Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 117843 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dyan Novitalia
"Studi ini mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian amputasi mayor pada pasien Acute Limb Ischemia (ALI) klasifikasi Rutherford IIb dan seberapa besar pengaruhnya. Penelitian ini berdesain kuantitatif dengan desain kohort retrospektif terhadap semua pasien RSCM pada tahun 2014-2019 dengan diagnosis ALI Rutherford IIb. Data demografi dan faktor risiko, dianalisa untuk mendapatkan korelasinya dengan tindakan amputasi mayor. Pada penelitian ini,  insiden amputasi mayor pada total subjek adalah 39,2%. Rata-rata subjek berusia 60 tahun, dengan insiden komorbiditas diabetes mellitus 32,4%, gangguan ginjal kronik 19,6%, hipertensi 41,2%, dan penyakit jantung koroner 39,2%. Hasil analisis menunjukkan hipertensi meningkatkan risiko amputasi mayor 27,4 kali, riwayat penyakit jantung koroner meningkatkan risiko 10,7 kali, dan diabetes mellitus meningkatkan risiko 9,8 kali, semua secara signifikan. Merokok ditemukan sebagai faktor risiko tidak langsung terhadap kejadian amputasi mayor.
Kata kunci: Acute limb ischemia, Amputasi mayor, Rutherford IIb

This study identifies the factors associated with major amputation in patients with Acute Limb Ischemia (ALI) Rutherford Stage IIb and how much they affect it. This is a quantitative study with retrospective cohort design for all patients with ALI in Rutherford IIb stage in 2014-2019. Demographics and risk factors were all analyzed in order to find the correlation with the incidence of major amputation. In this study, the incident of major amputation on the overall subject was 39.2%. The mean age for the subjects was 60 years old, and the comorbidity incidence of diabetes is 32.4%, chronic kidney disease is 19.6%, hypertension is 41.2%, and coronary heart disease is 39.2%. The result of the analysis shows that hypertension increases the risk of major amputation in patients with ALI in Rutherford IIb stage by 27.4 times, while coronary heart disease does by 10.7 times and diabetes does by 9.8 times, all statistically significant. Smoking is also found as an indirect risk factor to the incident of major amputation.
Key words: Acute limb ischemia, Major amputation, Rutherford IIb"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Agung Alamsyah
"Latar Belakang: Chronic limb threatening ischemia (CLTI) merupakan bentuk paling parah dari peripheral arterial disease (PAD). Sebanyak 25% pasien CLTI memiliki risiko amputasi tungkai mayor dan 25% lainnya akan meninggal karena penyakit kardiovaskular dalam 1 tahun. Risiko amputasi ini dapat diprediksi menggunakan sistem skoring Wound, Ischemia, and foot Infection (WIfI). Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan profil amputasi menggunakan skor Wound, Ischemia, foot Infection pada subjek chronic limb threatening ischemia di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Metode: Pengambilan data retrospektif dari data registrasi divisi bedah vaskular dan rekam medis pada subjek dengan CLTI di RSCM berupa profil subjek, skor WIfI, dan status amputasi mayor dalam 1 tahun pasca diagnosis CLTI ditegakkan. Data selanjutnya dimasukkan ke program SPSS, dan dilakukan analisa data. Hasil analisa lalu dipaparkan dalam bentuk narasi dan tabel.
Hasil: Pada penelitian ini usia rerata subjek adalah 58,1 ± 12,9 tahun dengan predominasi jenis kelamin laki-laki (58,3%). Komorbid pada subjek dari yang tersering adalah diabetes (82,1%), hipertensi (67,9%), gagal ginjal kronis (51,3%), dan penyakit jantung (33%). Derajat skor WIfI dengan derajat sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi secara berurutan adalah 6,4%, 9,6%, 35,9%, dan 48,1%. Angka amputasi mayor yang sesungguhnya pada subjek CLTI di RSCM untuk skor WIfI derajat sangat rendah, rendah, sedang, dan tinggi adalah 5%, 7%, 35%, dan 70%, sedangkan pada kepustakaan adalah 3%, 8%, 25%, dan 50%.

