Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 172618 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nur Hidayati
"Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kompleksitas hubungan antara ayah dan anak laki laki dalam komedi situasi How I Met Your Mother terutama hubungan antara Barney salah satu pemain utama dan ayahnya di Musim 6 episode 19 dan 21 Adegan adegan terpilih yang menunjukkan hubungan antara ayah dan anak laki laki dianalisa dengan merujuk kepada teori belajar sosial menurut Bandura dan konsep arsetip ayah menurut Carl Jung Analisis ini menemukan bahwa terdapat pembalikan posisi agen belajar sosial Anak laki laki dapat memberikan sosialisasi yang ayah berikan Dalam hubungan ayah dan anak laki laki tidak hanya ayah yang menjadi agen sosialisasi tetapi anak laki laki juga dapat menjadi agen sosialisasi yang sama Pembalikan tersebut menunjukkan bahwa idealisasi ayah yang terinternalisasi dalam pikiran anak laki laki dapat menjadi lebih kuat dari figur nyata ayah tersebut.

This research aims to explore the complexity of father and son relationship in a sitcom How I Met Your Mother particularly the relationship between Barney one of the main characters and his father in Season 6 episode 19 and 21 Selected scenes that show the relationship between father and son are analyzed by referring to Bandura rsquo s theory of social learning and Carl Jung rsquo s concept of father archetype The analysis found a reversal in the position of agent of social learning A son can give socialization that the father gave In a father and son relationship father is not the only agent of socialization but a son can also be the agent of the same socialization The reversal shows that internalized idealization of father in the son rsquo s mind can be stronger than the real figure of the father.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Fachriza Putra
"Pada tahap dewasa madya, seorang ayah yang bekerja dihadapkan pada berbagai tanggung jawab, termasuk mencari nafkah dan terlibat aktif dalam urusan keluarga. Peran yang kompleks ini dapat mempengaruhi kepuasan pernikahannya. Dalam upaya mencapai kepuasan dalam pernikahan, komitmen menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara tingkat komitmen dengan tingkat kepuasan pernikahan pada ayah yang bekerja. Partisipan penelitian ini berjumlah 241 responden berusia antara 40 hingga 65 tahun, yang telah menikah, bekerja, memiliki anak, dan juga memiliki orang tua atau mertua yang masih menjadi tanggungan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang dirancang khusus untuk mengukur tingkat komitmen menggunakan Investment Model of Commitment Scale dan tingkat kepuasan pernikahan menggunakan Couple Satisfaction Index-16 Item. Hasil analisis korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara komitmen dengan kepuasan pernikahan (r(239) = 0,376, p < 0,01, one-tailed). Para responden yang menunjukkan tingkat komitmen yang tinggi cenderung memiliki tingkat kepuasan pernikahan yang tinggi. Penelitian ini menyajikan informasi yang berharga tentang pentingnya komitmen dalam mencapai kepuasan pernikahan pada ayah yang berada dalam tahap dewasa madya. Temuan ini dapat memberikan wawasan bagi para ayah yang ingin meningkatkan kualitas hubungan pernikahan mereka.

During the middle adulthood stage, a working father faces various responsibilities, including providing for the family's financial needs and actively participating in family matters. This complex role can influence the satisfaction in his marital relationship. In the effort to achieve marital satisfaction, commitment becomes a crucial factor that needs to be considered. This research aimed to examine the relationship between the level of commitment and marital satisfaction among working fathers. The study involved 241 participants aged between 40 and 65 years, who were married, employed, had children, and also had elderly parents or in-laws as dependents. Data were collected using specially designed questionnaires to measure the level of commitment using the Investment Model of Commitment Scale and the level of marital satisfaction using the Couple Satisfaction Index-16 Item. The results of the correlation analysis showed a significant positive relationship between commitment and marital satisfaction (r(239) = 0.376, p < 0.01, one-tailed). Respondents who demonstrated higher commitment levels tended to have higher levels of marital satisfaction. This study provides valuable information about the importance of commitment in achieving marital satisfaction among fathers in the middle adulthood stage. These findings can offer insights for fathers who seek to enhance the quality of their marital relationships.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Preciosa Alnashava J.
"Tesis ini membahas tentang bagaimana representasi kekerasan simbolik dalam hubungan romantis pada serial situasi komedi How I Met Your Mother serta bermaksud membongkar ideologi patriarki di balik representasi tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode analisis semiotika Roland Barthes dan teknik pengumpulan data melalui analisis teks, serta studi literatur. Konsep kekerasan simbolik yang digunakan dalam penelitian ini beranggapan bahwa hubungan romantis heteroseksual merupakan bentuk kekerasan simbolik pada perempuan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa serial komedi situasi How I Met Your Mother menampilkan kekerasan simbolik dengan mereproduksi mitos perempuan dalam hubungan romantis sebagai : objek seks, makhluk yang emosional, dan pihak yang harus lebih rela berkorban. Mitos ini lah yang mengkonstruksikan ideologi patriarki di balik komedi situasi How I Met Your Mother.

