Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 71537 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Indra Sakti Wijayanto
"ABSTRAK
Kesuksesan proyek dengan kerangka agile dapat diukur dari ketepatan waktu, biaya, dan kepuasan stakeholder proyek. Studi kasus di PT Javan Cipta Solusi menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan proyek dari sisi ketepatan waktu hanya mencapai 64%, belum sesuai dengan harapan pihak manajemen yang memiliki target mencapai 80%.
Penelitian ini bertujuan untuk menyusun peringkat faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan proyek dengan kerangka agile di PT Javan Cipta Solusi dan memberikan rekomendasi untuk perbaikan pelaksanaan proyek. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan melakukan studi literatur, wawancara, dan kuesioner terhadap stakeholder internal perusahaan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan AHP untuk menyusun peringkat faktor keberhasilan proyek.
Hasil dari penelitian ini, terdapat sembilan faktor yang perlu diperhatikan dalam mendukung keberhasilan proyek Agile. Faktor yang memiliki peringkat teratas adalah terkait keterlibatan pengguna. Rekomendasi perbaikan yang diberikan kepada PT Javan Cipta Solusi terkait keterlibatan pengguna adalah dengan mengikutsertakan pengguna dalam tools yang digunakan untuk task management. "
2019
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Izin Hendri Riyatno
"Proyek engineering proqunenment dan contruction EPC dilaksanakan dengan melibatkan banyak pihak dan memakai berbagai macam sumber daya. dan juga menghadapi banyak masalah ketidakpastian dan risiko. jika terjadi. mempunyai dampak terhadap kinerja proyek dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor risiko di tahap engineering yang niempengaruhi kinerja biya pada proyek LPC dari sisi kontraktor. Proses didalam manajemen risiko proyek adalah identifikasi faktor-faktor risiko. analisa risiko. evaluasi risiko. dan tindakan mengelola risiko).
Penelitian untuk mengetahui faktor-faktor risiko dilakukan secara kualitatif. dengan menganalisis data persepsi !ang didapat dari kuisioner dengan responden tim engineering atau team inti proyek perusahaan EPC yang ada di Indonesia dan yang mempunyai pengalaman dalam projek EPC. analisa data diolah dengan mendapatkan prioritaslrangking faktor dan dilakukan analisa levelrisiko.
Hasil analisa data dengan AHP dan analisa level risiko menunjukkan ada lima belas faktor risiko Lltama di tahap engineering j anng berpengaruh terhadap kinerja biaya proyek EPC j,ang terbagi dalam 6 kelonipok faktor, yaitu : proses desain, sumber daya, kebutuhan pemilik, ketersediaan waktu, performa. Tindakan pencegahan dan koreksi dari kelima belas faktor dominan tersebut yang didapat dari pakar dan referensi digunakan sebagai masukan terhadap prosedur engineering yang tersedia. sehingga dampak dari faktor-faktor risiko tersebut dapat di analisir.

Engineering. Procurement. and Constrruction projects (EPC) there involved with many people and used a lot of resources. faced a lot of uncertainty and risk. which we happened. would be impact the performance of the project.
This research objective is to identify the risk factors that influenced cost performance on engineering phase of EPC project. from the contractor's point of view. The project risk management processes are risk factor identification, the risk analysis, risk evaluation, risk response or risk treatment.
The risk factors research try to find out qualitatively, by analyzing the perception data as the result of the questioners to the engineering tim. the core team of the EPC project and whorn had the experienced in EPC project. Risk Analysis quantified tlie risk variable fro111 the questioner result, and then the data will be processed with the
Analytic Hierarchy Process (AHP) i11 order to have the priority factor. There are tifteen main risk factor that influence cost performance of EPC pro-ject divided on 6 (six) category : Design process. resources. client needs. site survey. time availability. engineering team performance. Preventive action and correction to be taken as per experts and reference shall be used as input for establish engineering procedure. so that influence of risk factor shall be minimized."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2008
T24458
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Hutauruk, Ryann Ocktavianus Arihta
"ABSTRAK
Kriteria kesuksesan dari sebuah proyek ditentukan dari ketepatan waktu dalam penyelesaian, biaya yang dikeluarkan tidak melebihi anggaran, kebutuhan klien dapat terpenuhi, dan pengelolaan tim berjalan dengan baik. Berdasarkan data dari proyek yang diselesaikan dalam rentang tahun 2013 sampai 2017, Verint belum dapat seluruhnya menyelesaikan proyek secara sukses, hal ini karena banyak dari proyek tidak diselesaikan sesuai dengan jadwal yang diberikan. Hal ini disebabkan oleh banyak permasalahan dalam proses pengembangan perangkat lunaknya serta manajemen proyeknya sendiri, namun belum diketahui faktor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan proyek pengembangan di Verint karena belum pernah dilakukan penentuan serta pemeringkatan mengenai hal tersebut.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa yang paling berpengaruh dalam kesuksesan proyek pengembangan perangkat lunak di Verint. Untuk menentukan peringkat faktor kesuksesan, dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitatif berupa analisis olah data dengan Analytic Hierarchy Process (AHP).
