Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 103196 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nuha Rahmania Zafirah
"Latar Belakang: P24 protein adalah salah satu protein milik HIV-1 yang membentuk kapsid bagian dalam dan dirilis ketike Gag protein di belah oleh protease virus. Kadar antien p24 umumnya akan meningkat di darah pada fase akut infeksi. Oleh sebab ini, produksi protein rekombinan p24 yang efektif dan memiliki imunogenisitas serta imunoreaktifitas seperti protein p24 natural merupakan hal yang penting, untuk deteksi antibodi p24 dan membuat antibodi monoklonal p24. Dalam penelitian ini, dilakukan optimasi ekspresi protein p24 subtype HIV-1 CRF01_AE.
Metode : Penelitian ini menguji beberapa factor untuk ekspresi optimal dari protein rekombinan p24 pada plasmid pQE-80L milik Eschericia coli, termasuk konsentrasi inductor, durasi induksi, dan kultur media yang digunakan. Deteksi, quantifikasi, dan analisis protein dilakukan dengan SDS Page dan di analisis menggunakan Imagelab.
Hasil : p24 recombinant protein from HIV-1 Subtype CFR01_AE terekspresikan secara optimal menggunakan media Terrific Broth dengan di induksi 1mM Isopropyl-beta-D-thiogalactopyranoside (IPTG) selama 6 hours pada suhu 37°lC.
Kesimpulan : Strategi dan Metode yang digunakan untuk mengekspresikan protein rekombinan dapat berbeda antar sistem dan antar jenis protein yang diekspresikan. Penelitian ini menunjukkan bahwa plasmid pQE80L-p24 yang sudah dikembangkan di PRVKP FKUI memiliki kemampuan untuk mengekspresikan protein rekombinan p24, dan teroptimasi pada media ekspresi Terrific Broth, konsentrasi Isopropyl-beta-D- thiogalactopyranoside (IPTG) 1mM, selama 6 jam pada suhu 37°C.

Background: P24 protein is one of HIV-1 protein that forms inner capsid and is released during cleave of Gag protein by viral protease. P24 antigen level will increase in the blood during the acute stage of infection. Therefore, an effective production of p24 recombinant protein that have the same immunogenicity and immunoreactivity of natural p24 protein are very important for detecting of p24 antibody and producing monoclonal p24 antibody. In this research, expression of p24 obtained from HIV-1 Subtype (HIV-1 CRF01_AE) was optimized to find the best expression system for the above protein.
Methods: In this research, several factors will be tested for optimal expression of recombinant p24 protein in plasmid pQE-80L of Eschericia coli, including the inducer concentration, duration of induction, and culture medium. Detection, quantitation, and analysis of the protein will be done using SDS Page and documented using Gel Documentation System to compare the effect of these factors.
Result: p24 recombinant protein from HIV-1 Subtype CFR01_AE is optimally expressed in Terrific Broth Medium in 1mM Isopropyl-beta-D-thiogalactopyranoside (IPTG), for 6 hours.
Conclusion: The strategies and method for protein expression may vary between a system, and a protein, to another. From this research it could be concluded that pQE80L-p24 plasmid that has been developed in PRVKP FKUI is able to express p24 recombinant protein. Protein expression is optimized in Terrific Broth Medium in 0.5mM Isopropyl-beta-D-thiogalactopyranoside (IPTG), for 4 hours in 37°C.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Simaremare, Ade Pryta Romanauli
"Latar belakang: Metode konvensional untuk mengkonfirmasi infeksi HIV ialah Western blot. Namun, western blot memiliki keterbatasan yaitu kontaminasi dengan antigen selular manusia dan masalah perbedaan genetik di antara subtipe HIV-1 yang menyebabkan hasil indeterminate dan ketidakakuratan diagnosis infeksi HIV-1 subtipe CRF01_AE yang dominan di Indonesia. Pemeriksaan western blot yang tersedia di Indonesia ialah untuk diagnosis infeksi HIV-1/2 dan tidak bersifat spesifik strain.