Background: Chronic limb threatening ischemia (CLTI) is the most severe form of peripheral arterial disease (PAD). As many as 25% of CLTI patients have a risk of major limb amputations and 25% will die due to cardiovascular event within 1 year. The risk of this major amputation can be predicted using the Wound, Ischemia, and foot Infection (WIfI) scoring system. This study aims to compare the amputation profile using Wound, Ischemia, foot Infection scores in chronic limb threatening ischemia patients at the RSCM.
Methods: Retrospective data collection from registry in vascular surgery division and medical records for patients with CLTI in RSCM were take, that is a patient profile, the comorbid disease, WIfI score, and the patient's major amputation status within 1 year after diagnosis of CLTI was established. The data then inputed to the SPSS program, and data analysis is performed. The results of the analysis are then presented in the form of narratives and tables.
Result: The mean age of the subjects in this study was 58,1 ± 12,9 years with male as gender predominance (58,3%). The comorbids in the subjects were diabetes (82,1%), hypertension (67,9%), chronic kidney failure (51,3%), heart disease (33%). The WIfI scores with very low, low, medium, and high degrees are 6,4%, 9,6%, 35,9%, and 48,1% respectively. The major amputation rates in for WIfI scores with very low, low, medium, and high degrees are 5%, 7%, 35%, and 70%, while in the literature are 3%, 8%, 25%, and 50%.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T58708
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyu Rathariwibowo
"Kondisi kritis iskemia tungkai merupakan manifestasi dan stadium akhir penyakit arteri perifer (PAP) yang dapat meningkatkan risiko morbiditas dan mortalitas yang tinggi bagi penderitanya. Dengan demikian perlu dilakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi kritis iskemia tungkai pada penderita PAP. Beberapa faktor tersebut diantaranya faktor usia, jenis kelamin, penyakit diabetes mellitus, hipertensi, kebiasaan merokok dan penyakit chronic kidney disease dengan tujuan agar pencegahan dan pelayanan terhadap pasien penderita PAP dapat ditingkatkan. Metode penelitian adalah studi potong lintang.
Hasil penelitian dengan analisis regresi logistik biner menunjukkan kejadian kondisi kritis iskemia tungkai pada penderita PAP berhubungan secara signifikan oleh faktor diabetes mellitus (OR=3,5; 95% CI=1,431-8,533), hipertensi (OR=2,62; 95% CI=1,064-6,442), dan kebiasaan merokok (OR=2,92; 95% CI=1,059-8,035). Usia, jenis kelamin, dan chronic kidney disease tidak berhubungan signifikan terhadap kondisi kritis iskemia tungkai pada penderita PAP.

Critical limb ischemia is the manifestation dan the last stage of perifer artery disease (PAD) which improves high risk of morbidity and mortality for its patient. Thus its needed to perform a research about factors related to critical limb ischemia in perifer artery disease’s patients, including age, gender, diabetes mellitus, hypertension, smoking habit, and chronic kidney disease in purpose to increase prevention and treatment satisfactory of PAD’s patients. The research method is cross-sectional study.
The result with binary logistic regression analysis shows that critical limb ischemia in PAD's patients significantly related by diabetes mellitus (OR=3,5; 95% CI=1,431-8,533), hypertension (OR=2,62; 95% CI=1,064-6,442), and smoking habit (OR=2,92; 95% CI=1,059-8,035). Age, gender, and chronic kidney disease are not significantly related to critical limb ischemia in PAD’s patients.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Mursid Fadli
"ABSTRAK
Pendahuluan
Acute limb ischemia (ALI) adalah kondisi serius yang ditandai dengan penurunan
yang cepat dan mendadak dari perfusi tungkai. 1 Di Amerika Serikat insiden Acute leg
ischemia diperkirakan terjadi 14 per 100.000 penduduk per tahun, sedangkan Acute
arm ischemia seperlimanya. Penyebab utama dari Acute limb ischemia ini lebih dari
90 % adalah thromboemboli. 2 Acute limb ischemia merupakan salah satu tantangan
terberat, penilaian awal dan assestment penting, karena kesalahan diagnosis dapat
mengakibatkan amputasi pada pasien atau bahkan kematian.
Metode
Jenis penelitian ini adalah deskriptif retrospektif. Dilakukan di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM), dengan mengumpulkan data rekam medis pada pasienpasien
dengan ALI di divisi Vaskuler dan Endovaskuler periode 1 Januari 2009 – 31
Desember 2011. Kriteria inklusi meliputi semua pasien ALI yang sudah didiagnosis
secara pasti dan dilakukan tindakan operasi. Kriteria eksklusi meliputi pasien ALI
yang tidak memiliki data rekam medis lengkap.
