Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 80695 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Siti Fatimah Selasih
"Imatinib mesylate merupakan salah satu terapi pengobatan untuk leukemia mielositik kronik (LMK). Terapi pengobatan tersebut membutuhkan pemeriksaan secara rutin terhadap jumlah transkrip gen BCR-ABL1, untuk mengetahui respons pasien terhadap terapi. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, metode Reverse Dot Blot (RDB) telah diketahui dapat secara spesifik mendeteksi tipe translokasi BCR-ABL1. Penelitian dilakukan untuk mengetahui tingkat sensitivitas diagnostik metode RDB sebagai metode pemeriksaan rutin pasien LMK yang menjalani terapi Imatinib mesylate. Uji sensitivitas diagnostik dilakukan dengan membandingkan metode RDB dan metode quantitative real time polymerase chain reaction (Q-PCR) pada penderita LMK yang menjalankan terapi Imatinib mesylate. Jumlah minimal transkrip BCR-ABL1 berdasarkan nilai international scale (IS) yang dapat dideteksi dengan metode RDB adalah 1%. Uji sensitivitas menunjukkan bahwa tingkat sensitivitas metode RDB sebesar 86,67% dengan tingkat spesifisitas 100%. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan metode RDB dapat menjadi metode penegakan diagnosis LMK, dan menjadi metode alternatif yang berpotensi untuk pemeriksaan awal pada tiga bulan pertama setelah terapi pengobatan dilakukan.

Imatinib mesylate is a curing therapy for chronic myelogenous leukemia (CML). The therapy is given simultaneously with regular examination of BCR-ABL1 gene transcript amount to monitor patient’s responses. According to the latest research report, Reverse Dot Blot (RDB) method has been known as a method whichis able to detect type of BCR-ABL1 translocation specifically. This study was conducted to determine diagnostic sensitivity level of RDB method as a regular examination to CML patients undergoing Imatinib mesylate therapy. Diagnostic sensitivity test was performed by comparing RDB method and quantitative real time polymerase chain reaction (Q-PCR) method. Minimal amount of BCR-ABL1 transcript, based on international scale (IS) score, which is able to be detected by RDB method is 1%. Sensitivity test result show that the sensitivity level of RDB method is 86,67% while the level of specificity is 100%. Hence, we could summarize that RDB method is capable to be a CML diagnosis enforcement method and can be a potential alternative method on first three months examination during therapy.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2016
S64473
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Janice Chen
"Latar Belakang
Staphylococcus aureus merupakan salah satu bakteri dengan tingkat resistensi yang tinggi terhadap antibiotik. Hal ini mendasari pentingnya ditemukan antibakteri alternatif dari bahan alami yang poten melawan bakteri penyebab penyakit. Salah satu bahan alami yang memiliki potensi menjanjikan adalah daun pegagan (Centella asiatica). Penelitian ini akan menentukan konsentrasi hambat minimum (KHM) dari ekstrak daun C. asiatica terhadap bakteri S. aureus ATCC 29213TM.
Metode
Uji KHM pada penelitian ini menggunakan metode makrodilusi tabung. Sepuluh μl suspensi bakteri S. aureus ATCC 29213TM dengan standar McFarland 0,5 ditambahkan ke dalam tabung berisi larutan BHI dan ekstrak C. asiatica dengan konsentrasi 750, 375, 187,5, 93,75, 46,86, 23,44, 11,72, 5,86, 2,93, 1,46 mg/mL. Tabung diinkubasi pada 35°C selama 18-24 jam. Hasil diobservasi dengan melihat keruh atau jernih larutan dalam tabung dan dicatat.
Hasil
Tabung percobaan dengan ekstrak C. asiatica berkonsentrasi 375 mg/mL dan 750 mg/mL menunjukkan hambatan terhadap pertumbuhan S. aureus, menampilkan tabung jernih. Tabung percobaan dengan konsentrasi di bawah 375 mg/mL tidak menunjukkan hambatan pertumbuhan S. aureus, menampilkan tabung keruh.
Kesimpulan
KHM ekstrak C. asiatica terhadap S. aureus ditemukan pada konsentrasi 375 mg/mL.

