Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 118332 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Leo Saputra
"ABSTRAK
Latar belakang: Pada pemakai gigi tiruan cekat dapat ditemukan gingivitis karena adanya peningkatan akumulasi plak yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kekasaran permukaan, letak margin, dan kontur mahkota. Untuk mencegah akumulasi plak dapat dilakukan kontrol plak. Minyak kelapa murni merupakan bahan herbal yang dapat digunakan sebagai obat kumur yang memiliki sifat antibakteri. Tujuan Penelitian: Mengetahui perbedaan skor indeks plak pada pemakai GTC sebelum dan sesudah berkumur dengan obat kumur minyak kelapa murni 12,5 . Bahan dan cara: Pengukuran indeks plak pada gigi abutment dengan gigi tiruan cekat pada 40 subjek yang terdiri dari kelompok uji dan kontrol. Subjek berkumur dengan obat kumur minyak kelapa murni 12,5 atau akuades selama 4 hari sebanyak 2 kali sesudah menyikat gigi. Analisis statistik skor indeks antara sebelum dan sesudah berkumur dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil: Ada perbedaan skor indeks plak yang bermakna pada pemakai GTC antara sebelum dan sesudah berkumur obat kumur minyak kelapa murni 12,5 dengan penurunan skor indeks plak yang berbeda bermakna berdasarkan letak tepi restorasi dan kebiasaan sikat gigi, sedangkan tidak berbeda bermakna berdasarkan usia dan jenis kelamin. Kesimpulan: Obat kumur minyak kelapa murni 12,5 dapat menurunkan indeks plak pada pemakai GTC.
ABSTRACT
Gingivitis could be found among fixed prosthetic denture FPD users due to plaque accumulation which is affected by several factors, such as surface roughness, margin location, and crown contour. To prevent or diminish plaque accumulation, plaque control should be done. Virgin coconut oil is a herbal substance that could be used as an antibacterial mouthwash. This study aims to find out the difference in plaque index score of FPD users before and after using 12,5 virgin coconut oil mouthwash. Plaque index measurement on abutment tooth with FPD was done on 40 subjects from test and control groups. Subjects use 12,5 virgin coconut oil mouthwash or aquades twice a day for 4 days after brushing their teeth. Statistical analysis of the measurement result of plaque index score before and after mouthwashing was done using Wilcoxon test. There is a statistically significant difference in plaque index score of FPD users before and after using 12,5 virgin coconut oil mouthwash with a statistically significant difference in decrease of plaque index score between restoration margin locations and tooth brushing habits, but not between age and gender groups. 12,5 virgin coconut oil mouthwash could decrease the plaque index of FPD users."
2017
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Adeline Clarissa
"Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek obat kumur mengandung ekstrak daun teh hijau terhadap penyembuhan keradangan gingiva secara klinis. 60 penderita gingivitis dibagi menjadi dua kelompok, kelompok eksperimen dan kontrol. Berkumur dilakukan dua kali sehari selama empat hari. Pengukuran Indeks Plak (PlI) dan Indeks Papilla-Bleeding (PBI) dilakukan pada hari nol dan hari lima. Data dianalisis menggunakan uji Paired dan Independent T-Test. Terdapat penurunan PlI dan PBI yang bermakna (p<0,05) setelah berkumur pada kedua kelompok dan terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antara kelompok pada penurunan PlI dan PBI. Dengan demikian, obat kumur mengandung ekstrak daun teh hijau mampu menurunkan keradangan gingiva.

