Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 168980 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dian Abby Yoga
"

Logam berat merupakan unsur-unsur logam yang terbentuk secara alami dan memiliki densitas yang relative lebih tinggi dari air (Fergusson, 1990). Kehadiran logam berat dapat berasal dari aktivitas hidrotermal pada daerah panas bumi (Welch dan Stollenwerk, 2003) dengan konsentrasi rendah atau disebut sebagai trace elements (Kabata, 2001 dalam Tchounwou dkk., 2012). Purnomo dan Pichler (2014) melakukan penelitian terdahulu mengenai kandungan unsur pada manifestasi di area panas bumi dan beberapa kawasan di luar area gunung api di Pulau Jawa. Dari penelitian di Pulau Jawa ditemukan bahwa pada manifestasi kompleks gunung api dan panas bumi aktif mengandung konsentrasi logam berat yang sangat tinggi, terutama pada daerah panas bumi Gunung Lawu dengan konsentrasi arsenik (9514.8 μg/L). Konsentrasi logam berat pada manifestasi panas bumi ini dapat menjadi potensi ancaman bagi lingkungan dan juga saat tahap eksploitasi panas bumi (Kristmannsdóttir dan �rmannsson, 2003 dalam Kaasalainen dkk., 2015). Berdasarkan hasil analisis geokimia dan geologi yang didapatkan terdapat 2 logam berat yang terdapat pada daerah panas bumi Gunung Lawu, yaitu arsenik (As) dengan konsentrasi tertinggi 0.2 ppm dan besi (Fe) dengan konsentrasi tertinggi 66.07 ppm. Kemunculan logam berat tersebut berkaitan erat dengan interaksi antara batuan dan fluida, topografi, tipe fluida, dan struktur geologi, hal ini pula mempengaruhi persebaran logam berat. Persebaran arsenik berdasarkan hasil analisa berarah selatan utara, sedangkan persebaran besi berarah timur-barat. Kedua logam berat tersebut melebih batas ambang konsentrasi masing-masing logam berat yang telah ditetapkan oleh WHO, dimana logam berat ini dapat mempengaruhi kesehatan ataupun proses produksi pembangkit panas bumi dikedepannya, sehingga diperlukan kesadaran dari pihak pengelola nantinya untuk mengolah limbah berupa air dengan logam berat tersebut agar tidak mencemari lingkungan

 


Heavy metals are elements that are formed naturally and have a relatively higher density than water (Fergusson, 1990). The presence of heavy metals can originate from hydrothermal activity in geothermal area especially in tectonically active regions around the world (Welch and Stollenwerk, 2003) with low concentrations or referred to as trace elements (Kabata, 2001 in Tchounwou et al., 2012). Purnomo and Pichler (2014) conducted previous geochemistry study of geothermal manifestations around potential geothermal areas in Java. It was found that the manifestations in active volcanoes and geothermal areas contain very high concentrations of heavy metals, especially in the geothermal area of Gunung Lawu with arsenic concentrations reached up to 9514.8 μg/L. The concentration of heavy metals in this geothermal manifestation can be a potential threat to the environment and during the geothermal development stage (Kristmannsdóttir and �rmannsson, 2003 in Kaasalainen et al., 2015). Based on the results of geochemical and geological analysis, there are 2 heavy metals found in the geothermal area of Gunung Lawu, namely arsenic (As) with the highest concentration of 2 ppm and iron (Fe) with the highest concentration of 66.07 ppm. The emergence of heavy metals is closely related to interactions between rocks and fluids namely hydrothermal alteration, topography, fluid type, and geological structure, this also influences the distribution of heavy metals. The trend distribution of arsenic is north-south, while the distribution of iron is trending east-west. Both of these heavy metals exceed the threshold concentration of each heavy metal set by WHO, where these heavy metals can affect the health andproduction process of geothermal power plants in the future, so that management awareness is needed later to treat waste in the form of water with heavy metals, thus it will not pollute the environment nearby

 

