Ditemukan 74098 dokumen yang sesuai dengan query
Doddy Purwadianto
"
ABSTRACTA common way to increase the efficiency of distillation of solar energy is by cooling the cover glass. The method of cooling glass that is widely studied is the spray method. Spray method still has a weakness that is not the entire surface of the glass can be wetted cooling water. The water reservoir method allows wettage of the entire surface of the cover glass so that the cooling process can be better. This study aims to increase the efficiency of the distillation of solar energy water by cooling the cover glass using a water reservoirs method. Parameters varied during this experimental stage are: the cooling water mass rate. Parameters measured were: (1) absorber temperature, (2) cover glass temperature, (3) cooling water temperature, (4) input water temperature, (5) ambient air temperature, (6) distilled water, (7) solar energy coming and (8) data recording time. The conclusions of this study were: the largest distillate water yield obtained was 3.26 liter / (hari.m2) with an average efficiency of 41.0%. Distilled water yield and best efficiency are obtained at cooling water rate of 7.1 liter / hour. The temperature difference between the absorber and the largest glass is 11.4°C"
Yogyakarta: Media Teknika, 2017
620 MT 12:2 (2017)
Artikel Jurnal Universitas Indonesia Library
Jusafwar
"
ABSTRAKDestilator Surya yang ada saat ini sangat kecil penggunaannya dalam masyarakat, karena efisiensinya masih sangat rendah. Dengan demikian pembicaraan pemanfaatan energi surya untuk penjernihan 1 pemurnian air hanya terbatas di dunia Laboratorium saja. Pada kesempatan ini penulis mencoba mengadakan penelitian untuk melihat hasil penyulingan air dengan menggunakan bermacam jenis bahan absorber. Bahan tersebut antara lain :
+ Serat Ijuk Kelapa
+ Serat Kain Goni
+ Serbuk Arang Kayu
+ Serat Hasil Gergaji Kayu
+ Pasir
Kesemua bahan ini akan menimbulkan suatu rongga ( pori ) pada absorber. Bahan ini di tempatkan di atas seng pada landasan absorber dengan ketebalan tertentu. Dengan Demikian energi matahari yang tiba di permukaan absorber dapat dengan cepat menguapkan lapisan air yang sangat tipis di sekitar butir-butir absorber.
Dengan menggunakan 5 (lima) macam bahan absorber terlihat hasil penyulingan yang banyak di hasilkan oleh absorber yang menggunakan bahan pasir. Dengan demikian bahan absorber yang baru ini akan dapat di gunakan untuk menjawab kebutuhan air bersih di daerah yang jauh dari energi konvensional."
Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 1996
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian Universitas Indonesia Library
Nandy Setiadi Djaya Putra
Depok: UI Publishing, 2019
621.47 NAN t
Buku Teks Universitas Indonesia Library
Nandy Setiadi Djaya Putra
Depok: UI Publishing, 2019
621.47 NAN t
Buku Teks Universitas Indonesia Library
Jandri Jakub
"Telah di sintesis nanopartikel Oksida Seng (ZnO) dalam bentuk endapan dengan metode kimia basah dengan memvariasikan temperatur pada saat pencampuran prekursor yaitu 0, 30 dan 60°C. Teknik pencampuran dilakukan dengan metoda dropwise, dimana kedua prekursor secara bersamaan dicampur tetes demi tetes dengan rasio molar [Zn2+] : [OH-] = 0.277 yang dilanjutkan dengan proses anil dan pasca-hidrotermal pada temperatur 150 oC selama 24 jam dengan tujuan untuk meningkatkan kristalinitasnya.
Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa seiring dengan peningkatan temperatur pencampuran prekursor dalam teknik presipitasi dari 0 hingga 60oC diperoleh peningkatan ukuran kristalit nanopartikel ZnO dari 9,14 menjadi 11,24 nm pada kondisi pengeringan. Investigasi lanjut dengan spektroskopi UV-Vis menunjukkan turunnya energi celah pita dari 3,27 menjadi 3,23 eV seiring dengan meningkatnya ukuran kristalin. Studi lanjut nanopartikel ZnO mengindikasikan adanya peningkatan kristalinitas dari 10,47 menjadi 14,74 nm untuk hasil perlakuan pasca-hidrotermal. Bersesuaian dengan hasil pengeringan, sampel pasca-hidrotermal juga mengalami penurunan energi celah pita dari 3,24 menjadi 3,22 eV.
