Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18412 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Prasasta Wibisono
"Skripsi ini berisi pengukuran perubahan panjang pipa alumunium yang diakibatkan oleh pemuaian. Pemuaian yang terjadi akan diukur oleh satu sensor induktif. Sensor induktif berbentuk lilitan kawat silinder berinti udara. Perubahan nilai induktansi pada sensor induktif yang diakibatkan pergerakan inti besi akan mempengaruhi nilai frekuensi keluaran dari osilator. Osilator yang digunakan adalah tipe colpitts yang dimana komponen penyusun utama resonatornya adalah komponen induktansi dan kapasitif. Selain itu pada penelitian ini juga ingin melihat korelasi antara perubahan nilai induktansi terhadap frekuensi. Instrumen pengukuran yang dibuat mampu perubahan panjang sebesar 0,0024 cm.

This undergraduate thesis contains aluminum pipe measuring changes in length caused by thermal expansion. Swelling that occurs will be measured by an inductive sensor. Inductive sensors cylinder-shaped core wire windings air. Changes in the value of inductance in an inductive sensor that caused the movement of the iron core will affect the value of the output frequency of the oscillator. The oscillator used is the type colpitts in which the main components of resonator is the inductance and capacitive components. In addition, this study also wants to see the correlation between changes in the value of inductance with frequency. Measurement instruments are made to change the length of 0.0024 cm."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S65242
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riffal Ruchiandrean
"Skripsi ini membahas tentang instrumen pengukuran perubahan nilai kelembaban yang dideteksi oleh perubahan nilai frekuensi akibat perubahan nilai kapasitansi pada sensor kelembaban HS1101. Frekuensi dihasilkan oleh osilator colpitts. komponen kapasitansi pada resonator diparalel dengan sensor kelembaban kapasitif HS1101. Perubahan nilai kelembaban diamati pada tiga cara berbeda, yaitu saat titik embun konstan, temperatur konstan, dan kelembaban konstan. Variabel yang diamati adalah kelembaban, temperatur, titik embun, kapasitansi, dan frekuensi. Selain itu juga melihat korelasi antara kelembaban dan titik embun sehingga dapat ditentukan titik embun dengan mengontrol temperatur dan kelembabannya. Instrumen pengukuran yang dibuat berhasil mendeteksi perubahan kelembaban dengan perbedaan nilai pada alat ukur referensi sebesar ±5%RH.

This Undergraduate Thesis is discussing about instrument relative humidity measurement that detected by changes of frequency value because changes of capacitance value in humidity sensor HS1101. Frequency produced by Colpitts Oscillator which capacitance component in resonator parallel to capacitive relative humidity sensor HS1101. The changes of relative humidity value that observed is constant. The variabels observed are relative humidity, temperature, dew point, capacitance, and frequency. Other than that, the objective is figure out the correlation between relative humidity and dew point so dew point in a system can concluded by controlling the temperature and relative humidity. This instrument measurement succeed to detect changes of relative humidity and has a delta ±5% to a reference."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S65243
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alvia Sindi
"Skripsi ini membahas tentang instrumen pengukuran perubahan nilai temperatur yang dideteksi oleh osilator Colpitts. Osilator Colpitts akan menghasilkan sinyal yang memiliki amplitudo dan frekuensi. Rangkaian osilator Colpitts terdiri dari rangkaian resonator dan rangkaian penguat. Pada rangkaian resonator terdiri dari komponen seperti resistor/termistor, induktor, dan kapasitor. Pada rangkaian penguat terdiri dari transistor, resistor, dan kapasitor. Nilai komponen pada rangkaian resonator mempengaruhi frekuensi keluaran yang dihasilkan oleh osilator. Sinyal yang berisi amplitudo dan frekuensi dikuatkan kembali oleh rangkaian penguat. Pada rangkaian resonator, dilakukan variasi nilai resistansi pada resistor dan termistor. Variasi nilai tersebut akan mempengaruhi nilai frekuensi keluaran. Frekuensi keluaran tersebut akan dikonversi menjadi besaran temperatur. Besaran temperatur yang merupakan hasil dari konversi frekuensi dibandingkan dengan besaran temperatur yang diukur dengan termometer untuk diketahui perbedaan nilainya. Sinyal yang dihasilkan oleh osilator akan diolah dengan mikrokontroler pada Arduino Uno. Sinyal tersebut akan dikonversi untuk ditampilkan dalam suatu besaran resistansi, frekuensi, dan temperatur. Hasil konversi tersebut akan menghasilkan suatu persamaan hubungan kedua besaran tertentu.

