Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 60993 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dea Puspitasari
"Kesejahteraan subjektif yang baik penting untuk dimiliki oleh remaja. Remaja dengan kesejahteraan subjektif yang tinggi cenderung berperforma lebih baik dalam kehidupan. Tantangan seperti pubertas dan tuntutan akademik yang dapat berisiko bagi kesejahteraan subjektif remaja. Keluarga berperan penting dalam terbentuknya kesejahteran subjektif remaja. Remaja dalam kondisi keluarga yang tidak lengkap seperti keluarga ibu tunggal kerap ditemukan memiliki kesejahteraan subjektif yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pola asuh ibu tunggal dengan kesejahteraan subjektif remaja awal. Responden penelitian ini yaitu 66 remaja awal (12-15 tahun) di Karawang. Alat ukur yang digunakan untuk kesejahteraan subjektif yaitu Satisfaction With Life Scale (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985), The Positive and Negative Affect Schedule (Watson, Clark, & Tellegan, 1988), dan Subjective Happiness Scale (Lyubomirsky & Lepper, 1999). Pola asuh ibu tunggal diukur dengan Parental Authority Questionnaire (Buri, 1991). Teknik analisis yang digunakan adalah simple regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola asuh permisif dan autoritatif memprediksi kepuasan hidup, tidak terdapat pola asuh yang memprediksi afek positif dan negatif, serta pola asuh otoriter dan pola asuh autoritatif memprediksi kebahagiaan remaja awal di Karawang."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Risma Alifa
"Setiap orang menginginkan kebahagiaan untuk memudahkan mereka dalam mencapai tujuan hidup. Diener (2002) menyebutkan kebahagiaan juga disebut sebagai subjective well-being. Oleh karena itu, subjective well-being penting untuk semua orang terutama remaja yang berada pada fase krisis karena kehilangan ibu yang meninggal, bercerai, atau ibu sebagai buruh migran. Kondisi ini membuat anak terpaksa tinggal hanya bersama ayah. Ayah yang biasanya dipersepsikan kurang terlibat dalam kehidupan anak, dapat memprediksi subjective well-being mereka. Hal ini membuat keterlibatan ayah sangat penting untuk remaja. Remaja yang berada pada keluarga ayah tunggal banyak terjadi di Karawang, sehingga responden penelitian ini adalah 56 remaja awal berusia 12-15 tahun yang tinggal hanya bersama ayah di Karawang. Alat ukur yang digunakan adalah The Satisfaction With Life Scale (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985), Positive and Negative Affect Schedule (Watson, Clark, & Tellegan, 1988), dan Subjective Happiness Scale (Lyubomirsky & Lepper, 1999), Nurturant Fathering Scale dan The Father Involvement Scale (Finley & Schwartz, 2004). Teknik analisis yang digunakan adalah simple regression. Hasil penelitian menunjukkan father involvement memprediksi afek positif dan perceived father’s involvement memprediksi afek negatif.