"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahman Torkis
"Gunung Lawu berada di daerah Tawangmangu, Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah dan termasuk dalam jalur gunung api kuarter (Quartenary). Geologi daerah Gunung Lawu didominasi oleh batuan vulkanik berumur Plistosen pada bagian selatan dan Holosen pada bagian utara. Gunung Lawu memiliki potensi panas bumi sekitar 275 MW. Pemetaan struktur bawah permukaan daerah prospek panas bumi Gunung Lawu telah dilakukan dengan menggunakan metode gaya berat.
Hasil penelitian menunjukkan adanya anomali positif-negatif pada anomali residual. Berdasarkan hasil pemodelan 2 dimensi yang telah dikorelasikan dengan data geologi, anomali positif-negatif tersebut mengindikasikan adanya struktur graben yang disebabkan oleh sesar Cemorosewu. Struktur graben berada pada bagian timur laut daerah penelitian dengan kedalaman sekitar 3500 m, yang diduga merupakan daerah prospek panas bumi di Gunung Lawu.

Gunung Lawu is located in the Tawangmangu, Karanganyar, Central Java and known as Quartenary volcanic. Geological area of Gunung Lawu is dominated by Plistosen volcanic rocks in the south direction and Holosen in the north direction. Gunung Lawu have potency of geothermal around 275 MW. Mapping of subsurface structure in geothermal prospect area Gunung Lawu is achieved using gravity method.
The results show the existence of a positive-negative anomaly in the residual anomaly. Based on two-dimensional model which correlated with geological data, the positive-negative anomaly is indicated as a structure of graben that caused by Cemorosewu fault. The graben is located in the north-east direction of survey area with depth around 3500 m, which assumed as a geothermal prospect area in Gunung Lawu.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S43190
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Birohmatin Amalisana
"Wilayah Indonesia memiliki jajaran pegunungan berapi yang berpotensi besar menghasilkan sumber energi panas bumi. Salah satu wilayah yang memiliki sumber energi panas bumi yaitu terletak di Gunung Api Lawu. Energi panas bumi di Gunung Lawu hingga saat ini belum dilakukan eksplorasi dan ekploitasi secara maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui persebaran wilayah potensi panas bumi di Gunung Lawu serta mengkaji hubungan antara wilayah potensi panas bumi dengan kondisi kelurusan dan satuan litologinya. Metode yang dipakai adalah metode deteksi suhu tanah dengan saluran termal serta hillshading. Eksplorasi wilayah potensi panas bumi pada tahap awal dapat ditentukan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan Citra Landsat 8 untuk mendeteksi panas radiasi yang ditimbulkan oleh energi panas bumi. Penelitian ini menghasilkan wilayah sebaran panas bumi di Gunung Lawu yang dominan terletak di sisi lereng sebelah selatan dan barat. Persebaran wilayah potensi panas bumi tersebut berasosiasi dengan keberadaan kelurusan yang rapat serta satuan litologi berupa lava aliran dan piroklastik

Indonesia has the ring of fire that potentially produce geothermal energy. Mount Lawu is one of the biggest geothermal resources area in Java. At this research, geothermal potential areas is carried out using remote sensing technology based on Landsat 8 to detect the heat radiation of geothermal resources. This research aims to know the distribution of geothermal potential area and also study about the correlation between geothermal potential area with lineament and lithology unit. The method was used in this researh is detection heat anomalies using thermal infrared band and hillshading methods to interpret lineament. The heat anomalies distribution had been overlayed with lineament density and lithology unit to understand the spatial correlation. The result showed that distribution of geothermal potential areas at Mount Lawu spread at south west side of the slope. The distribution of geothermal potential area is associated with the existence of lineament density and lithology units such as lava flow and pyroclastic.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S67465
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tengku Muhamad Derizal
"Pembangunan berkelanjutan merupakan prinsip utama pembangunan pada masa ini. Dalam bidang energi, hal ini diterapkan dengan peningkatan pemanfaatan sumber energi terbarukan yang rendah dalam produksi gas karbon. Salah satu yang sedang banyak dikembangkan di Indonesia adalah sumber daya panas bumi. Sumber daya panas bumi banyak dikembangkan karena jumlah potensinya yang besar dan masih sedikit dimanfaatkan. Akan tetapi, banyak hambatan-hambatan yang dialami dalam pengelolaan panas bumi ini. Hambatan-hambatan yang berpengaruh besar terhadap pengelolaan panas bumi adalah hambatan-hambatan yang datang dari daerah penghasil panas bumi. Beberapa daerah penghasil yang akhir-akhir ini ramai diberitakan dan gencar melakukan penolakan pembangunan PLTP adalah daerah Gunung Leuser, Gunung, Sorik Marapi, Gunung Ciremai, dan Gunung Lawu. Hambatan-hambatan pada daerah tersebut terdiri dari aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Hambatan-hambatan tersebut dapat dimitigasi dengan menggunakan Amdal sesuai prosedur dan bonus produksi untuk memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat.

