Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 3 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Redi Tanaya
"Buku ini menyajikan cerita wayang berjudul Kartawiyoga yang terdiri atas 16 bagian, yaitu: 1. Jejer nagara Mandaka; 2. Adegan Gapuran; 3. Kadhaton; 4. Pasewanan Jawi, Bidhalan, Prang Ampyek; 5. Jejer negara Astina; 6. Jejer negara Tirta Kandhasan memberangkatkan tentaranya; 7. Perang Gagal Korawa dengan Raksasa; 8. Kartawiyoga bertemu dengan Dewi Erawati; 9. Adegan Permadi di hutan, dilanjutkan perang kembang; 10. Semar Ambarang Jantur di Pertapaan Argasonya; 11. Prabu Salya menemui Pendeta Jaladara; 12. Keraton Mandraka kemasukan maling; 13. Jatuhnya negara Tirta Kandhasan; 14. Endhang Bratajaya di Pertapaan Argasonya; 15. Pendeta Jaladara dirampok Korawa; 16. Perang Sampak."
Betawi Sentrem: Bale Pustaka, [date of publication not identified]
BKL.1115-WY 61
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini memuat teks Kartapiyoga Maling, menceritakan hilangnya Dewi Erawati, putri raja Mandaraka Prabu Salya, diculik oleh Prabu Kalaroga, atas permintaan anaknya bernama Kartapiyoga (Kartawiyoga) yang hidup di dalam goa. Dewi Erawati akan diambil sebagai permaisuri oleh Kartapiyoga, namun ia mempunyai permintaan, bahwa ia mau diambil sebagai permaisuri asalkan Kartapiyoga juga dapat mengawini saudara-saudaranya, yaitu Dewi Surtikanti dan Dewi Banowati. Kartapiyoga berangkat seorang diri ke Mandaraka. Setelah sampai di keputren, ia ketahuan oleh Raden Jaladara dan Raden Janaka; terjadilah peperangan dan Kartapiyoga kalah, masuk ke dalam bumi sementara Raden Jaladara dan Raden Janaka mengejarnya. Setelah Jaladara dan Janaka sampai di Giridasar (goa), mereka menemui Dewi Erawati. Raden Janaka membawa Dewi Erawati ke Mandaraka sedangkan Jaladara mau memusnahkan Prabu Kurandageni, maka terjadilah peperangan. Jaladara kemudian menghadapi raja Kurandageni, dan terjadi peperangan pula. Raja itu terbunuh oleh Jaladara. Janaka melepaskan senjata panah ke pusat kraton, sehingga terjadi lautan, sedangkan Kartapiyoga juga mati terbunuh oleh Janaka. Erawati kini dibawa oleh Jaladara ke Mandaraka dan Janaka menemui Hyang Baruna. Janaka kemudian pulang menuju Mandaraka. Dalam naskah disebutkan bahwa cerita akan disambung dengan Serat Nugraha, serat yang menceritakan bertahtanya Prabu Baladewa dan pernikahannya dengan Dewi Erawati disertai patah Endang Werdiningsih (sebenarnya adalah sang Pamadi) dan Dewi Jembawati. Teks ini dikarang oleh Kusumadilaga di Surakarta pada tahun 1872. Di dalamnya terdapat adegan-adegan erotis yang cukup grafik. Naskah-naskah lain yang berisi teks yang sama, lihat MSB/SW.10-11 dan LOr 6689. Naskah dibeli oleh Pigeaud dari R.M.Ng. Sumahatmaka di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1931 dan mungkin merupakan hasil salinan tangannya sendiri. Naskah-naskah MSB yang tersebut di atas juga disalin oleh Sumahatmaka. Daftar pupuh: (1) asmarandana; (2) pangkur; (3) sinom; (4) kinanthi; (5) mijil; (6) dhandhanggula; (7) durma; (8) girisa; (9) durma; (10) gambuh; (11) pangkur; (12) sinom; (13) balabak; (14) dhandhanggula; (15) kinanthi; (16) asmarandana; (17) durma; (18) dhandhanggula; (19) asmarandana; (20) sinom; (21) pangkur; (22) kinanthi; (23) dhandhanggula; (24) asmarandana; (25) pangkur; (26) durma; (27) kinanthi; (28) dhandhanggula; (29) pangkur; (30) asmarandana; (31) maskumambang; (32) pucung; (33) kinanthi; (34) dhandhanggula; (35) mijil; (36) sinom; (37) dhandhanggula."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
CW.9-NR 160
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini merupakan alih aksara ketik dari sebuah naskah karya Sumahatmaka (lihat FSUI/CW.9). Naskah Sumahatmaka itu sendiri merupakan salinan dari naskah induk karya Kusumadilaga, disalin pada tanggal 6 Mei 1928. Keberadaan naskah karya Kusumadilaga ini belum diketahui hingga kini. Penyalinan ketik dikerjakan staf Pigeaud pada Januari 1933, di Yogyakarta, sebanyak empat eksemplar (h.i). FSUI menyimpan dua diantaranya, yaitu HA 55a (ketikan asli) dan HA 55b (tembusan karbon). Hanya ketikan asli yang dimikrofilm. Pada h.222 terdapat keterangan yang menyebutkan bahwa cerita ini akan disambung dengan Serat Nugraha, yaitu menceritakan penobatan Prabu Baladewa dan pernikahannya dengan Dewi Erawati, disertai patah Endang Werdiningsih (sebenarnya adalah sang Pamadi) dan Jembawati. Keterangan isi selengkapnya dapat dilihat pada deskripsi FSUI/CW.9, sedangkan keterangan referensi lainnya, lihat: LOr 6689b; Pratelan II: 393; SMP/KS.420; MSB/SW.10-12."
[Place of publication not identified]: [publisher not identified], [date of publication not identified]
WY.49-HA 55a
Naskah  Universitas Indonesia Library