Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 124727 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Odilia Rovara
"Semua jenis makhluk hidup dapat terkena penyinaran radiasi pengion baik dari alam maupun buatan, yang mengakibatkan kerusakan pada tubuhnya bahkan mematikannya. Oleh kerena itu penting diadakannya penelitian mengenai zat yang bersifat proteksi terhadap radiasi. Penelitian ini merupakan lanjutan dari penelitian Sugiarto dkk., untuk mengetahui mekanisme kamatian tikus putih yang diradiasi sinar gamma dosis 0--12 Gy dengan laju dosis 0,237075 x 10^3 Gy/jam (=transmisi 30%). Dalam penelitian ini diberikan ampicilin dosis 4 mg pasca radiasi untuk mengurangi pengaruh radiasi. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah eritrosis, leukisit, granulosit dan agranulosit pada hari ke 3, 11, 19, dan 27 pasca iradiasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pada dosis 4 Gy terjadi sindrom homopoetik dengan tanda-tanda leukopenia, granulositopenia, dan agranulositopenia. Kerusakan ini tidak bersifat permanen, di mana setelah terjadi reduksi sel maksimum sampai kurang lebih 73,47 % untuk leukosit, kurang lebih 58,29 % untuk granulosit, kurang lebih 27,88 % untuk agranulosit pada hari ke 3, jumlah sel akan meningkat kembali sehingga mencapai kurang lebih 8,98 % untuk leukosit, kurang lebih 69,18 % untuk granulosit, kurang lebih 76,03 % untuk agranulosit pada hari ke 19. Dosis 8 Gy mengakibatkan kerusakan homopoetik yang lebih parah, dimana penurunan leukosit, granulosit dan agranulosit lebih tajam sedang peningkatan kembali setelah terjadi reduksi maksimum pada hari ke 3, lebih lambat. Pada dosis ini terjadi pula kerusakan kulit dan gejala kerusakan gastrointestianal berupa feses yang cair dan invasi bakteri gastrointestinal dalam darah. Dosis 12 Gy mengakibatkan kerusakan mengakibatkan gastrointestinal yang l;ebih parah dari dosis 8 Gy, dengan tanda-tanda diare, kerusakan vili usus, bakteremia dan leukopenia berat yang tidak dapat diamatai pada hari-hari selanjutnya karena kematian telah terjadi pada hari ke 3 sampai 4. Selain itu dosis ini mengakibatkan kerusakan pada kulit. Antibiotik ampicilin dapat menunda kematian hewan percobaan dengan cara mengurangi invasi bakteri."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Indonesia, 1987
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teja Kisnanto
"Pemanfaatan teknologi nuklir terutama radiasi gamma telah menjadi bagian penting di bidang kedokteran. Radiasi gamma dapat menghasilkan spesies oksigen reaktif (ROS) yang menyebabkan kerusakan biologis pada sel normal. Antioksidan adalah senyawa kimia yang dapat mencegah reaksi berantai radikal bebas. Pada penelitian ini dilakukan eksplorasi kemampuan dari bawang putih, petai, jengkol, tomat dan NAC dalam melindungi sel tehadap radiasi gamma. Kelompok perlakuan terdiri atas: A (kontrol), B (radiasi), C (bawang putih+radiasi), D (petai+radiasi), E (jengkol+radiasi), F (tomat+radiasi) dan G (NAC+radiasi). Tiap kelompok terdiri atas 4 ekor tikus jantan. Paparan radiasi gamma dilakukan setelah pemberian bahan alam selama 8 hari berturut-turut. Uji biokimia berupa pengukuran konsentrasi Malondialdehid (MDA), Glutation (GSH), 8-hidroksi-2-deoksiguanosin (8-OHdG), aktivitas spesifik Glutation Peroksidase (GPx), Katalase (CAT) serta uji immunofluoresensi foci γH2AX pada limfosit dan plasma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan radiasi gamma dapat menyebabkan peningkatan signifikan pada konsentrasi MDA, GSH, 8-OHdG dan jumlah foci γH2AX serta penurunan signifikan pada aktivitas spesifik GPx dan CAT (p<0.05). Sementara itu, pemberian ekstrak bawang putih, jengkol, tomat dan NAC mampu secara signifikan mengurangi radikal bebas akibat radiasi gamma. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bawang putih, jengkol, tomat dan NAC mampu melindungi tikus terhadap stres oksidatif akibat radiasi gamma.

