Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 144099 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Cynthia Laurent Santoso
"PLA merupakan salah satu polimer yang dapat digunakan sebagai alternatif pengganti plastik karena sifatnya kelebihannya yaitu biodegradabel, biokompatibilitas, kekuatan mekanik, dan kemampuan proses. Proses sintesis PLA akan dilakukan dengan menggunakan jalur Polimerisasi Pembukaan Cincin (PPC) dengan pertimbangan dapat menghasilkan berat molekul PLA yang tinggi dengan bantuan katalis dan pelarut. Katalis yang digunakan adalah katalis Lipase Candida rugosa dan pelarut yang digunakan adalah DMA (dimethylacetamide). Penelitian ini akan dilakukan dengan beberapa variasi yaitu variasi waktu pada 2, 3, 4 hari; variasi suhu pada 60ᵒC, 80ᵒC, 100ᵒC; dan rasio katalis pada 2, 5, dan 10% b/b. PLA yang telah tersintesis akan dilakukan uji karakterisitik yaitu berat molekul rata-rata jumlah (Mn), konversi monomer, dan struktur molekul menggunakan H1 NMR. Hasil penelitian ini berupa spektra NMR dan digunakan untuk menghitung nilai konversi dan Mn PLA. Didapatkan bahwa suhu, rasio katalis, dan waktu reaksi polimerisasi yang optimal adalah pada suhu 80℃, rasio katalis sebesar 5%, dan waktu reaksi 3 hari dengan menghasilkan konversi sebesar 99,48% dan Mn sebesar 1192,07 g/mol.

PLA is a polymer that can be used as an alternative to fossil-based plastics. PLA is the right solution because of its biodegradability, biocompatibility, mechanical strength, and processability. The PLA synthesis process will be carried out using the Ring Opening Polymerization (PPC) pathway with the consideration can produce a high molecular weight of PLA with the help of catalysts and solvent. This study used a Candida rugosa lipase as a green catalyst and DMA (Dimethylacetamide) as a solvent. The observations were made by varying time at 2, 3, 4 days; temperature at 60ᵒC, 80ᵒC, 100ᵒC; and catalyst ratio at 2, 5, and 10% w/w. The PLA will be characterized which are molecular weight average number (Mn), monomer conversion, and molecular structure using H1 NMR. The results of this study were in the form of NMR spectra and used to calculate the monomer conversion and Mn PLA. It was found that the optimal temperature, catalyst ratio, and polymerization reaction time were at 80℃, the catalyst ratio was 5%, and the reaction time was 3 days with the conversion of 99.48% and Mn of 1192.07 g/mol."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmayetty
"ABSTRAK
Sintesis poli asam laktat PLA menggunakan katalis lipase Candida rugosa dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menghasilkan plastik biodegradable ramah lingkungan. dan berasal dari sumber daya terbarukan. Penggunaan lipase Candida rugosa sebagai pengganti katalis logam dalam polimerisasi telah berhasil mensintesis poli asam laktat PLA . Pelaksanaan kegiatan penelitian dilakukan melalui 3 tahapan proses. Tahapan awal adalah polikondensasi asam laktat dengan variasi temperatur untuk menghasilkan oligomer OLLA dengan berat molekul berbeda-beda. Tahap berikutnya adalah depolimerisasi dengan variasi temperatur, tekanan, jenis dan konsentrasi katalis serta berat molekul OLLA untuk menghasilkan laktida. Tahap terakhir adalah polimerisasi laktida menggunakan katalis lipase Candida rugosa dengan variasi temperatur dan konsentrasi lipase untuk menghasilkan PLA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa polikondensasi pada temperatur konstan 150; 180; 200oC selama 4 jam dan temperatur bertahap 150oC selama 2 jam dan 180oC selama 2 jam menghasilkan OLLA dengan berat molekul Mw/Mn secara berurutan sebesar 1080/380; 1736/893; 2487/1375 dan 2820/2389. Tahap depolimerisasi menghasilkan laktida dengan stereoisomer L-laktida. Yield dan kemurnian laktida tertinggi masing-masing sebesar 78,8 dan 81,03 . Kondisi optimum tahap depolimerisasi adalah pada temperatur 210oC, tekanan 0,1 atm dan menggunakan katalis SnCl2 0,1 b/b serta berat molekul Mw/Mn OLLA sebesar 2820/2389. Polimerisasi pembukaan cincin L-laktida menggunakan katalis lipase Candida rugosa berlangsung optimum pada temperatur 90oC dengan konsentrasi lipase 2 b/b . Berat molekul PLA tertinggi didapatkan sebesar Mw/Mn 5428/2854 dengan yield 92,58 .

