Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 92100 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aditya Eka Irjayanto
"ABSTRAK
Manajemen kineija merupakan salah satu fungsi dari manajemen SDM yang
penting diperhatikan, dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Hal ini disadari
pula oleh Bank XYZ, sebuah bank swasta nasional kedua di Indonesia. Yang
menjadi permasalahan dalam manajemen kineija di Bank XYZ tersebut adalah pada
proses penilaian kineija, di mana para karyawan cenderung memberikan penilaian
yang subjektif pada saat penilaian diri sendiri, dan tidak adanya diskusi keija (umpan
balik) dari hasil penilaian kineija yang diberikan dari atasan karyawan sebagai
penilai. Apabila masalah ini tidak diperbaiki maka dapat mengakibatkan konflik,
ketidakpuasan keija, turunnya motivasi karyawan dan keluarnya karyawan potensial.
Menurut Noe et al (2004), salah satu proses dari manajemen kinerja adalah
adanya umpan balik kinerja, melalui sesi diskusi kinerja, manajer memberikan
informasi pada karyawan mengenai kineija mereka, sehingga karyawan dapat
menyesuaikan perilaku mereka untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam diskusi
kineija, atasan dan karyawan membicarakan hasil nilai kineija yang didapat oleh
karyawan.
Untuk mengatas asi masalah tersebut di atas, maka direkomendasikan
beberapa intervensi. Intervensi dilakukan pada (1) proses manajemen kineija secara
keseluruhan, mulai dari proses perencanaan dan umpan balik, (2) intervensi terhadap
karyawan melalui pemberian umpan balik dan pelaksanaan proses coaching, dan (3)
intervensi terhadap para atasan (penilai) dengan mengembangkan kompetensi yang
dibutuhkan. Selain itu, disarankan pula agar Bank XYZ melakukan pengukuran
secara berkala terhadap keefektifan manajemen kinerja yang dijalankan, baik dari sisi
finansial maupun pencapaian target perusahaan."
2007
T38000
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Eka Irjayanto
"Manajemen kineija merupakan salah satu fungsi dari manajernen SDM yang penting diperhatikan, dalam rangka pencapaian tujuan perusahaan. Hal ini disadari pula oleh Bank XYZ, sebuah bank swasta nasionai kedua di Indonesia. Yang menjadi permasalahan dalam manajemen kine1ja di Bank XYZ tersebut adalah pada pmses penilaian kincija, di mana para karyawan ccndemng memberikan penilaian yang subjektif pada saat penilaian diri sendiri, dan tidak adanya diskusi kexja (umpan balik) dari hasil penilaian kineija yang diberikan dari atasan karyawan sebagai peniiai. Apabila masalah ini tidak diperbaiki maka dapat mengakibatkan konfiik, ketidakpuasan kexja, turunnya motivasi karyawan dan keluarnya karyawan potensial.
Menurut Noe et al (2004), salah satu proses dari manajemen kinezja adalah adanya umpan balik kineija, melalui sesi dislcusi kineija, manajer memberikan informasi pada karyawan mengenai kinerja mereka, sehingga karyawan dapat menyesuaikan perilaku mcreka untuk mencapai tujuan organisasi. Dalam diskusi kine1jia, atasan dan kaxyawan membicarakan basil nilai kinerja yang didapat oleh karyawan.
Untuk mengatasasi masalah tersebut di atas, maka direkornendasikan beberapa intervensi. Intervensi dilakukan pada (1) proses manajemen kineija secara keselumhan, muiai dari proses perencanaan dan umpan balik, (2) intervensi terhadap karyawan melalui pemberian umpan balik dan pelaksanaan proses coaching, dan (3) intervensi terhadap para atasan (penilai) dengan mengernbangkan kompetensi yang dibutuhkan. Selain itu, disarankan pula agar Bank XYZ melakukan pcngukuran secara berkala terhadap keefektifan manajemen kineija yang dijalankan, baik dari sisi Enansial maupun pencapaian target pcrusahaan.

