Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 82750 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Primananda Tavianti Yuliana
"Used Bleaching Earth Cake (UBEC) tergolong kedalam limbah B3 sehingga membutuhkan penanganan yang komperhensif. Berdasarkan karakteristik UBEC, ada beberapa alternatif pengolahan yang dapat digunakan untuk mengelola dan memaksimalkan penggunaan dari UBEC. Oleh karena itu dalam penelitian ini diuji karakteristik fisik dan kimia dari UBEC untuk mengetahui potensi nya sebagai Refuse Derived Fuel (RDF). Setelah itu dilakukan perbandingan 2 skenario pengolahan. Skenario pertama adalah pembakaran UBEC sebagai RDF pada rotary kiln kemudian abu yang dihasilkan akan digunakan sebagai subtitusi agregat halus pada pembuatan beton K350. Skenario kedua adalah pembakaran UBEC sebagi RDF pada Compressed Air Furnace dimana abu yang dihasilkan digunakan subtitusi semen pada pembuatan mortar pasangan tipe N. Sehinga didapatkan skenario mana yang terbaik dalam integrasi pengolahan limbah UBEC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa UBEC terdiri dari material bleaching earth (Monmorillonite 53.3% and Klinoptilolith 40%), residu oli, dan pengotor (logam berat, residu karbonc, dan lain lain.). UBEC juga memenuhi standar kriteria sebagai RDF. Pada skenario 1 kuat tekan terbaik produk beton dicapai pada penggantian komposisi pasir dengan 10% ash rotary dimana kuat tekannya mencapai 38,45 Mpa dan daya serapnya 5,8%. Pada skenario 2 kuat tekan mortar pasangan tidak dapat terdeteksi dengan adanya penggantian semen dengan ash CAF. Kuat tekan diteliti melalui produk beton dan yang terbaik dicapai pada penggantian komposisi semen dengan 10% ash CAF dimana kuat tekannya mencapai 31,40 Mpa dan daya serapnya 9,3 %. Kedua komposisi terbaik tersebut telah diuji TCLP nya dan kedua nya memenuhi standar baku mutu PP 101 tahun 2014. Berdasarkan perbandingan aspek, kualitas produk olahan abu pembakaran, penaatan pada peraturan lingkungan dan keamanan produk terhadap lingkungan, serta nilai ekonomis dari tiap skenario dapat ditentukan skenario pengolahan terintegrasi yang paling baik dalam mengolah UBEC adalah skenario 1

Used Bleaching Earth Cake (UBEC), is categorized as hazardous waste that requires comprehensive handling. Refering to UBECs characteristic, there are view alternative treatments that can be use to handle and maximizing the utilities of UBEC.  Therefore, in this study tested the physcical and chemical characteristic of UBEC to determine its potential as Refuse Derived Fuel (RDF). After that a comparison of 2 processing scenarios was carried out. The first scenario is the combustion of UBEC as RDF on the rotary kiln, then the resulting ash will be used as subtle aggregate substitution in the manufacture of K350 concrete. The second scenario is the combustion of UBEC as RDF in Compressed Air Furnace (CAF) where the resulting ash is used as cement substitution in the manufacture of N-type mortar masonry. So we may conclude the best integrated treatment scenario to carry out for treating UBEC. The result showed that UBEC consisted of earth bleaching materials (Montmorillonite 53.3% and Klinoptilolith 40%), oil residues, and impurities (heavy metals, carbon dioxide residues, etc.). UBEC also meets the criteria standards for RDF. In scenario 1 the best compressive strength of the concrete product is achieved by replacing the composition of the sand with 10% rotary ash where the compressive strength reaches 38.45 Mpa and its water absorption is 5.8%. In scenario 2 the mortar masonry compressive strength cannot be detected by the replacement of cement with CAF ash. Compressive strength was examined through concrete products and the best was achieved by replacing cement composition with 10% ash CAF where the compressive strength reached 31.40 Mpa and its water absorptionis 9.3%. The two best compositions have been tested for TCLP and both of them meet the quality standard of PP 101 year 2014. Based on the comparison of view aspects: the quality of refined ash products, compliancewith environmental regulations and product safety for the environment, and also the economic value of each scenario,we can be determined the best integrated processing scenario in by processing UBEC in scenario 1."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2019
T52536
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Kemala
"Limbah minyak pelumas bekas dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun B3 yang mengandung logam berat salah satunya Pb. Untuk mengurangi konsentrasi Pb dalam minyak pelumas bekas dan memperbaiki karakteristik minyak pelumas, dilakukan pengolahan dengan menggunakan lempung sebagai bleaching earth melaui proses adsorbsi. Pada penelitian ini, dilakukan karakterisasi awal minyak pelumas bekas dengan spesifikasi SAE 10W-30. Selanjutnya, untuk meningkatkan kemampuan lempung sebagai adsorban, lempung diaktivasi dengan kalsinasi pada temperatur 300, 450, dan 600°C.