The purpose of this research is to know the effect of mouthwash containing green tea leaves extract towards gingivitis healing clinically. 60 subjects suffering gingivitis were divided into two groups, the experimental group and control group. Rinsing was done twice a day for four days. Plaque Index (PlI) and Papilla-Bleeding Index (PBI) were measured on day zero and day fifth. Data were analyzed using Paired and Independent T-Test. There was a significant reduction (p<0,05) of PlI and PBI post-rinsing within both group and there was significant difference (p<0,05) between the groups on PlI and PBI reduction. Mouthwash containing green tea leaves extract is able to decrease gingival inflammation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
S44832
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rivanti Irmadela Devina
"Tujuan penelitian eksperimental klinis ini menganalisis efek obat kumur temulawak terhadap gingivitis secara klinis.Enam puluh penderita gingivitis dibagi menjadi dua kelompok : berkumur dengan temulawak dan plasebo. Indeks plak (PlI) dan Papilla Bleeding Index (PBI) diukur sebelum dan setelah berkumur, dua kali sehari selama empat hari. Nilai PlI dan PBI pada kedua kelompok setelah berkumur lebih rendah daripada saat sebelum berkumur, secara statistik bermakna (uji T berpasangan; p<0,05). Nilai PlI dan PBI pada kelompok temulawak memiliki perbedaan yang bermakna dengan kelompok plasebo (uji T tidak berpasangan; p<0,05). Berkumur dengan obat kumur yang mengandung temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dapat menurunkan gingivitis.

The aim of this clinical experimental study is to analyze the effect of extract temulawak towards gingivitis clinically. Sixty patients gingivitis divided into two groups: rinsed using temulawak and placebo. Plaque index (PlI) and Papilla Bleeding Index (PBI) were measured before and after rinsing, twice a day for four days. The PlI and PBI score after rinsing in both groups were lower than before rinsing(paired T test; p<0,05). The follow up PlI and PBI score of control group were different significantly with the experiment group (independent T test; p<0,05). Rinsing with temulawak (Curcuma xanthorrhiza) mouthwash can reduce gingivitis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2012
S45462
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Rahmi Dewiani
"[Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara posisi gigi insisif pertama rahang atas dan freeway space pada pemakai gigi tiruan lengkap (GTL) dengan waktu adaptasi fonetik berdasarkan Baku Emas Palatogram Konsonan Linguo-Palatal Bahasa Indonesia, khususnya huruf ?s? dan ?z?. Desain penelitian kuasi-eksperimental dengan subjek terdiri dari 35 pemakai GTL. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara posisi gigi insisif pertama rahang atas dan waktu adaptasi fonetik huruf ?s? dan ?z?, namun tidak terdapat hubungan yang bermakna antara freeway space dan waktu adaptasi fonetik.;The objective of this study is to analyze relationship between position of upper first incisive and freeway space of the complete denture wearers with the phonetic adaptation time, based on the gold standard of Indonesian linguo-palatal consonant palatogram, in order to be able to pronounce linguo-palatal consonant, especially ?s? and ?z? sound. This research is quasi-expertiment study, consist of 35 subject of complete denture wearers. The result of this study is that the position of the upper first incisive affecting the phonetic adaptation of complete denture wearer especially ?s? and ?z? sound. Nontheless, no significant relationship between freeway space and phonetic adaptation time.;The objective of this study is to analyze relationship between position of upper first incisive and freeway space of the complete denture wearers with the phonetic adaptation time, based on the gold standard of Indonesian linguo-palatal consonant palatogram, in order to be able to pronounce linguo-palatal consonant, especially ?s? and ?z? sound. This research is quasi-expertiment study, consist of 35 subject of complete denture wearers. The result of this study is that the position of the upper first incisive affecting the phonetic adaptation of complete denture wearer especially ?s? and ?z? sound. Nontheless, no significant relationship between freeway space and phonetic adaptation time.;The objective of this study is to analyze relationship between position of upper first incisive and freeway space of the complete denture wearers with the phonetic adaptation time, based on the gold standard of Indonesian linguo-palatal consonant palatogram, in order to be able to pronounce linguo-palatal consonant, especially ?s? and ?z? sound. This research is quasi-expertiment study, consist of 35 subject of complete denture wearers. The result of this study is that the position of the upper first incisive affecting the phonetic adaptation of complete denture wearer especially ?s? and ?z? sound. Nontheless, no significant relationship between freeway space and phonetic adaptation time., The objective of this study is to analyze relationship between position of upper first incisive and freeway space of the complete denture wearers with the phonetic adaptation time, based on the gold standard of Indonesian linguo-palatal consonant palatogram, in order to be able to pronounce linguo-palatal consonant, especially ‘s’ and ‘z’ sound. This research is quasi-expertiment study, consist of 35 subject of complete denture wearers. The result of this study is that the position of the upper first incisive affecting the phonetic adaptation of complete denture wearer especially ‘s’ and ‘z’ sound. Nontheless, no significant relationship between freeway space and phonetic adaptation time.]"
