Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 135699 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rahmaniar Desianti Kuraga
"Skabies merupakan infestasi dari tungau Sarcoptes scabiei varian homini. Pengobatan skabies di Indonesia adalah menggunakan krim permetrin 5% yang dioleskan seluruh tubuh dan didiamkan selama 8 - 12 jam lalu dibersihkan menggunakan sabun. Cara pengolesan krim permetrin 5% tersebut memiliki efek samping berupa rasa nyeri dan sensasi terbakar. Metode Pemakaian krim permetrin 5% hanya pada lesi telah dikembangkan untuk mengurangi efek samping permetrin dengan angka kesembuhan yang sama baiknya dengan pengolesan seluruh tubuh. Terkait manifestasi klinis skabies dapat timbul 4 minggu pasca infestasi tungau pertama di kulit, perlu dilakukan penelitian konfirmasi untuk menilai kekambuhan pasca pengolesan krim permetrin 5% hanya pada lesi dan pengolesan krim permetrin 5% seluruh tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan angka kekambuhan skabies dengan krim permetrin 5% yang dioleskan hanya pada lesi dengan pengolesan krim permetrin 5% yang dioleskan seluruh tubuh serta untuk mengetahui faktor yang memengaruhi kekambuhan skabies. Studi ini adalah studi kohort yang merupakan bagian dari penelitian induk berupa perbandingan efektivitas krim permetrin 5% sebagai terapi skabies dengan pengolesan hanya pada lesi dan pengolesan seluruh tubuh. Studi ini melibatkan santri pada pesantren Al-islami, Bogor serta pesantren Tapak Sunan dan Darul Ishlah, Jakarta yang telah sembuh dari pengobatan skabies menggunakan krim permetrin 5% pada bulan September 2018 sampai Agustus 2019. Terdapat 157 santri yang memenuhi kriteria penelitian, namun hanya 148 subjek penelitian (SP) yang menyelesaikan penelitian. Subjek penelitian di follow up pada minggu keempat untuk menilai kekambuhan serta faktor yang memengaruhi kekambuhan. Angka kekambuhan pada kelompok dengan riwayat pengolesan krim permetrin 5% hanya pada lesi pada 4 minggu pasca sembuh lebih rendah dibandingkan kelompok dengan riwayat pengolesan krim permetrin 5% seluruh tubuh (10,7% vs 12,3%). Tidak terdapat perbedaan kekambuhan skabies pada kedua kelompok (p = 0,751). Faktor yang memengaruhi kekambuhan adalah perilaku tidak menjemur matras tidur secara reguler dengan odd ratio 4,219. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan angka kekambuhan pada riwayat pengolesan krim permetrin 5% hanya pada lesi dengan riwayat pengolesan krim permetrin 5% seluruh tubuh setelah empat minggu sembuh dari penyakit skabies.

Scabies is a skin disease due to the infestation of Sarcoptes scabiei var hominis. permethrin is the drug of choice for scabies in Indonesia. It is applied to the whole body and left on the skin for 8-12 hours before being cleansed. This method of application has various side effects, such as pain and burning sensations. Modification to this method by applying 5% permethrin cream only on scabies lesion has been developed to reduce the side effects and reported to have recovery rate equal to the standard method. Scabies can manifest clinically up to 4 weeks after the first mite infestation of the skin. Further investigation is required to assess the recurrence of scabies after the application of the modified 5% permethrin and standard cream. The aim of this study is to compare the recurrence rate of scabies treated with 5% permethrin cream applied only to the lesion vs the standard 5% permethrin cream applied to the whole body while determining the factors that influence the recurrence of scabies. This is a cohort study, part of a main research aiming to compare the efficacy of the only lesion 5% permethrin cream application method vs the whole body 5% permethrin cream application method as scabies therapy. The students of the Al-Islami boarding school in Bogor, Tapak Sunan and Darul Ishlah Islamic boarding school in Jakarta who had previously recovered from scabies after being treated with 5% permethrin cream between September 2018 to August 2019 were recruited into this study. 