Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 56997 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ade Martinus
"Latar belakang: Cidera saraf perifer sebagai keluaran dari post operatif hingga saat ini belum ditangani dengan maksimal. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan potensi dari sekretom pada regenerasi cidera saraf perifer.
Metode: Cidera saraf perifer buatan dilakukan pada tikus dengan melakukan diseksi pada saraf sciatic. Evaluasi perbaikan motorik dilakukan mengunakan Sciatic Functional Index (SFI) pada minggu ke enam (SFI 1), minggu ke sembilan (SFI 2), dan minggu ke dua belas (SFI 3). Rasio berat basah antara otot gastrocnemius kanan dan kiri dibandingkan serta dilakukan histomorphometry saraf sciatic pada tiap kelompok.
Hasil: Kelompok III menunjukan SFI 1 yang lebih baik dibandingkan kelompok I (p=0.017). Kelompok I dan III menunjukan perbedaan SF2 yang signifikan dibandingkan dengan kelompok II dan IV (p<0.001). Rasio tertinggi dari otot gastrocnemius ditemukan pada kelompok I dan III, yang bernilai 0.65 ± 0.059 dan 0.67 ± 0.179 (p<0.001). Pada histomorphometry, akson termyelinisasi paling banyak ditemukan pada kelompok I dan III, yang bernilai p<0.001.
Kesimpulan: Sekretom sel punca mesenkimal korda umbilikalis dapat digunakan sebagai terapi baru untuk menggantikan autograf pada penanganan kerusakan saraf perifer.

Background: Currently, the post-surgical outcome of peripheral nerve injury has not been optimal. The purpose of this research is to determine the potency of secretome in peripheral nerve injury regeneration.
Method: The mice had artificially-induced peripheral nerve injury, which was created by dissecting the sciatic nerve. Sciatic Functional Index (SFI) was used to evaluate the motoric recovery on week six (SFI 1), week nine (SFI 2), and week twelve (SFI 3). The mice was sacrificed on week twelve. The wet mass ratios of the right and left gastrocnemius muscle were compared, then the sciatic nerve histomorphometry evaluation was performed on each group.
Results: Group III showed a better SFI 1 result than Group I (p=0.017). Group I and III showed significantly better SFI 2 than group II and IV (p<0.001). The highest ratio of gastrocnemius muscle was found in group I and III, which were 0.65 ± 0.059 and 0.67 ± 0.179 (p<0.001). On histomorphometry, the highest number of myelinated axons were found in group I and III, which were p<0.001.
Conclusion: Umbilical cord mesenchymal stem cell secretome can be used as a new therapy to replace the autograft in peripheral nerve defect management.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ade Martinus
"ABSTRAK
Latar belakang: Cidera saraf perifer sebagai keluaran dari post operatif hingga saat ini belum ditangani dengan maksimal. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan potensi dari sekretom pada regenerasi cidera saraf perifer.
Metode: Cidera saraf perifer buatan dilakukan pada tikus dengan melakukan diseksi pada saraf sciatic. Evaluasi perbaikan motorik dilakukan mengunakan Sciatic Functional Index (SFI) pada minggu ke enam (SFI 1), minggu ke sembilan (SFI 2), dan minggu ke dua belas (SFI 3). Rasio berat basah antara otot gastrocnemius kanan dan kiri dibandingkan serta dilakukan histomorphometry saraf sciatic pada tiap kelompok.
Hasil: Kelompok III menunjukan SFI 1 yang lebih baik dibandingkan kelompok I (p=0.017). Kelompok I dan III menunjukan perbedaan SF2 yang signifikan dibandingkan dengan kelompok II dan IV (p<0.001). Rasio tertinggi dari otot gastrocnemius ditemukan pada kelompok I dan III, yang bernilai 0.65 ± 0.059 dan 0.67 ± 0.179 (p<0.001). Pada histomorphometry, akson termyelinisasi paling banyak ditemukan pada kelompok I dan III, yang bernilai p<0.001.
Kesimpulan: Sekretom sel punca mesenkimal korda umbilikalis dapat digunakan sebagai terapi baru untuk menggantikan autograf pada penanganan kerusakan saraf perifer.

