Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 40622 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"One of the traditional plants that has been broadly known as the healthand healing plants is Aloe vera. It is often use to treat burns, wounds, abrasions, skin disease, alopecia, and irritation. It is further more used as a hair washed to promote hair growth and as general cosmetics to improve the complexion and to smoothen the skin. The aim of the study was to examine and compare the reaction of fresh Aloe vera and distillate Aloe vera on the inflammed oral mucosa caused by hydrogen peroxide 10%. 14 rats were used in this research and divided into 4 groups; fresh Aloe vera group (4rats), distillate Aloe vera group (4 rats), control group I (3 rats), and control group II (3 rats). All rats in each group received 9x10 minutes application of hydrogen peroxide 10% on their vestibulum mucosa, for 3 days, except rats in control group I received application of aquadest. On the 4th day, all rats in each group received 9x5 minutes with their own group's material for 3 days. The histological examination was done by scoring the density of lymphocytes in the inflammation area. Statistical result shows that there are differences of oral mucosa reactions between distillate Aloe group and fresh Aloe group. Fresh Aloe group shows the decrease of lymphocytes cell higher than distillate Aloe group. Based on this research, it can be concluded that application with fresh Aloe vera can cure oral mucosa inflammation cause by hydrogen peroxide 10% than application with distillate Aloe vera."
Journal of Dentistry Indonesia, 2003
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Mindya Yuniastuti
"Aloe vera has been proven as anti inflammatory effect, but the lowest concentration and the shortest time of Aloe vera which could decrease inflammatory has not been known exactly. The aims of this research is to find the lowest concentration on 1 day application of Aloe Vera which could decrease inflammatory on rat oral mucosa after it has been applied by H2O2 10% for 3 days. 12 rats that has been applied by H2O2 10% were divided into 4 groups, which are : applied Aloe vera 10% substrate for 1 day (3 rats), applied Aloe vera 25% substrate for 1 day (3 rats), control group 1 which applied Aloe vera 10% substrate for 3 days (3 rats), and control group 2 which applied Aloe vera 25% substrate for 3 days (3 rats). The score of inflammatory is determined using modification the method of Eda S and Fuyama. The obtained data were analyzed with Kolmogorov - Smirnov (p<0,05). In conclusion, Aloe vera substrate 10% applied for 1 day could decrease oral mucosa inflammatory."
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2005
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Nining Betawati Prihantini
"Telah dilakukan penelitian mengenai pengaruh medium ekstrak kulit daun lidah buaya (EKDLB) terhadap pertumbuhan mikroalga marga Chlorella Beijerinck. Penelitian bersifat eksperimental dengan meriggunakan rancangan acak lengkap terhadap 6 perlakuan yaitu medium Beneck (kontrol positif), akuades (kontrol negatif), EKDLB 25%, EKDLB 50%, EKDLB 75%, dan EKDLB 100%. Pengamatan dilakukan selama 30 hari. Hasil uji Friedman menunjuklcan adanya pengaruh medium EKDLB terhadap kerapatan Chlorella (sel/ml) (pada p>0,05). Hasil uji Dunnets menunjukkan rerata kerapatan Chlorella (sel/ml) berbeda nyata (p>0,05) dan sangat nyata (p>0,01) pada tiap perlakuan. Pertumbuhan Chlorella yang optimum pada medium EKDLB terdapat pada kultur dalam konsentrasi 25%. Kerapatan sel tertinggi (sebesar 16.618.750 sel/ml) pada saat peak dicapai oleh kultur dalam medium Beneck dan kerapatan sel terendah (sebesar 4.537.500 sel/ml) pada medium EKDLB 100%.

Growth of Chlorella Spp. on Lidah Buaya (Aloe vera Linn.) Leaves Extract Medium.Research on the effect of Lidah Buaya Leaves Extract Medium (LBLEM) to cell density of Chlorella spp had been done. Research was experimental research with complete random design to 6 treatments i.e Beneck Medium (positif control), aquadest (negatif control), 25% LBLEM, 50% LBLEM, 75% LBLEM, and 100%. LBLEM. Observation was done in 30 days. Friedman test showed there are the effect of LBLEM to cell density (cell/ml) (on p>0,05). Dunnets test showed that mean of Chlorella (cell/ml) cell density significant different on p>0,05 and p>0,01 on every treatment. Optimum growth of Chlorella is on 25% LBLEM. Highest cell density (16,618,750 cell/ml) on peak took place on Beneck, and the lowest one (4,537,500 cell/ml) take place on 100% LBLEM."