ABSTRACT
The synthesis of polylactic acid PLA using Candida rugosa lipase catalyst is performed as one of the efforts to produce environmentally friendly biodegradable plastic and derived from renewable resources. The use of Candida rugosa lipase as a substitute for metal catalyst in polymerization has successfully synthesized polylactic acid PLA . Implementation of research activities conducted through 3 stages of the process. The initial stage is the polycondensation of lactic acid with temperature variations to produce oligomers OLLA of varying molecular weights. The next step is depolymerization with variation of temperature, pressure, type and concentration of catalyst and molecular weight of OLLA to produce lactide. The last stage is lactide polymerization using Candida rugosa lipase catalyst with variation of temperature and lipase concentration to produce PLA. The results showed that polycondensation at constant temperature 150 180 200oC for 4 hours and gradually temperature 150oC for 2 hours and 180oC for 2 hours produced average molecular weight Mw Mn of 1080 380 1736 893 2487 1375 and 2820 2389, respectively. The depolymerization stage produced lactides with l lactide stereoisomers. The highest yields and purity of lactides were 78.8 and 81.03 , respectively. The optimum condition of the depolymerization step was at temperature of 210oC, pressure of 0.1 atm and using SnCl2 0.1 w w catalyst and average molecular weight Mw Mn of OLLA of 2820 2389. The ring opening polymerization of lactides using Candida rugosa lipase catalyst was optimum at 90 C with a lipase concentration of 2 w w . The highest molecular weight of PLA was obtained Mw Mn 5428 2854 and yield of PLA was 92.58 ."
2017
D2293
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Clara Novia
"Pengembangan material implant terbaru dari poly lactic acid (PLA) diproduksi melalui ring-opening polymerization (ROP) yang memerlukan L-laktida dengan kemurnian dan yield yang tinggi. Sintesis L-laktida dari L-asam laktat dianggap rumit karena melalui proses kondensasi, depolimerisasi menggunakan suhu tinggi (>180℃), dan purifikasi yang sulit. Penggunaan katalis berbasis logam dengan ligan senyawa organik (Metal organic framework, MOF) dapat menyederhanakan sintesis L-laktida menjadi 1 tahap dengan suhu lebih rendah yang dianggap lebih efisien dan ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kondisi operasi optimum sintesis L-laktida dari L-asam laktat dengan katalis MOF menggunakan metode respon permukaan (RSM) dengan variabel suhu, loading katalis, dan waktu reaksi dimana jangkauan variabel yang digunakan diperoleh menggunakan OVAT. MOF yang digunakan dalam penelitian ini adalah MIL-101 yang disintesis dari Cr(NO3)3.9H2O dengan ligan benzene 1,4-dicarboxilic acid (BDC). Luas permukaan MIL-101 yang disintesis adalah 233,8 m2/g dengan volume pori (Vp) 0,1007 cm3/g. Jangkauan variabel yang diperoleh adalah suhu 140-170 ℃, waktu reaksi 4-6 jam, dan loading katalis 1-2,5 % w/w. Hasil RSM menunjukkan bahwa efek kuadratik dari loading katalis dan waktu reaksi adalah signifikan terhadap konversi L-asam laktat menjadi L-laktida. Model matematis konversi L-asam laktat menjadi L-laktida adalah . Variabel A, B, C adalah suhu, loading katalis, dan waktu reaksi. Kondisi operasi optimum yang diperoleh adalah waktu reaksi 4,73 jam; suhu 150℃; dan loading katalis MIL-101 1,2 % w/w yang menghasilkan nilai konversi 21,83% dengan konsentrasi laktida 99,25%.