Hasil akhir penelitian ini adalah berupa peringkat kriteria dan faktor kesuksesan pengembangan proyek di Verint. Kriteria yang paling mempengaruhi kesuksesan proyek adalah cakupan (Scope) dan untuk kategori sukses faktor yang paling berpengaruh adalah Management. Setelah menimbang seluruh kriteria dan faktor kesuksesan maka didapat 5 faktor dengan nilai eigen tertinggi dan yang menduduki peringkat teratas adalah User Participation.

ABSTRACT
The success criteria of a project are determined by the timeliness of completion, the costs incurred not exceeding the budget, the client's needs are met, and the management of the team is going well. Based on data from the completed projects in the range of 2013 to 2017, Verint has not been able to complete the project successfully, this is because many of the projects are not completed according to the timetable. This is due to many problems in the software development process and its own project management, but not yet known what factors affect the success of development projects in Verint because there has been no determination and ranking on it.
This study aims to determine what factors are most influential in the success of software development projects in Verint. To determine the rank of success factors, this research uses quantitative method to perform data analysis using Analytic Hierarchy Process (AHP).
The final results of this study are in the form of ranking criteria and success factors for project development in Verint. The criteria that most influence the success of the project is Scope and for the success category, the most influential factor is Management. After considering all the criteria and success factors, this study found 5 factors with the highest eigenvalue and the highest ranking is User Participation."
2019
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Iqbal Hamidy
"ABSTRAK
Dalam usaha mengkaji strategi alih teknologi dan implementasinya,
dilakukan terLebih clahulu penilaian unjuk kerja komponen-komponen teknologi,
yaitu: ?technoware?, ?humanware?, ?inforware? dan ?orgaware?, ditambah satu
komponen lain yang Iebih merupakan implikasi biaya dari segala tindakan yang
diperlukan terhadap komponen-komponen teknologi tersebut, yang disebut sebagai
?costware?.
Dalam melakukan penilaian unjuk kerja komponen-komponen tersebut
digunakan peralatan berupa kuesioner, yang ditujukan kepada para profesional di PT
XYZ yang dinilai kompeten untuk memberikan pendapatnya (expert opinion).
Berdasarkan hasil pengisian kuesioner yang dibagi atas dua bagian yaitu:
perbandingan pasangan komponen-komponen teknologi dan penilaian prestasi alih
teknologi, diperoleh gambaran bahwa komponen-komponen yang paling genting
adaLah ?humanware?, ?orgaware? dan ?costware?. Sementara itu dilakukan pula analisis
laporan keuangan, yang dimaksudkan untuk melihat unjuk kerja perusahaan selama
¡ni, yang biasanya tercermin pada laporan tersebut.
Dengan demikian upaya yang diperlukan untuk membenahi perusahaan agar
dapat memperoleh hasil sebagaimana yang diharapkan dalam proses alih teknologi,
terutama ditujukan untuk melakukan pembenahan sumber daya manusia, dan
organisasi serta manajemen. Upaya yang dilakukan dengan fokus pada ketiga hal
tersebut, tentunya tanpa harus melupakan upaya mempertahankan untuk kerja pada
berbagai kekuatan yang telah dimiliki selama ini, mengingat semua aspek di dalam
perusahaan sebenamya merupakan satu kesatuan yang harus berjalan secara
harmonis dan menghasilkan dampak sinergi.
