Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 58096 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Diajeng Tyagita Ayuningtyas
"ABSTRAK
Pada tahun 1937, Perang Sino-Jepang Kedua resmi dimulai di Cina. Salah satu kekejaman yang terjadi pada perang tersebut dapat dilihat di Nanjing, di mana pasukan Jepang menduduki Nanjing dan dikatakan membunuh 200,000-300,000 orang dan memerkosa sekitar 20,000 wanita lebih dalam waktu enam pekan. Walaupun peristiwa ini, yang disebut pihak Cina sebagai Pembantaian Nanjing, sudah diakui sebagai kejahatan perang berdasarkan Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh tahun 1946, masih ada perdebatan mengenai apa yang terjadi selama enam pekan tersebut, dengan pihak Jepang menyangkal pembantaian tersebut pernah terjadi. Tulisan ini akan membahas tentang Peristiwa Nanjing berdasarkan perspektif pihak Cina, Jepang dan Barat, serta mengapa perbedaan ini dapat muncul.

ABSTRACT
In 1937, the Second Sino Japanese War officially began in China. One of the most notorious atrocities that happened during this time can be seen in Nanjing, where Japanese army occupied Nanjing and allegedly killed 200,000 300,000 people and raped as much as 20,000 women in the course of six weeks. Although this incident, which the Chinese dubbed as Nanjing Massacre, already been recognized as a war crime based on the 1946 International Military Tribunal for the Far East, there are still some dispute over what exactly happened during those six weeks, with the Japanese denying that such massacre ever occured. This wiritng will discuss the Nanjing Incident based on the Chinese, Japanese and the Western rsquo s perspective, and why such differences can occur."
2017
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Yefrie Muhammad Yulfrien
"ABSTRAK
Peristiwa pembantaian Nanking 1937 sampai sekarang masih menuai kontroversi. Dengan adanya reinterpretasi Jepang ingin memperbaiki citranya sedangkan China membuat peristiwa Nanking sebagai tekanan politik sehingga menyebabkan perbedaan jumlah angka korban jiwa. Penelitian ini menjelaskan kontroversi dan perbedaan sudut pandang mengenai peristiwa Nanking baik bagi Jepang maupun China.

ABSTRACT
Nanking massacre are still controversial tragedy. With the reinterpretation of Japan wanting to improve its image while China made the Nanking event a political pressure that caused a difference in the number of fatalities. This study explains the controversy and the different perspectives regarding
Nanking events for both Japan and China."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2018
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Amira Tania
"Skripsi ini membahas proses alih wahana dari sebuah novel berjudul 金陵十三钗 Jīnlíng Shísān Chāi karya Yan Geling ke dalam film The Flowers of War karya Zhang Yimou. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan dan menjelaskan perbedaan struktur fiksi cerita berlatar belakang Peristiwa Nanjing 1937 yang dituangkan ke dalam dua bentuk seni yang berbeda. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan konsep Alih Wahana. Hasil penelitian ini tidak hanya menunjukkan bahwa banyak bagian yang dihilangkan dalam proses pengangkatan novel ke film, tetapi juga banyak unsur sejarah dalam novel yang tidak muncul dalam film. Pemotongan maupun perubahan dalam bentuk wahananya masing-masing dikaji dengan menggunakan konsep kajian alih wahana.

This undergraduate thesis analyzes the adaptation of a novel titled 金陵 十三 钗 Jīnlíng Shísān Chāi written by Yan Geling into a film titled The Flowers of War by Zhang Yimou. The purpose of this study is to discover and explain the structural differences between the two fictions that are written based on the Rape of Nanking 1937 in the forms of a novel and film. This study is a qualitative study using the concept of an adaptation. The result of this study not only shows that many parts of the novel were cut in the process of adaptation, but also a lot of the historical elements in the novel does not appear in the film. The concept of adaptation is used to examine the changes in both mediums."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
S63761
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"[Makalah ini membahas tentang salah satu peristiwa sejarah Cina yaitu Pembantaian Shanghai yang terjadi pada tahun 1927. Peristiwa sejarah ini dipenuhi dengan intrik politik dan perebutan kekuasaan pasca wafatnya Sun Yat Sen pada tahun 1925. Tubuh Guomindang terpecah menjadi dua yaitu sayap kiri yang dipimpin Wang Jingwei serta fraksi komunisnya dan sayap kanan yang dipimpin oleh Chiang Kaishek. Shanghai yang merupakan kota industri dan salah satu penggerak roda perekonomian Cina pada saat itu diyakini Chiang Kaishek sebagai jalan keluar atas kebutuhan finansial Chiang untuk mendirikan pemerintahannya di Nanjing dan menandingi pemerintahan Wang Jingwei di Wuhan. Peristiwa yang direncanakan oleh Chiang Kaishek ini terjadi dini hari tanggal 12 April, menyebabkan ribuan nyawa kaum komunis tewas dan kejadian ini menandakan berakhirnya koalisi antara Guomindang dan Gongchandang., This paper discusses about one of the past events in China‟s history called The Shanghai Massacre which occurred in 1927. This event is filled with politic conspiracy and power struggle between the two wings of Guomindang which split into left wing led by Wang Jingwei and his communist fraction and right wing led by Chiang Kaishek. This dissension happened right after the death of Sun Yat Sen in 1925. Shanghai, which is an industrial city and also play an important role of economic growth in China, believed by Chiang can help him build his own government in Nanjing in order to compete against Wang Jingwei‟s government in Wuhan. The massacre itself was planned by Chiang Kaishek, it occurred dawn on April 12th causing thousands of communist lives in Shanghai killed. The effect of Shanghai Massacre was destroyed the alliance between Guomindang and Gongchandang.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Nidaul Hasanah Musrihah
"Setelah Restorasi Meiji, Jepang kemudian berubah menjadi negara yang moderen. Keinginan Jepang yang ingin setara dengan bangsa Barat mengubahnya menjadi negara imperialis. Salah satu negara yang menjadi target jajahannya adalah Cina. Selama masa penjajahan di Cina, Jepang menguasai beberapa wilayah di Cina. Salah satu wilayah yang dikuasai Jepang di Cina adalah Nanking. Penjajahan Jepang di Nanking merupakan penjajahan yang menelan banyak korban jiwa karena disana tentara Jepang melakukan pembantaian massal kepada warga Nanking. Peristiwa Pembantaian itu dikenal dengan nama Peristiwa Nanking. Sampai sekarang terdapat perbedaan sudut pandang mengenai jumlah korban jiwa Peristiwa Nanking. Tujuan dari skripsi ini adalah menjelaskan alasan mengapa terjadi perbedaan jumlah korban jiwa Peristiwa Nanking.