Sustainable development is the main principle for development at this time. In the energy sector, it is applied by increasing the utilzation of renewable energy sources that are low in carbon gas production. One that being much developed in Indonesia is geothermal resource. Geothermal resources are being developed for its many potential and utilization low rate. However, many obstacles experienced in the management of the geothermal resource. Obstacles which have great impact on the management of geothermal are obstacles that come from the geothermal producing areas. Some regions are lately much reported for their rejection of the power plant development are Mount Leuser, Mount Sorik Marapi, Mount Ciremai, and Mount Lawu area. Obstacles in those areas consist of environmental aspect, social aspect, and economic aspect. These barriers can be mitigated by using appropriate EIA procedures and production bonuses to provide economic benefits to local communities.
"
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2017
S66076
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Solikhatun Yuniasih
"[ABSTRAK
Sistem panas bumi vulkanik, bertemperatur tinggi dan liquid dominated
Dieng memiliki potensi sebesar 355 MWe meliputi area Sileri, Sikidang-Merdada
dan Pakuwaja. Hingga saat ini telah beroperasi pembangkit listrik berkapasitas
1x60 MW disuplai oleh uap dari sumur di area Sileri.
Re-evaluasi strategi pengembangan lapangan panas bumi Dieng secara
terpadu dilakukan dengan mengkaji data geologi, data geokimia manifestasi dan
sumur dan data geofisika. Kajian geokimia meliputi air, gas, isotop untuk
mengetahui karakteristik kimia reservoir, didukung oleh model 2D
Magnetotellurik (MT) yang menggambarkan distribusi resistivitas bawah
permukaan, model 2D gravitasi yang menggambarkan struktur bawah
permukaan, serta didukung oleh struktur geologi, vulkanostratigrafi dan alterasi
hidrothermal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat dua zona upflow utama di
Sileri dan Sikidang. Zona asam di Sikidang ditunjukkan oleh keberadaan fluida
magmatik, isotop 18O yang enrich dan mendekati zona andesitic water di sekitar
sumur DNG-2 dan DNG-8. Zona aman silica scaling di area Sileri berada di
sekitar sumur HCE-31 dan DNG-10.
Pengembangan lapangan Dieng selanjutnya masih mungkin dilakukan di
area bagian timur laut yang ditunjukkan oleh keberadaan claycap dan heat source
pada zona upflow Sileri.