Metodologi: Pada penelitian ini digunakan protein p24 rekombinan sebagai antigen pada western blot. Dilakukan optimasi ekspresi protein p24 rekombinan HIV-1 CRF01_AE pada Escherichia coli BL21CP dan purifikasi serta western blot untuk mendapatkan informasi awal mengenai reaktivitasnya terhadap serum ODHA di Indonesia. Optimasi ekspresi dilakukan terhadap lama waktu induksi, konsentrasi IPTG, dan suhu induksi. Purifikasi dilakukan dengan metode immobilized metal-affinity chromatography (IMAC) dan sistem purifikasi Ni-NTA [Qiagen] pada kondisi native dengan optimasi pada konsentrasi imidazole dalam wash buffer.
Hasil: Konfirmasi protein rekombinan dengan western blot menunjukkan bahwa ekspresi dan purifikasi protein p24 rekombinan telah optimal dan reaktif terhadap serum pasien HIV-1 positif di Indonesia.
Kesimpulan: Protein p24 rekombinan dari penelitian ini dapat dikembangkan untuk uji diagnostik western blot berdasarkan subtipe CRF01_AE yang dominan di Indonesia.

Background: Conventional method for confirmation of HIV infection is western blot. However, western blot has limitation of contamination by human cellular antigen and genetic diversity matter among the HIV-1 subtypes that showed indeterminate result and inaccuracy for the diagnosis of HIV-1 subtype CRF01_AE infection predominantly in Indonesia. The western blot available in Indonesia is for diagnosis of HIV-1/2 which is not strain spesific. This research performed the p24 recombinant protein as the antigen in western blot.
Methods: We conducted the optimization in expression of p24 recombinant protein of HIV-1 subtype CRF01_AE in Escherichia coli BL21CP and purification and the confirmation by the western blot to obtain initial information about the reactivity of this recombinant protein with ODHA (people with HIV/AIDS) in Indonesia. Expression optimization administered in the induction time, IPTG consentration used, dan the induction temperature. The purification of the p24 recombinant protein carried with the immobilized metal-affinity chromatography (IMAC) method in Ni-NTA purification system [Qiagen] in native condition with optimization in the imidazole concentration used in the wash buffer.
Result: The confirmation of recombinant protein by western blot showed the expression and purification of p24 recombinant protein has been optimized well and reactive with the Indonesian HIV-1 positive serum patient.
Conclusion: This result indicated the p24 recombinant protein can be applied for the diagnostic assay development based on predominant HIV-1 subtype CRF01_AE in Indonesia.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Syah Ramadhan
"Human Epidermal Growth Factor (hEGF) merupakan polipeptida yang terdiri atas 53 asam amino. Protein hEGF berfungsi untuk proliferasi sel epitel dan epidermis secara in vitro dan in vivo. Protein hEGF dikode oleh gen EGF. Gen EGFsyn telah dikonstruksi secara sintetik untuk optimasi kodon pada Escherichia coli. Optimasi kodon berfungsi untuk meningkatkan ekspresi protein rekombinan pada E. coli. Subkloning gen EGFsyn ke plasmid pJ404 yang mengandung gen peptida sinyal endoxylanase sangat diperlukan dalam ekspresi protein hEGF rekombinan pada E. coli. Kendala ekspresi protein rekombinan pada E. coli yaitu terbentuknya badan inklusi di sitoplasma. Peptida sinyal endoxylanase digunakan untuk mentranslokasi protein ke periplasma. Digesti gen EGFsyn dan vektor pJ404 dengan enzim NheI dan BamHI diperlukan untuk persiapan subkloning dan ekspresi protein hEGF ke periplasma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen EGFsyn dan plasmid pJ404 berhasil dipotong dan siap digunakan untuk subkloning.