Recently, implant material development from poly lactic acid (PLA) is produced through the ring-opening polymerization (ROP) that requires L-lactide with high optical purity and yield. The synthesis of L-lactide is considered complicated because it goes through a condensation, depolymerization uses high temperatures (≥180⁰C), and difficult purification. The use of metal-based catalysts with organic compound ligands (Metal organic framework, MOF) can simplify the L-Lactide synthesis into one step with a lower temperature which is considered more efficient and environmentally friendly. This study aims to obtain the optimum operating conditions for the synthesis of L-lactide from L-lactic acid with MOF catalyst using the response surface method (RSM) with variable temperature, catalyst loading, and reaction time where the variable range used is obtained using OVAT. The MOF used in this study was MIL-101 which was synthesized from Cr(NO3)3.9H2O with the ligand benzene 1,4-dicarboxylic acid (BDC). The surface area of MIL-101 obtained was 233,8 m2/g and pore volume (Vp) 0,1007 cm3/g. The range of variables obtained are temperature 140-170, reaction time 4-6 hours, and catalyst loading 1-2.5% w/w. The RSM results showed that the quadratic effect of catalyst loading and reaction time is significant on the conversion of L-lactic acid to L-lactide. Modeling equation for conversion crude lactide from l-lactide acid is where A, B, C are temperature, catalyst loading, and reaction time. RSM modeling show that the optimum conditions to get maximum of crude L-Lactide were 150℃ temperature, 1.2 %w/w catalyst, and 4.75 hours reaction time which resulted in a conversion value of 21.83% with lactide concentration is 99.25%."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yasir Sulaeman Kuweir
"Minyak kelapa sawit berpotensi sebagai bahan baku pembuatan pelumas bio, selain renewable dan biodegradable, juga bersifat non-toxic, sehingga dapat digunakan sebagai pelumas bahan makan atau pelumas food-grade. Telah dilakukan pembuatan pelumas bio berbasisi minyak kelapa sawit melalui 3 tahap yaitu trans-esterifikasi, epoksidasi dan reaksi pembukaan cincin dengan gliserol. Terdapat kendala pada reaksi pembukaan cincin, yaitu dalam pemilihan katalis. Katalis PTSA (p-Toluenesulfonic acid) mempunyai keasaman tinggi, tetapi sulit dipisahkan karena katalis homogen. Digunakan H-zeolit dan alumina yang merupakan katalis heterogen, tetapi yield yang didapat cukup rendah, karena memiliki luas permukaan yang kecil.
Pada penelitian ini dilakukan reaksi pembukaan cincin dengan gliserol menggunakan amberlyst-15 yang merupakan katalis heterogen, memiliki keasaman yang tinggi dan luas permukaan yang cukup besar untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan katalis-katalis sebelumnya. Reaksi yang dilakukan adalah 2% dan 2,5% berat penambahan amberlyst-15 pada T=1000C dengan variasi waktu 12, 16, 20, dan 24 jam. Keberhasilan reaksi dilihat dari uji densitas, viskositas, FTIR, dan gliserol yang tersisa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa amberlyst-15 mampu membuka cincin lebih baik dibandingkan PTSA, H-zeolit dan alumina (dilihat dari besarnya densitas dan viskositas), dan mampu menghasilkan yield sebesar 94,88% (dilihat dari sisa gliserol yang tidak bereaksi). Dari uji yang dilakukan, spektrum FTIR memperlihatkan bahwa gugus gliserol teradisi ke dalam produk. Penambahan amberlyst-15 sebanyak 2% lebih efektif dibandingkan 2,5%.

Palm oil has high potential as raw material for biolubricant product, beside of its tendency to be renewable, biodegradable, and non-toxic as well so it can be used as a lubricant for food ingredients or food-grade lubricants. Up until now, the making of lubricating oil based Palm oil can be done through three phases, such as trans-esterification, epoxidation and ring opening reaction with glycerol. However, there are constraints on the ring opening reaction, mostly in the selection of the catalyst. PTSA catalyst (p-Toluenesulfonic acid) has high acidity, but it is difficult to separate because of it charasteristic as homogeneous catalyst. H-zeolite and alumina are heterogeneous catalyst, but the yield obtained is low enough, because it has smaller surface area.