ABSTRACT
Volcanic geothermal systems, high temperature and liquid dominated Dieng has
a potential of 355 MWe covers an area Sileri, Sikidang-Merdada and Pakuwaja.
Until currently operates power plants with a capacity of 1x60 MW supplied by
steam from wells in Sileri area.
Re-evaluation of Dieng development strategy in integrated to seek the
extension of field development by assessing the geochemical data of
manifestations and wells, geophysical data and geological data. Geochemical
studies include water, gas and isotope to describe reservoir chemical
characteristic, supported by a 2D model of Magnetotelluric (MT) which describes
the distribution of subsurface resistivity, 2D model of Gravity depicting
subsurface structures, and supported by geological structure, vulkanostratigrafy
and hydrothermal alteration.
There are two main upflow zone in Sileri and Sikidang. Acid zone shown
at magmatic fluid existence, enrich of 18O and approximate the andesitic water
zone in around DNG-2 and DNG-8. Safe Zone of Silica Scaling be in around of
HCE-31 and DNG-10.
Furthermore, Dieng development is possible in north-east area which
show in clay cap and heat source existence in Sileri Upflow Zone.;Volcanic geothermal systems, high temperature and liquid dominated Dieng has
a potential of 355 MWe covers an area Sileri, Sikidang-Merdada and Pakuwaja.
Until currently operates power plants with a capacity of 1x60 MW supplied by
steam from wells in Sileri area.
Re-evaluation of Dieng development strategy in integrated to seek the
extension of field development by assessing the geochemical data of
manifestations and wells, geophysical data and geological data. Geochemical
studies include water, gas and isotope to describe reservoir chemical
characteristic, supported by a 2D model of Magnetotelluric (MT) which describes
the distribution of subsurface resistivity, 2D model of Gravity depicting
subsurface structures, and supported by geological structure, vulkanostratigrafy
and hydrothermal alteration.
There are two main upflow zone in Sileri and Sikidang. Acid zone shown
at magmatic fluid existence, enrich of 18O and approximate the andesitic water
zone in around DNG-2 and DNG-8. Safe Zone of Silica Scaling be in around of
HCE-31 and DNG-10.
Furthermore, Dieng development is possible in north-east area which
show in clay cap and heat source existence in Sileri Upflow Zone.;Volcanic geothermal systems, high temperature and liquid dominated Dieng has
a potential of 355 MWe covers an area Sileri, Sikidang-Merdada and Pakuwaja.
Until currently operates power plants with a capacity of 1x60 MW supplied by
steam from wells in Sileri area.
Re-evaluation of Dieng development strategy in integrated to seek the
extension of field development by assessing the geochemical data of
manifestations and wells, geophysical data and geological data. Geochemical
studies include water, gas and isotope to describe reservoir chemical
characteristic, supported by a 2D model of Magnetotelluric (MT) which describes
the distribution of subsurface resistivity, 2D model of Gravity depicting
subsurface structures, and supported by geological structure, vulkanostratigrafy
and hydrothermal alteration.
There are two main upflow zone in Sileri and Sikidang. Acid zone shown
at magmatic fluid existence, enrich of 18O and approximate the andesitic water
zone in around DNG-2 and DNG-8. Safe Zone of Silica Scaling be in around of
HCE-31 and DNG-10.
Furthermore, Dieng development is possible in north-east area which
show in clay cap and heat source existence in Sileri Upflow Zone., Volcanic geothermal systems, high temperature and liquid dominated Dieng has
a potential of 355 MWe covers an area Sileri, Sikidang-Merdada and Pakuwaja.
Until currently operates power plants with a capacity of 1x60 MW supplied by
steam from wells in Sileri area.
Re-evaluation of Dieng development strategy in integrated to seek the
extension of field development by assessing the geochemical data of
manifestations and wells, geophysical data and geological data. Geochemical
studies include water, gas and isotope to describe reservoir chemical
characteristic, supported by a 2D model of Magnetotelluric (MT) which describes
the distribution of subsurface resistivity, 2D model of Gravity depicting
subsurface structures, and supported by geological structure, vulkanostratigrafy
and hydrothermal alteration.
There are two main upflow zone in Sileri and Sikidang. Acid zone shown
at magmatic fluid existence, enrich of 18O and approximate the andesitic water
zone in around DNG-2 and DNG-8. Safe Zone of Silica Scaling be in around of
HCE-31 and DNG-10.
Furthermore, Dieng development is possible in north-east area which
show in clay cap and heat source existence in Sileri Upflow Zone.]"
Jakarta: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
T43448
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Robi Sobirin
"Daerah panas bumi Gunung Endut berlokasi di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sekitar 40 km ke arah selatan dari kota Rangkasbitung. Terdapat empat manifestasi mata air panas yaitu mata air panas Handeuleum, Cikawah 1, Cikawah 2, dan Gajrug. Berdasarkan analisis geokimia menggunakan diagram segitiga Na-K-Mg, Cl-Li-B, dan Cl-SO4-HCO3, diketahui bahwa mata air panas Cikawah 1 bertipe klorida sedangkan lainnya bertipe bikarbonat. Temperatur reservoir berkisar 162 -180 oC diprediksi dengan geotermometer SiO2 dan NaK. Secara umum keseluruhan mata air panas merupakan out flow, namun ada pendugaan bahwa Cikawah 1 merupakan upflow ? karena berada pada partial equilibrium dan bertipe klorida. Berdasarkan metode gravitasi, mengindikasikan intrusi batuan beku di Cikawah yang memungkinkan menjadi sumber panas untuk sistem panas bumi Cikawah. Zona clay cap diduga lapisan impermeablel memanjang di bawah permukaan gunung Endut sehingga fluida reservoir tidak bisa muncul di pemukaan Gunung Endut tetapi mengalir ke arah manifestasi berupa outflow. Zona reservoir berada di bawah gunung Endut pada kedalaman > 1000 m. Panas bumi Gunung Endut merupakan sistem hidrotermal dengan fluida reservoir berupa air panas water dominated system . Area prospek panas bumi gunung Endut berada di sekitar manifestasi Cikawah hingga bagian barat gunung Endut. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan melakukan survey geokimia dan gravitasi di sekitar puncak Gunung Endut.