Hasil
Dari 32 kasus ALI yang dirawat di Divisi Vaskuler dan Endovaskuler, didapatkan 22
kasus (69 %) laki-laki dan 10 kasus (31 %) perempuan. Usia terbanyak pada
kelompok umur 40 – 60 tahun sebanyak 17 kasus (53 %). Untuk penyebab ALI yang
paling sering yaitu thrombus sebanyak 19 pasien (59 %). Faktor resiko yang paling
sering adalah pasien dengan atherosklerosis sebanyak 18 pasien. Sebanyak 16 pasien
(50 %) datang ke RS sudah masuk dalam klasifikasi III ALI. Sebanyak 26 pasien (81
%) terkena pada ekstremitas bawah dan sebanyak 6 pasien (19 %) terkena pada
ekstremitas atas. Dari data didapatkan 3 pasien yang meninggal.
Kesimpulan
Manajemen terhadap ALI tetap menjadi tantangan, karena melibatkan salah satu
jalur keputusan yang paling kompleks dalam operasi vaskuler. Pasien dengan kondisi
Acute limb ischemia, sebaiknya dirujuk ke pusat vaskular tanpa di tunda-tunda.

ABSTRACT
Background
Acute limb ischemia (ALI) is a serious condition characterized by rapid and sudden
limb perfusion. In the United States the incidence of acute leg ischemia is thought to
be 14 per 100,000 population per year, while one-fifth of acute arm ischemia. The
main cause of acute limb ischemia is more than 90% are thromboemboli. Acute limb
ischemia is one of the toughest challenges, initial assessment important, because
misdiagnosis can lead to amputation or even death in patients.
Method
The study was a retrospective descriptive. The study was conducted in Cipto
Mangunkusumo Hospital (RSCM), by collecting data from medical records of
patients with ALI in Vascular and Endovascular Surgery division from 1st January
2009 through 31st December 2011. Inclusion criteria include all ALI patients already
diagnosed with certainty and performed surgery. Exclusion criteria include patients
with ALI who did not have complete medical records.
Result
Of the 32 cases of ALI, 22 cases were found in men and 10 cases were found in
women. Age of majority in the age group 40-60 years 17 cases. For the most frequent
cause of ALI is thrombus were 19 patients. The most frequent risk factors were as
many as 18 patients with atherosclerotic patients. A total of 16 patients came to the
hospital already in the classification III of ALI. A total of 26 patients affected the
lower extremities and 6 patients affected the upper extremities. Three patients died.
Conclusion
Management of the ALI remains a challenge, as it involves one of the most complex
decisions pathways in vascular surgery. Patients with acute limb ischemia conditions,
should be referred to a vascular center without delay delay."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T32125
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Haris Maruli
"Istilah Cricital Limb Ischemia (CLI) digunakan untuk semua pasien dengan nyeri saat istirahat, ulkus atau gangren yang dapat dibuktikan secara objektif akibat penyakit arteri oklusif. CLI merupakan manifestasi paling berat penyakit pembuluh arteri perifer (PPAP) atau Periperhal Arterial Disease (PAD) akibat berkurangnya aliran darah secara bermakna dan terus menerus dan akan menyebabkan amputasi jika tidak segera ditangani. CLI merupakan stadium III (nyeri waktu istirahat) dan N (ulkus atau gangren) klasifikasi Fontaine (Tabel 1). Untuk menghindari kesalahan diagnosis, definisi klinis ini harus diperkuat dengan kriteria objektif berupa parameter hemodinamik. Menurut TransAtlantic InterSociety Consensus on Management of Peripheral Arterial Disease (TASC), kriteria objektif CLI meliputi AB1 (ankle brachial index) < 0,4, tekanan sistolik ankle 5 50 mmHg, atau tekanan sistolik toe <30 mmHg. European Working Group on Critical Limb Ischemia Definition membuat sistem idasifikasi CLI yang dapat diterima secara umum (Table 2).
