Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33131 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Jeffry A.M. Dendeng
"ABSTRAK
Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup tinggi pada tahun-tahun
terakhir ini telah memberikan dampak yang positif bagi pendapatan
masyarakat pada umumnya. Seiring dengan meningkatnya pendapatan
masyarakat, meningkat pula kesadaran untuk melakukan transaksi keuangan
dengan bank. Disamping itu deregulasi di sektor perbankan yang bertujuan
menciptakan kehidupan perbankan yang sehat dan dinamis, telah ikut pula
mendorong masyarakat untuk memanfaatkan jasa perbankan. Di sisi lain,
instrumen-instrumen keuangan juga bertumbuh dengan pesat mengarah ke
globalisasi dan hal ini telah membuka kesempatan bagi perusahaan-
perusahaan skala besar untuk mencapai akses pembiayaan tidak saja dari
sektor perbankan tetapi dari berbagal sumber lain baik di dalam maupun di
luar negeri. Fenomena-fenomena ini telah mendorong perubahan pasar
perbankan ke arah retail banking.
PT. Bank Negara Indonesia (persero) atau yang dikenal dengan sebutan
Bank BNI melihat perubahan ini sebagai suatu peluang dan perlu segera
diantisipasi. Langkah yang dilakukan oleh Bank BNI adalah menempatkan
retail banking sebagai target sasaran jangka panjang Bank BNI disamping
mempertahankan keunggulan di corporate banking.
Mengembangkan blsnis retail banking bagi Bank BNI bukanlah
merupakan piihan yang mudah untuk dilakukan karena selain Bank BNI
dikenal sebagai suatu bank yang selama ini lebih banyak beroperasi di pasar
corporate banking juga persaingan di pasar retail banking itu sendiri sangat
ketat baik dari bank-bank yang selama ini telah menggarap bisnis tersebut
maupun bank-bank lain yang juga akan mulai memasukinya. Untuk
mengantisipasi kondisi tersebut diperlukan adanya suatu strategi atau kiat-
kiat tersendiri yang perlu diciptakan dan dilaksanakan agar sasaran yang
ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien.
Dalam rangka mencari strategi yang tepat diperlukan analisa
mengenai lingkungan eksternal maupun internal yang mempunyai
keterkaitan langsung dengan pengembangan retail banking di Bank BNI
Lingkungan eksternal Bank BNI selain lingkungan jauh atau remote
environment juga lingkungan industri atau industry enviroenment.
Analisa atas lingkungan ekstemal lebih ditekankan pada Iingkungan
industri yaitu industri perbankan, karena perubahan sedikit saja pada
industri perbankan mempunyal dampak yang besar bagi operasional Bank
BNI Hasil analisa industri perbankan menunjukkan adanya pergeseran
peran dari kelompok bank persero ke kelompok bank umum swasta nasional
khususnya dalam penghimpunan dana maupun penyalurannya dalam
bentuk kredit. Pergeseran tersebut tidak terlepas dan meningkatnya kualitas
pelayanan yang diberikan, pemanfaatan sarana promosi dan iklan secara
efektif serta pemanfaatan teknologi perbankan modern di era globalisasi.
Situasi ¡ni apabila tidak dianusipasi dapat merupakan ancaman bagi Bank
BNI khususnya dalam mengembangkan bisnis retail banking.
Analisa faktor-faktor internal Bank BNI ditekankan pada dua hal pokok
yang dibutuhkan dalam pengembangan retail banking yaitu kualitas
pelayanan dan kualitas produk. Hasil analisa kualitas pelayanan Bank BM
menunjukkan adanya beberapa hal yang perlu ditingkatkan khususnya pada
perbaikan beberapa elemen sistem dan prosedur, penìngkatan kualitas
sumber daya manusia, dukungan dan struktur organisasi serta sistem
delivery yang kesemuanya diarahkan untuk menciptakan konsistensi
pelayanan kepada nasabah.
