Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 85112 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Supono
"ABSTRAK
Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) adalah dialisis yang dilakukan
melalui rongga peritonium (rongga perut) dengan selaput/membran perutonium
berfungsi sebagai filter. Tindakan CAPD dilakukan dengan insisi kecil pada dinding
abdomen untuk pemasangan kateter, risiko komplikasi yang sering terjadi adalah infeksi
pada peritonium (peritonitis). Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan faktorfaktor
yang berkontribusi terjadinya peritonitis pada pasien CAPD di Rumah Sakit
Umum Dr. Saiful Anwar Malang Jawa Timur. Jenis penelitian deskkriptif korelasi
dengan rancangan Cross Sectional study. Jumlah sampel penelitian 22 pasien peritonitis
CAPD dan 13 perawat dialisis, dengan tehnik pengambilan sampel total sampling. Hasil
penelitian menunjukan ada hubungan yang signifikan antara status nutrisi (p=0.032),
kemampuan perawatan (p=0.024) dengan kejadian peritonitis pada pasien CAPD. Tidak
ada hubungan yang signifikan antara umur (p=0.702), jenis kelamin (p=0.669), tingkat
pendidikan (p=0.771), penghasilan (p=1,000), personal hygine (p=0.387), supot sistem
(p=1,000), fasilitas perawatan (p=0,088), standar struktur (p=0.203), standar proses
(p=0.559) dengan kejadian peritonitis pada pasien CAPD. Rekomendasi untuk perawat
meningkatkan kunjungan rumah untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang
perawatan dialisis dan pengeloaan nutrisi seimbang. Saran untuk pasien diharapkan
mengikuti prosedur standar perawatan yang telah diajarkan.

ABSTRACT
Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) was dialysis with cavum of
peritoneal as filter. The procedure of CAPD is inserted catether in to abdoment wall with
small incision, the commone complication of this intervention is peritonitis. The purpose
of study was to identify the relation of peritonitis factors on CAPD patiens at Public
Hospital of Dr. Saiful Anawar Malang. The Design of study was cross sectional, with 22
samples patiens of peritonitis and 13 nurses dialysis, that was taken with total sampling.
The result was showed significant correlation between peritonitis insident with nutrition
status (p=0.032) and self care (p=0.024) but not significant corelation with gender
(p=0.669), level of education (p=0.771), income (p=1,000), personal hygiene (p=0.387),
suport system (p=0,088), home care facilities (p=1,000), standard of structur (p=0.203),
standard of proces (p=0.559). The conclusion of this study the decrease of self care of
dialysis, result increasing of peritonitis incidence. It is recomended for the nurses
provide health education self care dialysis to manage of balance and for patiens to folow
self care standard."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2008
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Hidayat
"Pemasaran rumah sakit, pada akhir-akhir ini menjadi topik yang menarik. Pemasaran yang dimaksud disini adalah pemasaran sosial dengan tujuan memperkenalkan rumah sakit pada masyarakat, memberikan informasi yang jelas dan benar tentang berbagai fasilitas dan pelayanan yang ada, meningkatkan citra yang baik melalui kepercayaan masyarakat terhadap kernampuan rumah sakit serta mengupayakan optimalisasi pemanfaatan sumber daya rumah sakit agar lebih efisien dan efektif.
Tujuan dan penelitian ini adalah tersedianya informasi mengenai karakteristik demand calon pelanggan pada masyarakat sekitar rumah sakit, serta teridentifikasinya karakteristik umum masyarakat, karakteristik pola berobat masyarakat dan karakteristik pengenalan masyarakat terhadap rumah sakit.
Penelitian ini merupakan studi deskriktif dengan pendekatan identifikasi masalah dan bertujuan menghasilkan suatu analisis deskriftif kuantitatif dengan menganalisa demand masyarakat calon pelanggan terhadap rumah sakit.
Instrumen yang dipergunakan berupa kuestioner dengan pertanyaan tertutup dan beberapa pertanyaan terbuka pada responden yang didapat secara stratifikasi demografis serta didukung data sekunder dari rumah sakit.
Rumah Sakit TNI AU Tk II Dr_Salamun Bandung dipilih, karena peneliti ingin menyumbangkan hasil penelitian tersebut kepada instansi peneliti berasal, yang mempunyai permasalahan rendahnya utilitas masyarakat sekitar terhadap pelayanan kesehatan dari rumah sakit.
