Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 129015 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Budi Haryanto
"Latar Belakang : Mycobacterium tuberculosis merupakan bakteri intraselular fakultatif penyebab Tuberkulosis (TB). Jumlah penderita 1,7 milyar orang di seluruh dunia dan terdapat penambahan 3 juta kasus baru setiap tahunnya. Prevalensi TB di Indonesia tahun 2013 sebesar 297 per 100.000 penduduk dengan kasus baru setiap tahun mencapai 460.000 kasus. Total kasus hingga 2013 mencapai sekitar 800.000-900.000 kasus. Faktor yang menghambat diagnosis TB dapat ditegakkan adalah lamanya waktu menunggu hasil kultur dan uji identifikasi penyebab TB. Menumbuhkan kuman penyebab TB berkisar 6-8 minggu. Pemeriksaan identifikasi membutuhkan waktu 3 hari sampai 1 minggu. Total waktu yang diperlukan untuk pemeriksaan kultur yaitu 7-9 minggu. Oleh karena itu dibutuhkan metode yang dapat mengidentifikasi lebih cepat dan akurat.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan mendapatkan data keberhasilan identifikasi MTB dan MOTT menggunakan alat tes berupa Kit (SD TB AgMPT64®). Mengetahui nilai sensitivitas, spesifisitas, nilai prediktif positif (NPP) dan Nilai prediktif negative (NPN) dari uji imonochromatograpic (SD TB AgMPT64®).
Metode : Menggunakan uji diagnostik, baku emas yang digunakan dalam penelitian ini dengan pemeriksaan PCR TB. Sampel Penelitian ATCC Mycobaterium non tuberculosis ( MOTT ), isolate Mycobacterium tuberculosis H37RV dan isolat Mycobacterium tuberculosis yang merupakan bahan biologi tersimpan milik Departemen Mikrobiologi FKUI.
Hasil : Dengan sampel 46 isolat, nilai sensitivitas dan spesifisitas ICT TB Ag MPT64 yang diperoleh 100%(IK95%: 90,4%-100%) dan 100%,(IK95%: 66,2%-100%) NPP 100% (IK95%: 90,4%-100%). NPN 100%,(IK95%: 66,2%-100%) pemeriksaan niacin dan PNB nilai sensitivitasnya 100%(IK95%: 90,4%-100%), spesifisitas 88,8%(IK95%: 51,7%-98,1%). dan NPP 97,3% (IK 95%: 86,1%-99,6%), NPN 100% (IK95%: 62,9%-100%).
Kesimpulan : Analisis hasil penelitian ini menunjukkan uji identifikasi ICT TB AgMPT64 memiliki nilai sensitivitas yang sama dengan uji Niasin paper strip, uji PNB LJ dan nilai spesifisitas yang lebih tinggi.

Background: Mycobacterium tuberculosis is a facultative intracellular bacterium causes tuberculosis (TB).The number of patients 1.7 billion people around the world and there is an addition of 3 million new cases each year. The prevalence of TB in Indonesia besad on surveillance in 2013 was to 297 per 100,000 population with new cases every year reach in 460,000 cases. Thus, the total number of cases to 2013 reached approximately 800000-900000 cases. One of the efforts to control the spread of infection is to diagnose TB quickly and accurately so it can be reach all levels of society. There are several factors that hamper the diagnosis of TB one of them is the time of culture and species identification. The identification Mycobacterium is important to determine the approproate treatment. Growing the bacteria that causes TB ranges from 6-8 weeks. Identification takes 3 days to 1 week. So the total time required for culture is 7-9 weeks. Therefore, it needs a method that can do identification more quickly and accurately.
Objective: Knowing the value of the sensitivity, specificity, positive predictive value (NPP) and negative predictive value (NPN) of an imonochromatograpic (SD TB AgMPT64®) test with the gold standard TB PCR.
Methods: This study used a diagnostic test, the gold standard used in this study was TB PCR. Sample Research ATCC mycobaterium non tuberculosis (MOTT) and isolates of Mycobacterium tuberculosis H37Rv stock, M.tuberculosis isolate which is stored biological materials belong to Department of Microbiology, Faculty of Medicine.
Results: the sensitivity and specificity of ICT TB Ag MPT64 were 100%(CI95%: 90,4%-100%) dan 100%,(CI95%: 66,2%-100%) NPP 100%(CI95%: 90,4%-100%). NPN 100%,(CI95%: 66,2%-100%) sensitivity of niacin paper strip dan PNB LJ were 100%(CI95%: 90,4%-100%), spesificity 88,8%(IK95%: 51,7%-98,1%). and NPP 97,3% (IK 95%: 86,1%-99,5%), NPN 100% (IK95%: 62,9%-100%).