Everyone wants happiness to facilitate them in achieving life's goals. Diener (2002) said happiness is also referred to as subjective well-being. Therefore, subjective well-being is important for everyone especially adolescents who are in the crisis phase because of the loss of a deceased mother, divorced, or mother as a migrant worker. This condition makes the child be forced to stay with the father. Fathers who are commonly perceived as less involved in child life, can predict their subjective well-being. This makes father’s involvement very important to them. Many adolescents in a single father family was in Karawang, so the respondents of this research was 56 early adolescents aged 12-15 years who lived only with the father in Karawang. The measuring instruments used are The Satisfaction With Life Scale (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985), Positive and Negative Affect Schedule (Watson, Clark, & Tellegan, 1988), and Subjective Happiness Scale (Lyubomirsky & Lepper, 1999), Nurturant Fathering Scale and The Father Involvement Scale (Finley & Schwartz, 2004). The analytical techniques used is simple regression. The results showed father involvement component predicted a positive affect and two component of perceived father's involvement predicted negative affect."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Aditya Pranata
"Tingginya level subjective well-being (SWB) telah terbukti dapat melindungi remaja dari stres akibat banyaknya perubahan yang dialami di masa ini. Diketahui bahwa pola asuh orang tua dapat berkontribusi terhadap SWB remaja. Pada keluarga dual earnerkondisi pekerjaan orang tua diprediksi dapat berpengaruh terhadap pola asuh tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara pola asuh dan SWB remaja di keluarga dual earner. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara online. Hasil analisis korelasi terhadap 118 remaja di SMP dan SMA di Jabodetabek menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang siginifkan antara kecenderungan pola asuh autoritatif dengan seluruh komponen SWB. Sementara itu, kecenderungan pola asuh permisif dan otoriter hanya berhubungan signifikan dengan komponen kepuasan hidup dan afek positif dari SWB. Penelitian ini menunjukkan kecenderungan pengasuhan autoritatif memiliki efek paling positif dan optimal bagi SWB remaja
.High subjective well-being(SWB) have been proven as a protective factor for adolescents experiencing stress due to various changes during this developmental period. It is known that parenting style contributes to adolescents’ SWB. In dual earner families, working parents might have certain conditions that influence their parenting which in turn, influence adolescents’ SWB. The purpose of this study is to investigate the relationship between parenting style and adolescent’s SWB in dual earner families. Data was collected via online questionnaire. Correlation analysis of 118 adolescents in middle and high school in Jabodetabek showed significant relationship between parents’ authoritativeness and all SWB components, whereas parents’ permissiveness and authoritarianism showed significant relationship only with life satisfaction and positive affect component. This result suggested that parents’ authoritativeness had the most positive and optimal effect to adolescents’ SWB.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fairuz Nadiah
"ABSTRAK
Indonesia adalah negara muslim tersebesar di dunia dengan jumlah penduduk muslim mencapai 201 juta jiwa. Setiap muslim wajib membaca dan memahami Alquran yang menjadi pedoman hidup. Namun, jumlah penduduk muslim Indonesia yang masih buta huruf aksara Alquran terbilang tinggi yakni mencapai 65% atau sekitar 135 juta jiwa. Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk dapat menguragi tingginya jumlah buta huruf aksara Alquran. Salah satu cara dengan memasukkan pelajaran baca tulis Alquran dalam kurikulum muatan lokal. Namun, program tersebut dirasa belum cukup efektif karena kurangnya waktu yang disediakan dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru bidang studi agama Islam di sekolah, rendahnya literasi Alquran pada siswa disebabkan oleh faktor internal yakni, kurangnya motivasi belajar dan manajemen waktu yang buruk dan faktor eksternal yakni, kurangnya bimbingan dari orangtua untuk mempelajari Alquran. Dalam upaya meningkatkan kemampuan literasi Alquran pada remaja muslim, peneliti memfokuskan penelitian pada faktor eksternal yang diwakili oleh pola asuh orangtua dan faktor internal yaitu self reguated learning. Penelitian ini bertujuan memperjelas hubungan antara pola asuh orangtua dengan kemampuan literasi Alquran dan pengaruh self-regulated learning dalam peningkatan kemampuan literasi Alquran pada remaja muslim. Pengambilan dan pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan metode kuantitaif dengan uji korelasi dan uji regresi berganda. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh orangtua tidak berkorelasi dengan kemampuan literasi Alquran pada remaja muslim. Sedangkan,self-regulated learning memiliki korelasi dengan kemampuan literasi Alquran pada remaja muslim.

