Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 106629 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Toto Sudargo
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press , 2015
641.302 TOT d
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Erison
"Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) merupakan masalah kesehatan yang perlu ditangani secara serius di Indonesia, karena sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.
Propinsi Sumatera Barat adalah salah satu daerah endemik "sedang" di Indonesia dengan prevalensi gondok/ Total Goiter Rate (TGR) sebesar 20,5%. Angka ini sangat tinggi bila dibandingkan dengan angka Nasional sebesar 9,8%. Sementara target yang hendak dicapai adalah kurang dari 5% pada tahun 2010. Dalam rangka penanggulangan dampak GARY, pemerintah Propinsi Sumatera Barat melalui Kepala Bappeda telah mengeluarkan Surat Keputusan Nomor:414/8/0811/PKSDMPK/Bappeda-2003 tentang Tim Penanggulangan GAKY di Propinsi Sumatera Barat.
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang gambaran dan faktor-faktor yang mendukung kinerja tim penanggulangan GAKY di Propinsi Sumatera Barat tahun 2003, dengan pendekatan sistem meliputi: Input struktur organisasi, aspek hukum dan kebijakan, tenaga, sarana pendukung dan biaya), Proses (koordinasi tim, pembagian tugas dan kewenangan, rencana kerja tim, pembinaan, monitoring dan evaluasi) dan Output (dokumen koordinasi, notulen pertemuan, dokumen pembagian tugas dan kewenangan, dokumen rencana kerja, dokumen pembinaan dan dokumen evaluasi).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim penanggulangan GAKY Propinsi Sumatera Barat tahun 2005 belum berfungsi secara optimal sebagai organisasi.
Berdasarkan hasil peneliuan yang dilakukan maka disarankan kepada Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota agar melakukan pembenahan internal dengan pembinaan personil, melakukan manajemen secara transparans, melakukan advokasi. Terhadap Tim GAKY disarankan agar menterjemahkan Surat keputusan tentang Tim GAKY sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan, membuat rencana kerja dan melakukan rakor secara berkala, merumuskan indikator dan kriteria masing-masing komponen tim, melakukan kajian dan evaluasi terhadap komponen dan proses koordinasi serta memberikan umpan balik kepada masing-masing unsur yang terlibat dalam upaya penanggulangan dampak GAKY di Propinsi Sumatera Barat tahun 2003. Selanjutnya Kepada Pemda dan DPRD Propinsi Sumatera Barat diharapkan dapat memberikan dukungan sehingga upaya penanggulangan GAKY di Propinsi Sumatera Barat dapat terlaksana dengan baik."
Depok: Universitas Indonesia, 2004
T13178
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kresnawan
"ABSTRAK
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang gizi disamping Kurang Kalori Protein, Kekurangan Vitamin A, dan Anemia Gizi besi.
Pada dewasa ini diperkirakan sekitar 30 juta penduduk Indonesia tinggal di daerah defisiensi iodium. Dari jumlah tersebut lebih dari 750 ribu menderita kretin endemik, 10 juta menderita gondok endemik dan 3,5 juta menderita GAKI lainya.
Akibat negatif dari GAKI ternyata lebih luas dari sekedar terjadinya pembesaran kelenjar gondok. Yang sangat mengkhawatirkan adalah akibat negatif pada susunan syaraf pusat yang akan berpengaruh pada kecerdasan dan perkembangan sosial masyarakat pada umumnya.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh tingkat pembesaran kelenjar gondok terhadap prestasi belajar murid sekolah dasar yang tinggal di daerah yang selama ini dikenal sebagai daerah defisiensi iodium. Penelitian ini merupakan penelitian analisis dengan pendekatan Cross Sectional, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan data sekunder dari survei dampak penanggulangan GAKI nasional yang dilaksanakan tahun 1988 - 1990.
Dalam penelitian ini tingkat pembesaran kelenjar gondok diketahui dengan cara inspeksi dan palpasi kelenjar gondok untuk kemudian ditetapkan statusnya menurut kriteria WHO tahun 1990. Kemudian tingkat pembesaran kelenjar gondok dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang menderita gondok terdiri dari gabungan tingkat pembesaran la, Ib, II dan III. Sera kelompok tidak menderita gondok (normal) yang terdiri dari tingkat pembesaran O. Sedangkan prestasi belajar diambil dengan cara mengutip angka rata-rata dari semua mata pelajaran yang tercantum dalam buku raport pada penilaian terakhir.