This research use ring opening reaction with glycerol phase by using amberlyst-15 as catalyst. Amberlyst-15 is a heterogeneous catalyst, has high acidity and surface area that large enough to fix the weaknesses of other catalysts. The reaction was performed with 2%w and 2.5%w amberlyst -15 additions at T = 1000ºC with varying time 12, 16, 20, and 24 hours. The success of the reaction can be seen from the density and viscosity test, FTIR, and the remaining glycerol.
The results showed that amberlyst-15 capable to open the ring better than the PTSA, H-zeolite and alumina (as seen from the high density and viscosity number), and capable to produce yield of 94.88% (as seen from the remaining glycerol wich didn?t react). FTIR spectra showed that the product has adsorb glycerol clusters. The result also showed that Amberlyst-15 additions as much as 2% is more effective than 2.5%.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2010
T27786
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Alyssa Adyandra
"Polilaktida merupakan polimer yang telah banyak diteliti sebagai material yang dapat digunakan sebagai implan fiksasi pada tubuh manusia dikarenakan memiliki sifat mekanik yang baik dan dapat terdegradasi secara alami pada tubuh manusia dengan menghasilkan produk yang dapat dilakukan metabolisme dengan mudah oleh tubuh. Tetapi, salah satu kelemahan dari penggunaan polilaktida adalah waktu degradasi yang lama sehingga dapat menyebabkan reaksi inflamatori di dalam tubuh manusia. D,Lpolilaktida merupakan polimer polilaktida yang memilki rantai berbentuk ataktis sehingga struktur molekulnya bersifat amorf yang memiliki waktu degradasi yang lebih cepat dibandingkan dengan polilaktida. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa karakteristik sampel yang terbuat dari campuran L-polilaktida (PLLA) dan D,Lpolilaktida (PDLLA) dengan variasi komposisi D,L-polilaktida pada campuran dengan prosentase 10%, 30% dan 50%. Proses pencampuran L-polilaktida dengan D,Lpolilaktida menggunakan metode solution blending. Dilakukan analisis sifat termal, pola kristalinitas, sifat mekanik, serta biodegradabilitas (viskositas, massa dan FTIR) dari produk sampel. Pada campuran PLLA dan PDLLA terjadi penurunan derajat kristalinitas dan kenaikan fasa amorf, akan tetapi terbentuk kristalit stereokompleks yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya komposisi PDLLA. Pencampuran PDLLA pada PLLA akan menurunkan titik leleh (Tm), akan tetapi meningkatkan kestabilan termal dikarenakan stereokompleks yang terbentuk, yang disebabkan ikatan hidrogen antara rantai yang memiliki taksisitas yang berbeda. Penambahan PDLLA pada PLLA dapat meningkatkan %massa yang hilang sehingga meningkatkan laju degradasi dari sampel, dengan mekanisme degradasi terjadi pada bagian amorf dari polimer terlebih dahulu.