Hasil XRD menunjukkan terjadi peningkatan montmorillonite dalam lempung hingga 63. Kemudian proses adsorbsi dilakukan untuk mengetahui pengaruh perubahan mineral lempung terhadap kapasitas lempung dalam skala laboratorium dengan konsentrasi lempung 80 g/L. Temperatur adsorbsi adalah 120°C dengan waktu kontak 300 menit.
Pada penelitian, diperoleh hasil bahwa adsorbsi timbal mencapai kondisi optimum pada penggunaan lempung teraktivasi kalsinasi 450°C dan konstan pada penggunaan lempung teraktivasi kalsinasi 600. Data isotherm adsorbsi menunjukkan kecocokan dengan model isoterm Freundlich dengan kapasitas adsorbsi 4,05x10-3 mg/g. Karakterisasi akhir minyak pelumas menunjukkan terjadinya perbaikan sifat fisik dan kimiawi minyak pelumas bekas setelah proses adsorbsi.

Waste lubricant oil is categorized as hazardous waste which contains heavy metal such us lead. To reduce the amount of lead concentration and improve waste lubricant oil properties, the waste is treated with clay as bleaching earth through adsorption process. In this study, the physical and chemical properties of waste lubricant oil with specification SAE 10W 30 was analyzed before treated with clay. To enhance clays properties as adsorbent, the clay was activated with calcination at temperature 300, 450, and 600°C.
XRD result showed that calcination process could increase montmorillonite percentage in clay, approximately 63. To determine the correlation between clay mineral structure and clay capacity as adsorbent, the adsorption process was conducted in laboratory scale with 80g L at each of activated clay. The adsorption temperature and contact time were 120°C and 300 minutes respectively.
The experimental procedure gave result that lead adsorption reached its optimum condition with the used of activated clay at temperature 450 C and remained constact with 600°C calcined clay. Pb adsorption isotherm data showed compability with Freundlich isotherm model with adsorption capacity 4,05x10 3 mg g. The final characterization of treated waste lubricant oil indicated that there was improvement of its properties after adsorption process.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanuar Purnama
"Perkembangan mesin industri dan kendaraan bermotor mendorong peningkatan penggunaan pelumas dan akumulasi pelumas bekas. Pelumas bekas dijadikan bahan bakar alternatif atau didaur ulang dengan teknologi konvensional menggunakan bahan B3, padahal dapat mencemari lingkungan, mengganggu kesehatan, sehingga memicu masalah sosial. Metode daur ulang sebaiknya berbasis teknologi hijau, ekonomis, ramah lingkungan, dan diterima oleh masyarakat. Indonesia kaya akan berbagai sumber daya alam. Salah satunya adalah cadas lempung. Activated bleaching earth adalah cadas lempung alami yang berasal dari formasi khusus di pegunungan Indonesia.
Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi masalah limbah B3 pelumas bekas. Pelumas bekas dapat didaur ulang dengan metode ekstraksi menggunakan penyerap kontaminan. Penelitian ini menganalisis sifat kimia-fisika dan performa bahan alam non B3 activated bleaching earth sebelum dan setelah digunakan dalam proses daur ulang pelumas bekas menjadi base oil. Mengkaji dan mengembangkan pemanfaatan residu agar dapat meminimalisasi polutan, dan diterima masyarakat. Pendekatan penelitian kuantitatif, dengan metode penelitian eksperimen (pengujian di laboratorium) dan survei.
