Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 181900 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aditya Cakasana Janottama
"Indonesia memiliki angka prevalensi tinggi akan tuberkulosis (TB). Berbagai langkah sudah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan berdasarkan penilaian Millenium Development Goals (MDGs) Indonesia sudah berhasil mengurangi jumlah kasus TB. Namun, hasil Riset Kesehatan Dasar 2010 menunjukkan bahwa penderita TB di Indonesia masih banyak. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu studi mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku tuberkulosis yang kali ini dihubungkan dengan kondisi sosio-ekonomi responden. Studi dilakukan dengan metode cross-sectional terhadap Ibu di 11 kelurahan di Jakarta Timur, pada Oktober hingga Desember 2011, dengan menggunakan polygonal random sampling. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan bermakna antara kesediaan responden untuk mengikuti pengobatan TB dengan kondisi sosio-ekonomi yang dinilai yaitu tingkat pendidikan, status kerja, dan tingkat penghasilan. Sementara, tingkat pendidikan memiliki hubungan bermakna dengan perilaku mencari pengobatan TB (PR = 1,033 (CI=1,011-1,054), p=0,002). Status kerja memiliki hubungan bermakna dengan perilaku mencari pengobatan TB (PR = 0,967 (CI=0,943-0,991), p=0,002). Dan tingkat penghasilan memiliki hubungan bermakna dengan perilaku mencari pengobatan TB (PR = 1,035 (CI=1,009-1,062), p=0,003).

Indonesia has a high prevalence rate of tuberculosis (TB). Various steps had been made by the government and based on Millenium Development Goals (MDGs) target, Indonesia has been succeeded in reducing the number of TB cases. Despite its success, the result of Riset Kesehatan Dasar 2010 shows that Indonesia still have a lot number of TB sufferer. Therefore, there should be a knowledge, attitude, and practice study regarding tuberculosis, which in this study is associated with socio-economic condition.The study was done with cross-sectional method. It involved randomly selected mothers in 11 district in East Jakarta between October and December 2011, using polygonal random sampling. The result shows that there is no significant relation between respondent’s will to follow TB treatment (6 months long) with socio-economic conditions (education level, employment status, and income level). In the other side, education level has a significant relation with health seeking behavior towards TB (PR = 1,033 (CI=1,011-1,054), p=0,002). Employment status has also a significant relation with health seeking behavior towards TB (PR = 0,967 (CI=0,943-0,991), p=0,002). At last, income level has a significant relation with health seeking behavior towards TB (PR = 1,035 (CI=1,009-1,062), p=0,003).
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harris Soetanto
"Kasus tuberkulosis dan kematian akibat infeksinya merupakan salah satu masalah utama di Indonesia Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan mengenai tuberkulosis dengan faktor sosio ekonomi Desain penelitian adalah cross sectional dengan menggunakan kuesioner Sampel penelitian sebesar 2419 ibu yang dipilih secara acak menggunakan sistem polygonal random sampling dari 11 kelurahan terpadat di Jakarta Timur Data yang dikumpulkan diuji dengan chi square untuk menemukan nilai p rasio prevalens dan interval kepercayaan Hasil penelitian menunjukkan hanya 335 responden 14 yang menjawab seluruh pertanyaan dengan benar dan berhubungan dengan status kerja penghasilan keluarga pendidikan terakhir dan sumber informasi Pengetahuan mengenai tuberkulosis yang tinggi berhubungan dengan status ibu yang tidak bekerja p 0 004 RP 0 894 IK95 0 83 0 97 penghasilan keluarga yang tinggi p 0 001 RP 1 33 IK95 1 12 1 15 pendidikan terakhir yang tinggi p 0 001 RP 1 41 IK95 1 31 1 51 dan mendapatkan informasi p 0 001 RP 0 082 IK95 0 037 0 178 Pengetahuan yang benar mengenai tuberkulosis masih terbilang rendah pada ibu di Jakarta Timur Sumber informasi seperti televisi memiliki peran besar dalam meningkatkan pengetahuan mengenai tuberkulosis pada ibu yang berada di Jakarta Timur Disimpulkan kalau pengetahuan mengenai tuberkulosis berhubungan dengan faktor faktor sosioekonomik ibu dan dapat ditingkatkan dengan sumber informasi yang tepat.