Application of nuclear technology, especially gamma radiation, has become an important part of the medical field. Gamma radiation exposure can produce reactive oxygen species (ROS) which cause biological damage to normal cells. Antioxidants are chemical compounds that can prevent free radical chain reaction. This study has been focused to explore the capability some materials of garlic, petai, jengkol, tomatoes and N-acetylcystein (NAC) in counteracting free radicals caused by gamma radiation. This research was divided into 7 treatment groups, namely A (control), B (radiation), C(garlic+radiation), D(petai+radiation), E(jengkol+radiation), F(tomato+radiation) and G(NAC+radiation). Each group consists of 4 male rats. The irradiation were given after 8 days the suplement had been given. Detection of  malondialdehyde (MDA), glutathione (GSH), glutathione peroxidase (GPx), catalase (CAT), 8-hydroxy-2-deoxyguanosine (8-OHdG) by biochemical, and γ-H2AX foci by immunoflouresence assay were made from lymphocytes and plasma. The results showed that gamma radiation cause a significant increase in MDA, GSH, 8-OHdG concentration and the number of foci γH2AX and a significant decrease in GPx and CAT specific activity (p <0.05). Giving garlic extract, jengkol bean, tomato and NAC can significantly reduce free radicals due to gamma radiation. The conclusion is garlic, jengkol bean, tomato and NAC can protect mice against oxidative stress due to gamma radiation."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
T59172
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Achmad Gigih Andy Putra
"

Latar Belakang: Asupan protein yang rendah pada masa kehamilan dapat menyebabkan terjadinya intrauterine growth restriction (IUGR). IUGR berkaitan erat terhadap dislipidemia dan perubahan metabolisme lipid secara abnormal pada anak yang dilahirkan. Peningkatan asupan protein pada anak diharapkan mampu mengatasi kondisi tersebut. Moringa oleifera (MO) merupakan salah satu sumber makanan kaya nutrisi dan protein. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti efektivitas kandungan protein dari ekstrak etanol MO (EEMO) dalam mengatasi defisiensi protein pada anakan tikus dari induk defisiensi protein dengan mengamati profil lipid serta beberapa gen regulator metabolisme lipid di hati. Metode: Anakan tikus usia 3 minggu yang telah disapih dari induk yang mengalami defisiensi protein diberikan pakan rendah protein (protein 9%) dengan penambahan EEMO 400 mg atau 800 mg, atau diberikan pakan normal (protein 18%) selama 5 minggu. Kelompok pembanding adalah anakan dari induk tikus yang diberikan pakan normal tanpa pemberian EEMO. Pada akhir penelitian dilakukan pemeriksaan berat badan, pengukuran profil lipid darah dengan spektrofotometri, pemeriksaan ekspresi mRNA Fgf21, Pgc1a, Srebp1c, dan Srebp2 dengan menggunakan qRT-PCR, serta pemeriksaan ekspresi protein FGF21 di hati dengan imunohistokimia. Hasil: Pemberian EEMO tidak memberikan perbaikan kenaikan berat badan dibandingkan kelompok defisiensi protein (DP). Pemberian EEMO tidak meningkatkan kadar kolesterol total, trigliserida, dan HDL secara signifikan dibandingkan kelompok DP. Hanya EEMO 400 mg yang mampu menurunkan rasio TG/HDL dan EEMO 800 mg yang mampu meningkatkan kadar LDL secara bermakna terhadap kelompok DP. Pemberian EEMO tidak dapat menurunkan ekspresi mRNA Fgf21, Pgc1a, Srebp1c, dan Srebp2 di hati model hewan coba, namun pemberian EEMO 400 mg terbukti dapat menurunkan ekspresi protein FGF21 secara signifikan di hati. Kesimpulan: Pemberian ekstrak EEMO secara tunggal belum mampu memperbaiki kondisi dislipidemia dan perbaikan gen regulator metabolisme lipid di hati model hewan coba defisiensi protein.