Performance management is one of function from important HRM management, for the agenda of attainment of purpose of company. This thing realized by Bank, XYZ, as a second largest private national bank in Indonesia. What becoming problem of performance management in Bank XYZ is at process of assessment of performance, where of employeeses tend to to give subjective assessment at the time of assessment of ownsclvcs, and inexistence work discussion ( feedback) from result of assessment of performance which given from employees superior as assessor. If this problem don't improve hence can result conflict, dissatisfation of job, lowering of employees motivation and exit of potential employees.
According to Noe et al (2004), one of process from performance management is existence of performance feedback, through performance discussion session, manager give information at employees concerning their performance, so that employeeses can accomodate their behavior to reach purpose of organizations. In performance discussion, employees and superior discuss performance value result which got by employees.
For above mentioned problem, hence recommended some interventions. Intervention is done at (1) performance management process as a whole, start from feedback and planning process, (2) intervention to employees through giving of feedback and execution of process coaching, and (3) intervention to of superiors ( assessor) by developing the required competencies. Besides, suggested that Bank XYZ do periodical measurement to effectiveness of the implemented performance management, either from side finansial and also attainment of company goals.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
T34066
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sembiring, Erlitna
"Tugas akhir ini merupakan analisis terhadap sistem penilaian kinerja yang diterapkan di Instansi XYZ. Analisis ini dilakukan sebagai upaya untuk memberikan masukan kepada manajemen Instansi XYZ, bahwa sistem penilaian kinerja yang diterapkan saat ini belum dapat dikategorikan sebagai sistem penilaian kinerja yang efektif Sistem penilaian kinerja model DP3 yang saat ini digunakan berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 10 Tabun 1979 belum mampu menggambarkan basil prestasi kerja yang sesungguhnya. Hal tersebut diakibatkan oleh beberapa faktor antara lain, unsur penilaian yang tidak terukur karna lebih menggambarkan karakteristik individu daripada prestasi kerja dan kurangnya pemahaman pejabat penilai terhadap teknis pemberian nilai serta manfaat dari DP3 itu sendiri.
Sebagai usulan pemecahan masalah, penulis mengusulkan agar sistem penilaian instansi XYZ dirubah/direvisi ke dalam bentuk yang lebih sederhana namun memuat kriteria unsur penilaian terukur dan hasilnya dapat menggambarkan prestasi kerja karyawan sesungguhnya. Di samping itu pemahaman terhadap teknik pemberian dan penetapan nilai perlu ditanamkan dan disosialisasikan terhadap pejabat penilai, agar penilaian dapat objektif sehingga hasil penilaian kinerja dapat dijadikan acuan dalam pembinaan karir karyawan."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T18828
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Henricus Nova Yudiawan
"ABSTRAK
Bisnis perbankan tidak bisa terpisahkan dari teknologi informasi untuk mampu bersaing secara kompetitif. Tuntutan nasabah akan kemudahan layanan dan transaksi yang murah mengharuskan kehandalan aplikasi perangkat lunak yang dipergunakan. Kehandalan tersebut tentu didukung dengan kualitas aplikasi yang baik.Kualitas aplikasi perangkat lunak yang baik hanya bisa terwujud jika pengujian atas aplikasi perangkat lunak juga memadai. Penelitian ini berupa assesment atas proses pengujian perangkat lunak sehingga akan diperoleh pemetaan kondisi yang ada terhadap frameworkTest Process Improvement-Next yang menjadi acuan dalam proses assesment, key area yang masih memiliki kelemahan, prioritas perbaikan dan action plan yang direkomendasikan.
Penulis mengambil kesimpulan bahwa maturity level atas proses pengujian perangkat lunak di tempat studi kasus adalah level Initial. Terdapat beberapa key area dalam proses pengujian perangkat lunak yang membutuhkan perbaikan untuk mencapai maturity level-Controlled antara lain Degree of Involvement, Test Strategy, Reporting, Test Environment, Test Profesionalism dan Test Tools. Perbaikan atas keenam key area tersebut meliputi sembilan checkpoint seperti tersebut dalam Test Maturity Matrix dengan urutan prioritas yang mengikuti metode process driven dalam Test Process Improvement - Next.
Kata Kunci: assesment, action plan, framework, kualitas, key area, Test Process Improvement-Next, , maturity level, pengujian perangkat lunak, Test Maturity Matrix.