Dari penelitian ini diperoleh informasi bahwa masyarakat sekitar sebagai calon pelanggan mempunyai karakteristik sbb.: umur lebih banyak diatas 30 tahun, tingkat pendidikan SD+SLP, jenis pekerjaan swasta, pengeluaran rata-rata Rp.300.000,-/bulan. Untuk pola berobat masyarakat tersebut cukup tinggi kesadaran tentang kesehatan, dimana akan ke rumah sakit jika sakit, mencari rumah sakit terdekat, bayar sendiri, banyak menggunakan unit rawat jalan.
Sedangkan pengenalan terhadap Rumah Sakit TNI AU Tk II Dr.Salamun sangat tinggi, mereka anggap tidak mahal pembiayaannya, bersedia di rawat jika sakit, pelayanannya dikatakan sudah cukup baik, mereka harapkan lebih meningkatan mutu pelayanan kesehatan dan unit rawat inap.
Dengan penelitian ini diharapkan manajemen dapat mengantisipasi dengan menggiatkan pemasaran melalui strategi yang tepat, oleh karena peluang yang ada serta pangsa pasar yang cukup baik. Sudah barang tentu hal tersebut disesuaikan dengan kemampuan rumah sakit, baik dari SDM, fasilitas dsb.

Recently hospital marketing is becoming one of the most interesting topics. Marketing here as social marketing with the goals to introduce hospital to society, to give the right clear information about all kinds of facility and service which are available, also to improve good impression through society trust toward hospital capability and to try develop optimali7ation of hospital human resources, so it can be more effective and efficient.
The goals of this research is to give information about the prospective customer demand characteristic toward hospital society, also to identify the society characteristic, public health care behavior characteristic, and the public acquaintance with hospital characteristic.
This research is a descriptive study with problem identification approach and its goal is to produce some descriptive quantitative analysis by analyzing the hospital prospective customer demand. The instrument for this research is in the form of a questioner with closed questions and some open questions which will be answered by respondents who are being chosen upon demographic stratification and upon hospital secondary data.
Dr Salamun Air Force Hospital in Bandung is chosen, because the researcher wants to devote his research result to the institution where the researcher belongs to, its problem that the neighborhood utility of hospital health service is low. Information gathered from this research disclosed that the neighborhood as prospective customer has the following characteristics, i.e. mostly above 30, level of education SD and SLP, private person by occupation, monthly expense Rp. 300,000,-. Seen from the health control view point it can be concluded that the health care consciousness is high, in that they will go to hospital if they are ill, look for the nearest hospital, pay by them self and lots of them make use the out patient department.
Meanwhile there is full awareness of Dr Salamun Air Force Hospital, people consider that the expense is not high, and they are willing to be in patient if the are ill. They say the hospital service is good and they hope the quality of health service and in patient departement can be improved. With this research, it is expected that management can anticipate by activating the market through better strategy, because the chance and the market are quit a good. For a certain all of that is being adjusted to the hospital potential both human resource and facility etc."
Depok: Universitas Indonesia, 1997
T2554
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siregar, Gontar Alamsyah
"Background: Tire methods of ERCP have been used for diagnostic and therapeutic purposes to pass bile fluid and extract stones from the bite duct in patients with obstructive extrahepatic jaundice.
Method: A retrospective study was performed on patients with obstructive extrahepatic jaundice patients who underwent ERCP dttring a two-years time period from January 1999 to December 2000. ERCP was performed with a premedication of I0 mg midazolam, followed by a chollangiography contrast containing 1 mg/dl of Garamicin and 25 mg of Pethidine if sphincterotomy was performed.
Results: From 126 patients with obstructive extrahepatic jaundice treated with ERCR the male to female ratio was 1.86:1. The majority of the (group) of patients were between 51-60 years of age (33.3 % ). The youngest patient (group) was 24 years and the oldest 97 years. The diagnostic study found the following cases: normal 3 cases (28%), bile duct stone 46 cases (43.4%) carcinoma of ampula voter 20 cases (18.9%), CBD tumor 7 crises (6.6%), carcinoma of head of pancreas 2 cases (1.9%), diverticle 4 cases (38%), duodenal tumor I case (0.9%), carcinoma of ampula vater and bite duct stone 1 case (0.9%), SOD 5 cases (4.7%), CBD stricture 1 case (0.9%) and failure I6 cases (15.1%). The patients received the following treatment: sphyncterotomy 36 cases (51 .4%), stent application 11 cases (15.7%), sphincterotomy with stent 18 cases (25.7%) and basket method 5 cases ( 7. 1%).
