Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 78010 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Geraldus Ardhito Yudapratama
"ABSTRAK
Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan untuk melihat hubungan antara kualitas alternatif pasangan dan kepuasan perkawinan, serta keberadaan efek moderasi cinta di antara keduanya pada pasangan perkawinan campur. Partisipan dalam penelitian ini adalah para individu yang berusia minimal 21 tahun, dan menjalani hubungan perkawinan campur (WNI dengan WNA). Dari hasil uji korelasi pearson correlation dan teknik analisis moderasi PROCESS yang dilakukan kepada 90 partisipan (76 WNI dan 14 WNA), ditemukan bahwa kualitas alternatif terbukti memiliki korelasi negatif yang signifikan terhadap kepuasan perkawinan individu dalam perkawinan campur, r(90) = -0.38, p < .01. Dengan kata lain, individu akan merasa lebih puas dengan perkawinannya ketika ia tidak melihat bahwa orang lain sebagai alternatif cukup berkualitas. Selain itu, terdapat efek interaksi yang signifikan antara kualitas alternatif dan cinta terhadap kepuasan perkawinan (t = 2.63, p < .05). Artinya, dalam penelitian ini cinta terbukti memoderasi hubungan antara kualitas alternatif pasangan dan kepuasan perkawinan pada pasangan perkawinan campur.

ABSTRACT
This research is a correlational study that aims to look at the relationship between the quality of alternatives and marital satisfaction, and the moderating effect of love between the two in international marriages. Participants in this study were individuals who were at least 21 years old, and currently in an international marital relationship (Indonesian citizens with foreigners). From the results of the Pearson correlation test and the PROCESS moderation analysis technique conducted on 90 participants (76 Indonesian citizens and 14 foreigners), it was found that the quality of alternatives has a significant negative correlation on individual marital satisfaction in international marriages, r (90) = -0.38, p <.01. In other words, the individual will be more satisfied with their marriage when they do not see that the alternative has a suffiecient quality. In addition, there was a significant interaction effect between alternative quality and love on marital satisfaction (t = 2.63, p <.05). That is, in this study love is proven to moderate the relationship between the quality of alternatives and marital satisfaction in international marriage couples."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alikha Rizkya
"Fenomena partner phubbing mulai diteliti sejak penggunaan ponsel pintar dan internet terus meningkat. Partner phubbing merupakan perilaku individu yang mengabaikan pasangannya dalam komunikasi karena lebih memperhatikan ponselnya, dan perilaku ini dapat mempengaruhi berbagai hubungan antar manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara partner phubbing dan kepuasan perkawinan dengan kecerdasan emosional sebagai moderator. Penelitian dilakukan secara daring kepada 522 orang yang sudah menikah, berusia 20 - 65 tahun, dan menggunakan ponsel dalam kehidupan sehari-harinya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan negatif antara artner phubbing dan kepuasan perkawinan, hubungan positif antara kecerdasan emosional dan kepuasan perkawinan dan hubungan negatif antara partner phubbing dan kecerdasan emosional. Namun kecerdasan emosional tidak berperan sebagai moderator pada hubungan antara partner phubbing dan kepuasan perkawinan.