ABSTRACT
Banking business can not be separated from information technology in order to be able to compete competitively. Customers requireeasy transaction services and low transaction costso that software application’s reliability is a must. Reliability certainly needs support from good quality applications. The quality of a good software application can only be achieved if the testing of application software is also adequate.This work consist of the assessment of software testing process that results in the mapping of existing conditions toTest Process Improvement-Next framework(as the reference in the assessment process), key areas that still have weaknesses, priorities and action plan improvements recommended.
The author concludes that the maturity level of the software testingprocess in this case study is in the initial level. There are several key areas in the process of software testing that need improvement to achieve maturity level-Controlled such as Degree of Involvement, Test Strategy, Reporting, Test Environment, Test Profesionalism and Test Tools. Improvement on these six key area consist of nine checkpoints as mentioned in Test Maturity Matrix with priority follows process driven method of Test Process Improvement-Next.
Key word :assesment, action plan, framework, quality, key area, Test Process Improvement-Next, , maturity level, software testing, Test Maturity Matrix."
Jakarta: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adi Purnomol
"Tesis ini membahas Studi Kasus Pembangunan Sistem Informasi Manajemen di Bank XYZ dengan menggunakan COBIT 4.1 sebagai pedoman metodologi yang digunakan oleh umum. Salah satu tujuannya adalah untuk melihat kesesuaian metodologi yang digunakan oleh Bank XYZ dengan COBIT. Hasil analisa memperlihatkan bahwa tata kelola TI di Bank XYZ masih relatif sederhana dan belum memadai. Masih banyak proses TI yang belum distandarkan dan masih ditangani berdasarkan kasus yang terjadi serta pengetahuan dari staf TI. Manajemen kualitas masih belum dipraktikkan di Bank XYZ. Penulis menyarankan untuk membuat kamus data, membuat kerangka manajemen proyek, membuat rencana kualitas dari proyek, membuat studi kelayakan proyek, dan membuat prosedur pengembangan aplikasi perangkat lunak.

The focus of this study is to explore the Development of Management Information System Case in Bank XYZ using COBIT 4.1 as common methodology. One of the purpose of this study is to see the appropriateness of methodology that Bank XYZ use with COBIT . The result of this research explain that IT Governance in Bank XYZ is not good enough and too simple. Some IT processes and IT solutions have not been standarized, and completed based on case and IT staf?s knowledge. Quality management has not been focused by the IT management. The researcher suggests them to make data dictionary, Management Framework Project, Quality Plan of Project, Feasibility Study of Project, and Software Development Guidlines."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2010
T28238
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nungky Awang Chandra
"Peranan sistem manajemen layanan TI telah digunakan sebagai alat dalam mengambil keputusan bisnis. Salah satu manajemen layanan TI adalah layanan e-mail. Layanan email membutuhkan sistem yang berorientasi pada proses dan pelanggan. Beberapa permasalahan sistem layanan e-mail antara lain kesulitan memahami kebutuhan pelanggan, perbaikan layanan e-mail kurang fokus terhadap dampak bisnis, layanan email belum terstandarisasi. Sistem manajemen mutu ISO 9001, Balanced Scorecard, dan Lean Six Sigma dapat digunakan untuk menangani permasalahan manajemen layanan email. Sistem manajemen mutu ISO 9001 digunakan sebagai kerangka acuan manajemen layanan e-mail. Balanced Scorecard digunakan untuk menyelaraskan antara tujuan bisnis dan layanan e-mail. Lean Six Sigma digunakan untuk perbaikan kinerja layanan e-mail. Dalam penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001, Balanced Scorecard and Lean Six Sigma digunakan beberapa analisa. Analisa tersebut adalah analisa bisnis perusahaan, analisa strategi TI, analisa manajemen layanan TI, dan evaluasi kinerja sistem manajemen layanan e-mail.Kesimpulan dari kajian adalah Lean Six Sigma dapat digunakan untuk memahami kebutuhan pelanggan, seperti e-mail cepat, mudah, stabil dan luas. Balanced Scorecard menyelaraskan KPI antara bisnis dan manajemen layanan e-mail. Agar kinerja layanan e-mail tetap meningkat maka digunakan sistem manajemen mutu ISO 9001.