Polylactide is a polymer that has been widely studied as a material that can be used as fixation implants in the human body because it has good mechanical properties and can be naturally degraded in the human body by producing products that can be metabolized easily by the body. However, one of the disadvantages of using polylactide is that it takes a long time to degrade so that it can cause inflammatory reactions in the human body. D,L-polylactide is a polylactide polymer that has atactic-shaped chains so that its molecular structure is amorphous which has a faster degradation time than polylactides. This study aims to analyze samples made from a mixture of L-polylactide (PLLA) and D,L-polylactide (PDLLA) with variations in the composition of D,L-polylactide in the mixture with a percentage of 10%, 30% and 50%. The process of mixing L-polylactide with D,L-polylactide using the solution blending method. Analysis of thermal properties, crystallinity patterns, mechanical properties, and biodegradability (viscosity, mass and FTIR) of the sample products was carried out. In a mixture of PLLA and PDLLA there was a decrease in the degree of crystallinity and an increase in the amorphous phase, but stereocomplex crystallites were formed which increased with the increase in the composition of PDLLA. Mixing PDLLA in PLLA will decrease the melting point (Tm), but will increase the thermal stability due to the formed stereocomplex, which is caused by hydrogen between the chains having high taxisivity. The addition of PDLLA to PLLA can increase the % mass loss thereby increasing the rate of degradation of the sample, with the degradation mechanism on the amorphous part of the polymer first."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nisrina Ulfah Budhyono
"Pada penelitian ini dilakukan preparasi mikrosfer dengan metode evaporasi pelarut. Mikrosfer dibuat dengan memadukan polimer biodegradable poli(D-asam laktat) dan polikaprolakton, dan span 80 sebagai surfaktan. Optimasi pembentukan polipaduan mikrosfer dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi surfaktan Span 80 (1,2 x 10-2 M, 2,3 x 10-2 M, 3,5 x 10-2 M, 4,6 x 10-2 M, dan 5,8 x 10-2 M), variasi kecepatan pengadukan tahap dispersi (700 rpm, 900 rpm, 1100 rpm dan 1300 rpm) dan variasi lama waktu pengadukan tahap dispersi (30 menit, 60 menit, dan 120 menit). Karakterisasi mikrosfer yang terbentuk dilakukan dengan FTIR, PSA, dan mikroskop optik.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kondisi optimum mikrosfer yang baik adalah dengan menggunakan Span 80 pada konsentrasi 5,8 x 10-2 M, kecepatan pengadukan tahap dispersi sebesar 1300 rpm dan lama waktu pengadukan dispersi 60 menit. Kondisi tersebut menghasilkan mikrosfer dengan persen padatan mikrosfer besar (93 ± 2%) dan ukuran yang seragam.

In this study, microspheres were prepared by solvent evaporation method. Microspheres were prepared by blending two biodegradable polymers; poly(D-lactic acid) and polycaprolactone and using span 80 as surfactant. Microspheres polyblend were optimized at various concentrations of span 80 (1,2 x 10-2 M, 2,3 x 10-2 M, 3,5 x 10-2 M, 4,6 x 10-2 M, dan 5,8 x 10-2 M), various stirring speeds during dispersion (700 rpm, 900 rpm, 1100 rpm, and 1300 rpm), and also at various stirring times during dispersion (30 minutes, 60 minutes, and 120 minutes). Characterizations of microsphere obtained were observed by FTIR, PSA and optical microscope.
The overall results in this study showed that the formula which used 5,8 x 10-2 M span 80, stirring speed at 1300 rpm and stirring time for 60 minutes at dispersion phase produced microsphere with high percentage of microsphere particles (93 ± 2%) and had the most uniform sizes.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Servita Caroline
"Esterifikasi asam palmitat dengan sorbitol dilakukan dalam pelarut t-butanol dan metil-isobutil-keton (MIBK) menggunakan lipase Candida rugosa E.C 3.1.1.3 terimobilisasi pada nanopartikel Fe3O4-polidopamin dan menghasilkan ester asam palmitat sorbitol. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap yaitu sintesis nanopartikel, imobilisasi lipase, esterifikasi, dan analisis hasil esterifikasi. Fe3O4, Fe3O4-polidopamin, dan lipase terimobilisasi dianalisis menggunakan FESEM- EDS, PSA, XRD, VSM, dan FTIR. Esterifikasi dalam pelarut t-butanol menghasilkan persen konversi lebih tinggi daripada dalam MIBK, baik yang menggunakan lipase bebas maupun terimobilisasi yaitu 31,80 % dan 22,24 %. Kondisi optimum yang diperoleh adalah pada rasio subtrat 1:60 dengan waktu inkubasi 16 jam dengan persen konversi 31,80 % (t-butanol) dan 5,59 % (MIBK) dengan menggunakan lipase bebas dan % konversi 22,24 % (t-butanol) dan 4,04 % (MIBK) pada penggunaan lipase terimobilisasi.