Analisa mengenai kualitas produk dibatasi pada produk-produk
penghimpunan dana yang menunjang pengembangan retail banking yaitu
tabungan, kartu ATM dan deposito. Hasil analisa mengenal kualitas produk
menunjukkan perlunya upaya mengurangi pembebanan biaya kepada
nasabah khususnya produk kartu mahasiswa serta melakukan integrasi atas
keanekaragaman produk yang ada, sehingga dapat lebih bermanfaat dan
memudahkan bagi nasabah dalam melakukan transaksi.
"
1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sukma Sanali
"Tesis ini merupakan laporan penelitian tentang penanganan sengketa perbankan bidang perkreditan (selanjutnya disebut sengketa perbankan) oleh bank di pengadilan, bertujuan untuk menjawab pertanyaan akademis, bagaimana jika arbitrase dijadikan alternatif untuk menyelesaikan sengketa perbankan di Indonesia.
Penelitian ini adalah penelitian normatif dan empiris yang dimulai dengan meneliti data sekunder yang berupa literatur-literatur dan peraturan perundang-undangan serta yurisprudensi yang berkaitan. Selanjutnya, penelitian lapangan dilakukan di Kantor Pusat Bank BNI untuk memperoleh data bagaimana penyelesaian sengketa perbankan di Bank BNI oleh pengadilan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penanganan sengketa perbankan yang diproses melalui pengadilan sering dihadapkan pada berbagai permasalahan yang erat kaitannya dengan bentuk penyelesaian sengketa, lamanya penyelesaian sengketa, adanya tuntutan hak yang tidak berdasarkan hukum serta sikap a priori pengadilan terhadap bank. Adanya permasalahan tersebut dapat menghambat bank dalam upaya menyelesaikan kredit macet karena dalam usahanya bank sebagian besar menggunakan dana yang berasal dari masyarakat. Untuk itu, perlu dicari alternatif bentuk penyelesaian sengketa yang lebih sesuai dengan ciri dan sifat usaha perbankan. Hal itu sesuai dengan pendapat bahwa untuk penyelesaian suatu sengketa seharusnya dipilih bentuk penyelesaian yang paling tepat.
Atas dasar hal tersebut, di antara bentuk penyelesaian sengketa yang ada, arbitrase akan lebih tepat menjadi alternatif untuk menyelesaikan sengketa perbankan di Indonesia karena arbitrase memberikan kebebasan, pilihan, otonomi, dan kerahasiaan. Di samping itu, putusan yang dikeluarkan oleh arbitrase bersifat final and binding sehingga kesemuanya itu lebih sesuai dengan ciri dan sifat usaha perbankan. Demikian pula arbitrase akan sangat penting dalam menghadapi internasionalisasi perbankan.
Untuk memberdayakan arbitrase dalam penyelesaian sengketa perbankan di Indonesia, para manajemen bank perlu merubah kebijaksanaan (hukum) penyelesaian sengketa perbankan yang timbul antara bank dengan nasabah debiturnya. Perubahan tersebut adalah mengenai kemungkinan memilih penyelesaian sengketa di samping melalui pengadilan, juga melalui arbitrase. Selain itu dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Arbitrase yang saat ini sudah disiapkan hendaknya pengaturan menyangkut perbankan memperoleh perhatian."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simangunsong, Roy Arnold Sabam David
"Industri perbankan Indonesia pada awalnya mengalami perkembangan sangat pesat diakibatkan oleh kebijakan pemerintah yang dikenal dengan pakto 88. Pertumbuhan yang sangat pesat tersebut ternyata tidak disertai dengan pengawasan yang ketat sehingga pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia banyak bank yang ditutup dan direkapitalisasi. Akibat jumlah bank yang ada semakin kecil, produk yang hampir sejenis serta insentif bunga tidak lagi menarik menyebabkan bank harus melakukan diferensiasi dalam bersaing. Salah satu diferensiasi yang dilakukan bank adalah mengembangkan internet sebagai altematif saluran distribusi jasa keuangan. BII yang merupakan bank yang melayani pasar retail termasuk salah