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor gondok terlihat berpengaruh terhadap prestasi belajar murid sekolah dasar, terutama di daerah endemik berat yang ditunjukkan dengan tingginya prevalensi TGR.
Berdasarkan kesimpulan tersebut beberapa saran yang perlu dikemukakan adalah perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menggunakan instrumen pengukur prestasi belajar yang baku dan objektif misalnya test IQ. Kemudian prestasi belajar perlu pula dibagi menjadi dua yaitu prestasi belajar yang bersifat intelegentif dan non intelegeftif. Perlu pula dilakukan penelitian tentang prestasi belajar yang dikaitkan dengan faktor gizi lainya disamping defisiensi iodium yaitu faktor KKP dan anemia gizi.
Selain itu disarankan pula untuk menggunakan menggunakan informasi epidemiologi yang diperoleh dari penelitian ini sebagai bahan penyuluhan khususnya dalam rangka meningkatkan "demand" terhadap garam beriodium. Kemudian disarankan agar melanjutkan upaya penanggulangan GAKI melalui suplementasi langsung baik suntikan maupun oral terutama di daerah endemik berat dan sedang. Agar penanggulangan GAKI lebih berhasil guna hendaknya diikuti pula dengan upaya peningkatan status gizi masyarakat khususnya KKP dan anemia gizi."
1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Rejeki
"ABSTRAK
GAKY merupakan salah sam masalah kexeharan masyarakat di Indonesm. Gamm
bwyodium ada/ah Salah sam cara untuk mcnanggulangf gangguan alcibat kekurangan
yodium yang dapa! mengakibatkan berbagai masalah gangguan akiba! kekurangan
yodium (GAKY). Penggunaan garam beryadium adalah cara penanggulangan _vang
praklis dan ;murah. Rumah langga yang menggunakan garam beryodium di K ecamalan
Bojongmangu sebesar 51 %. Scdangkan target USI adalah 90 % rumah rangga
menggunakan garam beryodium. Dengan melihal adanyua kesenjangan zensebul, jzkror-
_/Zzkror apa yang berhubungan dengan kandungan yodium daiam garam.
Tn/uan penelitian ini adalah unruk mengetahuifaktorfaktor yang berhubzmgan dengan
kandungan yodium dalam garam yang digunakan oleh rumah Iangga di Kecamaran
Bojongfnangu tahun 3007. _ __
Penelilian ini mengguna/ran design cross sccrfonal. Jumlah sampe1 216 di 3 desa. Wap
desa 3 RM tiap RW 2 RT dan Hap RT 12 rcsponden. Sebagai rcsponden adalah ibu
rumah rangga. Cara pengambilan .vampel menggunakan random. Variabel dependen
adalah kandungan yodium dalam garam yang dlgunakan oleh rumah langga. Variabel
independen yang dfteiitih adalah pendidlkan. pekerjaan, pendaparan, pengelahuan ibn
tenrang garam bcryodium, rempat membeli, persepsi harga, lama simpan, jenis garam,
wadah penyimpan, cam menyimpan dan Ierak menyimpan garam. .Pengumpulan data
mengzmakan Iodine Tast, timbangan, dan kuesioner.
Hasil penelirian ada/ah 16.2 % rumah tangga yang menggunakan garam beryodium
de/:gan kandungan yodium cukup berdasarkan pengetesan menggunakan Iodina Test,
38,9 % kurang mengandung yodium dan 44,9 % tidak mengandung yodium. Terbanyak
adalah bemuk garam bafa (85.2 %). Hasil analisis dengan menggunakan chi square
dnneroleh p value < 0,05 pada variabel promosi tentang penggunaan garam be1;vodium_
pengerahuan ibu tanrang garam beryodium, tempat membeli garam, jenis / bentuk
garam, cara menyimpan, dan letak menyimpan garam. Kesimpulannya bahwa bentuk garam yang paling banyak digunakan di masyarakat
adalah benluk garam bam. Kemungkinan Ierjadi bahwa garam bata bcvgyalc yang tidak
beryodium. Masih jauh untuk mencapai target USI 90 % rumah rangga menggunakan
garam beryodium. Banyalc program kegiaran yang harus dilaksanakan untuk
nzeningkatlcan penggunaan garam beryodium di Kecamatan Bojongmangu.

ABSTRACT
Iodine Deficiency Disorders (IDD) is one of public health problems in Indonesia. Iodine
Deficiency Disorder can cause many health problems. One of endeavors to address this
This effort is considered practical and in expensive. There
are 51 % households that use iodizes salt in Bojongmangu sub district, meanwhile, it is
targeted Universal Salt Iodization (USI) that 90 % of the household use iodizes salt.