The partner phubbing phenomenon has been investigated since the use of smart phones and the internet continues to increase. Partner phubbing is an individual behavior that ignores their partner in communication because they pay more attention to their cellphones, and this behavior can affect various relationships between people. This study aimed to determine the relationship between partner phubbing and marital satisfaction with emotional intelligence as a moderator. The study was conducted online on 522 people who were married, aged 20 - 65 years, and used cellphones in their daily lives. The results showed a negative relationship between partner phubbing and marital satisfaction, a positive relationship between emotional intelligence and marital satisfaction and a negative relationship between partner phubbing and emotional intelligence. But emotional intelligence did not act as a moderator in the relationship between partner phubbing and marital satisfaction.>"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hersa Aranti
"Human value atau nilai yang penting bagi individu merupakan faktor mendasar yang dapat mempengaruhi individu tersebut dalam menilai suatu hal di kehidupannya. Penelitian ini ingin melihat hubungan antara human value (self-enhancement, self-transcendence, openness to change, dan conservation) dan kepuasan pernikahan pada generasi X sebagai generasi dengan angka perceraian yang lebih rendah dibandingkan dengan generasi Y di Indonesia. Di sisi lain, salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hubungan tersebut dan merupakan faktor signifikan yang berkontribusi dalam kepuasan pernikahan adalah strategi resolusi konflik. Penelitian ini pun ingin melihat peran strategi resolusi konflik dalam hubungan antara human value dan kepuasan pernikahan. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah QMI (Norton, 1983), PVQ (Schwartz dkk., 2001), dan CRSI (Kurdek, 1994) dan teknik statistik multiple regression digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dari 225 partisipan (67 laki-laki, 188 perempuan, M=47,03, SD 5,403), ditemukan bahwa self-transcendence dan openness to change berkorelasi secara positif dengan kepuasan pernikahan, self-enhancement berkorelasi secara negatif dengan kepuasan pernikahan, dan interaksi antara positive problem solving dan conservation berkorelasi dengan kepuasan pernikahan.

Human value or values that are important for individuals are fundamental factors that can influence their assessment of a matter in their lives. This study wants to test the relationship between human values (self-improvement, self-transcendence, openness to change, and conservation) and marriage satisfaction in generation X as a generation with a lower divorce rate compared to generation Y in Indonesia. On the other hand, one of the factors that can influence this relationship and is a significant factor that contributes to marital satisfaction is a conflict resolution strategy. This study also wants to test the role of conflict resolution strategies in the relationship between human value and marital satisfaction. The research instruments used in this study were QMI (Norton, 1983), PVQ (Schwartz et al., 2001), and CRSI (Kurdek, 1994) and multiple regression technique were used to answer research questions. Of the 225 participants (67 men, 188 women, M = 47.03, SD 5.403), it was found that self-transcendence and openness to change have positive relationship with marital satisfaction, self-enhancement has negative relationship with marital satisfaction, while relationship between positive problem solving and conservation correlates with marital satisfaction.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
T55221
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endang Rosdianingsih
"Mayoritas orang masih mengganggap dan percaya bahwa kecemburuan sebagai awal tanda adanya masalah dalam perkawinan. Hal ini diperkuat dari hasil beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa kecemburuan dapat memperburuk perkawinan Dugosh (2000). Namun, hasil penelitian lain menunjukkan bahwa kecemburuan cenderung baik untuk perkawinan Mathes & Severa (1989). Adanya perbedaan hasil dari kedua penelitian diatas, menjadi tujuan dari penelitian ini. Pengukuran ini menggunakan skala-skala yaitu kecemburuan dan kepuasan perkawinan. Hal ini dikarenakan untuk melihat apakah ada hubungan positif atau negatif antara kedua-duanya. Tidak hanya sebatas mengukur kecemburuan secara umum, namun kecemburuan juga dilihat dari domain kognisi, emosi dan perilaku.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecemburuan secara umum dapat menurunkan kualitas perkawinan. Hal yang serupa terjadi pada domain kognisi (salah satu pasangan menyadari pasangannya tertarik dengan orang ketiga) dan perilaku (pasangan cenderung akan bertindak) yang memiliki hubungan yang kuat dengan ketidakpuasan pada perkawinan. Hal yang menarik dari hasil penelitian ini adalah pada kecemburuan domain emosi yang memiliki hubungan yang dapat meningkatkan kepuasan perkawinan. Hal ini dikarenakan kecemburuan domain ini sebagai indikatornya yaitu banyak melibatkan perasaan cinta. Selama perasaan tersebut tidak mengarah pada kecemburuan patologi, kemungkinan kepuasan perkawinan akan dirasakan lebih lama.