Hasil penelitian menunjukan cara ini lebih ekonomis, mengurangi polutan, dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Residu proses berkalori sekitar 5.000 kkal, dapat digunakankan sebagai bahan bakar alternatif atau penguat aspal. Abu dapat dijadikan mortar dan beton. Kesimpulannya, pelumas bekas bisa didaur ulang menjadi base oil, menggunakan cadas lempung yang berasal dari gunung Indonesia. Hasil base oil berkisar 70-79%.

The development of industrial machinery and motor vehicles encourage increasing use of lubricants and accumulation of used lubricants. The used lubricants applied as alternative fuels or recycled using conventional technology which uses hazardous materials, whereas It will pollute the environment, affecting the health, and lead to social problems. The recycling method should be based on green technology, economical, environmentally friendly, and social acceptable. Indonesia has the rich of various natural resources. One of them is the clay rock. Activated bleaching earth was natural clay rock that's specific formation in Indonesia mountains. This research purpose is handle the hazardous waste of used lubricant. It could be recycled by extraction method using a contaminants adsorbent.
The objective of the study was analyze the chemical-physics and performance of non hazardous activated bleaching earth, a natural material before and after used in the process of recycling used lubricant to be base oil. Assess and develop the utilization of residual to minimize pollutants, and acceptable. The method used quantitative approach, with experimental research (laboratory test) and survey.
The research result shows, It was more economical, reduce pollutants, and do not cause health problems. Residue had calorific value around 5,000 kcal. It could be applied as alternative fuel or asphalt reinforcement. Ash could be mortar and concrete products. The conclusion stated, the used lubricant could be recycleabled to be base oil, using clay rock in Indonesia's mountain. The base oil result was around 70-79%.
"
Depok: Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia, 2019
D2592
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Firsta Hilwa
"Minyak pelumas bekas merupakan salah satu limbah yang dikategorikan sebagai limbah B3. Dalam limbah tersebut terdapat kandungan logam berat yaitu timbal. Keberadaan timbal ini dikarenakan pada saat mesin bekerja yang menyebabkan mesin mengalami keausan dan logam timbal terlepas ke pelumas. Untuk menghilangkan timbal dari minyak pelumas bekas dapat dilakukan dengan menggunakan lempung alami bleaching earth sebagai adsorben.
Pada penelitian ini lempung tersebut diaktivasi menggunakan asam sulfat H2SO4 dengan variasi konsentrasi yaitu 1 M, 1,5 M dan 2 M. Dengan menggunakan asam sulfat tersebut didapatkan hasil persentase mineral montmorillonite meningkat hingga mencapai 68 dan luas permukaan membesar hingga pencapai 62,9 m2/g. Aktivasi tersebut juga terlihat dapat meningkatkan daya adsorbensi dan mempersingkat waktu kontak.
Dari hasil percobaan yang dilakukan diketahui bahwa kondisi adsorpsi optimum terjadi pada aktivasi dengan konsentrasi 1,5 M dan dengan waktu kontak adsorpsi 30 menit. Dengan kondisi tersebut, kemudian dilakukan variasi kosentrasi adsorben dengan variasi konsenstrasi 20 g/L, 40 g/L, 60 g/L, 80 g/L dan 100 g/L. Dengan variasi tersebut maka didapatkan konsentrasi optimum yaitu 20 g/L.

Used lubricating oil is one of waste categorized as hazardous and toxic waste. It contains heavy metal, and one of them is lead. The existence of lead is due to when the engine is working so that the engine is wearing and lead metal is released to the lubricant. Removing lead from used lubricating oil can be done by using natural clay bleaching earth as adsorbent.
In this study, the clay was activated by using sulfuric acid H2SO4 with 1 M, 1.5 M and 2 M concentration variation. By using sulfuric acid, the percentage of montmorillonite mineral increased up to 68 and the surface area expanded up to 62,9 m2 g. Activation is also seen to increase the adsorbensi power and shorten the contact time.