This thesis discusses the change in temperature measurement instruments that are detected by the Colpitts oscillator. Colpitts oscillator will produce signals that have the amplitude and frequency. Colpitts oscillator circuit consists of a series of resonator and amplifier circuits. On a series of resonators consisting of components such as resistors/thermistors, inductor, and capacitor. On the circuit of the amplifier composed of transistors, resistors, and capacitors. The value of the component on the output frequency affect resonator series produced by oscillators. The signal contains a frequency amplitude and is amplified by the amplifier circuit. On a series of Resonators, done a variation value of resistance on the resistor and thermistor. The variation of these values will affect the value of the output frequency. The output frequency will be converted to a magnitude of temperature. Magnitudes of temperature which is the outcome of conversion frequency compared to the magnitude of the temperature measured with a thermometer to know the difference in value. The signal generated by the oscillators will be processed by a microcontroller on the Arduino Uno. These signals will be converted to display in a quantity, frequency, resistance and temperature. The conversion result will produce a certain quantity of both relations equation."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S64682
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amelia Rizky Amanda
"Dalam penelitian ini, dilakukan variasi nutrisi yang diberikan pada mikroalga Chlorella pyrenoidosa dan Oscillatoria sp. untuk mengetahui pengaruhnya terhadap persentase kandungan protein. Konsentrasi protein yang terkandung dalam mikroalga dilihat dari nilai serapan larutan sampel hasil uji biuret dengan spektrofotometri UV-Visible pada panjang gelombang 540 nm. Pada mikroalga C.pyrenoidosa yang dikultivasi dengan medium Walne, didapatkan protein sebesar 16,78% sedangkan pada medium NPK Urea didapat protein sebesar 12,40%. Penambahan konsentrasi nutrisi juga meningkatkan persentase protein yang dihasilkan kedua mikroalga. Mikroalga C.pyrenoidosa yang dikultivasi dengan NPK Urea 3 ml/L, persentase proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang dikultivasi dengan NPK Urea 2 ml/L (12,40% dan 13,86% berturutturut). Begitu juga dengan C.pyrenoidosa yang dikultivasi dengan Walne dengan konsentrasi 2 ml/L, persentase proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan yang dikultivasi dengan Walne dengan konsentrasi 1 ml/L (16,78% dan 24,74% berturut-turut). Hasil yang sama juga ditunjukkan oleh mikroalga Oscillatoria sp. yang dikultivasi dengan NPK Urea 3 ml/L, persentase proteinnya lebih tinggi dibandingkan dengan kultivasi menggunakan NPK Urea 2 ml/L (6,39 % dan 8,98 %). Uji HPLC menunjukkan bahwa asam amino esensial dengan persentase terbesar pada mikroalga Oscillatoria sp. adalah leucine dan pada mikroalga Chlorella pyrenoidosa adalah lysine. Sedangkan untuk kandungan asam amino non esensial tertinggi pada kedua mikroalga adalah glutamic acid.

The effect of nutrition variation on protein accumulation in microalgae Chlorella pyrenoidosa and Oscillatoria sp. Were studied. Protein concentration in microalgae was determined using absorbance of biuret testing method sample with UV-Visible spectrophotometry on wavelength of 540 nm. Microalgae C.pyrenoidosa with Walne nutrition gave total of 16,78% protein, and NPK Urea nutrition gave 12,40% protein. Addition of nutrition concentration also contributed to increased protein accumulate on both microalgae. C.pyrenoidosa cultivated with NPK Urea 3ml/L gave higher protein extracted compared to NPK Urea 2 ml/L (12,40% and 13,86% respectively). C.pyrenoidosa cultivated with Walne 2 ml/L also gave higher protein extracted compared to Walne 1 ml/L (16,78% and 24,74% respectively). Oscillatoria sp. cultivated with NPK Urea 3 ml/L gave higher protein extracted compared to NPK Urea 2 ml/L (6,39% and 8,98% respectively). HPLC test showed that highest percentage of essential amino acid on Oscillatoria sp. is leucine, and C.pyrenoidosa is lysine. For both microalgae, highest non essential amino acid is glutamic acid."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S62060
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ibrohim Hanifa
"ABSTRAK
Dalam penelitian ini telah dirancang instrumentasi yang diharapkan mampu mendeteksi keberadaan nyamuk kemudian mengusirnya secara otomatis. Rancangan yang dibuat terdiri dari tiga buah sub-rangkaian yang terdiri dari rangkaian receier, controller, dan transmitter. Rangkaian receiver yang dipergunakan untuk mendeteksi keberadaan nyamuk tersusun atas rangkaian microphone sebagai sensor suara, band pass filter sebagai penyaring frekuensi, dan amplifier sebagai penguat. Selanjutnya rangkain transmitter yang digunakan sebagai pengusir nyamuk terdiri dari rangkaian osilator kristal sebagai penghasil frekuensi osilasi yang stabil dan buzzer sebagai aktuator yang merubah besaran listrik menjadi besaran fisika berupa suara. Kemudian dibutuhkan rangkaian controller sebagai pengendali yang mengendalikan kerja alat agar dapat berfungsi secara otomatis, terdiri dari rangkaian komparator sebagai pembanding tegangan dan relay sebagai saklar listrik yang bertugas menjadi saklar osilator dengan catu daya. Alat ini akan bekerja menghasilkan frekuensi 39 kHz saat bagian receiver mendapatkan frekuensi pada rentang 300 ndash; 700 kHz. Alat ini diharapkan dapa menjadi solusi yang efektif dalam mengusir nyamuk di masa depan.