2015
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mercy Claudia Marceau
"Latar Belakang: Perawatan gigi tiruan cekat merupakan salah satu perawatan yang bersifat invasif karena membutuhkan preparasi pada gigi penyangga. Oleh karena itu, seorang dokter gigi harus memiliki kepercayaan dan kesiapan diri yang tinggi untuk melakukan perawatan gigi tiruan cekat, agar tidak terjadi kesalahan yang bersifat irreversible. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kesiapan dengan kepercayaan diri mahasiswa profesi FKG UI dalam menangani kasus gigi tiruan cekat, serta mengetahui distribusi dan frekuensi kesiapan dan kepercayaan dan diri mahasiswa profesi FKG UI dalam menangani kasus gigi tiruan cekat. Metode Penelitian: Sebanyak 153 responden yang merupakan mahasiswa aktif tingkat 1 dan 2 pada Program Studi Profesi FKG UI berpartisipasi dalam survei yang dilakukan secara daring. Responden mengisi dua kuesioner terkait kesiapan dan kepercayaan diri dalam menangani kasus gigi tiruan cekat yang digunakan oleh Ilić et al dan Barrero et al dalam bahasa aslinya, yaitu bahasa Inggris. Penyebaran kuesioner dilakukan secara daring dalam bentuk google form. Hasil Penelitian: Hasil uji Continuity Correction menunjukkan bahwa kesiapan memiliki hubungan yang bermakna secara statistik dengan kepercayaan diri mahasiswa profesi FKG UI (p=0,003, p=0,000, p=0,005). Penelitian ini juga menunjukkan bahwa tindakan dengan tingkat kepercayaan diri yang paling rendah adalah preparasi saluran akar untuk perawatan gigi tiruan mahkota (47,7% responden menjawab “moderate confidence”) dan tindakan dengan tingkat kepercayaan yang paling tinggi adalah pencetakan untuk perawatan gigi tiruan cekat (48,4% responden menjawab “confident”). Selain itu, dari penelitian ini diketahui bahwa tindakan dengan tingkat kesiapan yang paling rendah adalah memperbaiki fraktur dan pengangkatan mahkota tiruan di mana 39,2% dari responden menjawab “neutral”. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang signifikan antara kesiapan dengan kepercayaan diri mahasiswa profesi FKG UI. Mahasiswa profesi FKG UI memiliki tingkat kesiapan dan kepercayaan diri yang cukup baik dalam menangani kasus gigi tiruan cekat.

Background: Fixed denture treatment is an invasive treatment since it requires preparation of the supporting teeth. Therefore, a dentist must have a high degree of self-confidence and preparedness to carry out fixed denture care, so that irreversible errors do not occur. Objectives: This study aims to analyze the relationship between preparedness and self-confidence of FKG UI’s clinical dental students in handling fixed denture cases, as well as knowing the distribution and frequency of preparedness and self-confidence of FKG UI’s clinical dental students in handling fixed denture cases. Research Methods: A total of 153 respondents, consisting of first- and second-year students of the FKG UI Professional Study Program participated in the online survey. Respondents completed two questionnaires related to preparedness and self-confidence in handling fixed denture cases used by Ilić et al and Barrero et al in their original language, namely the English language. Distribution of the questionnaire was carried out online in the form of a google form. Research Results: The result of the Continuity Correction test shows a statistically significant relationship between preparedness and self-confidence of FKG UI's clinical dental students (p=0,003, p=0,000, p=0,005). This research also shows that the action with the lowest level of confidence is root canal preparation for casted post where 47.7% of the respondents answered, “moderate confidence”, and the action with the highest level of confidence is taking impressions for fixed prosthetics where 48.4% of the respondents answered “confident”. In addition, this research also shows that the action with the lowest level of preparedness is repairing fractures and removing crowns in which 39.2% of the respondents answered “neutral”. Conclusion: There is a significant relationship between preparedness and self-confidence of FKG UI's clinical dental students. FKG UI's clinical dental students have a satisfactory level of readiness and confidence in handling fixed denture cases."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuniarti Soeroso
"Air garam hangat dan H2O2 3% sating digunakan sebagai obat kumur untuk terapi keradangan Gingiva. Belum pernah dilakukan penelitian dibagian perio FKG UI mengenai efektivitas kedua bahan obat kumur tersebut terhadap keradangan gingiva. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan'efektivitas air garam hangat dengan larutan H2O2 3% sebagai obat kumur, terhadap penurunan keradangan gingiva secara klinis. Penelitian dilakukan pada 90 penderita gingivitis yang datang ke klinik periodonsia FKG UI, berusia antara 18-40 tahun, terdiri dari 52 wanita 39 pria. Sampel dibagi atas 3 kelompok dengan randomisasi. Kelompok I berkumur dengan air garam hangat 1,2%, kelompok II berkumur dengan lantan H202 3°/g kelompok III merupakan kelompok kontrol berkumur dengan air hangat. Konsentrasi air garam hangat 1,2% ditetapkan berdasarkan pemilihan beberapa takaran berat garam yang dianjurkan dan rasa yang paling dapat diterima didalam mulut. Masing-rnasing kelompok menggunakan obat kumur 2x 1 hari selama 5 hari, pagi dan malam.