Human Epidermal Growth Factor (hEGF) is a polypeptide consisted of 53 amino acids. Its function is to promote epithel and epidermis cells proliferation in vitro and in vivo. It is encoded by EGF gene. An EGFsyn has been constructed to optimize codon usage in Escherichia coli. Codon optimization enhances recombinant protein expression in E. coli. Subcloning EGFsyn gene to a plasmid carrying endoxylanase signal peptide gene is important for recombinant hEGF expression in E. coli. One of the problem expressing recombinant protein in E. coli is the accumulation of inclusion bodies in cytoplasm. Endoxylanase signal peptide is used to translocate protein to periplasm. Digestion of EGFsyn gene and plasmid pJ404 by enzyme NheI and BamHI is needed for preparation of subcloning and hEGF expression to periplasm. The results showed that EGFsyn gene and plasmid pJ404 was digested and can be used for subcloning."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S61737
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wahyuni
"Protein rekombinan yang difusikan ke suatu peptida tag dapat dimobilisasi pada matriks yang telah dilapisi substrat berafinitas dengan tag tersebut. Dalam proses purifikasi, protein tag kadang kala dipisahkan dari protein rekombinan. Pemisahan tag dapat dilakukan dengar menyisipkan sekuens pengenalan protease di antara tag dan protein rekombinan yang memungkinkan pemisahan tag dari protein rekombinan oleh restriksi enzim protease. Pada beberapa sistem purifikasi, protease yang telah difusikan dengan tag telah digunakan untuk memotong peptida tag, sehingga baik tag maupun protease yang memotong tag dari protein dapat dipisahkan dari protein rekombinan. Sistem tersebut sangat menguntungkan namun hanya protease PreScission (protease Human Rhinovirus) yang telah dikembangkan untuk sistem tersebut. Oleh karena itu, untuk memperoleh alternalif lain dari sistem tersebut. dilakukan konstruksi vektor pengekspresi protease MLV di dalam sistem ekspresi protein fusi tag GST. Gen protease MLV disisipkan di antara situs restriksi BamHI dan EcoRl pGEX-6P-1, di hilir ORF GST dan situs pengenalan protease PreScission. Penyisipan gen protease MLV di dalam plasmid rekombinan (pG6PI.Pro) dikonfirmasi dengan analisis perbandingan pola migrasi pG6P1.Pro yang dibandingkan dengan plasmid wild type (pGEX-6P-1) dan identifikasi insert pada jel agarose setelah restriksi dengan BamHI-EcoRI. Konfirmasi orientasi gen protease dalam pG6P1.Pro dengan analisis restriksi enzim Apal, dan Bs:Ell. Konfirmasi akhir yang bersifat definitif dilakukan dengan sekuensing pG6PI.Pro. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa pG6P 1.Pro telah berhasil dikonstruksi dengan benar. namun dari hasil ekspresi protein fusi GST-Protease MLV tidak mendapatkan protein fusi utuh (43,8 kDa). Mutasi pada N terminal protease tidak mempengaruhi ekspresi protein fusi GST-Protease MLV dan tetap tidak menghasilkan protein fusi yang utuh (44,8 kDa dan 43,97 1:Da). Kegagalan ekspresi protein fusi tersebut mungkin disebabkan adanya peristiwa autokatalisis."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
T13676
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Maulidina
"Tat Oyi HIV-1 merupakan komponen vaksin penelitian yang sedang dipelajari sebagai vaksin terapeutik untuk HIV. Vaksin terapeutik HIV merupakan jenis vaksin yang dirancang untuk memperbaiki respon kekebalan tubuh terhadap HIV pada orang yang sudah terinfeksi HIV. Tat Oyi digunakan sebagai komponen vaksin karena sifatnya yang tidak toksik. Protein Tat Oyi didapatkan dari hasil gen Tat Oyi yang telah diekspresikan, ekspresi protein Tat Oyi dilakukan dengan mengekspresikan gen Tat Oyi ke dalam suatu vektor ekspresi. Ekspresi Protein membutuhkan gen Tat Oyi dalam jumlah banyak dan konsentrasi tinggi untuk itu dilakukan pengklonaan agar didapatkan jumlah yang mencukupi. Pensubklonaan gen Tat Oyi ini dilakukan dalam suatu vektor klona pQE-80L. Plasmid rekombinan Tat Oyi diperbanyak dalam sel inang Escherichia coli TOP10. Hasil yang diperoleh dari pensubklonaan ini adalah klona gen Tat Oyi dalam plasmid rekombinan pQE-80L. Tujuan dilakukan pensubklonaan adalah untuk memperbanyak gen Tat Oyi yang akan dibutuhkan dalam proses ekspresi protein Tat Oyi. Hasil verifikasi digesti dan sekuensing menunjukkan gen Tat Oyi HIV-1 berhasil disisipkan ke dalam vektor pQE-80L tetapi terdapat sebanyak 42 nukleotida dan 14 asam amino terdelesi.