157 students met the inclusion criteria, but only 148 participants completed the whole study protocol. They were followed 4 weeks after recovery to assess their recurrency and other factors associated with recurrence. At the 4th weeks after recovery, the recurrence rate of the only lesion 5% permethrin cream application method group was lower than the whole body 5% permethrin cream application method group (10.7% vs 12.3%). There were no differences in the recurrence of scabies among the two groups (p = 0.751). One influencing factor of scabies recurrence is the specific behavior of not regularly drying sleep mattresses, with an odds ratio of 4.219. The study concludes that there was no difference in the recurrence rate among subjects who applied 5% permethrin cream using only lesion 5% permethrin cream application method compared to whole body 5% permethrin cream application method at four weeks after recovery."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Rose Amalia Haswinzky
"Latar Belakang. Skabies banyak terdapat di komunitas padat penghuni dan higiene rendah. Pengobatan standar skabies dengan pengolesan krim permetrin 5% selama 10 jam ke seluruh tubuh. Efek samping permetrin adalah eritema, pruritus, dan sensasi panas. Oleh karena itu, timbul pemikiran untuk modifikasi terapi standar dengan mengoleskan permetrin di lesi saja disertai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Metode. Penelitian dengan desain kuasi eksperimental dilakukan di pesantren daerah Bogor dan Jakarta. Penelitian diawali dengan anamnesis dan pemeriksaan dermatologi untuk mendiagnosis skabies pada santri (subjek). Subjek yang positif skabies dibagi dua kelompok. "Hasil. Prevalensi skabies di pesantren Bogor adalah 41% dan prevalensi di pesantren Jakarta adalah 32%. Pengolesan krim permetrin 5% di seluruh tubuh dan di lesi saja mengurangi gatal secara bermakna (p<0,001) di seluruh lokasi lesi. Angka kesembuhan skabies setelah pengolesan permetrin di seluruh tubuh adalah 85% dan di lesi 91%. Tidak terdapat perbedaan bermakna (Uji s pada kesembuhan lesi skabies di seluruh tubuh dengan di lesi saja dengan RR 1,8 (0,6-5,0). Permetrin 5% efektif untuk mengobati skabies dan tidak terdapat perbedaan bermakna pada hasil pengobatan dengan kedua cara pengolesan permetrin. 

Scabies mainly found in the densely populated areas and poor hygiene. Scabies common treatment is applying permethrin 5% for 10 hours to the entire body. Side effects of permethrin are erythema, pruritus, and burn sensation. There are several thoughts developed to modify the common treatment of scabies by applying permethrin cream only to the lesions followed with clean and healthy behavior known as Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). e study was designed with quasi- experimental design and conducted in boarding schools in Bogor and Jakarta. The study began with history taking and dermatological examinations to diagnose scabies amongst the students (subject). Subjects with positive results was divided into two groups. The prevalence of scabies in boarding schools in Bogor is 41% and 32% in Jakarta. Applying permethrin 5% to the entire body and only to the lesions reduce pruritus throughout the lesions significantly (p<0,001). Scabies recovery rate after using scabies common treatment is 85% and 91% only to the effected lesions. There is no significant difference (Chi squared test, Fisher test) on lesion recovery between two methods with RR 1,8 (0,6-5,0). Permethrin cream 5% is effective to treat scabies and there is no significant difference between the results of applying cream with two methods. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Victor Santawi
"Skabies terjadi terutama di masyarakat ramai. Setelah pengobatan telah diberikan, terulangnya skabies tetap menjadi ancaman bagi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari tingkat kekambuhan skabies satu bulan setelah perawatan. Penelitian eksperimental ini dilakukan di antara siswa di sekolah asrama, Jakarta Timur. Data diambil mingguan dari 10 Juni 2012 sampai 1 Juli 2012 dan pada tanggal 29 Juli 2012. Para siswa dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu pengobatan standar, lesi-satunya perawatan diikuti oleh sabun, dan lesi-satunya perawatan diikuti oleh sabun antiseptik. Terulangnya kudis kemudian diperiksa satu bulan setelah. Data diolah dengan menggunakan SPSS 11.5 dan dianalisis dengan Kruskal-Wallis.