Conclusion: Analysis of the results of this study indicate the identification of ICT TB test AgMPT64 have the same sensitivity as niacin paper strip test, PNB LJ and had higher specificity values.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"Multi drug resistant – tuberculosis (MDR-TB) masih merupakan masalah yang serius, terutama bagi negara-negara yang sedang berkembang. Untuk melakukan suatu tindakan pengobatan yang tepat dan mencegah terjadinya resistensi obat lebih lanjut, maka deteksi dini atas isolat klinis Mycobacterium tuberculosis sangat penting. Selama ini untuk mengidentifikasi isolat-isolat tersebut digunakan metode konvensional yaitu media solid, dan akhir-akhir ini juga telah diperkenalkan suatu metode secara manual dan otomatis (Bactec atau MB/BacT) yang menggunakan metode cair, namun hasil pemeriksaan memerlukan waktu sekitar 2 sampai 4 minggu. Penggunaan tes molekul berbasiskan genetika sanggup mengidentifikasi gen yang bermutasi yang menyebabkan resistensi obat; misalnya resistensi terhadap rifampisin, dalam 1 hari kerja. Salah satu pendekatannya ialah menggunakan analisis molekul untuk mendeteksi mutasi yang berkaitan dengan resistensi obat INH dan rifampisin. Pada kasus INH, mutasi terjadi pada gen katG, inhA, kasA dan ahpC yang merupakan gen-gen yang bertanggungjawab terhadap sebagian besar dari M. Tuberculosis yang resisten INH, sedangkan mutasi-mutasi dari rpoB bertanggungjawab terhadap M. Tuberculosis yang resisten RIF. (Med J Indones 2003; 12: 259-65)

Multi- drug resistant tuberculosis continues to be a serious problem, particularly among some developing countries. Early detection of drug resistance in clinical M. tuberculosis isolates is crucial for appropriate treatment and to prevent the development of further resistance. Compared to conventional methods using solid media, the introduction of manual and automated methods (BACTEC or MB/BacT) for susceptibility testing in liquid media has resulted from 4 to 6 weeks to 3 to 15 days. The identification of resistance mutations, e.g., the genetic basis for RIF resistance, enables the development of molecular test that allows the detection of resistant strains within 1 day. One approach is the use of molecular analysis to detect mutations that are associated with resistance to drugs including INH and RIF. In the case of INH, mutations of the katG, inhA, kasA, and ahpC genes are responsible for the majority of INH-resistant M. tuberculosis, whereas mutations of rpoB are responsible for RIF-resistant M. tuberculosis. (Med J Indones 2003; 12: 259-65)"
Medical Journal of Indonesia, 12 (4) October December 2003: 259-265, 2003
MJIN-12-4-OctDec2003-259
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Marita Kurniati
"Tuberkulosis merupakan penyakit yang masih menjadi ancaman global. Lamanya waktu pengobatan dan toksisitas yang cukup tinggi mendorong penemuan obat alternatif yang berperan sebagai komplemen maupun pengganti obat antituberkulosis. Sambiloto, pegagan, beluntas, sirsak dan nanas kerang dipercaya masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengobati tuberkulosis.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antituberkulosis ekstrak air herba sambiloto, herba pegagan, daun beluntas, daun sirsak dan daun nanas kerang terhadap isolat Mycobacterium tuberculosis strain H37Rv dan strain Multidrug Resistant. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan air, dilanjutkan dengan penapisan fitokimia. Pengujian aktivitas antituberkulosis dilakukan dengan metode proporsi pada konsentrasi 2,5; 5; dan 10 mg/mL dengan rifampisin sebagai kontrol positif dan menggunakan medium Lowenstein Jensen. Pengamatan dilakukan setiap minggu sampai minggu ke-4, data yang didapatkan dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan kelima ekstrak memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis baik strain H37Rv maupun strain Multidrug Resistant. Ekstrak air daun beluntas mampu membunuh Mycobacterium tuberculosis strain H37Rv dan strain Multidrug Resistant pada konsentrasi 10 mg/mL. Ekstrak air nanas kerang mampu membunuh Mycobacterium tuberculosis strain H37Rv dan strain Multidrug Resistant pada konsentrasi 5 mg/mL.

Tuberculosis is a disease that remains a global threat. The length of treatment time and Fairly high toxicity of chemicals consumed drug discovery encourage alternative drug that acts as a complement or substitute for antituberculosis drugs. Sambiloto, pegagan, beluntas, soursop and oyster plants are plants that public trust as a traditional medicine to treat tuberculosis.
This study aimed to test the antituberculosis activity of aqueous extract of sambiloto herbs, pegagan herbs, beluntas leaves, soursop leaves and oyster plant leaves against isolates of Mycobacterium tuberculosis strains H37Rv and Multidrug Resistant strain of Mycobacterium tuberculosis. Extraction is done by maceration method using aquadest, followed by phytochemical screening. Antituberculosis activity assays performed with proportion method at a concentration of 2,5; 5; and 10 mg/mL with rifampicin as a positive control and using Lowenstein Jensen medium. Observations were made every week until week-4, the data were analyzed descriptively.