Tuberculosis cases and deaths caused by its infection is major problem in Indonesia This study was done to describe the association between socio economic factors and tuberculosis rsquo knowledge The design of this study was cross sectional survey Research subjects were 2419 housewives from 11 most populated districts within East Jakarta selected at random by using polygonal random sampling Collected data would be tested with Chi square test to find significance risk prevalence and confidence interval Result showed that 335 respondents 14 answered correct all question regarding etiology curability transmission and length of treatment Chi square test showed that tuberculosis rsquo knowledge was significantly associated with level of formal education employment status monthly income level and information source Better knowledge of tuberculosis was significantly related with unemployment p 0 004 PR 0 894 CI95 0 83 0 97 high level of monthly income p 0 001 PR 1 33 CI95 1 12 1 15 high level of formal education p 0 001 PR 1 41 CI95 1 31 1 51 and receiving information about TB p 0 001 PR 0 082 CI95 0 037 0 178 Overall level of tuberculosis knowledge without misconception on housewives within East Jakarta is low Based on the result level of tuberculosis knowledge related to socioeconomic status and can be improved by effective source of information
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rini Hardiani Noorhizmah
"Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kegawatdaruratan global, World Health Organization melaporkan terdapat 8,6 juta kasus baru dan 1,3 juta kematian ditahun 2012. Saat ini, Indonesia merupakan negara peringkat kelima dengan beban TB terbesar. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan tingkat pengetahuan klien TB dengan tingkat kepatuhan minum Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Desain deskriptif korelasional dengan pendekatan penelitian cross sectional didapatkan 43 klien TB yang berobat di Puskesmas Kecamatan Makasar Jakarta Timur. Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki pengetahuan tinggi (65.1%) dan responden yang patuh minum OAT (67.4%). Hasil uji chi square menunjukkan hubungan yang positif antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum OAT (p=0,033 α=0,05). Promosi kesehatan terkait TB masih perlu ditingkatkan dalam pelayanan keperawatan komunitas.

Tuberculosis (TB) is a global emergency problem. World Health Organization reported there were 8.6 million new cases and 1.3 million deaths in 2012. Currently, Indonesia is the fifth largest TB burden country. This study was conducted to determine the relationship of the level of knowledge of the TB clients with the level of Anti Tuberculosis Drugs (ATD) consumption adherence. Descriptive correlational design with cross-sectional research approach obtained 43 TB clients who had treatment in the public health center of Makasar District, East Jakarta. The results showed of the respondents had high knowledge (65.1%) and respondents adhere to drink ATD (65.7%). The results of the chi square test showed a significant association between the level of knowledge and the level of ATD consumption adherence (p = 0.033 α = 0.05). TB-related health promotion needs to be improved in the nursing community service.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
S55659
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitri Rakhmania
"Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan menyebar melalui udara. Jakarta Timur menjadi kota dengan jumlah kasus TB semua tipe tertinggi selama 6 berturut-turut dari tahun 2016-2021. Kejadian TB dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan faktor-faktor risiko TB yaitu faktor lingkungan (jumlah rumah sehat dan kepadatan penduduk), faktor individu (jenis kelamin), dan faktor pelayanan kesehatan (angka keberhasilan pengobatan TB) dengan prevalence rate tuberkulosis di setiap kecamatan (10 kecamatan) di Kota Jakarta Timur pada tahun 2021 dengan desain studi ekologi. Hasil penelitian analisis tren kasus tuberkulosis menurut jenis kelamin, diketahui bahwa kasus tuberkulosis lebih lebih banyak diderita oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Terdapat 3 kecamatan yang telah mencapai target global angka keberhasilan pengobatan TB sebesar 90% yaitu Kecamatan Cakung (91%), Ciracas (91%), dan Duren Sawit (90%). Kecamatan Cakung dapat menjadi salah satu contoh berjalannya program pengobatan TB yang sudah efektif karena memiliki angka keberhasilan pengobatan TB (success rate TB) tertinggi (91%) dengan prevalence rate tuberkulosis terendah (129,80 per 100.000 penduduk). Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara jumlah rumah sehat dengan prevalence rate tuberkulosis pada 7 dari 10 kecamatan yaitu Cakung (p=0,009; r=-0,713), Ciracas (p=0,033; r=-0,615), Duren Sawit (p=0,005; r=0,748), Jatinegara (p=0,048; r=-0,580), Kramat Jati (p=0,013; r=0,692), Makasar (p=0,020; r=-0,657), dan Matraman (p=0,045; r=0,587). Selain itu, hubungan yang signifikan juga didapatkan antara kepadatan penduduk dengan prevalence rate tuberkulosis pada 7 dari 10 kecamatan yaitu Cakung (p=0,009; r=0,713), Ciracas (p=0,033; r=0,615), Duren Sawit (p=0,005; r=0,748), Jatinegara (p=0,048; r=0,580), Kramat Jati (p=0,013; r=0,692), Makasar (p=0,020; r=0,657), dan Matraman (p=0,045; r=0,587). Oleh karena itu, disarankan untuk meningkatkan kegiatan edukasi terkait rumah sehat dan edukasi terkait tuberkulosis kepada kelompok masyarakat, serta mengoptimalkan gerakan penanggulangan tuberkulosis dan penataan tata kota pada wilayah dengan kepadatan penduduk yang tinggi.

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by the bacteria Mycobacterium tuberculosis and spread through the air. East Jakarta has been the city with the highest number of TB cases of all types for 6 consecutive years from 2016-2021. The incidence of TB can be influenced by several risk factors. The purpose of this study was to analyze the relationship of TB risk factors, namely environmental factors (number of healthy houses and population density), individual factors (gender), and health service factors (success rate TB) with the prevalence rate of tuberculosis in each sub-district (10 sub-districts) in East Jakarta City in 2021 with an ecological study design. The results of the study analyzed the trend of tuberculosis cases by gender, it was found that tuberculosis cases were more prevalent among men than women. There are 3 sub-districts that have reached the global target of 90% success rate TB, namely Cakung (91%), Ciracas (91%), and Duren Sawit (90%). Cakung sub-district can be an example of an effective TB treatment program because it has the highest success rate TB (91%) with the lowest TB prevalence rate (129.80 per 100,000 population). Correlation test results showed a significant relationship between the number of healthy houses and TB prevalence rate in 7 out of 10 sub-districts, namely Cakung (p=0.009; r=-0.713), Ciracas (p=0.033; r=-0.615), Duren Sawit (p=0.005; r=0.748), Jatinegara (p=0.048; r=-0.580), Kramat Jati (p=0.013; r=0.692), Makasar (p=0.020; r=-0.657), and Matraman (p=0.045; r=0.587). In addition, a significant relationship was also found between population density and tuberculosis prevalence rate in 7 out of 10 sub-districts, namely Cakung (p=0.009; r=0.713), Ciracas (p=0.033; r=0.615), Duren Sawit (p=0.005; r=0.748), Jatinegara (p=0.048; r=0.580), Kramat Jati (p=0.013; r=0.692), Makasar (p=0.020; r=0.657), and Matraman (p=0.045; r=0.587). Therefore, it is recommended to increase educational activities related to healthy homes and tuberculosis-related education to community groups, as well as optimize the tuberculosis prevention movement and urban planning in areas with high population density."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aisyah
"Penyakit tuberkulosis di Indonesia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Pemerintah memperkirakan saat ini setiap tahun terjadi 583.000 kasus bare dengan kematian 140.000 orang. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah telah melaksanakan program penanggulangan TB dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse) sejak tahun 1995.
