Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 61945 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Riki Nova
"Leukemia granulositik kronik (LGK) merupakan salah satu penyakit keganasan hematologi yang prevalensinya dapatterus meningkat di masa depan. Terapi LGK saat ini adalah imatinib yang merupakan tirosin kinase inhibitor. Meskipun imatinib memiliki kemampuan klinis superior, diperkirakan sekitar 20-30% pasien LGK resisten terhadap terapi imatinib,yang salah satu penyebabnya terkait ekspresi P-gp berlebih, sehingga memompakan imatinib intraseluler ke domain ekstraseluler. P-gp disandi oleh gen ABCB1 yang bersifat sangat polimorfik, tiga single nucleotide polymorphism (SNP) telah diteliti pada pasien LGK, yaitu C1236T, C3435T dan G2677T/A. Mutasi yang paling umum terjadi untuk memprediksi respons klinis terapi imatinib pada pasien LGK Asia adalah mutasi C1236T. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan mutasi C1236T gen ABCB1 dengan pencapaian MMR pada pasien LGK fase kronik yang mendapat imatinib.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian potong lintang (cross-sectional) menggunakan 120 sampel darah pada pasien LGK fase kronik yang mendapat imatinib mesilat selama ≥ 12 bulan yang memenuhi kriteria seleksi. Dilakukan amplifikasi dengan metode PCR dilanjutkan dengan sekuensing metode Sanger untuk penentuan mutasi C1236T gen ABCB1.
Hasil: Dari 120 sampel darah yang memenuhi kriteria seleksi dan dianalisis. Terdapat 28,3% pasien LGK fase kronik yang mencapai MMR. Mutasi C1236T adalah 72 pasien (60%). Tidak terdapat hubungan mutasi dengan pencapaian MMR (risiko prevalensi 0,717 [0,275-1,461], p = 0,282).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan antara mutasi C1236T gen ABCB1 pada pasien LGK fase kronik yang mendapat imatinib 12 bulan dengan pencapaian MMR.

Chronic myeloid leukemia (CML) is one of the hematological malignancy disease which prevalence may continue to increase in the future. The treatment option of CML recently is imatinib, the tyrosine kinase inhibitor. Despite its superior clinical performance, imatinib drug resistance is developed in 20-30% patient, one of the causes is related to over expression of P-gp that transfer intracelluler imatinib to the extracelluler domain. P-gp is encoded by ABCB1 gene which is highly polymorphic. Three ABCB1 gene single nucleotide polymorphism (SNP), has been studied in CML patient; C1236T, C3435T, and G2677T/A. The most common mutation that can predict the clinical respond of imatinib therapy in Asian CML patient is C1236T mutation. This study purpose is to find the association between C1236T mutation in ABCB1 gene to the achievement of MMR in chronic phase.
Methods: This is a cross-sectional study using 120 blood samples of chronic phase CML patient who received imatinib mesylate for up to 12 months and met the selection criteria. The amplification process with PCR methods was performed, followed by Sanger methods of sequencing to determine the C1236T gene ABCB1 mutation.
Results: A total of 120 blood samples that met the selection criteria was obtained and analyzed. About 28,3% of chronic phase CML patient achieved the MMR. C1236T mutation was found in 72 patients (60%). There was no association between mutation and MMR achievement (prevalence risk 0,717 [0,275-1,461] p = 0,282]).