Most people believe that jealousy is a trouble sign for marriage. And indeed, in the literature of psychology some theorists maintain that jealousy is bad for marriages. However some maintain that jealousy is good. This disagreement is the point of departure for this study. Using various pre-designed scales for measuring jealousy and marital satisfaction, this study attempts to find out whether there is a positive or negative correlation between the two. The study measures jealousy not only in a general sense, but also in its behavioral, cognitive and emotional aspects as well.
The study finds that the general experience of jealousy is corrosive to marriages. Similary both the cognitive (knowledge of a partner?s interest in a third party) and behavioral (confrontation of a wayward partner) dimensions of jealousy correlate with marital dissatisfaction. However, surprisingly the study finds that those who are emotionally jealous (predisposed toward feelings of jealously) tend to be more satisfied with their relationships than those who are not. This appears to suggest that feelings of jealousy are closely bound up with those of love. As long as such feelings do not become pathological, they may serve as an indicator of relationship satisfaction and longevity.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Averroes Ghazaly Haserra
"Perkawinan campur merupakan pernikahan yang cukup rentan terhadap masalah karena adanya perbedaan budaya antarindividu. Perbedaan budaya tersebut ditemukan dapat berujung pada ketidakpuasan pernikahan. Kepuasan pernikahan ditemukan dapat ditingkatkan dengan berkomitmen terhadap pasangan. Selain itu, openness to experience juga ditemukan berhubungan dengan kepuasan pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari komitmen dan openness to experience terhadap kepuasan pernikahan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan 90 partisipan perkawinan campur. Komitmen diukur menggunakan Investment Model of Commitment (Rusbult, Martz, & Agnew, 1998), kepuasan pernikahan diukur menggunakan Couple Satisfaction Index (Funk & Rogge, 2007), dan openness to experience diukur menggunakan Big Five Inventory (Rammstedt & John, 2007). Hasil analisis regresi sederhana menunjukkan bahwa komitmen dan openness to experience memengaruhi kepuasan pernikahan secara positif pada perkawinan campur. Selanjutnya, ketika diuji menggunakan regresi berganda komitmen ditemukan sebagai faktor yang paling kuat dalam memengaruhi kepuasan pernikahan pada perkawinan campur.

International marriages are marriages that are quite vulnerable to problems because of cultural differences between individuals. These cultural differences are found to lead to marital dissatisfaction. Marital satisfaction is found to be enhanced by commitment to the spouse. In addition, openness to experience was also found to be related to marital satisfaction. This study aims to determine the effect of commitment and openness to experience towards marital satisfaction. This research uses a quantitative approach with 90 participants in international marriages. Commitment is measured using the Investment Model of Commitment (Rusbult, Martz, & Agnew, 1998), marital satisfaction is measured using the Couple Satisfaction Index (Funk & Rogge, 2007), and openness to experience is measured using the Big Five Inventory (Rammstedt & John, 2007). The result of a simple regression analysis shows that commitment and openness to experience affect marital satisfaction positively in international marriage. Furthermore, when tested using multiple regression, commitment was found to be the most powerful factor influencing marital satisfaction in international marriage."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yusnita Chairunnisa
"ABSTRAK
Studi sebelumnya menemukan bahwa karakteristik perkawinan pada individu yang menikah terbukti berkorelasi dengan kepuasan perkawinan. Terdapat karakteristik perkawinan yang lebih dianggap penting oleh individu terhadap kepuasan perkawinannya. Penelitian ini ingin melihat hubungan antara karakteristik perkawinan dengan kepuasan perkawinan pada pernikahan berdasarkan agama (ta aruf). Partisipan pada penelitian merupakan 200 individu yang menikah melalui pernikahan berdasarkan agama (ta aruf) dengan usia perkawinan 1-5 tahun. Pengambilan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara daring melalui google forms. Karakteristik perkawinan diukur dengan CHARISMA dan kepuasan perkawinan diukur dengan CSI yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara karakteristik perkawinan dengan kepuasan perkawinan (r = 0,381, p<0.01, 2-tailed) pada individu yang menikah melalui ta aruf dengan usia perkawinan 1-5 tahun. Hasil penelitian ini memberikan temuan baru mengenai karakteristik perkawinan apa yang berhubungan dengan kepuasan perkawinan pada individu yang menikah, khususnya perkawinan melalui perjodohan (taaruf) di Indonesia.