Kumur-kumur dilakukan selama 1 menit. Pencatatan skor pink (Loa dan Silness) clan skor PBI (Modifikasi Papillae Bleeding Index dari Muhlemann) dilakukan pada hari ke 1 dan hari ke 5. Perubahan skor indeks plak dan skor PBI antara sebelum dan sesudah kumur-kumur air garam hangat 1,2%, H202 3% dan air hangat, diuji dengan "Paired Sample T Test" pada tingkat kepercayaan 95%. Untuk mengetahui perbedaan efektivitas air garam hangat 1,2% dan H2O2 3% terhadap perubahan skor indeks plak dan skor PBI (keradangan gingiva) dilakukan uji "Anova" pada tingkat kepercayaan 950/0. Hasilnya menunjukkan terdapat penurunan skor indeks plak yang bermakna sesudah berkumur air garam hangat 1,2% clan H2O2 3% (P < 0,05 ), sedang pada kelompok kontrol tidak terdapat penurunan skor indeks plak yang ber makna ( P > 0,05 ).
Terdapat penurunan skor PBI atau keradangan gingiva yang sangat bermalcna setelah berkumur dengan air garam hangat 1,2%, H202 3% dan air hangat (p > 0,001 ). Antara ketiga bahan obat kumur tidak terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna dalam menurunkan skor indeks plak (p > 0,05 ). Terdapat perbedaan efektivitas yang sangat bermakna antara ketiga bahan obat kmur didalam menurunkan skor PBI atau keradangan gingiva (p < 0,001 ). Air Karam hangat 1,2% lebih efektif dari H2O2 3% dalam menurunkan skor PBI. Air garam hangat 1,2% dan 102 3% lebih efektif dari kelompok kontrol dalam menurunkan skor PBI. Dapat diambil kesimpulan bahwa air garam hangat 1,2% lebih efektif dari H2O2 3% dalam menurunkan keradangan gingiva. Hal ini kemungkinan karena sifatnya sebagai antiseptik dan ada peran temperatur hangat terhadap vaskularisasi gingival."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fadila Khairani
"[Kehilangan gigi dapat digantikan dengan gigi tiruan jembatan (GTJ) ataupun gigi tiruan sebagian lepasan (GTSL). Menurut berbagai penelitian pemilihan jenis gigi tiruan tersebut dipengaruhi oleh jenis kelamin, usia, pekerjaan, motivasi pasien dan lokasi kehilangan gigi, namun belum terdapat penelitian yang meneliti faktor tersebut di Klinik Integrasi RSKGM FKG UI yang merupakan salah satu penyedia jasa perawatan gigi tiruan yang cukup besar di Jakarta, sehingga perlu dilakukan penelitian serupa di Klinik Integrasi RSKGM FKG UI. Desain penelitian ini adalah potong lintang, menggunakan 265 rekam medik pasien yang diolah dengan piranti lunak SPSS versi 17 menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik, tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan pemilihan jenis gigi tiruan (p=0,395), namun sebaliknya terdapat hubungan bermakna antara usia (p=0,005), pekerjaan (p=0,000), motivasi pasien (p=0,038), dan lokasi kehilangan gigi (p=0,000) dengan pemilihan jenis gigi tiruan.