Hasil karakterisasi FTIR membuktikan bahwa nanopartikel Fe3O4 dan Fe3O4-polidopamin telah berhasil disintesis. Karakterisasi XRD dan PSA membuktikan bahwa nanopartikel yang berhasil disintesis berukuran nano. Hasil analisis menggunakan FESEM dan EDS menunjukkan morfologi dan komposisi dari nanopartikel Fe3O4, Fe3O4-polidopamin dan Fe3O4-polidopamin lipase yang terbentuk. Pada penelitian ini didapatkan persen loading enzim terimobilisasi nanopartikel Fe3O4-polidopamin sebesar 98,64 %. Hasil esterifikasi berupa ester palmitat sorbitol diuji secara sederhana dan terbukti dapat berfungsi sebagai emulsifier. Karakterisasi produk esterifikasi menggunakan TGA membuktikan bahwa produk ester telah terbentuk.

Esterification between palmitic acid with sorbitol was carried out in t-butanol and methyl-isobutyl-ketone (MIBK) as solvents using immobilized Candida rugosa lipase E.C 3.1.1.3 on Fe3O4-polydopamine nanoparticles to produce palmitic sorbitol ester. This research was conducted in several stages namely nanoparticle synthesis, immobilization of lipase, esterification, and analysis the esterification products. Fe3O4, Fe3O4-polydopamine, and the immobilized lipase were analyzed using FESEM, EDS, PSA, XRD, VSM, and FTIR. Esterification in t-butanol as solvent gave higher conversion percentage compared to MIBK, using either free or immobilized lipase, with the value of 31.80% and 22.24% respectively. The optimum condition of esterification achieved using the substrate ratio at 1:60 and for 16 hours incubation time, with the conversion percentage using free lipase was 31.80% (t-butanol) and 5.59% (MIBK) and using immobilized lipase 22.24% (t-butanol) and 4.04% (MIBK).
FTIR analysis has proved that nanoparticles Fe3O4 and Fe3O4- polydopamine can be successfully synthesized. Characterization using XRD and PSA showed that Fe3O4 and Fe3O4- polydopamine nanoparticles were in nano-size. Analysis using FESEM and EDS showed the morphology and composition of Fe3O4 nanopatricles, Fe3O4-polydopamine and Fe3O4- polydopamine-lipase formed. The loading percentage of immobilized lipase obtained in this study 98,64%. The esterification product was proved to be an emulsifier by using simple emulsion test. The characterization of ester product using TGA showed that palmitic acid-sorbitol ester has been synthesized.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2014
S60628
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sharfina Kiasati
"Ester fruktosa - palmitat telah disintesis melalui reaksi esterifikasi secara enzimatis antara asam palmitat dengan fruktosa menggunakan lipase Candida rugosa E.C.3.1.1.3 terimobilisasi pada nanopartikel Fe3O4 - polidopamin. Pada penelitian ini, nanopartikel Fe3O4 - polidopamin disintesis dengan metode kopresipitasi dan selanjutnya digunakan sebagai support imobilisasi lipase. Nanopartikel Fe3O4, nanopartikel Fe3O4 - polidopamin, dan nanopartikel Fe3O4 - polidopamin - lipase telah dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR), Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM), Energy-Dispersive X-ray Spectroscopy (EDS), X-ray Diffraction (XRD), Vibrating Sample Magnetometer (VSM), dan Particle Size Analysis (PSA). Nilai persen loading lipase terimobilisasi pada nanopartikel Fe3O4 - polidopamin yang diperoleh adalah sebesar 99,66%. Pada reaksi esterifikasi dilakukan beberapa variasi, yaitu rasio molar fruktosa dan asam palmitat, dan pelarut. Variasi rasio molar fruktosa dan asam palmitat yang digunakan adalah 1:30, 1:60, dan 1:90 (mmol/mmol) dalam pelarut t-butanol, dan hal yang sama dilakukan dalam pelarut metil isobutil keton (MIBK). Persen konversi asam palmitat menjadi ester tertinggi diperoleh pada rasio molar fruktosa dan asam palmitat 1:30 (mmol/mmol) dalam pelarut t-butanol yaitu sekitar 28,51% pada derajat substitusi (DS) ester 2,85 dengan menggunakan lipase bebas, dan sekitar 27,75% pada DS ester 2,78 dengan menggunakan lipase terimobilisasi pada nanopartikel Fe3O4 - polidopamin.