ABSTRACT
Background: Currently, the post-surgical outcome of peripheral nerve injury has not been optimal. The purpose of this research is to determine the potency of secretome in peripheral nerve injury regeneration.
Method: The mice had artificially-induced peripheral nerve injury, which was created by dissecting the sciatic nerve. Sciatic Functional Index (SFI) was used to evaluate the motoric recovery on week six (SFI 1), week nine (SFI 2), and week twelve (SFI 3). The mice was sacrificed on week twelve. The wet mass ratios of the right and left gastrocnemius muscle were compared, then the sciatic nerve histomorphometry evaluation was performed on each group.
Results: Group III showed a better SFI 1 result than Group I (p=0.017). Group I and III showed significantly better SFI 2 than group II and IV (p<0.001). The highest ratio of gastrocnemius muscle was found in group I and III, which were 0.65 ± 0.059 and 0.67 ± 0.179 (p<0.001). On histomorphometry, the highest number of myelinated axons were found in group I and III, which were p<0.001.
Conclusion: Umbilical cord mesenchymal stem cell secretome can be used as a new therapy to replace the autograft in peripheral nerve defect management."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T59191
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Widodo
"Pendahuluan: Cedera saraf tepi dapat menyebabkan cacat fungsional yang parah. Denervasi yang berkepanjangan menyebabkan perubahan permanen pada organ target sekalipun dilakukan operasi dengan teknik rekonstruksi saraf bedah mikro. Oleh karena itu, banyak penelitian regeneratif telah dilakukan untuk meningkatkan luaran fungsional setelah tindakan rekonstruksi saraf pada cedera saraf tepi.
Metode: Dilakukan transeksi komplet saraf iskiadikus tungkai belakang kanan pada 20 tikus Sprague-Dawley jantan. Setiap ujung saraf dijahit ke otot terdekat untuk mencegah pertumbuhan saraf spontan. Setelah 3 minggu denervasi, dilakukan penyambungan saraf dan implantasi sel punca mesenkimal (SPM) ke neuromuscular junction (NMJ) otot gastroknemius pada kelompok perlakuan (n=10). Sepuluh tikus lainnya (kelompok kontrol) menerima plasebo (NaCL). Delapan minggu setelah penyambungan saraf, seluruh sampel dinilai luaran fungsional dengan analisis walking track dan studi neurofisiologi yang dilakukan sebelum terminasi. Berat otot basah dievaluasi kemudian dilakukan pemeriksaan histomorfometri.
Hasil dan Diskusi: Denervasi saraf iskiadikus selama tiga minggu menghasilkan model cedera saraf perifer kronis yang secara klinis mengakibatkan gangguan berjalan dan secara histologis menyebabkan degenerasi otot gastroknemius. Tidak ada perbedaan analisis walking track, compound muscle action potential (CMAP) dan berat otot basah antara kedua kelompok. Namun, penyambungan saraf yang dikombinasikan dengan implantasi SPM memberikan gambaran preservasi NMJ dan regenerasi otot yang lebih baik sebagai organ target saraf yang terbukti secara histologis dengan fragmentasi reseptor asetilkolin (AChR) yang jauh lebih rendah, jumlah dan kepadatan AChR yang lebih besar, serta diameter serat otot yang lebih besar.
Kesimpulan: Implantasi SPM di NMJ berpotensi menunda degenerasi organ target dan meningkatkan regenerasi

Introduction: Peripheral nerve injury is a devastating condition that can lead to severe functional disabilities. Despite the use of advanced microsurgical nerve reconstruction techniques, prolonged denervation causes irreversible changes in target organs. Thus, many regenerative studies have been conducted to increase functional outcomes in animal models.
Methods: Complete sciatic nerve transection was performed on the right hind limb of 20 male Sprague-Dawley rats. Each nerve end was sutured to the approximate muscle at a distance to prevent spontaneous nerve regrowth. After 3 weeks of denervation, the nerve was repaired and mesenchymal stem cells was injected directly to the gastrocnemius neuromuscular junction (NMJ) in MSCs group (n=10) and the rest of the rats (control group) received placebo (normal saline). Clinically, all sample were observed by walking track analysis and a neurophysiology study which was done before termination (8 weeks after nerve repair). Postmortem wet muscle weight was evaluated, and histological examination was performed
Result and Discussion: Three weeks sciatic nerve denervation produce the chronic peripheral nerve injury model which resulted clinically as gait disturbance and histologically as gastrocnemius muscle degeneration. There was no difference in walking track analysis, compound muscle action potential (CMAP) and muscle weight between two groups. However, the delayed nerve repair combined with stem cell implantation gives a better NMJ and muscle regeneration as the nerve target organ that proven histologically with a significantly lesser acetylcoline receptor (AChR) fragmentation, greater AChR amount and density, as well as larger muscle fiber diameter.