Missing teeth could be replaced either by bridge or removable partial denture. Based on some researches, the treatment decision is influenced by gender, age, occupation, motivation and location of missing teeth, yet there hasn?t any research conducted at Integration Clinic of RSKGM FKG UI as one of big providers for prosthetic treatment in Jakarta, then there should be a research to analyze those factors at RSKGM FKG UI. The design of this study is cross sectional study, using 265 patients` medical records which statistically analyzed by (SPSS) version 17 using Chi-square test. It was found that statistically, gender had no significant relationship with the treatment decision (p=0,395). In contrary, age (p=0,005), occupation (p=0,000), patient`s motivation (p=0,038) and location of missing teeth (p=0,000) had siginificant relationship with the treatment decision.;Missing teeth could be replaced either by bridge or removable partial denture. Based on some researches, the treatment decision is influenced by gender, age, occupation, motivation and location of missing teeth, yet there hasn?t any research conducted at Integration Clinic of RSKGM FKG UI as one of big providers for prosthetic treatment in Jakarta, then there should be a research to analyze those factors at RSKGM FKG UI. The design of this study is cross sectional study, using 265 patients` medical records which statistically analyzed by (SPSS) version 17 using Chi-square test. It was found that statistically, gender had no significant relationship with the treatment decision (p=0,395). In contrary, age (p=0,005), occupation (p=0,000), patient`s motivation (p=0,038) and location of missing teeth (p=0,000) had siginificant relationship with the treatment decision, Missing teeth could be replaced either by bridge or removable partial denture. Based on some researches, the treatment decision is influenced by gender, age, occupation, motivation and location of missing teeth, yet there hasn’t any research conducted at Integration Clinic of RSKGM FKG UI as one of big providers for prosthetic treatment in Jakarta, then there should be a research to analyze those factors at RSKGM FKG UI. The design of this study is cross sectional study, using 265 patients` medical records which statistically analyzed by (SPSS) version 17 using Chi-square test. It was found that statistically, gender had no significant relationship with the treatment decision (p=0,395). In contrary, age (p=0,005), occupation (p=0,000), patient`s motivation (p=0,038) and location of missing teeth (p=0,000) had siginificant relationship with the treatment decision]"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2016
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prijantojo
"ABSTRAK
Penelitian secara "double blind" dilakukan terhadap 108 orang percobaan umur antara 10-15 tahun untuk menentukan efektifitas obat kumur yang mengandung 0,27. Chlorhexidine dan 0,17. Hexetidine terhadap radang gingiva secara klinis. Orang percobaan dibagi 3 kelompok; kelompok yang menggunakan Chlorhexidine, kelompok yang menggunakan Hexetidine dan kelompok plasebo sebagai kelompok kontrol. Masing-masing orang percobaan kumur-kumur 2 kali sehari pagi sesudah gosok gigi dan malam hari sebelum tidur dengan menggunakan 10 ml obat kumur/plasebo selama 30-60 detik setiap kali kumur. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan bermakna antara Chlorhexidine dengan hexetidine dalam menurunkan derajat keradangan gingiva pada hari ke 3 dan pada hari ke 7 (p < 0.05). Peningkatan kesehatan gingiva pada Chlorhexidine sebanyak 32% pada hari ke 3 dan 777. pada hari ke 7, sedang pada kelompok Hexetidine sebanyak 25% pada hari ke 3 dan 37% pada hari ke 7."
Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1990
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Shaffa Amalia
"Zinc Zn merupakan mineral yang terkandung dalam salah satu enzim alkaline phosphatase dalam cairan krevikular gingiva. Volume cairan krevikular gingiva ini diketahui berhubungan berat dengan gingivitis. Gingivitis pada anak disebabkan oleh akumulasi plak dan bakteri. Plak merupakan lapisan di permukaan gigi yang mengandung bakteri. Bakteri Streptococcus mutans S. mutans paling banyak ditemukan di plak dan berkoloni pada permukaan gigi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan kadar Zn dalam cairan krevikular gingiva dengan terjadinya gingivitis dan pertumbuhan koloni S. mutans pada anak di wilayah DKI Jakarta. Subyek penelitian berusia 12-14 tahun, sebanyak 30 anak. Sampel penelitian berupa kadar Zn yang terdapat di dalam cairan krevikular gingiva. Kadar Zn diukur dengan menggunakan metode spektofotometri serapan atom. Terdapat hubungan lemah dan tidak bermakna dengan arah korelasi positif antara kadar Zn dalam cairan krevikular gingiva dengan terjadinya gingivitis.