"
The Indonesian Journal of Gastroenterology Hepatology and Digestive Endoscopy, 2003
IJGH-4-2-Agt2003-41
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
New York : Massen, 1981
617.461 059 CAP
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Yuswinda Kusumawardhani
"Disfungsi seksual merupakan salah satu komplikasi dari penyakit gagal ginjal terminal. Pada pria yang menjalani CAPD, masalah pemenuhan kebutuhan seksual dipengaruhi oleh banyak faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor paling dominan yang mempengaruhi disfungsi seksual pria yang menjalani CAPD. Desain penelitian ini adalah analisis cross sectional dengan jumlah sampel 70 pria CAPD melalui teknik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,024), ureum (p=0,018), dan albumin (p=0,001) dengan kejadian disfungsi seksual. Faktor yang paling dominan mempengaruhi adalah albumin, dimana pasien yang memiliki kadar albumin < 3,5 g/dL berisiko untuk mengalami disfungsi seksual 9,3 kali lebih besar dibandingkan pasien dengan kadar albumin 3,5-5 g/dL setelah dikontrol oleh variabel usia. Rekomendasi dari penelitian ini adalah asupan protein sebanyak 1,2-1,5 g/kg berat badan setiap hari dengan setidaknya 60% berupa protein dengan nilai biologis tinggi serta evaluasi kemampuan perawatan dan penggantian CAPD di rumah.

Sexual dysfunction is a complication of terminal kidney failure. The problem of fulfilling sexual needs in men undergoing CAPD is influenced by many factors. This study aimed to find out the most dominant factor affecting man sexual dysfunction who undergo CAPD. The design of this study was cross sectional analysis with a sampel of 70 CAPD man using purposive sampling technique. The results showed there was a relationship between age (p=0,0024), urea (p=0,018), and albumin (p=0,001) with the incidence of sexual dysfunction. The most dominant factor affecting is albumin, where patients who have albumin levels < 3.5 g/dL are at risk of experiencing sexual dysfunction 9.3 times greater than patients with albumin levels 3.5-5 g/dL after being controlled by age variables. The recommendation of this study are protein intake of 1.2-1.5 g/kg body weight with at least 60% of protein with high bological value and evaluation of the ability of care and replacement of CAPD at home."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rich, Phil
New York: John Wiley & Sons, 2000
616.860 3 RIC h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sakti Oktaria Batubara
"CAPD merupakan suatu tehnik dialisis dengan menggunakan membran peritoneum sebagai membran dialisis yang memisahkan dialisat dalam rongga peritoneum dan plasma darah dalam pembuluh darah peritoneum. Berbagai komplikasi dapat timbul pada penanganan CAPD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko terjadinya komplikasi CAPD.
Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah 130 pasien CAPD di RSUD Dr. Moewardi Surakarta dan RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta yang dipilih dengan cara purposive sampling.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap prosedur standar ( p = 0,019) dan higienitas saat penggantian cairan dialisat (p = 0,013) memiliki hubungan yang bermakna dengan komplikasi CAPD. Pasien dengan higienitas kurang baik saat mengganti cairan dialisat berisiko untuk mengalami komplikasi CAPD 3,82 kali lebih besar dibandingkan dengan pasien yang higienitasnya baik setelah dikontrol oleh variabel kepatuhan terhadap prosedur standar CAPD.
Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlu dilakukan evaluasi berkala terhadap kemampuan perawatan CAPD dirumah.

CAPD is a dialysis technique using peritoneal membran as a dialysis membrane that separate the dialysate in the peritoneal cavity and blood plasma in the blood peritonium vessels. This study aimed to identify the risk factors of complications on CAPD.
The study used a descriptive design with cross sectional analytic. The population in this study was 130 CAPD patients in hospitals RSUD Dr. Moewardi Surakarda and RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, selected by using purposive sampling.
The results of the study indicated that adherence to standard procedures (p = 0.019) and hygiene during the dialysate fluid replacement (p = 0.013) had a significant association with complications of CAPD. The patients with poor hygiene during dialysat replacement had a risk for experiencing complication of CAPD at about 3.82 times greater than patients who had good hygiene when controlled by variable of adherence to standard procedures CAPD.