Hasil penelitian menunjukkan, di antara 69 siswa, 11 siswa (15,9%) mengalami kekambuhan kudis. Tingkat kekambuhan pengobatan standar diikuti dengan penggunaan sabun adalah 8,7%, lesi-satunya scabies perawatan diikuti oleh penggunaan sabun adalah 13,0%, dan lesi-satunya scabies perawatan diikuti oleh penggunaan sabun antiseptik adalah 26,1%. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam terulangnya scabies antara tiga kelompok perlakuan. Disimpulkan bahwa kekambuhan tidak dipengaruhi oleh metode pengobatan.

Scabies occurs mostly in crowded community. After the treatment has been given, the recurrence of scabies remains a threat to the community. The objective of the research is to study the recurrence rate of scabies one month after treatment. The experimental study was conducted among students in a boarding school, East Jakarta. The data was taken weekly from 10th of June 2012 to 1st of July 2012 and on the 29th of July 2012. The students were divided into three groups, namely standard treatment, lesion-only treatment followed by soap, and lesion-only treatment followed by antiseptic soap. The recurrence of scabies is then checked one month after. The data was processed using SPSS 11.5 and analyzed with Kruskal-Wallis test.
The results show, among 69 students, 11 students (15.9%) experience recurrence of scabies. The recurrence rate of standard treatment followed by the use of soap is 8.7%, lesion-only scabies treatment followed by the use of soap is 13.0%, and lesion-only scabies treatment followed by the use of antiseptic soap is 26.1%. There is no significant difference in the recurrence of scabies between the three groups of treatments. It was concluded that the recurrence is not influenced by the treatment methods.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Natasha Marianne Setiabakti
"ABSTRAK
Skabies adalah penyakit kulit yang biasanya terdapat di lingkungan padat disertai sanitasi yang buruk. Pengobatan lini pertama skabies adalah permetrin krim yang dioleskan ke seluruh badan, namun permetrin menimbulkan rasa tidak nyaman seperti terbakar, merah dan gatal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas terapi skabies menggunakan permetrin hanya di lesi untuk mengurangi efek samping. Penelitian repeated cross sectional ini dilakukan pada semua santri yang menderita skabies di pesantren di Jakarta Timur pada bulan Maret-April 2014. Diagnosis skabies ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan dermatologik. Santri positif skabies diinstruksikan untuk mengoleskan permethrin krim di lesi saja dan empat minggu kemudian dinilai angka kesembuhannya. Data dianalisis menggunakan SPSS versi 20 dan diuji dengan chi square. Terdapat 44 dari santri positif skabies; 41 santri laki-laki dan perempuan. Uji chi-square menunjukkan yang berarti ada perbedaan bermakna prevalensi skabies pada santri laki-laki dan perempuan. Sebanyak 40 santri sembuh dari skabies (angka kesembuhan Tidak terdapat perbedaan signifikan antara tingkat kesembuhan skabies pada santri laki-laki dan perempuan (chi square Disimpulkan permetrin krim 5% yang dioleskan hanya di lesi efektif mengobati skabies dengan angka kesembuhan

ABSTRACT
Scabies is infectious skin diseases that usually occurs in overcrowded places with bad sanitation. First line drug used for the treatment of scabies is permethrin cream applied to the whole body. However application of permethrin cream to whole body causes a discomfort to the patient as well as a lot of side effects, such as burning sensation, pruritus and redness. Objective of this research is to evaluate effectiveness of scabies treatment using permethrin in lesion only application. This repeated cross-sectional study is done in a pesantren in East Jakarta on March April 2014. Diagnosis of scabies is done from anamnesis and dermatological examination. Students with positive scabies infection are instructed to use permethrin cream to the lesion only and four weeks later are evaluated from the cure rate of the disease. The data is then analyze using SPSS 20 and tested with chi square test It is found that 44 out of 188 students are scabies positive 41 students are male and 3 are female. Using chi square test which means that there is a significant difference in the prevalence of scabies in male and female students From the second evaluation it is found that 40 students are treated from scabies There is no significant difference between the cure rate of permethrin amongst male and female student in this pesantren In conclusion, permethrin cream when applied to the lesion only is effective to treat scabies with cure rate of "
2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arief Dimas Dwiputro