satu pionir dalam menawarkan layanan internet banking. Tujuan dari penulisan karya akhir ini adalah untuk menganalisa strategi pemasaran BII untuk internet banking, kesiapan dalam mendukung layanan tersebut dan juga seberapa jauh BII telah mengoptimalkan layanan internet banking . Melalui analisa lingkungan didapatkan bahwa kesempatan untuk internet banking BII masih cukup baik. Hal tersebut terlihat seperti keinginan pemerintah mendukung PKM (Pengusaha Kecil-Menengah)melakukan perdagangan elektronis( e-commerce ), infrastruktur teknologi informasi serta pertumbuhan pengguna internet. Namun dibalik kesempatan tersebut juga terdapat ancaman yang harus diwaspadai seperti pengecilan bandwith, biaya yang harus ditanggung konsumen, budaya komunitas virtual Indonesia serta khusus untuk perbankan adalah mengenai regulasi rasio kecukupan modal. Dari analisa internal juga didapatkan bahwa masih terdapat kelemahan-kelemahan yang harus diperbaiki dengan segera agar internet banking dapat berjalan lebih baik. Dari analisa industri didapatkan bahwa persaingan di industri perbankan cukup ketat sehingga diperlukan suatu strategi diferensiasi yang terfokus kepada konsumen ataupun melalui kapabilitas perusahaan agar tidak mudah ditiru oleh kompetitor. Akibat tidak tersegmennya konsumen internet banking BII menyebabkan kegiatan pemasaran mereka tidak terlalu terfokus. Hal tersebut juga menyebabkan mereka sulit untuk melakukan pengembangan produk ataupun layanan yang ditujukan khusus untuk konsumen internet banking. BII juga terlihat belum mengoptimalkan kegunaan daii internet untuk memasarkan produk ataupun layanan tersebut sehingga terkesan tidak serius. Personalisasi layanan yang seharusnya mereka lakukan agar internet banking tersebut menjadi lebih sukses tidak terjadi akibat tidak mempergunakan CIF secara otpimal atau karena tidak melakukan riset. Agar kegiatan pemasaran yang mereka lakukan lebih optimal dan efektif sebaiknya BII melakukan segmentasi terhadap konsumennya. Dengan melakukan segmentasi tersebut mereka dapat merancang produk dan layanan yang lebih kompetitif dan juga mereka akan lebih dapat melakukan personalisasi layanan internet banking yang mereka tawarkan. BII juga sebaiknya lebih mengoptimalkan kegiatan pemasaran melalui internet baik itu melalui banner, sulur-sulur situs dan juga membangun komunitas virtual sehingga selain untuk meningkatkan loyalitas konsumen juga dapat mengedukasi konsumen. Melalui edukasi pasar maka time to acceptace konsumen mengenai internet banking dapat dipercepat."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Manalu, R.Y. Laura
"ABSTRAK
Pemilíhan topik tugas akhir ini dilatarbelakangi oleh ketertarikan penulis
terhadap perkembangan produk tradefinance yang disediakan oleh perbankan untuk
mendukung aktivitas nasabah eksportir & importir terutama eksportir karena
kegiatan ini berkontribusi tinggì untuk memperkuat devisa negara. Perkembangan
berbagai sektor ekonomi memerlukan dukungan perbankan sebagai salah satu
sumber pendanaan bagi dunia usaha tersebut. Karena itu produk-produk trade
finance yang memang spesifik ditujukan pada kegiatan ekspor-impor merupakan
salah satu solusi bagi kedua pihak yaitu bank untuk pengembangan produk
perbankan berbasis fee?based income dan pengusaha guna meminimalisir financing
cost produksinya. Pilihan terhadap produk forfaiting terutama karena produk mi
spesifik disediakan untuk mendanai aktivitas ekspor.
Melalui piihan metode penelitian analisis deskriptif baik data primer
maupun data sekunder disajikan secara kualitatif dan kuantitatif. Data primer
diperoleh dengan mengadakan tatap muka langsung dan wawancara dengan pihak
bank lokal sementara data sekunderdiperoleh melalui berbagai buku, artikel
majalah dan kliping media cetak dan berbagai terbitan.