Background: Low protein intake during pregnancy can cause intrauterine growth restriction (IUGR). IUGR is closely related to dyslipidemia and abnormal changes in lipid metabolism in offspring. It is hoped that increasing protein intake in offspring will overcome this condition. Moringa oleifera (MO) is rich in nutrients and protein. This study aims to examine the effectiveness of the protein content of ethanolic extract of MO (EEMO) in overcoming protein deficiency in rat offspring from protein-deficient mothers by observing the lipid profile and several lipid metabolism regulatory genes in the liver. Methods: After weaning from mothers with protein deficiency, three-weeks-old rat pups were given a low protein diet (9% protein) with the addition of EEMO 400 mg or 800 mg, or a normal diet (18% protein) for 5 weeks. The comparison group was offspring from mother rats that were given normal food without EEMO. At the end of the study, body weight was examined, blood lipid profile was measured using spectrophotometry, examination of Fgf21, Pgc1a, Srebp1c, and Srebp2 mRNA expression using qRT-PCR, and examination of FGF21 protein expression in the liver using immunohistochemistry. Results: EEMO administration did not improve weight gain compared to the protein deficient group (DP). Administration of EEMO did not significantly increase total cholesterol, triglyceride, and HDL levels compared to the DP group. Only EEMO 400 mg reduced the TG/HDL ratio and EEMO 800 mg increased LDL levels significantly compared to the DP group. Administration of EEMO could not reduce the expression of Fgf21, Pgc1a, Srebp1c, and Srebp2 mRNA in the liver of experimental animal models, however, administration of EEMO 400 mg was proven to reduce FGF21 protein expression in the liver significantly. Conclusion: The administration of EEMO extract alone has not been able to improve the condition of dyslipidemia and repair lipid metabolism regulatory genes in the liver of animal models of protein deficiency.

"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sigit Witjaksono
"Demam berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena marbiditasnya tinggi dan penyebarannya semakin luas. Pengobatan spesifik terhadap DBD sampai saat ini belum ada, sehingga pemberantasan DBD terutama dilakukan dengan pengendalian vektornya, yaitu Ae. aegypti.
Pengendalian Ae. aegypti antara lain dilakukan dengan menggunakan insektisida, yaitu temefos 1 % untuk stadium larva dan pengasapan dengan malation 4 % untuk nyamuk dewasa. Selain cara tersebut juga telah dilakukan pengendalian lingkungan untuk meniadakan tempat perindukan nyamuk dengan melaksanakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Namun demikian upaya ini belum memberikan hasil yang memadai karena jumlah kasus DBD masih tetap tinggi serta wilayah yang terjangkit semakin luas.
Pada tahun 1995, jumlah penderita DBD mencapai 25.000 penderita dan tersebar di seluruh propinsi di Indonesia. Di Jakarta selama lima tahun terakhir terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD pada tahun 1992, 1994, 1995 dan 1996 dengan jumlah kasus sebanyak 4000 penderita / pertahun dengan angka kematian lebih dari 1 %. Pada tahun 1997 pada bulan Januari sampai Mei terdapat 3000 orang penderita dengan 13 Orang meninggal dunia (Dep-Kes, 1997).
Karena upaya pengendalian DBD belum memberikan hasil yang memadai maka perlu cara lain untuk membantu program pemberantasan vektor DBD, antara lain dengan Teknik Jantan Mandul l Sterile Male Technique (TJM).
Teknik Jantan Mandul (TJM) merupakan teknik pemberantasan serangga dengan jalan memandulkan serangga jantan. Dasar teorinya adalah bila serangga betina hanya kawin satu kali dan perkawinan tersebut dengan serangga jantan yang mandul, maka keturunan tidak terbentuk (K.nipling, 1965). Serangga jantan mandul dilepas di lapangan dengan harapan dapat bersaing dengan jantan normal alam dalam berkopulasi dengan serangga betina. Serangga betina yang telah berkopulasi dengan jantan mandul dapat bertelur, tetapi telurnya tidak dapat menetas. Apabila penglepasan serangga jantan mandul dilakukan secara terus menerus, maka populasi serangga di lokasi penglepasan menjadi sangat rendah.