Tat Oyi HIV-1 is a component of a research vaccine that is being studied as a therapeutic vaccine for HIV. The therapeutic HIV vaccine is a type of vaccines designed to improve the response to HIV in people who have already HIV infected. Tat Oyi is used as a component of vaccines because of its non-toxic nature. Tat Oyis protein is obtained from the results of Tat Oyi gene expression. Tat Oyi protein expression was received from the results of the expressed Tat Oyi gene. Protein expression requires a large amount and high concentrations of Oyi genes for which cloning is carried out in order to obtain sufficient amount. The Tat Oyi gene subcloning is carried out in the pQE-80L clone vector. Recombinant Tat Oyi plasmids were reproduced in the host cell, which type is E. coli TOP10. The results obtained from this subcloning are the clones of the Tat Oyi gene in the recombinant pQE-80L plasmids. The purpose of the subcloning was to multiply the Tat Oyi gene that would be needed in the process of Tat Oyis protein expression. The digestion and sequencing verification results showed the Tat Oyi HIV-1 gene is successfully inserted into the pQE-80L vector. However, 42 nucleotides and 14 amino acids are deleted."
Depok: Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faudina Nurilla Fitra
"Infeksi HIV-1 merupakan salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia yang perlu diteliti untuk mendapatkan strategi intervensi yang sesuai dengan galur virus yang bersirkulasi di Indonesia. Untuk pengembangan kultur galur HIV Indonesia, diperlukan antibodi spesifik terhadap protein awal HIV-1 yaitu Tat dan Rev sebagai marka infeksi HIV pada sel yang terinfeksi HIV-1. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan plasmid pengekspresi bagian immunodominant protein fusi Tat dan Rev pada sistem ekspresi mamalia agar dapat dimanfaatkan untuk menginduksi pembentukan antibodi spesifik pada hewan coba mamalia. Susunan DNA penyandi protein fusi Tat dan Rev didapat dengan melakukan analisis optimasi kodon penyandi susunan asam amino protein fusi menggunakan piranti lunak GenScript, untuk mendapatkan nilai Codon Adaptation Index CAI > 0.80 pada sistem ekspresi mamalia. Susunan nukleotida yang diperoleh kemudian diberikan tambahan susunan nukleotida situs restriksi pada bagian 5 rsquo; dan 3 rsquo; untuk memudahkan pengklonaan ke dalam vektor ekspresi dan dipesan ke penyedia jasa sintesis asam nukleat. Potongan DNA sisipan TatRev, penyandi protein fusi TatdanRev diperoleh dari penyedia jasa sintesis dalam bentuk terklona dalam plasmid pUC19. Agar dapat terekspresi dalam sistem ekspresi mamalia, DNA sisipan dipotong dengan enzim restriksi KpnI dan HindIII dari plasmid pUC19 dan disubklona ke dalam situs restriksi KpnI dan HindIII pada plasmid pTriEx-4. Analisis restriksi enzim Kpn I dan Hind III plasmid rekombinan yang diperoleh dengan elektroforesis jel agarosa menunjukkan adanya dua pita yang bermigrasi sesuai ukuran plasmid pTriEx-4 dan DNA sisipan TatRev, yaitu sebesar 5000 pb dan 600 pb.