The recommendation of this study was the necessity of conducting periodic evaluation of the patient?s ability of CAPD treatment at home.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kuswantoro Rusca Putra
"Pelaksanaan praktik keperawatan tidak terlepas dengan adanya lingkungan kerja perawat dan karakteristik perawat. Komponen lingkungan kerja yang dimaksud di atas meliputi kepemimpinan, manajemen dan budaya; kendali terhadap beban kerja; kendali terhadap praktik; dan sumber yang memadai.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lingkungan kerja perawat dan karakteristik perawat dengan pelaksanaan praktik keperawatan. Penelitian dilakukan di IRNA I dan IRNA II RSU Dr. Saiful Anwar Malang pada tanggal 1 Mei sampai dengan 20 Mel 2006 menggunakan desain penelitian deskripsi korelasional dengan rancangan penelitian cross sectional terhadap 196 orang perawat pelaksana dengan tiga jenis instrumen yang terdiri atas Lingkungan Kerja Perawat, Karakteristik Individu, dan Pelaksanaan Praktik Keperawatan.
Hasil penelitian dengan analisis bivariat menggunakan Pearson's Product Moment Correlation Coeficient, test dan anova menunjukkan bahwa variabel lingkungan kerja perawat (kepemimpinan, manajemen dan budaya; kendali terhadap beban kerja; kendali terhadap praktik dan sumber yang memadai) secara statistik menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan pelaksanaan praktik keperawatan (p < 0,05). Sedangkan variabel confounding tidak memiliki hubungan dengan pelaksanaan praktik keperawatan dan tidak mempengaruhi pelaksanaan praktik keperawatan. Subvariabel yang paling berpengaruh terhadap pelaksanaan praktik keperawatan adalah kendali terhadap praktik. Kesimpulannya bahwa kendali terhadap praktik merupakan suatu otoritas dan tanggung jawab perawat dalam memberikan praktik keperawatan secara akontabel yang merupakan elemen penting bagi keperawatan profesional. Implikasi terhadap keperawatan pada penelitian ini adalah perlu dilakukan upaya agar perawat memiliki kendali terhadap praktiknya melalui penerapan jenjang karir klinik bagi perawat yang mengatur tanggung jawab perawat dalam melakukan asuhan kepada klien yang disesuaikan dengan kompetensi dan pendidikan pada jenjang karirnya."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
T17485
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eriza Tjahjono
"Propofol merupakan agen anestesi intravena yang paling banyak digunakan karena menghasilkan anestesi yang baik dengan masa pulih singkat. Namun sering disertai nyeri saat injeksi sampai dengan 70-90% pasien. Di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, nyeri sering diatasi dengan pencampuran lidokain tetapi angka kegagalannya masih mencapai 32%. Sedangkan ondansetron (diberikan sebagai anti muntah) terbukti mengurangi nyeri akibat injeksi propofol sehingga dipilih untuk diujikan pada penelitian ini karena tidak menambah biaya tetapi hanya merubah waktu pemberian.
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan nyeri premedikasi ondansetron dengan pencampuran lidokain saat induksi anestesi menggunakan propofol di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Pasien ASA I dan II sejumlah 50 orang yang menjalani operasi elektif dengan pembiusan umum menggunakan Propofol di Instalasi Bedah Sentral Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang. Sampel dirandomisasi sederhana menjadi dua kelompok perlakuan yaitu kelompok Lidokain (lidokain 40 mg dicampurkan dalam 100 mg Propofol yang kemudian disuntikkan intra vena) dan kelompok Ondansetron (injeksi ondansetron 4 mg intra vena 1 menit sebelum propofol). Derajad nyeri kemudian dinilai berdasarkan Observer Pain Scale (OPS) oleh peneliti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ondansentron (68% pasien tidak nyeri, 20% nyeri ringan, 8% nyeri sedang, dan 4% nyeri berat) mengurangi nyeri yang sebanding dengan pencampuran lidokain (72% pasien tidak nyeri, 20% nyeri ringan, dan 8% nyeri sedang) dengan nilai p = 0,700 (p bermakna < 0,05) pada uji Mann Whitney. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa premedikasi ondansetron mengurangi nyeri yang sebanding dengan pencampuran lidokain saat induksi anestesi menggunakan propofol di Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang.