Conclusion: Mesenchymal stem cell direct implantation in neuromuscular junction possibly delayed the end organ degeneration and enhanced regeneration proven by a better morphometry profile in MSCs group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Widodo
"Pendahuluan: Cedera saraf tepi dapat menyebabkan cacat fungsional yang parah. Denervasi yang berkepanjangan menyebabkan perubahan permanen pada organ target sekalipun dilakukan operasi dengan teknik rekonstruksi saraf bedah mikro. Oleh karena itu, banyak penelitian regeneratif telah dilakukan untuk meningkatkan luaran fungsional setelah tindakan rekonstruksi saraf pada cedera saraf tepi.
Metode: Dilakukan transeksi komplet saraf iskiadikus tungkai belakang kanan pada 20 tikus Sprague-Dawley jantan. Setiap ujung saraf dijahit ke otot terdekat untuk mencegah pertumbuhan saraf spontan. Setelah 3 minggu denervasi, dilakukan penyambungan saraf dan implantasi sel punca mesenkimal (SPM) ke neuromuscular junction (NMJ) otot gastroknemius pada kelompok perlakuan (n=10). Sepuluh tikus lainnya (kelompok kontrol) menerima plasebo (NaCL). Delapan minggu setelah penyambungan saraf, seluruh sampel dinilai luaran fungsional dengan analisis walking track dan studi neurofisiologi yang dilakukan sebelum terminasi. Berat otot basah dievaluasi kemudian dilakukan pemeriksaan histomorfometri.
Hasil dan Diskusi: Denervasi saraf iskiadikus selama tiga minggu menghasilkan model cedera saraf perifer kronis yang secara klinis mengakibatkan gangguan berjalan dan secara histologis menyebabkan degenerasi otot gastroknemius. Tidak ada perbedaan analisis walking track, compound muscle action potential (CMAP) dan berat otot basah antara kedua kelompok. Namun, penyambungan saraf yang dikombinasikan dengan implantasi SPM memberikan gambaran preservasi NMJ dan regenerasi otot yang lebih baik sebagai organ target saraf yang terbukti secara histologis dengan fragmentasi reseptor asetilkolin (AChR) yang jauh lebih rendah, jumlah dan kepadatan AChR yang lebih besar, serta diameter serat otot yang lebih besar.
Kesimpulan: Implantasi SPM di NMJ berpotensi menunda degenerasi organ target dan meningkatkan regenerasi

Introduction: Peripheral nerve injury is a devastating condition that can lead to severe functional disabilities. Despite the use of advanced microsurgical nerve reconstruction techniques, prolonged denervation causes irreversible changes in target organs. Thus, many regenerative studies have been conducted to increase functional outcomes in animal models.
Methods: Complete sciatic nerve transection was performed on the right hind limb of 20 male Sprague-Dawley rats. Each nerve end was sutured to the approximate muscle at a distance to prevent spontaneous nerve regrowth. After 3 weeks of denervation, the nerve was repaired and mesenchymal stem cells was injected directly to the gastrocnemius neuromuscular junction (NMJ) in MSCs group (n=10) and the rest of the rats (control group) received placebo (normal saline). Clinically, all sample were observed by walking track analysis and a neurophysiology study which was done before termination (8 weeks after nerve repair). Postmortem wet muscle weight was evaluated, and histological examination was performed
Result and Discussion: Three weeks sciatic nerve denervation produce the chronic peripheral nerve injury model which resulted clinically as gait disturbance and histologically as gastrocnemius muscle degeneration. There was no difference in walking track analysis, compound muscle action potential (CMAP) and muscle weight between two groups. However, the delayed nerve repair combined with stem cell implantation gives a better NMJ and muscle regeneration as the nerve target organ that proven histologically with a significantly lesser acetylcoline receptor (AChR) fragmentation, greater AChR amount and density, as well as larger muscle fiber diameter.
