Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 180617 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Indradi
"ABSTRAK
Energi panas bumi merupakan energi terbarukan yang sedang berkembang di dunia modern. Untuk memanfaatkan energi panas bumi, butuh dilakukan eksplorasi terlebih dahulu untuk menentukan daerah dengan prospek system geothermal. Setelah dilakukan perkiraan dasar wilayah prospek melalui data geologi dan geokimia di permukaan bumi, dilakukan survey geofisika untuk melihat keadaan dibawah permukaan. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Micro Earthquake (MEQ). Metode Micro Earthquake dapat digunakan untuk memperkirakan arah patahan dan rekahan yang ada dibawah permukaan. Celah pada patahan yang kadang saling bergesekan menyebabkan gempa-gempa mikro di sepanjang patahan. Dengan mengikuti persebaran hiposenter gempa mikro yang didapat, struktur patahan pada daerah penelitian dapat diperkirakan. Persebaran hiposenter akan dicari dengan menggunakan software Hypo71 dan kemudian direlokasi dengan software HypoDD agar hiposenter yang didapat lebih akurat. Hasil dari relokasi akan divisualisasikan agar data lebih mudah dinterpretasikan. Dari hasil struktur patahan yang didapat, daerah prospek geothermal yang merupakan daerah perkiraan reservoir dari system geothermal.

ABSTRACT
Energi panas bumi merupakan energi terbarukan yang sedang berkembang di dunia modern. Untuk memanfaatkan energi panas bumi, butuh dilakukan eksplorasi terlebih dahulu untuk menentukan daerah dengan prospek system geothermal. Setelah dilakukan perkiraan dasar wilayah prospek melalui data geologi dan geokimia di permukaan bumi, dilakukan survey geofisika untuk melihat keadaan dibawah permukaan. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode Micro Earthquake (MEQ). Metode Micro Earthquake dapat digunakan untuk memperkirakan arah patahan dan rekahan yang ada dibawah permukaan. Celah pada patahan yang kadang saling bergesekan menyebabkan gempa-gempa mikro di sepanjang patahan. Dengan mengikuti persebaran hiposenter gempa mikro yang didapat, struktur patahan pada daerah penelitian dapat diperkirakan. Persebaran hiposenter akan dicari dengan menggunakan software Hypo71 dan kemudian direlokasi dengan software HypoDD agar hiposenter yang didapat lebih akurat. Hasil dari relokasi akan divisualisasikan agar data lebih mudah dinterpretasikan. Dari hasil struktur patahan yang didapat, daerah prospek geothermal yang merupakan daerah perkiraan reservoir dari system geothermal.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dandi Baskoro Soebakir
"Keberadaan struktur geologi merupakan salah satu parameter penting dalam menentukan zona permeabel pada suatu sistem geotermal. Penelitian ini dilakukan di salah satu area prospek geotermal di zona Sistem Sesar Sumatera (GSF) yang termasuk dalam segmen Angkola dan Barumun yang bertujuan untuk mengidentifikasi kemenerusan fitur permukaan hingga bawah permukaan terutama struktur geologi yang berkaitan erat dengan zona permeabel dengan mengintegrasikan data geologi, geokimia, dan geofisika. Teknologi remote sensing digunakan untuk mengidentifikasi struktur geologi yang terobservasi di permukaan yang dikorelasikan dengan persebaran manifestasi permukaan. Namun, tidak semua struktur geologi yang terobservasi di permukaan dapat diamati dan kemenerusannya dari permukaan hingga bawah permukaan dilakukan dengan pendekatan geofisika menggunakan data magnetotelurik (MT) dan gravitasi. Interpretasi struktur geologi permukaan berdasarkan analisis remote sensing dan persebaran manifestasi permukaan memiliki korelasi yang positif dengan hasil gravitasi adanya struktur graben dari zona GSF yang memiliki orientasi baratlaut-tenggara. Kelurusan dan karakteristik (arah dan kemiringan) struktur ditandai dengan adanya kontras nilai gravitasi, nilai Horizontal Gradient Magnitude (HGM) maksimum, dan nilai zero Second Vertical Derivative (SVD) serta analisis Multi Scale-Second Vertical Derivative (MS-SVD). Hasil interpretasi