This research tries to explain about how the representation of symbolic violence in romantic relationships in a sitcom, How I Met Your Mother, and to expose the pathriarchal ideology behind the representation. This is a qualitative research with semiotic by Roland Barthes as the method to analyze the text and text analysis technique along with literature study to collect the data. The concept of symbolic violence, that is used in this research, assumes that a heterosexual romantic relationship is a form of symbolic violence to women.
The result of this research indicates that How I Met Your Mother displays symbolic violences by reproducing myths towards women as: sex symbols, emotional beings and the ones who have to be more self-sacrificing than men. These myths construct the patriarchal ideology behind How I Met Your Mother."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
T30603
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Noer Faryzah Sanie
"ABSTRAK
Ideologi mengenai keperempuanan tidaklah tetap. Hal tersebut selalu berubah seiring dengan perkembangan zaman. Maka dari itu, terdapat beragam gambaran tentang keperempuanan yang direpresentasikan oleh televisi. Salah satu contoh penggambaran keperempuanan melalui televisi terdapat pada komedi situasi berjudul How I Met Your Mother, di mana program ini merepresentasikan dua konsep keperempuanan yang berbeda. jurnal ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana dua pemeran utama perempuan di dalam cerita, yakni Lily dan Robin, merepresentasikan konsep perempuan dengan pemikiran tradisional dan konsep perempuan dengan pemikiran postfeminist sesuai dengan yang diungkapkan oleh Roussell 2007 . Untuk mendukung argumen penulis, jurnal ini menggunakan sudut pandang mengenai keperempuanan yang diutarakan oleh Sigmund Freud 1933 . Dengan mempertimbangkan tema komedi pada cerita HIMYM, maka satiran yang digunakan di dalam cerita juga akan menjadi bahan analisis penulis. Sebagai kesimpulannya, jurnal ini mendapati bahwa HIMYM mendekonstruksi konsep tradisional dan postfeminist melalui kedua karakter utama perempuannya. Selain itu, hasil analisis juga menemukan adanya ambivalensi yang muncul pada kedua pemeran utama perempuan.

ABSTRACT
The ideology of woman rsquo s femininity is dynamic. It changes overtime. Therefore, there are diverse portrayals of woman rsquo s femininity in television. One interesting example of woman rsquo s femininity depiction in television is situational comedy titled How I Met Your Mother that represents portrayal of today rsquo s American woman in two different conceptualizations of femininity. This article aims to see how the two main female characters in the sitcom, Lily and Robin, embody the concepts of traditional femininity and postfeminist femininity from Roussell 2007 . This article uses the perspective of femininity by Sigmund Freud 1933 to support the research argument. Considering the theme of HIMYM is situational comedy, the satire used in the story will be also analyzed. This article finds that HIMYM deconstructs the traditional and postfeminist conceptualizations of femininity through the main female characters. However, it also reveals gender ambivalence that occurs in both main female characters."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Aliva Laili Inayah
"Jender pada umumnya dikonstruksi oleh masyarakat. Seringkali, masyarakat mendorong orang-orang sekitar untuk melakukan sesuatu yang dapat diterima oleh keyakinan mereka. Dengan demikian, televisi memproduksi berbagai acara yang bisa menggambarkan hubungan jender dan bagaimana masyarakat mengkonstruksinya. How I Met Your Mother adalah salah satu acara televisi terkenal yang diproduksi sepanjang tahun 2005 sampai 2014. Acara televisi ini cukup menggambarkan masalah jender dalam salah satu karakter. Jurnal ini bertujuan untuk menganalisis karakter pendukung, Robin Scherbatsky, dan bagaimana cara beliau membangun jender dalam dirinya sendiri berdasarkan latar belakang keluarganya dan beberapa perubahan yang muncul dari perspektif Judith Butler (1990). Untuk melengkapi analisis, jurnal ini juga menggunakan perspektif Bell Hooks (2006) dan teori patriarkinya. Tidak hanya Judith Butler dan Bell Hooks, penulis juga menambahkan peneliti lain untuk mendukung analisis. Hasil analisis dari jurnal ini menemukan bahwa How I Met Your Mother mencoba mendekonstruksi teori jender dan membuktikan bahwa hal itu dapat terpengaruh oleh patriarki. Penulis juga menemukan bahwa acara televisi ini menekankan tentang bagaimana kekuatan yang dimiliki kaum perempuan dapat mengarah ke kebingungan dan kegelisahan.