ABSTRACT
Indonesia is the largest Muslim country in the world with a Muslim population of 201 million. Every Muslim is obliged to read and understand the Koran as a way of life. However, the population of Indonesian Muslims who are still illiterate in the Koran script is relatively high, reaching 65% or around 135 million people. Various ways are carried out by the government to reduce the high number of illiterate characters in the Koran. One way to include Qur'anic literacy lessons in the local content curriculum. However, the program was deemed not effective enough due to lack of time provided in learning. Based on the results of interviews with several teachers of Islamic studies in schools, the low level of Qur'anic literacy in students is caused by internal factors, namely lack of motivation to learn and poor time management and external factors, namely lack of guidance from parents to learn the Koran. In an effort to improve the literacy skills of the Koran in Muslim adolescents, researchers focused their research on external factors represented by parenting and internal factors, namely self reguated learning. This study aims to clarify the relationship between parenting parents with literacy literacy skills and the effect of self-regulated learning in improving Qur'an literacy skills in Muslim adolescents. Retrieval and processing of data in this study using a quantitative method with a correlation test and multiple regression tests. The results in this study indicate that parenting style do not correlate significantly with the literacy skills of Alquran in Muslim adolescents. Meanwhile, self-regulated learning has a significant correlation with the literacy skills of Alquran in Muslim adolescents."
Depok: Universitas Indonesia. Sekolah Kajian Stratejik dan Global, 2019
T51668
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asyifa Zulkifli
"Pola asuh ayah dan ibu dalam mengasuh anak menjadi salah satu faktor yang berperan penting dalam membangun kesiapan menikah sang anak saat di usia dewasa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan antara pola asuh ayah dan ibu yang berperan secara signifikan dalam memprediksi kesiapan menikah pada dewasa awal. Sejumlah 483 partisipan berusia 19-29 tahun diuji dengan Parental Authority Questionnaire (PAQ) dan Inventori Kesiapan Menikah untuk melihat nilai persepsi pola asuh orang tua dan kesiapan menikah. Analisis multiple regression menunjukkan bahwa pola asuh ayah otoriter dan permisif serta pola asuh ibu demokratis secara signifikan memprediksi kesiapan menikah dewasa awal. Berdasarkan temuan tersebut, disimpulkan bahwa semakin cenderung pola asuh otoriter dan permisif pada ayah, semakin rendah tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal. Sementara, semakin cenderung pola asuh demokratis pada ibu, semakin tinggi tingkat kesiapan menikah pada dewasa awal.

Parenting styles from father and mother in growing children up are one of the factors that has an important role to develop marriage readiness when their children be an adult. Therefore, this study aims to determine whether there are differences between parenting styless of father and mother that has a significant role in predicting marriage readiness in early adulthood. 483 participants aged 19-29 years were tested using Parental Authority Questionnaire (PAQ) and Inventori Kesiapan Menikah to see perceived parenting styles and marriage readinessscore. Multiple regression analysis shows that authoritarian and permissive parenting style of father and authoritative parenting style of mother significantly predict readiness for early adulthood. Based on these findings, it can be concluded that the more authoritarian and permissive parenting styles of fathers, the lower level of marriage readiness in early adulthood. Meanwhile, the more authoritative parenting style of mother, the higher level of marriage readiness in early adulthood."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2021
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitri Mardiyanah
"Peluang mendapatkan pendapatan lebih tinggi mendorong pekerja untuk bermigrasi ke berbagai daerah di Indonesia. Namun, hal ini menimbulkan tantangan tersendiri bagi kesejahteraan subjektif pekerja migran seperti stres, kesepian, dan rendahnya modal sosial. Penelitian ini menguji hubungan antara persepsi dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif pada 86 karyawan migran berusia 20-40 tahun di Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan alat ukur The-PERMA-Profiler dan Social Provision Scale (SPS). Hasil penelitian menunjukan adanya korelasi positif secara signifikan antara persepsi dukungan sosial dan kesejahteraan subjektif (r=0.382, p<.01, two-tailed) yang menunjukan semakin tinggi pekerja memiliki persepsi dukungan sosial, maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan subjektif yang dirasakannya. Dimensi persepsi dukungan sosial yang berhubungan erat dengan kesejahteraan subjektif adalah meyakinkan keberhargaan diri, disusul dengan dimensi integrasi sosial dan dimensi bimbingan. Oleh karena itu, perusahaan perlu merancang kebijakan yang mendukung apresiasi pekerja, lingkungan yang menciptakan integrasi sosial dan mentor bagi karyawan migran serta memberikan dukungan yang memadai untuk meningkatkan persepsi dukungan sosial dan kesejahteraan karyawan migran.