ABSTRACT
Previous study has found that the marita characteristics has correlation with marital satisfaction. There is a characteristics of marriage which is considered more important by married individual on their marriage life. This research is aiming to see the correlation between characteristics and satisfaction of a marriage that has occurred based on religion (ta aruf). Respondents are 200 persons who have been married through an arranged based marriage process (ta aruf) with age of marriage between 1 to 5 years. Data collection was done by distributing questionnaire online with google forms. The characteristics is measured by CHARISMA and marital satisfaction with CSI which have been translated into Indonesian. The result is showing there is a significant positive correlation between marital characteristics and marital satisfaction (r=0,381, p<0.01, 2-tailed) on a person who is married through an arranged-based marriage, aged from 1 to 5 years old. This also bringing new point related to marital satisfaction on an individual that is doing marriage, especially on a marriage through an arranged-based marriage in Indonesia (ta aruf)."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ditya Prawasti
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah ada hubungan antara gejala-gejala menopause dan kepuasan perkawinan pada wanita. Terdapat 60 wanita menopause yang berpartisipasi sebagai subyek di dalam penelitian. Penelitian ini menggunakan terjemahan dan adaptasi dari Dyadic Adjustment Scale untuk mengukur kepuasan perkawinan, dan terjemahan dari Menopause Rating Scale untuk mengukur gejala-gejala menopause. Data diolah dengan menggunakan analisis Pearson's Correlation.
Hasil analisa mengungkapkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara gejala-gejala menopause dan kepuasan perkawinan pada wanita. Selain itu, terdapat pula hubungan negatif yang signifikan antara gejala-gejala menopause dan ketiga aspek yang terdapat dalam kepuasan perkawinan, yaitu persetujuan bersama, kepuasan hati, dan persamaan serta kebersamaan. Hasil penelitian menyarankan bahwa sebaiknya para wanita dapat lebih memahami tentang gejala-gejala menopause agar dapat mengantisipasi segala keluhannya dan wanita juga diharapkan dapat lebih terbuka dengan suami akan proses menopause yang dialami.

The aim of this study is to observe whether there is a relationship between menopausal symptoms and marital satisfaction. There were 60 menopause women who participated in this study. The current study used the translation and the adaptation from the Dyadic Adjustment Scale to measure marital satisfaction and the translation from Menopause Rating Scale to assess menopausal symptoms. The Data was analysed by using Pearson's correlation analysis.
The results revealed that there was a significant negative relationship between menopausal symptoms and marital satisfaction. Moreover, there were also significant negative relationships between menopausal symptoms and three aspects in marital satisfaction, which are consensus, satisfaction, and cohesion. Furthermore, the study suggested that women should be completely aware of menopausal symptoms to deal with the problems. Besides that, women should be more approachable to their husbands about the menopausal symptoms and problems.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2007
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shintya Desmayanti
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resolusi konflik, kepuasan pernikahan, dan hubungan gaya resolusi konflik dengan kepuasan pernikahan. Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kuantitatif. Alat ukur yang digunakan untuk mengukur gaya resolusi konflik adalah Rahim Organizational Conflict Inventory-II (ROCI-II) yang terdiri dari gaya penghindaran, gaya dominasi, gaya akomodasi, gaya integrasi, dan gaya kompromi. Kepuasan pernikahan diukur dengan Comprehensive Marital Satisfaction Scale (CMSS).
Hasil penelitian dari 50 orang subjek menunjukkan bahwa mayoritas menggunakan gaya resolusi resolusi konflik yang konstruktif. Tingkat kepuasan pernikahan pada subjek pada level ratarata. Pada hubungan gaya resolusi konflik dan kepuasan pernikahan ditemukan hubungan yang signifikan pada gaya dominasi, akomodasi, dan gaya integrasi dengan kepuasan pernikahan. Sedangkan pada gaya resolusi konflik penghindaran dan gaya kompromi tidak ditemukan hubungan yang signifikan dengan kepuasan pernikahan.