struktur bawah permukaan gravitasi berkorelasi positif dengan analisis parameter MT (splitting curve MT) yang dapat mengindikasi zona struktur bawah permukaan. Gabungan interpretasi struktur permukaan dan bawah permukaan teridentifikasi adanya 5 struktur (F1, F2, F3, F4, dan F5) yang diklasifikasikan sebagai Struktur Pasti (F1, F2, F3, dan F4) dan Struktur Diperkirakan (F5) yang memiliki orientasi baratlaut-tenggara. Struktur F3 yang berorientasi baratlaut-tenggara merupakan struktur utama yang berperan sebagai fluid conduit (zona permeabel) yang dibuktikan dengan adanya manifestasi mata airpanas bertipe klorida. Berdasarkan hasil pemodelan inversi 3-D MT dan pemodelan kedepan 2-D gravitasi dapat mendelineasi zona reservoir pada kedalaman 1500 – 2000-meter yang dikontrol oleh struktur F3 dan zona reservoir berasosiasi dengan batuan metasediment yang nantinya dapat menentukan lokasi sumur pengeboran. Untuk memvisualisasikan sistem geotermal secara komprehensif, maka dikembangkan model konseptual dengan mengintegrasikan model geofisika yang memiliki kualitas data optimum dengan data geologi dan geokimia yang saling berkorelasi, sehingga dapat dijadikan dasar dan acuan dalam menentukan lokasi pengembangan sumur produksi dan reinjeksi dan menurunkan resiko kegagalan dalam well targeting.

The existence of geological structures is one of the important parameters in determining the permeability zone in a geothermal system. This study was conducted in one of the geothermal prospect areas in the Sumatera Fault System (GSF) zone included in the Angkola and Barumun segments which aims to identify the continuity of surface to subsurface features, especially geological structures that are closely related to permeability zones by integrating geological, geochemical, and geophysical data. Remote sensing technology is used to identify geological structures observed at the surface that are correlated with the distribution of surface manifestations. However, not all surface-observed geological structures can be observed and their continuity from the surface to the subsurface is done with a geophysical approach using magnetotelluric (MT) and gravity data. Interpretation of surface geological structures based on remote sensing analysis and the distribution of surface manifestations has a positive correlation with the gravity results of the graben structure of the GSF zone which has a northwest-southeast orientation. The alignment and characteristics (direction and slope) of the structure are characterized by the contrast of gravity values, maximum Horizontal Gradient Magnitude (HGM) values, and zero Second Vertical Derivative (SVD) values as well as Multi Scale-Second Vertical Derivative (MS-SVD) analysis. The results of gravity subsurface structure interpretation are positively correlated with MT parameter analysis (splitting curve) which can indicate subsurface structure zones. The combined interpretation of surface and subsurface structures identified 5 structures (F1, F2, F3, F4, and F5) classified as Certain Structures (F1, F2, F3, and F4) and Estimated Structure (F5) that have a northwest-southeast orientation. The northwest-southeast oriented F3 structure is the main structure that acts as a fluid conduit (permeability zone) as evidenced by the manifestation of chloride-type hot springs. Based on the results of 3-D MT inversion modeling and 2-D gravity forward modeling, it can delineate the reservoir zone at a depth of 1500 - 200 meters controlled by the F3 structure and the reservoir zone is associated with metasedimentary rocks which can later determine the location of drilling wells. To visualize the geothermal system comprehensively, a conceptual model was developed by integrating geophysical models that have optimum data quality with geological and geochemical data that are correlated, so that it can be used as a basis and guide in determining the location of production well development and reinjection and reduce the risk of failure in drilling targets."
Jakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marpaung, Fujita Olivia
"Salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki potensi panas bumi adalah wilayah “WS”. Secara umum, tolak ukur keberhasilan dalam menentukan target eksplorasi adalah menemukan zona yang memiliki tingkat temperatur dan permeabilitas yang tinggi. Zona dengan temperatur tinggi berasosiasi dengan keberadaan sumber panas, sedangkan zona dengan permeabilitas tinggi berasosiasi dengan keberadaan struktur patahan yang mengandung fluida. Fokus pada penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi struktur patahan di wilayah panas bumi “WS” melalui analisis model data gravitasi dan magnetotelurik. Analisis tersebut nantinya dikorelasikan dengan informasi geologi dan geokimia untuk hasil yang lebih komprehensif. Singkatnya, metode gravitasi digunakan untuk meneliti anomali percepatan gravitasi bumi akibat adanya perbedaan rapat massa batuan penyusun bawah permukaan bumi, sedangkan metode magnetotelurik digunakan untuk menginduksi bumi sehingga dapat mengidentifikasi distribusi resistivitas suatu batuan di bawah permukaan bumi. Hasil pemodelan forward 2D data gravitasi menunjukkan adanya tiga kategori densitas batuan, yaitu densitas 2.40 – 2.60 gr/cc yang diduga sebagai sumber panas, densitas 1.84 – 2.53 gr/cc yang diduga sebagai lapisan penudung, dan densitas 1.21 – 2.31 gr/cc yang diduga merupakan reservoir. Hasil pemodelan inversion 3D data magnetotelurik menunjukkan bahwa terdapat lapisan konduktif yang ditandai dengan warna merah dan diduga sebagai lapisan penudung, lapisan dengan nilai resistivitas sedang yang ditandai dengan warna hijau berada di bawah manifestasi panas bumi dan diduga merupakan reservoir, serta lapisan dengan nilai resistivitas tinggi yang ditandai dengan warna biru pada kedalaman 1000 – 3000 meter lebih yang diinterpretasikan sebagai sumber panas. Berdasarkan model gravitasi dan magnetotelurik, didapati bahwa densitas yang dihasilkan model gravitasi telah sesuai dengan komponen penyusun sistem panas bumi wilayah “WS” yang dihasilkan oleh model magnetotelurik. Hal ini terkonfirmasi melalui batuan penyusun lapisan penudung yang memiliki nilai densitas tidak lebih besar dari densitas sumber panasnya, mengingat lapisan penudung telah mengalami alterasi hidrotermal dan didominasi oleh mineral halloysite dan montmorillonite. Sistem panas bumi wilayah “WS” merupakan gabungan sistem panas bumi vulkanik yang dipengaruhi oleh batuan sedimen, dengan perkiraan temperatur reservoir sebesar 200°C. Dengan demikian sistem panas bumi ini termasuk dalam intermediate temperature system.

One of the areas in Indonesia that has geothermal potential is the "WS" area. In general, the measure of success in determining exploration targets is finding zones that have high temperature and permeability levels. Zones with high temperatures are associated with the presence of heat sources, while zones with high permeability are associated with the presence of fluid-containing fault structures. The focus of this research is to identify the fault structure in the "WS" geothermal area through the analysis of gravity and magnetotelluric data models. This analysis will later be correlated with geological and geochemical information for more comprehensive results. In short, the gravity method is used to examine the anomaly of the earth's gravitational acceleration due to differences in the mass density of rocks making up the earth's subsurface, while the magnetotelluric method is used to induce the earth so that it can identify the resistivity distribution of a rock under the earth's surface. The results of the 2D forward gravity data modeling show that there are three rock density categories: a density of 2.40–2.60 gr/cc, which is suspected as a heat source; a density of 1.84–2.53 gr/cc, which is thought to be a cover layer; and a density of 1.21–2.31 gr/cc, which is suspected to be a reservoir. The results of 3D inversion modeling of the magnetotelluric data show that there is a conductive layer marked in red and thought to be a capping layer; a layer with moderate resistivity value marked in green is under geothermal manifestations and thought to be a reservoir; and a layer with high resistivity value marked in blue at a depth of 1000–3000 meters that is interpreted as a source of heat. Based on the gravity and magnetotelluric models, it was found that the density produced by the gravity model was in accordance with the components of the geothermal system in the "WS" region produced by the magnetotelluric model. This is confirmed by the rocks that make up the cover layer, which have a density value not greater than the density of the heat source, considering that the cover layer has undergone hydrothermal alteration and is dominated by the minerals halloysite and montmorillonite. The geothermal system in the "WS" region is a combination of volcanic geothermal systems influenced by sedimentary rocks, with an estimated reservoir temperature of 200°C. Thus, this geothermal system is included in the intermediate temperature system."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yazqi Mumtaz Rafifa