Role of IT service management system is used as a business decision tools. One of IT services management system is e-mail service. E-mail service needs system that oriented to process and customer. Some issues on e-mail service system are among others, difficult to understand customer need, improvement of e-mail service is less focus to business impact, and the process of e-mail service is not yet standard. Quality management system ISO 9001, Balanced Scorecard, and Lean Six Sigma can be used to handle issues on e-mail service management. Quality management system ISO 9001 is used as a framework of e-mail service management, Balanced Scorecard is used to align business objective and e-mail service, and Lean Six Sigma is used to improve performance of e-mail service. Implementation of quality management system ISO 9001, Balanced Scorecard and Lean Six Sigma used several analysis. These are business analysis, IT strategy analysis, IT service management analysis, and evaluation performance e-mail service management system. This study showed that Lean Six Sigma can be used to understand customer need as fast, easy, stable and broad. Balanced Scorecard align KPI between business and e-mail service management. In order to performance of e-mail service steadily increased then quality management system ISO 9001 can be used as control of process e-mail service."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Arda Raisuli
"Serangkaian deregulasi di bidang Perbankan disatu pihak memberi dampak positip dalam perbankan nasional, Namun dipihak lain juga menimbulkan sejumlah masalah bagi bank-bank yang tidak siap menerima perubahan perubahan tersebut. Permasalah tersebut antara lain adalah:
1. Besarnya rasio kredit bermasalah (non performing loans) akibat pemberian pinjaman yang overlending, banyaknya credit exceptions, tertalu collateral
approach dan ekspansi kredit yang tak hati-hati.
2. Kondisi ekonomi, dimana mencîutnya wilayah pasar yang dilayani bank akibat meningkatnya peran produk substitusi, kegagalan bisnis (business failure) nasabah, menurunnya penjualan bisnis nasabah dan sebagainya.
3. Belum efìsiennya lembaga perbankan nasional yang ditandai dengan lebarnya margin antara bunga pinjaman dengan bunga dana masyarakat.
4. Adanya kolusi (insider trading) antara manajemen, staf, pemegang saham dan kepada kelompok bisnis tertentu yang menurunkan keprcayaan masyarakat kepada lembaga perbankan.
5. Diabaikannya prosedur audit dan pengendalian oleh sejumlah bank.
Akibatnya sejumiah bank yang mengalami rnasaiah diatas menderita penurunan kinerja yang drastis. ini ditandai dengan menurunnya Kualitas Aktiva Produktif (KAP), rendahnya koiektibilitas, ROE, Profit Margin, dan secara keseluruhan menurunnya tingkat kesehatan bank. Kondisi penurunan kinerja ini sangat dirasakan oieh Bank X. Untuk itu sejumlah prioritas upaya pemulihan segera disiapkan, untuk kemudian
ditaksanakan serta dfevaiuasj keefektifannya Tentunya upaya-upaya tersebut diarahkan pada usaha yang dapat meningkatkan pendapatari, dapat menekan dan mengendalikan biaya, dan tidak berpengaruh Iangsung pada ekspansi aktiva.
Berdasarkan kondisi tersebut karya akhir ini disusuri dengan maksudmencari suatu strategi yang tepat untuk memulihkan kondisi Bank X agar menjadi bank yang sehat seperti sediakala. Dan sejumlah upaya yang dilakukan Bank X dewasa ini penelitian ditujukan untuk melihat kemungkinan pengembangan jasa feebased dan pemanfaatan kredit sindikasi sebagai salah satu alternatif perbaikan kinerja Bank X.
Pengembangan kredit sindikasi diintensifkan karena merupakan salah satu upaya menjual kredit-kredit yang telah existing namun sekarang mempunyai masalah pencianaan kalau dibiayai sendini oleh Bank X atau karena terkena peraturan Batas Maksimal Pemberian Kredit (BMPK), disamping sejumlah keuntungan Iainnya. Sedang pengembangan jasa feebased ditingkatkan karena
aktivitas ¡ni merupakan salah satu alternatif strategi meningkatkan kinerja tanpa melalui ekspansì aktiva, mempunyai resiko rendah, serta diharapkan akan meningkatkan loyalitas nasabah.
Namun pengembangan kedua macam aktivitas tersebut tidak mudah karena menuntut peran SDM yang kapabel, inovatif, produktif, efisien dan berkualitas sesuai tuntutan nasabah, disamping tersedianya faktor penunjang lainnya seperti teknologi informasi dan fasilitas lainnya.