Based on this data therefore, it is essential to know factors that related with the salt
iodine level at the household.
The aims of the study are to find out the factors that relate with salt iodine level that has
been consumed at the liouseholds.
This study used cross-sectional design. There are 2 l6 respondents in 3 villages. In each
village, 3 RW have been choosen. In each RW, 2 RT have been choosen and then in
each RT, 12 respondents have become the samples ofthe study. The housewives are the
samples of the study and they have been chosen randomly. The dependent variable is the
iodine level at the households. The independent variables consist of education,
occupation, income, knowledge about the iodize salt, place of purchase,cost perception,
duration of storage, the variety of the salt, container for storage, storage technique and
the location of storage. The data collection has been done using Iodine Test, weight
scale and questioner. `
The results of the study reveal that 16,2 % household use iodize salt with the sufficient
level based on iodine test, 38,9 % of them use insufficiently and 44,9 % do not use
iodize salt. Most of the households (85,2 %) use brick salt. T he data analysis use chi-
square, there are some variables that have p Value < 0,05, they are iodize salt promotion,
knowledge of the housewives, place of purchase, the kind of salt, thc storage technique
and place oh storage.In conclusion, the type of salt that most of the households use brick salt. Most of salt do
not have iodine especially the brick salt. This facts show that in population level, there
are many households that do not use iodine salt. The target ot`USI (90%) has not been
reached, thus, the effort to promote the use of iodize salt should be encouraged in
Bojongmangu sub district.

"
2007
T34327
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
R. Mohamad Arief Achdiar Adiwinata
"ABSTRAK
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) termasuk masalah kesehatan yang serius karena sangat berpengaruh terhadap perkembangan mental manusia, yang dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.
Kabupaten DT.II Purwakarta salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang termasuk daerah endemis GAKI Daerah endemis GAKI di Kabupaten Purwakarta pada tahun 1996, tersebar pada desa-desa di wilayah kecamatan, yaitu :
1. Kecamatan Bojong, dengan angka prevalensi GAKI, sebesar 36,80 %.
2. Kecamatan Pasawahan, dengan angka prevalensi GAKI sebesar 26,00 %.
3. Kecamatan Wanayasa, dengan angka prevalensi GAKI sebesar 13,70 %.
4. Kecamatan Darangdan, dengan angka prevalensi GAKI sebesar 10,70 %.
Dalam rangka penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium ( GAKI) di Kabupaten Purwakarta, telah dikeluarkan Surat Keputusan Bupati KDII Tingkat II Purwakarta Nomor : 501/SK.208-Perek/1996 tentang Pembentukan Tim Komite Nasional Garam (KNG ) Kabupaten DT.II Purwakarta.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengorganisasian Tim Komite Nasional Garam ( KNG) Kabupaten Purwakarta dengan pendekatan sistem, yaitu : Input : Struktur Organisasi, Tenaga, Sarana dan Biaya.
Proses : Pembagian Tugas, Perincian Pekerjaan, Pendelegasian Wewenang, Koordinasi, Rencana Kerja, Monitoring dan Evaluasi.
Sehingga diharapkan Out put nya yaitu dapat berfungsinya organisasi Tim KNG dalam penanggulangan GAKI di Kabupaten DT.II Purwakarta.
Penelitian ini bersifat kualitatif, yaitu menggambarkan pengorganisasian dari Tim KNG Kabupaten DT.II Purwakarta. Data di dapat dari hasil wawancara dengan responden yaitu anggota Tim Teknis KNG Kabupaten Purwakarta. Dan selanjutnya diolah dengan melakukan analisis isi yaitu dengan menganalisa hasil penelitian dan membandingkannya dengan teori-teori pada tinjauan kepustakaan.
Hasil penelitian dari seluruh variabel menunjukan bahwa Tim KNG Kabupaten Purwakarta belum berfungsi secara optimal sebagai organisasi bila dilihat dari input, proses dan out put.
Dari basil penelitian yang telah dilakukan, maka dengan ini disarankan agar Tim KNG, dapat menyusun struktur/bagan organisasi, pembagian tugas, perincian pekerjaan, rencana kerja, mengupayakan anggaran biaya, monitoring dan mengevaluasi hasil kegiatan yang dilaksanakan serta meningkatkan frekuensi pertemuan terutama lebih menekankan kepada proses koordinasi anggota Tim KNG.