"Daerah penelitian “MR” adalah salah satu wilayah potensi geotermal yang berada di Ulu Slim, Malaysia dengan ditandai adanya terdapat mata air panas, mata air dingin, dan fumarol. Dengan adanya potensi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi persebaran densitas dan mendelineasi zona permeabilitas bawah permukaan pada daerah “MR” mengintegrasikan beberapa data dan metode, yakni metode gravity, remote sensing sebagai data utama, serta data geologi, geokimia sebagai data pendukung sehingga dapat mengetahui luasan area prospek geotermal wilayah “MR” dan menentukan target pemboran sumur. Berdasarkan data gravitasi terlihat terdapat 3 indikasi patahan bawah permukaan dan divalidasi oleh data geologi pada wilayah “MR” sedangkan berdasarkan data remote sensing menunjukkan daerah yang berasosiasi dengan struktur geologi densitas tinggi terdistribusi tenggara, selatan, barat, barat laut sehingga daerah “MR” adalah daerah prospek geotermal karena memiliki permeabilitas yang baik dan dapat berperan sebagai zona resapan. Selain itu, dalam analisis terintegrasi terdapat indikasi struktur F3 dapat dikonfirmasi oleh data SVD dan FHD. Selanjutnya, diperkuat oleh adanya dua manifestasi hot spring yaitu manifestasi Ulu Slim.

The research area “MR” is one of the geothermal prospect areas in Ulu Slim Malaysia which is characterized by the occurrence of hot spring, cold spring and fumaroles. The potensial geothermal becomes the study aims to identify the distribution of density and delineate subsurface permeability zones in the "MR" area by integrating several data and methods, such as the gravity method, remote sensing are the main data, as well as geological and geochemical data are supporting data so that we can determine the area of the geothermal prospect area for the “MR” area and determines the target for drilling wells. Based on the gravity data, it can be seen that there are 3 indications of subsurface faults and validated by geological data in the "MR" area, while based on remote sensing data it shows that the areas associated with high-density geological structures are distributed southeast, south, west, northwest so that the "MR" area is an area geothermal prospects because it has good permeability and can be as an infiltration zone. Moreover, there are the integrated analysis indications that the structure of F3 can be confirmed by SVD and FHD data. Then. it is supported by the presence of two hot spring manifestations, namely the Ulu Slim manifestation."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Berliana Zulny
"Daerah penelitian “M” merupakan salah satu daerah potensi panas bumi karena ditandai keterdapatan manifestasi mata air panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona permeabel di daerah penelitian “M” sekaligus menentukan zona permeabel yang dapat direkomendasikan sebagai lokasi target pengeboran. Identifikasi zona permeabel dilakukan berdasarkan analisis korelasi antara struktur geologi permukaan dan struktur geologi bawah permukaan yang diperoleh melalui integrasi data primer berupa metode Fault Fracture Density (FFD) dan metode gravitasi. Analisis struktur geologi permukaan dilakukan berdasarkan analisis kerapatan kelurusan menggunakan metode Fault Fracture Density (FFD) yang diperoleh dengan metode ekstraksi kelurusan secara manual dan otomatis menggunakan citra DEMNAS. Analisis stuktur geologi bawah permukaan berupa struktur patahan yang mengontrol terbentuknya kerapatan kelurusan dan kemunculan manifestasi mata air panas di permukaan dilakukan berdasarkan hasil pengolahan metode gravitasi yang meliputi analisis First Horizontal Derivative (FHD), analisis Second Vertical Derivative (SVD), dan analisis Euler Deconvolution (ED). Adanya zona permeabilitas tinggi hingga sangat tinggi dan kontras anomali SVD di lokasi yang sama mengindikasikan zona permeabel dihasilkan dari struktur geologi permukaan dan struktur geologi bawah permukaan yang berkorelasi baik. Sementara itu, zona permeabel yang direkomendasikan sebagai lokasi target pengeboran ditentukan berdasarkan integrasi data primer dan data sekunder (data geologi, data geokimia, dan metode