Gender is mostly constructed by society. Usually, society pushes people into doing something that society can accept. Thus, television produces variety of shows that somehow can depict gender relations and how society constructs them. How I Met Your Mother is one of the most famous TV shows around 2005-2014 that portrays gender issue in one of the characters. This paper aims to analyze the supporting character, Robin Scherbatsky, from the way she construct her own gender based on her family background and some changes that appears later from the perspective of Judith Butler (1990). To complete the analysis, this paper is also uses the perspective of Bell Hooks (2006) and her patriarchy theory to analyze more about Robin and her relationship with her father. Not only Judith Butler and Bell Hooks, writer also adds another researchers to support the analysis. At the end, this article finds some analysis that How I Met Your Mother deconstructs gender theory and how it could get affected from patriarchy. It also emphasizes more about how women's powers are able to confuse and drive them to insecurities.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Raya Puspitasari
"Mengingat jenis umum dari persahabatan laki-laki yang tergolong 'tatap muka' dan bukan 'berdampingan' (Zaslow, 2010), How I Met Your Mother sebagai salah satu komedi situasi yang paling populer di Amerika menangkap hubungan antara tiga laki-laki dalam cara yang berbeda, yang disebut Bromance. Dinamika antara tiga laki-laki pemeran utama dalam sitkom tersebut menjadi elemen paling jelas dari komedi yang ditangkap lebih dari perjalanannya untuk menemukan Ibu. Ada dua bagian utama yang akan makalah ini capai; cara ketiga karakter laki-laki memimpin dan membangun hubungan mereka didasarkan pada paradigma wanita yang pria hindari dan perilaku tersebut ditandai sebagai Bromance yang mungkin ada hubungannya dengan pencarian dari Ibu. Dengan menggunakan konsep Brannon tentang ‘the male sex role identity’, hal tersebut menunjukkan bahwa klasifikasi pria berdasarkan peran khas maskulinitas tidak berkontribusi untuk membangun hubungan jangka panjang dengan pasangan.

Considering the common type of men’s friendships which is not ‘face to face’ but ‘side by side’ (Zaslow, 2010), How I Met Your Mother as one of the most popular sitcoms in America captures the relationship among three men in a different way, called Bromance. The dynamics among those three men become the most obvious element of comedy that is captured more than its journey to find the Mother. There are two major parts that this paper attempts to make; the way those three lead male characters build their relationship is based on the paradigm of women that men avoid and those behaviors are characterized as Bromance that should have something to do with the searching of the Mother. By using Brannon’s concept of ‘the male sex role identity’, it shows that the classifications of men with the typical role of masculinity depart them from contributing to a long-lasted relationship.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Fahmi Rizal Almassawa
"Pembahasan tentang tokoh dan penokohan dalam novel Attse i jetie 'Antara Ayah Dan Anak'. Tujuannya untuk mengungkapkan aspek-aspek nihilisme yang terdapat di dalamnya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis, yang didasarkan pada studi kepustakaan. Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan intrinsik, yaitu usaha melakukan pembahasan dengan menganalisis apa yang tertulis saja.
Dari analisis yang dilakukan dapat disimpulkan novel ini sarat dengan aspek-aspek nihilisme yang berlandaskan pada eksistensialisme. Sehingga pengertian nihilisme yang terungkap tidak lagi mengarah kepada bentuk ideologi politik, tetapi dalam arti pencarian makna kehidupan. Aspek-aspek nihilisme tersebut ternyata lebih banyak terungkap dalam lakuan dan penokohan tokoh utamanya. Selain itu terungkap pula gagasan pengarangnya tentang humanisme dan aristokrasi."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
S14883
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yessica Ruth Vania
"ABSTRAK
Penulisan ini dibuat untuk mengungkapkan apa yang melatarbelakangi implementasi dalam pemberian hak pendidikan untuk warga binaan. Fenomena ini dijelaskan dengan menggunakan teori keadilan sosial, teori pembelajaran sosial, dan teori kontrol sosial. Hasil dari penulisan ini menunjukkan bahwa pemberian pendidikan strata satu di dalam lembaga pemasyarakatan dapat memberikan dampak yang positif dalam proses reintegrasi untuk warga binaan yang telah mengikuti proses pembinaan yang diberikan oleh pihak lembaga pemasyarakatan.

