Ditemukan 24885 dokumen yang sesuai dengan query
Rosaline Elizabeth
"Zhou Enlai sebagai Perdana Menteri dan Menteri Luar Negeri RRC berkontribusi besar dalam peningkatan hubungan RI-RRC selama Perang Dingin berlangsung, khususnya sejak tahun 1951 hingga puncaknya di Konferensi Asia-Afrika (KAA) pada tahun 1955. Oleh karena itu, hubungan RI-RRC sebelum KAA, prinsip ‘koeksistensi damai’ dalam diplomasi Zhou Enlai, penerapan prinsip tersebut terhadap Indonesia melalui diplomasi Zhou Enlai di KAA, dan peranan Zhou Enlai dalam peningkatan hubungan RI-RRC menjadi permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan sejarah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa peranan Zhou Enlai terletak pada penyesuaian kebijakan luar negeri Cina terhadap Indonesia, pembangunan citra Cina yang baru melalui KAA, penyelesaian masalah dwikewarganegaraan etnis Cina, dan penarikan Indonesia menjadi mitra Cina di masa Perang Dingin. Dalam konteks kepentingan nasional Cina, diplomasi Zhou Enlai terhadap Indonesia pada tahun 1951-1955 sejatinya mengandung agenda Cina untuk membebaskan diri dari politik pembendungan AS serta memperkuat propaganda ‘koeksistensi damai’ di mata dunia dalam rangka memperoleh lingkungan internasional yang kondusif bagi pembangunan dalam negeri Cina, yaitu Pembangunan Lima Tahun Pertama (Pelita I) yang berlangsung sejak tahun 1953 hingga tahun 1957.
Zhou Enlai as the Prime Minister and Foreign Minister of the PRC contributed greatly to the improvement of Sino-Indonesian relations during the Cold War, particularly since 1951 to its peak at the Asian-African Conference (AAC) in 1955. Therefore, Sino-Indonesian relations before AAC, Zhou Enlai's principle of 'peaceful coexistence', its implementation on Indonesia through AAC, and the role of Zhou Enlai in improving Sino-Indonesian relations are the issues discussed in this study. This research is a qualitative research with a historical approach. The results indicate that Zhou Enlai's role lies in adjusting China's foreign policy towards Indonesia, building a brand new image of China through AAC, solving ethnic Chinese dual citizenship, and developing Sino-Indonesian partnership during the Cold War. In the context of China's national interests, Zhou Enlai's diplomacy towards Indonesia during 1951-1955 intrinsically embodied China's agenda to break free from US containment policy and to strengthen the propaganda of 'peaceful coexistence' internationally in order to provide a favourable international environment for China’s internal development, namely the First Five-Year Plan which took place since 1953 until 1957."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2020
TA-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Fang, Percy Jucheng
Beijing: Foreign Languages Press, 1986
951.05 FAN z
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Donaldson, Gordon
Toronto: Doubleday, 1985
971.009 92 DON e
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
d`Alpuget, Blanche
Melbourne, Victoria: Schwartz, 1984
924.994 DAl r
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Morais, J. Victor
Singapore : Times Books International , 1981
923.259 5 MOR h
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Maria Estherlina Maskoen
"Sejak, 1949, menyusul berdirinya Republik Rakyat Cina (RRC), di negri itu telah terjadi serentetan guncangan politik. Hal itu terutama terjadi setelah Mao Zedong melancarkan Gerakan Seratus Bunga pada tahun 1955. Akan tetapi dari sekian banyak guncangan politik yang terjadi di Cina itu, tidak ada yang menyamai kehebatan yang diakibatkan oleh Revolusi Kebudayaan {1966-1976). Gerakan yang nama resminya Revolusi Besar Kebudayaan Proletariat atau Whuchanjieji Wenhuca Da Geming itu telah mengakibatkan dampak yang besar atas seluruh bangsa Cina mulai dari golongan elitenya sampai ke lapisan mayarakat yang paling bawah. Dalam gerakan tersebut, para pemuda Cina yang tergabung dalam Pengawal Merah (Hongwebing ) yang mendapat inspirasi dari pemikiran Mao (Mao Zedong Sixiang) mengganyang semua bentuk sistem para pemimpin dan golongan yang mendapat cap reaksioner. Seperti yang dikatakan di atas, Revolusi Kebudayaan juga mengakibatkan jatuhnya banyak pemimpin Cina, bahkan pada waktu itu berada di puncak kekuasaan, antara lain Presiden Liu Shaoqi. Namun, dari segelintir pemimpin yang berhasil lolos dari serangan pengawal Merah adalah Zhou Enlai yang pada waktu itu menjabat sebagai Perdana Menteri Cina. Feranan Zhou Enlai dalam Revolusi Kebudayaan tahun 1966 sampai dengan 1959 ini perlu saya tulis karena tokoh Zhou Enlai sepanjang hayatnya merupakan tokoh yang menarik dan sepanjang pengetahuan saya belum ada penulisan skripsi yang menelaah topik ini."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1988
S-Pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
St. Lucia: University of Queensland Press, 1990
994.300 9 PRE
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Black, Conrad
Toronto: McClelland and Stewart, 1977
971.403 BLA d
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library
Liswood, Laura A.
San Francisco: Pandora, 1995
R 920.72 LIS w
Buku Referensi Universitas Indonesia Library
Gopal, Sarvepalli
Delhi: Oxford University Press, 1979
320.092 NEH j II
Buku Teks SO Universitas Indonesia Library