The results showed that five of extract could inhibit the growth of Mycobacterium tuberculosis strains H37Rv and Multidrug Resistant strains. Aqueous extract of beluntas leaves could kills Mycobacterium tuberculosis strains H37Rv and Multidrug Resistant strain at concentration of 10 mg/mL. Aqueous extract of oyster plant leaves kills Mycobacterium tuberculosis strain H37Rv and Multidrug Resistant strains at a concentration of 5 mg/mL.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2014
S53826
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andhika Yudistira
"Pendahuluan : Infeksi tuberkulosis masih menjadi salah satu permasalah kesehatan di negara Indonesia. Prevalensi tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2009 mencapai 100 per 100.000 populasi. Infeksi tuberkulosis muskuloskeletal terjadi dari 10% - 15% seluruh kejadian infeksi tuberkulosis di negara-negara non-industri, termasuk negara Indonesia. Sel punca telah dikembangkan menjadi harapan dan tantangan yang baru dalam pengobatan berbagai macam penyakit. Aplikasi sel punca mesenkimal dalam mengobati infeksi tuberkulosis masih menjadi hal yang kontroversial. Sel punca mesenkimal dipercaya memiliki efek immunomodulator yang efektif dalam rangka eradikasi kuman / antigen. Di dalam penelitian ini, kami melakukan penelitian ko-kultur Mycobacterium tuberculosis bersama dengan sel punca mesenkimal di dalam satu medium tunggal. Di dalam penelitian ini kami mengevaluasi interaksi sel punca mesenkimal bersama dengan kuman Mycobacterium tuberculosis. Dan hasil ini akan menentukan efek sel punca mesenkimal terhadap pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis.
Metode : M.tuberculosis strain H37Rv dilakukan kultur pada medium LJ selama 14 hari, diikuti dengan optimasi di dalam medium RPMI dalam waktu 3 hari, Sementara kultur Sel Punca Mesenkimal dilakukan di dalam medium RPMI selama 13 hari. Dilakukan ko-kultur M.tuberculosis sebesar 0.5 McFarland (104 cfu/ml) dan Sel Punca Mesenkimal sebesar 5000 sel/cm2 dalam medium (RPMI) di dalam Tc Flask 25 cc. Kelompok kontrol adalah M.tuberculosis 0.5 McFarland dalam RPMI dan Sel Punca Mesenkimal 5000 sel/cm2 dalam RPMI. Dilakukan penilaian Bakteri Tahan Asam (BTA), kultur kuman Mycobacterium tuberculosis, dan Polymerase Chain Reaction (PCR) pada pengamatan hari ke-3, ke-7, dan ke-9.
Hasil : Hasil BTA, PCR, dan kultur MTB ditemukan positif (+) pada kedua kelompok, yaitu kelompok kontrol MTB dan kelompok ko-kultur (perlakuan) pada pengamatan hari ke-3, ke-7, dan ke-9. Hasil BTA, PCR dan kultur MTB pada kelompok kontrol Sel Punca Mesenkimal ditemukan negatif (-) pada pengamatan hari ke-3, ke-7, dan ke-9. Tidak didapatkan perbedaan nilai Cyclus Threshold PCR dari ketiga kelompok (kelompok kultur MTB, kelompok kultur SPM, dan kelompok kokultur) dengan p=0.04 pada hari ke-3, p=0.07 pada hari ke-7, dan p=0.07 pada hari ke-9. Sulit ditemukan jumlah sel hidup SPM pada grup ko-kultur dibandingkan dengan grup kontrol SPM pada pengamatan hari ke-3 (p = 0.05), ke-7 (p = 0.05), dan ke-9 (p = 0.04).
Kesimpulan: Pada penelitian ko-kultur Sel Punca Mesenkimal bersama Mycobacterium tuberculosis, tidak didapatkan bukti eradikasi kuman Mycobacterium tuberculosis oleh Sel Punca Mesenkimal.

Background : Tuberculosis infection remains one of major health problems in Indonesia. Tuberculosis prevalence in Indonesia reaches 100 per 100.000 population in 2009. Musculoskeletal tuberculosis accounts for 10% - 15% among of all tuberculosis notifications in non-industrialized world, including Indonesia. Stem cells have been developed as new hope and chalenge on medical aspect in treatments of various disease. Mesenchymal stem cells applications in treating tuberculous infections remain controversial. Mesenchymal stem cells are believed to have effective immunomodulator properties in order to antigen eradication. In this study, we performed co-culture study to evaluate interaction between Mycobacterium tuberculosis and Mesenchymal stem cells in a single medium. And the result will define the effect of Mesenchymal stem cells to Mycobacterium tuberculosis growth.