Propofol is the most popular intravenous anesthetic agent used. Propofol is a good anesthetic agent with short recovery time but often accompanied with pain in 70-90% patient. Lidocaine mixture is often used in Saiful Anwar Hospital Malang to relief pain but still with 32% failure. While ondansetron (antivomiting agent) proven to reduce pain caused by propofol injection, therefore chosen to be used because it will not increase medical cost by only changing time of injection.
Purpose of this research is to compare pain score between ondansentron premedication with lidocaine mixture during anesthesia induction with propofol in Saiful Anwar Hospital Malang. All 50 patients diagnosed with ASA I and II undergo elective surgery in Sentral Operating Theater Saiful Anwar General Hospital with general anesthesia using Propofol is our sample. All sample undergo simple randomization into two groups. First is Lidocaine Group (Lidocaine 40 mg mixed in 100 mg Propofol and injected intravenously). Second is Ondansetron Group (Ondansetron 4 mg injected intravenously 1 minute before propofol). Pain score is evaluated with Observer Pain Scale (OPS) by the researcher.
Our result shows that ondansentron (68% patient has no pain, 20% mild pain, 8% moderate pain, and 4% severe pain) reduce pain similar with lidocaine mixture (72% patient has no pain, 20% mild pain, and 8% moderate pain) with p value = 0,700 (p significant < 0,05) with Mann Whitney test. Conclusion of this research is that ondansetron premedication reduce pain similar with lidocaine mixture during anesthesia induction using propofol in Saiful Anwar Hospital Malang.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Anjaswarni
"Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang mempunyai fungsi utama menyediakan dan menyelenggarakan upaya keseliatan. Keberhasilannya dalam rnemberikan pelayanan dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya adalah pelayanan keperawatan yang memberikan pelayanan secara terus menerus selama 24 jam. Dengan demikian pelayanan keperawatan adalah ujung tombak pelayanan kesehatan di rumah sakit yang dapat menjadi salah satu indikator mutu pelayanan kesehatan serta berperan dalam menentukan kepuasan klien sebagai tolok ukur mutu pelayanan. Salah satu bentuk pelayanan keperawatan yang perlu mendapat perhatian adalah perilaku `caring' perawat yang merupakan inti atau fokus dalam keperawatan sebagai bentuk praktek keperawatan profesional. Sehubungan dengan hal tersebut maka dirasakan perlu melakukan evaluasi kepuasan klien khususnya yang berhubungan dengan perilaku `caring' perawat di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Saiful Anwar Malang.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif analitik dengan desain penelitian `cross sectional'. Tujuan penelitian adalah menganalisis tingkat kepuasan klien terhadap perilaku `caring' perawat dan hubungan kepuasan klien dengan karakteristik demografi dan sosial ekonomi dan faktor psikologi 1dien. Populasi dalam penelitian ini adalah semua klien yang dirawat di Instalasi Rawat Inap I dan U RSUD Dr. Saiful Anwar Malang pada bulan Mei sampai Juni 2002, penarikan sampel dilakukan dengan teknik acak sederhana (simple random sampling) sejumlah 125 responder. Data yang diperoleh adalah data primer yang dikumpulkan secara langsung dengan cara wawancara. Validitas dan reliabilitas instrumen telah diuji sebelum penelitian dilakukan dengan menggunakan uji korelasi `Pearson' dan uji koefisien reliabilitas `Alpha Cronbach'.
Hasil pengujian cukup valid dan reliabel pada r = 0,349 dan alpha = 0,8982 untuk instrumen harapan klien terhadap perilaku `caring' perawat dan alpha = 0,9188 untuk pelaksanaan perilaku 'caring' yang diterima klien.