Conclusion: There was no association between C1236T gene ABCB1 mutation of chronic phase CML patient who received imatinib 12 months with the MMR achievement.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nisha Virginia
"Kepatuhan penggunaan terapi imatinib mesilat (IM) jangka panjang menjadi faktor utama dalam tercapainya efektivitas terapi pada pasien Leukemia Granulositik Kronik (LGK). Faktor kualitas hidup diketahui memengaruhi tingkat kepatuhan terapi IM. Namun, faktor-faktor yang memengaruhi tingkat kepatuhan menunjukkan inkonsistensi data dalam berbagai penelitian dan juga belum diketahui lebih dalam di Indonesia. Pasien LGK berumur lebih dari 18 tahun dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) Jakarta yang menggunakan IM setidaknya satu bulan dilakukan pengukuran menggunakan kuisioner Medication Adherence Questionnaire (MAQ) dan European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire C30 (EORTC QLQ-C30) selama periode Maret – April 2020. Sebanyak 50 pasien LGK diikutsertakan dalam penelitian (rasio laki-laki : perempuan = 1,08 : 1,00) memiliki skor median skor kesehatan global/ QoL, skala fungsi dan skala gejala baik, kecuali skala gejala kelelahan yang didominasi kategori bergejala hingga bergejala berat (median: 33,33; persentil 25 – persentil 75: 11,11 – 44,44). Tingkat kepatuhan pasien didominasi dengan pasien tidak patuh (20/50; 40,00%). Analisis bivariat mengungkapkan hanya skala gejala mual dan muntah (referensi: bergejala dan bergejala berat) diketahui sebagai faktor yang memiliki hubungan bermakna secara signifikan terhadap risiko ketidakpatuhan (p = 0,007; Interval Kepercayaan (IK) 95% = 1,985 – 4,535; Odds Ratio (OR) = 3,000). Namun, hubungan tersebut tidak dapat dibuktikan dalam analisis multivariat. Penelitian ini mengungkapkan sebanyak dua dari lima pasien tidak patuh terhadap regimen pengobatan. Kejadian yang Tidak Diinginkan (KTD), khususnya gejala mual dan muntah merupakan faktor yang memengaruhi kepatuhan penggunaan IM pada pasien LGK.

Adherence to long-term Imatinib Mesylate (IM) therapy is a major factor in achieving therapeutic effects in patients with Chronic Myeloid Leukemia (CML). Quality of life is known to influence adherence to IM therapy. However, the data on factors influencing adherence is inconsistent in various studies and is also not fully understood yet in Indonesia. CML patients above 18 years old with National Health Insurance (JKN) at the Dharmais Cancer Hospital (RSKD) Jakarta who used IM for at least one month were tested using the Medication Adherence Questionnaire (MAQ) and the European Organization for Research and Treatment of Cancer Quality of Life Questionnaire C30 (EORTC QLQ-C30) during the period March to April 2020. A total of 50 CML patients enrolled in the study (male: female ratio = 1.08 : 1), had a good median global health status (QoL) score, the function scale and the symptom scale were good, except for the fatigue symptom scale which was dominated by the symptomatic to severe symptoms category (median: 33.33; 25th percentile – 75th percentile = 11.11 - 44.44). The patient adherence rate was dominated by nonadherent patients (20/50; 40.00%). Bivariate analysis revealed that the nausea and vomiting symptom scale (reference: symptomatic and severe symptom) was known to have a significant relationship with the risk of nonadherence (p = 0.007; 95% Confidence Interval (CI) = 1.985 – 4.535; Odds Ratio (OR) = 3.000). However, this relationship could not be proved in multivariate analysis. This study showed that the two-fifth of patients were considered to be nonadherent. Adverse Events (AE), especially symptoms of nausea and vomiting, are factors that influence IM adherence in patients with CML."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hikari Ambara Sjakti
"Pasien leukemia mieloblastik akut (LMA) yang mencapai remisi komplet pascaterapi induksi di Indonesia hanya 49%, dan event-free survival (EFS) hanya 10%. Angka kekambuhan dan kematian terkait kemoterapi menjadi penyebab rendahnya luaran tersebut. Untuk meningkatkan luaran dan mengurangi efek samping pengobatan perlu dilakukan stratifikasi risiko menggunakan profil sitogenetik maupun imunofenotipe. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan profil imunofenotipe, kariotipe, mutasi FLT3-ITD dan NPM1 (variabel prognosis), serta hubungannya dengan respons kemoterapi induksi.
Penelitian dilakukan dengan desain kohort analitik pada LMA usia 1–18 tahun di RSCM, RSABHK, RSKAD, RSPAD pada bulan November 2018 hingga Maret 2020. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi ekspresi CD7, CD19, kariotipe t(8,21), inv(16), mutasi NPM1 dan FLT3-ITD, kemudian dinilai hubungannya dengan kejadian remisi setelah mendapat terapi induksi dengan protokol LMA Nasional.
