Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 74501 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sianipar, Maruli Tua
"Latar Belakang: Hipertensi arterial paru (HAP) memiliki mortalitas yang tinggi. HAP dapat disebabkan oleh defek septum atrium sekundum (DSAS). DSAS dengan HAP perlu diperiksa dengan kateterisasi jantung kanan (KJK) untuk menilai resistensi vaskular paru (RVP). Pengukuran pulmonary artery compliance (Cp) dengan cara invasif merupakan prediktor miliki nilai prognostik untuk meramalkan penyakit vaskular paru (PVP) dan mortalitas dibanding RVP. Fasilitas KJK belum tersedia merata di Indonesia. Gambaran notch pada kurva PW Doppler alur keluar ventrikel kanan (AKVKa) ditemukan pada pasien dengan Cp rendah. Karena itu, kami mencoba mencari korelasi antara time-tonotch dengan Cp yang didapat secara invasif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat korelasi antara time-to-notch dengan Cp pada pasien DSAS. Metode: Penelitian ini merupakan studi potong lintang dengan consecutive sampling pada pasien DSA sekundum dewasa (≥ 18 tahun) yang menjalani kateterisasi jantung kanan (KJK) di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita sejak Maret 2019 sampai Juni 2022. Parameter time-tonotch dari ekokardiografi akan diuji korelasinya dengan Cp yang didapat dari KJK. Hasil: Terdapat 84 pasien DSAS yang dilakukan analisis. Dari korelasi bivariat didapatkan bahwa time-to-notch memiliki korelasi positif sedang dengan Cp (r = 0,575, p < 0.0001). Variabel lain yang bermakna dalam uji bivariat adalah TRVmax, AKVKa VTI, PVAccT, TAPSE dan hemoglobin. Melalui regresi linier didapatkan bahwa variabel time-to-notch, TRVmax dan TAPSE dapat memprediksi Cp (R2 =0,49). Kesimpulan: Terdapat korelasi positif dengan kekuatan sedang antara time-to-notch dan Cp pada pasien DSAS. Kombinasi time-to-notch, TRVmax dan TAPSE dapat memprediksi Cp.

.Background: Pulmonary arterial hypertension (PAH) is a devastating condition with a high mortality rate. Secundum atrial septal defect (ASD) may cause PAH. It needs right heart catheterization (RHC) to assess pulmonary vascular resistance (PVR) in such patients. Pulmonary artery compliance (Cp) is another parameter gained from RHC that has better diagnostic and prognostic value to assess PAH compared to RVP. RHC facility is still not widely available in Indonesia. Low Cp is one of the factors influencing the notching in the right ventricular outflow tract (RVOT) PW Doppler curve. Therefor we try to find the correlation between time-to-notch and Cp. Objective: The study aims to evaluate correlation between time-to-notch and Cp in patients with secundum ASD. Methods: This is a cross sectional study with consecutive sampling in grown-up secundum ASD patients (≥ 18 years old) undergoing right heart catheterization (RHC) in National Cardiac Centre Harapan Kita from March 2019 to June 2022. The correlation between time-to-notch gained from echocardiography and Cp gained from RHC are then assessed. Results: There are 84 patients with secundum ASD included for analysis. From bivariat correlation time-to-notch and Cp have positive moderate correlation (r = 0.575, p < 0.0001). Other variables that also have significant correlation with Cp include TRVmax, RVOT VTI, PVAccT, TAPSE, and haemoglobin. However, multivariate analysis shows that only time-to-notch, TRVmax and TAPSE can predict Cp (R2= 0.49). Conclusions: There is moderate positive correlation between time-to-notch and Cp in secundum ASD. Combination time-to-notch, TRVmax and TAPSE can predict Cp."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ameru Ulfalian
"Latar belakang : Arterial switch operation (ASO) adalah operasi pilihan untuk penanganan penyakit jantung bawaan transposition of the great arteries with intact ventricular septum (TGA IVS). Namun, terdapat komplikasi regurgitasi katup neoaorta yang memengaruhi keluaran jangka pendek dan panjang pascaprosedur ASO. Prosedur pulmonary artery (PA) banding yang merupakan bagian dari ASO dua tahap bagi pasien TGA IVS berusia di atas tiga minggu merupakan salah satu faktor risiko yang diduga memengaruhi regurgitasi katup neoaorta. Akan tetapi, belum diketahui pengaruh PA banding terhadap regurgitasi katup neoaorta pascaprosedur ASO pada pasien TGA IVS di Indonesia.
Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh PA banding terhadap regurgitasi katup neoaorta pascaprosedur ASO, karakteristik pasien TGA IVS, prevalensi regurgitasi katup neoaorta, dan pengaruh faktor risiko lain (rentang waktu antara PA banding dan ASO, usia, jenis kelamin, konfigurasi arteri koroner dan anatomi katup neoaorta) terhadap regurgitasi katup neoaorta pascaprosedur ASO pada TGA IVS di Rumah Sakit Pusat Jantung Nasional Harapan Kita (RSPJNHK), Indonesia.
Metode : Penelitian ini adalah studi kohort retrospektif berdasarkan data sekunder dari bagian rekam medis RSPJNHK pada pasien TGA IVS yang dilakukan dan tidak dilakukan PA banding sebelum ASO pada periode 2010-2022. Variabel yang dinilai antara lain PA banding, rentang waktu antara PA banding dan ASO, usia, jenis kelamin, konfigurasi arteri koroner dan anatomi katup neoaorta.
Hasil : Hasil penelitian ini terdapat 123 subjek yang terdiri dari 41 subjek kelompok PA banding dan 82 subjek kelompok tidak PA banding; median usia kelompok PA banding 14 (4–172) minggu, tidak PA banding 7 (4–364) minggu. Prevalensi regurgitasi katup neoaorta pascaprosedur ASO pada pasien TGA IVS di Indonesia adalah 37,4%; derajat regurgitasi ringan mendominasi pada kelompok PA banding tidak PA banding sebelum ASO dengan persentase 74,0% dan 60,9%. Pulmonary artery banding memiliki hubungan bermakna secara statistik (p = 0,010) dengan regurgitasi katup neoaorta dalam analisis multivariat dan meningkatkan regurgitasi katup neoaorta 3,01 (IK 95% 1,30 – 6,95) kali dibandingkan tanpa PA banding. Rentang waktu lambat antara PA banding dan ASO memiliki hubungan bermakna secara statistik (p = 0,010) dengan regurgitasi katup neoaorta dalam analisis bivariat subgrup dan meningkatkan regurgitasi katup neoaorta 2,46 (IK 95% 1,21 – 5,00) kali dibandingkan dengan rentang waktu cepat.
Simpulan : Berdasarkan penelitian ini, PA banding dan rentang waktu lambat antara PA banding dan ASO memiliki hubungan bermakna secara statistik dengan regurgitasi katup neoaorta dan meningkatkan risiko regurgitasi katup neoaorta pada pasien TGA IVS yang menjalani ASO.

.Background : Arterial switch operation (ASO) is the treatment of choice for transposition of the great arteries with intact ventricular septum (TGA IVS). However, regurgitation of neoaortic valve was one complication that affect the short-term and long- term outcome after ASO. Pulmonary artery (PA) banding procedure, the first of two step in two-stage ASO done particularly for patient older than three weeks old, was thought to be the risk factor for developing neoaortic valve regurgitation. However, there was no data supporting this statement in Indonesia.
Aim : The aim of this study is to understand the effect of PA banding on neoaortic valve regurgitation after ASO in TGA IVS, patient’s characteristics, prevalence of neoaortic valve regurgitation and effect of other risk factors (age, gender, time interval between PA banding and ASO, coronary artery configuration and neoaortic valve anatomy) on neoaortic valve regurgitation after ASO in TGA IVS in National Cardiovascular Center Harapan Kita (NCCHK), Indonesia.