Pemanfaatan TJM telah dilakukan oleh Sharma et al (1972) di India dengan meradiasi pupa jantan Cx p. fatigans berumur 24 - 36 jam. Hasil percobaan tersebut menunjukkan bahwa dosis radiasi 60 Gy telah menyebabkan 99 % mandul. Hasil yang diperoleh oleh Sharma et al (1972) dilanjutkan dengan.pengujian lapangan oleh Rajagopalan et at (1973) di desa kecil Sultanpur di India. Di desa terdapat 200 rumah dan 1750 orang dan populasi nyamuk yang muncul setiap ha l diperkirakan 24.000 - 30.000 ekor. Rajagopalan (1973) meradiasi pupa jantan berumur 24 - 36 jam dengan dosis 60 Gy. Selanjutnya pupa tersebut diletakkan di pot-pot tanah sekitar rumah penduduk. Pupa jantan yang diradiasi berjurnlah 3 kali lebih banyak dari pada jantan normal."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cut Yura Addina
"Latar belakang: Kanker payudara merupakan kanker tersering dengan mortalitas kematian kelima tertinggi di dunia. Tamoksifen, terapi hormon lini pertama kanker payudara ditemukan kasus resisten pada sel kanker dengan ekspresi c-myc yang tinggi. C-myc adalah faktor transkripsi yang menginduksi proliferasi, diferensiasi, serta metastasis sel kanker. Penelitian terbaru telah menemukan lunasin, protein dari ekstrak kedelai yang dinilai memiliki berbagai efek antikanker. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui apakah lunasin dapat menurunkan ekspresi protein c-myc pada sel kanker payudara. Metode: Desain penelitian adalah true-experimental laboratorium dengan sampel preparat jaringan kanker payudara tikus tersimpan. Kelompok sediaan terdiri kelompok normal, kontrol negatif, kontrol positif, terapi kombinasi (lunasin dan tamoksifen) dan lunasin. Jaringan diwarnai secara imunohistokimia dengan diaminobenzinidie (DAB) dan antibodi anti-c-myc. Sediaan dipotret dengan mikroskop cahaya perbesaran 400 kali sebanyak 5 lapang pandang secara acak. Hasil berupa H-score ekspresi c-myc yang dihitung menggunakan software ImageJ dengan plugin immunohistochemistry (IHC) Profiler. Hasil: Kelompok dengan indeks H-score tertinggi berurutan adalah kontrol negatif (174), terapi tamoksifen, (149,4), terapi lunasin (146,6), kombinasi (138,6), dan normal (129,4). Ekspresi c-myc pada seluruh kelompok berbeda signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif. Perbandingan setiap dua kelompok juga berbeda signifikan kecuali antara kelompok kontrol positif dengan lunasin. Kesimpulan: Lunasin dari ekstrak kedelai menghambat ekspresi protein c-myc pada sel kanker payudara tikus yang diinduksi DMBA. Lunasin dan tamoksifen masing-masing mampu menurunkan ekspresi protein c-myc. Terapi kombinasi lunasin dan tamoksifen paling efektif menurunkan ekspresi c-myc sel kanker payudara

Introduction: Breast cancer is the most prevalent and the fifth leading cause of death in the world. Tamoxifen, the first-line hormone therapy, which is found to be resistant to breast cancer cells with high c-myc expression. C-myc is a transcription factor that induces the proliferation, differentiation, and metastasis of cancer cells. Recent research has discovered lunasin, protein derived from soybean extract that have anticancer activities. The aim of this study was to determine whether lunasin can reduce c-myc protein expression in breast cancer. Method: The study design is a true-experimental laboratory with stored rat breast cancer tissue samples. The group was consisted of normal group, negative control, positive control, combination therapy (lunasin and tamoxifen) and lunasin. Tissues were stained with anti-c-myc adnd was photographed with a light microscope equipped with a 400x magnification camera with 5 fields of view at random. The result is an H-score of c-myc expression which is calculated using