Dari 42 subjek diperoleh median usia 8 tahun 11 bulan (3–213 bulan). Tipe LMA terbanyak adalah M1, diikuti M2. Gejala klinis tersering pucat (33/42) dan demam (25/42). Tanda klinis terbanyak hepatomegali (17/42) dan splenomegali (18/42). Subjek dengan CD7+ 21,4%, CD19+ 11,9%. Translokasi t(8;21) terdeteksi pada 1dari 18 (5,6%) subjek, inv(16) pada 4 dari 18 ((22%) subjek, 7 dari 18 subjek termasuk kelompok kariotipe favorable. Sebanyak 2 dari 28 (7%) subjek memiliki mutasi FLT3-ITD. Mutasi NPM1 tidak ditemukan. Ekspresi CD7 lebih dominan berperan dibandingkan usia dan jumlah leukosit saat diagnosis sebagai faktor prognosis baik. Analisis multivariat menunjukkan hubungan bermakna antara variabel prognosis dengan respons terapi induksi. Aberans CD7, inv(16) dan mutasi FLT3-ITD memiliki risiko relatif lebih tinggi untuk remisi (masing-masing incidence rate ratio/IRR 3,39 (IK 95% 1,43–8,04); IRR 2,36 (IK 95% 1,08–5,17); dan IRR 4,08 (IK 95% 1,78–9,34)). Nilai IRR aberans CD19 dan t(8;21) IRR < 1.
Penelitian ini menunjukkan aberans CD7, inv(16) dan mutasi FLT3-ITD dapat dijadikan faktor prognosis baik sedangkan aberans CD19, kariotipe t(8;21) dapat dijadikan faktor prognosis buruk pada LMA anak di Indonesia.

Currently, pediatric acute myeloid leukemia (AML) patients who achieved complete remission after induction therapy has reach only 49% with 10% event-free survival (EFS) rate. The relapse rate and mortality related to chemotherapy are the causes of this low outcome. To improve outcomes and reduce side effects of treatment, it is necessary to carry out risk stratification using cytogenetic profiles and immunophenotypes. The purpose of this study was to obtain profiles of immunophenotype, karyotype, FLT3-ITD and NPM1 mutations (prognostic variables), and their relationship to the response to induction chemotherapy.
The study was conducted with an analytical cohort design on AML patients aged 1–18 years at RSCM, RSABHK, RSKAD, RSPAD from November 2018 to March 2020. The examinations included expression of CD7, CD19, karyotype t(8.21), inv(16), NPM1 and FLT3-ITD mutations, then assessed the relationship with the incidence of remission after receiving induction therapy with the National AML protocol.
Of the 42 subjects, the median age was 8 years 11 months (3–213 months). The most common type of AML was M1, followed by M2. The most common clinical symptoms were pallor (33/42) and fever (25/42). The most common clinical signs were hepatomegaly (17/42) and splenomegaly (18/42). Subjects with CD7+ 21.4%, CD19+ 11.9%. Translocation t(8;21) was detected in 1 of 18 (5.6%) subjects, inv(16) in 4 of 18 ((22%) subjects, 7 of 18 subjects included in the favorable karyotype group. A total of 2 of 28 (7%) subjects had FLT3-ITD mutations. NPM1 mutation was not found. Role of CD7 expression as prognostic factor was more dominant than age and leukocyte count at diagnosis. Multivariate analysis using generalized linear model showed a significant relationship between prognostic variables and response to induction therapy. CD7 aberrant, inv(16) and FLT3-ITD mutations had a higher relative risk for remission (respectively incidence rate ratio /IRR 3.39 (95% CI 1.43–8.04); IRR 2.36 (95% CI 1.08–5.17); and IRR 4.08 (95% CI 1.78–9.34)). Incidence rate ratio value of CD19 aberrant and t(8;21) IRR < 1.