"Skabies adalah penyakit kulit ketiga paling sering di Indonesia. Obat pilihan untuk skabies adalah permetrin. Akan tetapi, pengolesan permetrin yang harus ke seluruh tubuh tidak nyaman untuk dilakukan di negara tropis dan lembab seperti Indonesia. Muncullah ide untuk mengoleskan permetrin hanya di lesi saja diikuti dengan pemakaian sabun antiseptik dua kali sehari. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas permetrin yang dioleskan pada lesi saja dengan yang ke seluruh tubuh. Penelitian eksperimental ini dilaksanakan di Pesantren X, Jakarta Timur. Pada awal penelitian, semua santri dianamnesis dan diperiksa kulitnya untuk mendiagnosis santri mana yang skabies. Santri positif dibagi dua berdasarkan kamar. Kelompok satu diberi metode standar, kelompok dua diberikan metode modifikasi. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei-Juli 2012, diolah memakai SPSS 20.0 for windows dan dianalisis dengan uji chi square. Dari 188 santri, 50% positif skabies, tetapi yang ikut dalam penelitian hanya 46 orang. Di minggu pertama, santri yang sembuh dengan metode standar dan modifikasi adalah 1/23 dan 1/23 (p=0,580); minggu kedua 18/23 dan 8/23 (p=0,011); minggu ketiga 22/23 dan 18/23 (p=0,187). Disimpulkan pada akhir pengobatan metode modifikasi sama efektifnya dengan metode standar, tetapi metode standar memiliki tingkat kesembuhan yang lebih cepat.

Scabies is the third most common skin disease in Indonesia. Drug of choice for scabies is permethrin. However, whole-body application of permethrin is uncomfortable in a tropical country like Indonesia. Thus, a modified way was proposed to use permethrin only in lesion followed by the usage of antiseptic soap twice a day. The objective of this research is to compare the effectiveness between lesion-only against whole body application of permethrin. This experimental research was conducted in Pesantren X, East Jakarta. The research started with anamnesis and skin examination on the students to diagnose them of scabies. Students with positive results were then divided into two groups based on their living quarters. First group had standard method while the second group had a modified method. Data was collected on May-July 2012 and analyzed using chi square test in SPSS 20.0. From 188 students, 50% are scabies positive, and 46 of them were randomly picked for analysis. On the first week, students that recovered through standard method and the modified method were 1/23 and 1/23 (P=0.580); second week 18/23 and 8/23 (p=0.011); third week 22/23 and 18/23 (p=0.187). To conclude, both methods have similar effectiveness, but the standard method had faster recovery rate."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hirzi Salsabil Zulkarnain
"Prevalensi skabies di Indonesia tinggi terutama di tempat padat penduduk seperti pesantren. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi skabies dan hubungannya dengan karakteristik santri di Pondok Pesantren X, Jakarta Timur. Penelitian cross-sectional ini dilakukan di pesantren X, Jakarta Timur pada tanggal 10 Juni 2012. Kuesioner dibagikan untuk mengidentifikasi perilaku subjek, diikuti dengan anamnesis dan pemeriksaan dermatologi untuk menegakkan diagnosis. Subjek adalah semua santri madrasah aliyah dan madrasah tsanawiyah yang hadir pada waktu pengambilan data. Data dianalisis dengan chi-square test.
Hasil menunjukkan bahwa prevalensi skabies di Pesantren X adalah 50%. Ada perbedaan signifikan antara prevalensi skabies dan tingkat pendidikan para santri namun tidak ada perbedaan signifikan dengan jenis kelamin dan perilaku. Lesi kebanyakan ditemukan di daerah sela-sela jari tangan, abdomen, kaki, bokong, dan daerah genital. Area yang paling sering terkena lesi skabies adalah daerah sela-sela jari tangan. Kesimpulannya, ada hubungan antara prevalensi skabies dan tingkat pendidikan, namun tidak dengan tingkat pendidikan dan jenis kelamin. Juga bisa disimpulkan bahwa lesi paling banyak menetap di sela-sela jari tangan.

Prevalence of scabies in Indonesia is very high, especially in crowded places such as Islamic boarding schools. The purpose of this research is to study the prevalence of scabies and its association with the characteristics of students in Pesantren X, Jakarta Timur. This cross-sectional study was conducted in pesantren X, Jakarta Timur on June 10th, 2012. Diagnosis was performed by anamnesis and dermatological examination, followed by handing out questionnaires to identify subjects? behavior. Research subjects including all madrasah tsanawiyah and madrasah aliyah patients who were present at the time of study. Data was analyzed using chi-square test.