[place of publication not identified]: Sains Indonesia, 2004
SAIN-9-1-2004-25
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Siswati Setiasih
"Tanaman Aloe vera, lidah buaya, telah diketahui memiliki manfaat dan khasiat yang mengagumkan baik untuk kesehatan dan kosmetik, maupun sebagai bahan baku obat-obatan. Khasiat tersebut disebabkan karena lidah buaya selain mengandung vitamin, asam amino dan mineral, juga mengandung senyawa polisakarida seperti, mukopolisakarida (MPS) yang diduga merupakan komponen utama yang memiliki aktivitas biologik. Pada penelitian in! telah dilakukan analisis MPS yang terkandung dalam daun lidah buaya segar-dengan berbagai perlakuan yang dibandingkan dengan kandungan MPS dalam produk hasil olahannya (produk minuman sehat) baik secara kualitatif (FTIR, KLT, dan KCKT) maupuin kuantitatif (metode gravimetri dan Folin Wu). Hasil analisis mengarahkan pada dugaan adanya kandungan MPS yang dapat dipertahankan pada produk minuman tersebut. Kadar MPS dalam lidah buaya segar dengan perlakuan I. II, ill, IV. dan dalam produk minuman berturut-turut sebesar 0,34%; 0,20%; 0,32%; 0,81%; dan 0,28%. Sedangkan, kadar gula pereduksi yang terkandung dalam lidah buaya segar dengan perlakuan I, II, III, IV sena produk minuman berturut-turut adalah sebesar 16,83%; 17.62%; 20,20%; 20,49 %, dan 19,01%."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
SAIN-11-2-2006-25
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Justisia Nafsi Yunita
"Latar Belakang: Perubahan genetik pada p53 menyebabkan imortalisasi dan kecenderungan sel bertransformasi menjadi neoplasma. Imortalisasi ini berhubungan dengan pemeliharaan panjang telomer oleh telomerase. hTERT adalah komponen kunci telomerase yang aktivitasnya ditekan oleh p53.
Tujuan: Menganalisis profil protein hTERT pada sel galur KSSRM HSC-3 dan HSC-4 serta jaringan mukosa mulut normal. Metode: Profil protein hTERT dianalisis menggunakan teknik SDS-PAGE dan Gel Doc, Quantity One.
Hasil: Protein hTERT diekspresikan oleh sel galur KSSRM mulut tipe HSC 3 dan HSC 4 serta 2 dari 17 sampel protein jaringan mukosa mulut normal.
Simpulan: Protein hTERT yang diekspresikan oleh sel galur KSSRM berhubungan dengan kondisi mutan p53. Adanya ekspresi protein hTERT pada jaringan mukosa mulut normal diperkirakan karena adanya sel keratinosit dan infiltrasi sel hematopoietik.

Backround: Genetic alteration on p53 allows cellular immortalization and predisposes cells to neoplastic transformation. This immortalization is related to telomere length maintenance by telomerase. hTERT is a key component of telomerase, which activity is suppressed by p53.
Objectives: To analyze the hTERT protein profile in HSC-3 and HSC-4 OSCC cell lines and normal human oral mucosa tissue. Methods: SDS-PAGE and Gel Doc, Quantity One were used for analyzing hTERT protein profile.
Results: hTERT protein expressed in HSC-3 and HSC-4 OSCC cell lines and 2/17 protein samples of normal human oral mucosal tissues.
Conclusion: hTERT protein that was expressed by OSCC cell lines is related to their status of mutant p53. The existing of hTERT protein on normal human oral mucosas tissue may be caused by keratinocyte cells and infiltrated hemapoietic cells."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Nurfadilah
"Tanaman lidah buaya (Aloe barbadensis Mill, atau Aloe vera Linn),
sudah sangat akrab dengan masyarakat kita, karena tanaman ini sering
dijumpai di haiaman rumah kita. Tanaman ini dibagi menjadi dua bagian
dasar yaitu bagian gel dan latex. Gel lidah buaya merupakan bagian dalam
daun lidah buaya yaitu daging daun yang berbentuk seperti jelly dan
berwarna bening. Latex aloe vera umumnya disebut sebagai "juice Aloe",
merupakan getah yang keluar dari sel perisiklik tepat di bawah kulit luar Aloe
vera.