Methods : M.tuberculosis H37Rv strain were cultured in LJ medium for 14 days, followed by optimization in RPMI medium for 3 days, while BMSCs culture was performed in RPMI medium within 13 days. 0.5 McFarland (104 cfu/ml) of M.tuberculosis and 5000 cells/cm2 of MSCs were co-cultured in single medium (RPMI) within 25 cc Tc Flask , 0.5 McFarland M.tuberculosis in RPMI and 5000 cells/cm2 MSCs in RPMI are being our control groups. Acid fast staining bacillli (AFB), PCR, TB culture were evaluated between the 3 groups in day 3, day 7, and day 9 of observation.
Result : AFB, PCR, and TB culture were found positive (+) in both TB control group and also the co-culture group (+) on day 3, day 7, and day 9 of observation. While the AFB, PCR, and TB culture in MSCs control group were found negative (-) in day 3, day 7, and day 9 of observation. Cyclus threshold PCR values between co-culture group and control groups were not significantly different (p>0.05). Viable Mesenchymal Stem Cells are hardly found in co-culture group compared with MSCs control group. The difference was found to be significant between co-culture group and th MSCs control group. (p<0.05).
Conclusion : In co-culture study, Mesenchymal Stem Cells do not affect Mycobacterium tuberculosis growth. Instead, Mycobacterium tuberculosis growth are increased in co-culture with Mesenchymal Stem Cells.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Mirawati
"Resistensi terhadap obat anti tuberkulosis merupakan masalah yang memperberat suksesnya program penanggulangan dan pemberantasan tuberkulosis. Diperkirakan 90% isolat yang resisten terhadap rifampisin juga resisten terhadap isoniazid, sehingga resisten terhadap rifampisin dianggap sebagai "Surrogate marker" bagi resisten obat anti tuberkulosis Iainnya. Sekitar 95% isolat yang resisten rifampisin mengalami mutasi pada gen rpoB dan 70% mengalami mutasi pada kodon 531. Seiring dengan perkembangan teknik molekuler, hibridisasi dot blot dengan menggunakan pelacak oligonukleotida dapat digunakan untuk mendeteksi adanya mutasi pada gen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi mutasi gen resisten rifampisin pada Mycobacterim tuberculosis dan mengembangkan teknik hibridisasi dot blot untuk deteksi resisten OAT. Sebanyak 30 sampel isolat Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap rifampisin telah diisolasi DNA dengan teknik boiling lalu diamplifikasi dengan PCR dengan menggunakan primer TR8 dan TR9. Setelah itu produk PCR dielektroforesis untuk mengetahui kebenaran hasil amplifikasi. Lalu dilakukan hibridisasi dot blot untuk dengan pelacak rpoB 531 mu untuk mengetahui adanya mutasi gen rpoB pada kodon 531 sebagai tanda terjadinya resistensi terhadap rifampisin. Hasil penelitian ditemukan 6 sampel (20%) Ban 30 sampel yang mengalami mutasi gen rpoB pada kodon 531. Berarti 6 sampel yang resisten terhadap rifampisin sedangkan 24 sampel lainnya yang tidak mengalami mutasi pada kodon 531 mungkin mengalami mutasi gen rpoB pada kodon lainnya yang akan terdeteksi dengan menggunakan pelacak lainnya. Dari penelitian juga didapat beberapa keuntungan penggunaan teknik ini yaitu hemat waktu, hemat biaya , sederhana dan akurat. Berdasarkan basic tersebut maka dapat disimpulkan bahwa telah ditemukan mutasi gen rpoB pada kodon 531 dan teknik hibridisasi dot blot sangat cocok dikembangkan sebagai teknik deteksi resisten terhadap rifampin dan OAT lainnya."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T 16202
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ardath Herland S.