This study showed that CD7 aberrant, inv(16) and FLT3-ITD mutations can be used as good prognostic factors, while CD19 aberrant, t(8;21) karyotype can be used as poor prognostic factors for pediatric AML in Indonesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pristya Ramadhani
"ABSTRACT
Progressive multifocal leukoencephalopathy (PML) is a rare but fatal disease leading to severe neurological impairments. PML is a clinical manifestation, which is usually associated with John Cunningham virus (JCV) infection. It is also correlated to malignancies that mainly include hematologic malignancies such as chronic lymphocytic leukemia (CLL). Until now, no specific treatment has been established for JCV-induced PML; therefore, the prognosis of this disease is poor.
We present a case of a 67-year-old woman who suffered from CLL with a chief complaint of seizure. Her clinical symptoms, results of brain MRI and biopsy were suggestive for the JCV-induced PML. The patient had received treatment using mefloquine at dose of 250 mg/day with no clinical improvement.
"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2018
610 UI-IJIM 50: 2 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Fauji
"Karya Ilmiah Akhir ini berisi laporan praktik selama program praktik residensi keperawatan medikal bedah 1 (satu) sampai 3 (tiga) di RSKD berupa analisis asuhan keperawatan pada pasien akut myeloid leukemia (AML) menggunakan teori peaceful end of life (EOL), menerapkan praktik keperawatan berdasarkan pembuktian serta melakukan inovasi keperawatan secara berkelompok. Pada pasien AML terdapat 10 diagnosa keperawatan yaitu nyeri akut, gangguan membran mukosa oral, resiko pertukaran gas, nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, intoleransi aktifitas, resiko infeksi, resiko perdarahan, tidak efektif manajemen kesehatan diri, spiritual distres, serta koping keluarga tidak efektif.
Resume keperawatan pada 30 pasien dengan masalah keperawatan terbanyak adalah nyeri (70%), nausea (57%), fatigue (50%) dan cemas (40%). Penerapan praktik berbasis pembuktian adalah menerapkan penggunaan madu untuk mencegah terjadinya neutropenia pada pasien kanker. lnovasi keperawatan dilakukan secara berkelompok dengan membuat format pengkajian keperawatan lanj utan. Perawat dapat menerapkan teori peaceful EOL dalam asuhan keperawatan, menerapkan EBN penggunaan madu untuk mencegah neutropenia serta melakukan kegiatan inovatif dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien dengan keganasan.

This final Scientific report contains an analysis of practice during medical surgical nursing residency piogram 1 ( one) to 3 (three) in RSKD to inform about nursing care with an acute myeloid leukemia (AML) patients using the theory of peaceful end of life (EOL), implementing evidence-based nursing practice and nursing innovation in groups. In AML patients there were 10 nursing diagnosis they are: acute pain, impaired oral mucous membranes, risk of gas exchange, nutrition less than body requirements, activity intolerance, risk of infection, risk of bleeding, ineffective self health management, spiritual distress, and ineffective family coping.