Conclusion: Mesenchymal stem cell direct implantation in neuromuscular junction possibly delayed the end organ degeneration and enhanced regeneration proven by a better morphometry profile in MSCs group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andi Praja Wira Yudha Luthfi
"ABSTRAK
Pendahuluan: Defek tulang rawan memiliki kemampuan penyembuhan yang terbatas. Beberapa studi dengan hasil jangka panjang dalam upaya tatalaksana lesi ini terbukti belum memuaskan. Sel punca mesenkimal (SPM) banyak mendapatkan perhatian kemampuan dalam proses regenerasi sel. Namun, dibutuhkan investasi yang besar, sulitnya penanganan dan manufaktur sel, dan tindakan invasif untuk
mendapatkannya. Sekretom yang diperoleh dari SPM dapat menjadi alternatif yang baik, karena sekretom memiliki komplikasi lebih sedikit, penanganan, manufaktur, dan transportasi sel yang lebih mudah. Saat ini, tidak ada penelitian terpublikasi mengenai penggunaan sekretom SPM asal jaringan tali pusat pada model domba. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek sekretom yang didapatkan dari SPM jaringan tali pusat pada model domba dengan defek tulang rawan.
Metode: Defek tulang rawan dilakukan dengan tindakan operatif dengan membuat defek sebesar 5x5mm2 pada lutut kanan. Domba-domba (n=15) dibagi menjadi tiga kelompok; setiap kelompok terdiri dari lima domba. Kelompok pertama mendapatkan tindakan injeksi sekretom SPM tali pusat, dan kelompok ketiga mendapatkan tindakan kombinasi antara mikrofraktur dan injeksi sekretom SPM tali pusat. Enam bulan setelah tindakan, seluruh domba dikorbankan. Lutut dari
ketiga kelompok dibandingkan secara makroskopik dengan sistem skor Goebel dan mikroskopik menggunakan sistem skor Pineda.
Hasil: Pada hasil makroskopis, kelompok yang mendapatkan terapi kombinasi antara mikrofraktur dan injeksi sekretom SPM tali pusat lebih rendah secara signifikan bila dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan tindakan mikrofraktur saja (p=0,006). Tidak ada perbaikan bermakna pada kelompok yang mendapatkan sekretom saja terhadap kedua kelompok lainnya. Dan pada hasil mikroskopis, tidak ada perbaikan bermakna pada ketiga kelompok perlakuan.
Kesimpulan: Penggunaan terapi kombinasi antara mikrofraktur dan injeksi intraartikular sekretom SPM tali pusat memberikan potensi yang dapat menjadi alternatif terapi pada defek tulang rawan sendi lutut. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan sel punca mesenkimal dengan sekretom, dengan mengikutsertakan penilaian fungsional.

ABSTRACT
Introduction: Cartilages with defect have limited healing capacity. Previous longterm studies to evaluate the treatment for cartilage defects have not yielded satisfactory results. Mesenchymal stem cells (MSC) have attracted attention regarding its capacity to regenerate cells. However, massive investment, difficulties in cell manufacturing and handling, and invasiveness of the procedure often gets in the way. The secretome attained from MSC may serve as an alternative as it is
correlated with lower complications; handling, manufacturing, and transport are also considered easier. Until now, there are no published article regarding the use of umbilical cord derived MSC secretome in sheep model. This study is conducted to investigate the effect of secretome derived from umbilical cord MSC in sheep models with cartilage defects.
Methods: Cartilage defect is made using operative procedures. 5x5mm2 defects are created on the right knee. 15 sheeps are divided into three groups: each group contains five sheeps. The first group was administered with umbilical cord MSC secretome, and the third group with microfacturing and umbilical cord MSC injection. Six months after the procedure, all sheeps were sacrified. Knees from the three groups are compared macroscopically using the Goebel score and microscopically using the Pineda score.
Results: Macroscopically, the group treated with combination therapy achieved lower compared to the group treated with microfacturing only (p=0,006). There was no significant difference in groups treated with secretome only and the other two groups. Microscopically, there was no significant difference between all groups.