"Insiden tuberkulosis (TB) di Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Penegakan diagnosis secara tepat merupakan salah satu upaya untuk mengendalikan TB. Modalitas uji diagnostik laboratorium TB yang tersedia yaitu pemeriksaan mikroskopis Basil Tahan Asam (BTA) dan pemeriksaan biakan memiliki beberapa keterbatasan. Secara global, terjadi peningkatan dalam penggunaan Tes Cepat Molekuler (TCM) sebagai uji diagnostik laboratorium TB. Salah satu TCM yang telah direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) yaitu loop-mediated isothermal amplification (LAMP). Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengevaluasi metode LAMP, sehingga metode tersebut dapat diterapkan secara rutin di Indonesia. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (LMK-FKUI) terhadap 100 orang pasien terduga TB paru. Setiap pasien menyerahkan dua sputum langsung, yaitu sputum sewaktu dan sputum pagi/sewaktu. Terhadap setiap sputum langsung kemudian dilakukan pemeriksaan mikroskopis BTA. Dua sediaan sputum langsung dari setiap pasien kemudian digabung untuk menghasilkan mixed sputum. Terhadap setiap mixed sputum dilakukan pemeriksaan mikroskopis BTA, biakan Lowenstein-Jensen (LJ) dan pemeriksaan TB-LAMP. Biakan yang tumbuh diidentifikasi menggunakan tes MPT64. Hasil penelitian menunjukkan nilai kapa (κ) pemeriksaan mikroskopis BTA antara sputum langsung dan mixed sputum sebesar 0,88; p < 0,001 (95% CI 0,78-0,97). Persentase hasil LAMP (+) pada sputum langsung dengan hasil BTA (-) sebesar 28,07%, sedangkan persentase hasil LAMP (+) pada mixed sputum dengan hasil BTA (-) sebesar 32,78%. Metode TB-LAMP memiliki nilai sensitivitas sebesar 100% (95% CI 89,56-100%) dan spesifisitas sebesar 69,64% (95% CI 55,74-80,84%). Nilai duga positif TB-LAMP sebesar 71,19% (95% CI 57,73-81,86%), sedangkan nilai duga negatif TB-LAMP sebesar 100% (95% CI 88,83-100%). Pada hasil mikroskopis BTA yang sesuai (concordant) dengan biakan TB, nilai sensitivitas dan spesifisitas TB-LAMP berturut-turut sebesar 100% (95% CI 89,09-100%) dan 73,58% (95% CI 59,42-84,32). Adapun nilai sensitivitas TB-LAMP pada hasil mikroskopis BTA yang tidak sesuai (discordant) dengan biakan TB, yaitu sebesar 100% (95% CI 19,79-100%). Metode TB-LAMP memiliki nilai sensitivitas dan nilai duga negatif yang tinggi. Untuk menegakkan diagnosis TB paru secara tepat, metode TB-LAMP harus dikombinasikan dengan gejala dan tanda yang terdapat pada pasien.

The incidence of tuberculosis (TB) in Indonesia is one of the highest in the world. Appropriate diagnosis is an effort to control TB. Existing TB laboratory diagnostic test modalities, which are Acid-Fast Bacilli (AFB) smear and culture examination have several limitations. Globally, there has been an increase in the use of the molecular rapid test as a TB laboratory diagnostic test. One of the molecular rapid tests recommended by the World Health Organization (WHO) is loop-mediated isothermal amplification (LAMP). Therefore, research is needed to evaluate the LAMP method, so that the method can be applied routinely in Indonesia. The study was conducted at the Clinical Microbiology Laboratory of the Faculty of Medicine, Universitas Indonesia for 100 patients suspected of pulmonary TB. Each patient handed over two direct sputums, which are the spot sputum and morning/spot sputum. Against each direct sputum, an AFB smear was carried out. Two direct sputum preparations from each patient were then combined to produce mixed sputum. For each mixed sputum, AFB smear, Lowenstein-Jensen (LJ) culture and TB-LAMP examination were carried out. Cultures that were grown were identified using MPT64 tests. The results of the study showed that the kappa (κ) value of AFB smear between direct sputum and mixed sputum was 0.88; p < 0.001 (95% CI 0.78-0.97). The percentage of LAMP (+) in direct sputum with AFB (-) was 28.07%, while the percentage of LAMP (+) in mixed sputum with AFB (-) was 32.78%. The TB-LAMP method had a sensitivity value of 100% (95% CI 89.56-100%) and a specificity of 69.64% (95% CI 55.74-80.84%). Positive predictive value of TB-LAMP was 71.19% (95% CI 57.73-81.86%), while the negative predictive value of TB-LAMP was 100% (95% CI 88.83-100%). In concordant AFB smear results with TB culture, the TB-LAMP sensitivity and specificity values were 100% (95% CI 89.09-100%) and 73.58% (95% CI 59.42-84,32), respectively. The sensitivity value of TB-LAMP on AFB smear results which were discordant with TB culture was 100% (95% CI 19.79-100%). The TB-LAMP method had a high sensitivity value and negative predictive value. To properly diagnose pulmonary TB, the TB-LAMP method must be combined with the symptoms and signs that the patient has."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Linatri Purwati Latifah Supriatna