Nursing resumes in 30 patients with the most nursing problems are: pain (70%), nausea (57%), fatigue (50%) and anxiety (40%). Application of evidence­based practice is to apply the use of honey to prevent neutropenia in cancer patients. Nursing innovation in groups by making advanced nursing assessment format. Nurses can apply theory peaceful EOL in nursing care setting, applying EBN use honey to prevent neutropenia and innovative activity in improving the quality of nursing care in patients with malignancy.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"Krisis blastik pada lekemia mielositik kronik (CML) bisa berasal dari lini granulosit, monosit, eritrosit, limfoid (sel B atau sel T), dan megakariositik. Krisis blastik seri limfoid biasanya berupa sel B dengan fenotipik sel Pre-B, di mana Ig permukaan belum diekspresikan. Krisis blastik dari sel T sangat jarang didapatkan. Tujuan penelitian : mendeskripsikan gambaran fenotipik, transkrip fusi bcr-abl, dan CD3 sitoplasmik, dan terminal deoxynucleotidyl transferase pada kasus-kasus CML dengan krisis blastik seri limfoid-T. Laporan kasus dari 4 kasus leukemia mielogenik kronik dengan krisis blastik sel-sel T yang dikumpulkan dalam kurun waktu 17 tahun (1987-2004). Kasus-kasus tersebut telah dilakukan pemeriksaan analisis fenotipik dan genotipik pada awal diagnosis ditegakkan. Kesemua kasus menunjukkan adanya t(9;22)(q34;q11). Sampel sel-sel mononuklear pasien yang disimpan dalam bentuk 10%DMSO diperiksa Reverse Transkripsi (RT) PCR BCR_ABL multiplex untuk mendeteksi transkrip fusi bcr-abl, PCR CD3ε untuk mendeteksi Cd3 sitoplasmik, dan PCR TdT untuk mendeteksi terminal deoxynucleotidyl transferase. Hasil analisis antigen permukaan sel pada awal diagnosis menunjukkan 1 kasus CD7+, CD5-, dan CD2-; 1 kasus CD7+, CD5+, dan CD2-; dan 2 kasus CD7+, CD5+, dan CD2+ yang menunjukkan bahwa semua sel T krisis blastik CML berada pada stadium pre dan protimik. Dua kasus menunjukkan hasil positip untuk transkrip bcr-abl b2a2, 1 kasus positip pada e1a2, dan 1 kasus negatip. RT PCR CD3ε menunjukkan hasil positip pada semua kasus dan RT PCR TdT hanya positip pada 1 kasus. Hasil yang dikumpulkan diharapkan dapat menjadi dasar analisis lebih lanjut pada kasus CML dengan krisis blastik sel-sel T. (Med J Indones 2005; 14: 184-9)

Blast crisis (BC) transformation in chronic myelogenous leukemia (CML) can involve each differentiation lineage of the hematopoietic system, i.e. granulocyte, monocyte, erythrocyte, megakaryocyte, and lymphocyte lineage. The lymphoid blast crisis (BC) leukemia cells usually belong to B-lineage, commonly having the phenotype of Pre-B stage of the B-lineage, in which cell-surface immunoglobulin(sIg) is not yet expressed. In contrast, T-lineage BC of CML is extremely rare. The objective of this study is to describe the fenotype, fusion transcript of bcr-abl, TdT, and cytoplasmic CD3 in T-lineage BC CML cases. Case report study. This report shows a simple summary of 4 cases of T-lineage BC of CML which have been collected in the phenotypic and genotypic analysis study for 17 years (1987-2004). In all cases, the chromosomal analysis revealed the presence of t(9;22)(q34;q11) at presentation. Cell surface analysis were done at diagnosis. Cases’ mononuclear cells stored as 10% DMSO were retrieved to be performed reverse transcription (RT) PCR BCR-ABL multiplex to demonstrate the presence of the fusion transcript of bcr-abl. RT-PCR was also performed for detecting the expression of cytoplasmic CD3ε and terminal deoxynucleotydil transferase (TdT). The results of cell surface antigen (CSA) at presentation showed that 1 case was CD7+, CD5-, and CD2-; 1 case CD7+, CD5+, and CD2-; and 2 cases CD7+, CD5+ and CD2+ indicating that all these T-lineage BC of CML cells show the phenotype of pre-(pro-) thymic stage phenotype. In the present study, two cases showed b2a2, one e1a2, and one negative bcr-abl transcript. The RT-PCR revealed the presence of CD3ε mRNA in all cases, and TdT mRNA in only one case. These results can constitute a basis for the future analysis of T-lineage BC of CML from now on. (Med J Indones 2005; 14: 184-9)"
Medical Journal of Indonesia, 14 (3) July September 2005: 184-189, 2005
MJIN-14-3-JulSep2005-184
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Anton Dharma Saputra
"Latar belakang: Immune thrombocytopenia (ITP) didiagnosis dengan mengekslusi penyebab lain trombositopenia. Mekanisme trombositopenia terjadi melalui 2 mekanisme, yaitu destruksi trombosit seperti pada pasien ITP dan penurunan produksi trombosit pada pasien leukemia. Aspirasi sumsum tulang merupakan metode yang dapat membedakan mekanisme trombositopenia yang terjadi, tetapi karena invasif tidak rutin dilakukan untuk diagnosis. Seiring dengan perkembangan zaman, dapat dilakukan pemeriksaan trombosit muda dengan teknik flouresensi untuk menilai kadar immature platelet fraction (IPF). Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan kadar IPF pada pasien ITP dibandingkan dengan leukemia.