Dalarn mengalihkan teknologi juga harus diperhatikan implikasi biaya
(costware) terhadap keempat komponen teknologi yang telah disebutkan di atas.
Proses alih teknologi tidak akan terlaksana jika salah satu komponennya tidak ada.
Sebagai akibat dan adanya komponen ?costware?, maka dalam kegiatan alih
teknologi tidak tepat digunakannya istilah ?pemberi? dan ?penerima?, melainkan
istilah ?penjual? dan ?pembeli?. Hal ini dapat diartikan kegiatan teknologi tidak dapat
dipisahkan dan kegiatan bisinis.
Sebagai kelanjutan dan penilaian dari analisis unjuk kerja alih teknologì,
perlu dikaji strategi dan implementasìnya, yang ditujukan untuk memberikan arah
kepada perusahaan dalam menghadapi tantangan di masa depan, sekaligus
memperkuat basis perusahaan dalam melakukan persaingan di kemudian hari.
Karena fokus pembenahan perusahaan diarahkan pada sumber daya manusia,
organisasi/manajemen, dan pendanaan, maka strategi alih teknologi yang diusulkan
berdasarkan hasil kajian adalah sebagai berikut:
- Strategi konsolidasi produksi dan pemasaran melalui peningkatan utilisasi
dan penyerapan teknologi mutakhir, serta peningkatan kesadaran atas
pentingnya komersialisasi
- Strategi konsolidasi keuangan melalui upaya memperoleh dan mengelola
sumber dana secara efektif dan efisien.
- Strategi konsolidasi organisasi dan manajemen melalui pembenahan sistem
manajemen, serta peningkatan mutu sumber daya manusia.
- Strategi restrukturisasi asset dan usaha yang diperlukan untuk mengurangi
beban perusahaan dan berbagai harta dan produk yang dianggap kurang
relevan terhadap bidang usaha perusahaan.
"
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Hariyanto
"Tesis ini membahas mengenai penentuan model evaluasi kinerja agen Pelumas sebagai bagian dari Supply Chain Management (SCM) menggunakan pendekatan Balanced Scorecard (BSC), Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Decision Making-Trial Evaluation Laboratory (DEMATEL). Perspektif BSC digunakan untuk memastikan bahwa pengukuran kinerja agen telah komprehensif dan menyeluruh. AHP dipergunakan untuk evaluasi terhadap kriteria (perspektif) dan indikator kinerja agen sehingga didapatkan prioritas atau perhatian utama terhadap perspektif dan indikator kinerja tersebut. Sedangkan DEMATEL dipergunakan untuk mendapatkan gambaran hubungan kontekstual diantara perspektif dan indikator kinerja agen tersebut, sehingga diketahui prioritas penentuan strategi perbaikan kinerja agen. Pengambilan keputusan dalam AHP dan DEMATEL dilakukan oleh pimpinan tertinggi dan berpengalaman di unit Pelumas Pertamina melalui kuesioner. Pengolahan data AHP menggunakan Microsoft Excel dan Software Expert Choice sedangakan DEMATEL menggunakan Microsoft Excel.
Hasil penelitian menyatakan, AHP mendapatkan bahwa perspektif Customer memiliki bobot tertinggi hal ini menunjukkan bahwa perspektif ini menjadi prioritas pertama dalam hal untuk perbaikan kinerja agen, dan indikator Jumlah Pelanggan Baru Industri menjadi indikator yang memiliki bobot tertinggi. Sementara itu hasil DEMATEL menggambarkan bahwa perspektif Financial menjadi kriteria yang berpengaruh kepada keseluruhan perspektif lainnya. Indikator kinerja dalam kriteria Financial yaitu Jumlah Penjualan Total Produk Retail, Jumlah Penjualan Total Produk Industri, Jumlah Penjualan Total Produk Top Tier Retail secara berurutan harus menjadi perhatian utama untuk perbaikan kinerja agen, karena menjadi faktor penyebab.

