Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 128389 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Lenny Syukriati Asmir
"Latar belakang: Elektroensefalografi EEG adalah suatu prosedur untuk mendukung diagnosis dan evaluasi pengobatan pada penyakit epilepsi. Perekaman EEG ideal dapat dicapai bila anak mengalami tidur alamiah, yang sampai saat ini masih sulit untuk dilakukan. Melatonin, merupakan hormon tidur alami yang dihasilkan oleh kelenjar pineal, mulai dikembangkan sebagai premedikasi EEG yang diharapkan memiliki efek samping lebih kecil dibanding prosedur deprivasi tidur parsial DTP dan obat sedasi.
Tujuan: 1 mengetahui perbandingan awitan tidur, makrostruktur tidur, dan lama tidur pada anak epilepsi yang diberikan melatonin oral dengan yang dilakukan prosedur DTP, 2 mengetahui perbedaan efek samping pemberian premedikasi melatonin dibandingkan prosedur DTP pada anak epilepsi yang direncanakan EEG
Metode: Penelitian uji klinik acak tersamar tunggal secara paralel dilakukan pada 76 subyek berusia 1-18 tahun yang melakukan pemeriksaan EEG di Laboratorium Elektrodiagnostik IKA-RSCM selama periode November 2016 ndash; Januari 2017. Seluruh subyek tersebut dibagi menjadi 2 kelompok, satu kelompok diberikan premedikasi melatonin per oral, sedangkan kelompok lainnya dilakukan prosedur DTP.
Hasil: Rerata awitan tidur kelompok DTP adalah 42,39 menit sedangkan kelompok melatonin 33,97 menit p le;0,01 . Rerata lama tidur kelompok DTP adalah 22,58 menit, sedangkan kelompok melatonin 25,09 menit p=0,144 . Gambaran makrostruktur tidur p>0,05 dan efek samping prosedur p>0,05 pada kedua kelompok subyek tidak berbeda bermakna.
Simpulan: Awitan tidur pada kelompok melatonin lebih cepat dibandingkan kelompok DTP, dengan durasi tidur yang serupa antar 2 kelompok. Makrostruktur tidur kedua kelompok mirip dengan tidur alamiah. Tidak didapatkan perbedaan efek samping antara kelompok DTP dan kelompok melatonin. Melatonin dapat digunakan sebagai premedikasi EEG pada anak untuk praktik sehari-hari.

Background Electroencephalography EEG is a procedure to support and evaluate therapy in children with epilepsy. Ideally, EEG result can be achieved if the child fell on a natural sleep, but this phase was difficult to gain. Melatonin, a natural sleep hormone that is produced by the pineal gland, was started to developed as a premedication following EEG procedure to produce natural sleep with minimal side effects compared to partial sleep deprivation PSD and other sedative agents.
Aim 1 to discover sleep onset, sleep duration, and sleep macrostructure in children with the oral administration of melatonin compared to partial sleep deprivation, 2 to discover side effects of oral melatonin EEG premedication in epilepsy children
Method In a parallel single blinded randomized clinical trial, 76 children who were referred to EEG Unit of Cipto Mangunkusumo Hospital from November 2016 to January 2017 were evaluated. The children were randomly assigned into two groups to receive PSD procedure control group and oral melatonin treatment group.
Results Mean sleep onset in PSD group was 42.39 minutes, while in melatonin group was 33.97 minutes p le 0,01 . Mean sleep duration in PSD group was 22.58 minutes, while in melatonin group was 25.09 minutes p 0,05 . There were no significant differences in both sleep macrostructure p 0,05 and procedure rsquo s side effects p 0,05 in both groups.
Conclusions Sleep onset was more prompt in melatonin group compares to PDS group, while sleep duration was similar between each groups. Both of sleep macrostructures were similar to natural sleep process. There were no significant differences of side effects in both groups. Melatonin can be use as premedication for EEG examination in epilepsy children."