Metode: Studi potong-lintang kadar IPF pasien anak dengan ITP dan leukemia, yang dilaksanakan dari 2017-2020 di RSUPN Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Sampel penelitian adalah pasien anak umur kurang dari 18 tahun, yang menderita ITP dan leukemia, yang belum mendapatkan kemoterapi ataupun imunosupresan. Data penelitian diambil dari rekam medis atau pemeriksaan darah rutin.
Hasil: Dari 42 pasien, didapatkan 21 pasien ITP dan 21 pasien leukemia. Terdapat perbedaan bermakna (16,6 poin) dari rerata kadar IPF pasien ITP dibandingkan pasien leukemia (P<0,001). Pasien ITP memiliki kadar rerata IPF sebesar 18,6%(SB 12,1%). Pasien leukemia memiliki kadar IPF 2%(SB 1,31%).
Kesimpulan: Terdapat perbedaan bermakna kadar IPF pada pasien ITP dibandingkan pasien leukemia akut.

.Background and aim: Immune thrombocytopenia (ITP) is diagnosed by excluding other causes of thrombocytopenia. The thrombocytopenia itself could occur through 2 mechanisms, which were platelet destruction as in ITP, and decrease platelet production as in leukemia. Bone marrow aspiration used to be done to distinguish the mechanism of thrombocytopenia, but it has not been routinely done due to its invasiveness. Examination of young platelets with fluorescence technique are currently done to assess the level of Immature Platelet Fraction (IPF). This study was conducted to evaluate the differences in IPF levels in ITP patients compared with leukemia patients.
Methods: A cross-sectional study was carried out on the IPF levels on patients with ITP and leukemia, from 2017-2020 at Cipto Mangunkusumo General Hospital, Jakarta. The study sample was pediatric patients, less than 18 years old, diagnosed with ITP and acute leukemia, whom had not received any chemotherapy or immunosuppressants. Research data were taken from medical records and/or routine blood tests.
Results: Total of 42 patients, 21 ITP patients and 21 leukemia patients were found. There was a significant difference (16,6 poin) in the mean of IPF levels of ITP patients compared with leukemia patients (P <0.001). ITP patients had an average IPF level of 18,6% (SB 12,1). Leukemia patients have 2% IPF levels (SB 1,31).
Conclusions: There is a subtantial different in IPF in ITP patient compared to acute leukemia patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Delta Fermikuri Akbar
"Leukemia mieloblastik akut (LMA) merupakan kelainan sel punca hematopoetik yang dikarakterisasi oleh ekspansi progenitor mieloid yang tidak terdiferensiasi. Mutasi NPM1 ekson 12 merupakan perubahan genetik yang paling sering diketahui pada pasien LMA dengan kariotipe normal. Saat ini belum ada penelitian tentang mutasi ekson 12 gen NPM1 tipe A pada populasi Indonesia, sehingga belum ada data dan laporan mengenai mutasi ekson 12 gen NPM1 tipe A pada populasi orang Indonesia. Penelitian ini memiliki tujuan umum yaitu mengetahui karakteristik mutasi ekson 12 gen NPM1 pada pasien LMA dewasa di RSCM dan RSKD dan tujuan khusus yaitu mengetahui frekuensi kejadian mutasi tipe A pada ekson 12 gen NPM1 dan mengetahui benar atau tidaknya bahwa mutasi tersebut ditemukan pada pasien LMA dewasa di RSCM dan RSKD dengan kariotipe normal.