Conclusions: The administration of combination therapy of microfacturing and intraarticular injection of umbilical cord MSC secretome gives potential results and may act as an alternative therapy in knee cartilage defect. However, further study is required to compare MSC and secretome, while also incorporating the functional measures."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Maudy Salma
"Berdasarkan data dari WHO masih terdapatnya peningkatan angka disabilitas yang disebabkan karena cedera pada sistem saraf tepi. Setelah terjadinya cedera saraf tepi, maka akan terjadi serangkaian proses seluler maupun molekuler sebagai respon terhadap adanya cedera. Salah satu respon molekuler yang penting yaitu aktivasi jalur persinyalan balik, menyebabkan terinduksinya sintesis berbagai protein, salah satunya adalah HSP 70, berperan sebagai neuro proteksi dan mencegah terjadinya apoptosis neuron lebih lanjut. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menilai pengaruh pemberian PRP terhadap proses regenerasi saraf tepi dengan melihat hubungan ekspresi HSP 70 terhadap fungsi berjalan (TFI & PFI). Penelitian ini menggunakan sampel bahan biologis tersimpan yaitu Medulla Spinalis tikus berjumlah 36, terbagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan hari terminasi nya yaitu H-7 dan H-42. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tidak terdapatnya hubungan (p>0,05) antara ekspresi HSP 70 terhadap fungsi berjalan melalui pemeriksaan TFI dan PFI pada kelompok skiatika yang diberi PRP maupun yang tidak diberi PRP, berarti bahwa tidak adanya hubungan secara langsung antara ekspresi HSP 70 dengan perbaikan fungsi motorik.

According to WHO data, the number of disabilities brought on by damage to the peripheral nervous system is continually rising. Following a peripheral nerve damage, a number of cellular and molecular reactions will take place. One significant biological reaction is the activation of the reverse signaling pathway, which triggers the creation of several proteins, including HSP 70, which serves as neuroprotection and stops more neuronal apoptosis. The aim of this study was to assess the effect of PRP administration on the process of peripheral nerve regeneration by examined the correlation between HSP 70 expression with the motoric function (TFI & PFI). This research used samples of stored biological material, namely 36 rat spinal cords, divided into two large groups based on termination day, namely H-7 and H-42. The results of this study showed that there was no correlation (p>0.05) between HSP 70 expression and walking function through TFI and PFI examinations in the sciatica group who were given PRP and those who were not given PRP, indicating that there is no direct correlation between HSP 70 expression with motor function improvement."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizni Fitriana
"Cedera saraf tepi merupakan salah satu penyebab disabilitas di dunia. Cedera saraf tepi akan merangsang badan neuron motorik untuk mengalami kromatolisis. PRP saat ini dianggap bermanfaat untuk regenerasi sel saraf karena mengandung berbagai faktor pertumbuhan yang berperan dalam neuron survival dan pertumbuhan akson. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran PRP terhadap fungsi berjalan melalui regerasi neuron motorik di medulla spinalis. Penelitian menggunakan enam kelompok tikus wistar jantan yang diberi perlakuan operasi sham, model skiatika, dan model skiatika yang diberi PRP. Tikus dilakukan terminasi pada hari ke-7 dan 42. Model skiatika dibuat dengan melakukan penjepitan di nervus ischiadicus selama 3 menit. Pemeriksaan histologi menggunakan pewarnaan hematoksilin eosin dan toluidine blue pada sediaan medulla spinalis tikus untuk menilai densitas badan nissl. Ekspresi marker regenerasi menggunakan pemeriksaan imunohistokimia GAP-43. Fungsi motorik dinilai setiap minggu menggunakan Sciatic Functional Index (SFI) dan Foot Fault Test (FFT). Terdapat perbedaan signifikan pada pemeriksaan densitas badan nissl neuron motorik di medulla spinalis pada hari ke-42. Pemeriksaan motorik dengan pengukuran SFI dan FFT menunjukkan perbedaan signifikan pada hari ke-7 dan 14. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian terapi PRP dapat mempercepat regenerasi saraf perifer yang ditandai dengan peningkatan badan nissl dan perbaikan fungsi motorik.