Depok: Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yuliarni Syafrita
"Latar Belakang dan Tujuan Salah satu masalah dalam penanggulangan epilepsi ialah menegakkan diagnosis dan salah satu cara yang dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis adalah membuat rekaman EEG. Adanya aktivitas epileptiform pada rekaman EEG interiktal sadar merupakan suatu petunjuk yang hampir pasti kearah diagnosis epilepsi Temuan aktivitas epileptiform pada EEG interiktal lebih tinggi pada pasien dengan frekwensi serangan yang sering atau pada rekaman yang segera dibuat dalam beberapa saat setelah serangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gambaran klinis dan lokasi aktivitas epileptiform, pengaruh jarak waktu antara serangan terakhir dan frekwensi serangan terhadap munculnya aktivitas epileptiform pada rekaman EEG interiktal sadar pada penderita epilepsi parsial. Metodologi: Telah diteliti 84 orang penderita epilepsi parsial yang memenuhi persyaratan, berumur 15 - 60 tahun. Rekaman EEG interiktal sadar dilakukan satu kali selama 20 menit dengan menggunakan elektrode tempel menurut sistem 10-20, disertai prosedur aktivasi hiperventilasi dan perangsangan fotik. Semua hasil dianalisis dengan program SPSS dan uji X² test. Hasil Terdapat perbedaan yang bermakna mengenai lokasi aktivitas epileptiform antara kelompok dengan gejala klinis saat awitan berasal dari lobus temporal dibandingkan kelompok dengan gejala klinis saat awitan berasal dari lobus ekstratemporal (p-0,0018) Temuan aktivitas epileptiform pada kelompok yang direkam dalam waktu 6 x 24 jam setelah serangan lebih tinggi dibandingkan kelompok yang direkam setelah waktu tersebut (p = 0,016). Temuan aktivitas epileptiform pada kelompok yang mengalami serangan >1 kali/bulan dan kelompok yang mengalami serangan < 1 kali/bulan, tidak bisa dianalisa karena data yang tersedia tidak cukup. Kesimpulan: Ada hubungan gambaran klinis saat awitan dan lokasi aktivitas epileptiform pada mereka dengan gejala fokal saat awitan berasal dari lobus temporal. Temuan aktivitas epileptiform lebih tinggi pada kelompok yang direkam dalam waktu 6 x 24 jam setelah serangan, dibandingkan kelompok yang direkam setelah waktu tersebut. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999
T57310
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tartila
"[ABSTRAK
Latar belakang Pemeriksaan EEG merupakan modalitas terpenting dalam diagnosis multi aksial pada epilepsi dan pemberian obat anti epilepsi yang tepat Sensitivitas EEG untuk memperoleh gelombang epileptiform cukup rendah sehingga berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan sensitivitas EEG Faktor faktor yang memengaruhi kejadian gelombang epileptiform telah banyak diteliti pada pasien dewasa namun belum ada penelitian yang spesifik pada anak Tujuan Mengetahui proporsi kejadian gelombang epileptiform pada EEG anak dengan epilepsi dan faktor faktor yang berpengaruh Metode Studi potong lintang terhadap 110 anak epilepsi usia 1 bulan 18 tahun yang datang ke Poliklinik EEG Kiara RSCM dari bulan Mei hingga September 2015 Faktor faktor yang dianggap berpengaruh dianalisis secara multivariat dengan uji regresi logistik Hasil Proporsi munculnya gelombang epileptiform sebesar 48 110 43 6 Pada analisis bivariat didapatkan faktor yang berpengaruh terhadap munculnya gelombang epileptiform adalah lama anak terbangun hingga dilakukannya pemeriksaan EEG p 0 034 OR 2 449 IK95 1 071 5 599 dan jarak kejang terakhir dengan EEG p 0 005 OR 3 037 IK95 1 386 6 626 Pada analisis multivariat didapatkan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian gelombang epileptiform adalah jarak kejang terakhir dengan EEG p 0 016 OR 2 671 IK95 1 198 5 957 Simpulan Jarak kejang terakhir dengan pemeriksaan EEG kurang dari 3 hari dan deprivasi tidur parsial selama 6 jam merupakan faktor terjadinya gelombang epileptiform pada EEG anak dengan epilepsi ABSTRACT Background Top of Form EEG is an important modality in the multi axial diagnosis of epilepsy and therapy Sensitivity of EEG was low so efforts were made to improve it Factors related to the occurence of epileptiform waves has been studied in adult patients but no specific studies in children Top of Form Objectives Determine proportion of epileptiform waves in the EEG of children with epilepsy and identify the factors related to the occurence of epileptiform waves Methods This is a cross sectional study on 110 children with epilepsy aged 1 month 18 years old who came to the EEG outpatient clinic at Kiara Cipto Mangunkusumo hospital from May to September 2015 Related factors was analyzed using multivariate Results The proportion of epileptiform waves was 48 110 43 6 Results in bivariate analysis revealed related factors were the duration of awakeness p 0 034 OR 2 499 95 CI 1 071 5 599 and the duration of last seizure until EEG done p 0 005 OR 3 037 95 CI 1 386 6 626 In the multivariate analysis duration of last seizure until EEG done was the most related factors to the occurence of epileptiform waves p 0 016 OR 2 