After Meiji Restoration, Japan has changed into modern state. His desire to equal with western make him changed into imperialize country. One of country who being his colonies target is China. During colonization in China, Japan has occupied many districts. One of districts who occupied is Nanking. During Japan's occupied in Nanking, military Japan did many atrocities which made many people died. That incident in Nanking called Nanking Incident. Until now, many perspective about the real of number fatalities in Nanking Incident. The aim of this research is to explain why did the differences are happened."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
S44479
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shanghai: The Commercial Press, 1937
951.058 COU c
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Rahel Wiradi
"Skripsi ini membahas hubungan pengusaha Shanghai dan pemerintah Nanjing (1927-1933). Bagaimana hubungan keduanya dapat dilihat melalui kebijakan Pemerintah Nanjing terhadap pengusaha Shanghai. Kebijakan ini tercermin melalui peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Kuomintang terhadap Asosiasi Pengusaha Shanghai. Kebijakan Chiang Kai-shek sebagai presiden dan T.V Soong sebagai mentri keuangan pemerintah Nanjing juga berpengaruh terhadap hubungan keduanya. Selain itu, skripsi ini juga membahas bagaimana hubungan pengusaha Shanghai dan pemerintah Nanjing yang tercermin dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi antara tahun 1927-1933. Skripsi ini menyimpulkan bahwa pengusaha Shanghai tidak memiliki peran politik yang signifikan pada masa pemerintah Nanjing. Selain itu, pengusaha Shanghai juga tidak dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah Nanjing.

The Focus of this study is the relation between Shanghai Businessmen and Nanjing government (1927-1933). The relation between them can be seen through the Nanjing Governments policy toward Shanghai Businessmen. This policy was reflected by the regulations issued by Nanjing government toward the Shanghai Businessmen Association. The policy of Chiang Kai-shek as the President and the policy of T.V Soong as the Financial Minister toward Shanghai Businessmen will represent the relation between them. Besides, this thesis also analyzes how Shanghai Businessmens relation with Nanjing Government, which describe on the events happened between 1927 and 1933. As a conclusion, Shanghai businessmen didn't have a significant political role during Nanjing government era. They were also not able to exercise considerable political influence on government decision-making."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S12972
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Arini Dwi Rachmawati
"Film animasi Disney pertama, Snow White and the Seven Dwarfs (1937) adalah pelopor film animasi Disney yang mengandung gender bias, dimana sang pangeran dan putri sebagai subyek gender bias . Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penggambaran gender para kurcaci dalam film Snow White and the Seven Dwarfs (1937) ditinjau melalui empat dimensi - sifat, perilaku, karakteristik fisik, dan pekerjaan dengan menggunakan metode content analysis. Dugaan sementara, penggambaran gender para kurcaci tidak menunjukkan gender bias. Sebab, mereka tidak digambarkan dalam karakter pangeran atau putri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 204 insiden yang telah diteliti, satu kurcaci digambarkan memiliki lebih banyak sifat maskulin daripada sifat feminin. Sedangkan, enam kurcaci lainnya digambarkan memiliki lebih banyak sifat-sifat feminin daripada sifat maskulin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para kurcaci tidak menunjukkan gender bias. Dengan demikian, karakter para kurcaci lebih menguntungkan bagi anak-anak dalam membantu proses gender knowledge development.

Disney's first full-length animated film, Snow White and the Seven Dwarfs (1937) is the pioneer of Disney's animated film containing gender biases with the prince and princess as the subjects. This research aims to examine gender portrayals of the dwarfs in the film Snow White and the Seven Dwarfs (1937) through four dimensions traits, behaviors, physical characteristics, and occupations by using content analysis method. Since the dwarfs are not depicted in the prince or princess characters, it is expected that they do not show gender biases.
The results of the research shows that out of 204 incidents coded, one dwarf is found to be depicted as having more masculine traits than the feminine one. In contrast, the other six dwarfs are depicted as having more feminine traits than the masculine ones. The results suggest that the dwarfs do not show gender biases. Thus, they are more beneficial than gender-biased prince and princess characters for children in helping the process of gender knowledge development.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2014
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>