Image J software with the immunohistochemistry profiler plugin. Result: The groups with the highest H-score value to the lowest, respectively, are negative control (174), positive control (149,4), lunasin therapy (146,6), combination therapy (138,6), and normal (129,4). The C-myc expression in all groups is significantly different compared to the negative control. Conclusion: Lunasin inhibits the expression of c-myc protein in DMBA-induced rat breast cancer. Lunasin and tamoxifen are each able to reduce c-myc expression. The most effective way to reduce c-myc expression on breast cancer cells is combination therapy (lunasin and tamoxifen)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Asti Harkeni
"Telah dilakukan rekonstruksi panjang obyek dan posisinya (x,y,z) secara manual menggunakan radiografi ortogonal pada pencitraan anterior/posterior dan lateral pada kasus brakiterapi intrakaviter. Pengukuran dilakukan menggunakan fantom akrilik brakiterapi berdimensi 34 x 34 x 34 cm3. yang disisipi oleh lempeng Pb dengan panjang dan posisi bervariasi. Diperoleh hasil rekonstruksi 70% dari semua titik pengamatan yang berada 10 cm dari titik pusat lapangan menghasilkan deviasi posisi sampai 20%. Untuk rekonstruksi panjang obyek kurang dari 6 cm dari titik isocenter, 56% data menghasilkan deviasi dari panjang real sampai 15%. Disimpulkan bahwa radiografi ortogonal untuk kegunaan rekonstruksi panjang obyek dan koordinat masih menghasilkan deviasi yang cukup besar.

Manual image reconstruction of object length and position by orthogonal radiography has been performed for anterior/posterior and lateral cases in intracavitary brachytherpy treatment planning. Measurement were done on self made acrylic brachytherapy phantom with 34x34x34 cm3 dimension where several lead slabs with different lengths were inserted at different positions. It has been obtained that 70% from all points which were located 10 cm from field center showed significant deviations reaching 20% from real positions. For reconstruction of object length positioned at less than 6 cm from isocenter also showed general deviations of up to 15% to real values.. It was therefore concluded that orthogonal radiography performed poorly in reconstructing object length and positions."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2006
T20869
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Husnul Fuad Albar
"Masih terdapat kontroversi dalam penanganan burst fracture pada tulang belakang bagian thoracolumbar. Tujuan utama dari penanganan pasien dengan burst fracture adalah reduction, stabilization dan fusion. Pada pasien dengan defisit neurologis akibat burst fracture, dekompresi dari canal spinalis rnerupakan tujuan utama dari pembedahan. Dekompresi anterior, strut graft dan instrumentasi anterior diindikasikan untuk penatalaksanaan unstable burst fracture. Sebaliknya instrumentasi posterior sering digunakan untuk penanganan burst fracture pada thoracolumbar spine. Penggunaan instrumentasi transpedicular semakin popular saat ini karena dapat menghasilkan fiksasi yang rigid yang menggunakan implant lebih pendek dengan segmental fixation dan fusi.
PSSW (Pedicle Screw Sublaminary Wiring) sistem instrumentasi posterior untuk tulang belakang yang dikembangkan di RSCM-FKUI. Instrumentasi ini menggunakan sekrup cortical 4,5 mm untuk pedicle screw dan soft wire 1,2 mm untuk sublaminary wiring.
Oleh karena itu kami melakukan penelitian yang membandingkan stabilitas antara instrumentasi anterior dan instrumentasi posterior berupa PSSW untuk membuktikan hypothesis bahwa fiksasi burst fracture dengan menggunakan PSSW akan memberikan fiksasi yang minimal setara dengan instrumentasi anterior terhadap gaya axial."