magnetotellurik). Berdasarkan analisis terpadu FFD, zona permeabel daerah penelitian “M" berada di enam wilayah, yaitu di bagian tengah hingga ke barat laut, timur laut, barat daya, selatan, dan tenggara hingga ke timur. Namun, berdasarkan analisis integrasi data gravitasi dan metode FFD, zona permeabel yang terbentuk dari struktur permukaan dan struktur patahan bawah permukaan yang berkorelasi baik berada di bagian tengah, barat laut, utara, timur laut, dan selatan. Berdasarkan analisis terpadu FFD serta analisis integrasi data gravitasi dan metode FFD, zona permeabel yang dapat direkomendasikan sebagai lokasi target pengeboran terletak pada daerah sebaran manifestasi di zona graben dan di sekitar manifestasi APDM-6 di zona horst. Namun, berdasarkan analisis integrasi data primer dan data sekunder, zona permeabel yang dapat direkomendasikan sebagai lokasi target pengeboran utama mengerucut pada zona upflow atau tepatnya di sekitar manifestasi APDM-1, APDM-2, APDM-3, dan APDM-5 yang terletak di zona graben dan di sekitar gunung DTR karena terdapat parameter target pengeboran yang lebih mendukung baik dari data primer maupun data sekunder.

The research area "M" is one of the geothermal potential areas because it is characterized by the manifestation was found as hot springs. This research aims to identify permeable zones in the "M" research area and to determine permeable zones that can be recommended as drilling target location. Permeable zones are identified based on correlation analysis between surface geological structures and subsurface geological structures which is obtained using primary data integration between the Fault Fracture Density (FFD) method and the gravity method. Analysis of the surface geological structure is carried out based on lineament density analysis using the Fault Fracture Density (FFD) method which is obtained using manual and automatic lineament extraction methods using DEMNAS imagery. Analysis of subsurface geological structures in the form of fault structures controlling the emergence of density lineaments and hot springs on the surface is carried out based on the results of gravity method processing consisting of First Horizontal Derivative (FHD) analysis, Second Vertical Derivative (SVD) analysis, and Euler Deconvolution (ED) analysis. The existence of high to very high permeability zones and contrasting SVD anomalies at the same location indicate that the permeable zone is the result of well-correlated surface geological structures and subsurface geological structures. Meanwhile, the permeable zone recommended as a drilling target location is determined based on the integration of primary data and secondary data (geological data, geochemical data, and magnetotelluric methods). Based on the integrated FFD analysis, the permeable zone of the "M" research area is located in six regions, i.e., in the central part to the northwest, northeast, southwest, south, and southeast to the east. However, based on the integration analysis of gravity and FFD data, The permeable zones formed from well-correlated surface structures and subsurface fault structures are in the central, northwest, north, northeast and south parts.. Based on the integrated analysis of FFD and also the integration analysis of gravity data and FFD method, the permeable zone that can be recommended as a drilling target location is located in the manifestation distribution area in the graben zone and around the APDM-6 manifestation in the horst zone. However, based on the integration analysis of primary data and secondary data, the permeable zone that can be recommended as the main drilling target location is narrowed in the upflow zone or precisely around the manifestation of the APDM-1, APDM-2, APDM-3 and APDM-5 hot springs located in the graben zone and around the DTR mountain because there are drilling target parameters that are more supportive of both primary and secondary data."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harry Al Anshory
"Geothermal System Modeling has been illustrates Using Magnetotelluric Method. This method utilize a natural source Waves which are come from solar Wind, or the other Electromagnetic Waves in an ionosphere. Earlier data has been process with frequency sorting for gets the right signal points and remove noises. Then the Cokriging method utilized to remove the distortion effect With Static shift correction. After Data processing phases are finished, 2D Inversion, and 3D visualization of MT data are needed. And then for illustrates good geothermal system modeling, We must integrated MT and the others data, like geology or geochemistry data.