The purpose of this research is to find out the conflict resolution, marital satisfaction, correlation between conflict resolution and marital satisfaction in working spouses in First Phase of Marriage. This research is using quantitative methods. Conflict resolution style are measured by Rahim Organizational Conflict Inventory-II (ROCI-II), that contains of avoiding style, dominating style, accommodating style, integrating style, and compromise style. Marital satisfaction are measured by Comprehensive Marital Satisfaction Scale (CMSS).
The result from 50 subjects shows that majority using constructive conflict resolution style. Subjects marital satisfaction be in average level. Correlation between conflict resolution style and marital satisfaction show significant correlation between dominating, accommodating, and integrating style and marital satisfaction. Meanwhile, there is no significant correlation between avoiding and compromise style and marital satisfaction.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2009
303.6 SHI h
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Noviopatra Tri Kamsanih
"Teknologi komunikasi di era digital memungkinkan individu memilih berbagai media untuk berkomunikasi dengan pasangannya. Pemilihan media komunikasi dapat dipengaruhi oleh karakter individual, yang kemudian dapat berdampak pada hubungan perkawinannya. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan antara attachment style, preferensi penggunaan media dalam komunikasi dengan pasangan, dan kepuasan perkawinan. Partisipan penelitian ini adalah 533 WNI yang telah kawin, terdiri dari 408 perempuan dan 125 laki-laki berusia 19-70 tahun. Penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan signifikan antara anxious dan avoidant attachment dan media komunikasi dengan pasangan secara tatap muka, telepon dan media sosial dengan kepuasan perkawinan. Anxious attachment berhubungan dengan penggunaan pesan teks dalam berkomunikasi dengan pasangan, sementara, avoidant attachment berhubungan dengan penggunaan telepon dan media sosial. Secara bersama-sama, attachment style dan preferensi preferensi penggunaan media komunikasi berhubungan dengan kepuasan perkawinan. Penelitian ini dapat dimanfaatkan konselor perkawinan mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi perkawinan pada era digital.

Communication technology in the digital era allows individuals to choose various media to communicate with their partners. The choice of communication media could be influenced by individual characters, which can then have an impact on the marriage relationship. This study aimed to look at the relationship between attachment style, media preferences in communication with partners, and marriage satisfaction. The participants of this study were 533 Indonesian citizens who were married, consisting of 408 women and 125 men aged 19-70 years. This study found that there was a significant relationship between anxious and avoidant attachment and communication media with the couple face to face, telephone and social media with marriage satisfaction. Anxious attachment was related to the use of text messages in communicating with a partner, while avoidant attachment is related to the use of telephone and social media. Together, attachment style and communication media preferences were related to marriage satisfaction. This research is expected to trigger similar research in the area of marital satisfaction. This research can be used by marriage counselors on matters that can influence marriage in the digital age."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Khariza Nararya
"Tujuan penelitian ini adalah melihat efek moderasi dari kedua faktor common dyadic coping terhadap hubungan antara kepuasan pernikahan dengan parenting stress pada orang tua dari anak dengan spektrum autisme di Indonesia. Penelitian dilakukan kepada 131 partisipan di Jabodetabek, Bali, dan Lampung. Penelitian menggunakan alat ukur Couples Satisfaction Index–Short Form, Parenting Stress Index, dan Dyadic Coping Inventory. Analisis data dilakukan dengan korelasi Pearson, analisis regresi linear, dan Hayes Macro Process. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif yang signifikan antara kepuasan pernikahan dan parenting stress serta tidak ditemukan efek moderasi dari kedua faktor common dyadic coping terhadap hubungan kepuasan pernikahan dan parenting stress.

The aim of this study is to evaluate the moderating effect of the two factors of common dyadic coping in the relationship between marital satisfaction and parenting stress for parents of individuals with autism spectrum disorder in Indonesia. The study was conducted to 131 participants in Jabodetabek, Bali, and Lampung area. This study uses Couples Satisfaction Index–Short Form, Parenting Stress Index, and Dyadic Coping Inventory to measure the variables. Data is analyzed using Pearson correlation, linear regression analysis, and Hayes Macro Process. Findings of the study showed that there is a significant negative correlation between marital satisfaction and parenting stress, and there is no moderating effect from the two factors of common dyadic coping to that relationship."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>