Produk forfaiting adalah suatu fasilitas pendanaan yang pada prinsipnya
mengubah kiaim tagihan eksportír baik berupa bills/draft atau dengan surat promes
berjangka waktu tertentu menjadi dana likuid yang dapat diperoleh secara cepat.
Forfaiter yang membeli tagihan tersebut dari bank atau bank eksportir, berarti
sekaligus mengambil alih risiko yang terkandung pada tagihan itu baik country risk,
commercial risk dan currency risk yang berkaitan dengan importir. Sifat forfaiting yang
with no recourse menjadi daya tarik yang spesifik dan fasilitas ini dibandingkan
dengan fasilitas pendanaan ekspor lainnya yang masih mengandung risiko
kegagalan atau batalnya pembayaran.
Operasional forfaiting berkembang dalam aplikasinya sesuai dengan
perkembangan dunia usaha. Dan yang tadinya ditujukan untuk ekspor berjangka
menengah-panjang dan nilai transaksi yang tinggi, sekarang forfaiting dapat
diaplikasikan untuk ekspor berjangka pendek serta nilai transaksi yang lebih kecil
sekalipun. Daya tarik fasilitas forfaiting bagi bank berkaitannya dengan terbebasnya
aplikasi fasilitas ini dari berbagai ketentuan dan peraturan Bank Indonesia yang
bertujuan untuk mengendalikan ekspansi kredit perbankan. Forfaiting tidak
membawa implikasi pada CAR, RR, struktur permodalan, PKLN dan LDR bank.
Dari aspek biaya (cost of money), fasilitas forfaiting ini berbiaya rendah karena
sumber dananya berasal dari luar negeri, dimana sumber pendanaan domestik
tidak dapat menyamai struktur biaya forfaiting.
Daya tarik forfaiting bagi eksportir berupa kemudahan operasional fasilitas
ini serta beban biaya dana (cost of money) yang rendah sehìngga dapat mendukung
harga jual produk agar kompetitif di pasar ekspor. Jaminan yang diberikan oleh
forfaiting berupa kepastian dan cepatnya pembayaran yang diterma eksportir
membuka peluang bagi eksportir untuk memperluas pasar ekspornya ke negara
negara yang dijamin oleh forfaiter meskipun calon importir di negara tersebut baru
bagi eksportir. Aplikasi forfaiting yang dilakukan oleh 2 (dua) bank komersial, di
Eropa dan di pasar domestik, membuktikan keunggulan dan manfaat forfaiting
yang didapat oleh bank yang menawarkan jasa tersebut pada nasabah eksportir.
Perkembangan forfaiting di Indonesia pada masa mendatang berkaitan
dengan peluang dan ancaman yang dihadapi industri perbankan nasional. Peluang
forfaiting di Indonesia masih terbuka lebar karena jika dilihat dari sisi penawaran,
maka belum banyak bank devisa yang mampu mengaplikasikannya sementara dari
sisi permintaan, potensi aktivitas ekspor Indonesia masih terus akan meningkat
dengan diperkuat oleh komitmen pemerintah baik dari sektor moneter maupun rill
untuk terus memajukan ekspor Indonesia. Bank-bank devisa kelas atas memiliki
peluang besar untuk memperoleh fasilitas forfaiting dari bank asing karena
kepercayaan dunia perbankan internasional pada kinerja bank-bank itu. Sisi
ancaman yang harus diperhitungkan adalah saat masuknya kompetitor baik bank
asing ataupun lembaga keuangan asing yang mampu menawarkan langsung produk
forfaiting secara lebih efisien karena telah berpengalaman dan memiliki
infrastruktur yang mendukung berkembangnya forfaiting seperti pasar sekunder
forfaiting.