Opportunities for higher incomes encourage workers to migrate to various regions in Indonesia. However, this poses its own challenges to the subjective well-being of migrant workers such as stress, loneliness, and low social capital. This study examined the relationship between perceived social support and subjective well-being in 86 migrant employees aged 20-40 years in Indonesia. Data were collected through questionnaires with The-PERMA-Profiler and Social Provision Scale (SPS) measurement tools. The results showed a significant positive correlation between perceived social support and subjective well-being (r=0.382, p<.01, two-tailed), indicating that the higher the workers' perceived social support, the higher their subjective well-being. The dimension of perceived social support that is closely related to subjective well-being is self-esteem, followed by the social integration dimension and the guidance dimension. Therefore, companies need to design policies that support worker appreciation, environments that create social integration and mentors for migrant employees and provide adequate support to improve the perceived social support and well-being of migrant employees."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zakia Virgine Balqis
"Remaja merupakan masa dimana individu mulai mengalami emosi yang intens dan fluktuatif serta meningkatnya kebutuhan akan otonomi dan privasi. Hal ini membuat remaja cenderung memberikan sedikit informasi kepada orang tua atau lebih sedikit melakukan disclosure kepada orang tua. Padahal, proses disclosure tersebut dapat membantu orang tua untuk memonitor aktivitas anak remajanya. Oleh karena itu diperlukan peran orang tua untuk menciptakan lingkungan yang positif seperti melakukan penerimaan, regulasi emosi, dan menyadari kondisi emosi remaja sehingga proses komunikasi dengan remaja dapat tetap berjalan dengan baik. Perilaku orang tua tersebut terangkum dalam konsep mindfulness yang diterapkan dalam pengasuhan atau mindful parenting. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara perceived mindful parenting dengan self disclosure pada remaja. Instrumen yang digunakan untuk mengukur perceived mindful parenting adalah Interpersonal Mindfulness in Parenting Scale (IMP-31) dari De Bruin (2014) sedangkan self disclosure diukur dengan Jourard Self Disclosure Questionnaire dari Jourard dan Lasakow (1958). Sampel penelitian berjumlah 241 remaja dengan rentang usia 15 hingga 18 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara perceived mindful parenting dan self disclosure pada remaja (r=0.442, p< 0.05)."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yemima Ester
"Persepsi Ketidakcukupan ASI (PKA) adalah keadaan dimana ibu merasa ASInya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan anaknya, PKA merupakan alasan utama seorang ibu berhenti menyusui bayinya secara eksklusif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran hubungan antara status gizi ibu dan PKA serta mendapatkan faktor yang paling dominan yang menyebabkan PKA di Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian primer dengan desain penelitian ini adalah cross sectional(potong lintang).Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai 14 Juni di Kabupaten Klaten dengan pengambilan data di 14 Puskesmas Kecamatan mewakili 5 Kawedanan, dengan mengunakan konselor ASI Puskesmas sebagai enumerator, yang akan melakukan wawancara dan pengamatan langsung kepada ibu-ibu balita 0-<6 bulan. Dengan jumlah sampel 133 ibu balita.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan Berat badan (BB) hamil bila tidak sesuai rekomendasi IOM (Institute of Medicine) memiliki risiko PKA 2 kali dibanding ibu balita yang kenaikan BB hamil sesuai rekomendasi IOM. Ibu bekerja juga dinyatakan berisiko PKA sebesar 3 kali dibanding ibu yang tidak bekerja/IRT. Ibu yang mendapatkan perlakuan IMD dimulai > 30 menit setelah melahirkan mempunyai risiko PKA 3 kali dibanding ibu memulai IMD < 30 menit, serta ibu yang tidak mendapatkan dukungan mertua memiliki risiko 17 kali dibanding ibu yang didukung mertuanya. Hasil Analisis multivariat menunjukkan kenaikan BB sesuai rekomendasi IOM sebagai faktor yang paling dominanberhubungan dengan PKAsetelah dikontrol variabel dukungan orang tua, paritas, lama IMD, rooming-in, posisi menyusui dan perlekatan menyusui.