Depok: Universitas Indonesia, 2006
T18019
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kania Liespahlevi Sabri
"Latar belakang: Proses pematangan spermatozoa membutuhkan interaksi antar protein yang disintesis dan disekresikan oleh epitel epdidimis ke lumen di area tertentu. Gen yang terekspresi secara spesifik di region-region tertentu akan menciptakan lingkungan mikro yang kondusif untuk proses pematangan spermatozoa. Spink2 adalah salah satu gen yang diketahui berperan dalam pematangan spermatozoa yang ekspresinya terdekteksi di epididimis. Studi peran SPINK2 membutuhkan protein yang cukup untuk karakterisasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengklon, mengekspresikan, dan menguji aktivitas protein rekombinan SPINK2.
Metode: Dalam penelitian ini gen mSpink2 dikonstruksikan secara sintetis. Plasmid pQE80L digunakan sebagai vektor ekspresi dan strain sel Escherichia coli yang digunakan adalah Top10 dan BL21. Proses pengklonaan diawali dengan transformasi plasmid pQE80L-mSpink2 ke E. coli Top10 kompeten menggunakan metode heatshock. Proses ekspresi dilakukan dengan penambahan agen induksi Isopropyl-1-Thio-d-Galactopyranoside (IPTG), dipurifikasi dengan kromatografi Ni-NTA. Kemudian dilakukan uji aktivitas protease dengan pembacaan panjang gelombang 660 nm.
Hasil: Plasmid pQE80L-mSpink2 terkonfirmasi berhasil diklon dengan analisis enzim restriksi dan sekuensing. Hasil elekstroforesis menunjukan adanya fragmen DNA dengan panjang 4709 pb dan 258 pb. Hasil ekspresi SDS-PAGE dan western blot menunjukkan SPINK2 berhasil terekspresi pada waktu optimum induksi jam ke-4 dan terdapat pita tebal dengan ukuran 14 kDa. Protein rekombinan SPINK2 berhasil dipurifikasi dan ditunjukan dari hasil western blot pada elusi ke-1 hingga ke-4. Hasil uji aktivitas protease menunjukan terdapat penurunan aktivitas enzim tripsin setelah diberi protein rekombinan SPINK2 dengan konsentrasi optimum 0,6 mM.
Kesimpulan: Protein rekombinan SPINK2 telah berhasil dikonstruksi secara sintetis, diklon pada vektor plasmid pQE80L, diekspresikan pada E.coli strain BL21 kompeten, dan diketahui dapat menghambat aktivitas enzim protease dengan konsentrasi 0,7 mM.

Background: The process of spermatozoa maturation requires interaction between proteins synthesized and secreted by the epididymal epithelium to the lumen in a particular area. The interaction between these protein produces a microenvironment for maturation process of spermatozoa. In this condition, it takes genes that are specifically expressed. Spink2 in one of the genes known have a role in the maturation of spermatozoa and expressed in the epididymis. The SPINK2 role study requires sufficient protein for characterization. The aim of this study was to clone, express, and protease assay of the recombinant protein SPINK2.
Methods: In this study the mSpink2 gene was constructed synthetically. The plasmid pQE80L was used as an expression vector and the cell Escherichia coli strains used were Top10 and BL21. The cloning process begins with transformation of the plasmid pQE80L-mSpink2 to a competent E. coli Top10. The expression process was carried out by adding the induction agent Isopropyl-1-Thio-d-Galactopyranoside (IPTG), purified by Ni-NTA chromatography. Then the protease activity assay was carried out with a wavelength 660 nm.
Results: The plasmid pQE80L-mSpink2 was confirmed to be cloned by restriction enzyme and sequencing analysis. The result showed that is formation of DNA with a length of 4709 bp and 258 bp. The SDS-PAGE and western blot result showed that SPINK2 was successfully expressed at the optimum time is 4th hour. There was a thick band with a size of 14 kDa. The SPINK2 recombinant protein was successfully purified and shown form the western blot. The result of the protease activity assay showed that there was a decrease in trypsin enzyme activity after being given SPINK2 recombinant protein with an optimum concentration is 0,6 mM.