Method : This study was a retrospective cohort based on secondary data from medical record of NCCHK on patient with TGA IVS who underwent and not underwent PA banding prior to ASO in 2010 to 2022 time period. The variables assessed including PA banding, time interval between PA banding and ASO, age, gender, coronary artery configuration and neoaortic valve anatomy.
Result : There were 123 subjects in this study, consisted of 41 subjects in PA banding group and 82 subjects in non PA banding group; median age in PA banding group was 14 (4–172) weeks, non PA banding group 7 (4–364) weeks. Prevalence of neoaortic valve regurgitation post ASO in TGA IVS in Indonesia was 37.4%; with mild regurgitation dominated in PA banding and non PA banding prior to ASO group with percentage of 74.0% and 60.9%, respectively. Pulmonary artery banding had statistically significant correlation (p = 0,010) with neoaortic valve regurgitation in multivariate analysis and increasing risk of developing regurgitation by 3,01 (CI 95% 1,30 – 6,95) compared with non PA banding. Late time interval between PA banding and ASO had statistically significant correlation (p = 0.010) with neoaortic valve regurgitation in subgroup bivariate analysis and increasing risk of developing regurgitation by 2.46 (CI 95% 1.21 – 5.00) compared with rapid time interval between PA banding and ASO.
Conclusion : Based on this study, PA banding dan late time interval between PA banding and ASO had statistically significant correlation with neoaortic valve regurgitation and increasing risk of developing neoaortic valve regurgitation in TGA IVS patient underwent ASO.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Antonius Sardjanto Setyo Nugroho
"Ganggunan fungsi Paru Obstruktif, Restriktif dan Campuran Obstruktif dan Restriktif adalah penurunan kapasitas paru yang salah satu penyebab adalah pajanan debu dan dan bahan kimia di tempat kerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsentrasi debu (TSP) di dalam ruangan kerja dengan gangguan fungsi paru pada pekerja di PT. KS tahun 2010. Penelitian ini menggunakan metode survei (survey research method) yang dilakukan tanpa intervensi atau noneksperimental, analitik dan bertujuan untuk menjelaskan suatu keadaan atau situasi dengan rancangan survei potong silang (cross sectional). Variabel yang diamati adalah Konsentrasi Debu (TSP) ruangan, umur, lama bekerja, kebiasaan merokok, riwayat penyakit paru, kebiasaan olah raga dan kebiasaan pemakaian APD. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, dan pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dan multivariat.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Kebiasaan merokok dan pemakaian APD, gangguan fungsi paru dengan nilai p masing masing p=0.000 dan p=0.003. Sedangkan konsentrasi debu, umur, lama bekerja, riwayat penyakit dan kebiasaan olah raga tidak menunjukan hubungan yang signifikan. Hasil analisis regresi logistik dari 2(dua) variabel kebiasaan merokok dan tidak memakai APD yaitu kebiasaan merokok beresiko 5 kali mendapatkan gangguan fungsi paru dan tidak menggunakan APD beresiko 3.71 kali mendapatkan gangguan fungsi paru dibandingkan dengan yang menggunakan APD. Saran, dimasa datang sebaiknya dibuat sistem yang terintegrasi dapat menyatukan antara data pemeriksaan kesehatan pekerja, data kualitas udara di dalam lingkungan kerja setiap unit kerja sehingga analisis serta evaluasi terhadap kondisi kesehatan pekerja dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat dan pemilihan serta pemakaian APD yang tepat.