Fructose - palmitate ester has been synthesized via esterification reaction of palmitic acid and fructose by using immobilized enzyme of Candida rugosa E.C.3.1.1.3 lipase on Fe3O4 nanoparticles - polydopamine. In this study, Fe3O4 nanoparticles - polydopamine was synthesized by coprecipitation method and then used as support in the immobilization of lipase. Fe3O4 nanoparticles, Fe3O4 nanoparticles - polydopamine, and Fe3O4 nanoparticles - polydopamine - lipase were characterized with Fourier Transform Infra Red (FTIR), Field Emission Scanning Electron Microscopy (FESEM), Energy-Dispersive X-ray Spectroscopy (EDS), X-ray Diffraction (XRD), Vibrating Sample Magnetometer (VSM), and Particle Size Analysis (PSA). Percent value of loading immobilized lipase on Fe3O4 nanoparticles - polydopamine obtained is around 99.66%. The esterification reactions were carried out with several variations of molar ratio of fructose and palmitic acid with two different solvents. Variations molar ratio of fructose and palmitic acid used are 1:30, 1:60, and 1:90 (mmol/mmol), and the solvents used were t-butanol and methyl isobutyl ketone (MIBK). The highest percent (28,51%) conversion of palmitic acid to become ester was obtained at the molar ratio of fructose and palmitic acid 1:30 (mmol/mmol) in t-butanol with a degree of substitution (DS) ester 2,85 by using free lipase, and around 27,75% with a DS ester 2,78 by using immobilized lipase on Fe3O4 nanoparticles - polydopamine."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2015
S61493
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sriwahyuni Madya Sakti
"Pada penelitian ini dilakukan sintesis senyawa ester sukrosa asam lemak hasil hidrolisis minyak kelapa maupun asam laurat secara enzimatik menggunakan lipase Candida rugosa bebas dalam pelarut n-heksana. Optimasi reaksi dilakukan dengan menggunakan variasi perbandingan mol antara sukrosa dengan asam lemak 1:0,2; 1:0,4; 1:0,6; dan 1:0,8 mol. Ester sukrosa asam lemak yang dihasilkan dikharakterisasi menggunakan FT-IR. Hasil analisis FT-IR menunjukkan adanya puncak serapan gugus C=O ester pada bilangan gelombang 1739 cm-1 pada ester sukrosa asam lemak hasil hidrolisis minyak kelapa dan 1733 cm-1 ester sukrosa asam laurat. Pada penelitian ini, dilakukan uji antimikroba terhadap ester sukrosa asam lemak hasil hidrolisis minyak kelapa maupun asam laurat dengan menggunakan metode kertas cakram untuk melihat apakah ester sukrosa yang disintesis dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Mikroba uji yang digunakan adalah Erchericia coli dan Staphiloccocus aureus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ester sukrosa asam lemak hasil hidrolisis maupun ester sukrosa laurat menunjukkan aktivitas antimikroba tehadap Staphylococcus aureus. Sedangkan pengujian terhadap bakteri Eschericia coli tidak menunjukan adanya aktivitas penghambatan. Pada kedua ester sukrosa yang diuji untuk semua variasi perbandingan mol memiliki daya hambat dan memiliki potensi sebagai antimikroba. Didapatkan kondisi optimum dari pengujian uji antimikroba pada kedua ester untuk variasi mol 1:0,2 dengan hasil 12 mm untuk ester sukrosa asam lemak hasil hidrolisis minyak kelapa dan 13 mm untuk ester sukrosa asam laurat.