Daftar Pustaka : 121 1984 -1997

ABSTRACT
Organizing The Salt National Committee Team ( KNG = Komite Nasional Garam) to Solve The Problems due to Iodine Deficiency ( GAKI = Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) in Purwakarta Regency in The Year 1997Disease due to Iodium Deficiency (GAKI = Gangguan Akibat Kekurangan Iodium) is one of serious health problems because it can interfere the human mental development and decrease the quality of human resources.
The regency of Purwakarta is one of the regencies in West Java Province which is still an endemic area of GAKI. The endemic areas of GAKI in Purwakarta in 1996 are spread in villages of the subdistricts as follow :
- Bojong subdistricts with 36.80 % of GAKI prevalence.
- Pasaahan subdistricts with 26.00 % of GAKI prevalence.
- Wanayasa subdistricts with 13.70 % of GAKI prevelence.
- Darangdan subdistricts with 10.70 % of GAKJ prevelence.
In order to solve the problem of the disease due to Iodium deficiency, Purwakarta has issued a Decision Letter of Purwakarta's Regent No. 501/SK.208-Perek/1996 about forming The Team of The Salt National Committee ( KNG = Komite Nasional Garam) of Purwakarta.
This study is aimed to study the organization of The Salt National Committee Team of Purwakarta. The system approaches used are :
- Input : Organization structure, manpower, facilities and finance.
- Proses : Job distribution, job description, authority delegation, coordination, plan of action, monitoring and evaluation.
- The expected out put is a proper function of KNG team in overcoming sodium related disease in Purwakarta.
This study is qualitative. It describes the organizing aspect of KNG team in Purwakarta. Data were collected from interviews with respondents i.e members of technical team of KNG of Purwakarta. They were , then, analyzed by analyzing the study result and compare it with the theories from the references.
The result from all variables shows that Purwakarta KNG team does not optimally function as an organization which can be seen from input, process and output aspects.
From this result, it is advised that the KNG team should form the organization structure, job distribution, job description, plan of action, increase the frequency of meetings, pursue for budget, monitor and evaluate result that have been done so far and give more stressing for better coordination among KNG team.
Reference : 12 (1984 -1997 )
"
Depok: Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kurniadi Husodo
"[ABSTRAK
Pendahuluan. Irigasi dan debridement yang adekuat dinilai sebagai faktor yang paling menentukan dalam pencegahan infeksi pada fraktur terbuka. Povidone Iodine dan hidrogen peroksida sering digunakan sebagai adjuvant pada proses irigasi untuk membunuh mikroorganisme dan menurunkan angka infeksi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai pengaruh povidone iodine dan hidrogen peroksida terhadap penyembuhan fraktur dan reaksi jaringan yang terjadi.
Metode. Empat puluh ekor tikus Sprague Dawley jantan dialokasikan acak ke dalam kelompok perlakuan, yaitu; kelompok I (kontrol), kelompok II (povidone iodine 10%), kelompok III (povidone iodine 1%), dan kelompok IV (hidrogen peroksida 3%). Pada minggu pertama, kedua, dan kelima masing-masing dikorbankan 3 ekor tikus pada setiap kelompok. Evaluasi penyembuhan fraktur dilakukan dengan histomorfometri menggunakan program ImageJ®, variabel yang dinilai meliputi; persentase jaringan fibrosa, jaringan tulang rawan, dan jaringan penulangan pada kalus. Reaksi jaringan dinilai dari jumlah sel limfosit dan makrofag yang dinilai secara semikuantitatif. Analisis statistik dilakukan dengan uji ANCOVA dilanjutkan dengan uji post hoc Dunnett.
Hasil. Persentase luas jaringan penulangan terbanyak ditemukan pada kelompok III, diikuti oleh kelompok I, kelompok IV, dan kelompok II. Persentase luas jaringan fibrosa terbanyak ditemukan pada kelompok II, diikuti oleh kelompok IV, kelompok I, dan kelompok III. Reaksi jaringan terbesar ditemukan pada kelompok II, diikuti oleh kelompok IV, kelompok III, dan kelompok I. Pada uji ANCOVA ditemukan perbedaan antar kelompok yang bermakna. Pada uji Dunnett terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok II dan IV terhadap kontrol.
Simpulan. Povidone iodine 1% menunjukkan gangguan penyembuhan fraktur dan reaksi jaringan yang minimal.