"
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arie Indrakusuma
"Krisis ekonomi yang melanda Indonesia mengakibatkan Bank XYZ melakukan banyak perubahan yang signifikan dalam penanganan bisnisnya. Tingkat kemacetan pada kredit wholesale yang menyebabkan tingkat kerugian yang signifikan, sedangkan pendapatan dari usaha retail yang dijalankan menunjukkan suatu prospek yang sangat baik. Hal ini yang menyebabkan Bank XYZ untuk memfokuskan bisnisnya dalam Retail Banking.
Perubahan bisnis ke arah Retail Banking yang menuntut peranan dari Teknologi Infonnasi yang sangat tinggi. Sehingga perancangan SVIT akan turun menentukan tingkat kesuksesan dari Bank XYZ tersebut dalam mengarahkan ke suatu bisnis yang baru.
Perancangan Teknologi Informasi yang tepat dan sesuai dan adaptif dengan perkembangan bisnis dan teknologi dibutuhkan sekali untuk menempatkan Bank XYZ dalam untuk memiliki competitive advantage dalam menjalankan bisnisnya. Thesis ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai perubahan bisnis yang selalu diikuti dengan perubahan dari Teknologi Informasi. Dan merancang sebuah sistem yang sesuai dengan arah perubahan tersebut, sebuah rancangan Retail Banking pada khususnya."
Depok: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2002
T40368
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isye Lily Amelia
"Tujuan penelitian untuk mengetahui pelaksanaan, peluang, kendala dan potensi pengembangan aktivitas sekuritisasi tagihan KPR melalui Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIKEBA) pada bank yang menjadi pelopor aktivitas tersebut. Bagi bank, sekuritisasi aset menjadi alternatif strategi pendanaan jangka panjang yang ditujukan untuk mengatasi masalah mismatch antara pembiayaan kredit bertenor panjang dengan sumber dana jangka pendek. Dana segar hasil sekuritisasi dapat membantu bank memperbesar kapasitas pembiayaan KPR bagi masyarakat. Dalam pelaksanaannya masih terdapat kendala pemasaran produk KIK-EBA, karena relatif baru bagi investor. Namun, mengingat kebutuhan perumahan tinggi dan untuk pembiayaannya membutuhkan dana yang besar, maka kedepannya sekuritisasi aset akan semakin berkembang dengan dukungan semua pihak yang terlibat.

The purpose of this study is to know the implementations, opportunities,obstacles and development of mortgage asset securitization through Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) at one bank that became a pioneer in securitization. This activity has become an alternative strategy for long term financing to resolve mismatch problems between lending and third party fund. The proceeds of mortgage asset securitization could enhance bank's capacity in lending. However, this kind of investment (EBA) still new in Indonesia and takes time to improve. In the future, EBA will take an important role in the financing market since the demand of housing is high. Nevertheless, the need of housing is absolutely high in the society and for financing the mortgages, bank needs a huge of funds. In the future, this kind of activity will be growing with some support from all parties."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2012
T31533
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Adriana Wahyu Kusuma
"Penyusunan skripsi ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif atau kepustakaan. Pada Januari 2012, Bank Indonesia menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.14/2/PBI/2012 tentang Perubahan atas PBI No.11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu (APMK). PBI APMK ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kartu kredit yang sehat yang salah satunya dengan meningkatkan prinsip kehati-hatian melalui pengaturan manajemen risiko kredit yang lebih tegas. Manajemen risiko kredit antaralain persyaratan memperoleh kartu kredit (usia dan pendapatan); Batas maksimum plafon kredit, jumlah penerbit kartu kredit, penarikan tunai dengan kartu kredit dalam sehari suku bunga kartu kredit; Batas minimum pembayaran oleh pemegang kartu kredit. Dengan adanya batas-batasan tersebut, Bank-Bank Umum mengambil langkah untuk menerbitkan produk kartu kredit yang dapat mengantisipasi PBI APMK ini, yaitu kartu kredit co-branding. Penyusunan skripsi ini adalah untuk menjawab bagaimana penerapan prudential banking menurut PBI APMK yang menjadi alasan terbitnya kartu kredit co-branding sebagai langkah strategis atas PBI tersebut dan bagaimana prudential banking dalam kartu kredit co-branding Garuda Indonesia-Bank BNI.