The results show that the prevalence of scabies in Pesantren X is 50%. There is a significant difference between the prevalence of scabies and educational level of the santri but not with gender and behavior. Most lesions are found in interdigital space of the hand, abdomen, leg, buttocks, and genital area. Interdigital space of the hand is the most frequent location infested with scabies lesion. In conclusion, there is an association between the prevalence of scabies with the educational level of the subjects, but not with other characteristics such as gender and behavior. It is also found that interdigital space is the most frequent area in which scabies lesion can occur.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Shafiq Advani
"ABSTRAK
Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh parasit mikroskopis, Sarcoptes scabiei. Hunian yang padat dan kebiasaan buruk mengenai kebersihan adalah faktor predisposisi penyakit skabies. Saat ini, pengobatan metode standar adalah aplikasi permethrin 5% krim ke seluruh tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas permethrin 5% terapi standar terhadap murid pesantren yang memiliki kebiasaan berwudhu lima kali sehari serta padat hunian dengan menghitung angka kesembuhan. Penelitian ini dilakukan di sebuah pesantren yang terletak di Jakarta Selatan dari bulan Juli 2013 sampai September 2013 dengan metode desain eksperimen. Subyek yang positif scabies diobati dengan krim permetrin 5% yang dioleskan ke seluruh tubuh lalu dibersihkan (mandi memakai sabun) setelah 10 jam. Pengobatan dinilai efektif jika angka kesembuhan pada minggu ke-4 lebih dari 90%. Evaluasi pengobatan dilakukan pada minggu ke-4 dan ke-5. Dari 98 murid yang diperiksa, 67 (68,4%) orang mengidap scabies dengan lokasi lesi paling sering di bokong (75,6%). Evaluasi pada mingguke-4 menunjukkan, angka kesembuhan 90% dan minggu ke-5 adalah93,3%. Tidak terdapat perbedaan signifikan pada angka kesembuhan minggu ke-4 dan ke-5 (McNemar, p=0,025). Disimpulkan bahwa krim permetrin 5% yang dioleskan dengan metode standar efektif untuk mengobati skabies.

ABSTRACT
Scabies is a contagious skin disease that caused by microscopic mite, known as Sarcoptes scabiei. Overpopulated places followed by unhygienic behavior are predisposing factors to develop scabies infestation. The current standard treatment is topical permethrin 5% cream that applied over the body despite the area of the lesion. In this study, the aim is to assess the effectiveness of permethrin 5% standard treatment in Islamic boarding school students who have habit of ablution five times a day and living in a crowd by calculating the cure rate. It was conducted in an Islamic boarding school in South Jakarta from July 2013 until September 2013. Experimental design was used. Subjects with scabies were given the standard treatment and should be washed (shower and soap was used) after 10 hours. Treatment is considered effective if the cure rate on week IV is equal to or >90%. Evaluation was done on week IV and week IV. Out of 98 examined students, 67 (68.4%) of them were scabies positive with bottom as the most frequent affected area (75.6%). On week IV and week V, most of them were cured with cure rate of 90.0% and 93.3% respectively. However, there is no significant difference (McNemar, p=0.625) between the cure rate on week IV or week V. In conclusion, permethrin 5% cream standard treatment is effective in curing scabies."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ellysa
"Skabies adalah penyakit infeksi kulit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei varian hominis yang dapat ditularkan melalui kontak langsung dan tidak langsung. Skabies merupakan masalah kesehatan di wilayah iklim tropis dan subtropis. Jumlah penderita skabies di dunia lebih dari 300 juta setiap tahunnya. Prevalensi skabies di Indonesia masih cukup tinggi karena Indonesia termasuk negara tropis, yaitu sekitar 6-27 dari populasi umum dan cenderung lebih tinggi pada anak dan remaja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian skabies di Pondok Pesantren Miftahul Aziz Cigombong Kabupaten Bogor jawa Barat tahun 2018. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik sebanyak 236 santri. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling dan analisis yang digunakan dengan metode Regresi Cox.