Peripheral nerve injury is one of the leading causes of disability. Peripheral nerve injury stimulates motor neuron bodies to undergo chromatolysis. PRP is currently considered beneficial for nerve cell regeneration. It contains growth factors that affect neuron survival and axon growth. This study aims to determine PRP’s role on walking function through motor neuron regeneration in spinal cord. The study used six groups of male wistar rats treated with sham surgery; sciatica model; sciatica+PRP. The rats were terminated on days 7 and 42. Sciatica model was made by clamping the sciatic nerve for 3 minutes. Histological examination using hematoxylin eosin and toluidine blue staining on rat spinal cord to assess Nissl body density. Expression of regeneration markers using GAP-43 immunohistochemistry. Motor function was assessed weekly with Sciatic Functional Index (SFI) and Foot Fault Test (FFT). There was a significant difference in the examination of the density of the nissl body of motor neurons on day 42. Motor examination with SFI and FFT measurements showed significant differences on the 7th and 14th days. The results showed that PRP therapy could accelerate peripheral nerve regeneration which was characterized by an increase in nissl body and motor function improvement."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Prima Enky Merthana
"Pendahuluan: Saat ini tatalaksana nyeri punggung bawah yang disebabkan oleh penyakit degeneratif diskus intervertebralis berupa pemberian antinyeri, fisioterapi, akupuntur hingga dengan tindakan pembedahan berupa arthroplasti diskus atau fusi spinal yang secara definitif belum mampu memperbaiki kualitas hidup pasien dan mengurangi rasa nyeri yang dialami oleh pasien. Hal ini disebabkan terapi yang ada tidak mengatasi masalah degenerasi yang terjadi di diskus intervertebralis. Saat ini muncul terapi alternatif dengan menggunakan sel punca mesenkimal tali pusat, terapi tersebut di harapkan dapat mengatasi sumber masalah dari nyeri punggung bawah yang disebabkan oleh degenerasi diskus vertrebralis.
Material dan Metode: Penelitian ini adalah pre-pasca study pada 6 pasien usia 60th, 57th, 55th, 50th, 54th and 61th dengan penyakit degenerasi diskus intervertebralis dilakukan implantasi sel punca mesenkimal tali pusat sebanyak 107 sel/2ml NaCl 0.9% pada diskus intervertebralis. Kemudian di pantau efek samping dan efek pemberian sel punca mesenkimal berupa nyeri punggung dengan VAS, kualitas hidup dengan ODI, pemeriksaan antopometri dengan Schober Test, kekuatan sensorik dan motorik dengan menggunakan Frankel, pemeriksaan SSEP, EMG dan MRI yang di pantau pada 1, 3 dan 6 bulan. Data di uji normalitasnya dengan saphiro wilk dan di lanjutkan Analisa data dengan T berpasangan bila sebaran normal dan Wilcoxon bila sebaran tidak normal. Analisa statistik menggunakan SPSS.
Hasil: Tidak terdapat efek samping. Didapatkan hasil perbaikan secara klinik, dimana skor VAS pre dan pasca implantasi 6 bulan (p=0.026), perbaikan nilai ODI pre dan pasca implantasi 6 bulan (p=0.002). Tidak terdapat perubahan nilai schober, tidak didapatkan penurunan nilai frankel. Tidak terdapat perubahan derajat pfirrmann yang dilihat dari MRI. Dari 5 pasien terdapat perbaikan nilai EMG pada 2 pasien, namun tidak terdapat perubahan nilai SSEP.
Kesimpulan: Terapi dengan implantasi sel punca mesenkimal tali pusat dapat menjadi pilihan pengobatan nyeri pinggang bawah yang disebabkan oleh penyakit degenerasi diskus intervertebralis. Terapi ini merupakan terapi minimal invasif, dapat menghilangkan rasa sakit akibat nyeri punggung bawah dan memperbaiki kualitas hidup, serta terapi yang aman dan tetap mempertahankan biomekanik normal

Introduction: Currently the management of low back pain caused by degeneratif intervertebral disc disease is in the form of the administration of painkillers, physiotherapy, acupuncture to surgery in the form of disc arthroplasty or spinal fusion, which definitifly have not been able to improve the patient's quality of life and reduce the pain experienced by the patient. This is because the existing therapy does not solve the degeneration problem that occurs in the intervertrebral disc. Currently, alternative therapies are emerging using mesenchymal stem cells (MSC), this therapy is expected to address the source of the problem of low back pain caused by vertrebral disc degeneration.