Introduction
Staphylococcus aureus is a species of bacteria with high level of antibiotic resistance. This highlights the importance to find alternative antibacterial agents from natural sources that are potent against disease-causing bacteria. Centella asiatica leaves shows promising potential. This study aims to determine the minimum inhibitory concentration (MIC) of C. asiatica leaf extract against S. aureus ATCC 29213TM.
Method
The MIC test in this study utilized the macro-dilution tube method. Ten μl of S. aureus ATCC 29213TM suspension with 0.5 McFarland standard was added to tubes containing BHI solution and C. asiatica extract with concentrations of 750, 375, 187.5, 93.75, 46.86, 23.44, 11.72, 5.86, 2.93, and 1.46 mg/mL. The tubes were incubated at 35°C for 18-24 hours. The results were observed by checking for turbidity or clarity of the solution in the tubes and recorded.
Results
Tubes with C. asiatica extract concentrations of 375 mg/mL and 750 mg/mL showed inhibition of S. aureus growth, presenting clear solutions. Tubes with concentrations below 375 mg/mL did not show inhibition of S. aureus growth and had turbid solutions.
Conclusion
The MIC of C. asiatica extract against S. aureus was found to be 375 mg/mL.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Theresia P.G. Taa
"Prevalensi kematian akibat diare pada bayi dan balita yang tinggi dapat disebabkan oleh Serratia marcescens. Prevalensi kematian akibat pneumonia pada bayi dan balita dapat disebabkan oleh Klebsiella pneumoniae. Prevalensi penyakit endokarditis infektif dapat disebabkan oleh Staphylococcus epidermidis. Namun, resistensi antibiotik menjadi masalah yang serius sehingga dilakukan eksplorasi pada tanaman masoyi yang merupakan tanaman endemik dari Papua. Minyak atsiri dari kulit kayu masoyi yang diperoleh dengan metode distilasi uap dilaporkan berpotensi menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhimurium, Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus. Pada penelitian ini, dilakukan determinasi tanaman, pengumpulan dan penyerbukan simplisia kulit kayu masoyi, uji mikroskopik, ekstraksi minyak atsiri dengan metode distilasi air, uji fitokimia golongan terpenoid dan uji aktivitas antibakteri terhadap Klebsiella pneumoniae, Serratia marcescens dan Staphylococcus epidermidis. Minyak atsiri dibuat ke beberapa konsentrasi dengan melarutkan minyak atsiri dengan DMSO dan PEG 400. Uji aktivitas antibakteri menggunakan metode zona hambat (metode difusi cakram) dan metode konsentrasi hambat minimal (makrodilusi) terhadap Klebsiela pneumoniae, Serratia marcescens dan Staphylococcus epidermidis. Hasil metode zona hambat menunjukkan minyak atsiri dengan pelarut DMSO terhadap K.pneumoniae berpotensi lemah (1-1,25 mm) sedangkan, terhadap S.marcescens (10,625-13,25 mm) dan S.epidermidis (11,75- 14,5 mm) berpotensi kuat. Minyak atsiri dengan pelarut PEG 400 terhadap K.pneumoniae (5-9,75 mm), S.marcescens (5,5-8,25 mm) dan S.epidermidis (4,625-7,5 mm) berpotensi sedang. Hasil metode makrodilusi menunjukkan nilai KHM minyak atsiri Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm terhadap K.pneumoniae = 125 µg/mL, S.marcescens = 62,5 µg/mL dan S.epidermidis = 31,25 - 15,625 µg/mL.