Endut geothermal area is located in Lebak, Banten province, about 40 km to the south of the town of Rangkasbitung. There are four manifestations of the hot springs, they are hot springs Handeuleum, Cikawah 1, Cikawah 2, and Gajrug. Based on geochemical analysis using the triangular diagram of Na K Mg, Cl Li B and Cl SO4 HCO3, it is known that the hot springs Cikawah 1 is type of chloride water whereas the other type of bicarbonate. Reservoir temperature ranges from 162 180 C predicted by geotermometer SiO2 and NaK. In general overall hot springs are out flow, but there are predictions that Cikawah 1 is an upflow because it is the type of partial equilibrium and chloride. Based on the gravity method, indicating igneous intrusions in Cikawah which allows the source of heat for geothermal systems Cikawah. Clay cap zone allegedly impermeable layer extends below the surface Mt. Endut so that the fluid reservoir Endut could not appear at the surface Gunung Endut but flows towards manifestation in the form of outflow. Reservoir zone located below the Mt. Endut at depths 1000 m. Geothermal of Mt. Endut is a hydrothermal system with a fluid reservoir in the form of hot water water dominated system . Geothermal prospect Mt. Endut areas located around manifestation Cikawah to the western part of the Mt. Endut. Further research is needed to conduct geochemical surveys and gravity around the summit of Mt. Endut."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
T46847
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Amir Zain
"Keberadaan sistem panas bumi dapat diketahui dengan mencari struktur geologi di bawah permukaan bumi. Untuk mengetahui keberadaan struktur geologi di bawah permukaan bumi dapat menggunakan metode gravitasi. Metode ini mampu mendeteksi struktur geologi di bawah permukaan, seperti adanya struktur patahan. Untuk memperjelas keberadaan struktur patahan tersebut, maka dapat menggunakan analisis metode derivatif. Metode ini mampu mengetahui kontak vertikal antara bodi di bawah permukaan bumi serta dapat mengetahui jenis struktur patahan yang dihasilkan. Hasil akhir yang akan didapat berupa peta kontur anomali. Kedua peta ini akan dianalisis serta diintegrasikan dengan model struktur geologi dan data geologi daerah penelitian.