Dari penelitian-penelitian yang dilakukan diketahui bahwa salah satu
zat aktif yang terkandung dalam tanaman ini, yaitu aloin yang bermanfaat
bagi kesehatan, terutama untuk mengobati sakit lambung atau maag, mengatasi konstipasi dan berguna untuk mempercepat reaksi oksidasi etanol
dalam tubuh.
Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi aloin dan menganalisis
kandungannya dalam getah tanaman Aloe vera yang di dasarkan atas
analisis kualitatif dan kuantltatif, seperti ujl KLT, FT-IR, dan HPLC. Anaiisis
ini dilakukan terhadap dua sampel hasil isolasi dengan dua metode yang
berbeda.
Dari hasil penelitian ini terbukti bahwa di dalam tanaman lidah buaya
terdapat senyawa aloin, dan diketahui bahwa kadar aloin pada getah dengan
menggunakan metode pertama (freeze-drying) sebesar ^,87%. Sedangkan
kadar aloin pada getah dengan metode kedua (ekstraksi dengan etil asetat)
lebih kecil yaitu 0,49%."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2004
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pramu Frida Kurnia
"ABSTRAK
Tanaman lidah buaya {Aloe vera Linn.) telah lama
dikenal sebagai bahan obat dan kosmetika . Gel lidah buaya dapat digunakan sebagai penutup luka, tetapi sifatnya tidak stabil dalam penyimpanan.
Pembuatan membran hidrogel 1idah buaya yang stabi1 dan steril telah dilakukan dsngan cara liofilisasi dan sterilisasi dengan radisi sinar gamma dosis 25 Kgy.
Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan
penyembuhan luka terbuka buatan dari membran hidrogel 1idah buaya yang steril dan stabil dengan mempergunakan kelinci.
Pada pemeriksaan, dilakukan uji bandi ng kecepatan
penyembuhan luka antara luka terbuka yang hanya ditutup dengan kasa steril, memb ran hid roge1 1idah buaya yang telah diliofilisasi dan dii radiasi, gel lidah buaya segar, dan sof ratulie.
Hasi1 pemeri ksaan menu nju kkan bahwa memb ran hid rogel lidah buaya yang telah di1iofi1isasi dan diiradiasi, gel 1idah buaya segar, dan sof ratu1le mempu nyai kecepatan penyembuhan luka yang sama. Proses 1iof i1isasi t i dak mempengaruhi senyawa-senyawa berkhasiat yang terkandung dalam lidah buaya-."
1994
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Oral mucous inflammation is common in our community. Therefore we need an anti-inflammatory medicine with affordable price, relative low adverse effects, and easily obtained in our environment. Sweet fennel is a plant that widely used in our community as a decorating plant, food flavouring and herbal medicine for various diseases. The affectivity for fennel has not been clinically examined. Therefore we are interested in finding our the affectivity of sweet fennel as an alternative anti-inflammatory. The aim of this research is to examine and compare reaction of both crushed and distilled fennel fruit on inflamed oral mucosa caused by hydrogen peroxide 10%. 14 rats were used and divided into 4 groups, and controls (6 rats). They received hydrogen peroxide 10% applications on vestibulum mucosa for there days to make the inflammation. After that they received crushed and distilled fennel. There days later they were killed and the vestibulum mucosa was excised for microscopic slides. The results show that the crushed the redness of oral mucosa. The conclusion is fennel could reduce an inflammation and there is no difference of healing either by crushed or distilled fennel."