Hasil analisis menunjukkan bahwa prevalensi skabies sebesar 48,7, jenis kelamin PR 2,079 95 CI 1,392-3,104 , pengetahuan tentang skabies PR 1,671 95 CI 1,001- 2,788 , kebersihan tempat tidur PR 1,506 95 CI 1,017-2,232, menggunakan tempat tidur bersama PR 1,645 95 CI 1,033-2,621, dan kepadatan hunian PR 1,865 95 CI 1,128-3,085 mempunyai hubungan bermakna dengan kejadian skabies. Jenis kelamin merupakan faktor yang paling ominan terhadap kejadian skabies, yaitu santri laki-laki berisiko 2,079 kali 95 CI 1,392-3,104 untuk terjadi skabies dibandingkan dengan santri perempuan. Menggunakan tempat tidur bersama merupakan faktor yang paling besar kontribusinya terhadap kejadian skabies yaitu 63,96 , artinya 63,96 kejadian skabies dapat dieliminasi atau dikurangi bila santri tidak menggunakan tempat tidur bersama/berpindah ndash;pindah tempat tidur.

Scabies is an infectious skin disease caused by Sarcoptes scabiei varian hominis that could be transmitted through direct and indirect contact. Scabies is the health problem in tropical and subtropical climates. The number of people with scabies in the world is more than 300 million every year. Prevalence of scabies in Indonesia is still quite high, which is about 6 27 of the general population and tends to be higher in children and adolescents. The purpose of this study is to determine the factors related with the incidence of scabies in Miftahul Aziz Boarding School Cigombong Bogor West Java in 2018. This research using cross sectional design by interview, observation and physical examination 236 students, total sampling and the analysis using Cox Regresssion method.
The analysis showed that the prevalence of scabies was 48.7, sex PR 2.079 95 CI 1,392 3,104 , knowledge of scabies PR 1.671 95 CI 1,001 2,788, bed cleanliness PR 1.506 95 CI 1.017 2,232, shared bed PR 1.645 95 CI 1.033 2,621, and occupancy density PR 1.865 95 CI 1.128 3.085 had significant association with the incidence of scabies. Sex was the most dominant factor with the incidence of scabies, the male student had 2.079 times 95 CI 1.392 3.104 for being scabies than the female student. Sharing a bed is the most contributing factor with the incidence of scabies 63,96 , it means 63.96 the incidence of scabies could be eliminated or reduced when santri not sharing a bed or moved to another bed.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
T49832
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hansen Angkasa
"Skabies menempati peringkat ke-3 dari 12 penyakit kulit tersering di Indonesia. Permetrin merupakan obat pilihan skabies, namun memberikan efek samping eritema, rasa panas, gatal, nyeri;pengolesan permetrin ke seluruh tumbuh menambah ketidaknyaman. Karena itu timbul pemikiran mengobati skabies di lesi saja diikuti mandi dua kali sehari dengan sabun. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas permetrin yang dioleskan ke seluruh tubuh dibandingkan dengan lesi saja. Penelitian eksperimental ini dilakukan di Pesantren, Jakarta Timur. Semua santri dilakukan anamnesis dan pemeriksaan kulit untuk mendiagnosis skabies.Santri positif skabies dibagi tiga kelompok berdasarkan kamar tidur. Kelompok satu diobati permetrin metode standar, kelompok dua dan tiga hanya diberikan permetrin di lesi saja. Ketiga kelompok diharuskan mandi dua kali menggunakan sabun namun kelompok tiga menggunakan sabun antiseptik. Data diambil pada bulan Mei-Juli 2012, diolah dengan SPSS 11.5 dan dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis. Hasilnya menunjukkan dari 188 santri, 94 orang positif skabies, namun yang diikutkan dalam penelitian 69 santri. Pada minggu pertama jumlah santri yang sembuh dengan permetrin standar, lesi+sabun dan lesi+sabun antiseptik adalah 1/23, 4/23 dan 1/23 (p=0,198); minggu kedua 18/23, 12/23 dan 8/23 (p=0.012); minggu ketiga 22/23, 21/23 dan 18/23(p=0,163). Disimpulkan pengobatan skabies menggunakan permetrin standar sama efektifnya dengan pengobatan hanya di lesi saja.