HIV 1 infection is one of the health problems in Indonesia that is necessary to be studied in order to obtain intervension strategies that is in accordance with the circulating viral strains in Indonesia. In order to develop culture of Indonesian HIV strainss, specific antibodies towards early proteins of HIV, namely Tat and Rev, that are markers of HIV infection in HIV 1 infected cells. This study is aimed at obtaining a plasmid for expression of immunodominant region of Tat and Rev fusion protein in mammalian expression system to be used for stimulation of specific antibody formation in mammals as experimental animal. Nucleotide sequence of DNA encoding the Tat and Rev fusion protein was obtained by codon optimization analysis of the amino acid sequence of the fusion protein using the GenScript software, to obtain a Codon Adaptation Index CAI 0.80 for mammalian expression system. The nucleotide sequence that is obtained was then added with recognition sequences for enzymatic restriction at the 5 rsquo and 3 rsquo end to facilitate cloning into expression vector, and requested to a service provider for nucleic acid synthesis. The TatRev insert DNA, encoding the fusion protein of Tat and Rev was obtained from the nucleic acid synthesis service provider in the formed of cloned DNA in the plasmid pUC19. For expression in mammalian expression system, the insert DNA was restricted using restriction enzymes KpnI and HindIII from the pUC19 plasmid and subcloned into the KpnI and HindIII restriction sites in plasmid pTriEx 4. Agarose gel electrophoresis analysis of KpnI and HindIII enzymatic restriction of the resulting recombinant plasmid showed the presence of two bands that migrated according to the sizes of the plasmid pTriEx 4 and the TatRev insert DNA, namely 5000 bp and 600 bp."
Depok: Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ratih Cempaka
"Protein Jembrana Superficial Unit (JSU) dapat dijadikan sebagai vaksin untuk pengobatan penyakit Jembrana. Protein JSU, yang dikode oleh gen env, disisipkan ke dalam plasmid pGEX-6P1 dan diekspresikan melalui Escherichia coli strain BL21 sebagai inangnya. Tujuan penelitian adalah untuk meneliti berbagai pengaruh konsentrasi IPTG terhadap ekspresi protein rekombinan JSU pGEX-6P1. Sel E. coli (pembawa konstruk pGEX-6P1) ditumbuhkan pada medium Luria Betani (LB) cair 50 ml dan diinkubasi pada shaker incubator hingga mencapai kepadatan sel (OD) OD600 0,6. Induksi Isopropyl-β-Dthiogalactopyranoside (IPTG) selama 1 jam dengan tiga konsentrasi perlakuan, yaitu 100 μM, 150 μM, dan 200 μM. Sel dipecah dengan dua metode, yaitu Freeze and thaw dan sonikasi kemudian pelet hasil pemecahan sel dikoleksi sebagai inclusion body. Solubilisasi protein dilakukan dengan menambahkan solubilize buffer pada pelet kemudian dilution buffer untuk tahap refolding. Protein dimurnikan melalui Gluthatione Sepharose 4B dengan metode batch capture. Hasil analisis SDS-PAGE menunjukkan ukuran protein JSU pGEX-6P1 yang tepat, yaitu ± 60 kDa pada setiap perlakuan (konsentrasi) IPTG. Pita pada induksi IPTG 100 μM terlihat lebih tebal dibandingkan dengan pita pada induksi 150 μM dan 200 μM. Hasil penelitian disimpulkan bahwa induksi IPTG 100 μM menghasilkan protein rekombinan JSU pGEX-6P1 yang optimal.