The high prevalence of death from diarrhea in infants and toddlers can be caused by Serratia marcescens. The prevalence of death from pneumonia in infants and toddlers can be caused by Klebsiella pneumoniae. The prevalence of infective endocarditis can be caused by Staphylococcus epidermidis. However, antibiotic resistance is a serious problem, so an exploration of the masoyi plant, which is an endemic plant from Papua, was carried out. Essential oil from masoyi bark obtained by steam distillation method has the potential to inhibit the growth of Streptococcus mutans, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Salmonella typhimurium, Staphylococcus aureus and Bacillus cereus as reported. In this study, plant determination, collection and pollination of masoyi bark simplicia, microscopic test, extraction of essential oils by water distillation method, phytochemical test of terpenoids and antibacterial activity tests against Klebsiella pneumoniae, Serratia marcescens and Staphylococcus epidermidis were carried out. The essential oil was made into several concentrations by dissolving the essential oil with DMSO and PEG 400. The antibacterial activity was tested using the zone of inhibition method (disk diffusion method) and the minimal inhibitory concentration method (macrodilution) against Klebsiela pneumoniae, Serratia marcescens and Staphylococcus epidermidis. The results of the inhibition zone method showed that essential oils with DMSO as solvent were potentially weak against K.pneumoniae (1-1.25 mm) while against S.marcescens (10.625-13.25 mm) and S.epidermidis (11.75-14.5 mm). mm) potentially strong. Essential oil with solvent PEG 400 against K. pneumoniae (5-9.75 mm), S. marcescens (5.5-8.25 mm) and S. epidermidis (4.625-7.5 mm) has moderate potential. The results of the macrodilution method showed the MIC value of Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm essential oil against K.pneumoniae = 125 g/mL, S.marcescens = 62.5 g/mL and S.epidermidis = 31.25 - 15,625 g/mL.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sidharta Ilyas
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
617.71 SID d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sidarta Ilyas
Jakarta: Balai Penerbit , 2009
617.771 SID d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sidarta Ilyas
Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 2012
617.771 SID d
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sidarta Ilyas
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000
617.771 SID d
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Silvana Saputri
"Latar Belakang: angka kejadian infeksi jamur di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat, diikuti dengan meningkatnya kasus resistensi pada pengobatan standar yang diberikan. Candida albicans Merupakan etiologi infeksi jamur tersering di dunia. Saat ini penemuan pengobatan alternatif sangat penting dilakukan, sebagai upaya untuk menurunkan kasus resistensi terhadap pengobatan standar. Propolis merupakan salah satu bahan alami yang memiliki kandungan flavonoid dan asam fenolik sebagai antifungal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya daya hambat propolis karang asal Sulawesi terhadap Candida albicans.
Metode: Penelitian eksperimental ini dilakukan dengan metode difusi cakram. Melalui 3 konsentrasi propolis yang sudah diemulsi (1%,3%,5%) tempatkan propolis ke dalam disc, diletakkan diatas agar Mueller-Hinton yang sudah terdapat biakan Candida albicans ATCC. Inkubasi dilakukan selama 24-48 jam dan diukur diameter zona hambat yang terbentuk.
Hasil: Propolis dengan konsentrasi 1% menghasilkan zona hambatan yang paling besar terhadap biakan Candida albicans ATCC, namun angka ini tidak sebaik obat standar nistatin.
Kesimpulan: propolis tidak memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan Candida albicans secara in vitro dengan konsentrasi terkecilnya.

Background: The incidence of fungal infections in Indonesia is increasing year by year, accompanied by the increasing cases of resistance to standard treatment given. Candida albicans is the most common etiology of fungal infections in the world. Recently, alternative drug discovery is very important to conduct as an effort to decrease the case of resistance to standard treatment. Propolis is one of the natural ingredients that contain of flavonoids and phenolic acids as antifungal. The objective of this study is to find out the inhibitory power of coral propolis from Sulawesi to Candida albicans.
Method: This experimental study was carried out by disc diffusion method. There are 3 concentrations of propolis that have been emulsified (1%, 3%, 5%) and put in to disc, which are then placed on Mueller-Hinton plate that contains Candida albicans ATCC. Incubation phase was carried out for 24-48 hours. Finally, we measured the diameter of inhibitory zone that were formed.
Results: Propolis with a concentration of 1% produced the highest inhibitory zone to inhibit Candida albicans growth, but this number was not as good as the standard which is Nystatin.
Conclusion: Propolis has not the ability to inhibit the growth of Candida albicans in vitro with the smallest concentration.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Iris Rengganis
Jakarta: Badan Penerbit FKUI, 2018
616 IRI s
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>