In the current research work, zinc oxide nanoparticles have been synthesized using wet-chemistry method with variation of precursors mixing temperature ranging from 0 oC to 60 oC. The mixing was performed thoroughly, where both zinc acetate and sodium hydroxide precursors were dropwisely added with [Zn2+] : [OH] or molar ratio of 0.277. The process was further continued with drying, annealing and post-hydrothermal treatments, in order to enhance the nanocrystallinity of the resulting ZnO nanoparticles. The result of XRD analysis showed that by increasing the precursor mixing temperature from 0 to 60 oC has increased the crystallite size of ZnO nanoparticles from 9.14 to 11.24 nm at drying condition, and 10.47 to 14.74 nm at post-hydrothermal treatment. The UV-Vis spectroscopy results demonstrate the decrease in band gap energy from 3.27 to 3.23 eV and 3.24 to 3.22 eV for ZnO nanoparticles at drying and post-hydrothermal conditions, respectively."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
T30018
UI - Tesis Open Universitas Indonesia Library
Muhammad Imam Dzaky
"Salah satu pemanfaatan energi terbarukan adalah energi matahari yang dimanfaatkan untuk Solar Thermal Cooling System dengan menggunakan Evacuated Tube Solar Collector (ETSC) untuk mengkonversi energi matahari menjadi energi kalor yang dapat memanaskan fluida kerja air tanpa menggunakan heater. Peneilitian ini bertujuan untuk mengetahui durasi pemanasan fluida kerja air dari suhu ambien hingga 50°C agar dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mandi air hangat sebanyak 50-liter dan 100-liter air. Penelitian ini menggunakan Standar ASHRAE 93-2003 yang menyediakan berbagai metode untuk menentukan performa dari solar kolektor, standard ini menggunakan single phase fluids dengan sistem close loop. Metode pengambilan data dilakukan dengan cara mempersiapkan measurement device sebagai mikrokontroller untuk menjalankan sensor thermocouple yang dimana sensor tersebut digunakan untuk mengambil data temperatur inlet dan outlet solar collector manifold, serta data radiasi didapatkan dari Pyranometer. Pengambilan data durasi pemanasan air sebanyak 50-liter dan 100-liter dilakukan dengan memvariasikan flow rate fluida kerja air yang bersirklus pada sistem, sebesar 2,6 LPM, 3,6 LPM, dan 4,6 LPM serta sudut kemiringan ETSC sebesar 15° yang berlokasi di Depok, Jawa Barat dengan kondisi cuaca aktual pada bulan November-Desember 2022.
One of the uses of renewable energy is solar energy which is utilized for the Solar Thermal Cooling System using an Evacuated Tube Solar Collector (ETSC) to convert solar energy into heat energy which can heat the water working fluid without using a heater. This research aims to determine the duration of the heating of the water working fluid from ambient temperature to 50°C so that it can be utilized for the needs of 50-liter and 100-liters of water warm baths. This study uses the ASHRAE 93-2003 standard which provides various methods for determining the performance of solar collectors, this standard uses single phase fluids with a close loop system. The data collection method is carried out by preparing a measurement device as a microcontroller to run the thermocouple sensor where the sensor is used to retrieve the inlet and outlet temperature data of the solar collector manifold, as well as radiation data obtained from the Pyranometer. Data collection for the duration of water heating of 50-liters and 100-liters was carried out by varying the flow rate of the circulating water working fluid in the system, by 2.6 LPM; 3.6 LPM; and 4.6 LPM and an ETSC angle of 15° which is located in Depok, West Java with actual weather conditions in November-December 2022."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Muhammad Idrus Alhamid
"Sektor bangunan di Indonesia membutuhkan sistem pendingin udara untuk menciptakan zona kenyamanan termal. Secara umum, energi listrik berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, adalah bentuk energi tidak terbarukan dan memiliki masalah lingkungan. Di Indonesia, energi matahari dapat dimanfaatkan sepanjang tahun. Pemanfaatan energi matahari untuk sistem pendingin oleh panas memiliki keuntungan yang signifikan; yaitu sumber energi bersih, tersedia tanpa biaya langsung dan dapat diakses secara proporsional ketika beban pendinginan meningkat. Energi matahari untuk sistem absorption chiller di Indonesia adalah salah satu teknologi yang menjanjikan yang dapat memecahkan masalah energi dan lingkungan. Bekerja bersama Kawasaki Thermal Engineering dan Waseda University, Universitas Indonesia telah merancang dan membangun Solar Thermal Cooling System (STCS) pertama di Indonesia. Sistem ini menggunakan mesin chiller penyerapan efek-tunggal-ganda; terletak di gedung Manufactur Research Center (MRC), Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Dari tipikal data uji lapangan, STCS dapat mengurangi konsumsi energi primer antara 11 dan 48% dibandingkan dengan kompresi uap dengan COP 3,1. Selain itu, disain dan penelitian ini juga memprediksi kinerja sistem ini di enam kota besar di Indonesia berdasarkan data uji lapangan: Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Makassar, dan Bali. Rata-rata dalam satu bulan untuk enam kota adalah 25,8 MWh pengurangan konsumsi gas setara dengan pengurangan 13,8 ton emisi CO2.