"Epidemi tuberkulosis masih menjadi beban Indonesia saat ini dimana tercatat sebanyak 845 ribu jiwa di Indonesia mengidap penyakit tuberkulosis dengan persentase terbanyak terdapat pada kelompok usia produktif, yaitu umur 15 – 64 tahun sebanyak 89,6%. Tuberkulosis adalah penyakit menular yang diakibatkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis. Kemunculan Multi-drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) mendorong adanya pemanfaatan flavonoid sebagai sediaan Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Flavonoid memiliki kemampuan untuk mengembalikan resistensi antibiotik dan meningkatkan performa OAT saat ini. Perkembangan dalam penemuan obat saat ini dilakukan dengan melakukan studi in silico melalui penambatan molekuler antara beberapa senyawa golongan flavonoid dengan protein pada Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini menunjukkan bahwa kuersetin menghasilkan nilai penambatan dan konstanta inhibisi terbaik dengan nilai penambatan pada protein β-ketoacyl-ACP reductase (PDB ID:1UZN), Enoyl-Acyl Carrier Protein Reductase (PDB ID:2X23), dan Protein Kinase G (PDB ID:2PZI) masing-masing sebesar -8,0 kkal/mol; -9,2 kkal/mol; dan -8,0 kkal/mol serta konstanta inhibisi masing-masing sebesar 1,345 µM; 0,177 µM; dan 1,345 µM. Kuersetin dari daun keji beling (Strobilanthes crispus L.) selanjutnya diperoleh menggunakan metode Ultrasound Enzymatic-Assisted Aqueous Two-Phase Extraction (UEAATPE) dengan sistem etanol/amonium sulfat. Adapun rancangan sistem Aqueous Two-Phase terbaik yaitu etanol 33% (w/w) dan amonium sulfat 14% (w/w) dengan konsentrasi kuersetin yang dihasilkan sebesar 44,717±0,295 mg/L. Selain kuersetin, senyawa 1,14-tetradecanediol yang teridentifikasi oleh Gas Chromatography-Mass Spectophotometer (GC-MS) juga memiliki aktivitas anti tuberkulosis

Tuberculosis epidemic is still a burden for Indonesia. There are 845 thousand of Indonesian people suffer from tuberculosis with the highest percentage in the productive age which 15 - 64 years by 89.6%. Tuberculosis is an infectious disease that caused by Mycobacterium tuberculosis infection. The emergence of Multi-Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB) encourages the utilization of flavonoids as anti-tuberculosis drugs. Flavonoids have the ability to recover antibiotic resistance and improve current anti-tuberculosis drugs performance. Development of drug discovery is currently being carried out by in silico study through molecular docking between flavonoid compounds to protein targets in Mycobacterium tuberculosis. This study shows that quercetin produces the best docking score and inhibition constant with the docking score of β-ketoacyl-ACP reductase (PDB ID: 1UZN), Enoyl-Acyl Carrier Protein Reductase (PDB ID : 2X23), and Protein Kinase G (PDB ID: 2PZI) respectively are -8.0 kcal/mol; -9.2 kcal/mol; and -8.0 kcal/mol and the inhibition constants respectively are 1,345 µM; 0,177 µM; and 1,345 µM. Quercetin from Strobilanthes crispus L. is obtained using Ultrasound Enzymatic – Assisted Aqueous Two-Phase Extraction (UEAATPE) method with ethanol/ammonium sulfate system. The best proportion of the system is ethanol 33 wt% and ammonium sulfate 14 wt% with concentration of quercetin is 44.717±0,295 mg/L. Besides quercetin, 1,14-tetradecanediol compound identified by Gas Chromatography – Mass Spectophotometer (GC-MS) is also has an anti-tuberculosis."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuli Setianingsih
"ABSTRAK
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan utama di Indonesia. Salah satu
penyebab tingginya kasus TB disebabkan adanya resistensi Mycobacterium
tuberculosis (Mtb) terhadap obat anti tuberkulosis. Isoniazid (INH) yang merupakan
salah satu obat lini pertama dalam pengobatan TB adalah pro-drug yang akan diubah
menjadi bentuk aktifnya melalui aktivitas protein KatG Mtb. Mutasi pada gen katG
yang mengkode protein KatG kemungkinan mempengaruhi aktivitas katalase dan
peroksidase protein sehingga menyebabkan resistensi Mtb terhadap INH. Dalam
studi ini, dilakukan kontruksi plasmid rekombinan protein KatG tipe liar dan protein
KatG dengan mutasi baru pada residu N330D dan H400Y, serta mutasi yang umum
dijumpai pada residu S315T dan S315N. Ekspresi protein KatG rekombinan
dilakukan menggunakan host E. coli. Over ekspresi kelima protein rekombinan KatG
terjadi setelah induksi IPTG. Purifikasi protein KatG rekombinan dilakukan
berdasarkan prinsip kromatografi afinitas menggunakan Nikel sepharose. Setelah
purifikasi diperoleh protein KatG yang murni. Aktivitas katalase dan peroksidase
protein rekombinan KatG diukur pada berbagai konsentrasi substrat yang diperlukan
dalam pengukuran efisiensi katalitik kedua aktivitas protein KatG. Hasilnya
menunjukkan bahwa mutan protein KatG memiliki efisiensi katalitik yang lebih
rendah dari protein KatG tipe liar. Penurunan efisiensi katalitik aktivitas katalase
mutan N330D dan H400Y sebesar 31% dan 37% dan untuk aktifitas peroksidase
sebesar 39% dan 3% dibandingkan KatG tipe liar. Struktur 3 dimensi protein KatG
dari mutan tersebut dibuat menggunakan perangkat Modeller dan divisualisasikan
menggunakan perangkat Pymol. Tidak terdapat adanya perubahan konformasi 3
dimensi protein KatG mutan dibandingkan dengan struktur 3 dimensi protein KatG
tipe liar. Namun, letak residu N330D dan H400Y yang berada dekat daerah aktif
ikatan INH pada protein KatG kemungkinan berpengaruh terhadap penurunan
aktivitas enzimatik protein KatG.