Obstructive, Restrictive and Mixed Obstructive-Restrictive Pulmonary function disturbances is a lung decreased capacity due to the accumulation of dust which causing the decline and airway blockage and the narrowing of pulmonary tract that interfere with the respiratory tract and lung tissue damage. This disease can occur to the workers in an environment polluted by chemical fumes or dust which may increase the risk of Obstructive, Restrictive and Mixed Obstructive-Restrictive pulmonary disease. The purpose of this study is to determine the relationship of dust concentration (TSP) in the working room with the Pulmonary function disturbances of the workers of PT. KS in year 2010. This study is using survey research methods which is a research carried out without an intervention to the research subjects or non experimental. This study is an analytic study that aims to explain a condition or a situation with a cross sectional survey design. The observed variables are the Dust Concentration (TSP)of the rooms, Age, length of work, smoking habits, history of pulmonary disease, exercise habits and customs of the use of PPE (Personal Protection Equipment). The type of data used are primary and secondary data, and the data collection is using questionnaires and interviews. The analysis of the data used is by univariate, bivariate and multivariate analysis.
The results showed that there was a significant relationship between smoking habits and the use of PPE with lung function disturbances with a value of p respectively p = 0.000 and p = 0.003. While the dust concentration, age, length of work, medical history and exercise habits showed no significant relationship. The results of logistic regression analysis of 2 (two) variables i.e smoking and not using PPE, that is smoking habits have 5 times the risk of having lung function disturbances and do not use PPE have 3.71 times the risk of getting lung function impairment compared with ones who use PPE. Suggestion, in the future there should be an integrated system that can unify the workers' health examination data, air quality data in the working environment of each unit of work, ambient air quality data and data quality of air emissions so that the analysis and evaluation of health conditions of workers can produce more accurate conclusions for the selection and the use of proper PPE."
Depok: Universitas Indonesia, 2011
T29594
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Muslim Nazaruddin
"Latar belakang: Kapasitas difusi paru berdasarkan karbon  ke  sirkulasi pulmoner. Nilai DLCO prediksi pada asma cenderung normal atau sedikit monoksida (DLCO) didesain untuk mengukur laju perpindahan gas CO dari alveolus meningkat sedangkan pada PPOK kapasitas difusi cenderung menurun akibat emfisema. Sindrom tumpang-tindih asma-PPOK dinyatakan sebagai entitas yang unik dengan kombinasi karakteristik asma dan PPOK. Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui nilai DLCO pada pasien tumpang tindih asma- PPOK (TAP) di RSUP Persahabatan Jakarta.
Metode: Uji DLCO dengan metode napas tunggal dan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya telah dilakukan pada 40 pasien yang terdiagnosis sebagai TAP. Diagnosis TAP pada subjek penelitian ditegakkan menggunakan kriteria pedoman GINA/GOLD 2017. Kriteria akseptabilitas dan reprodusibilitas DLCO napas tunggal dinilai menggunakan kriteria dari ATS/ERS 2017. Hasil uji DLCO disajikan dalam nilai mutlak dan nilai persen prediksi.
Hasil: Rerata nilai DLCO mutlak dan %DLCO prediksi yang didapatkan dalam penelitian ini adalah 17.98 ± 5.37 mL/menit/mmHg dan 84.16 ± 18.29%. Jika menggunakan persamaan penyesuaian DLCO berdasarkan kadar hemoglobin didapatkan nilai %DLCO prediksi sedikit meningkat dibanding sebelumnya. Terdapat 10 subjek (25.0%) yang mengalami penurunan nilai DLCO. Enam diantaranya mengalami penurunan ringan dan empat lainnya mengalami penurunan sedang.
Kesimpulan : Rerata nilai DLCO pada subjek TAP di RSUP Persahabatan Jakarta dapat diinterpretasikan normal, lebih menyerupai asma dibandingkan PPOK. Hasil ini juga mengindikasikan kebanyakan pasien TAP dalam penelitian ini tidak mengalami penurunan luas permukaan alveolar yang mengganggu proses difusi

Background: Diffusing capacity of the lung for carbon monoxide (DLCO) was designed to measure transfer rate of carbon monoxide from alveoli to pulmonary circulation. As we know, DLCO predicted value in asthma proved to be normal or slightly elevated. On contrary it decreased in COPD with emphysematous pattern. Asthma–chronic obstructive pulmonary disease overlap (ACO) declared as a unique entity with combined characteristics between asthma and COPD. The aim of the research is to find out DLCO value of ACO patient in Persahabatan Hospital, Jakarta.