Tanpa adanya perbaikan perfusi aliran darah, pasien dengan CLI beresiko tinggi kehilangan tungkainya. Penanganan yang paling efektif adalah menghilangkan atau memintaskan penyumbatan pada arteri dengan angioplasti atau revaskularisasi bedah tetapi umumnya kurang berhasil karena gangguan pembuluh darah perifer biasanya multisegmen dan melibatkan pembuluh darah kecil. Selain itu, pasien dengan PPAP sebagian besar beresiko tinggi untuk menjalani pembedahan dan tidak semua pasien bersedia dilakukan pembedahan. Oleh karena itu farmakoterapi digunakan pada kasus tersebut sebagai usaha akhir untuk memperbaiki manifestasi iskemi tungkai yang parah disertai harapan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien.
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui faktor resiko dan mengevaluasi hasil penanganan konservatif dengan farmakoterapi pasien dengan CLI di RS Pelni Petamburan Jakarta."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yeni Agustin
"ABSTRAK
Diabetes Mellitus Tipe 2 (DM Tipe 2) adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan hiperglikemia yang diakibatkan kurangnya sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya. Kondisi hiperglikemia yang kronis dapat menyebabkan berbagai komplikasi salah satunya adalah kaki diabetik yang menjadi penyebab utama dilakukannya amputasi pada klien dengan DM tipe 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengalaman klien DM tipe 2 pasca amputasi mayor ekstremitas bawah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Hasil analisa data menghasilkan enam tema, yaitu: perubahan dalam kehidupan setelah amputasi, respon atau perasaan terkait amputasi, mekanisme koping, dukungan sosial yang diterima, makna hidup, dan pelayanan kesehatan yang diterima. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam meningkatkan kualitas asuhan keperawatan melalui peningkatan dukungan rehabilitasi secara fisik, psikososial, dan spiritual pada klien DM tipe 2 pasca amputasi mayor ekstremitas bawah.

ABSTRACT
Type 2 Diabetes Mellitus (Type 2 DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia as a result of insulin deficiency, insulin resistance, or both. Chronic hyperglycemia conditions can lead complications such as the diabetic foot as a major cause of amputation in clients with type 2 DM. The purpose of this study was to determine the experience of client with type 2 DM following major lower limb amputation. This study used a qualitative method with descriptive phenomenology approach. Result of the data analysis revealed six themes: live changes of amputees, amputation response or related feelings, coping mechanisms, social support received, the meaning of life, and health care received. The results of this research are expected to contribute positively in improving the quality of nursing care through physical, psychosocial, and spiritual rehabilitation support enhancement in client with type 2 DM following major lower limb amputation."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T32638
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ardian Jahja Saputra
"Latar Belakang. Cedera Reperfusi-iskemik merupakan isu klinis yang penting dan umum. Hal tersebut dapat terjadi pada trombo-embolisme, penyakit vaskuler aterosklerotik, bedah kardiovaskuler, transplantasi organ, replantasi tungkai dll. Reperfusi jaringan yang iskemik bukan hanya menyebabkan reaksi iniamasi lokal tetapi juga mempengaruhi fungsi organ lain melalui respons inflamasi sistemik. Banyak studi menunjukkan sel polimorfonuklear terutama netrofil mempunyai peranan cedera yang panting dalam proses reperfusi-iskemik dengan menginfiltrasi jaringan iskemik dan juga kedalam organ yang jauh seperti hati, pare, ginjal dsb. Banyak obat yang sudah dicoba untuk untuk mengurangi efek cedera reperfusi dengan basil yang bervariasi. Salah satu obat yang menjanjikan dapat mengurangi cedera reperfusi melalui efek antiinflamasinya adalah Pentoksifilin (PTX). Pada studi eksperimental, kami mengamati efek pemberian PTX terhadap infiltrasi netrofil pada jaringan otot skeletal, hati dan pare hewan kelinci yang dibuat iskemik secara akut pada tungkai bawah dan diikuti dengan reperfusi.
Metoda. Dua belas ekor kelinci jantan ras New Zealand White dibagi secara acak menjadi 3 grup (A,B dan C). Grup A diberikan PTX ( n=5); Group B diberikan NaCl 0.9% sebagai kontrol (n=5); Grup C adalah kontrol negatif (n=2). Grup A dan B mengalami total iskemia selama 3 jam pada tungkai bawah dengan Cara menjepit arteri iliaca komunis sinistra dengan klem. Dosis PTX adalah 40 mg/ kgBB bolus diikuti lmglkgBB sebagai dosis rumatan. PTX diberikan 30 menit sebelum reperfusi. Grup B diberikan NaCl 0.9 % dan pada grup C tidak dilakukan tindakan iskemia. Potongan jaringan histopatologi dari otot yang iakemik, hati dan pare diambil pada akhir percobaan (3jam setelah rep erfusi) sebelum dilakukan etanasia.