ABSTRACT
This paper is made to reveal what lies behind the phenomenon of implementation in providing the rights of education for inmates in correctional instituons. This phenomenon is explained by three theories, the first is, social justice theory. Second is, social learning theory. And the las is, social control theory. The results of this paper shows that the implementation of undergraduate education in correctional institutions can provide a positive impact in the reintegration process for inmates who have followed the educational process which is provided by the penitentiary."
2017
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Soetji Andari
"ABSTRAK
Dinamika kehidupan anak jalanan selalu menyisakan berbagai tindakan kekerasan yang menyebabkan anak menjadi pelaku kekerasan bagi anak jalanan lain atau sebaliknya menjadi korban. Bagi anak jalanan hidup dijalan bukan pilihan akan tetatpi kebutuhan yang harus dijalani. mereka kerap kali berhadapan dengan kerasnya hidup dijalan seperti kejahatan, kekerasan, maupun kebebasan. tak ada seorang pun yang menginginkan untuk hidup dijalanan. Tujuan penelitian untuk mengetahui relasi sosial yang terjadi antara anak jalanan dan komunitas jalanan untuk bertahan hidup dibawah tekanan dan keterbatasan. kelompok anak dan komunitas jalanan memiliki ciri solidaritas kelompok yang membela salah satu anggota nya. dinamika interaksi kelompok komunitas jalanan menghasilkan sebuah fenomena masyarakat jalanan dalam sosiologi budaya disebut sebagai solidaritas kelompok (Group Solidarity). Fenomena ini merupakan lawan dari semangat individualistik dalam masyarakat umum."
Yogyakarta : Balai Besar penelitian dan Pengambangan Pelayanan Kesejahteraan Sosial , 2018
360 MIPKS 42:2 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Zaskia Toyyibatun Zulkaisy
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara attachment ibu-anak, attachment ayah-anak, dan self-esteem remaja akhir Kota Depok. Penelitian ini dilakukan terhadap 104 remaja akhir di Kota Depok berusia 18-21. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) yang dibuat oleh Armsden dan Greenberg pada tahun 2009. Alat ukur ini mengukur attachment ibu-anak dan attachment ayah-anak. Sementara self-esteem diukur menggunakan kuesioner yang dibuat oleh Rosenberg (1965), yaitu Rosenberg?s Self-Esteem Scale yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan mengukur satu dimensi, yaitu global self-esteem. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa attachment ibu-anak memiliki hubungan positif yang signifikan dengan self-esteem remaja akhir Kota Depok (r=0,204: l.o.s. 0,05) dan attachment ayah-anak tidak memiliki hubungan positif yang signifikan dengan self-esteem remaja akhir Kota Depok (r=0,068; l.o.s. 0,05).

The purpose of this study is to understand the correlation between mother- child attachment, father-child attachment, and self-esteem in late adolesence in Depok. The sample of this study consist of 104 late adolescence (18 ? 21 years old) in Depok. Mother-child attachment and father-child attachment measured by Inventory of Parent and Peer Attachment-Revised (IPPA-R) which is created by Armsden and Greenberg on 2009. Whereas, self-esteem is measured by Rosenberg?s Self-Esteem Scale and measuring one dimension of self-esteem (global self-esteem). Result of this study showed that mother-child attachment correlates significantly with self-esteem in late adolescence in Depok (r=0,204: l.o.s. 0,05) and father-child attachment has no correlation with self esteem in late adolescence in Depok (r=0,068; l.o.s. 0,05)."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S55814
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>