From the experimental results, it is found that optimum adsorption conditions occured at activation with concentration of 1.5 M and with 30 minutes adsorption time. Under these conditions, concentration variation of adsorbent with concentration of 20 g L, 40 g L, 60 g L, 80 g L and 100 g L were observed. With this variation, the result shows optimum concentration of 20 g L.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Monangin, Priska Jesika
"Spent Bleaching Earth dan minyak jelantah merupakan limbah industri dengan jumlah produksi yang sangat besar di Indonesia hingga 600.000 ton/tahun. SBE memiliki kadar SiO2 sebesar 55-80 hal inilah yang dapat dijadikan potensi untuk pembuatan gemuk sebagai pengentalnya. Gemuk berfungsi untuk mengurangi gesekan dan keausan pada permukaan benda yang bersinggungan serta memiliki kemampuan untuk menempel di dekat permukaan gesek. Gemuk yang beredar dipasaran umumnya menggunakan NLGI grade 2 karena memiliki daya kelengketan lebih baik serta dropping point dan anti wear yang tinggi. NLGI grade 2 disebut gemuk multipurpose karena dapat digunakan pada hampir seluruh alat mesin pada otomotif, industri, konstruksi, manufaktur dll.
Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan gemuk NLGI grade 2 dengan memformulasikan SBE, minyak jelantah, dan kalsium sulfonat. Kalsium sulfonat dipilih karna dapat meningkatkan konsistensi dan performa gemuk serta jenis sabun yang biayanya paling murah. Pre-treatment dalam proses pembuatan adalah dilakukan filtrasi dan pemanasan pada minyak jelantah serta pengayakkan untuk SBE. Pembuatan Gemuk melalui proses saponifikasi dengan suhu maksimal 66°C dan homogenisasi hingga 8 jam. Komposisi optimum yang didapat yaitu dengan perbandingan SBE dan minyak jelantah 70:30 serta penambahan kalsium sulfonat 12 menghasilkan nilai bleeding 0,7 ; nilai keausan 0,23 mg; dan nilai dropping point 267°C. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan gemuk berbahan dasar limbah industri dengan tambahan kalsium sulfonat memiliki kualitas yang setara dengan gemuk komersil sebagai pembanding.

Spent Bleaching Earth and Waste Cooking Oil is industrial waste with an enormous amount of production in Indonesia up to 600,000 tons year. SBE contains 55 ndash 80 of SiO2 that can be used for the formulation of grease as the thickening agent. The function of grease is to decrease the friction and the wear on the surface of the intersecting object and has the ability to stick near to friction surface. Grease available in market generally use NLGI grade 2 because it has better adhesiveness and high dropping point and antiwear value. NLGI Grade 2 is commonly called as multipurpose grease due to its ability to be applied to almost all machine tools in automotive, construction, manufacture, industries, etc.
This study aims to produce NLGI Grade 2 by formulating SBE, Waste Cooking Oil, and Calcium Sulfonate. Calcium Sulfonate is selected to be used because it can improve the consistency and performance of the grease and the type of soap with affordable price. Pre treatment in the manufacturing process is filtration and heating the Waste Cooking Oil and sifting for SBE. The Grease is produced through saponification process with maximum temperature 66°C and homogenization up to 8 hours. The optimum composition obtained by the composition of SBE and cooking oil 70 30 and the addition of 12 calcium sulfonate yields, 0.7 bleeding value wear value is 0.23 mg and dropping point value is 267°C. The results of this study can be concluded that Industrial waste based Grease with additional calcium sulfonate has a quality equivalent to commercial Grease as a comparison.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dania Alfis Firdausyah
"ABSTRAK
Indonesia merupakan Negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Proses bleaching pada pengolahan refineryCrude Palm Oil CPO menjadi minyak goreng menggunakan bleaching earth BE menghasilkan limbahSpent bleaching earth SBE yang berdasarkan PP No. 101 tahun 2014 dapat dikategorikan sebagai limbah Bahan Buangan Berbahaya. Pada penelitian ini akan dibuat surfaktan Methyl Ester Sulfonate MES yang berasal dari minyak kelapa SBEoil. SBE oil melalui proses esterifikasi dan transesterifikasi untuk menjadi metil ester dengan yield 85 . Metil Ester yang dihasilkan lalu melalui proses sulfonasi dengan gas SO3. Gas SO3 yang digunakan untuk proses sulfonasi berasal dari uap sulfur yang direaksikan dengan udaraberlebih pada suhu yang sangat 510oC dan kecepatan udara 7,3 m/s. MES hasil penelitian dapat menurunkan tegangan permukaan hingga 40,5 dyne/cm dan memiliki kelarutan dan daya detergensi yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai bahan pembersih pada alat berat pada berbagai macam industri yang tidak food-grade.