671 95 CI 1 198 5 957 Conclusion Factors related to the occurence of epileptiform waves are duration of last seizure until EEG done less than 3 days and patial deprivation for 6 hours ;Background Top of Form EEG is an important modality in the multi axial diagnosis of epilepsy and therapy Sensitivity of EEG was low so efforts were made to improve it Factors related to the occurence of epileptiform waves has been studied in adult patients but no specific studies in children Top of Form Objectives Determine proportion of epileptiform waves in the EEG of children with epilepsy and identify the factors related to the occurence of epileptiform waves Methods This is a cross sectional study on 110 children with epilepsy aged 1 month 18 years old who came to the EEG outpatient clinic at Kiara Cipto Mangunkusumo hospital from May to September 2015 Related factors was analyzed using multivariate Results The proportion of epileptiform waves was 48 110 43 6 Results in bivariate analysis revealed related factors were the duration of awakeness p 0 034 OR 2 499 95 CI 1 071 5 599 and the duration of last seizure until EEG done p 0 005 OR 3 037 95 CI 1 386 6 626 In the multivariate analysis duration of last seizure until EEG done was the most related factors to the occurence of epileptiform waves p 0 016 OR 2 671 95 CI 1 198 5 957 Conclusion Factors related to the occurence of epileptiform waves are duration of last seizure until EEG done less than 3 days and patial deprivation for 6 hours ;Background Top of Form EEG is an important modality in the multi axial diagnosis of epilepsy and therapy Sensitivity of EEG was low so efforts were made to improve it Factors related to the occurence of epileptiform waves has been studied in adult patients but no specific studies in children Top of Form Objectives Determine proportion of epileptiform waves in the EEG of children with epilepsy and identify the factors related to the occurence of epileptiform waves Methods This is a cross sectional study on 110 children with epilepsy aged 1 month 18 years old who came to the EEG outpatient clinic at Kiara Cipto Mangunkusumo hospital from May to September 2015 Related factors was analyzed using multivariate Results The proportion of epileptiform waves was 48 110 43 6 Results in bivariate analysis revealed related factors were the duration of awakeness p 0 034 OR 2 499 95 CI 1 071 5 599 and the duration of last seizure until EEG done p 0 005 OR 3 037 95 CI 1 386 6 626 In the multivariate analysis duration of last seizure until EEG done was the most related factors to the occurence of epileptiform waves p 0 016 OR 2 671 95 CI 1 198 5 957 Conclusion Factors related to the occurence of epileptiform waves are duration of last seizure until EEG done less than 3 days and patial deprivation for 6 hours , Background Top of Form EEG is an important modality in the multi axial diagnosis of epilepsy and therapy Sensitivity of EEG was low so efforts were made to improve it Factors related to the occurence of epileptiform waves has been studied in adult patients but no specific studies in children Top of Form Objectives Determine proportion of epileptiform waves in the EEG of children with epilepsy and identify the factors related to the occurence of epileptiform waves Methods This is a cross sectional study on 110 children with epilepsy aged 1 month 18 years old who came to the EEG outpatient clinic at Kiara Cipto Mangunkusumo hospital from May to September 2015 Related factors was analyzed using multivariate Results The proportion of epileptiform waves was 48 110 43 6 Results in bivariate analysis revealed related factors were the duration of awakeness p 0 034 OR 2 499 95 CI 1 071 5 599 and the duration of last seizure until EEG done p 0 005 OR 3 037 95 CI 1 386 6 626 In the multivariate analysis duration of last seizure until EEG done was the most related factors to the occurence of epileptiform waves p 0 016 OR 2 671 95 CI 1 198 5 957 Conclusion Factors related to the occurence of epileptiform waves are duration of last seizure until EEG done less than 3 days and patial deprivation for 6 hours ]"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Maghffira Maura R. A. Dunda
"Epilepsi masih menjadi masalah neurologis pada anak, dengan pertambahan kasus sebesar 75%-80% setiap tahunnya di negara-negara berkembang. Sudah terdapat banyak pilihan Obat Anti Epilepsi (OAE) yang tersedia. Sayangnya, mencapai 30% pasien anak yang menjalani pengobatan tidak mencapai bebas kejang, dan berkembang menjadi epilepsi dengan kejang tidak terkontrol, atau disebut dengan epilepsi intraktabel. Perjalanan pengobatan sangat penting pada keadaan epilepsi anak usia di bawah tiga tahun, yang masih dalam masa perkembangan otak, namun belum banyak penelitian yang melihat evolusi faktor risiko dalam memprediksi kejadian epilepsi intraktabel. Penelitian ini melihat perubahan atau evolusi faktor risiko pasien epilepsi anak usia di bawah tiga tahun pada 3 lokasi penelitian di Jakarta, dengan melakukan studi kasus-kontrol.
Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi peran evolusi faktor risiko untuk memprediksi epilepsi intraktabel anak usia di bawah tiga tahun. Penelitian dilakukan secara retrospektif, menggunakan data sekunder, dengan melihat rekam medis pasien epilepsi anak usia di bawah tiga tahun yang diperoleh dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, RS Puri Cinere Depok, dan Klinik Anakku Pondok Pinang Center, Jakarta Selatan. Total subjek sebanyak 102 rekam medis pasien, dengan perbandingan kasus:kontrol yaitu 1:1. Hasil analisis pearson chi-square memperoleh 3 evolusi faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian epilepsi intraktabel, yaitu: evolusi kelumpuhan motorik kasar (p<0,001; OR 7,86; IK95% 3,142-19,659); evolusi status neurologis (p<0,001; OR 9,84; IK95% 3,934-24,614); dan evolusi gelombang epileptiform EEG (p<0,001; OR 23,25; IK95% 7,657-70,599). Evolusi tipe kejang menunjukkan hasil tidak bermakna terhadap kejadian epilepsi intraktabel anak. Hasil analisis multivariat kemudian menunjukkan bahwa evolusi gelombang epileptiform EEG baik/buruk memiliki peran paling kuat dalam memprediksi kejadian epilepsi intraktabel (p<0,001; OR 0,075; IK95% 0,022-0,253). Evolusi gelombang epileptiform EEG buruk merupakan faktor prediktor epilepsi intraktabel anak usia di bawah tiga tahun yang paling berpengaruh.

Epilepsy is still a neurological problem among children, with an increase in cases of 75% -80% annually in developing countries. There are already many choices of Anti-Epileptic Drugs (AED) available. Unfortunately, up to 30% of pediatric patients who undergo treatment do not achieve seizure-free, and develop epilepsy with uncontrolled seizures, also known as intractable epilepsy. The course of treatment is very important in the epilepsy of children under three years of age, who are still in the process of brain development, but not many studies have looked at the evolution of risk factors in predicting the incidence of intractable epilepsy. This study looked at changes or evolution of risk factors for epilepsy patients under three years of age in 3 study locations in Jakarta, by conducting a case-control study. The objective of this research is to Identified the evolution of risk factors role in predicting intractable epilepsy in children under three years of age. The study was conducted retrospectively, using secondary data, by looking at the medical records of epilepsy children under three years of age obtained from RSUPN Cipto Mangunkusumo, Central Jakarta, Puri Cinere Hospital Depok, and Klinik Anakku Pondok Pinang Center, South Jakarta. The total subjects were 102 patient medical records, with a case: control ratio of 1: 1. The results of the Pearson chi-square analysis obtained three significant evolution of risk factors for the incidence of intractable epilepsy, namely: the evolution of gross motor paralysis (p<0.001; OR 7.86; 95% CI 3.142-19.659); evolution of neurological status (p<0.001; OR 9.84; CI95% 3,934-24.614); and EEG epileptiform wave evolution (p<0.001; OR 23.25; IK95% 7,657-70,599). The evolution of seizure types showed no significant effect on the incidence of intractable epilepsy in children. The results of multivariate analysis then showed that the evolution of epileptiform EEG waves good/bad had the strongest role in predicting the incidence of intractable epilepsy (p<0.001; OR 0.075; CI95% 0.022-0.253). The bad evolution of EEG epileptiform waves was the most influential predictor of intractable epilepsy among children under three years of age."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia , 2016
618.92 EPI
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Gendis Ayu Ardias
"Latar belakang: Palsi serebral (PS) merupakan gangguan permanen pada perkembangan gerakan dan postur tubuh, bersifat non-progresif, dan dapat menyebabkan keterbatasan aktivitas. Gangguan motorik pada PS dapat disertai dengan gangguan fungsi sensasi, persepsi, kognisi, komunikasi dan tingkah laku, masalah muskuloskeletal sekunder, dan berisiko untuk terjadinya epilepsi di kemudian hari. Jenis PS yang diyakini berhubungan erat dengan kejadian epilepsi adalah PS tipe spastik dengan topografi kuadriplegia. Meskipun terdapat beberapa teori yang diyakini menjadi etiologi spesifik epilepsi pada PS spastik, masih sekitar 70% kasus belum diketahui penyebabnya.
Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain kasus kontrol yang bertujuan untuk menelaah faktor-faktor risiko epilepsi pada PS spastik. Faktor risiko yang terkait kejadian epilepsi pada PS tipe spastik yang akan diteliti adalah mikrosefal, topografi PS spastik, usia pertama kejang < 1 tahun, riwayat kejang periode neonatal, riwayat infeksi SSP di usia < 2 tahun, temuan abnormal CT scan/ MRI, dan temuan abnormal EEG.
Hasil: Sebanyak 103 subjek populasi kasus (PS spastik dengan epilepsi) dan 103 subjek populasi kontrol (PS spastik tanpa epilepsi) diikutsertakan dalam penelitian ini. Analisis univariat hingga multivariat dilakukan menggunakan program statistical package for the social sciences versi 27 (SPSS 27). Faktor risiko dianggap bermakna apabila nilai p<0,05. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko PS tipe spastik yang paling berperan untuk terjadinya epilepsi pada penelitian ini adalah mikrosefal (p=0,003; OR 3,577; IK 95% 1,559–8,209), topografi PS spastik kuadriplegia dan hemiplegia (p=0,005; OR 6,636; IK 95% 1,797–24,509; dan p=0,006; OR 7,888; IK 95% 1,782–34,914), temuan abnormal CT scan/ MRI (nilai p=0,002; OR 4,153; IK 95% 1,715–10,058), dan temuan abnormal EEG berupa gambaran hipofungsi (p < 0,0001; OR 219,338; IK 95% 40,103–1199,63). Kesimpulan: Mikrosefal, topografi PS spastik kuadriplegia, temuan abnormal CT scan/ MRI, dan temuan abnormal EEG terbukti meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pada PS spastik, sedangkan usia kejang pertama < 1 tahun, riwayat kejang neonatal, dan infeksi SSP usia < 2 tahun tidak terbukti meningkatkan risiko terjadinya epilepsi pada PS spastik.