ABSTRACT
Introduction. Adequate irrigation and debridement are important factors to prevent infection in open fractures. Povidone iodine and hydrogen peroxide are adjuvants often used in irrigation to kill microorganisms and prevent infections. This study aims to determine the effect of povidone iodine and hydrogen peroxide on fracture healing and also reaction of host tissue to their presence.
Methods. Fourty male Sprague Dawley rats were allocated randomly into group I (control), group II (10% povidone iodine), group III (1% povidone iodine), and group IV (3% hydrogen peroxide). Three rats on each group were sacrificed on the first, second, and fifth week. Evaluation of fracture healing was done by histomorphometry using ImageJ®, variables measured were; percentage of fibrous tissue, cartilage tissue, and osseous tissue in fracture callus. Reaction of host tissue was analyzed by semiquantative evaluation of lymphocytes and macrophages. Statistical analysis was performed with ANCOVA test followed by Dunnett post hoc test.
Results. The highest percentage of osseous tissue was found in group III, followed by Group I, Group IV and Group II. The highest percentage of fibrous tissue was found in group II, followed by group IV, group I, and group III. The largest tissue reaction was found in group II, followed by group IV, group III, and group I. In ANCOVA test, there was significant difference found between groups. In Dunnett test, significant differences were found between group II and IV to control.
Conclusion. One percent povidone iodine caused minimal impairment of fracture healing and host tissue reaction., Introduction. Adequate irrigation and debridement are important factors to prevent infection in open fractures. Povidone iodine and hydrogen peroxide are adjuvants often used in irrigation to kill microorganisms and prevent infections. This study aims to determine the effect of povidone iodine and hydrogen peroxide on fracture healing and also reaction of host tissue to their presence.
Methods. Fourty male Sprague Dawley rats were allocated randomly into group I (control), group II (10% povidone iodine), group III (1% povidone iodine), and group IV (3% hydrogen peroxide). Three rats on each group were sacrificed on the first, second, and fifth week. Evaluation of fracture healing was done by histomorphometry using ImageJ®, variables measured were; percentage of fibrous tissue, cartilage tissue, and osseous tissue in fracture callus. Reaction of host tissue was analyzed by semiquantative evaluation of lymphocytes and macrophages. Statistical analysis was performed with ANCOVA test followed by Dunnett post hoc test.
Results. The highest percentage of osseous tissue was found in group III, followed by Group I, Group IV and Group II. The highest percentage of fibrous tissue was found in group II, followed by group IV, group I, and group III. The largest tissue reaction was found in group II, followed by group IV, group III, and group I. In ANCOVA test, there was significant difference found between groups. In Dunnett test, significant differences were found between group II and IV to control.
Conclusion. One percent povidone iodine caused minimal impairment of fracture healing and host tissue reaction.]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Natasya Claresta Viano
"Saat ini depresi memiliki prevalensi cukup tinggi di dunia. Salah satu penyebabnya adalah hipotiroid akibat tidak cukupnya asupan yodium.
Tujuan: Mengetahui hubungan konsumsi yodium terhadap tingkat depresi pada wanita usia 18-25 tahun di RSUD Pasar Minggu.
Metode: Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan studi analitik observasional. Responden berjumlah 87 wanita usia 18-25 tahun dan memenuhi kriteria penelitian. Data asupan yodium diperoleh melalui kuesioner semi-kuantitatif frekuensi makanan tinggi yodium dengan wawancara. Hasilnya dianalisis menggunakan Nutrisurvey for Windows. Pengukuran tingkat depresi menggunakan kuesioner HDRS dengan wawancara.
Hasil: Asupan yodium responden yang sesuai dengan rekomendasi adalah 90,9 . Proporsi penderita depresi berjumlah 80,5. Hasil uji Anova dan post-hoc Bonferroni menunjukkan adanya hubungan secara klinis dan statistik antara konsumsi yodium dengan tingkat depresi pada kelompok normal dengan depresi ringan p=0,002, normal dengan depresi sedang p=0,004 , dan normal dengan depresi berat p=0,008. Di sisi lain, terdapat hubungan klinis antara konsumsi yodium dengan tingkat depresi pada kelompok depresi ringan dengan sedang, depresi ringan dengan berat, dan depresi sedang dengan berat.
Diskusi: Dapat disimpulkan terdapat hubungan konsumsi yodium dengan tingkat depresi.Kata kunci:Konsumsi yodium, tingkat depresi, wanita, 18-25 tahun.

Currently, depression has a fairly high prevalence in the world. One of the reasons is hypothyroid due to inadequate intake of iodine.