ABSTRAK
In this research has been designed instrumentation that is expected to detect the presence of mosquitoes and then drive it automatically. This designed instrumentation is consisted of three sub circuits with a series of each receivers, controllers, and transmitters. The series of receivers, that will be used to detect the presence of mosquitoes, composed of microphone series as sound sensors, band pass filters as frequency filters, and amplifiers as amplifiers. Furthermore, a series of transmitters, as mosquito repellent, consisted of crystal oscillator circuit as a stable oscillation frequency generator and buzzer as an actuator that converts electrical quantities into physical quantities of sound. Then, the controller circuit is needed to control the work of the tool in order to function automatically. it consisted of a comparator voltage circuit and relay as an electrical switch in charge of an oscillator switch with a power supply. This tool will work to generate frequency 39 kHz when the receiver gets frequency in the range 300 700 kHz. This tool is expected to be an effective solution in expelling mosquitoes in the future. "
2017
S67090
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khairul Amri
"ABSTRACT
This thesis is designed to get the instrumentation with high sensitivity.
Generally, this thesis presents several noteworthy characteristics. First, Colpitts
oscillator is used as measurement instrumentation for temperature and humidity
with frequency output varying which correlate with those parameters. Second,
AT-Tiny2313-20PU is employed as frequency counter interfaced to a computer
through an RS-232 port. Third, LabVIEW is employed as the software
development environment to communicate from computer to external hardware
for automatically uploading and processing data. The increasing sensitivity gotten
is from (29,9exp-3,45E-2T) C/0C to (-9,73E4/T)Hz/0C and from (1,83E-9) F/%RH to
(-48,3E2)Hz/%RH for temperature and humidity respectively."
2008
T21550
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
A.R. [Abdoel Raoef] Soehoed
Jakarta: Gatra Pustaka, 2007
338.09 Soe a (1)
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Isom Muzakir
"ABSTRAK
Telah dilakukan suatu studi pangembangan rangkaian Osilator Colpitts sebagai pengkondisi sinyal system pengukuran parameter Kerentanan magnetik bahan. Penelitian ini merupakan pengembangan lanjutan dari pemanfaatan rangkaian Osilator sebagai pengkondisi sinyal sensor resistif, kapasitif, dan Induktif.
Dari pengukuran didapat bahwa frekuensi Osilator berbanding lurus dengan invers akar Induktansi, yang berarti pula berbanding lurus dengan invers akar parameter kerentanan magnetik bahan.

