Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 137462 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nila Wahyuningsih
"Kolelitiasis merupakan penyakit kandung empedu dimana terdapat endapan satu atau lebih komponen diantaranya empedu, kolesterol, billirubin, garam empedu, kalsium, protein, asam lemak, dan fosfolipid yang membentuk suatu senyawa padat yang disebut batu empedu. Laparoskopi kolesistektomi merupakan salah satu prosedur pembedahan yang ditujukan sebagai upaya kuratif untuk mengatasi masalah penyumbatan saluran empedu, yaitu dengan mengangkat kandung empedu. Asuhan keperawatan dilakukan untuk mengatasi masalah keperawatan yang terjadi pada pasien post laparoskopi kolesistektomi. Penulisan karya ilmiah bertujuan untuk menganalis asuhan keperawatan yang dilakukan pada pasien kolelitiasis dengan penerapan mobilisasi dini post laparoskopi kolesistektomi. Hasil evaluasi didapatkan masa pemulihan yang lebih cepat dengan masa rawat yang singkat, nyeri lebih cepat teratasi, dan penyembuhan luka yang baik. Mobilisasi dini sangat disarankan untuk diterapkan sesegera mungkin bagi para pasien usai dilakukan pembedahan untuk menghindari terjadinya perlambatan pemulihan pasca bedah.

Cholelithiasis is a gallbladder disease where there is one or more deposits of the bile, cholesterol, billirubin, bile salt, calcium, proteins, fatty acids, and phospholipids that form a solid compound called gallstones. Laparoscopic cholecystectomy is one of the surgical procedures aimed at curative efforts to overcome the problem of bile duct blockage, by removing the gallbladder. Nursing care is done to overcome the nursing problems of the patient who have had a laparoscopic cholecystectomy. Scientific writing aims to analize nursing care conducted in cholelithiasis patients with the application of early mobilization post laparoscopic cholecystectomy. The results of the evaluation are obtained faster recovery time with short length of stay, faster pain resolved, and good wound healing. Early mobilization is recommended to be carried out as soon as possible for patients after surgery to avoid slowing down post-surgical recovery."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahra Nadiyah
"Kolelitiasis adalah masalah kesehatan yang mulai marak ditemukan di kota besar disebabkan oleh meningkatnya konsumsi makanan tinggi lemak oleh masyarakat urban. Salah satu penatalaksanaan bedah pasien kolelitiasis adalah laparoskopi kolesistektomi. Karya Ilmiah Akhir Ners ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan pasien kolelitiasis post laparoskopi kolesistektomi dengan menerapkan intervensi keperawatan mobilisasi dini untuk menangani risiko pemulihan operasi yang tertunda dengan faktor risiko nyeri. Mobilisasi dini dilakukan selama tiga hari dengan hasil nyeri berkurang dan tidak terjadi penundaan pemulihan operasi. Mobilisasi dini dilakukan saat pasien sadar penuh, hemodinamik stabil, bertahap dan dalam batas toleransi pasien. Perawat diharapkan dapat menerapkan mobilisasi dini untuk mencegah pemulihan operasi yang tertunda.

Cholelithiasis is a health problem that famously found in urban cities due to increased consumption of high fat foods by urban communities. Surgical management for patients with Cholelithiasis is laparoscopic cholecystectomy. The aims of this study is to provide an overview of nursing care plan for patient with cholelithiasis post laparoscopic cholecystectomy by performing early mobilization to prevent risk for delayed surgical recovery with pain risk factor. Early mobilization was performed for three days resulting decreased pain. Early mobilization is performed when the patient is fully conscious, hemodynamically stable, gradual and within the limits of patient tolerance. Nurses are expected to perform early mobilization to prevent delayed surgical recovery."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muthia Mazaya Pitari
"

Nyeri akut adalah salah satu masalah keperawatan yang sering muncul pada klien post laparoskopi kolesistektomi dan berdampak pada aktivitas sehari-hari klien. Nyeri akut pada klien dapat diatasi dengan manajemen nyeri farmakologi dan non-farmakologi. Karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk menganalisis manajemen nyeri teknik relaksasi pada klien kolelitiasis post laparoskopi kolesistektomi. Data pengkajian dianalisis dan didapatkan masalah keperawatan utama pada klien yaitu nyeri akut. Penulis melakukan analisis terhadap 8 literature review untuk menyusun asuhan keperawatan pada klien post laparoskopi kolesistektomi. Hasil analisis didapatkan bahwa manajemen nyeri farmakologi dengan pemberian ketorolak  dapat membantu mengurangi nyeri post laparoskopi kolesistektomi. Sedangkan manajemen nyeri non-farmakologi teknik relaksasi efektif untuk mengurangi nyeri pada klien post laparoskopi kolesistektomi. Edukasi teknik relaksasi pada klien merupakan salah satu peran perawat, agar manfaat teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri post laparoskopi kolesistektomi dapat dirasakan oleh klien