Objective: To determine the relation of iodine consumption with depression level in women aged 18 25 years in Pasar Minggu Hospital.
Methods: The research used a cross sectional design with observational method. The respondents were 87 women aged 18 25 years and suited criteria. Data iodine was obtained using semi quantitative food frequency questionnaire of high iodine. The result is analyzed using Nutrisurvey for Windows. The depression levels were measured using HDRS questionnaire.
Results: 90,9 of respondents had iodine intake as recommended. The proportion of depression is 80.5. The results of ANOVA and post hoc Bonferroni showed a clinical and statistic relations between consumption of iodine with depression levels in normal group with mild depression p 0.002, normal with moderate depression p 0.004, and normal with severe depression p 0.008 . Whereas, there is a clinical relation between the consumption of iodine with level of depression in the mild group with moderate depression, mild with severe depression, and moderate with severe depression.
Discussion: It can be concluded that there is a relation of iodine consumption with level of depression.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fuonaliza
"Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) masih rncrupakan salah satu masalah gizi mikro di Indonesia yang bclum terkendali dengan baik hingga kini. Pembesaran kelenjar tiroid (gondok) merupakan salah satu bentuk manifestasi GAKY. Di Provinsi Sumatera Barat prevalensi GAKY berdasarkan TGR (Tomi Goiter Rate) tahun 1980 adalah 74,7%, tahun 1987 sebesar 33,7%, tahun 1995 sebesar 39 % dan umm zoos sebesaf 93%. Prevaxenéi GAKY befdgsarkan TGR di Kota Padang cenderung meningkat dari 8,S% pada tahun 1998 menjadi 21,5% tahun 2003 dan 26,3 % pada tahun 2006. GAKY tidak hanya menyebabkan gondok saja tapi juga memberikan dampak terhadap perkembangan fisik, mental dan fmmgsi intelektual.
Penelitian ini beftujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gondok Kota Padang. Disain penelitian yang digunakan adalah studi kasus kontrol dimana kasus adalah anak SD/MI berusia 6-12 tahun yang menderita gondok yang diperiksa dengan cara palpasi. Kasus diambil dari hasil Survei Peruetaan Gondok di Kota Padang tahun 2006. Sedangkan kontrol adalah anak SD/MI yang berusia 6-12 tahun yang berasal dari SD/MI yang sama deugan kasus dan tidak menderita gondok yang diperiksa dengan cara palpasi. Sampel seluruhnya bexjumlah 452 orang dengan perbandingan kasus 1 kontrol adalah lzl. Data dikumpulkan dengan melakukan wawancara langsung clengan ibu anak sckolah dan melakukan pemafiksaan terhadap sampel garam yang dibawa dari rumah. Pada penelitian ini juga dilakulcan pemeriksaan terhadap kadar yodium dalam urin dan swnber air minum sebanyak 10% dari total sample yang diambil secara random. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji mulnple Iogislic regression.
Dari hasil analisis ini diperoleh hubungan yang signifikan antara umur dengan kejadian gondok di Kota Padang sctelah dikontrol oleh konsumsi makanan mengandung yodium dan kualitas garaxn bezyodium dengan p value 0,000 dan OR 2,663 (95% CI 1,802-3,935). Konsumsi rnakanan mengandung yodium berhubungan dengan kejadian gondok pada anak SD/MI di Kota Padang dengan p value 0,000 dan OR 2,259 (95% CI 1,507-3,386) setelah. dikontrol oleh umur dan kualitas garam beryodium. Makanan mengandung yodium seperti ikan laut dan daging ayam berhubungan dengan kejadian gondok dengan p value 0,000, OR 2,326 (95% CI 1,596-3,392) untuk ikan laut dan p value 0,038, OR 1,509 (95%CI 1,040-2,189) mmtuk daging ayam_ Kualitas garam juga berhubungan dcngan kejadian gondok dengan p value 0,030 dan OR 1,772 (95% CI 1,056~2,973) setclah dikontrol oleh umur dan konsmnsi makanan mengandung yodium.