Methods: This study is a pre-pasca study in 6 patients age 60, 57, 55, 50, 54 and 61 yo with low back pain caused by degeneration of the intervertebral discs with implantation of human umbilical cord mesenchymal stem cells 107 cell/2ml NaCl 0.9% in the intervertebral discs. Then we monitored the safety and effects of mesenchymal stem cells in the form of back pain with VAS, quality of life with ODI, anthopometric examination with scober test, sensory and motor strength using Frankel, SSEP, EMG and MRI examinations that were follow-up on 1, 3 and 6 months.
Results: There were no reports of side effects of therapy. Clinical improvement was obtained, where the pre and pasca implantation VAS scores in 6 months (p=0.026), the pre and pasca implantation ODI scores in 6 months improved (p=0.002). There was no change in the Scober value, there is no change in the Frankel value. There was no change seen from MRI with pfirrmann scale. Of the 5 patients, there was an improvement in the EMG value in 2 patients, but there was no change in the SSEP value.
Conclussion: Umbilical cord mesenchymal stem cell implantation therapy can be a treatment option for low back pain caused by intervertebral disc degeneration disease. This therapy is a minimal invasive therapy, can relieve pain due to low back pain and improve quality of life, as well as a safe therapy while maintaining normal biomechanics
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yogi Ismail Gani
"Pendahuluan: Delayed union merupakan permasalahan yang dapat terjadi pasca penyembuhan fraktur yang secara signifikan mengganggu kualitas hidup pasien. Telah banyak penelitian yang dilakukan berdasarkan pendekatan konsep diamond untuk memecahkan masalah delayed union. Granulocyte-colony stimulating factor (G-CSF) merupakan salah satu dari berbagai zat yang diketahui mempunyai peranan positif dalam penyembuhan jaringan skeletal atau regenerasi ajuvan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat efek pemberian G-CSF dalam mempengaruhi penyembuhan fraktur delayed union.
Material dan Metode: Penelitian eksperimental dilakukan dengan randomized post test only control group design pada 24 hewan coba tikus putih Sprague-Dawley yang telah mengalami model delayed union. Penelitian membandingkan antara kelompok perlakuan yg diinjeksi subkutan G-CSF dengan kelompok kontrol dan dibagi menjadi empat kelompok (n=6). Harvest dan follow up histomorfometri dan imunohistokimia dilakukan pada dua kelompok di minggu kedua (KM2 dan PM2) dan dua kelompok lagi pada minggu keempat (KM4 dan PM4). Analisis histomorfometri terdiri dari presentase area tulang imatur, tulang rawan dan area fibrosa dengan pulasan Hematoxylin-Eosin (HE). Sedangkan evaluasi semikuantitatif imunohistokimia dengan ekspresi BMP-2 melalui skor imunoreaktif (IRS).
Hasil: Pada evaluasi parameter histomorfometri dan imunohistokimia didapatkan area fibrosis secara signifikan lebih sedikit (p<0,001) dan ekspresi BMP 2 lebih tinggi (p=0,008) pada kelompok perlakuan minggu kedua dibandingkan kontrol. Serta presentase area woven bone secara bermakna lebih besar (p=0,015), area fibrosis lebih sedikit (p=0,002) dan ekspresi BMP 2 lebih tinggi (p=0,004) pada perlakuan minggu keempat dibandingkan dengan kontrol.
Kesimpulan: G-CSF terbukti meningkatkan kecepatan penyembuhan pada tikus putih Sprague-Dawley pada model delayed union dievaluasi dari aspek histomorfometri dan imunohistokimia.

Introduction: Delayed union is a problem that can occur after fracture healing, which significantly impairs the patient's quality of life. Many studies were conducted based on the diamond concept approach to solve the problem of delayed union. Granulocyte-colony stimulating factor (G-CSF) is one of the various substances known to have a positive role in healing skeletal tissue or adjuvant regeneration. This study was conducted to see the effect of G-CSF in affecting delayed union fracture healing.