In this research, synthesis of sucrose ester hydrolized coconut oil fatty acid and lauric acid was conducted enzymatically using Candida rugosa free lipase in n hexane solvent. The mol ratio between sucrose and fatty acids were varied for optimization on 1 0.2 1 0.4 1 0.6 and 1 0.8 moles. Sucrose esters of fatty acids were characterized using FT IR. The results of FT IR analysis showed absorption peak that were related to the stretching of C O ester group at 1739 cm 1 for sucrose ester hydrolized coconut oil fatty acid and at 1733 cm 1 for sucrose ester of lauric acid. Furthermore, the antimicrobial activity of sucrose ester hydrolized coconut oil fatty acid and lauric acid were tested using paper disc method to see whether synthesized sucrose esters could inhibit the growth of microbes. Microbes used are Erchericia coli and Staphiloccocus aureus.
The results showed that sucrose esters of fatty acid and ester hydrolysis of sucrose lauric show antimicrobial activity against Staphylococcus aureus, while the test against Escherichia coli showed no inhibitory activity. In both sucrose esters tested for all variations of mole ratios have inhibitory and has potential as an antimicrobial. Optimum conditions of antimicrobial activity test for both esters was obtained for ratio mole ester 1 0.2 with 12 mm results for the sucrose fatty acid ester hydrolysis of coconut oil and 13 mm for the sucrose ester of lauric acid.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S66425
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizqa Dhafiningtia
"Mikrosfer dari campuran poli asam laktat PLA dan poli ? ?-kaprolakton PCL disiapkan menggunakan metode penguapan pelarut emulsi air dalam minyak w / o . Campuran PLA / PCL dirumuskan dengan komposisi 60:40 b / b dan Nonidet RK-18 digunakan sebagai emulsifier. Penelitian ini mengamati distribusi ukuran partikel mikrosfer dengan memvariasikan Nonidet RK-18 volume 0,5 ml, 1,0 ml, 1,5 ml, 2,0 ml, dan 2,5 ml , kecepatan pengadukan emulsi 700 rpm, 800 rpm, dan 900 rpm , dan waktu pengadukan dispersi 30 menit, 90 menit, dan 120 menit. Mikrosfer dikarakterisasi menggunakan FTIR dan PSA. Bentuk fisik mikrosfer diamati menggunakan mikroskop optik juga.
Spektra IR campuran PLA / PCL menunjukkan bahwa hanya interaksi fisik yang terjadi di antara mereka. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketika 2,0 ml Nonidet RK-18 ditambahkan, distribusi ukuran seragam dari mikrosfer yang terbentuk diamati pada 31,50 ? m. Selanjutnya, mikrosfer yang terbentuk melalui kecepatan pengadukan emulsi pada 900 rpm mengungkapkan bahwa mikrosfer yang terbentuk memiliki distribusi ukuran seragam pada 31,50 ? m, sedangkan distribusi ukuran seragam pada 34,58 ? m diamati pada mikrosfer yang terbentuk selama waktu pengadukan dispersi pada 90 menit.

Microspheres of poly lactic acid PLA and poly caprolactone PCL blend were prepared using the water in oil w o emulsion solvent evaporation method. The PLA PCL blend was formulated with the composition of 60 40 w w and Nonidet RK 18 was utilized as an emulsifier. This study observed the distribution of the microspheres particle size by varying the Nonidet RK 18 volumes 0.5 ml, 1.0 ml, 1.5 ml, 2.0 ml, and 2.5 ml , emulsion stirring speed 700 rpm, 800 rpm, and 900 rpm, and dispersion stirring time 30 minutes, 90 minutes, and 120 minutes . The microsphere were characterized using FTIR and PSA. Physical forms of microspheres were observed using an optical microscope as well.
The IR spectra of PLA PCL blend showed that only physical interaction was occured between them. Moreover, the result of this study showed that when 2.0 ml Nonidet RK 18 was added, the uniform size distribution of the formed microspheres was observed at 31.50 m. Furthermore, the microspheres that formed through emulsion stirring speed at 900 rpm revealed that the formed microspheres have uniform size distribution at 31.50 m, while the uniform size distribution at 34.58 m was observed in the microspheres that formed during the dispersion stirring time at 90 minutes.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>