Method: We have conducted single-breath DLCO and other required test to 40 patients diagnosed with ACO using GINA/GOLD 2017 guidelines. The acceptability and reproducibility of single-breath DLCO was done according to ATS/ERS 2017 criteria. The result then presented as absolute value and percent predicted value.
Results: The mean DLCO of our patient is 17.98 ± 5.37 mL/minute/mmHg with percent predicted value is 84.16 ± 18.29%. Using adjusted DLCO equation for hemoglobin, we found that the value is slightly increased, 85.17 ± 18.04%. However, we found 10 patient (25.0%) with DLCO decrease. Six of them have DLCO predicted value <75% (mild-decrease) and four of them have DLCO predicted value <60% (moderate-decrease).
Conclusion: The mean DLCO value of patient with ACO in our hospital can be interpreted as normal, similar with asthma, rather than COPD. It also indicate most of our patient did not have alveolar loss that altering diffusion process.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Gabriel F. Goleng
"ABSTRAK
Latar Belakang. Lupus eritematosus sistemik (LES) merupakan penyakit inflamsi autoimun kronik. LES dapat bermanifestasi ke berbagai macam organ, antara lain kulit, sendi, ginjal, paru-paru, sistem saraf, dan organ lainnya. Secara potensial fatal atau mengancam jiwa. Neuropsikiatrik LES (NPLES) merupakan istilah untuk menggambarkan klinis gejala neurologis dan gejala psikiatrik yang terjadi pada 18-60% pasien yang terdiagnosis LES dan merupakan keadaan yang paling berat dari menifestasi Lupus. Kejadian penyakit pembuluh darah otak pada NPLES didapatkan sekitar 5-18% kasus LES.
Metode. Desain penelitian berupa studi potong lintang. Subyek penelitian adalah pasien LES yang memenuhi kriteria inklusi penelitian. Subyek diperoleh secara consecutive sampling. Pada subyek dilakukan wawancara, pengisian kuisioner, pemeriksaan fisik dan carotid duplex dan TCD. Dilakukan analisis data menggunakan perangkat SPSS 17.0.
Hasil. Diperoleh 100 subyek pasien LES di RSCM. Prevalensi aterosklerosis pada pembuluh darah karotis komunis adalah 31% yang terdiri dari, hard plaque kanan 4%, soft plaque kanan 4%, penebalan intima media 20%, plaque dan penebalan intima media 3%, sedangkan pembuluh darah serebri media 25% yang terdiri dari stenosis pembuluh darah serebri media kanan 13%, serebri media kiri 8%, bilateral 4%.
Kesimpulan. Pada semua pasien LES dengan usia < 21-36+ tahun, penggunaan kortikosterosi, dan penyakit penyerta ditemukan adanya aterosklerosis pada pembuluh darah karotis komunis maupun pembuluh darah serebri media. Tidak ditemukan perbedaan yang bermakna.

ABSTRACT
Background. Systemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic autoimmune inflammatory disease. Systemic lupus erythematosus (SLE) manifests into a variety organs, such as skin, joint, kidney, lung, nervous system and other organs. Potentially fatal or life-threatening. Neuropsychiatric SLE (NPSLE) is a term that is used to describe the clinical symptoms of neurological and psychiatric symptoms occur in 18-60% of patients diagnosed with SLE and under the most severe manifestation of lupus. The prevalence of cerebrovascular disease in NPSLE obtained approximately 5-18% of SLE cases..