This thesis discusses the determination of the performance evaluation model for the lubricants dealer as part of Supply Chain Management (SCM) using the Balanced Scorecard (BSC) approach, Analytic Hierarchy Process (AHP) and Decision-Making Laboratory Evaluation Trial (DEMATEL). BSC perspectives are used to ensure that performance measurement has been comprehensive. AHP is used to evaluate the criteria (perspectives) and performance indicators so that the dealer obtain priority or major concern to the perspective and the performance indicators. While DEMATEL used to get a contextual relationship between the perspectives and performance indicators of these dealer, thus determining priorities known to the agent's performance improvement strategy. Decisionmaking in the AHP and DEMATEL performed by top management and experienced in the unit Pertamina lubricants through a questionnaire. AHP data processing using Microsoft Excel and Software Expert Choice meanwhile DEMATEL using Microsoft Excel.
The study states, AHP obtain that customer's perspective has the highest weight of this suggests that this perspective is the first priority for improvement in terms of agent performance, and indicators Number of New Customers Industry be an indicator that has the highest weighting. Meanwhile DEMATEL results illustrate that the Financial perspective that affect the whole other perspective. Financial performance indicators within the criteria of Number of Total Sales Retail Products, Number of Total Sales Industrial Products, Number of Total Sales Top Tier Retail Products in sequence should be a major concern for improving agent performance, as a factor.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
T29702
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Pungki Hadi Purnomo
"Pada awal tahun 2019, korporasi IT di Perusahaan Otomotif XYZ (PT XYZ) mengadopsi Scrum untuk sebagian proyek yang dijalankan. Namun, hasil wawancara dengan kepala departemen Project Management Office menunjukkan 34% (29 dari 86) proyek agile tahun 2020 tidak selesai di tahun tersebut. Berdasarkan hasil wawancara dengan pejabat korporasi IT, kendala terkait requirements engineering merupakan masalah yang paling banyak muncul. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi tantangan dan solusi untuk proses requirements engineering pada proyek-proyek agile di PT XYZ. Penelitian ini terbagi menjadi dua tahap: (1) identifikasi tantangan serta solusi dari literatur dengan menggunakan systematic mapping study dan (2) validasi hasil identifikasi tersebut kepada penanggung jawab proses requirements engineering di PT XYZ dengan menggunakan kuesioner dan group interview. Tahap pertama penelitian mengidentifikasi 15 tantangan dan 38 solusi dari tujuh penelitian terseleksi. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa 13 dari 15 tantangan terjadi di PT XYZ, sedangkan 2 tantangan tidak terjadi. Data juga menunjukkan bahwa dua tantangan teratas (urutan 1 dan 2) yang dianggap valid oleh 100% responden hanya disebutkan di dua dan tiga penelitian saja. Sementara, satu dari dua tantangan terbawah (urutan 14) justru disebutkan di lima penelitian terdahulu. Fakta tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama yang dihadapi oleh PT XYZ bukan tantangan yang umum terjadi, sementara salah satu tantangan yang umum ditemukan tidak dominan terjadi dalam praktek di perusahaan. Berdasarkan hasil group interview, terdapat 14 tantangan yang dihadapi perusahaan: 13 tantangan sama dengan hasil kuesioner dan 1 tantangan tambahan dari group interview. Selain itu, terdapat 21 solusi yang termasuk prioritas untuk implementasi: 13 solusi sama dengan hasil kuesioner dan 8 solusi tambahan dari group interview.

In early 2019, the IT corporation at Automotive Company XYZ (PT XYZ) adopted Scrum for some of its projects. However, the results from an interview with the head of the Project Management Office department showed that 34% (29 of 86) 2020 agile projects were incompleted. Based on interview results with IT corporate officials, requirements engineering-related problems are the most common problems. This study aims to identify requirements engineering process challenges and solutions on agile projects at PT XYZ. This research consists of two phases: (1) challenges and solutions identification from the literature using a systematic mapping study and (2) validation by the person in charge of the requirements engineering process at PT XYZ using a questionnaire and group interview. The first phase of the research identified 15 challenges and 38 solutions from the seven selected studies. The questionnaire results showed that 13 of the 15 challenges occurred at PT XYZ, while two challenges did not happen. This study also found that the top two challenges (number 1 and 2) that are 100% valid based on the respondents only found in two and three studies, while one of the lowest challenges (number 14) was mentioned in five previous studies. This fact shows that the two main challenges faced by PT XYZ are unusual, while one of the most frequently found challenges is not dominant in company practices. Based on the group interviews results, there are 14 challenges confirmed: 13 challenges are the same as the questionnaire results and one additional challenge from the group interview. In addition, there are 21 prioritized solutions: 13 solutions are the same as the questionnaire results and 8 more solutions from the group interview."