Untuk mengetahui keberhasilan program DOTS, menggunakan indikator atau tolok ukur angka konversi pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80%, angka kesembuhan minimal 85% dari kasus baru BTA positif, Di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, angka kesembuhan tahun 2001 baru mencapai 80% dan angka konversi sebesar 90,65%. Angka kesembuhan tersebut sangat berkaitan dengan kepatuhan berobat penderita TB paru bersangkutan. Oleh karena itu secara umum tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang hubungan persepsi , pengetahuan penderita, dan Pengawas Menelan Obat dengan kepatuhanberobat penderita TB paru di Puskesmas Kecamatan Jatinagara tahun 2001.
Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan memanfaatkan data primer dan sekunder. Penulis melakukan pengumpulan data dengan wawancara berpedoman pada kuesioner pada tanggal 29 Maret 2002 sampai 8 Mei 2002 dad seluruh penderita TB paru BTA positif sebanyak 92 orang yang mendapat pengobatan kategori-1 dan telah selesai berobat di Puskesmas tersebut tahun 2001. Variabel dependen adalah kepatuhan berobat, dan variabel independen adalah persepsi kerentanan, persepsi keseriusan, persepsi manfaat minus rintangan , persepsi ancamanlbahaya, pengetahuan dan pengawas menelan obat. Sedangkan variabel confounding terdiri dari umur, jenis kelamin, pendidikan dan pekerjaan. Untuk pengolahan data, penulis menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat dengan regresi logistik Banda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang patuh berobat 73,9 % dan tidak patuh berobat 26,1%_ Dui basil analisis bivariat didapatkan variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan kepatuhan berobat adalah variabel persepsi kerentanan P value=4.045 dan OR=0,314 , persepsi keseriusan P value 0,034 dan OR=3,26 , persepsi manfaat minus rintangan P value-0,023 dan OR=3,70 , persepsi ancamanl bahaya P value~,030 dan OR=0,310 dan pengawas menelan obat P value-0,008 dan OR=0,171. Sedangkan basil analisis multivariat mendapatkan tiga variabel yang berhubungan dengan kepatuhan berobat yaitu keseriusan P value=0,013 dan OR=6,221, manfaat minus rintangan P value 0,019 dan OR=5,814 , dan pengawas menelan obat P value= 0,024 dan OR ,174. Namun yang paling dominan diantara ketiga variabel tersebut adalah variabel keseriusan P value-0,013 dan OR-6,221.
Peneliti menyarankan kepada pengelola program penanggulangan TB pare di Puskesmas untuk memberikan informasi yang cukup dan lebih jelas lagi tentang TB pare kepada setiap penderita dengan menggunakan bahasa sederhana agar penderita mudah memahami dan melaksanakannya. Sebaiknya di ruang tunggu Puskesmas diadakan penyuluhan TB paru melalui TV dan poster. Meningkatkan pecan PMO melalui penyuluhan dan pertemuan yang efektif dengan kader kesehatan , TOMA dan terutama dengan PMO dari keluarga. Mensosialisasikan Pedoman Umum Promosi Penanggulangan TB yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Tahun 2000 .

Tuberculosis remains to become a large public health problem in Indonesia. This time the government estimates that there are 583.000 new cases of tuberculosis and up to 140.000 persons die from tuberculosis annualy. Solving this problem the government has carried out the program to fight against tuberculosis by DOTS (Directly Observed Treatment Short course) strategy since 1995.
To know the success of DOTS program we use indicator or yard stick i.e. conversion rate at the end of intensive medication stage is minimal 80% and cure rate is minimal 85% of acid-fast bacilli positive new cases. In Puskesmas Kecamatan Jatinegara in 2001, the cure rate achieved 80% and the conversion rate was 90,65%. The cure rate is closely related to medication compliance of those lung tuberculosis patients. Therefore in general, the aim of this study is to obtain information about the relationship between perception, patient's knowledge , PMO (Drug Swallowing Observer), and medication compliance of lung tuberculosis patients in Puskesmas Kecamatan Jatinegara, year of 2001.