Method. The design study is cross-sectional study. The subjects were patients who met the inclusion criteria of the study. Subjects obtained by consecutive sampling. All subjects was interviewed, filled questionnaires, underwent physical examination and Carotid Duplex and TCD examination. Data analysis were performed by using SPSS 17.0 software
Result. From 100 SLE patients on RSCM, the result showed that the prevalence of atherosclerosis on carotid communis artery was 31%, consists of 4% right hard plaque, 4% right soft plaque, 20% thickening of intima media, 3% plaque and thickening of intima media. Whereas the prevalence of atherosclerosis on cerebri media artery was 25%, consists of 13% stenosis of right cerebri media artery, 8% stenosis of left cerebri media artery, and 4% of bilateral stenosis.
Conclusion. In all SLE patient between the age below 21 years old to the age above 36 years old, with corticosteroid therapy and several manifestation of SLE, the result showed that there was no significal difference between the prevalence of atherosclerosis on carotid communis artery and cerebri media artery."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Darayu Calvert Wilson
"Perbedaan antara tes untuk infeksi tuberkulosis (TB) yang resistan terhadap obat menjadi lebih umum karena alat diagnostik menjadi lebih bervariasi. Hal tersebut membingungkan dokter karena belum ada tes TB diagnostik cepat dengan sensitivitas dan spesifisitas yang baik. Kasus suspek-TB di RSUPP, pusat primer dan tersier untuk kasus TB paru Indonesia, disaring dengan GeneXpert MTB / RIF dan dikonfirmasikan dengan uji kepekaan obat anti-tuberkulosis.
Discrepancies between tests for drug-resistant tuberculosis (TB) infections are becoming more common as diagnostic tools become more varied. These discrepancies confuse clinicians because there is not yet a rapid diagnostic TB test with good sensitivity and specificity. Suspected-TB cases at Rumah Sakit Umum Pusat Perhasabatan (RSUPP), a primary and tertiary center for Indonesia’s pulmonary TB cases, are screened with GeneXpert MTB/RIF and confirmed with conventional drug- susceptibility testing (DST)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Isep Supriyana
"ABSTRAK
Background : The BODE index is generally used for predicting mortality risk of COPD
patients. The BODE index included the body mass index, degree of airflow obstruction (FEV1),
dyspnea (MMRC questionnaire), and exercise capacity (6-minute walk test). Exacerbation of
COPD associated with decreased health related quality of life (HRQoL). HRQoL has become an
important outcome in respiratory patients as proved by St.George’s Respiratory Questionnaire
(SGRQ). We hypothesized that the greater BODE score the more frequent occurrence of
exacerbation and increase SGRQ total score.
Methods : Prospective cohort study of COPD patients in Persahabatan Hospital assessed for
BODE index (baseline) and followed at 3, 6, 9 and 12 months. Patient were also examined with
SGRQ (baseline) and followed at 6 and 12 months. We monitored the occurrence of exacerbation
by telephone, visiting to COPD’s clinic or emergency unit every month for one year.
Results : Eighty five patient were examined at baseline with mean of BODE index 4.29 and
SGRQ total score 41.42%. After one year monitored 52 patients have completed examination, 29
patient have not complete examination and four patient died. Using t-test analysis the correlation
of BODE index between single and frequent exacerbation is significant (p<0.05), the correlation
of SGRQ between single and frequent exacerbation is significant (p<0.05) and correlation
between BODE and SGRQ is significant (p=0.045).

ABSTRACT
Latar belakang : Indeks BODE dapat memprediksi mortalitas pada PPOK. Indeks BODE
terdiri dari indeks masa tubuh, VEP1, skala sesak MMRC dan Uji jalan 6 menit. Kuesioner
SGRQ digunakan untuk menilai kualitas hidup pasien PPOK. Menurunnya kualitas hidup pasien
PPOK dapat disebabkan oleh eksaserbasi. Hipotesis penelitian ini adalah semakin tinggi indeks
BODE maka semakin sering eksaserbasi dan meningkatkan nilai SGRQ.