The existence of geothermal could de determined by seeking geology structure beneath earth surface using gravity method. This method is capable for detecting geology structure beneath earth surface, such as the fault structure. To clarify its existence, analysis of derivative method is should not be overlooked as an option. It has the ability to recognize the vertical contact of body beyond earth surface and the fault structure as the result as well. The final thing we could get is anomaly contour map. Both of these maps will be analyzed as well as integrated in respect of geology data at the research area"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S60153
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amanda Claudiya A.
"Heat source merupakan parameter yang penting dalam sistem panas bumi. Heat source akan memanaskan fluida atau meteoric water yang terkandung di dalam bumi. Fluida yang terpanaskan ini kemudian akan menghasilkan hot spring dan fumarol di permukaan. Munculnya manifestasi di permukaan dikarenakan adanya patahan yang menghubungkan reservoir dengan permukaan bumi. Maka dari itu, penting untuk mengetahui dimana letak reservoir dan patahan serta strukturnya saat eksplorasi. Selama ini analisis data gravitasi hanya fokus pada reservoir tidak sampai menentukan heat source. Tilt angle atau tilt derivative adalah metode derivative yang dapat digunakan untuk mengetahui kedalaman hot rock. Tilt angle memanfaatkan perbanding antara vertical derivative dengan horizontal derivative. Diharapkan dari penelitian ini kita dapat mengetahui kedalaman hot rock dari sistem geothermal yang berada di gunung lawu dengan menggunakan tilt derivative. Tidak hanya hot rock namun diharapkan juga dari penelitian ini kita dapat mengetahui letak struktur patahan yang kemudian akan digunakan untuk membuat model konseptual geothermal pada sistem geothermal di Gunung Lawu.Heat source merupakan parameter yang penting dalam sistem panas bumi. Heat source akan memanaskan fluida atau meteoric water yang terkandung di dalam bumi. Fluida yang terpanaskan ini kemudian akan menghasilkan hot spring dan fumarol di permukaan. Munculnya manifestasi di permukaan dikarenakan adanya patahan yang menghubungkan reservoir dengan permukaan bumi. Maka dari itu, penting untuk mengetahui dimana letak reservoir dan patahan serta strukturnya saat eksplorasi. Selama ini analisis data gravitasi hanya fokus pada reservoir tidak sampai menentukan heat source. Tilt angle atau tilt derivative adalah metode derivative yang dapat digunakan untuk mengetahui kedalaman hot rock. Tilt angle memanfaatkan perbanding antara vertical derivative dengan horizontal derivative. Diharapkan dari penelitian ini kita dapat mengetahui kedalaman hot rock dari sistem geothermal yang berada di gunung lawu dengan menggunakan tilt derivative. Tidak hanya hot rock namun diharapkan juga dari penelitian ini kita dapat mengetahui letak struktur patahan yang kemudian akan digunakan untuk membuat model konseptual geothermal pada sistem geothermal di Gunung Lawu.

Heat source is the important parameter in geothermal system which is will heats fluid or meteoric water that is contained in the earth. Basically, geothermal system formed as a result of heat transfer from heat source to the surrounding by conduction and convection. Geothermal manifestation occurs because of the propagation of heat from below the surface. The emergence of manifestations at the surface due to the fault that connects the reservoir to the earth rsquo s surface. Therefore, it is important to know where the location of the reservoir, the location of the fault, and the structure of the fault when exploration used gravity method. In general, analysis of gravity data only focus to determine the reservoir . Tilt angle or tilt derivative is a dervative method that can be used to determine the depth of the hot rock. Tilt angle utilizing comparison between vertical derivative with horizontal derivative. The zero contours of the tilt angle correspond to the boundaries of geologic discontinuities and are used to detect the linear features in gravity data. The half distance between 4 and 4 radians is equal to the depth of top of heat source. This research is expected that can we know the depth of top of heat source of geothermal system at Mt. Lawu using tilt derivative.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S68018
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Shighia Ajeng Savitri
"Energi panas bumi Gunung Lawu sebesar 195 MWe dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dimana saja wilayah yang sesuai untuk lokasi power plant PLTP di Gunung Lawu dikaji dari segi keruangan. Analisis spasial dengan metode tumpang tindih overlay digunakan untuk mendapatkan hasil yang menyeluruh. Teknologi SIG dan PJ digunakan karena hemat biaya namun dapat mengkaji secara keseluruhan wilayah kerja. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah fungsi hutan, kemiringan lereng, kerapatan vegetasi, sungai, patahan, jaringan jalan, lahan terbangun, wilayah potensi panas bumi, manifestasi, dan sumur. Pengolahan data menghasilkan wilayah kesesuaian yang tersebar ke arah barat dan timur dari letak Sesar Sidoramping-Lawu dengan luas sebesar 372 hektar.