Hasil. Jumlah rerata netrofil pada jaringan otot skeletal, hati dan pare berturut-turut adalah sebagai berikut : Pada grup C adalah 0.67 ± 0.75; 2.00 ± 1.41 dan 4.33 ± 1.49. GrupA adalah 3.53 ± 6.01; 7.20 ± 5.29 dan 13.87 t 7.84. Grup B adalah 13.80 ± 12.68; 12.33 ± 4.39 dan 34.13 ± 12.83. Tampak jumlah netrofil lebih rendah bermakna pada jaringan pare grup A dibandingkan grup B (p < 0.009). Ada kecenderungan jumlah netrofil lebih rendah dalam jaringan otot skeletal dan hati pada grup A dibandingkan grup B, walaupun secara statistik tidak bermakna (p < 0.075).
Kesimpulan. Pentoksifilin dapat mempunyai efek mengurangi infiltrasi netrofil kedalam jaringan pada kelinci yang mengalami cedera reperfusi-iskemik tungkai akut.

Background. Ischemic-reperfusion injury is a common and important clinical issues.lt occurs in many clinical setting such as thrombo-embolic phenonrenon,atherosclerotic vascular disease, cardiovascular surgery, organ transplantation, replantation of limb etc. Reperfusion of ischemic tissue not only causing local inflammatory reaction but also affect remote organ function by systemic-inflammatory responses. Many studies have showned that polymorphonuclear leukocyte especially neutrophil has an important damaging role in reperfusion injury. They exert their effect through infiltration into ischemic tissue and also into remote organ like liver,lung,kidney etc. So far a lot of agents have been tried to attenuate reperfusion injury with variable results. One promising drug for attenuating ischemic-reperfusion injury through its anti-inflammatory effect is Pentoxifylline (PTX). In this exploratory experimental study, we observed the effect of giving PTX on neutrophil infiltration to skeletal muscle, liver and lung tissue in rabbits with induced acute limb ischemia followed by reperfusion .
Methods. Twelve male New Zealand White rabbits were randomly divided into 3 groups (A,B and C). Group A were given PTX(n =5); Group B using Na CI 0.9% as a control group (n= 5); Group C was negative control (n=2). Group A and B underwent 3 hours of total ischemia of the lower limb by clamping proximal left common iliac artery, follow by 3 hours of reperfusion. The dose of intravenous PTX was 40mg1kgB W bolus followed by 1 mg/kg BWlhour maintenance dose. PTX was given 30 minutes before reperfusion. Group B was given normal saline and in Group C, no intervention done. Histopathologic section of iskernic skeletal muscle, liver, and lung tissue were taken at the end of experiment before( 3 hours of reperfusion) euthanasia was done.
Results. The mean numbers ofneutrophil in ischemic skeletal musle, liver and lung tissue consecutively were as follow ; In Group C were, 0.67 t 0.75; 2.00 f 1.41; and 4.33 ± 1.49. In group Awere,3.53 ±6.0]; 7.20±5.29; and 13.87±7,84, and in groupB (control)were 13.80 ± 12.68; 12.33 ± 4.39; and 34.13 ± 12.83. There was significantly lower number of netrophil in lung tissue of group A compare to group B (p< 0.009). Although not statistically significant (p= 0.075), there were a trend to have lower neutrophil counts in ischemic skeletal muscle and liver tissue in group A rabbits compared to group B.