Preparation of this thesis uses normative research methods or literature. In January 2012, Bank Indonesia published Bank Indonesia Regulation No. 14/2/PBI/2012 on the Amendment to Bank Indonesia Regulation No. 11/11/PBI/2009 on Card-Based Payment Instrument Activities (APMK). PBI APMK aimed at implementing credit risk management in the payment card system.Credit risk management are requirements of obtaining a credit card (age and income); The maximum credit limit, the number of credit card issuers, credit card cash withdrawals in one day credit card interest rates; The minimum limit payment by the credit card holder. With the boundaries limit, the Public Banks take steps to issue a credit card product that can anticipate this PBI APMK, that is co-branded credit card. Preparation of this thesis is to answer how the application of prudential banking regulation according APMK which is the reason co-branded credit card as a strategic step due to the PBI and how prudential banking in credit card co-branding Garuda Indonesia and Bank BNI."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2013
S44987
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anditya Rahadian
"Bank merupakan badan usaha yang diberttuk untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan, dan mcnyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. (Pasal 1 angka ke-2 UU Perbankan). Kepercayaan masyarakat merupakan hal yang esensial bagi bank. Bank yang sehat, mempunyai nama baik, dan dikelola dengan profesional akan menimbulkan kepercayaan kepada masyarakat (nasabah) untuk menyimpan uangnya, dan bank yang marnpu memberikan nilai lebih akan menarik masyarakat (kreditor) untuk meminjam uang kepada bank.
Setiap usaha mempunyai risiko yang tidak bisa dihindarkan, tetapi bisa diprediksi dan akibatnya bisa dikurangi. Demikian juga suatu bank, Risiko usaha dari bank dapat berupa risiko pasar, risiko kredit, risiko likuiditas, risiko suku bunga, risiko nilai tukar, risiko hokum, risiko operasional, risiko reputasi, dan risiko kepatuhan. Bank Indonesia scbagai otoritas moneter di Indonesia wajib menjaga kepercayaan yang diberikan oleh Negara dan masyarakat untuk menjaga stabilitas moneter di Indonesia. Untuk itu, Bank Indonesia melalui PBI No.5/8/PBl/2003 mewajibkan setiap bank untuk menerapkan adanya manajemen risko bagi bank umum melalui serangkaian prosedur dan metodologi yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha Bank.
PT. Bank Himpunan Saudara 1906 merupakan bank umum berbentuk perseroan terbatas yang memberikan jasa perbankan konvensional misalnya memberkan kredit, deposito, tabungan, dan lainnya. Sebagai suatu bank, Bank Saudara tunduk kepada aturan di bidang perbankan yaitu UU Perbankan, Peraturan Bank Indonesia (PBI), Surat Edaran Bank Indonesia (SERI).. Di dalam PBI No.5/81PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum, setiap bank wajib untuk menerapkan manajemcn risiko untuk meminimalisasikan risiko yang pasti akan dihadapi melalui identifikasi, pengukuran, pemantauan dan pengendalian risiko. Untuk itu, sejak tahun 2004, Bank Saudara telah membuat divisi Manajemen Resiko. Divisi ini memantau setiap bulan setiap risiko yang ada dan melaporkannya kepada Direksi. Sebagai suatu perseroan terbatas, Bank Saudara tunduk kepada UU Perseroan Terbatas dan aturan pelaksana lainnya yang sudah menerapkan prinsip tata kelola perseroan yang sehat (good corporate governance/GCG) misalnya akuntabilitas (accountability) Direksi untuk mengelola perseroan dan pertanggungjawaban (responsibility) terkait dengan kepatuhan Bank Saudara terhadap perundang-undangan serta menjaga kepercayaan masyarakat."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2006
T18394
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hesti Sulistiati
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1992
S22851
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>