Dari hasil analisis eksternal dan internal perusahaan, terlihat bahwa peluang untuk mengembangkan kedua aktivitas tersebut masih terbuka luas. Namun sejumlah kelemahan internal dan kendala ekternal masih merupakan pekerjaan rumah manajemen yang harus diatasi untuk dapat memanfaatkan
peluang diatas.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 1997
TA6142
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tita Mustikarini Ambarwati
"Pengelolaan sistem manajemen kinerja (Performance Management System) merupakan salah satu sistem yang diharapkan mampu membantu perusahaan dalam mengarahkan sumber daya yang dimiliki agar fokus pada suatu tujuan yang telah ditetapkan.
Melalui penerapan Sistem Manajemen Kinerja ini di harapkan PT SSX dapat mengambil beberapa manfaat antara lain meningkatkan daya saing kinerja organisasi secara komprehensif, memahami bersama tujuan organisasi sehingga dapat lebih fokus untuk mengerahkan sumberdaya yang ada demi pencapaian tujuan tersebut, membentuk suasana kerja yang lebih kondusif sehingga dapat meningkatkan motivasi dan produktivitas kinerja karyawan serta perusahaan, mengarahkan kapasitas dan kompetensi organisasi atau karyawan pada upaya pencapaian sasaran kinerja yang telah ditetapkan dan disepakati.
Dalam implementasinya dengan menggunakan Tahap Perencanaan Kinerja, Coaching, dan Penilaian Kinerja. Dengan menggunakan proses SECI diharapkan perubahan sistem yang terjadi saat penerapan manajemen kinerja di PT SSX dapat terminimalisasi. Sehingga karyawan dapat menerima sistem yang akan diberlakukan untuk mencapai tujuan perusahaan yang lebih baik dari tahun sebelumnya.
Dengan melalui tahapan-tahapan tersebut, diharapkan hasil akhir Penilaian Kinerja masing-masing karyawan lebih obyektif. Kendala-kendala yang dihadapi karyawan dalam pencapaian target yang telah ditetapkan dapat teratasi sehingga masing-masing karyawan mampu menunjukan hasil kerja yang optimal guna meningkatkan performance perusahaan secara keseluruhan."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T18286
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Afrina Rachmadina Mahendra
"[Penelitian ini membahas mengenai penerapan perbaikan proses bisnis pada salah
satu divisi riset di Bank XYZ untuk aktivitas penyebarluasan laporan hasil
analisis tim atau Economic Report Dissemination. Penulis menerapkan model
rekayasa ulang proses bisnis (Business Process Re-Engineering/BPR) dari
Muthu, Whitman et al (1999) yang terdiri dari lima tahapan yakni persiapan,
pemetaan proses saat ini, perancangan proses baru, implementasi dan perbaikan
berkelanjutan. Dalam memetakan proses bisnis, penulis menggunakan alat bantu
flowchart dan kerangka perbaikan proses Baltzan (2014) dalam mengidentifikasi
masalah dalam proses saat ini.;This research discuss about the implementation of Business Process
Improvement (BPI) in XYZ Bank?s research division. The object of this research
is their main activity called Economic Report Dissemination (ERD) which is the
process to distribute economic report throughout the firm in accordance to its
needs. This research followed Muthu, Whitman et al (1999) Business Process
Reengineering consolidated model that consist of five steps include preparation,
current process mapping, develop new process, implementation and continuous
improvement. The current and to-be process was drawn using flowchart. To
identify the problem in current process, Baltzan (2014) business process
improvement model was used.;This research discuss about the implementation of Business Process
Improvement (BPI) in XYZ Bank?s research division. The object of this research
is their main activity called Economic Report Dissemination (ERD) which is the
process to distribute economic report throughout the firm in accordance to its
needs. This research followed Muthu, Whitman et al (1999) Business Process
Reengineering consolidated model that consist of five steps include preparation,
current process mapping, develop new process, implementation and continuous
improvement. The current and to-be process was drawn using flowchart. To
identify the problem in current process, Baltzan (2014) business process
improvement model was used., This research discuss about the implementation of Business Process
Improvement (BPI) in XYZ Bank’s research division. The object of this research
is their main activity called Economic Report Dissemination (ERD) which is the
process to distribute economic report throughout the firm in accordance to its
needs. This research followed Muthu, Whitman et al (1999) Business Process
Reengineering consolidated model that consist of five steps include preparation,
current process mapping, develop new process, implementation and continuous
improvement. The current and to-be process was drawn using flowchart. To
identify the problem in current process, Baltzan (2014) business process
improvement model was used.]"