This study used cross sectional design employing both primary and secondary data. The writer collected data based on interview with questionnaires on 29 March 2002 to 8 May 2002 from all smear-positive lung tuberculosis patients as much as 92 persons who have received category-1 therapy and have completed the medication in the Puskesmas in the year 2001. The dependent variable is the medication compliance, and the independent variables are the perceived susceptability, perceived seriousness, perceived benefits minus barriers, perceived threat, knowledge of TB, and PMO. Whereas the confounding variables consist of age, gender, education and job. Processing the data the writer used univariate, bivariate analysis and multivariate analysis with multiple regression logistic.
The result of this study showed that respondents who complied with medication was 73,9% and those who uncomplied with medication was 26,1%. From the result of bivariate analysis found variables which had significant relationship to medication compliance. Those variables were perception of susceptability P value=4,045 and OR=0,314 , perception of seriousness P value= 0,034 and OR=3,26 , perception of benefits minus barriers P value 0,023 and ORO,370 , perception of threat P value x,030 and OR=0,310 ,and PMO P value-3,008 and OR=0,171. Whereas the result of multivariate analysis found three variables which had significant relationship to medication compliance i.e. persception of seriousness P value=0,013 and OR=6.221, benefits minus barriers P value-A019 and OR=5,814 , and PMO Pvalue=0,024 and OR=0,174. Nevertheless the most dominant amongst those three variables was perception of seriousness P value 0,013 and OR=6,221.
The writer suggests the management of the program to fight against lung tuberculosis in Puskesmas to give adequate and clearer information about lung tuberculosis to each patients using simple and plain language in order the patients to understand and practice it easily_ It is best that Puskesmas carries out lung tuberculosis counseling by TV and poster in the waiting room. To increase the role of PMO by the way of effective counseling and meeting with health cadres or volunteers , TOMA (public vigors) and especially with PMO who comes from family. Socialization of Pedoman Umum Promosi Penanggulangan TB published by Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Linglcungan year of 2000.
BibIiograhy : 41 (1965 - 2001)
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2003
T620
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Inka Alvira Pradhita
"Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh pemberian biskuit tempe terhadap status gizi balita tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimental. Kelompok perlakuan (n=12) diberikan biskuit tempe sebanyak 50 gram setiap hari selama satu bulan, sedangkan kelompok kontrol (n=5)adalah balita yang diberikan biskuit plasebo 50 gram.
Hasil penelitian menunjukkan ada perubahan yang signifikan pada berat badan dan status gizi sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok perlakuan (p<0,05), tetapi tidak pada kelompok kontrol (p>0,05). Tidak ada perbedaan perubahan berat badan dan status gizi balita antara kelompok perlakuan dan kontrol (p>0,05).

The purpose of this study was to see the effect of giving tempeh biscuit nutritional status of under five children with tuberculosis. This research uses quasi-experimental design. Treatment groups (n=12) were given 50 grams tempeh crackers every day for a month, whereas the control group (n=5)infants given placebo biscuits 50 grams.
The results showed significant changes in body weight and nutritional status before and after intervention in the treatment group (p <0.05), but not in the control group (p> 0.05). There was no difference in weight change and nutritional status of children between the treatment and control group (p>0,05).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Leny Wulandari
"Penelitian ini bertujuan untuk mengukur peran pengetahuan terhadap perilaku pencarian pengobatan penderita suspek TB Paru setelah dikontrol oleh umur, jenis kelamin, status perkawinan, status pekerjaan, tingkat pendidikan, jarak dan waktu tempuh ke Puskesmas dan RS. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional yang menggunakan data sekunder hasil survei Pengetahuan Sikap Perilaku (PSP-TB) 2010. Sampel penelitian adalah anggota keluarga yang berumur ≥ 15 tahun yang mengalami gejala TB Paru sebanyak 443 responden. Hasil penelitian menemukan bahwa ada hubungan antara peran pengetahuan penderita suspek TB Paru dengan Perilaku Pencarian Pengobatan TB Paru di Indonesia setelah dikontrol pekerjaan (OR=2,3, CI=1,349-3,952). Serta adanya interaksi antara pengetahuan dan pekerjaan.