Dilakukan pemodelan sistem geothermal dengan menggunakan metode Magnetotelluric (MT). Metode ini menggunakan sumber alami gelombang (natural Source) yang berasal dari solar Wind, ataupun gelombang elektromagnetik lainnya yang ada di ionosfer. Pengolahan data dilakukan dengan melakukan pemilahan frekuensi yang tepat untuk mendapatkan sinyal yang dapat merepresentasikan keadaan subsurface serta untuk menghilangkan noise. Dilakukan pula koreksi pergeseran static menggunkan metode cokriging untuk menghilangkan efek distorsi. Setelah tahap pengolahan data selesai dilakukan proses inversi data MT, Visualisasi 3-Dimensi, serta dilakukan integrasi terpadu terhadap data-data yang lain, baik geologi ataupun geokimia guna mendapatkan pemodelan dari suatu system geothermal.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2010
S29413
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Fadhila Friany Putri
"Tahap eksplorasi merupakan tahap yang krusial dalam mencari zona prospek geotermal karena penentuan target pengeboran bergantung pada hasil eksplorasi. Studi terkait zona prospek geotermal “F”, yang manifestasi permukaannya terbatas akibat tutupan produk vulkanik tebal, sejatinya telah dilakukan oleh berbagai pihak menggunakan metode magnetotelurik, gravitasi, dan magnetik dari sumber data yang sama. Namun, hasilnya menunjukkan delineasi zona prospek yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan menggunakan metode Ambient Noise Tomography untuk meningkatkan kepastian delineasi prospek dengan integrasi data yang lebih konvergen. Metode ANT memanfaatkan keunikan sifat gelombang seismik sekunder yang menghilang ketika melewati medium fluida karena fluida memiliki sifat tidak dapat meneruskan tekanan geser. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan hasil inversi kecepatan gelombang-S, terdapat anomali kecepatan rendah (< 1100 m/s) di tengah dan menerus ke sisi utara dan timur laut area penelitian. Anomali kecepatan rendah ini berasosiasi dengan zona reservoir yang ditunjukkan oleh MT. Sebaliknya, di sisi selatan, utamanya di dekat Kawah W, terdapat anomali kecepatan menengah hingga tinggi (± 2000 m/s) yang berasosiasi dengan penebalan clay cap pada data MT. Hasil ini juga dibuktikan oleh data sumur yang terletak di tengah zona prospek yang berhasil menghasilkan fluida. Dengan demikian, ANT terbukti dapat menguatkan zona prospek yang ditunjukkan oleh data MT.

The exploration stage is a crucial stage in searching for geothermal prospect zones because determining drilling targets depends on exploration results. The "F" geothermal prospect area surface manifestations are limited due to thick volcanic product cover. Various parties have conducted studies on the "F" geothermal prospect zone using magnetotelluric, gravity, and magnetic methods from the same data sources. However, none of the results show similar prospect zone delineations. Therefore, this research was conducted using the Ambient Noise Tomography method to increase the certainty of prospect delineation with more convergent data integration. The ANT method utilizes the unique nature of shear waves, which disappear when passing through a fluid because the fluid cannot transmit shear strain. Based on the S- wave velocity inversion results, a low-velocity anomaly (< 1100 m/s) is seen in the center then continues to the north and northeast area. This low-velocity anomaly is associated with the reservoir zone indicated by MT. In contrast, on the south side, near Crater W, medium-to-high- velocity anomaly (± 2000 m/s) is associated with the thickening of the clay cap on MT data. This result is also proven by a well located in the middle of the prospect zone, which has succeeded in flowing fluid. Thus, ANT has been proven to strengthen the prospect zone delineation indicated by MT data.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adilla Armando
"Daerah penelitian AA merupakan area potensi panasbumi yang cukup prospek dan memiliki manifestasi berupa Fumarol yang memiliki temperatur 90 oC dan beberapa mata air panas yang memiliki temperatur permukaan antara 30-60 oC. Ditinjau dari informasi geologi, area ini memiliki basement batuan tersier yang ditutupi oleh produk lava andesit dan tufaan jaman kuarter. Bentukan geologi yang muncul pada area ini berupa kaldera dan beberapa struktur utama berarah NE-SW sebagai pengontrol aliran fluida menuju manifestasi. Sedangkan, struktur lokal yang membatasi area prospek dapat diidentifikasi oleh beberapa atribut dari metode Geofisika Magnetotellurik dan Gravitasi. Atribut metode Magnetotellurik dapat menghasilkan informasi terkait orientasi dominan struktur serta keberadaan zona konduktif, sedangkan atribut metode Gravitasi digunakan untuk mengetahui jenis struktur dan batas kontak dari zona regional dan residual struktur sebagai benda anomali. Dari hasil atribut dan pemodelan kedua metode tersebut beserta data pendukung geokimia, bahwa zona prospek terletak diantara kemunculan manifestasi fumarol di gunung Ambang dengan luasan prospek sebesar 11 km2 dan prediksi temperatur reservoir 260 0C. Area prospek tersebut menjadi rekomendasi sebagai lokasi exploration drilling selanjutnya dengan well output yang tinggi.