Metode : Menggunakan disain kohort prospektif, indeks BODE pasien PPOK dinilai pada awal
kunjungan (0bulan) bulan ke-3,6,9 dan 12. Pasien mengisi lembar kerja penelitian dan mengisi
kuesioner SGRQ pada awal kunjungan, bulan ke-6 dan 12. Peneliti memonitor terjadinya
eksaserbasi setiap bulannya melalui telepon, saat kunjungan ke poli asma PPOK atau instalasi
gawat darurat selama setahun
Hasil : Didapat 85 pasien pada kunjungan awal dengan rerata indeks BODE 4.29 dan rerata
SGRQ skor total 41.41%. Setelah 12 bulan pemantauan didapatkan 52 pasien yang melengkapi
pemeriksaan, 29 pasien keluar dan 4 pasien meninggal dunia karena PPOK atau komplikasi.
Analisis statistik t-test didapatkan perbedaan bermakna antara indeks BODE kelompok sekali
eksaserbasi dengan kelompok sering eksaserbasi (p<0.05). Terdapat perbedaan bermakna SGRQ
skor total pada kelompok sekali eksaserbasi dengan kelompok sering ekaserbasi (p<0.05) serta
hubungan bermakna antara indeks BODE dengan SGRQ skor total (p=0.0457).
Kesimpulan : Indeks BODE dapat digunakan untuk memprediksi eksaserbasi dan kualitas hidup
pasien PPOK."
2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Situmorang, Regina
"Praktik spesialis keperawatan medikal medikal merupakan bagian penting dari pendidikan profesi yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan perawat untuk memberikan asuhan keperawatan berbasis bukti kepada pasien dengan kondisi medikal dan bedah, baik akut dan kronis. Dalam proses residensi ini teori yang digunakan adalah Teori Kebutuhan Virginia Henderson untuk pasien rawat inap dan Teori Sosial Kognitif Bandura untuk pasien rawat jalan, baik di Rumah Sakit Fatmawati maupun di Rumah Sakit Persahabatan. Menjadi ners spesialis keperawatan medikal bedah harus memenuhi kompetensi yang meliputi tiga hal, yakni pemberi asuhan keperawatan pada pasien kelolaan utama dan resume, kemudian menerapkan Evidence Based Nursing (EBN) dan membuat proyek inovasi terkait kebutuhan pasien dan ruangan. Sebagai pemberi asuhan keperawatan pada pasien kelolaan utama, residen telah memberikan asuhan keperawatan pada saru kasus kelolaan utama dan tiga puluh kasus resume pasien dengan berbagai diagnosis. Sebagai peneliti, residensi telah mengaplikasi penerapan Intervensi Motivational Interviewing untuk meningkatkan HIV Self Management dan hasil dari evidence based nursing ini menunjukkan bahwa Intervensi Motivational Interviewing dapat meningkatkan HIV Self Management. Sedangkan sebagai innovator, residen telah melakukan inovasi terkait pemberian dukungan sebaya dan hasil penerapan proyek inovasi ini menunjukkan manfaat yang sangat signifikan bagi peningkatan kepatuhan ART pada ODHA.