Building sector in Indonesia requires air conditioning systems to create comfort zones. Generally powered by fossil fuel combustion, electricity poses environmental issues as a non-renewable form of energy. In Indonesia, solar energy remains accessible throughout the year. Utilizing solar energy for heat-driven cooling systems offers significant advantages: a clean energy source, available at no direct cost, and proportionally accessible with increased cooling demand. Solar energy for absorption chiller systems in Indonesia presents a promising technology to address energy and environmental concerns. In collaboration with Kawasaki Thermal Engineering and Waseda University, the University of Indonesia has designed and constructed Indonesia's first Solar Thermal Cooling System (STCS). This system uses a double-effect absorption chiller, located at the Manufactur Research Center (MRC) building, Faculty of Engineering, Universitas Indonesia. Field test data indicates that the STCS can reduce primary energy consumption between 11 and 48% compared to vapor compression systems with a COP of 3.1. This design and research predict the system's performance in six major cities in Indonesia—Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta, Makassar, and Bali. On average, for these six cities in a month, there's a reduction of 25.8 MWh in gas consumption, equivalent to a decrease of 13.8 tons of CO2 emissions."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Muhammad Abiyyu
"Penelitian mengenai unjuk kerja solar termal kolektor terus mengalami kemajuan. Telah banyak inovasi dan temuan baru pada berbagai jenis kolektor non concentrating yang menyatakan peningkatan yang cukup signifikan dalam unjuk kerja solar termal kolektor.Olehkarena itu dibutuhkan suatu sistem sebagai fasilitas pengujian unjuk kerja, yang memiliki standar tertentu yang umum. Penelitian ini membahas sistem pengujian dengan standar ASHRAE-93 , yaitu meliputi perancangan fasilitas pendukung seperti frame, perhitungan instrumen-instrumen utama , dan pemilihan alat ukur yang sesuai dengan standar. Selanjutnya juga diberikan pembahasan mengenai proses assembling dan validasi alat-alat ukur.
Dilakukan pengujian dengan menggunakan kolektor jenis Evacuated Tube Sollar Collector, yang dipasang di atas gedung MRC FTUI. Pengujian dimulai pukul 09.00 WIB hingga 15.00 WIB dibawah sinar matahari. Data yang diproleh yaitu temperatur inlet kolektor, temperatur outlet, temperatur ambien dan radiasi matahari setiap sepuluh menit. Diperoleh bahwa efisiensi pada pengujian ini adalah sebesar 50,7 % dengan persamaan garis karakteristik efisiensi y = -3.1836x + 0.057.