AA research area is a potential and prospect geothermal region. There are some manifestation, fumarol 90 0C and some cool hot springs that has an ambient temperature 30 60 0C. Based on geological information, there is dominantly tertiary sediment basement which are covered by andesite lava products and quartery tufaan. There are caldera and some major structure oriented NNE SSW as geological surface product and controlling some surface manifestations. Whereas, local structure which is located between major structure can be identified by several attributes of Magnetotellurik and Gravity methods. Magnetotelluric attributes can provide about structure orientation and conductive zone relocation while Gravity attributes can also answering about surface Geology structure distribution based on regional residual anomaly. Accordingly, based on integrative analysis and interpretation, prospect area is constrained between the appearance of fumarol and major structure in Ambang mount, which is covered 11km2 and prediction reservoir temperature 260 0C. It rsquo s very useful as a recomendation for the next exploration drilling location with high output well."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T47949
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Mufid Dhiya’udin
"Lapangan panas bumi S merupakan wilayah prospek yang belum dikembangkan, dengan tingkat keberhasilan eksplorasi yang masih rendah akibat tingginya ketidakpastian data bawah permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis respon bawah permukaan melalui pendekatan curve splitting pada data resistivitas Magnetotellurik (MT) guna mengidentifikasi struktur geologi. Analisis dilakukan menggunakan data sintetik hasil forward modelling untuk memahami respon kurva MT terhadap berbagai kontras resistivitas. Hasil dari data sintetik kemudian diaplikasikan pada data riil MT, dan dianalisis untuk mengidentifikasi area dengan nilai curve splitting tinggi dan skin depth rendah yang mengindikasikan keberadaan kontak struktur geologi. Hasil menunjukkan bahwa kurva TM memiliki sensitivitas tinggi terhadap perbedaan lateral resistivitas, dan nilai skin depth yang kecil dapat menandai lokasi struktur geologi dekat permukaan. Validasi dengan inversi 3D dan First Horizontal Derivative (FHD) memperkuat keberadaan struktur bawah permukaan pada titik-titik tersebut. Integrasi dari ketiga metode ini menunjukkan potensi besar analisis curve splitting dan skin depth sebagai indikator geologi awal dalam survei eksplorasi panas bumi.