Background: Cerebral palsy (CP) is a permanent and non-progressive disturbance in the development of movement and posture, and causes activity limitations. Motor disturbances in PS can be accompanied by impaired function of sensation, perception, cognition, communication and behaviour, secondary musculoskeletal problems, and the risk of developing epilepsy later in life. The type of CP that is believed to be closely related to the incidence of epilepsy is the spastic type with a quadriplegic topography. Although there are several theories that are believed to be the specific aetiology of epilepsy in spastic PS, the cause is still unknown in about 70% of cases.
Method: This is a case-control study design that aims to examine the risk factors of epilepsi in spastic CP. The risk factors associated with the occurrence of epilepsy that will be involved are microcephaly, topography of spastic CP, age at first seizure <1 year, history of neonatal seizures, history of CNS infection at the age < 2 years, abnormal CT scan/ MRI findings, and abnormal EEG findings.
Result: A total of 103 case population subjects (spastic CP with epilepsy) and 103 control population subjects (spastic CP without epilepsy) were included in this study. Univariate to multivariate analysis was performed using the statistical package for the social sciences version 27 (SPSS 27). Risk factors are considered significant if the p value <0.05. This study showed that the risk factors for epilepsy in spastic CP which were most significant for the occurrence of epilepsy were microcephaly (p=0.003; OR 3.577; 95% CI 1.559 – 8.209), quadriplegia and hemiplegia topography (p=0.005; OR 6.636; 95% CI 1.797- 24.509 and p=0.006; OR 7.888; 95% CI 1.782-34.914), abnormal CT scan/MRI findings (p=0.002; OR 4.153; 95% CI 1.715– 10.058), and hypofunction form of EEG findings (p<0,0001; OR 219.338; 95% CI 40.103–1199.63).
Conclusion: Microcephaly, quadriplegia topography, abnormal CT scan/MRI findings, and abnormal EEG findings have been shown to increase the risk of developing epilepsy in spastic CP. Whereas age of first seizure <1 year, history of neonatal seizures, and CNS infection at age <2 years old were not proven to increase the risk of epilepsy in spastic CP.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lady Aurora
"Pemberian terapi yang sesuai, khususnya obat antiepilepsi (OAE) sebagai terapi utama dapat menyembuhkan pasien penyandang epilepsi.Seringkali faktor yang berkaitan erat dengan pemberian OAE kurang diperhatikan.Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan penulis membahas bagaimana hubungan antara faktorfaktor yang memengaruhi respons terapi pada anak penyandang epilepsi.Penelitian dilakukan dengan metode cross-sectional, yaitu dengan menggunakan data sekunder dari rekam medis epilepsy registry pada pasien anak di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSUPN Cipto Mangunkusumo dengan tanggal kunjungan 1995-2010. Dari penelitian, ditemukan bahwa dari 174 subyek penelitian, 76,4% mengalami bangkitan umum dan 23,6% mengalami bangkitan fokal. Terdapat 62,1% subyek yang mengalami epilepsi simtomatik dan 37,9% epilepsi idiopatik. Sembilan puluh enam koma enam persen subyek mendapatkan regimen yang sesuai dengan lini pertama, 63,8% mendapatkan OAE dengan dosis sesuai, 77,0% subyek mendapatkan terapi tunggal (monoterapi), dan 70,3% tidak mengalami perubahan regimen selama terapi. Dari analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square maupun Fisher's, tidak ditemukan hubungan yang signifikan baik untuk faktor kesesuaian regimen, dosis OAE, kombinasi OAE, maupun perubahan regimen selama terapi (seluruhnya memiliki nilai p > 0,05). Namun, nilai OR masing-masing faktor menunjukkan hasil yang sesuai dengan teori sehingga dapat disimpulkan bahwa secara klinis respons bebas kejang akan didapatkan pada pasien yang mendapatkan regimen sesuai, dosis sesuai, monoterapi, dan tidak ada pergantian regimen. Adapun bila dikaitkan dengan klasifikasi epilepsi yang dialami, pasien dengan epilepsi idiopatik memiliki kecenderungan mendapatkan respons bebas kejang (OR=1,407 95%CI 0,732-2,705). Analisis multivariat menggunakan uji regresi logistik menunjukkan monoterapi menjadi faktor yang terkuat dalam pencapaian respons terapi epilepsi walaupun hasil pada penelitian ini tidak signifikan.