 


Acute pain is one of the nursing problems that often arises in post-laparoscopic cholecystectomy clients and impacts on clients daily activities. Acute pain in the client can be overcome by pharmacological and non-pharmacological pain management. This final scientific work aims to analyze the pain management of relaxation techniques in post-laparoscopic cholecystectomy clients. The assessment data were analyzed and the main nursing problem for the client was acute Pain. The author conducted an analysis of 8 literature reviews related to compile nursing care in post-laparoscopic cholecystectomy clients. The results of the analysis found that pharmacological pain management by giving ketorolac can help reduce post-laparoscopic cholecystectomy pain. Whereas non-pharmacological pain management relaxation techniques are effective for reducing pain in post laparoscopic cholecystectomy clients. Relaxation education on clients is one of the roles of nurses, so that the benefits of relaxation techniques to reduce post laparoscopic cholecystectomy pain can be felt by the client.

 

"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Natasya Dwi Amalia
"Kolelitiasis menjadi salah satu masalah kesehatan sistem gastrointestinal utama di tingkat global. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan gaya hidup masyarakat meliputi penurunan aktivitas fisik dan pola diet yang kurang tepat. Salah satu penatalaksanaan pembedahan yang dilakukan pada pasien kolelitiasis ialah laparoskopi kolesistektomi. Karya Ilmiah Akhir Ners ini bertujuan untuk menyajikan hasil analisis asuhan keperawatan pada pasien kolelitiasis pre laparoskopi kolesistektomi dengan menerapkan intervensi keperawatan teknik relaksasi napas dalam guna mengatasi ansietas preoperasi. Adapun intervensi lain yang direkomendasikan berdasar pada kajian praktik berbasis bukti meliputi penerapan intervensi penggunaan terapi musik guna menurunkan kecemasan pada pasien pra pembedahan laparoskopi kolesistektomi. Penggabungan penerapan relaksasi napas dalam dan terapi musikdiharapkan dapat diaplikasikan oleh perawat di ruangan khususnya pada pasien yang akan menjalankan operasi laparoskopi kolesistektomi untuk mengatasi masalah ansietas preoperasi.


Cholelithiasis is one of the major health problems of gastrointestinal system at the global level. This is due to changes in peoples lifestyles including decreased physical activity and inappropriate dietary patterns. One of the surgical treatments performed on cholelithiasis patients is laparoscopic cholecystectomy. The aims of this study is to analyse the nursing care of pre-laparoscopic cholecystectomy patients by applying deep breathing relaxation intervention to overcome the preoperative anxiety problem. Besides that, another intervention that is recommended based on evidence-based practice studies is the use of intervention of music therapy to reduce anxiety in pre-laparoscopic cholecystectomy patients. Combining the application of deep breathing relaxation and music therapy is expected to be applied by nurses, especially for patients who will undergo laparoscopic cholecystectomy to overcome the problem of preoperative anxiety."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ulil Amri
"Tirah baring dan imobilisasi berkepanjangan pasca percutaneous coronary intervention (PCI) erat kaitannya dengan berbagai komplikasi dan prevalensi mortalitas yang tinggi di rumah sakit. Salah satu internvesi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi akibat tirah baring pasca PCI adalah mobilisasi dini. Studi kasus dilakukan pada perempuan usia 60 tahun dengan NSTEMI. Dalam upaya untuk mempercepat pemulihan pascabedah, penulis menerapkan intervensi mobilisasi dini pada pasien. Pola mobilisasi yang diklasifikasikan sebagai tirah baring, semi-fowler, duduk, perpindahan ke kursi, dan berdiri/berjalan didokumentasikan oleh perawat selama pemberian asuhan. Intervensi dilakukan dalam 5 hari, sejak pra-PCI hingga 2 hari pasca PCI. Penulis menganalisis terhadap proses asuhan keperawatan mencakup analisis penerapan intervensi mobilisasi dini. Hasil evaluasi setelah penerapan intervensi mobilisasi dini antara lain peningkatan skala mobilitas pasien, tidak ada sesak selama latihan mobilisasi, tidak ada peningkatan nyeri pasca PCI, tidak terjadi jatuh saat proses ambulasi, kekuatan otot dan rentang gerak pasien dipertahankan, serta tidak adanya komplikasi berat pasca PCI selama penerapan mobilisasi dini. Berdasarkan temuan tersebut, penerapan mobilisasi dini secara bertahap pasca PCI dapat meningkatkan tingkat mobilitas dan tidak menimbulkan komplikasi pada pasien.