Jakarta: Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Carlo Jose G. Polii
"ABSTRAK
PT XYZ, yang bergerak di bidang farmasi, membutuhkan suatu metode yang memberikan evaluasi secara menyeluruh terhadap tingkat kemampuan pemasoknya dalam menyediakan material. Pada penelitian ini, metode evaluasi pemasok dibuai dengan menerapkan prinsip Proses Hirarki Analitik (PHA).
Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan kriteria dan subkriteria dengan cara menyebarkan kuesioner kepada beberapa responden yang berasal dan dalam maupun luar perusahaan. Kemudian dengan krileria dan subkriteria tersebut sebagai elemen hirarki, disusunlah suatu hirarki metocle evaluasi pemasok. Karena terdapat perbedaan kebutuhan antara material bahan baku obat dengan kemasan, maka dibuat dua metode evaluasi yang berbeda Perbedaan terietak pada subkntena ?Sertifikat analisis" yang terdapat pada metode evaluasi pemasok bahan baku.
Ketiga, dengan melakukan perbandingan berpasangan antar elemen hirarki tersebut, dapat ditentukan bobot masing-masing kliteria dan subkriteria meiode evaluasi pemasok. Berdasarkan perhitungan bobot, dapat diketahui bahwa kualitas merupakan pertimbangan utama PT XYZ dalam mengevaluasi pemasok, dilkuti dengan pertimbangan biaya, pengiriman, pelayanan dan terakhir (dengan bobot terkecil) adalah manajemen perusahaan pemasok. Setelah dianggap konsisten, dimana indikatomya adalah rasio konsistensi yang harus lebih kecil atau sama dengan 10%, maka hirarki beserta seluruh elemennya dapat ditentukan sebagai dasar metode evaluasi pemasok.
Hasil uji coba metode evaluasi pemasok menunjukkan metode evaluasi pemasok ini dapat memberikan dasar yang kuat bagi pengambilan keputusan yang berhubungan dengan pemasok. Dalam penggunaan metode evaluasi pemasok, terdapat beberapa subkriteria evaluasi yang akan lebih mudah dinilai jika terdapat indikator yang ditentukan berdasarkan data kuantitatif pemasok.

"
2001
S50408
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Elena Feridani
"PT. X sebagai perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi migas memiliki resiko operasional yang tinggi sehingga spesifikasi terhadap barang dan jasa yang dibutuhkan juga kompleks. Maka keputusan pemilihan pemasok di PT. X juga menjadi penting. Karena itu dibutuhkan suatu metode yang objektif dan mampu mengatasi permasalahan multikriteria secara proporsional. Dalam penelitian ini akan dibahas dua alternatif metode yang dapat digunakan, yaitu Analytic Hierarchy Process (AHP) dan Fuzzy AHP.
Penelitian dilakukan dengan pendekatan studi kasus, yaitu pemilihan pemasok jasa pemeliharaan fasilitas off shore di PT X. Pertama-tama kriteria dan sub kriteria yang digunakan untuk memilih pemasok jasa pemeliharaan fasilitas off shore, dipilih oleh Procurement Specialist di PT. X kemudian dilakukan pembobotan kriteria dan sub kriteria dengan menggunakan metode AHP dan Fuzzy AHP.
Dari penelitian ini didapatkan 7 kriteria dan 34 sub krteria yang menjadi pertimbangan dalam memilih pemasok. Kriteria Kesehatan, Keselamatan dan Lingkungan merupakan kriteria yang memiliki prioritas dan bobot tertinggi untuk memilih pemasok. Sedangkan kedua metode yang digunakan memberikan hasil pembobotan yang tidak jauh berbeda satu sama lain dengan rata-rata perbedaan bobot sebesar 0,032.