Penelitian bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel diperiksa dengan teknik ASO-RT-PCR dan hasil negatif dilanjutkan dengan seminested-ASO-RT-PCR. Hasil penelitian memperlihatkan 8 sampel (24,24%) dari total 33 sampel terdeteksi positif mengalami mutasi tipe A dan mutasi tersebut lebih banyak ditemukan pada pasien LMA dewasa di RSCM dan RSKD dengan kariotipe abnormal. Saran dari penelitian ini yaitu perlu dilakukan studi dengan jumlah sampel lebih banyak dan perlu dilakukan sequencing untuk mengetahui tipe mutasi lain dari ekson 12 gen NPM1.

Acute Myeloid Leukemia (AML) is a hematopoietic stem cell disorders characterized by expansion of myeloid progenitors that are not differentiated. Exon 12 NPM1 mutations are the most frequent genetic alterations detected in AML patients with normal karyotype. Currently there is no study on type A exon 12 NPM1 gene mutation in Indonesian population. The general objective of this study was to determine the characteristic of exon 12 NPM1 gene mutation in adult AML patients at RSCM and RSKD. While the specific objectives were to determine the frequency of type A exon 12 NPM1 gene mutation and to observe if this mutation was found on adult AML patients with normal karyotype.
This research was designed as a cross sectional descriptive study. Samples were examined for type A mutation in exon 12 NPM1 gene using ASO-RT-PCR technique followed by seminested-ASO-RT-PCR for samples showing negative result. From this study, we found that 8 samples (24.24%) from a total of 33 samples were positively detected for type A mutation. In addition, we also found that this mutation was more frequent in adult AML patients with abnormal karyotype. Further study with larger number of samples and analysis by DNA sequencing is needed to better characterize this type A mutation and to find other type of mutation in exon 12 NPM1 gene respectively.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Identifikasi petanda permukaan sel yang dikenal sebagai kelompok antigen diferensiasi (clusters of differentiation antigens, CD) dapat digunakan untuk mengklasifikasi dan subklasifikasi leukemia. Walaupun antigen yang sama juga diekspresikan pada permukaan sel normal, fenotip pada permukaan sel ganas pada umumnya diekspresikan secara abnormal dan seringkali diekspresikan asinkron atau dalam kombinasi yang tidak lazim dijumpai pada sel-sel darah atau sumsum tulang normal. Ekspresi antigen secara abnormal ini dihubungkan dengan respons terapeutik yang buruk dan ketahanan hidup yang pendek. Penentuan petanda permukaan sebagai pelengkap pemeriksaan morfologi dan sitokimia dapat meningkatkan kemampuan untuk menentukan karakteristik keganasan hematologi. Dalam makalah ini akan dibahas tinjauan pustaka mengenai makna diagnostik pemeriksaan imunofenotip pada leukemia disertai ilustrasi pengalaman pemeriksaan ini di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Data dari 225 pasien yang telah mengalami pemeriksaan hematologi lengkap termasuk morfologi, sitokimia dan pemeriksaan imunofenotip dikumpulkan antara tahun 1994-2001 dan dianalisis. Berdasarkan pemerikssan morfologi dan sitokimia diagnosis leukemia mielositik akut (AML) dan leukemia limfositik akut (ALL) ditegakkan masing-masing pada 51,1% dan 48,9% pasien. Berdasarkan pemeriksaan imunofenotip AML dijumpai pada 49,0%, sedangkan ALL dapat dikelompokkan dalam 4,9% pre-B ALL, 18,7% B-ALL dan 14,7% T-ALL. Jumlah kasus yang menunjukkan antigen dengan kombinasi tidak lazim atau “cross lineage” dijumpai pada 12,7%. Makna prognostik kasus dengan ekspresi antigen abnormal ini masih harus ditelaah, tetapi sebagian dari kasus tersebut ternyata memberikan respons yang kurang baik terhadap terapi. Pemeriksaan imunofenotip merupakan sarana untuk : 1) membedakan klon leukemik dari klon normal; 2) menentukan jalur perkembangan /asal-usul dan maturasi sel ; 3) mengidentifikasi ekspresi abnormal dari antigen permukaan; 4) mendapatkan informasi lebih banyak yang diperlukan untuk menentukan diagnosis dan prognosis leukemia dibanding metode baku. (Med J Indones 2004; 13: 195-202)