Jembrana Superficial Unit (JSU) protein can be used as a vaccine material for controlling Jembrana disease. JSU protein that encoded by the env gene was inserted into the plasmid pGEX-6P1 and expressed through the Escherichia coli strain of BL21 as a host. The aim of this study was to determine the effect of IPTG concentrations against the expression of JSU pGEX-6P1 recombinant protein. E. coli cells (pGEX-6P1 constructs carrier) were grown in 50 ml Luria Bertani (LB) liquid medium and was incubated on a shaker incubator until it reaches the cell density (OD) OD600 0.6. Induction of Isopropyl-β-Dthiogalactopyranoside (IPTG) for 1 hour with three concentrations of the treatment, there are 100 μM, 150 μM, and 200 μM. The cells was disrupted by two methods of cell lysis, Freeze and thaw and sonication, then the pellet was collected as inclusion body. Protein is solubilized by adding a buffer into the pellet and using dilution buffer for refolding step. Proteins purified using Gluthatione Sepharose 4B by batch capture method. The analysis of SDS-PAGE was shown exactly the protein size of JSU pGEX-6P1 ± 60 kDa for each treatment (concentration) IPTG. Band at 100 μM IPTG induction seems thicker than the band on the induction of 150 μM and 200 μM. The study was concluded that 100 μM IPTG induction produces an optimal of JSU pGEX-6P1 recombinant protein."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
S1294
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Naomi Pertiwi
"Gen CSF3 merupakan gen penyandi human granulocyte-colony stimulating factor hG-CSF. Gen CSF3 yang digunakan dalam penelitian ini merupakan gen sintetik dari penelitian terdahulu disebut CSF3syn yang dikonstruksi secara in vitro. Gen tersebut mengandung kodon preferensi Escherichia coli dan telah berhasil digunakan untuk mengekspresikan protein hG-CSF rekombinan pada E. coli menggunakan plasmid ekspresi berbasis promotor T7. Gen CSF3syn disubkloning ke dalam plasmid ekspresi yang mengandung promotor rhaBAD pada penelitian ini. Promotor ini dapat terinduksi oleh rhamnose dalam media sebagai sumber karbon. Tujuan penelitian ini adalah mendapatkan konstruk plasmid rekombinan pJ804-mCSF3 sebagai sumber vektor alternatif untuk produksi protein hG-CSF rekombinan pada sistem ekspresi E. coli menggunakan plasmid berbasis promotor rhaBAD. Konstruksi plasmid dilakukan melalui subkloning gen CSF3syn ke dalam plasmid pJ804. Terdapat dua varian gen CSF3syn yang digunakan, yaitu mCSF3-ori dan mCSF3-new2. Kedua gen tersebut diisolasi masing-masing dari plasmid pJ414-mCSF3-ori dan pJ414-mCSF3-new2 setelah didigesti dengan enzim restriksi NdeI dan XhoI. Gen target dan plasmid selanjutnya diligasi dan plasmid rekombinan yang diperoleh diklon ke dalam E. coli DH5?. Sebanyak 12 dari 30 koloni transforman pJ804-mCSF3-ori dan 7 dari 44 koloni transforman pJ804-mCSF-new2, positif menunjukkan pita gen CSF3syn sebesar 558 pb setelah diverifikasi menggunakan teknik PCR koloni dan PCR plasmid. Analisis digesti plasmid menggunakan enzim NdeI dan XhoI mengonfirmasi situs ligasi dan ukuran dari plasmid rekombinan yang diperoleh 4.723 pb. Plasmid rekombinan pJ804-mCSF-ori dan pJ804-mCSF3-new2 telah berhasil dikonstruksi.

CSF3 is a gene that encodes the human granulocyte colony stimulating factor hG CSF. The CSF3 gene used in this study was a synthetic gene from a previous study called CSFsyn that was constructed in vitro. The gene contains the Escherichia coli codon preference and has been successfully used to express the recombinant hG CSF protein in E. coli using T7 promoter based expression plasmid. The CSF3syn gene was subcloned into an expression plasmid containing rhaBAD promoter in this study. This promoter can be induced by rhamnose in the media as a carbon source. The purpose of this study was to obtain a recombinant plasmid construct of pJ804 mCSF3 as an alternative vector source for the production of recombinant hG CSF protein in an E. coli expression system using rhaBAD promoter based plasmid. The plasmid construction was performed by subcloning the CSF3syn gene into the pJ804 plasmid. There are two variants of CSF3syn genes used, mCSF3 ori and mCSF3 new2. The two genes were isolated from pJ414 mCSF3 ori and pJ414 mCSF3 new2 plasmids respectively after digestion using NdeI and XhoI restriction enzymes. The target genes and plasmid were subsequently ligated and recombinant plasmid obtained were cloned into E. coli DH5 . Twelve out of the 30 transformant colonies of pJ804 mCSF3 ori and 7 out of 44 transformant colonies pJ804 mCSF new2, positively demonstrated the presence of CSF3syn gene band of 558 bp. Those colonies have been verified using colony PCR and plasmid PCR techniques. Plasmid digestion analysis using NdeI and XhoI enzymes confirmed ligation site and size of the recombinant plasmids obtained 4.723 bp. Recombinant plasmids pJ804 mCSF ori and pJ804 mCSF3 new2 have been successfully constructed."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Tuberculosis (TB) is one of the major infectious diseases that cause health problems worldwide. Antigen 85B is a secreted protein of the infectious strain Mycobacterium tuberculosis. Our main focus is on production of proteins as a booster vaccine to replace the traditional Mycobacterium bovis bacillus Calmetter-Guerin (BCG) vaccine formula. The main challenge is to express a high yield of an active recombinant protein in native soluble form. To the extent of our knowledge, the cultivation conditions, such as optimal temperature, for overexpressing soluble Ag85B protein of the gene Rv1886c, have never been reported. This study showed for the first time the optimizing culturing conditions for inducing expression of soluble Ag85B protein by isopropyl β-D-1-thiogalactopyranoside (IPTG) in Escherichia coli BL21 (DE3) pLysS. Protein yields were higher at a low temperature of 25 °C (for 12 h), compared to those at a high temperature of 37 °C (for 5 h). To conclude, low temperature is associated with slow expression which allows the protein to adopt a well-folded conformation and provides a high yield of soluble recombinant protein."