Appropiate therapy admission, especially antiepileptic drugs (AED) as the main therapy for epileptic patients, might help the patients to achieve its maximum recovery. Health care providers don?t pay much attention to factors related to AED admission. Therefore, this research was determined to analyze the association between several factors affecting treatment response in children with epilepsy. This research is a cross-sectional study, using secondary data from epilepsy registry medical record in pediatric patient at Pediatric Health Department of RSUPN Cipto Mangunkusumo during 1995-2010. This study showed that among 174 subjects, 76.4% subjects had general seizure and 23.6% subjects had focal seizure. It is also found that 62.1% subjects had symptomatic epilepsy and 37.9% subjects had idiophatic epilepsy. Ninety six point six percent subjects had appropriate regiment with first-line drugs, 63.8% subjects had appropriate AED dose, 77.0% subjects received monotherapy, and 70.3% did not receive any regiment modification during therapy. Through bivariate analysis using Chi-Square and Fisher?s test: there were no significant association between regiment compatibility, AED dose, AED combination, and regiment modification during therapy (p > 0.05). However, the odds ratio (OR) of each factors showed corresponding result with the theory. In conclusion, seizure-free response will be achieved by patients who had appropriate regiment, appropriate dose, monotherapy, and no regiment modification. Analysis about association between epilepsy classification and therapy response showed that patient with idiophatic epilepsy tended to be easier to be seizure-free. Multivariate analysis using logistic regression showed that monotherapy was the strongest factor affecting therapy response, even though in this study it was not statistically significant.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Roezwir Azhary
"untuk mengetahui berapa banyak penderita epilepsi parsial kompleks yang menampilkan aktivitas epileptik pada rekaman EEG jika ditidurkan dengan kloralhidrat
Kebanyakan dari rekaman EEG diwaktu bangun normal pada penderita yang didiagnosis dengan epilepsi Subdivisi EEG bagian Neurologi FKUI/RSUPNCM mendapatkan kelainan spileptik 23% dari 483 rekaman BEG selama tahun 1996 dari seluruh pasien yang dikirim dengan diagnosis epilepsi Untuk meningkatkan nilai diagnostik EEG telah mengembangkan berbagai macam tehnik Pada penelitian ini kami mencoba melakukan induksi tidur sebagai suatu prosedur prosedur der gan kloralhidrat 50 mg/kg berat badan pasien. studi pra dapat melakukan tes, semua pasien yang secara klinis didiagnosis sebagai epilepsi parsial kompleks yang berkembang menjadi serangan umura Upa 13-60 tahun, masih mendapat serangan dalam 1 tahun terakhir, tidak menderita penyakit darah tinggi dan jantung. Sebelum direkam, semus parlen harus makan pagi dan melanjutkan makan obat anti epilepsi sesuai dosis yang telah ditetapkan sebelumnya. Kami memakai alat EEG merek Neurofax 12 saluran dengan EOG dan ECG, filter 70 Hz dan elektroda sistim 10-20 ditambah sepasang elektrode zygomatikus. Semua subyek direkam selama 14 menit waktu bangun, kemudian diberikan 50 mg/kg berat badan klorelhidrat, setelah menunggu 15-30 menit rekaman dilanjutkan selama periode waktu yang sama. Studi dilakukan mulai dari bulan Mei sampai Oktober 1996. Dari 36 pasien yang memenuhi kriteria, 2 dikeluarkan karena tidak bisa tidur dalam waktu yang telah ditentukan. Ada 13 penderita laki-laki (38,2%) dan 21 penderita wanita (61,8%) dari 34 penderita. Usia rata-rata 27,2 ± 1,37. Aktivitas epileptik terlihat pada 11 dari 34 (32,4%) penderita pada rekaman EEG banggun dan 20 dari 34 (58,8%) pada rekaman tidur dimana perbedaan tersebut cukup bermakna secara statistik P<0,05. Empat dari 20 penderita (20%) aktivitas epileptik terlihat pada lobus frontal dan 16 dari 20 penderita (80%), terlihat pada lobus temporal. Kebanyakan aktivitas epileptik (80%) terlihat pada stadium II tidur non REM dan 55% pada stadium III tidur non REM. Pada stadium 1 aktivitas epileptik 25%, namun ada beberapa rekaman dimana stadium I tidur non REM tak terlihat. Stadium IV tidur non REM tidak tercapai dalam penelitian ini. Aktivitas cepat bervoltage rendah terlihat tidak terlalu menyolok pada setiap rekaman. Kloralhidrat dapat digunakan sebagai obat penginduksi tidur dengan hasil yang cukup baik, dimana aktivitas cepat voltage rendah terlihat tidak begitu menyolok. Penderita dengan aktivitas epileptik terlihat lebih banyak pada rekaman tidur dibandingkan dengan rekaman diwaktu bangun dan perbedaan tersebut bermakna secara statistik.