2015
S59229
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurhidayati
"Pada era Internet 4.0 ini menimbulkan suatu fenomena baru terhadap perubahan perilaku konsumen. Kosumen saat ini menciptakan consumerspace sendiri dengan mendikte perusahaan dengan menginginkan produk/layanan yang dapat diakses kapanpun, dimanapun dan melalui device apapun. Mereka menginginkan pelayanan yang cepat, mudah, praktis dan murah. Hal ini pun merubah cara pandang perusahaan dalam menawarkan produk/layanan kepada pelanggan, yang sebelumnya product centric menjadi customer centric. Fenomena tersebut juga muncul di Indonesia dengan keunikannya sendiri. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia beragama Islam, maka muncullah kelas menengah muslim yang mengedepankan nilai-nilai Islam sebagai driving factor dalam memutuskan pembelian dan mempengaruhi perilaku pembelian dan konsumsi mereka. Pertumbuhan kelas menengah muslim ini menimbulkan suatu fenomena baru dengan menggerakkan pasar muslim di Indonesia. Namun segmentasi kelompok masyarakat ini apabila dilihat dari indikator preferensi dan kepemilikan produk keuangan masih didasari pada hal-hal yang bersifat ego-centric dan rasional. Mereka lebih mengutamakan sisi fungsional dan benefit dari produk/layanan perbankan yang mereka beli. Nasabah menginginkan kemudahan dalam proses pembukaan rekening Tabungan. Sehubungan dengan hal tersebut, PT Bank Syariah XYZ membutuhkan adanya perbaikan proses bisnis, terutama pada pembukaan rekening Tabungan Syariah. Dengan menggunakan metode Service Blueprint, maka dapat diketahui aktivitas mana yang tidak memberikan nilai tambah (non-value added), mengidentifikasi potensi kegagalan layanan (fail points) dan risiko waktu tunggu layanan yang berlebihan (risk of excessive wait). Agar dapat memberikan layanan terbaik kepada nasabah, PT Bank Syariah XYZ perlu mendesain ulang proses bisnis pembukaan rekening Tabungan Syariah. Proses bisnis pembukaan rekening Tabungan syariah yang baru (future state) harus dapat menghilangkan aktivitas non-value added, mengurangi jumlah kegagalan layanan dan mengurangi waktu siklus (cycle time), sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan kepuasan nasabah

Internet 4.0 era raises a new phenomenon towards changes in consumer behavior. Todays consumers create consumer space by dictating companies with products and services that can be accessed anytime, anywhere and through any devices. They want services that are fast, easy, simple and inexpensive. This also changes the company perspective in offering products/services to their customers, which were previously product centric to customer centric. This phenomenon also appears in Indonesia with its own uniqueness. Because most Indonesian people are muslim, it emerges middle class muslim, who puts Islamic Values as a driving factor in deciding purchases and influencing their buying and consumption behavior. The growth of the middle class muslim creates a new phenomenon by moving the muslim market in Indonesia. However, segmentation of these communities viewed from the indicators of preference and ownership of financial products, is still based on things that are ego-centric and rational. They prioritize the functional side and the benefits of the banking products/services they buy. Customers do not want to be faced with the complicated process of opening account. So that PT Bank Syariah XYZ requires business process improvement, especially in process of opening Sharia saving accounts. By using the Service Blueprint method, we can sort out which activities provide non-value added, identify potential service failures and risk of excessive wait. In order to provide the best service to customers, PT Bank Syariah XYZ needs to redesign the business process of opening Sharia saving accounts. A new business process of opening Sharia saving accounts (future state) must be able to eliminate non-valued added activities, reduce the number of service failures and reduce cycle time, so it can increase productivity and customer satisfaction."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2019
T53475
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>