Methods: The experimental study was conducted by randomized posttest only control group design on 24 experimental animals Sprague-Dawley white rats that had experienced delayed union models. The study compared the treatment group injected with subcutaneous G-CSF with a control group and was divided into four groups (n=6). Harvest and follow-up histomorphometry and immunohistochemistry were performed in two groups in the second week (KM2 and PM2) and two more groups in the fourth week (KM4 and PM4). The histomorphometric analysis consisted of the percentage of immature bone area, cartilage, and fibrous area with Hematoxylin-Eosin (HE) streaks. Meanwhile, the semiquantitative evaluation of immunohistochemistry with the expression of BMP-2 through the immunoreactive score (IRS).
Results: In the evaluation of histomorphometric and immunohistochemical parameters, there were significantly differences less fibrosis area (p = 0,001) and higher BMP 2 expression (p = 0,008) in treatment week two compared to control. In addition, there were also significantly more woven bone area (p = 0,015), less fibrosis area (p = 0,002) and higher BMP 2 expression (p = 0,004) in treatment group week four compared to control.
Conclussion: G-CSF was shown to increase the speed of healing in Sprague- Dawley rats on delayed union models evaluated from histomorphometric and immunohistochemical aspects.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nisrina Asysyifa
"COVID-19 menunjukkan berbagai manifestasi klinis dengan tingkat keparahan berkaitan dengan peningkatan mediator inflamasi yang tidak terkendali. Sebagai terapi potensial COVID-19, penelitian tentang efek imunomodulator SPM telah berlangsung. Penggunaan sekretom SPM memiliki kelebihan daripada penggunaan SPM itu sendiri. Namun demikian, mekanisme dimana sekretom memberikan efek imunomodulatornya sebagai agen terapeutik untuk COVID-19 masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai apakah komponen sekretom SPM-TP mampu mengubah karakteristik inflamatorik dari sel-sel imun dengan melakukan studi in vitro dari inkubasi darah lengkap dengan sekretom yang kemudian dipaparkan dengan LPS yang merupakan agen inflamasi kuat. Sebanyak 12 sampel darah subjek COVID-19 dan sehat dikultur ke dalam  tiga kelompok (kelompok kontrol RPMI, kelompok sekretom 3μl, dan 9μl) yang diinkubasi selama 24 jam, kemudian dipaparkan LPS dan diinkubasi selama 48 jam. Supernatan kultur sebelum dan setelah paparan LPS dipanen dan diukur kadar sIL-6R, sgp130, IL-1RA, IL-6, TNF-α, IFN-γ dan IL-10. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan LPS meningkatkan produksi IL-6, TNF-α, dan IL-10 dan menurunkan produksi  sIL-6R, dan sgp130, sedangkan IFN-γ tidak mengalami perubahan pada kultur darah yang telah diinkubasi dengan sekretom SPM-TP. Analisis rasio post-LPS/pre-LPS dilakukan untuk menyelidiki potensi antiinflamasi sekretom dan ditemukan sekretom SPM-TP ini memberikan efek antiinflamasinya melalui peran IL-1RA.

COVID-19. However, the precise mechanism by which the secretome exerts its therapeutic effect on COVID-19 remains unclear. This study aims to investigate whether the components of the UC-MSC-derived secretome can alter the inflammatory characteristics of immune cells. To achieve this, an in vitro study will be conducted involving co-incubation of whole blood with secretomes, followed by LPS stimulation. A total of 12 blood samples from severe COVID-19 and healthy subjects were cultured into three groups (RPMI control group, 3μl and 9μl secretome group) incubated for 24 hours. Then, the cultures were exposed to LPS for 48 hours. The levels of sIL-6R, sgp130, IL-1RA, IL-6, TNF-α, IFN-γ, and IL-10 were measured. Results showed that LPS increased IL-6, TNF-α, and IL-10 production, while reducing sIL-6R, and sgp130, but no changes seen in IFN-γ in secretome-incubated blood cultures. The post-LPS/pre-LPS ratio analysis was conducted to investigate the anti-inflammatory potential of secretome. It was found that the secretome provides its anti-inflammatory effects through the role of IL-1RA."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>