Berdasarkan hasil analisis didapatkan bahwa rata-rata pencapaian tingkat kepuasan klien terhadap perilaku `caring' perawat adalah 82,25 % yang diperoleh dari membandingkan harapan dan kenyataan. Dengan menggunakan mean sebagai cut off point diketahui bahwa sejumlah 67 orang (53,6 %) kepuasannya di atas rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa pencapaian tingkat kepuasan ini belum 100 % memenuhi harapan klien . Hasil analisis fungsi dengan diagram kartesius diketahui bahwa faktor `carative''caring' yang sudah dilaksanakan dengan baik oleh perawat dan memberi rasa puas klien adalah (1) pendekatan humanistik dan altruistik, (2) kepekaan terhadap diri sendiri dan orang lain, (3) Meningkatkan dan penerimaan ekspresi peraaan positif dan negatif (4) memberi bantuan dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Hasil analisis korelasional terdapat hubungan yang signifikan antara jumlah dirawat dengan tingkat kepuasan klien dengan Pv = 0,009. Makin sering klien dirawat, makin rendah tingkat kepuasannya. Hasil uji ?t? dan ANOVA didapatkan ada perbedaan yang signifikan antara tingkat pendidikan klien dengan tingkat kepuasan klien dengan Pv = 0,05. Makin tinggi tingkat pendidikan klien, makin rendah tingkat kepuasannya. Pada analisis regresi linier ganda didapatkan bahwa 12,5 % saja sub variabel jumlah dirawat, pendidikan, dan pekerjaan menjadi penentu tingkat kepuasan klien terhadap perilaku `caring' perawat. Variabel yang paling signifikan dan besar perannya sehagai faktor penentu tingkat kepuasan klien terhadap perilaku `caring' perawat adalah variabel pendidikan klien dengan Pv = 0,003 dan koefisien betha = - 0,268.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa hanya sebagian klien kepuasannya di atas rata-rata dan sebagian kecil klien kepuasan mencapai 100 % atau lebih. Sehubungan dengan hal tersebut make pihak rumah sakit perlu meningkatkan mutu pelayanan keperawatan yang berfokus pada perilaku 'caring' perawat dengan cara meningkatkan kemampuan dalam `profesional caring'. Aspek atau faktor `carative' dalam `caring' yang menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan berdasarkan analisis diagram kartesius adalah (1) membina hubungan saling percaya dan saling membantu dan (2) meningkatkan proses pembelajaran dalam hubungan interpersonal.

The Analyses Of Client Satisfaction Toward Nurse's Caring Behavior In The General Hospital `Dr. Saiful Anwar' In MalangHospital as the health service has function to prepare and provide health care. The successful of health care service depend on many factors, one of them is how to manage nursing care at 24 jam hours continuous. So that the nursing care is the basic of health care services at the hospital, and influence the client's satisfaction level as indicator of quality. Attention should be given to nurse's behavior especially `caring' as a focus of professional nursing pratice. In order that it was necessary to evaluate client's satisfaction related to nurse's 'caring' behavior In The General Hospital `Dr_Saiful Anwar' Malang.
The design in this sudy was descriptive analyses on cross sectional. The purpose of the study was to analyses the client's satisfaction level toward by nurse's caring behavior and correlation between client's satisfaction level with demography and social economic and psychology factors . The population in this study were all the client who had admatted in installation I and II during May to June 2002 in the General Hospital `Dr. Saiful Anwar' in Malang. The number of sample was 125 respondents were selected by using simple random sampling. The primary data were collected by direct interviev. The validity and reliability of the instruments had examinated before research by using person correlation test and coeficience cronbach alpha. The result of the examination is valid enough and reliable at r = 0,349 and alpha = 0,8982 for expected instrument and alpha = 0,9188 for performance instrument.
The result of analyses, that the mean of client's satisfaction level to nurse's caring behavior was 82,25 percent. If we used mean as cut off point there were 67 persons (53,6 %) have satisfy above mean. This client's satisfaction not gain 100 percent. The result of analyses of function with cartecius diagram, the performance of four carative factors on caring was good there were (1) forming and acting from a humanistic and altruistic systems of values, (2) Sensitives to self and others, (3) promoting and accepting the expression of positive and negative feelings and emotions, and (4) assisting with gratification of basic human needs. The correlation analyses, there was significance correlation between the number of admitted to hospital with client's satisfaction level at Pv = 0,009, and the correlation is linier. The elder client had less satisfaction level than the young client. The result in differences of two mean with `t' test and ANOVA there were significance correlation between client's education with client's satisfaction level at Pv = 0,05. The client high education level had less satisfaction than low education. The multiple linier regression analyses got that 12,5 percent the number of admitted to hospital, education, and job influence the client satisfaction level, client education had dominance and significance at Pv = 0,003 and betha coefficient = - 0,268.
Finally, the results were part client who had satisfied level of client satisfaction above mean and there were less the satisfaction level gained on 100 %. So that the hospital must increased the quality services especially on nurse's caring behavior. From Cartecius diagram, there are two aspects on carative factors that must increase (1) developing helping - trusting relationship and (2) promoting teaching-learning process in interpersonal relationships.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
T564
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>