ABSTRACT
Tuberculosis (TB) is currently a major health problem in Indonesia. One of the many
causes of the high incident of TB is due to the resistance of the Mycobacterium
tuberculosis (Mtb) to anti-TB drugs. Isoniazid (INH), one of the first line anti-TB
drugs for TB treatment, is a pro-drug that is converted to its active form through the
activity of Mtb KatG protein. Mutations in the katG gene encoding KatG may affect
the catalytic efficiency of the catalase and peroxidase activities of the protein that
eventually confers resistance to INH. In this study, recombinant plasmids containing
katG gene that have new mutations on residue N330D dan H400Y, wild type, as well
as mutant proteins with common mutations at residue S315T and S315N were
constructed. Expression of recombinant KatG was performed using E. coli as an
expression host. Over expression of recombinant KatG was facilitated by IPTG
induction. Purification of recombinant KatG was performed using affinity
chromatography employing Nickel sepharose. Pure recombinant proteins were
obtained, and the catalase and peroxidase activities of the recombinant KatG protein
were measured at various concentration of substrates. Result showed that mutant
KatGs have a lower catalytic efficiency for both catalase and peroxidase activities
than the wild type protein. Decreasing catalytic efficiency for catalase of mutants
N330D and H400Y were 31% and 37% than that of wild type KatG, while catalytic
efficiency for peroxidase of mutants N330D and H400Y were 39% and 3% lower
than that of wild type. Three dimensional structures of mutant KatGs were generated
using Modeller and visualized using PyMol softwares. The three dimensional
structural of mutant KatG showed no conformational change compared with that of
wild type KatG. However, the location of residues N330D and H400Y which are in
the close proximity to the active site of KatG for INH binding is likely to have an
effect on the decreased enzymatic activities of mutant KatG proteins."
2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Desi Indria Rini
"Tuberkulosis sejak lama merupakan salah satu penyebab utama kematian manusia karena penyakit infeksi, terutama didaerah yang dilanda kemiskinan dan malnutrisi. Penyakit ini menyerang banyak organ pada tubuh manusia terutamanya adalah paru-paru. Peningkatan jumlah kasus tuberkulosis dipengaruhi oleh infeksi HIV dan resistensi terhadap berbagai macam kombinasi obat. Di Indonesia, infeksi M. tuberculosis oleh strain Beijing diyakini memiliki penyebaran yang paling luas dibandingkan dengan strain lainnya. BCG merupakan vaksin tunggal yang digunakan untuk pencegahan tuberkulosis, namun daya proteksi dan efikasinya berbeda-beda. Protein Mce1A merupakan protein yang diduga berperan penting pada hal invasi dan pertahanan M. tuberculosis didalam makrofag. Beberapa studi telah melakukan penelitian ini, namun di Indonesia belum pernah dilakukan penelitian mengenai ekspresi protein Mce1A Mycobacterium tuberculosis strain Beijing sebagai isolat lokal. Oleh karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan pengklonaan dan ekspresi protein Mce1A Mycobacterium tuberculosis strain Beijing lokal dan strain standar H37Rv sebagai pembanding. Gen Mce1A M. tuberculosis strain Beijing dan H37Rv diamplifikasi dengan teknik PCR dan diinsersikan kedalam vektor pET28a. Escherichia coli BL21 kemudian ditransformasi dengan plasmid rekombinan tersebut. Protein Mce1A rekombinan diekspresikan dengan induksi IPTG. E. coli BL21 berhasil ditransformasi dengan plasmid rekombinan yang mengandung sisipan gen Mce1A dengan arah orientasi dan kerangka baca yang benar. Tidak ada mutasi yang ditemukan pada asam amino yang menjadi epitope pengenalan sel B dan sel T. Hasil ekspresi protein Mce1A pada E.coli BL21 menunjukkan pita protein yang lebih tinggi dari seharusnya. Konfirmasi keberadaan protein dilakukan menggunakan teknik Western Blot dengan anti-his detector. Protein Mce1A rekombinan yang telah berhasil diekspresikan pada E.coli BL21 diduga berada dalam bentuk dimer. Hal ini dapat digunakan sebagai data awal kondisi ekspresi untuk pengembangan vaksin subunit pada penelitian berikutnya.