The S geothermal field is a prospective area that has not yet been developed, with a low exploration success rate due to high uncertainty in subsurface data. This study aims to analyze subsurface responses through the curve splitting approach on Magnetotelluric (MT) resistivity data to identify geological structures. The analysis was conducted using synthetic data generated through forward modeling to understand MT curve responses to various resistivity contrasts. The results from the synthetic data were then applied to real MT data and analyzed to identify areas with high curve splitting and low skin depth values, indicating the presence of geological contacts near the measurement points. The results show that the transverse magnetic (TM) curve exhibits high sensitivity to lateral resistivity variations, and small skin depth values can indicate the presence of shallow geological structures. Validation using 3D inversion and First Horizontal Derivative (FHD) confirms the presence of subsurface structures at the indicated points. The integration of these three methods demonstrates the potential of curve splitting and skin depth analysis as preliminary indicators of geological conditions in geothermal exploration surveys. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ritonga, Ahmad Fitra
"ABSTRAK
Penelitian di daerah prospek geothermal ldquo;X rdquo; bertujuan untuk mendelineasi zona permeable berdasarkan data audio magnetotellurik dan gravitasi yang dipadu dengan data geologi dan geokimia. Analisis data geologi dengan teknik remote sensing diidentifikasi dua struktur utama yang mengarah dari Utara - Selatan dan Barat Laut ndash; Tenggara dan terdapat satu lokasi alterasi yang berkorelasi dengan kemunculan manifestasi permukaan. Analisis data geokimia menunjukkan bahwa manifestasi fumarol merupakan manifestasi tipe upflow dan manifestasi air panas AP X1 dan AP X2 merupakan tipe manifestasi outflow. Geotermometer gas menunjukan temperatur reservoar adalah sekitar 290 C. Analisis data geofisika menggunakan 35 data titik ukur audio magnetotellurik dan 194 titik ukur gravitasi. Berdasarkan inversi 3D data AMT dan forward modelling gravitasi terdapat lapisan penudung cap rock dengan nilai resistiviatas rendah le; 10 ?m dan densitas 2.1 gr/cc yang diduga merupakan batuan produk Gunung BA Muda yang mengalami alterasi. Batuan cap rock sudah terlihat mulai dari permukaan dan menebal ke arah manifestasi AP X1 dengan kedalaman sekitar 500 meter dengan ketebalan 500 meter hingga 1000 meter Di bawah batuan cap rock terdapat batuan reservoar dengan nilai resistivitas sedang >10 s.d 65 ?m dan densitas 2,6 gr/cc. Batuan ini diinterpretasikan sebagai respon dari batuan Lava BU. Lapisan heat source berada di bawah reservoar dengan nilai resistivitas >100 ?m yang diduga merupakan satuan batuan aktivitas vulkanik Gunung BA. Top of Reservoir TOR diperkirakan berada pada kedalaman 500 m dari permukaan yang teridentifikasi pada elevasi 0 meter. Analisis kurva splitting diperoleh bahwa zona permeable kemungkinan berada di sebelah Timur Gunung BA dikarenakan area tersebut cenderung naik dibandingkan dengan area sekitarnya. Analisis kurva splitting ini memberi penguatan terhadap interpretasi struktur terpadu interpretasi struktur berdasarkan Geologi, FHD, peta resistivitas 3D AMT per elevasi . Luas zona prospek sebesar 1.5 km2 yang berada disebelah Timur Gunung BA.

ABSTRACT
The research in ldquo X rdquo geothermal prospect area aimed to delineate permeable zone based on audio magnetotelluric and gravity data integrated with geology and geochemistry data. Geological analysis with remote sensing technique identified two main structures that lead from North ndash South and Northwest ndash Southeast and found one altered location which correlate with the appearance of surface manifestation. Geochemical analysis shows that fumarole is the upflow zone and manifestations which appear in AP X1 and AP X2 are the outflow zone. Gas geothermometer shows that the reservoir temperature is about 290 C. The analysis of geophysics data used 35 audio magnetotelluric points and 194 gravity points. Based on 3D AMT data inversion and gravity forward modelling, there is cap rock layer with low resistivity le 10 m and density 2.1 gr cc expected as product rocks of young AB Mountain that altered. Cap rock finds in the surface and thickened toward AP X1 manifestation with depth about 500 meters with thickness 500 meters up to 1000 meters. Under cap rock layer, there is reservoir rock layer with medium resistivity 10 s.d 65 m and density 2,6 gr cc. This rock is interpreted as the response from Lava BU rocks. Heat source layer is located underneath reservoir rock layer with resistivity value 100 m which is interpreted as BA vulcanic rock. Top of Reservoir TOR is estimated in depth of 500 m from the surface and identified at elevation 0 meter. Analysis of curve splitting is obtained that permeable zone possibly located at East BA Mountain because the area were tending to increase compared with the surrounding area. Analysis of curve splitting strengthen integrated interpretation structure interpretation structure based on Geology, FHD, Map of 3D AMT resistivity per elevation . The prospect area is about 1.5 km2 which located in East BA Mountain."
2017
T47436
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>