Research on the solar thermal collector performance continues to progress. There have been many innovations and new findings on various types of non-concentrating collectors which state a significant increase in the performance of solar thermal collectors. Therefore, a system is needed as a performance testing facility, which has certain common standards. This study discusses the testing system with the ASHRAE-93 standard, which includes the design of supporting facilities such as frames, calculation of main instruments, and selection of measuring instruments according to standards. Furthermore, it is also given a discussion about the assembling process and validation of measuring instruments.The test was carried out using the Evacuated Tube Sollar Collector , which is installed on the rooftop of the MRC FTUI building. The experiment was carried out at 09.00 WIB to 15.00 WIB under the sun . The data obtained are collector inlet temperature, collector outlet temperature, ambient temperature and solar radiation every ten minutes. It was found that the efficiency of Evacuated Tube Sollar Collector was 50.7% with the efficiency characteristic line equation y = -3.1836x + 0.057."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-Pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
I Dewa Gede Agus Tri Putra
"System cogeneration adalah produksi energi thermal dan listrik secara simultan dengan sebuah sumber energi primer. System ini disusun oleh 5 komponen utama yaitu: kolektor surya (evaporator), motor torak tenaga uap dengan generator set, unit heat exchanger (kondensor) dan sebuah pompa sebagai sirkulator. Dalam kajian yang dilakukan, faktor-faktor yang mempengaruhi Daya listrik dan Thermal yang dihasilkan dalam system cogeneration ditunjukkan dalam sebuah hubungan matematis, serta pemodelan thermal untuk sebuah gedung lantai 3 yang akan diaplikasikan system cogeneration. Metode yang akan digunakan adalah regression multivariate dengan control least square dan meminimalkan residu antara hasil pengukuran dan hasil perhitungan (error analysis). Setelah kajian yang dilakukan, sebuah model kuadratik yang sesuai untuk mempresentasikan phenomena pisik yang terjadi pada motor torak tenaga uap yang akan digunakan dalam cogeneration system pada sebuah bangunan berlantai 3. Motor torak tenaga uap yang digunakan bekerja pada tekanan 30 bar dan memiliki putaran stabil pada 1500 rpm. Dengan menggunakan software TRNSYS 16 kebutuhan energi thermal gedung disimulasikan selama 8760 jam dan disesuaikan dengan kondisi iklim tempat perencanaan model yang akan dibangun. Dari simulasi yang telah dilakukan maka dapat diketahui bahwa total energy yang di konsumsi gedung tersebut adalah 62.5 kWhep/m2/tahun.
Cogeneration system is the production of thermal and electrical energy simultaneously with a primary energy source. This system is composed by five main components: solar collector (evaporator), steam piston motor with a generator set, the unit heat exchanger (condenser) and a pump as circulator. In a study conducted, the factors that affect the electrical and thermal power generated in the cogeneration system is shown in a mathematical relationship, and thermal modeling for a building that will be applied to cogeneration systems. Methods to be used are a multivariate regression with least square control and minimize the residuals between measurements and calculation response (error analysis). Once the study is done, a quadratic model is appropriate to present the physical phenomena occurring in the small steam engine that will be used in cogeneration system on a three floor building. Small steam engine that has been used work at under pressure of 30 bar on steady rotation at 1500 rpm. By using software TRNSYS 16 thermal energy requirements during 8760 hours of simulated building and adapted to the climatic conditions of the planning model to be built. From the simulations that have been made, it can be seen that the total energy consumption in buildings is 62.5 kWhep/m2/tahun."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
T29756
UI - Tesis Open Universitas Indonesia Library
Dian Taufik Hidayat
"Parabolic solar concentrator merupakan salah satu pemanas air tenaga surya yang mempunyai kemampuan untuk membangkitkan uap air dengan temperatur yang tinggi, prinsip kerja parabolic solar concentrator yaitu mengkonsentrasikan panas matahari yang di dapat oleh oleh optik ke suatu titik. Keberhasilan alat uji ini di dasarkan pada volume air hasil destilasi dari alat tersebut.Penelitian desalinasi air laut ini dilakukan dengan menggunakan solar concentrator parabolic di buat dengan ukuran panjang 500 mm dan lebar 500 mm, dan titik fokusnya 100 mm, reflektor di rancang sedemikian rupa dan di sinari secara langsung, kolektor yang berisi sampel air laut di letakan di atas reflektor tepat pada posisi titik fokus. Selama pemanasan suhu di ukur dan diamati setiap 5 menit, hasil penelitian menunjukan bahwa suhu maksimal sampel air laut menggunakan reflektor sebesar 98,6°C dan suhu maksimum pada kolektor yaitu sebesar 165,8°C dan hasil volume destilasi yaitu sebesar 80 ml perjam.
Parabolic solar concentrator is a solar water heater that has the ability to generate vapour at high temperatures, the working principle of solar parabolic concentrator that concentrates the sun's heat in the can by the optics to a point. The success of this test is based on the volume of water distilled from the tool.Research seawater desalination is done by using a solar concentrator parabolic created with a length of 500 mm and a width of 500 mm, and the focal point of 100 mm, the reflector is designed in such a way and illuminated directly, collectors which contains samples of sea water in the put on top right reflector at the focal point position. During the heating temperature is measured and observed every 5 minutes, research shows that the maximum temperature of the sea water sample using the reflector of 98.6°C and the maximum temperature at the collector is equal to 165.8°C and the results distillation volume amounting to 80 ml per hour. "
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2017
S66085
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library