Bed rest and prolonged immobilization after percutaneous coronary intervention (PCI) are closely related to various complications and a high prevalence of mortality in hospital. One of the disease interventions that can be done to prevent complications due to bed rest after PCI is early mobilization. The case study was conducted on a 60 year old woman with NSTEMI. In an effort to speed up postoperative recovery, the authors implemented early mobilization interventions for patients. Movement patterns classified as bed rest, semi-Fowler's, sitting, transferring to a chair, and standing/walking were documented by the nurse during care delivery. The intervention was carried out within 5 days, from pre-PCI to 2 days post-PCI. The author analyzes the maintenance process including analysis of the implementation of early mobilization interventions. Evaluation results after implementing early mobilization interventions include an increase in the patient's mobility scale, no shortness of breath during mobilization exercises, no increase in pain after PCI, no falls during the ambulation process, the patient's muscle strength and range of motion are maintained, and the absence of severe complications after PCI during early mobilization. Based on these findings, gradual application of early mobilization after PCI can increase the level of mobility and not cause complications in patients.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Angelique Tallulah Joaqin
"Periode postpartum merupakan waktu dimana ibu mengalami perubahan fisiologis dan psikologis pada enam minggu pertama setelah melahirkan. Pada masa ini ibu sangat rentan terdampak komplikasi postpartum, salah satu komplikasi yang memiliki tingkat morbiditas dan mortilitas tinggi, bahkan di negara maju adalah Deep Venous Thrombosis (DVT). Namun, DVT dapat segera dicegah apabila diketahui lebih dini tanda dan gejalanya. Intervensi yang digunakan untuk mencegah DVT adalah early mobilization atau mobilisasi dini. Intervensi yang diberikan dilakukan selama tiga hari berturut-turut, dilakukan mulai dari 6 jam post SC, lalu dilanjutkan 16 jam, 20 jam, dan 24 jam pasca operasi. Karya tulis ini bertujuan untuk menganalisis asuhan keperawatan pada ibu post SC yang berisiko sedang mengalami komplikasi DVT dengan intervensi mobilisasi dini. Karya ilmiah ini menggunakan metode case study pada satu pasien di Rumah Sakit Universitas Indonesia. Evaluasi dari intervensi didapatkan adanya penurunan tanda dan gejala DVT serta tidak bertambahnya DVT score milik klien pra operasi dan post operasi. Keterbatasan dari penelitian ini adalah intervensi yang diberikan baru diterapkan pada satu orang klien.

The postpartum period is a time when mothers experience physiological and psychological changes in the first six weeks after giving birth. During this time mothers are very vulnerable to postpartum complications, one of the complications that has a high morbidity and mortality rate, even in developed countries is Deep Venous Thrombosis (DVT). However, DVT can be prevented if signs and symptoms are recognized early. The intervention used to prevent DVT is early mobilization. The intervention given was carried out for three consecutive days, starting from 6 hours post SC, then continued 16 hours, 20 hours, and 24 hours postoperatively. This paper aims to analyze nursing care for post SC mothers who are at moderate risk of DVT complications with early mobilization interventions. This scientific work uses a case study method on one patient at the University of Indonesia Hospital. Evaluation of the intervention found a decrease in signs and symptoms of DVT and no increase in DVT score belonging to preoperative and postoperative clients. The limitation of this study is that the intervention was only applied to one client.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Conny Marthafanny
"Upaya pemulihan kondisi pasca-amputasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan mobilisasi dini. Mobilisasi yang tidak tepat meningkatkan morbiditas perioperatif dan lama rawat, serta memperlambat proses penyembuhan luka. Tujuan penulisan untuk menganalisis intervensi mobilisasi secara aman pada pasien pasca- amputasi bawah lutut menggunakan metode Metode yang digunakan dengan menerapkan latihan mobilisasi selama 6 hari berturut-turut, sebanyak 2 kali dalam sehari, serta dilakukan selama 30 menit setiap kali latihan. Latihan meliputi latihan tungkai, perubahan posisi, berdiri seimbang dan berpindah posisi. Hasil evaluasi hari ke 6 klien mampu latihan gerak tungkai, berubah posisi serta posisi secara mandiri. Berdiri seimbang dan berpindah posisi dari tempat tidur ke kursi roda dengan bantuan serta terdapat peningkatan kekuatan otot pada ekstremitas bawah. Mobilisasi dini pasca- amputasi diperlukan sebagai upaya pemulihan kondisi pasien dan melatih kemampuan berjalan.