For past centuries until nowadays, tuberculosis remains the leading cause of death in the world from infectious disease wherever poverty, malnutrition and poor housing prevail. Tuberculosis is primarily a disease of the lungs, but may spread to other sites or proceed to a generalized infection. The wide spread of tuberculosis has been further aggravated by another infection disease such as HIV-AIDS and drug resistance. Many strain of Mycobacterium tuberculosis caused tuberculosis infection in Indonesia, but Beijing strain are the most. Bacille Calmette-Guerin (BCG) is the current vaccine for tuberculosis but it has different protection function and efficacy. According to function analysis, mce1A gene predicted has a role in host invasion by Mycobacterium tuberculosis and survival of the pathogen in human macrophages. Several studies abroad have done this research, but in Indonesia, study about protein expression of Mce1A gene of Mycobacterium tuberculosis Beijing strain as local isolates has not much being done. Therefore, in this study we will performed cloning and protein expression of Mce1A gene Mycobacterium tuberculosis Beijing strain as local isolate and standard strain H37Rv as a comparison on expression vector Escherichia coli BL21. Mce1A gene from M. tuberculosis Beijing and H37Rv strain was amplified by PCR and inserted in the vector pET28a. E. coli BL21 then transformed with the recombinant plasmid. Mce1A recombinant protein then expressed with IPTG induction. This study indicate that E. coli BL21 succesfully transformed with a recombinant plasmid containing the Mce1A gene insertion with correct orientation and reading frame. There is no mutation found in the amino acids sequence for B and T cell epitope. Mce1A expression in E. coli BL21 showed protein bands that higher than expected. The protein was confirmed with western blotting using anti-his detector. We assume that Mce1A recombinant protein that have been expressed in E. coli BL21 is in dimeric form. This explanation should be valuable in further studies of expression at the protein level and exposure of proteins on the cell surface of M. tuberculosis under different experimental conditions."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T59195
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Armando Rahadian
"Pendahuluan: Tuberkulosis (TB) adalah masalah kesehatan global dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di banyak negara berkembang. Indonesia menempati peringkat ke – 2 pasien TB terbanyak di dunia dengan jumlah 969.000 kasus per tahun dan cakupan diagnosis terkonfirmasi pemeriksaan bakteriologis hanya 55% dari seluruh kasus TB ternotifikasi. Penegakan diagnosis TB dengan metode kultur bakteri membutuhkan waktu lama sehingga diperlukan metode baru yang dapat mempersingkat waktu identifikasi TB yaitu dengan tes cepat molekuler.
Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi akurasi diagnostik tes cepat molekuler Prufen Gb101 dalam identifikasi M. tuberculosis pada pasien terduga TB paru menggunakan spesimen sputum dengan kultur Mycobacteria Growth Indicator Tube (MGIT) sebagai baku emas.
Hasil: M. tuberculosis terdeteksi pada 46 dari 81 subjek penelitian berdasarkan pemeriksaan Prufen Gb101 dengan sensitivitas 100% (95% CI, 99,0 – 100), spesifisitas 76,09% (95% CI, 61,2 – 87,4), PPV 76.09% (95% CI, 65,5% – 84,2) dan NPV 100% (95% CI , 90,0 – 100). Sensitivitas yang tinggi menunjukkan tes ini dapat mengidentifikasi dengan baik infeksi TB pada pasien terduga TB paru.
Kesimpulan: Prufen Gb101 dapat memberikan tambahan penilaian dalam menegakkan diagnosis pada pasien dan memenuhi kriteria WHO sebagai uji penapis pada diagnosis TB paru.

Introduction: Tuberculosis (TB) is a global health problem and a major cause of morbidity and mortality in many developing countries. Indonesia has the second highest number of TB patients in the world with 969,000 cases per year and the coverage of confirmed diagnosis by bacteriological examination is only 55% of all notified TB cases. Confirmation of TB diagnosis by bacterial culture method takes a long time, so a new method that can shorten TB identification time is needed, namely molecular rapid tests.
Methods: This study aimed to evaluate the diagnostic accuracy of the Prufen Gb101 molecular rapid test in identification of M. tuberculosis in patients with suspected pulmonary TB using sputum specimens with Mycobacteria Growth Indicator Tube (MGIT) culture as the gold standard.
Results: M. tuberculosis was detected in 46 of 81 study subjects based on the Prufen Gb101 assay with a sensitivity of 100% (95% CI, 99.0 - 100), specificity of 76.09% (95% CI, 61.2 - 87.4), PPV of 76.09% (95% CI, 65.5% - 84.2) and NPV of 100% (95% CI, 90.0 - 100). The high sensitivity indicates that the test can correctly identify TB infection in patients with suspected pulmonary TB.
Conclusion: Prufen Gb101 can provide additional assessment in establishing a diagnosis in patients and meets WHO criteria as a screening test in the diagnosis of pulmonary TB.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>