This study aims to quantify the role of knowledge on treatment seeking behavior of patients with suspected pulmonary TB after controlled by age, gender, marital status, employment status, education level, distance and travel time to health center and hospital. The study was a quantitative study with cross sectional design using secondary data of Knowledge Attitudes Behaviour (PSP-TB) Survey 2010. Research sample is a sample of respondents aged ≥ 15 years with symptoms of pulmonary TB as many as 443 respondents. Based on the results of the study found there is a relationship between the role of knowledge of patients with suspected pulmonary TB with treatment seeking Behavior of Pulmonary TB in Indonesia after controlled by variable of employment status (OR = 2.3, CI = 1.349 to 3.952), and there is interaction between knowledge and employment status.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
T31727
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Krisna
"Tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di seluruh dunia terlepas dari kemajuan ilmiah utama dalam diagnosis dan manajemen Dalam Laporan WHO 2012 Global Tuberculosis Pengendalian mengungkapkan diperkirakan 9 3 juta kasus insiden TB pada tahun 2011 secara global dengan Asia memimpin di bagian atas 59 Beberapa studi di masa lalu telah mengungkapkan hubungan antara kekayaan dan kondisi hidup dengan konversi TB dan mengurangi kejadian TB
Sasaran dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis berbagai tingkat ekonomi di masyarakat selama masa pengobatan sebagai faktor yang berkontribusi terhadap konversi TB Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan mewawancarai pasien TB yang diberi obat kategori pertama selama minimal 2 bulan n 106
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien pada kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki persentase kesembuhan lebih besar 77 dari 57 pasien dibandingkan dengan kelompok berpenghasilan rendah 49 dari 49 pasien Hasil tambahan yang diperoleh adalah beberapa pasien masih menggunakan uang mereka sendiri untuk konsultasi dan obat obatan yang seharusnya ditanggung oleh pemerintah
Penelitian ini menegaskan hipotesis bahwa pendapatan memang terkait dengan konversi TB pada 2 bulan di RS Persahabatan selama pengobatan lini pertama obat Beberapa faktor yang berkorelasi dengan pendapatan yang lebih tinggi termasuk pendidikan transportasi dan makanan sehat berkontribusi terhadap konversi
Penelitian ini menyarankan bahwa pemerintah harus membayar lebih banyak perhatian terhadap konversi dan pengobatan TB sebagai studi ini menemukan bahwa tingkat tertentu pendapatan minimum perlu dipenuhi untuk mendapatkan konversi pada 2 bulan Kata kunci Tuberkulosis Program pengobatan Tuberkulosis Kategori satu obat Tuberkulosis Tingkat Penghasilan.

Tuberculosis remains a major public health problem worldwide in spite of major scientific advancements in its diagnosis and management In WHO Report 2012 ndash Global Tuberculosis Control reveals an estimated 9 3 million incident cases of TB in 2011 globally with Asia leading at the top 59 Several studies in the past have revealed the relationship between wealth and living condition with TB conversion and reducing TB incidence
The Aim of this study was to determine and analyze variety of economic level in society during the treatment period as a contributing factor towards TB conversion This study used cross sectional design by interviewing patients with TB who are given first category drugs for at least 2 months n 106
Results showed that patient in the higher income group had greater cure percentage 77 from 57 patients compared to the low income group 49 from 49 patients Additional result gained was some of the patient still use their own money for consultation and drugs which should have been covered by the government
This study confirmed the hypotheses that income indeed associated with TB conversion at 2 months in Persahabatan Hospital during first line drug treatment Some factors that correlate with higher income including education transportation and healthy foods contribute to the conversion
This study suggested that government should pay more attention towards TB conversion and treatment as the study found that certain level of minimum income needed to be fulfill in order to get the conversion at 2 months Keywords TB TB treatment programs TB drugs first category Income.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lia Alfiana Fauziah
"Penyakit tuberkulosis masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia baik dalam hal prevalensinya maupun masalah-masalah lainnya yang ditimbulkannya. Upaya dalam penanggulangan penyakit tuberkulosis masih terus dilakukan. Namun dalam perjalanannya banyak hambatan dalam upaya tersebut, salah satunya adalah adanya fenomena tuberkulosis multidrug resistant (TB-MDR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian TB-MDR. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus-kontrol dengan populasinya pasien TB di RSUP Persahabatan tahun 2013.