Berdasarkan basil penelinan ini disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota Padang untuk meningkatkan penyuluhan tentang GAKY kepada masyarakat, mernperhatikan faktor usia dengan memfokuskan pada usia dibawah 10 tahun dalam membuat perencanaan penanggulangan GAKY, melalcukan pemeriksaan kadar yodium urin scbelum melakukan intervensi dan melakukan pengawasau yang ketat terhadap kualitas garam yang beredar di masyarakat serta memotivasi masyarakat untuk meningkatkan konsumsi ikan laut. Bagi peneliti disarankan untuk xnelakukan penelitian tentang faktonfaktor yang berhubungan dengan rendahnya kualitas garam yang dikonsumsi anak, penelitian tentéhg kadar yodium dalam garam mulai awal distribusi sampai tingkat konsumsi anak, pcnelitian tentang kandungan yodium pada rnakanan tradisional, peuelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan pole. konsumsi anak dan kqiian lebih dalam tentang hubungan sumber air minum dengan kejadian gondok serta faktor-faktor yang mempengamhi kadar yodium dalam sumber air minum. Masyarakat tcrutama ibu rumah tangga diharapkan meningkatkan pcngetahuannya femng GAKY seningga bmakap lebih snlektifdalam memilih makanan untuk anak

Iodine Deficiency Disorders (IDD) is still one of micro nutrition problems in Indonesia that has not been well controlled up to now. The thyroid gland enlargement (goiter) is one of the IDD manifestations. ln West Sumatera Province, the IDD prevalence based on TGR (Total Goiter Rate) is 74.7% in 1980, 33.7% in 1987, 39% in 1995 and 9.8% in 2003. The IDD prevalence bwed on TGR in Padang City tends to increase from 8.5% in 1998 to 21.5% in 2003 and 26.3% in 2006. IDD does not only cause goiter but also brings impacts to physical, mental and intellectual function development.
This research is aimed at discovering factors related to goiter incidence in Padang City. The research design applied is the case control study with elementary school (SD/Ml) children ranging from 6 to 12 years old with goiter examined using palpation technique as the cases. The cases were taken from the results of Goiter Mapping Survey in Padang City in 2006. The control used consists of 6-12 year old elementary school (SD/Ml) children from the same schools of the cases but who do not have goiter when examined using palpation technique. The total sample size is 452 with case-control ratio of 1:l. The data was collected using direct interview with the child's mother and by examining salt sample brought from home. In this research, examination on the iodine level in urine and drinking water source taken randomly was perfomied in 10% ofthe total sample. The data is analyzed using multiple logistic regression.
From the results of the analysis, it is revealed that there is a significant relationship between age and goiter incidence in Padang City alter _being controlled by iodine containing food consumption and iodine containing san quality with a p value of o_ooo and an on of 2.663 (95% ci 1.802-3.935): Consumption of iodine containing food is shown as having relationship with the goiter incidence in elementary school (SD/Ml) children in Padang City with a p value of 0.000 and an OR of 2.259 (95% CI 1.507-3386) atter being controlled by age and iodine containing salt quality. Iodine containing food such as sea tish and chicken is shown as having relationship with goitcr incidence with a p value of 0.000 with an OR of 2.326 (95% Cl 1.596-3392) for sea iish and p value of 0.038 with an OR of 1.509 (95% CI 1.040-2.l89) for chicken. The salt quality also relates to the goiter incidence with a p value of 0.030 and an OR of 1,772 (95% CI 1.056-2.973) aiter being controlled by age and iodine containing food consumption.
Based on this research it is suggested to the Health Ofliice of Padang City to improve education on IDD to the community by paying attention to the age factor and focusing on children under 10 years. old when. developing plans for IDD control, performing urine iodine level examination before doing an intervention and exercising tight control on the quality of salt sold in the community as well as motivating the community to increase sea iish consumption Researchers are suggested to do researches on factors related to the low quality of salt consumed by children, iodine level in salt starting from distribution stage to child consumption stage, iodine content in traditional food, factors related to child consumption pattem and in-depth review on relationship between drinldng water resource with goiter incidence and factors affecting iodine level in drinking water. The community, especially housewives, is expected to increase the knowledge on [DD and acts more selectively in choosing food for children."
Depok: Universitas Indonesia, 2007
T34482
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Triana Hardianti Gunardi
"Latar belakang: Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas GPPH disebabkan oleh berbagai faktor, seperti genetik dan lingkungan. Zat besi berperan sebagai kofaktor enzim tirosin-hidroksilase dalam proses modulasi produksi dopamin dan epinefrin, yang berpengaruh pada kontrol perilaku motorik normal.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara risiko tinggi defisiensi besi dengan GPPH.
Metode: Studi kasus kontrol menggunakan kuesioner untuk uji tapis pertama GPPH dan defisiensi besi, melibatkan 376 siswa SD 01, 03, dan 05 Kenari, Jakarta periode 2015/2016.