Ranked 3rd out of the 12 most common skin diseases in Indonesia. Permethrin remains the drug of choice for scabies but has side effects: erythema, tingling, pain, itch and prickling sensation. Topical whole-body application causes discomfort for the patient. Thus, we proposed modified usage of permethrin by confining topical application to the lesion enforced with baths twice daily. The objective of the study is to know the effectiveness of whole body against lesiononly application of permethrin. The experimental study was done at Pesantren X, located at East Jakarta. All students were diagnosed for scabies via anamnesis and physical examination. Infested students were divided into three groups based on bedroom allocation. First group was treated with whole-body application while the rest were given lesion-only application. All groups were instructed to take baths twice daily with soap except the third group, which used antiseptic soap. Data collection was done from May-July 2012, processed using SPSS 11.5, tested with Kruskal-Wallis Test. Result showed 94 out of 188 scabies positive, but 69 were randomly picked for analysis. In week one, cure rates in the first, second and third group were 1/23, 4/23 and 1/23 respectively (p=0.198); Week two: 18/23, 12/23, 8/23 (p=0.012); Week three: 22/23, 21/23 and 18/23 (p=0.163). Thus, the three methods yield similar results that are statistically insignificant."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sumiati Bedah
"Skabies (Kudis=”Gudig”-Jawa) muncul bukan hanya karena satu faktor tetapi disebabkan oleh multi faktor seperti kondisi lingkungan yang padat penghuni termasuk pondok pesantren, personal hygiene, perilaku, sarana sanitasi, manusia sebagai host, dan karakteristik pathogen Sarcoptes scabiei varian hominis (sejenis kutu atau tungau).Sarana sanitasi yang kurang memadai dan personal hygiene yang kurang, menyebabkan skabies menjadi lebih rentan terjadi pada santri. Penyakit ini ditandai dengan keluhan rasa gatal, terutama pada malam hari dan ditularkan melalui kontak langsung atau tidak langsung melalui bekas alas tidur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan gejala klinis skabies, menggunakan desain cross-sectional, dengan sampel sebanyak 113 santri Pondok Pesantren Daarul Mughni Al-Maaliki, Klapanunggal Cileungsi, teknik sampling yang digunakan adalah total sampling, serta cara penentuan gejala klinis skabies dengan observasi dan wawancara.
Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden yang berhubungan secara signifikan dengan gejala klinis skabies adalah tingkat pendidikan (OR=6,2), frekuensi mencuci handuk (OR= 3,2), perilaku pinjam handuk (OR=8,4), perilaku menjemur handuk (OR= 3,6), perilaku pindah tempat tidur (OR=8,9), penggunaan desinfektan (OR = 3,4). Berdasarkan uji analisis multivariat model analisis regresi logistik bahwa variabel yang memiliki hubungan paling kuat (dominan) adalah pendidikan (OR=7,250)dan perilaku kebiasaan pindah tempat tidur dengan (OR =10,392).

Scabies (gudig in Javanese language) is one of the largest skin disease which happens to students who live in pesantren (Islamic boarding school). Scabies is caused by not only single factor, but multiple factors, such as personal hygiene, environmental condition, behavior, sanitation facility, host and pathogen Sarcoptes scabiei characteristic. Poor sanitation facility and low personal hygiene lead students more vulnerable to scabies.
The objective of this research is to learn risk factors which are related to scabies clinical signs. The research was using cross-sectional design, with 133 students of Daarul Mughni Al-Maaliki Islamic boarding school, Klapanunggal Cileungsi, Bogor District as samples. Samples are choosed by total sampling method and scabies clinical sign is diagnosed by observation and interview.
Results showed that the prevalence of scabies clinical signs on students of Daarul Mughni Al-Maaliki Islamic boarding school, Klapanunggal Cileungsi, Bogor District was 67.67%. Bivariate analysis revealed six variables that were significantly related to scabies clinical signs were education (OR=6.2), washing towel habit frequency (OR= 3.2), towel exchange habit (OR=8.4), towel spread out to dry habit (OR= 3.6), sleeping cover exchange habit (OR=8.9), using disinfectant (OR = 3.4). Multivariate analysis indicated that the essential factors related to the occurrence of scabies clinical signs were education (OR=7.250) and sleeping cover exchange habit (OR=10.392).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>