Penelitian ini menghasilkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kejadian TB-MDR di RSUP Persahabatan adalah umur (OR 1,7; 95%CI 0,7-4,1), konsumsi alkohol (OR 1,5; 95%CI 0,5-4,5), riwayat kontak TB (OR 2,1; 95%CI 0,8-5,2), kepatuhan minum obat (OR 10,8; 95%CI 4,4-26,8), status gizi (OR 3,3; 95%CI 1,4-7,8) dan diabetes mellitus (OR 2,1; 0,7-5,8). Penelitian tersebut menunjukkan bahwa untuk mendukung pelaksanaan program DOTS, penderita TB harus terus dimonitoring dan dikontrol selama pengobatannya terutama dalam hal kepatuhan dalam minum obat.

Tuberculosis remains a major problem of public health in Indonesia, both in terms of prevalence and other problems it causes. An attempt of the tuberculosis prevention is still underway. But along the way there are a lot of obstacles in it, one of which is a phenomenon of multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB). This study intended to find the factors that affecting the MDR-TB. The design study is a case-controland the population is patients with TB at RSUP Persahabatan in 2013.
This study found that affected is the factors in MDR-TB at RSUP Persahabatan are the age (OR 1.7; 95%CI 0.7-4.1), alcohol consumption (OR 1.5; 95%CI 0.5-4.5), history of TB contact (OR 2.1; 95%CI 0.8-5.2), medication compliance (OR 10.8; 95%CI 4.4-26.8), nutritional status (OR 3.3; 95%CI 1.4-7.8) and diabetes mellitus (OR 2.1; 95%CI 0.7-5.8). The study showed that to support the implementation of DOTS program, TB patients should be closely monitored and controlled during treatment, especially in terms of medication compliance.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
S52672
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Samsu Rian
"Pendahuluan. Indonesia masih menempati urutan ketiga sebagai negara yang memiliki jumlah kasus TB Paru terbesar setelah India dan China sampai akhir peride tahun 2007. Default merupakan salah satu penyebab terjadinya kegagalan pengobatan yang berpotensi meningkatkan kemungkinan terjadinya resistensi terhadap obat anti TBC. Efek samping obat anti tuberkulosis (OAT) diketahui merupakan salah satu fakor risiko terjadinya default. Meskipun pada beberapa penelitian efek samping OAT telah terbukti meningkatkan risiko terjadinya default, namun masih perlu dilakukan penelitian lain pada populasi yang berbeda, yaitu populasi perkotaan (rural) disalah satu rumah sakit swasta (RS Islam Pondok Kopi) di Jakarta Timur.
Tujuan Penelitian. Tujuan penelitian ini adalah diketahuinya seberapa besar pengaruh efek samping Obat Anti Tuberkulosis (OAT) terhadap kejadian default setelah dilakukan pengontrolan terhadap faktor jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, riwayat pengobatan sebelumnya, penyakit penyerta, jenis obat, cara ambil obat, keberadaan PMO, jenis PMO, pendidikan PMO, pembiayaan kesehatan, jarak ke pelayanan kesehatan, penyuluhan kesehatan dan jumlah penyuluhan di Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta Timur periode Januari 2008 - Mei 2010.