ABSTRAK
Indonesia is the largest palm oil producing country in the world. The bleaching process of refinery processing Crude Palm Oil CPO into cooking oil using bleaching earth BE resulted in Spent bleaching earth SBE waste based on PP no. 101 of 2014 can be categorized as Harmful Dangerous Wastes. In this research will be made Methyl Ester Sulfonate MES surfactant derived from coconut oil SBE oil. SBE oil through esterification and transesterification process to become methyl ester with yield 85 . Methyl Ester produced then through a sulfonation process with SO3 gas. The SO3 gas used for the sulfonation process comes from sulfur vapor which is reacted with excess air at a very temperature of 510 C and an air velocity of 7.3 m s. MES research results can reduce surface tension to 40.5 dyne cm and have high solubility and detergency power that can be used as a cleaning agent on heavy equipment in various industries that are not food grade."
2017
S67089
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
M. Andhika Akbar
"Pada proses pemucatan CPO(crude palm oil) menggunakan bleaching earth dilakukan dengan kadar 0,5% hingga 2% dari massa CPO. Pada tahun 2010 diperlukan bleaching earth sebesar 124.000 ton/tahun. Pada penelitian kali ini spent bleaching earth akan di ekstraksi menggunakan variasi waktu, dan perbandingan volume pelarut terhadap berat sampel, dan juga variasi pelarut (acetone, petroleum eter, N-hexane and petroleum benzene). Hasil optimasi menggunakan pelarut acetone dengan waktu 24 jam dan perbandingan pelarut 4:1 ml/mg spent bleaching earth didapat POE (percentage of oil extraction) 82,95% dan FFA (free fatty acids) 16%. Hasil terbaik di produksi menjadi biodiesel dengan reaksi esterifikasitransesterifikasi menggunakan katalis asam H2SO4 1% dan basa KOH 0,25%. Hasil yield metil ester sebesar 87% selanjutnya dianalisa dengan GC-MS.

In the bleaching process CPO (crude palm oil) using bleaching earth are conducted between 0.5% to 2% of the mass of CPO. In 2010, bleaching earth used are 124.000 tonnes/year. This work was study spent bleaching earth extraction using solvent extraction with a variation time, solvent to clay ratio, and the variation of solvent itself (acetone, petroleum eter, N-hexane and petroleum benzene). The best optimization results using acetone solvent with the 24 hours times of extraction and the solvent ratio to spent bleaching earth 4:1 ml/mg, the result is POE (percentage of oil extraction) 82,95% and FFA (free fatty acids) 16%. This residual oil converted to biodiesel by esterification-transesterification reactions, using a acid catalyst H2SO4 and base catalyst KOH 0,25% of residual oil. The results obtained with a yield of 87% metil ester and then analyzed using GC-MS."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43088
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Simanjuntak, Septianty Magdalena
"Air lindi sampah merupakan salah satu konsekuensi dari adanya aktivitas landfilling di TPA yang mengandung senyawa organik dan anorganik serta beberapa bakteri patogen yang tinggi. Karakteristik air lindi dengan nilai COD tinggi dan rasio BOD/COD yang rendah menunjukkan air lindi bersifat non-biodegradable sehingga pengolahan air lindi secara biologis kurang sesuai. Proses Fenton merupakan salah satu metode oksidasi yang menghasilkan radikal hidroksil (•OH) untuk mendegradasi polutan organik dan meningkatkan nilai biodegradabilitas pada air lindi. Pada penelitian ini akan dikaji potensi kombinasi proses Fenton heterogen menggunakan katalis daur ulang dengan proses biologis untuk mengolah air lindi dari TPST Bantar Gebang. Proses Fenton akan memanfaatkan penggunaaan limbah padat yaitu abu terbang dan lumpur aluminium. Ada tiga tahapan utama pada penelitian ini yaitu screening katalis dari dua sumber limbah berbeda, eksperimen parametrik proses Fenton serta kombinasi hybrid proses Fenton dengan pengolahan biologis. Hasil penelitian menunjukkan abu terbang dapat dijadikan sebagai katalis proses Fenton hetrogen untuk mengolah air lindi. Hasil optimum dengan penyisihan COD 42,95% dan penyisihan DOC 42,99% dengan rasio biodegradabilitas DOC/TC 0,99 (fully biodegradable) didapatkan dengan kondisi operasional proses Fenton dengan konsentrasi katalis 2 g/L; rasio H2O2 1x; dan pH 3. Hasil proses Fenton sebagai pre-treatment pengolahan biologis menunjukkan air lindi yang diolah dengan proses Fenton dapat menaikkan biodegradabilitas pada air lindi. Pengolahan hybrid proses Fenton dengan pengolah biologis lumpur aktif menunjukkan penyisihan COD 65,23% lebih tinggi dan konsentrasi akhir DOC 538 mg/L lebih rendah daripada air lindi tanpa pengolahan pendahuluan dengan penyisihan COD 47% dan konsentrasi DOC pada akhir proses 887 mg/L.