Efforts to restore post-amputation conditions can be done in various ways, one of which is early mobilization. Improper mobilization increases perioperative morbidity and length of stay, and reduces wound healing. The purpose of this paper is to analyze the interventions of safely mobilization to post below knee amputation using SAFEMOB method. This study used method which applied mobilization exercises for 6 consecutive days in 2 times a day, for 30 minutes each exercise. Exercises involve leg exercises, position changes, dangling, standing balanced and moving positions. The results of the 6 day evaluation, the patient was able to train joint movements, change position and dangling independently. Standing in balance and shifting from bed to wheelchair with help also lies in increasing strength in the lower extremities. Early mobilization post- amputation is needed as an effort to restore the patients condition and practice walking skills. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2019
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tasya Fitriana Semudi
"Hepatocelluler carcinoma merupakan penyakit keganasan yang terjadi pada hati. Salah satu penatalaksanaan penyakit yang dilakukan adalah dengan laparoskopi hepatektomi dimana sebagian hati dengan sel karsinoma akan diangkat. Pasien paska pembedahan laparoskopi hepatektomi rentan mengalami komplikasi paska operasi. Saat ini pasien berada pada hari rawat kelima paska pembedahan, dimana komplikasi yang mungkin terjadi yaitu infeksi, perdarahan dan asites. Sehingga perawat memiliki peran penting untuk mencegah komplikasi paska bedah. Salah satu cara untuk mencegah komplikasi paska bedah yaitu dengan pemberian intervensi ambulasi. Pemberian intervensi ambulasi efektif dalam mencegah komplikasi paska pembedahan, meningkatakan kemandirian, mengurangi lama hari rawat di rumah sakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien paska pembedahan laparoskopi hepatektomi. Intervensi ambulasi mudah dilakukan, tidak membutuhkan alat dan mudah dilakukan kembali oleh pasien dan keluarga pasien. Intervensi ambulasi dilakukan selama empat hari dengan empat kali sesi pertemuan. Hasil yang didapatkan menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri, peningkatan skor kemandirian pasien dengan kuesioner barthel index, tidak ada tanda-tanda infeksi pada luka insisi pasien dan berkurangnya perdarahan. Sehingga penulis merekomendasikan pemberian intervensi ambulasi untuk mencegah komplikasi paska pembedahan laparoskopi hepatektomi.

<

Hepatocellular carcinoma is a malignant disease that occurs in liver
. Laparoscopic hepatectomy is one of the managemen for the disease which part of the liver with carcinoma cells will be removed. Patients after laparoscopic hepatectomy surgery are prone to postoperative complications. Currently the patient is on the fifth postoperative day of stay, where possible complications include infection, bleeding and ascites. Nurses have an important role in preventing post-surgical complications. One way to prevent post-surgical complications is by giving ambulation intervention. The advantages of ambulation intervention is effective in preventing postoperative complications, increasing independence, reducing the length of stay in the hospital and improving the quality of life of patients after laparoscopic hepatectomy surgery. The ambulation intervention is easy to do, requires no tools and easy for patient and their family to redemonstrate. Ambulation intervention was carried out for four days with four sessions of meetings. The results obtained showed a decrease in the level of pain, an increase in the patients independence score with the Barthel Index questionnaire, there were no signs of infection in the patients incision wound and reduced bleeding. So author recommend giving ambulation intervention to prevent complications after laparoscopic hepatectomy surgery."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2020
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Riyanti Oktapia
"Persalinan dibedakan menjadi persalinan secara normal dan persalinan secara sectio caesarea (SC). Pasien post sectio caesarea biasanya akan merasakan ketidaknyamanan seperti merasa nyeri, sulit untuk melakukan pergerakan, kebas dan kesemutan pada area ekstremitas. Mobilisasi dini merupakan salah satu intervensi keperawatan yang diberikan pada pasien sectio caesarea (SC). Mobilisasi dini dapat meningkatkan sirkulasi dan oksigenasi ke area luka seksio. Karya ilmiah ini, akan membahas dan memaparkan hasil pemberian asuhan keperawatan pada pasien post sectio caesarea yang berfokus pada penerapan mobilisasi dini dengan melihat proses involusi uterus. Metode yang digunakan adalah case study pada pasien post sectio caesarea dengan status obstetrik P1A0 usia 25 tahun. Pemberian intervensi mobilisasi dini dilakukan selama tiga hari dengan penerapan 6 jam pertama, 12-24 jam pertama, serta 24 jam pertama pasca pembedahan dan kemudian dilakukan evaluasi setiap harinya dengan melakukan pengukuran tinggi fundus uterus (TFU), kontraksi uterus, dan pengeluaran lokia. Hasil intervensi penerapan mobilisasi dini pada pasien post sectio caesarea efektif untuk mempercepat proses involusi uterus ditandai dengan terjadinya penurunan TFU 3,8 cm atau 4 jari di bawah pusat selama tiga hari dengan kontraksi uterus kuat serta pengeluaran lokia rubra sedang (3/4 pembalut penuh) menjadi sangat sedikit (1/4 pembalut penuh). Oleh karena itu, penulis merekomendasikan untuk dilakukannya penerapan mobilisasi dini pada pasien post sectio caesarea ( SC) untuk mempercepat proses involusi uterus.