Conclusion. Pentoxifylline has attenuating effect on neutrophil infiltration in rabbits undergoing ischemic-reperfusion injury of lower limb."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T21397
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"[Latar Belakang: Iskemia dan cedera reperfusi pada tungkai dapat berdampak sistemik sampai kegagalan fungsi organ. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mencegah komplikasi jauh atau remote dari cedera reperfusi, namun hal ini masih banyak diperdebatkan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat perbedaan kerusakan tubulus ginjal pada iskemia tungka bawahi akut yang tanpa perlakuan, perlakuan prekondisi iskemik dan perlakuan hipotermia Penelitian ini merupakan Metode: Penelitian eksperimental yang dilakukan pada 18 ekor kelinci New Zealand White, dengan ligasi arteri iliaka komunis kanan selama 4 jam dan reperfusi selama 8 jam, dibagi menjadi 3 kelompok: kelompok 1, tanpa perlakuan sebagai kontrol; kelompok 2, diberikan perlakuan prekondisi iskemik sebelum tindakan iskemik: dan kelompok 3; diberikan perlakuan hipotermia pada tungkai kanan selama iskemia. Setelah euthanasia, diambil sampel ginjal untuk pemeriksaan histopatologi.
Hasil: Perbandingan kerusakan tubulus ginjal antara kelompok iskemia saja dengan kelompok perlakuan prekondisi iskemik tidak menunjukkan perbedaaan yang bermakna (p= 0.092), sedangkan perbandingan antara kelompok iskemia saja dengan kelompok perlakuan hipotermia menunjukkan hasil perbedaan yang bermakna (p = 0.033).
Kesimpulan: Perlakuan hipotermia dapat mengurangi kerusakan tubulus ginjal akibat cedera remote reperfusi iskemia tungkai bawah akut., Background: Ischemia and reperfusion injury of the lower limb may cause a systemic effect to multi-organ failure. Several studies have been done to prevent distant or remote complication from reperfusion injury, but it is still in debate. This study was conducted to see the differences in renal tubular damage in acute limb ischemia without treatment, treatment of ischemic precondition and treatment of hypothermia.
Methods: An experimental study in 18 New Zealand White rabbits, who performed right common iliac artery ligation for 4 hours and reperfusion during 8 hours, divided into 3 groups: group 1, no treatment as a control; group 2, given the treatment of ischemic precondition before ischemic action: and group 3; given the treatment of hypothermia on the right leg during ischemia. After euthanasia, kidney samples were taken for histopathological examination.
Results: Comparison of renal tubular damage among any group of ischemia with ischemic preconditioning treatment group showed no significant difference (p = 0.092), whereas the comparison between groups ischemia alone with hypothermia treatment group showed a significant difference (p = 0.033).
Conclusion: Treatment of hypothermia may reduce renal tubular damage due to remote reperfusion injury in acute limb ischemia.]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hutagaol, David
"Latar Belakang : Iskemia yang terjadi di suatu lokasi di tubuh mengakibatkan kerusakan pada lokasi yang berjauhan yang dikenal dengan sebutan cedera remote reperfusi. Paru merupakan salah satu organ target utama terjadinya kerusakan pada cedera remote reperfusi. Penelitian ini bertujuan melihat efek protektif hipotermia dan ischemic preconditioning (IPC) terhadap cedera remote reperfusi di paru.
Metode : Dilakukan penelitian eksperimental pada kelinci New Zealand White (n=18) dengan satu kelompok kontrol (iskemia) dan dua kelompok perlakuan (preconditioning dan hipotermia). Dilakukan ligasi a. iliaca communis kanan selama 4 jam, hipotermia sedang (28oC), dan iskemia pre-conditioning pada masing-masing kelompok. Kemudian kelinci dibiarkan hidup selama 8 jam. Sampel jaringan paru di ambil untuk pemeriksaan derajat kerusakan paru secara histopatologi.
Hasil : Terdapat perbedaan bermakna derajat perubahan histopatologik jaringan paru yang di berikan perlakuan IPC (p : 0,000) dan perlakuan Hipotermi (p : 0,015) terhadap kelompok kontrol.
Kesimpulan : Ischemic preconditioning dan Hipotermi memberikan efek protektif pada paru dari akibat iskemik reperfusi tungkai bawah akut.

Introduction. Acute lower limb ischemia may induced ischemia reperfusion injury to the lung and also initiate a systemic inflammatory response syndrome. The aim of this study was to proofed whether IPC and hypothermia of the limb before I/R injury would also attenuates the acute lung injury in rabbit model of hind limb I/R.