Hasil: Melalui uji Chi-square, ditemukan hubungan bermakna secara statistik antara risiko tinggi defisiensi besi dengan GPPH pada siswa dengan odds ratio 2,447 1,354 ndash; 4,422, IK 95 , p = 0,002.
Kesimpulan: Risiko tinggi defisiensi zat besi merupakan salah satu faktor risiko GPPH pada siswa sekolah dasar di Jakarta. Kecukupan asupan zat besi pada anak perlu dijaga sejak dini.

Background: Attention Deficit Hyperactivity Disorder ADHD is caused by many factors, including genetics and environmental factor, e.g. iron. Iron acts as a cofactor in the modulation of dopamine and epinephrine production, affecting control in motoric behavior.
Aim: of study To find the association between the high risk of iron deficiency and ADHD.
Method: A case control study using questionnaire to screen ADHD and iron deficiency in 376 elementary students in SD Kenari Jakarta.
Results: Positive correlation between the high risk of iron deficiency and ADHD, using Chi square method with odds ratio 2.447 1.354 ndash 4.422, IK 95 , p 0.002.
Conclusion: High risk of iron deficiency is a risk factor of ADHD in elementary school students in Jakarta. Children should maintain adequate iron intake since early hood.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Deo Develas
"Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengamati ketahanan korosi dari TAD berbahan SS setelah pemaparan pada tiga jenis larutan kumur yang berbeda yang ditinjau dari permukaan topografi dan komposisi atomik. Metode : 28 unit TAD berbahan Stainless Steel dibagi secara merata ke dalam 4 kelompok larutan kumur (sodium fluoride 0,2%, povidone iodine 1%, kitosan 1,5%, dan air destilasi) yang masing-masing terdiri dari 7 unit TAD. Setelah 3 bulan perendaman dilakukan evaluasi ketahanan korosi material TAD SS menggunakan scanning electrone microscope (SEM) untuk melihat topografi permukaan dan energy-dispersive x-ray spectroscopy (EDS) untuk melihat komposisi atomik pada permukaan logam TAD SS. Hasil : Uji SEM menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna antara permukaan TAD SS setelah pemaparan dalam larutan sodium fluoride, povidone iodine, dan larutan kontrol (air destilasi) yaitu permukaan menjadi kasar dan terbentuk korosi lubang/intergranular. Namun pada TAD SS yang direndam dalam larutan kitosan hanya mengalami perubahan permukaan menjadi kasar tanpa disertai korosi lubang/intergranular. Sementara uji EDS menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara komposisi atomik TAD berbahan logam stainless steel setelah dipaparkan dalam larutan Fluoride, povidone iodine, kitosan, dan air destilasi (kontrol). Kesimpulan : Perendaman TAD SS 316L pada ketiga larutan kumur memicu proses korosi yang terlihat dari kekasaran permukaan logam paska perendaman, dengan larutan sodium fluoride dan povidone iodine bersifat lebih korosif, sementara larutan kitosan yang paling tidak korosif. TAD SS 316L memiliki biokompatibilitas yang baik terlihat dari pelepasan ion nikel dan kromium yang minimal pada seluruh sampel TAD SS paska perendaman.

Objectives : This study aims to evaluate the corrosion resistance of stainless steel TAD after immersion in three mouthwash solutions marked by topography surface and atomic composition. Methods : 28 unit stainless steel TADs were divided into 4 group of mouthwashes (0,2% sodium fluoride, 1% povidone iodine, 1,5% chitosan, and distilled water as control group) each consisting of 7 TADs. After 3 months of immersion, the corrosion resistance of SS TAD will be evaluated using scanning electron microscope (SEM) to analyze the surface topography and energy-dispersive x-ray spectroscopy (EDS) to analyze the atomic composition. Results: SEM images showed no significant difference between the surface topography of SS TAD after immersion in sodium fluoride, povidone iodine, and distilled water as they exhibit surface roughness and the presence of pitting/intergranular corrosion. However, SS TAD immersed in chitosan solution only displayed surface roughness without any sign of pitting/intergranular corrosion. EDS examination showed no significant difference between the atomic composition of SS TAD immersed in all mouthwash solutions. Conclusions : Immersion of SS TAD 316L in three different mouthwashes induced corrosion process which is shown by the surface roughness after 3 months of immersion. Sodium fluoride and povidone iodine mouthwash have shown to be more corrosive, while chitosan mouthwash was the least corrosive. SS TAD 316L displayed good biocompatibility which is shown by minimal release of nickel and chromium ions on all TAD samples after immersion"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2022
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>