Thammasat University Rangsit Campus. Sirindhorn International Institute of Technology, 2017
500 TIJST 22:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Novita Damayanti
"Plasmid penyandi protein fusi hemaglutinin dengan VP22, pcDNA3.1HAΔTMVP22, merupakan kandidat vaksin DNA yang diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif vaksin pencegahan flu burung. Kemampuan kandidat vaksin untuk mengekspresikan antigen yang diharapkan perlu untuk dibuktikan sebelum diujikan pada hewan coba mencit. Ekspresi antigen tersebut diuji dengan cara mentransformasikan kandidat vaksin pada sel kultur mamalia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem ekspresi yang terdapat dalam kandidat vaksin pcDNA3.1HAΔTMVP22 dapat berfungsi seperti yang diharapkan. Dalam penelitian ini dilakukan transfeksi pcDNA3.1HAΔTMVP22 pada sel ovarium hamster cina (CHO K1) dan analisis ekspresi plasmid penyandi protein fusi hemaglutinin dengan VP22 dilakukan dengan uji imunostaining dan western blot. Setelah diinkubasi selama dua hari dilakukan imunostaining untuk mengetahui ekspresi protein hemaglutinin dan western blot terhadap supernatan kultur untuk mengetahui protein rekombinan yang dilepaskan di supernatan. Pengamatan imunostaining dengan mikroskop konvokal, menunjukkan bahwa protein rekombinan hemaglutinin-VP22 diekspresikan oleh sel CHO K1. Berdasarkan hasil uji western blot, keberadaan protein rekombinan di supernatan kultur belum dapat terdeteksi, karena antibodi yang digunakan dalam uji ini mengenali serum yang merupakan salah satu komponen media penumbuhan sel CHO K1.

Plasmid encoding the fusion protein hemagglutinin with VP22, pcDNA3.1HAΔTMVP22, is one of DNA vaccine candidates which expects to be an alternative vaccine avian influenza prevention. The ability of candidate vaccines to express antigens is important to prove before tested in experimental animals mice. The antigen expression was tested by transforming vaccine candidate into mammalian cultured cells. The aims of this study is to determine the capability of vaccine candidate pcDNA3.1HAΔTMVP22 to express antigen once transformed into mammalian cell line. In this research, pcDNA3.1HAΔTMVP22 was transfected into Chinese Hamster Ovary (CHO K1) cells. Protein expression was measured by imunostaining and western blot assay. Immunostaining was performed to determine the expression of hemagglutinin protein inside CHO KI cells; the imunostained cells were observed using confocal microscope. The result showed if fusion protein hemagglutinin-VP22 can be produce in CHO K1 cells and can be recognized by rabbit H5N1 polyclonal antibody. Western blot was performed to determine the presence of recombinant protein in supernatant culuture. By using western blot assay performed in this study the presence of recombinant protein in the culture supernatant can not be detected. Protein band found in western blot assay gave unspesific is suspected as serum which is one component of CHO K1 cell growth media."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2013
S52684
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>