Mount Lawu has 195 MWe of geothermal energy that can be utilized as a source for power plant. This research is conducted to find suitable location for geothermal power plant. Spatial analysis used in this research to find the result thoroughly by overlaying method. GIS and remote sensing is used because it is cost effective but still can review the overall of working area. Forest, slope, vegetation density, river, faults, roads, build area, geothermal potential area, geothermal manifestation, and well are being used as variables in this research. The result showed suitable areas is 372 hectares and located spreading to the west and east part from Sidoramping Lawu faults.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S68537
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ajeng Anisa Wulandari
"Bahaya kimia dari berbagai sumber dan jenis zat kimia sebagian besar memiliki efek akumulasi di dalam tubuh manusia terutama pada masyarakat yang mengonsumsi air mengandung logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko pajanan logam berat yang akan menimbulkan gangguan kesehatan terhadap masyarakat. Penelitian ini menggunakan Metode ARKL jenis kajian lapangan dilakukan pemeriksaan di Laboratorium Fisika Kimia Air BBTKLPP Yogyakarta dengan jumlah sampel manusia 110 responden usia dewasa 18-55 tahun dan sampel lingkungan 20 titik mata air. Pengumpulan data terhadap responden melalui wawancara langsung menggunakan kuisioner dan pengukuran antropometri, pada sumber mata air dilakukan pemeriksaan terhadap kandungan Cd dan Pb di Desa Krinjing dan Sewukan bulan Mei-Juni 2019. Konsentrasi Cd dan Pb di Desa Krinjing lebih rendah dibandingkan di Desa Sewukan.
Hasil semua kadar logam berat masih di bawah nilai baku mutu sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Apabila kadar logam berat melebihi dari nilai baku mutu efek yang ditimbulkan mulai dari timbulnya gejala ringan seperti gatal-gatal, batuk, iritasi ringan hingga kanker, mutasi gen bahkan kematian. Dari konsentrasi Cd dan Pb didapatkan intake dan nilai RQ. Risiko ada dan perlu dikendalikan jika RQ>1 dan tidak perlu dikendalikan apabila RQ≤1. Variabel yang terdapat perbedaan proporsi besarnya tingkat risiko terhadap gangguan kesehatan responden adalah variabel berat badan responden dan variabel durasi pajanan pada konsentrasi Cd.
Dari hasil penelitian didapatkan 13 responden dengan RQ>1 pada Cd dan 8 responden pada Pb. RQ>1 didapatkan di Desa Sewukan artinya penduduk Desa Sewukan memiliki risiko mengalami gangguan kesehatan akibat pajanan Cd dan Pb pada air minum dibandingkan pada penduduk Desa Krinjing sehingga perlu dilakukan pengelolaan risiko dengan menentukan batas aman konsumsi, melakukan inovasi pengelolaan risiko dengan pendekatan teknologi pengolahan/penyaringan air seperti Teknologi Tepat Guna (TTG) untuk menurunkan kadar logam berat pada sumber air yang mengandung logam berat.

Most of hazards from various sources and types of chemicals have the accumulation effects in human body, especially in people who consume water containing heavy metals. This study aims at determining the risk level of heavy metal exposure which will cause health problems to the community. This study uses the ARKL Method type of field study which carried out an examination at the Water Chemistry Physics Laboratory of BBTKLPP Yogyakarta. It brings samples of 110 respondents aged 18-55 years and environmental samples of 20 springs. Respondents data is collected through direct interviews using questionnaires and anthropometric measurements. The researcher has an examination onthe content of Cd and Pb at the source of the spring in Krinjing and SewukanVillage in May-June 2019. The concentration of Cd and Pb in Krinjing Village is lower than in Sewukan Village.
The results of all levels of heavy metals are still below the value of quality standards in accordance with the Regulation of the Minister of Health Number 492/Menkes/Per/IV/2010 about Drinking Water Quality Requirements. If the levels of heavy metals exceed the value of the quality standard, it will have very effects from the onset of mild symptoms such as itching, coughing, mild irritation to cancer, gene mutations and even death. From the concentration of Cd and Pb, the intake and RQ values were obtained. Risk exists and needs to be controlled if RQ>1 and does not need to be controlled if RQ≤1. There are variables that have differences in the proportion of to respondents risk level of health problems: the variable weight of the respondent and the variable duration of exposure to the concentration of Cd.
From the results of the study, it is found that 13 respondents with RQ>1 in Cd and 8 respondents in Pb. While, RQ>1 was found in Sewukan Village, which means that the residents of Sewukan Village have a higher risk of health problems due to exposure to Cd and Pb in drinking water compared to Krinjing Village residents. So, the risk management is needed by determining safe consumption limits, innovating risk management with an approacg of water processing/filtering technology such as Appropriate Technology (TTG) to reduce levels of heavy metals in water sources containing heavy metals.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2019
T54138
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>