Journal of Dentistry Indonesia, 2003
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Kalangi, Sonny John Ruddy
"Aloe vera dan madu dianggap dapat mempercepat reepltelisasl Iuka sekalipun masih terdapat beberapa perbedaan pendapat. Penelltian ini hendak membandingkan khasiat aloe vera. madu, dan larutan garam lisiologis yang diberikan secara topikal dalam proses reepitelisasi dan pembentukan jarlngan granulasl pada proses penyembuhan Iuka eksisi kulit telinga kelinci. Sebanyak enam ekor kelinci putih jantan dipakal sebagai sampel. Pada telinga kelinci dibuat Iuka eksisi sedalam tebal kulit berbentuk bundar dengan diameter 6 mm. Pada tiap telinga dibuat empat buah luka pada permukaan dalam telinga. Luka kemudian mendapat perlakuan pemberian aplikasi topikal larutan NaCl 0.9%, madu, dan aloe vera, serta kontrol yang ticlak diobati. Tujuh hari kemudlan dilakukan biopsi pada sediaan Iuka. Jaringan dlproses menjadi sediaan hlstologlk dan dipulas dengan pulasan rutin hematoksilin eosin untuk penilalan secara kuantitatif terhadap proses reepltellsasl dan pembentukan jaringan granulasi. Reepitelisasi dinllai dengan cara mengukur jarak Celah epitel. Pembentukan jaringan granulasi dinilai dengan cara mengukur tinggl jaringan granulasi, jarak celah granulasi, total jarak lateral-medial (lebar) jaringan granulasl, Serta perhitungan besar volume jaringan granulasi. Ditemukan percepatan reepithelisasi yang bennakna secara statlstik (p<0,05) pada olesan dengan aloe vera (p=0,003) dan madu (p=0,004). Pada pembentukan jaringan granulasi kecuali tinggi jaringan granulasi yang tidak oerbeda bermakna (p=0,054) semuanya menunjukkan hasil yang berbeda bermakna secara statlstik. Percepatan pembentukan jaringan granulasi yang ditemukan pada olesan aloe vera dan madu berupa proses pembentukan jaringan granulasi dengan arah lateral-medial menuju pusat Iuka. Dislmpulkan bahwa proses reepitelisasi dan pembentukan jaringan granulasi Iuka eksisi full-thickness pada telinga kellnci secara signitlkan meningkat oleh pemberian aloe vera dan madu secara topikal, juga pemberian aloe vera sama efektifnya dengan madu dalam proses reepitelissl dan pembentukan jarlngan granulasi.

Aloe vera and honey were thougwh to accelerate wound reepithelialization although there were still varying reports on this matter. This study aims to compare the of topicaI application of honey, aloe vera, and normal saline solution on the process of reepithelialization and granulation tissue formation on skin wound healing. Six white rabbits were used for evaluation. Four full-thickness excisional wound were made on the interior surface of each ear with a 6-mm tissue punch. Wounds on each ear were applied with aloe vera, honey, normal saline, and no treatment as wound control. On day 7 after wounding, wound tissue was processed for histological examination. Histological cross sections. stained with hematoxylin-eosin, were used for quantitative evaluation of reepithelialization and granulation tissue formation. Reepithelialization were evaluated by measuring the distance of epithelial gap. Granulation tissue formation were followed-up by measuring the height of granulation tissue. the distance of granulation tissue gap. total lateral-medial distance of granulation tissue, and by calculating the value of granulation tissue volume. The values of the acceleration rate of the reepithelialization were found to be statistically significant {p<0.05) in the aloe vera (p=0.003) and in the honey (p=0.004) given in the topical manner. Except for the height of the granulation tissue (p=0.054), all other values of that tissue showed the results which were significantly different. The acceleration in the formation of the granulation tissue found in the tissue treated with the aloe vera and the honey generated in the medio-lateral direction toward to the central of the wound. We concluded that the reepithelialization processes and the formation of the granulation tissue in the full-thickness wound performed on the rabbit ear were significantly increased by the topical treatment with aloe vera and honey. The treatment with aloe vera on those processes gave the results with the same effectiveness with that of honey."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002
T3724
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Indonesian Journal of Dentistry 2006; Edisi Khusus KPPIKG XIV: 435-438
Heat Shock Protein (HSP) is a molecular chaperone that prevents stress induced aggregation of partially denatured proteins and promotes their return to native confimations when the condition is favorable. As
molecular chaperones, the HSP protect protein structure and activity, thereby preventing disease, but they may contribute to cell malfunction if they are perturbed. In inracellular quantities and cellular localizalion of HSP was changed in response to anoxia/hypoxia, heat and oxidation, and in relation to pathological status. This review discuses the role of HSP in several human medical condition particularly in oral mucosa."
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga, 2006
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>