Method. This prospective, randomized, controlled, experimental animal study was performed in a university-based animal research facility with 18 New Zealand White Rabbit. The rabbits were randomized (n=6 per group) into three groups: I/R group (4 hours of hind limb ischemia and 8 hours of reperfusion), IPC group (three cycles of 5 minutes of ischemia/5 minutes of reperfusion immediately preceding I/R), and hypothermia ( 28oC) together with 4 hours of hind limb ischemia and 8 hours of reperfusion. Lung tissue were examined based for their histopathological changes. The changes were assessed based on the grading as normal, mild, moderate, and severe damage.
Result. Rabbit treated with IPC (p : 0,001) and hypothermia (p : 0,015) have demonstrated a significant decrease in histopathological features of acute lung reperfusion injury.
Conclusion. Ischemic preconditioning and hypothermia have shown protective effect for the lung from remote ischemic reperfusion injury induced by lower limb ischemia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
"[Latar belakang : Iskemia tungkai akut merupakan salah satu kegawatan yang dapat dihadapi oleh setiap ahli bedah, dimana perlu pananganan segera untuk menghentikan ancaman kerusakan jaringan yang terus berjalan sampai kejadian iskemik dapat teratasi. Hipotermia dapat mempengaruhi langkah-langkah awal dalam proses apoptosis termasuk menghambat aktivasi enzim caspase, mempertahankan fungsi mitokondria, menurunkan rangsangan neurotransmitter, dan menurunkan metabolisme.
Tujuan : Untuk mengetahui perbedaan kerusakan sel jaringan otot pada iskemia tungkai akut yang diberikan perlakuan hipotermi dan yang tidak diberikan perlakuan hipotermi sebelum, selama dan sesudah golden periode iskemia.
Metode : Penelitian ini merupakan experimental cohort study untuk melihat efek pemberian hipotermi terhadap kematian sel otot tungkai kelinci jenis New Zealand White (NZW) yang dilakukan ligasi pada arteri iliaca comunis (iskemia akut).
Hasil : Pada penelitian ini bahwa iskemia otot tungkai kelinci pada jam ke 4, jam ke 6 dan jam ke 12 telah terjadi kerusakan sel sebanyak 48,8%, 74,4% dan 93.3%, dengan perbandingan jam ke 4 dengan jam ke 6 dan jam ke 6 dengan jam ke 12 menunjukkan hasil signifikan (p = 0.024) dan (p = 0.027). Perlakuan hipotermia dapat menghambat laju kerusakan sel pada iskemia tungkai akut, pada penelitian ini perbandingan antara kelompok iskemi saja dengan iskemi dan hipotermi pada jam ke 4, jam ke 6 dan jam ke 12 menunjukkan hasil yang signifikan ( p < 0.005)
Simpulan : Semakin lama waktu iskemi pada iskemia tungkai akut, semakin banyak kerusakan sel terjadi. Hipotermi dapat mengahambat laju kerusakan sel pada iskemia tungkai akut, Background: Acute limb ischemia is one of the emergency cases that every surgeon must face. These cases require urgent management in stopping the threat of ongoing tissue damage before appropriate treatments can be done to resolve the ischemic events. Hypothermia may affect the early processes of apoptosis, including maintaining mitochondrial function, lowering the neurotransmitter stimulation, and decreasing metabolism rate.
Objective: This paper is aimed to determine the differences between muscle tissue cell damage in acute limb ischemia that is given the treatment of hypothermia and that is not. The effect of hypothermia given before, during, and after the golden period of ischemia is also observed.
Methods: This study is an experimental cohort study to see the effects of hypothermia on the muscle cell death types of the limb conducted on New Zealand White rabbits (NZW) with the ligation of the common iliac artery (acute ischemia).
Results: Cell damage due to muscle ischemia in the rabbit leg was observed at 4 hours, 6 hours, and 12 hours with cell damage occurring as much as 48.8%, 74.4%, and 93.3%, respectively, with differences in the 4th hour to the 6th hour and 6th hour to 12th hour showing significant results (p = 0.024) and (p = 0.027). Treatments using hypothermia showed that it has an effect on inhibiting the rate of cell damage in acute limb ischemia. In this study, the comparison between groups experiencing ischemia without hypothermic interventions and the groups with hypothermic interventions showed significant results at the 4th hour, 6th hour, and 12th hour (p <0.005).
Conclusion: The longer period of ischemia that is experienced in acute limb ischemia, the more cells that are damaged. Hypothermia can inhibit the rate of cell damage in acute limb ischemia]"
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
SP-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>