.....Landfill leachate is one of the consequences of landfilling activities in landfills which contain high levels of organic and inorganic compounds and several pathogenic bacteria. The characteristics of leachate with a high COD value and a low BOD/COD ratio indicate that leachate is non-biodegradable so that biological treatment of leachate is not suitable. The Fenton process is an oxidation method that produces hydroxyl radicals (•OH) to degrade organic pollutants and increase the biodegradability of leachate. In this study, the potential for a combination of heterogeneous Fenton processes using recycled catalysts and biological processes to treat leachate from Bantar Gebang TPST will be studied. The Fenton process will utilize the use of solid waste, namely fly ash and aluminum sludge. There are three main stages in this research, namely screening catalysts from two different waste sources, parametric experiments with the Fenton process and a hybrid combination of the Fenton process with biological treatment. The results showed that fly ash can be used as a catalyst for the heterogeneous Fenton process to treat leachate. Optimum results with 42.95% COD removal and 42.99% DOC removal with a DOC/TC biodegradability ratio of 0.99 (fully biodegradable) were obtained with Fenton process operating conditions with a catalyst concentration of 2 g/L; ratio H2O2 1x; and pH 3. The results of the Fenton process as a pre- treatment for biological treatment show that leachate treated with the Fenton process can increase the biodegradability of leachate. Fenton process hybrid treatment with activated sludge biological processor showed 65.23% higher COD removal and 538 mg/L lower final DOC concentration than leachate without pre-treatment with 47% COD removal and 887 mg/L final DOC concentration at the end of the process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sherien Sherlita Widyasari
"Pengelolaan sampah saat ini melibatkan banyak sektor, termasuk platform daur ulang digital yang muncul seiring dengan kemajuan teknologi. Salah satu platform tersebut adalah Duitin, yang digunakan oleh masyarakat untuk mendaur ulang sampah. Penelitian dilakukan di Kelurahan Karet Semanggi, Jakarta Selatan, tempat mayoritas pengguna Duitin berada, untuk mengevaluasi proses pengelolaan sampah dan dampak penggunaannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata timbulan sampah per individu mencapai 0,27 kg per hari, dengan volume tertinggi di RW 4 dan terendah di RW 3. Komposisi sampah terdiri dari 69,52% sisa makanan, 13,3% plastik, 9,81% kertas/karton, dan lainnya, yang menunjukkan potensi besar untuk meningkatkan pemilahan dan daur ulang. Evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar aspek teknis operasional pengelolaan sampah sudah terpenuhi, namun masih ada ruang untuk peningkatan, terutama dalam hal retribusi sampah dan keterlibatan masyarakat. Analisis mass balance menunjukkan bahwa platform Duitin lebih optimal dibandingkan bank sampah, menyoroti pentingnya integrasi antara berbagai sektor pengelolaan sampah. Rekomendasi yang diberikan meliputi upaya meningkatkan efisiensi dalam setiap tahapan pengelolaan sampah, seperti pengoptimalan sistem retribusi, sosialisasi regulasi, dan edukasi masyarakat mengenai pentingnya peran aktif dalam pengelolaan sampah dan penggunaan teknologi yang tepat.