The Perceived Insufficient Milk (PIM) is the condition where the Mother feels her breast milk is insufficient to fulfil the needs of her baby,PIM is the main reason of a Mother to stop giving exclusive breastfeeding to her baby. The purpose of this study is to know the relation between Mother’snutritional status of a andPIMas well as to draw the most dominantfactor causing PIM at KlatenDistrict. This is a primary study with cross sectional as its design of study. The study is conducted from May to June 14th at KlatenDistrict and the data are obtained from 14 Health Centres in the Sub-District representing 5 Village using the counsellor of breast milk from the health centre as an enumerator who will conduct interview and direct observation to 133 mothers having baby with the age from 0 to under 6 months. The result of this study shows that the mothers experiencing the increase in body weight of pregnancy inappropriate to the recommendation of Institute of Medicine (IOM) have the risk of PIM two times bigger than those experiencing the increase in body weight of pregnancy appropriate to the recommendation of IOM. The working mothers are also stated having risk of PIM three times bigger than the un-working ones / housewives. The mothers starting earli initiation more than 30 minutes after delivering babies have the risk of PIM three times bigger than those starting early initiation less than 30 minutes, while the Mothers who do not get any support from their in-laws have the risk ofPIM 17 times bigger than those supported by their in-laws. The result of a multivariate analysis shows the increase of body weight appropriate to the recommendation of IOM as the most dominant factor related to the PIM after controlling the variables such as support from parents, parity, the length of time for early initiation, rooming-in, position of breastfeeding, and the attachmentof breastfeeding."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
T40858
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ginting, Leo
"Pola asuh orang tua mempengaruhi karakteristik anaknya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan pola asuh orang tua dengan konsep diri: harga diri remaja. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi, dilakukan terhadap 95 responen di salah satu SMA Negeri di Depok. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan dianalisis melalui Chi Square dengan tingkat kemaknaan 0,1. Hasilnya rnendapatkan p value = 0,004 dan ini menunjukkan ada hubungan pola asuh orang tua dengan konsep diri: harga diri remaja. Pola asuh yang paling efektif membentuk konsep diri: harga diri remaja tinggi ( 66,7 %) adalah demokratis, sementara penerapan otoriter dan permisif dalam keluarga perlu ditinjau ulang karena cenderung membentuk harga diri remaja kurang baik.

Parenting style influences characteristic children. On behalf that statement, identifying relation parenting style with adolescent?s self concept: self esteem is purpose this research. This research utilized descriptive correlation design that consists of 95 adolescents frm one of senior high school in Depok. Collecting data used questioner and was analyzed by Chi Square test with significance level is 0.1 and resulting p value is 0.004. It means there is relationship parenting style with adolescent?s self concept: self esteem. Adolescent who perceived authoritative parenting style reported have higher levels of self concept: self-esteem than adolescents raised in authoritarian and permissive homes, so it is important to re-consider to using authoritarian and pemiissive parenting style because it makes lower adolescent?s self concept: selfesteem."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2009
TA5746
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Annisa
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh ibu dengan perilaku bullying remaja. Hal ini dianggap penting mengingat bullying merupakan perilaku yang akhir-akhir ini meresahkan dan memberikan dampak negatif bagi banyak pihak. Keluarga merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan individu terlibat dalam perilaku bullying. Ibu, sebagai salah satu orangtua memiliki peran penting dalam proses pengasuhan anak. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dan teknik sampling yang digunakan accidental sampling, seluruh responden sebanyak 91 orang adalah siswa-siswi SMK kelas dua. Perhitungan Chi-Square menghasilkan p value sebesar 0,001. Hasil ini menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh ibu dengan perilaku bullying remaja. Penelitian ini merekomendasikan: pertama, diadakannya penyuluhan atau seminar tentang penanggulangan bullying bagi remaja. Kedua, diadakannya pelatihan pengendalian marah agar meminimalisir keterlibatan remaja pada perilaku bullying."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2012
S42001
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>