Metode Penelitian. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan penggunaan data rekam medik. Populasi sumber penelitian ini adalah semua penderita TB Paru dewasa (umur > 15th) yang telah selesai menjalani pengobatan TB Paru dari tanggal 01 Januari 2008 sampai 31 Mei 2010 di poliklinik paru RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur. Sampel penelitian adalah sejumlah penderita TB Paru dewasa (umur > 15th) yang telah selesai menjalani pengobatan TB Paru kategori-1 atau kategori-2 dari tanggal 01 Januari 2008 sampai 31 Mei 2010 di poliklinik paru RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur. Kasus didefinisikan sebagai penderita TB Paru yang tidak datang berobat dua bulan atau lebih, sedangkan kontrol adalah penderita TB Paru yang rutin berobat. Jumlah sampel adalah 168 orang, terdiri dari 84 kasus dan 84 kontrol. Metode analisis yang digunakan adalah regresi logistik.
Hasil Penelitian. Pada akhir analisis multivariat diketahui bahwa pasien yang mempunyai keluhan efek samping OAT berisiko sebesar 4,07 kali untuk default dibandingkan pasien yang tidak mempunyai keluhan OAT (OR =4,07, 95% CI: 1,64 - 10,07). Diketahui juga terdapat beberapa faktor risiko lain yang berpengaruh sebagai konfounder terhadap hubungan antara efek samping OAT dengan terjadinya default tersebut yaitu penyakit penyerta, jenis obat dan cara bayar.
Kesimpulan. Efek samping OAT berpengaruh terhadap kerjadian default di RS Islam Pondok Kopi Jakarta Timur selama periode Januari 2008 - Mei 2010.

Introduction. In 2007 Indonesia has the largest number of pulmonary tuberculosis cases in the wolrd after India and China. Default was noted as one of the risk factors that related to treatment failure. The side effect of anti tuberculosis has defined as a reason of occurance of default. Some previous studies with the same topic found that the side effect of anti tuberculosis increase the risk of default, somehow research with difference population is still required, such as this study implemented in an urban population by using hospital based at a private hospital located in Jakarta Timur named Pondok Kopi Islamic Hospital.
Objective. To investigate the risk of default caused by the side effect of anti tuberculosis after controlling for sex, age, education, occupation, marital status, history of previous treatment, compilcations, kind of medicines, the way to get medicines, availbility of supervisor treatment, type of supervisor treatment, education of supervisor treatment, health financing, distance to the health center,health education recived, frequency of health education recieved at Pondok Kopi Islamic Hospital period January 2008 - May 2010.
Methodology. This research is an observational study with design case control using data from medical record at Pondok Kopi Islamic Hospital. The population was defined as all adult pulmonary tuberculosis patient age > 15 years old who has completed the treatment during period 01 January 2008 until 31 May 2010 at Pondok Kopi Islamic Hospital. Sample were a number of adult pulmonary tuberculosis patient age > 15 years old who has completed the treatment category 1 or category 2 during period 01 January 2008 until 31 May 2010 at Pondok Kopi Islamic Hospital. Cases (default) were defined as the pulmonary tuberculosis patients who didn't take their anti tuberculosis for 2 month or more at DOTS center Pondok Kopi Islamic Hospital period 01 January 2008 until 31 May 2010 while controls (non default) were defined as the pulmonary tuberculosis patients who take their anti tuberculosis regularly at DOTS center Pondok Kopi Islamic Hospital period 01 January 2008 until 31 May 2010. The total sample was 168 patients consist of 84 cases and 84 controls. Data was analyzed by using logistic regression method.
Result. on Multivariate analysis was showed that the patient who has side effect of anti tuberculosis risk default 4,07 higher than patient who has not side effect of anti tuberculosis (OR=4,07, 95% CI: 1,64-10,07) after controlling for diseases complication, kind of medicines, the payment method.
Conclusion. The side effect of anti tuberculosis was associated with increasing the risk of default pulmonary tuberculosis treatment at Pondok Kopi Islamic Hospital period January 2008-May 2010.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
T30831
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>