The identification of cell surface markers, defined as clusters of differentiation antigens (CD’s) could be used to classify and sub-classify leukemia. Although the same antigens are expressed on normal cells, the phenotype on malignant cells are aberrantly and frequently asynchronously expressed and may be present in combinations not observed in normal blood or bone marrow. Aberrant expression of surface antigens corresponds with poor therapeutic response and short survival. Additional surface marker analysis complementary to morphologic evaluation and cytochemical staining has greatly improved our ability to characterize hematologic malignancies. A review and illustration on the diagnostic significance of immunophenotyping in leukemia will be presented. Data from 225 patients having complete assessments including morphology, cytochemistry and immunophenotyping in the period of 1994-2001 were collected and analyzed. Based on morphologic evaluation and cytochemistry, the diagnosis of acute myeloid leukemia and acute lymphoblastic leukemia were established in 51,1% and 48,9% of cases, respectively. Based on immunophenotyping AML was found in 49,0% of the cases. ALL could be classified into 4,9% pre-B-ALL, 18,7% B-ALL, and 14,7% T-ALL. Cases expressing cross-lineage antigens were found in 12,7%. The prognostic significance of these aberrant expression of antigens for those cases has yet to be established but some of the cases responded poorly to therapy. Immunophenotyping provides the tool to: 1) distinguish normal from clonal populations of leukemic cells; 2) define lineage and reveal the stage of maturation; 3) identify inappropriate expression of lineage associated antigens; 4) provides more informations to establish diagnosis and prognosis compared to standard methods. (Med J Indones 2004; 13: 195-202)"
Medical Journal of Indonesia, 13 (3) Juli September 2004: 195-202, 2004
MJIN-13-3-JulSep2004-195
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Restavia Widyaningsih
"Ibu hamil yang bekerja merupakan agregat beresiko di dalam komunitas perkotaan. Karya ilmiah ini dilakukan untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada ibu hamil pekerja dengan penyakit leukemia. Leukemia pada klien disebabkan oleh zat kimia toksik yang diperoleh klien dari lingkungan tempat kerjanya. Asuhan keperawatan kepada Ibu L (29 tahun) dilakukan mulai dari pengkajian prenatal hingga evaluasi keperawatan pada periode postnatal. Masalah keperawatan yang ditemukan pada Ibu L sejak periode prenatal meliputi resiko kekurangan cairan dan ansietas, sedangkan pada periode postnatal ditemukan masalah nyeri akut, resiko infeksi, dan diskontinuitas pemberian ASI. Diskontinutas pemberian ASI menjadi masalah keperawatan utama yang berhubungan dengan pengobatan kemoterapi klien. Ketidaknyamanan dirasakan oleh ibu karena produksi ASI yang berlanjut sementara ibu tidak dapat menyusui. Implementasi dilakukan sebanyak lima kali, mulai dari perawatan di RSUP Ciptomangunkusumo hingga kunjungan rumah. Supresi laktasi dengan metode nonfarmakologis dilakukan untuk mengatasi masalah diskontinuitas pemberian ASI. Hasil evaluasi menunjukan produksi ASI dapat ditekan dan ibu mampu memberikan pengganti ASI sesuai kebutuhan bayinya.

Pregnant women workers including aggregate risk in the urban community. This paper aims to describe the nursing care to pregnant women worker with leukemia. Leukemia on the client due to toxic chemicals derived from the client's workplace environment. Nursing care to Mrs. L (29 years old) were made from prenatal to postnatal period. Nursing problems were found in Mrs. L since prenatal risks include dehydration and anxiety, whereas in the postnatal period was found acute pain, risk of infection, and the discontinuity of breastfeeding. Discontinuities breastfeeding nursing major problem associated with chemotherapy treatment clients. Discomfort felt by the mother because of the continued production of breast milk while the mother can not breastfeed. Implementation were done five times, ranging from treatment at Ciptomangunkusumo hospital up home visits. Suppression of lactation with non-pharmacological methods to solve the problem of discontinuities done breastfeeding. The evaluation results showed milk production can be reduced and the mother can give her baby breast milk substitutes as needed.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>