Waste management today involves multiple sectors, including digital recycling platforms that have emerged alongside technological advancements. One such platform is Duitin, used by the community to recycle waste. A study was conducted in Karet Semanggi Village, South Jakarta, where the majority of Duitin users are located, to evaluate the waste management process and the impact of its use. The study's results show that the average waste generation per individual is 0.27 kg per day, with the highest volume in RW 4 and the lowest in RW 3. The waste composition consists of 69.52% food waste, 13.3% plastic, 9.81% paper/cardboard, and others, indicating significant potential for improving sorting and recycling. The evaluation reveals that most technical operational aspects of waste management are already met, although there is room for improvement, particularly in waste collection fees and community involvement. The mass balance analysis indicates that the Duitin platform is more optimal compared to waste banks, highlighting the importance of integrating various waste management sectors. Recommendations include efforts to enhance efficiency at each stage of waste management, such as optimizing the fee system, promoting regulatory awareness, and educating the community about the importance of active participation in waste management and the proper use of technology."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Rifqi
"60 juta ton produksi minyak sawit dunia menghasilkan 600 ribu ton limbah SBE. SBE dikelola dengan cara dibakar (menggunakan incinerator) atau dibuang pada landfill. Namun, karena SBE mengandung kadar minyak yang tinggi, maka pembuangan SBE dalam bentuk landfill mengakibatkan polusi tanah dan air yang substansial (Raksi, 2009). SBE digunakan karena masih mengandung minyak nabati yang tinggi sekitar 20-40% yang berpotensial untuk dilakukannya pengolahan lebih lanjut seperti dijadikan biodiesel atau biolubricant.
Tujuan dari penelitian ini adalah mensintesis dan mengkarakterisasi ester propilen glikol atau biolubricant yang dihasilkan dari hasil modifikasi alkohol yaitu propilen glikol dengan asam lemak yang berasal dari SBE oil sebagai biolubricant. Hasil dari modifikasi ini adalah produk ester propilen glikol. Propilen glikol dipilih karena memiliki struktur yang bercabang, viskositas yang tinggi dan memiliki titik leleh yang rendah. Tahapan pada penelitian ini terbagi menjadi empat buah tahapan. Pada tahap pretreatment telah menghasilkan SBEO dengan kualitas sesuai dengan standar nilai RBDPO.
Pada tahap esterifikasi telah menghasilkan minyak SBE yang memiliki nilai asam lemak bebas yang rendah untuk mencegah penyabunan. Pada proses transesterifikasi tahap 1 minyak SBE telah diubah menjadi metil ester atau biodiesel dengan variasi rasio mol yaitu 1:6 antara SBEO dengan metanol dengan yield 99,21%. Proses transesterifikasi tahap 2 metil ester atau biodiesel telah diubah menjadi ester propilen glikol. Setelah proses sintesis selesai, tujuan terakhir yaitu karakterisasi, dilakukan uji GC-MS, densitas, viskositas, flash point, dan pour point. Hasil dari modifikasi ini adalah produk ester propilen glikol dengan nilai flash point adalah 252°C dan nilai pour point adalah -7°C

60 million tons of world palm oil production produces 600 thousand tons of SBE waste. SBE is managed by burning (using an incinerator) or disposed of at the landfill. However, because SBE contains high oil content, the disposal of SBE in the form of landfills can caused soil and air pollution (Raksi, 2009). SBE is used because it still contains about 20-40% high vegetable oil which has the potential to be processed further such as biodiesel or biolubricant.
The purpose of this study is to synthesize and characterize propylen glycol ester derived from propylen glycol and fatty acid from SBE oil as a hidraulic lubricant. The results of this modification are propylene glycol esters. Propylene glycol is chosen because it has a branching structure, high viscosity and has a low melting point. The stages of study are divided into four stages. In the pretreatment stage, the SBEO has been produced with quality in accordance to the RBDPO value standards. At the esterification stage, SBE oil produced a low value of free fatty acids to prevent saponification.
In the first transesterification stage, SBE oil has been converted into methyl esters or biodiesel with a variation of the mole ratio of 1:6 between SBEO and metanol with a yield of 99.21%. The step 2 transesterification process of methyl esters or biodiesel has been converted into propylene glycol esters. After the synthesis process is complete, the final goal is characterization, GC-MS test, density, viscosity, flash point, and pour point. The results of this modification are propylene glycol esters with a flash point value of 252°C and the pour point value is -7°C.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>