophy of life, lifestyle, utilization of health facilities or facilities, and type of TOGA used in the practice of increasing children’s immunity during pandemic based on regional culture."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>