Conclusion: Recombinant protein of SPINK2 has been successfully constructed synthetically, cloned, expressed, and tested for its protease inhibitor activity
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Soehartati Argadikoesoemo Gondhowiardjo
"Karsinoma Nasofaring (KNF) merupakan salah satu jenis keganasan yang sering ditemukan di Indonesia.' Data yang diperoleh dari registrasi kanker berdasarkan Patologi di Indonesia pada tahun 1991 menunjukkan adanya 1059 (5,6%) kasus KNF di antara 18,770 kasus keganasan. Hal ini menempatkan KNF pada urutan ke empat setelah karsinoma mulut rahim, payudara, dan kulit.
Di Sub.Bagian Radioterapi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) I Rumah Sakit Umum Pusat Nasional - Cipto Mangunkusumo (RSUPN-CM) dalam kurun waktu 5 tahun, periode 1980 - 1984, terdapat 748 pasien KNF. Angka ini menyatakan bahwa KNF merupakan kasus ke tiga terbanyak setelah keganasan mulut rahim dan payudara. Sejumlah 74,5% kasus datang pada stadium IV, 18,6% kasus pada stadium III dan hanya 6,9% di antaranya yang berada pada stadium I dan 1I.' Data dari Bagian Telinga, Hidung dan Tenggorok (THT) FKUII RSUPN-CM memperlihatkan bahwa KNF merupakan kasus keganasan terbanyak (71,8%) dari semua jenis keganasan THT yang dijumpai.
Jenis keganasan ini sangat jarang ditemukan di daratan Eropa dan Amerika Utara, yaitu dengan angka kejadian kurang dari 1 di antara 100,000 penduduk. Sebaliknya, di daerah Asia Timur dan Tenggara didapatkan angka kejadian yang tinggi, bahkan angka kejadian tertinggi di dunia terdapat di propinsi Cina Tenggara, yaitu sebesar 40-50 kasus KNF di antara 100.000 penduduk."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
D43
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kusmiati
"Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas produk beta-1,3 glukan hasil ekstraksi dari Agrobacterium sp Bro 1.2.1 isolat lokal galur tipe liar dan galur tipe mutan terhadap penyembuhan luka terbuka pada hewan coba tikus putih galur Sprague Dawley yang dibuat luka terbuka. Ekstraksi produk beta-1,3 glukan dilakukan dengan cara pengendapan dan dilanjutkan dengan pemurnian pada kromatografi kolom sebagai fraksi gradien KCl. Percobaan uji aktivitas dibagi menjadi tujuh kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif, kontrol positif dengan Povidon iodium, dua kelompok dari dua produk beta-1,3 glukan komersil dengan dosis masing-masing 0,02 mg/4 cm2 , tiga kelompok beta-1,3 glukan uji dengan dosis masing-masing yaitu 0,02 mg/4 cm2, 0,10 mg/ 4 cm2 dan 0,5 mg/ 4 cm2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara kontrol negatif dengan kontrol positif dan kelompok uji pada dosis tertinggi 0,5 mg/4 cm2 dibandingkan kelompok kontrol negatif dan kontrol positif (p<0.05) menggunakan analisis statistik beda nyata terkecil.

Production of beta-1,3 glucan from Agrobacterium and its wound healing activity on white rat. The objective of this study was to determine the activity of beta-1,3 glucan product extracted from local Agrobacterium sp Bro 1.2.1, both wild-type and mutant-type, on opened-wound healing process. Beta-1,3 glucan product was extracted by precipitation, and the purification was carried out by column chromatography as KCl gradient fractions. In this study, white Sprague Dawley rats were employed, and have been treated for opened-wound condition. Seven groups were performed in this experiment, i.e. the negative control, the positive control employing povidone iodine, the two groups of two commercial beta-1,3 glucan with 0,02 mg/4 cm2 each, and the last three groups of beta-1,3 glucan as the test group with 0,02 mg/4 cm2, 0,10 mg/4 cm2 and 0,50 mg/4 cm2, respectively. The result showed significant differences of wound-healing activity performing statistical analysis of the least significance between the negative control, the positive control, as well as the highest dose of the test group of beta-1,3 glucan, at the dose of 0,5 mg/4 cm2 (p<0.05)."
Depok: Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, 2006
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>