to find out how many people with complex partial epilepsy display epileptic activity on EEG recordings if put to sleep with chloralhydrate
Most of the EEG recordings when awake were normal in patients diagnosed with epilepsy. The EEG Subdivision of the Neurology Department, FKUI/RSUPNCM, found spileptic abnormalities, 23% of the 483 BEG recordings during 1996 from all patients sent with a diagnosis of epilepsy. To increase the diagnostic value of EEG, we have developed various techniques. In this study, we tried to induce sleep as a procedure using 50 mg chloralhydrate/kg of the patient's body weight. Preliminary studies were able to carry out tests, all patients who were clinically diagnosed as complex partial epilepsy that developed into attacks aged up to 13-60 years, still had attacks in the last 1 year, did not suffer from high blood pressure or heart disease. Before being recorded, Semus Parlen must eat breakfast and continue taking anti-epileptic drugs according to the previously determined dose. We use a 12 channel Neurofax brand EEG device with EOG and ECG, 70 Hz filter and 10-20 electrode system plus a pair of zygomatic electrodes. All subjects were recorded for 14 minutes while awake, then given 50 mg/kg body weight of chlorelhydrate, after waiting 15-30 minutes the recording was continued for the same time period. The study was conducted from May to October 1996. Of the 36 patients who met the criteria, 2 were excluded because they were unable to sleep within the specified time. There were 13 male sufferers (38.2%) and 21 female sufferers (61.8%) out of 34 sufferers. Mean age 27.2 ± 1.37. Epileptic activity was seen in 11 of 34 (32.4%) patients on waking EEG recordings and 20 of 34 (58.8%) on sleeping recordings where the difference was statistically significant at P<0.05. In four of 20 patients (20%), epileptic activity was seen in the frontal lobe and in 16 of 20 patients (80%), it was seen in the temporal lobe. Most epileptic activity (80%) was seen in stage II non-REM sleep and 55% in stage III non-REM sleep. In stage 1, epileptic activity is 25%, but there are several recordings where stage I non-REM sleep is not visible. Stage IV non-REM sleep was not achieved in this study. Fast, low-voltage activity appears less prominent in each recording. Chloralhydrate can be used as a sleep-inducing drug with quite good results, where low voltage fast activity does not appear to be so striking. Patients with epileptic activity were seen more frequently in sleep recordings compared to waking recordings and this difference was statistically significant.
"
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Agung Triono
"Penghentian obat antiepilepsi OAE dengan terburu-buru meningkatkan risiko relaps pada epilepsi. Risiko resistensi obat pada epilepsi relaps sangat tinggi. Belum ada kesepakatan umum kapan OAE dapat dihentikan dengan aman sehingga tidak terjadi relaps. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian relaps pada anak dengan epilepsi terkontrol danyang belum terkontrol kejangnya, mengetahui karakteristik anak dengan epilepsi terkontrol yang mengalami relaps, mengetahui faktor prediktor epilepsi relaps, mengetahui luaranepilepsi relaps, mengetahui perjalanan EEG anak dengan epilepsi relaps. Penelitian dilakukan pada Juni-Desember 2016. Desain studi adalah kasus-kontrol, retrospektif, multisite dari rekam medis tahun 2012-2016. Studi rekam medis dilanjutkan dengan wawancara dan pemeriksaan EEG untuk kelompok kasus. Kelompok kasus adalah anak-anak dengan epilepsi relaps sedangkan kelompok kontrol adalah epilepsi remisi komplit. Analisis bivariat dan multivariat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor prediktor epilepsi relaps. Angka kejadian epilepsi relaps pada penelitian ini adalah 13,6 . Dilakukan analisis terhadap 63 subyek epilepsi relaps dan 63 subyek epilepsi remisi komplit. Faktor prediktor epilepsi relaps pada analisis bivariat yaitu: epilepsi simptomatik P

An inappropriate antiepileptic drugs AED withdrawal increases the risk of relapse. The risk of drug resistance in epilepsy relapse is very high. There is no consensus when the AED is safely withdrawn, so that epilepsy will not relapse. This study aims to know the incidence of relapse in children with controlled and uncontrolled epilepsy, the characteristics, predictors, outcomes, and EEG evolutions in children with epilepsy relapse. This study was held from June December 2016. This was a case control study with retrospective, multi site medical record evaluation from 2012 2016, followed by interview and EEG examination for the case group. The case group was children with epilepsy relapse, while the control was children with epilepsy complete remission. Bivariate and multivariate analysis was done to identify predictors of relapse. The incidence of epilepsy relapse in this study was 13,6 . We analyzed 63 epilepsy relapse and 63 epilepsy complete remission subjects. Relapse predictors in bivariate analysis were symptomatic etiology P