Delivery is divided into normal delivery and delivery by sectio caesarea (SC). Post sectio caesarea patients will usually feel discomfort such as feeling pain, difficulty moving, numbness, and tingling in the extremities. Early mobilization is one of the nursing interventions given to sectio caesarea (SC) patients. Early mobilization can improve circulation and oxygenation to the wound site. This scientific work will discuss and describe the results of providing nursing care to post sectio caesarea patients which focused on implementing early mobilization by looking at the process of uterine involution. The method used is a case study in post-sectio caesarea patients with P1A0 obstetric status aged 25 years. The provision of early mobilization interventions was carried out for three days with the implementation of the first 6 hours, the first 12-24 hours, and the first 24 hours after surgery and then evaluated every day by measuring the height of the uterine fundus, uterine contractions, and lochia removal. The results of the intervention of implementing early mobilization in post-sectio caesarea patients are effective in accelerating the process of uterine involution characterized by a decrease in TFU 3.8 cm or four fingers below the center for three days with strong uterine contractions and moderate lochia rubra expenditure (3/4 full pads) to be very little (1/4 full dressing). Therefore, the authors recommend implementing early mobilization in post-sectio caesarea (SC) patients to accelerate the process of uterine involution."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Endi Rohendi
"Osteoartritis adalah penyakit degenerasi pada sendi yang melibatkan kartilago, lapisan sendi, ligamen, dan tulang karena proses inflamasi kronis pada sendi dan tulang disekitar sendi, sehingga dapat menyebabkan fraktur dengan angka kejadian yang meningkat ketika disertai dengan obesitas. Obesitas terjadi karena gaya hidup yang kurang baik, seperti menurunnya minat dalam berolah raga. Individu dengan osteoartritis pada sendi panggul dan disertai obesitas mudah mengalami fraktur collum femur sehingga ketika sudah terjadi fraktur maka diperlukan tindakan operasi THR Total Hip Replacement . Pada post operasi Total Hip Replacement harus segera dilakukan mobilisasi dengan latihan kekuatan otot seperti ankle pump, pengesetan quadtriseps, gluteal, hip and knee flexion, short arc quad, bed mobility exercise dan latihan penggunaan alat walker. Hasil yang didapatkan, klien mendapatkan tingkat ambulasi yang diharapkan, tidak terjadi komplikasi pada berbagai sistem tubuh serta tidak memperpanjang masa rawat.

Osteoarthritis is a degenerative disease of the joint involving the cartilage, lining of the joints, ligaments, and bones due to chronic inflammatory processes in the joints and bones around the joint, thus causing fractures with increased incidence rates when accompanied by obesity. Obesity occurs due to poor lifestyle, such as decreased interest in exercise. Individuals with osteoarthritis of the hip joint and with obesity are susceptible to fracture of the femur collum so that when a fracture occurs it is necessary to perform THR Total Hip Replacement surgery. In post operation Total Hip Replacement should be mobilized with muscle strength training such as ankle pump, quadtriseps setup, gluteal, hip and knee flexion, short arc quad, bed mobility exercise and walker tool usage exercise. The results obtained, the client gets the expected level of ambulation, no complications occur on various body systems and does not extend the length of stay."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>