Zinc Zn is a mineral that is contained in one of the enzyme alkaline phosphatase in gingival crevicular fluid. The volume of gingival crevicular fluid are considered to have a relationship with gingivitis. Gingivitis in children is caused by the accumulation of plaque and bacteria. Plaque is a layer on the surface of the tooth that contains bacteria. Streptococcus mutans S. mutans is the most commonly found on plaque and colonize on the tooth surfaces. This research was conducted to determine relationship Zn levels in gingival crevicular fluid to gingivitis and S. Mutans colony growth in children. Subjects aged 12 14 years old, 30 children. Zn levels were measured using atomic absorption spectrophotometry method. There is weak and no significant relationship with positive correlation between Zn levels in gingival crevicular fluid and gingivitis p.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sabrina Amira
"Latar Belakang: Sindroma Down merupakan kelainan genetik yang disebabkan oleh terjadinya trisomi pada kromosom 21.  Penyandang sindroma Down memiliki karakteristik fisik dan kondisi sistemik tertentu. Hal ini berhubungan dengan kondisi rongga mulutnya, terutama jaringan periodontal (gingiva) serta kebersihan gigi dan mulut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi gingivitis dan OHIS (Oral Hygiene Index-Simplified) pada penyandang sindroma Down usia 14 tahun ke atas di SLB tipe C di Jakarta. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif potong lintang. Subjek penelitian adalah 174 penyandang sindroma Down usia 14 tahun ke atas yang bersekolah di SLB tipe C di Jakarta. Gingivitis diukur menggunakan Indeks Gingiva oleh Loe dan Sillness, sementara kebersihan gigi dan mulut diukur menggunakan OHIS oleh Greene dan Vermillon. Hasil: Hasil dari penelitian menunjukkan distribusi frekuensi gingivitis sebagai berikut; 3,45% bebas gingivitis, 47,13% gingivitis ringan, 40,80% gingivitis sedang, dan 8,63% gingivitis berat. Sementara, untuk distribusi frekuensi OHIS adalah sebagai berikut; 28,16% memiliki OHIS baik, 49,43% memiliki OHIS sedang, dan 22,41% memiliki OHIS buruk. Kesimpulan: Penyandang sindroma Down memiliki distribusi frekuensi gingivitis yang dominan pada gingivitis ringan dan sedang, sementara mayoritas memiliki OHIS sedang.

Background: Down syndrome is a genetic disorder caused by trisomy in chromosome 21. Individuals with Down syndrome have specific physical characteristics and systemic conditions. This may relate to their oral condition, such as periodontal tissues (gingiva) as well as their oral hygiene. Objective: The aim of this study is to know the frequency distribution of gingivitis and OHIS (Oral Hygiene Index-Simplified) in 174 individuals with Down syndrome aged 14 and above in SLB type C in Jakarta. Method: This study used a cross-sectional descriptive method. Research subjects were 174 individuals with Down syndrome aged 14 and above who went to school in SLB type C in Jakarta. Gingivitis was measured using Gingival Index by Loe and Sillness, while oral hygiene was measured using OHIS by Greene and Vermillon. Result: The result of this study showed a frequency distribution of gingivitis as follows; 3.45% were free of gingivitis, 47.13% had mild gingivitis, 40.80% had moderate gingivitis, and 8.63% had severe gingivitis. Frequency distribution of OHIS were as follows; 28.16% had good OHIS, 49.43% had fair OHIS, and 22.41% had poor OHIS. Conclusion: Individuals with Down syndrome had frequency distribution of gingivitis mainly in mild and moderate category, while the majority the subjects had fair OHIS.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2017
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>