Medical nursing specialty practice is an important part of professional education that aims to develop the skills and knowledge of nurses to provide evidence-based nursing care to patients with medical and surgical conditions, both acute and chronic. In this residency process, the theories used are Virginia Henderson's Theory of Needs for inpatients and Bandura's Social Cognitive Theory for outpatients, both at Fatmawati Hospital and at Persahabatan Hospital. Becoming a specialist medical surgical nurse must fulfill competencies which include three things, namely providing nursing care to primary care patients and resumes, then implementing Evidence Based Nursing (EBN) and creating innovation projects related to patient and room needs. As a provider of nursing care to primary management patients, the resident has provided nursing care to one primary management case and thirty resume cases of patients with various diagnoses. As a researcher, the residency has applied the Motivational Interviewing Intervention to improve HIV Self Management and the results of this evidence based nursing show that the Motivational Interviewing Intervention can improve HIV Self Management. Meanwhile, as innovators, residents have made innovations related to providing peer support and the results of implementing this innovation project show very significant benefits for increasing ART compliance among PLWHA."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Bayushi Eka Putra
"Tuberkulosis paru merupakan salah satu penyakit infeksi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Pengobatannya yang lama dan sulit mengarahkan pada upaya pencegahan yang dimulai dengan identifikasi faktor risiko. Studi crosssectional analitik ini bertujuan untuk membahas hubungan usia terhadap prevalensi TB paru pada pasien DM tipe 2. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa ditemukan hubungan yang bermakna antara usia pasien di atas 40 tahun dengan peningkatan jumlah prevalensi TB paru pada pasien dengan DM tipe 2. Karenanya, disarankan untuk melakukan proses pencegahan DM tipe 2 sebagai faktor resiko infeksi paru yang bersifat modifiable, terutama pada pasien dengan usia di atas 40 tahun.

Lung tuberculosis is one of the high cause of mortality infection diseases in Indonesia. Recovering is usually difficult and needs long term of treatment, leading to the trend of preventing by identifying the risk factors. The purpose of this analytic cross-sectional study is to identify the influence of age to the prevalence of lung tuberculosis in patients with DM type 2. From the result of this study, it is known that there is statistically significant result concerning the influence of age older than 40 years old to the increase of prevalence of lung tuberculosis in patients with DM type 2. Therefore, it is suggested to prevent DM type 2 as a modifiable risk factor of lung infection, especially in patients older than 40 years old.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
"Keluarga, terutama pasangan merupakan individu yang sangat dekat (selalu kontak) dan
memegang peranan penting bagi kehidupan keluarganya. Tingkat pengetahuan pasangan
klien TB paru tentang pencegahan dan penularan TB paru sangat penting untuk
mencegah tertular penyakit TB, yang diderita oleh pasangannya. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan pasangan klien TB paru tentang
pencegahan dan penularan penyakit TB paru. Desain yang di gunakan dalam penelitian
ini adalah deskriptif sederhana. Sampel yang digunakan adalah pasangan klien TB pam
dalam ikatan perkawinan yang sah. Peneiitian ini dilakukan di Puskesmas Kecamatan
Cempaka Putih Jakarta Pusat, pada tangga 1 dan 6 Mei 2002. Pengumpulan data
dilakukan pada 27 responden (n=27),dengan menggunakan kuesioner dan dengan teknik
berdasarkan quota yang berisi data demografi yang meliputi nama (inisial), usia,
pendidikan, pekerjaan (pasangan), agama, dan Iamanya menderita TB (pasangan), serta
pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk mengetahui sejauhmana tingkat
pengetahuan tentang pencegahan dan penularan TB paru, sebayak 17 penanyaan. Data
diolah dengan menggunakan metode statistik tendensi sentral yaitu mean, median, dan
modus. Analisa data dalam penelitian ini hanya menggunakan mean dan modus. Hasil
perhitungan diperoleh rata-rata tingkat pengetahuan tentang penularan adalah 5,22 dan
termasuk dalam kriteria tingkat pengetahuan sedang ( berkisar antara 4-6). Sedangkan
tingkat pengetahuan tentang pencegahan diperoleh rata-rata 4,82 dan termasuk dalam
kriteria tingkat pengetahuan sedang (berkisar antara 3-5). Jadi kesimpulannya adalah
rata-rata tingkat pengetahuan pasangan klien TB paru tentang pencegahan dan penularan
penyakit TB paru di Puskesmas Kecamatan Cempaka Putih Jakarta Pusat adalah tingkat
pengetahuan sedang."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2002
TA5185
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>