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Roro Rukmi Windi Perdani
"Latar Belakang : Epilepsi resisten obat berkisar 30% dari seluruh kasus epilepsi. Penggunaan kembali OAE lini 1 pada kasus tersebut belum pernah dilakukan meskipun dapat menjadi pilihan terapi karena berdasarkan penelitian sebelumnya OAE lini 1 memiliki efikasi yang sama dengan OAE lini 2 meskipun efek samping lebih sering terjadi. Tujuan : Menganalisis efikasi dan keamanan penggunaan kembali OAE lini 1 sebagai terapi subtitusi OAE lini 2 pada anak epilepsi resisten obat Metode : Penelitian ini adalah penelitian open-label, randomized control trial selama 12 minggu yang dilakukan di 3 rumah sakit yaitu RSUPN Cipto Mangunkusumo, RSAB Harapan Kita dan RSUP Fatmawati pada November 2022 – Mei 2023. Subyek merupakan anak yang didiagnosis epilepsi resisten obat, dibagi menjadi kelompok terapi subtitusi dan terapi standar. Instrumen terdiri dari diary card, kuesioner QOLCE-55 dan rekam medik elektronik. Analisis dilakukan untuk menilai perbedaan proporsi responder sebagai luaran primer. Luaran sekunder terdiri dari karakteristik, perbedaan penurunan frekuensi kejang, kualitas hidup, perbaikan EEG, durasi kejang, waktu penurunan frekuensi kejang, efek samping OAE dan faktor yang memengaruhi penurunan frekuensi kejang. Hasil : Terdapat 70 subyek terdiri dari 32 pada kelompok terapi subtitusi dan 38 pada kelompok terapi standar. Karakteristik kedua kelompok hampir sama. Sebagian besar berusia > 5 tahun, durasi pengobatan ≥ 2 tahun, mengonsumsi ≥ 3 OAE dan frekuensi kejang awal ≥ 20x/minggu. Tidak ada perbedaan proporsi responder antara kedua kelompok dan terdapat penurunan frekuensi kejang sekitar 78% - 80% setelah intervensi. Kualitas hidup subyek tergolong kurang baik tetapi terdapat peningkatan skor fungsi kognitif, sosial dan skor total di kelompok terapi subtitusi setelah intervensi, ada perbedaan perbaikan kualitas hidup antara kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan perbaikan EEG, durasi kejang, waktu untuk mencapai penurunan frekuensi kejang dan efek samping. Efek samping yang terjadi pada derajat ringan hingga sedang dan yang tersering adalah gangguan neuropsikiatri. Faktor yang berhubungan dengan penurunan frekuensi kejang pada kelompok terapi subtitusi adalah perbaikan EEG Kesimpulan : OAE lini 1 memiliki efikasi dan keamanan yang tidak berbeda dengan OAE lini 2, tetapi dapat meningkatkan kualitas hidup pada fungsi kognitif, sosial dan keseluruhan. OAE lini 1 dapat menjadi alternatif terapi subtitusi jika OAE lini 2 tidak.

Background : Drug-resistant epilepsy accounts for around 30% of all epilepsy cases. Repeating the use of first-line AEDs as substitution therapy might be the option since the previous study showed they are as effective as second-line ones. Objectives: To analyze the efficacy and safety of first-line AEDs as substitution therapy of second-line AEDs among drug resistant epilepsy children Methods : It was an open-label, randomized control trial study over 12 weeks period, conducted in Jakarta at Cipto Mangunkusumo Hospital, Harapan Kita Hospital, and Fatmawati Hospital, during November 2022 – May 2023. The participants were 1 – 18 children with drug-resistant epilepsy who were divided into 2 groups, the substitution and the standard group. The instruments were self-reported diary cards, validated QOLCE-55 questionaire, and electronic medical record. The primary outcome was the difference proportion of responders while secondary outcomes were clinical characteristic, the difference of seizure frequency, quality of life, EEG improvement, seizure duration and time to reach seizure reduction, adverse effect and factors that influence the seizure reduction. Results : There were 70 subjects who completed the study, 32 in the substitution and 38 in the standard therapy group. Most of the subjects were > 5 year-old, duration of treatment was ≥ 2 years with ≥ 3 AEDs, and had ≥ 20x/week of seizure. There was no significant difference proportion of responder, and the seizure decreases for about 78% - 80% after intervention. The quality of life was relatively poor, but there were significant improvement in cognitive, social and total score and also significant mean difference of improvement between the two groups. On the other hand, there were no differences of EEG and seizure duration improvement, as well as time to achieve seizure reduction between the two groups. There were mild to moderate adverse effect with neuropsychiatric symptom was the most common one, there was no difference of adverse effect between groups. The EEG improvement was associated with seizure reduction. Conclusion : First-line AEDs demonstrated comparable efficacy and safety to second-line AEDs, but may cause improvement of quality of life particularly in cognitive, social and overall function domains. They could be used as alternative substitution therapy particularly if second-line AEDs are not available."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>