As an oil and gas company, PT X has a very high operational risk in every of its activities. This cause the company has very detail specifications on goods or services that they needed. So, the decision on supplier selection becomes important. This situation needs an objective and accommodative method for multi criteria supplier selection problem. This research will introduce two alternatives method which can be used to solve these problems; they are the Analytic Hierarchy Process (AHP) and Fuzzy AHP.
This research using study case approach in off shore facilities maintenance service supplier selection problem at PT.X. First, the criteria and sub criteria used to evaluate supplier is chosen by some procurement specialist in PT X, then the criteria and sub criteria is weighted by AHP and Fuzzy AHP Method.
This research resulting 7 criteria and 34 sub criteria used to evaluate the supplier. Health, Safety and Environmental is the criteria with highest priority and weight for selecting supplier. The two methods used here, give weighting result which is not too different each other with said average difference is 0,032.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
T18705
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayrafedi
"Pengambilan keputusan adalah suatu metoda pencarian multi alternatif solusi yang setiapnya merupakan gagasan yang memberikan pengaruh atau hubungan yang menguatkan. Metoda ini dikelompokkan dalam Multi Criteria Decision Making (MCDM) yang terdiri dari metoda pengolahan data kualitatif dan metoda pengolahan data kuantitatif, bahkan pengolahan ini dapat menggabungkan keduanya dengan hasil data kualitatif sebagai penegasan cara pandang untuk data kuantitatif. Dalam pengambilan keputusan multi solusi, pengolahan data kualitatif dengan metoda analytic Hierarchy Process (AHP) yang diambil berdasarkan perspektif responden ini menghasilkan nilai hirarki sebagai penegasan data atribut. Untuk pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan metoda Technique for Order Preference by Similarity to Ideal Solution (TOPSIS) yang data atributnya telah dipengaruhi perpektif responden. Sehingga objektif yang dihasilkan merupakan proses menentukan solusi terbaik dan terpercaya sesuai menurut pembuktian criteria. Pada manufaktur konstruksi baja penggunaan bahan baku dikontrol untuk meningkatkan efisiensi dan menurunkan sisa bahan. Data yang menunjukkan sisa bahan merupakan permasalahan awal dari efisiensi material sehingga dilakukan pengelola multi criteria decision making untuk permasalahan ini. Metoda ini diterapkan pada konstruksi baja, diperoleh langkah perubahan rancangan, proses pemotongan, pengelasan dan testing dimana diperoleh penurunan material sisa sebesar 26.2% dari rancangan sebelumnya. Perubahan yang dilakukan tanpa menurunkan kualitas dan kekuatan konstruksi.

Decision making is a multi search for alternative methods of solution each with an idea that gives influence or strengthens relationships. These methods are grouped in Multi-Criteria Decision Making (MCDM) of processing methods of qualitative data and quantitative methods of data processing, this processing can even combine them with the results of the qualitative data as a confirmation of the perspective or perception to quantitative data. In a multi-solution decision-making, processing of qualitative data with analytic Hierarchy Process (AHP) method is taken based on respondents' perspective this result as confirmation of the value hierarchy attribute data. For quantitative data processing is done by a method Technique for Order Preference by similarity to Ideal Solution (TOPSIS), which attributes have influenced the data perspective of respondents. So that the resulting objective is to determine the best and reliable solution in accordance according to criteria of evidence. In the manufacture of metal construction materials using controlled to improve efficiency and reduce the residual material. Data showing residual material is the beginning of the efficiency problems that made the management of material multi criteria decision making for this problem. This method is applied to metal construction, obtained by step changes in the design, the process of cutting, welding and testing where the residual material obtained decrease of 26.2% from the previous design. Changes made without lowering the quality and strength of construction."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
T26786
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Mobile Number Portability (MNP) service is one of the methods which applied to increase afair and
healthy competition among operators. This method offers the ability to retain customer?s MSISDN
number when porting from one service provider or operator to another. There are three options of
technical solution to support the implementation of this method they are Intelligent Network based
Signalling Relay Function based and Call Divert Solution. To decide the appropriate technical solution,
we use decision making method based Analytic Hierarchy Process (AHF) with eight criteria. Al-lP shows
that Inteligent Network is the appropriate choice because it has more benefits than others technical
solutions.
"
Jurnal Teknologi, 21(3) September 2007 : 177-186, 2007
JUTE-21-3-Sep2007-177
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>