ABSTRACT
A development study of Colpitts Oscillator circuit as The Magnetic Susceptibility parameter measurement system has described. This research is an advanced development of the usage of Oscillator as The Signal Conditioner part of resistive, capacitive, and inductive type of sensor.
Measurement yields a relation where Oscillator frequency equals to inverse of inductance root, these means that it also equal to inverse of root of sample's magnetic susceptibility parameter.
"
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2000
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Daniel Wilhelmus Adityatama
"Proses pengecoran logam merupakan proses kompleks yang rentan akan terjadinya cacat pada produk akhir. Untuk meminimalisi terjadinya cacat tersebut diperlukan sebuah desain pengecoran yang baik dan simulasi desain untuk menghemat waktu dan biaya. Untuk menunjang simulasi yang tepat seperti pada pengecoran nyata dibutuhkan data parameter yang tepat, salah satu parameter yang penting adalah Heat Transfer Coefficient (HTC). Dibutuhkan desain pengukuran yang tepat untuk dapat melakukan pengukuran dan perhitungan HTC yang efektif dan tepat, serta mampu meminimalisir efek peletakkan thermocouple yang berdekatan. Dari program simulasi pengecoran yang digunakan (Z-Cast dari Korea) dan percobaan yang dilakukan, diperoleh hasil bahwa desain yang digunakan cukup memadai (feasible) dan efektif untuk melakukan pengukuran perubahan temperatur pada bagian-bagian benda cor. Thermocouple diletakkan sedemikian rupa sehingga peletakkannya tidak akan menginterferensi hasil yang diperoleh. Dari data temperatur yang didapat pada logam benda cor dan cetakan pasir, dapat dihitung nilai HTC efektif pada saat pengecoran dengan ketebalan yang berbeda.

Metal casting is a complex process that prone to a defect to its final product. To minimize the occurrence of defect it requires a good casting design and the design simulation to saves time and money. In order for having a very close to reality simulation, the correct data of casting parameter must be used. One of the most important casting parameter is the Heat Transfer Coefficient (HTC). A good HTC measurement system must be used for one to able to do an effective measurement and calculation of HTC, and the design itself must also be able to minimizing the effect of closely-spaced thermocouples that can interfere the measurement. The casting simulation software (Z-Cast from Korea) and the casting trial prove that the design used in this experiment is feasible and effective for measuring the temperature change in the casting. The thermocouples are arranged so that they will not interfere the measurement of other thermocuples. From the temperature data obtained from the casting and the green sand mold, the effective HTC can be calculated in the different thickness of casting.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2013
S53085
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Fadhillah Nugraha
"Pemanfaatan pipa kalor bersumbu sebagai penghantar kalor dua fase saat ini sudah tidak bisa diragukan lagi mengingat cukup banyaknya kelebihan yang dimilikinya. Sumbu kapiler berperan penting untuk meningkatkan kinerja pipa kalor. Sumbu tersebut dapat terbuat dari berbagai macam bahan, salah satunya adalah biomaterial dalam bentuk terumbu karang (corallia encrusting). Sebelum diaplikasikan, biasanya beberapa parameter sumbu kapiler harus diuji terlebih dahulu melalui serangkaian proses pengukuran konvensional untuk menentukan kinerja pipa kalor.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan metode baru pengukuran sumbu kapiler berdasarkan teknologi micro-CT scan dan pengolahan gambar digital (digital image processing), sehingga diharapkan metode tersebut dapat menghemat waktu dan tenaga.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel sumbu kapiler biomaterial memiliki nilai permeabilitas dan nilai porositas yang tidak jauh berbeda hasilnya antara pengukuran konvensional dan pengukuran dengan teknologi micro­-CT scan, yaitu hanya memiliki perbedaan pada range ±5%. Sementara itu untuk sampel pipa kalor, masing-masing bagian bawah, tengah, dan atas pipa kalor memiliki nilai porositas sebesar 20,98%, 25,73%, dan 24,18%, serta nilai permeabilitas sebesar 3,86 × 10-6 m2, 6,37 × 10-6 m2, dan 5,89 × 10-6 m2. Hasil tersebut menunjukkan korelasi yang sebanding antara nilai porositas dengan nilai permeabilitas suatu media berpori.

The use of heat pipe with wick as a two-phase heat transfer device nowadays is in great era since there are a lot of advantages it has. The wick itself has the important role for improving the heat pipe performance. It can be made from a variety of materials, such as biomaterial in the form of coral (corallia encrusting). Before being applied, the several parameters of heat pipe wick must be tested first through a series of conventional measurement methods to determine the heat pipe performance.
The purpose of this study is to find a new method for measuring capillary wick based on micro-CT scan technology and digital image processing, so that the method is expected to save time and effort.
The experiment results showed that the biomaterial capillary wick sample had permeability and porosity values that were not much different between the result of conventional measurement and the result of micro-CT scan measurement, which only differed in the range of ±5%. Meanwhile for heat pipe sample, each of bottom, middle, and top part of heat pipe had porosities of 20.98%, 25.73%, and 24.18%, as well as permeabilities of 3.86 × 10-6 m2, 6.37 × 10-6 m2, and 5.89 × 10-6 m2, respectively. These results showed the comparable correlation between porosity and permeability values of porous medium.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T54080
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>