Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 72200 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Listyati Herdito
"In general, many studies have shown the association between TB and malnutrition. However, the mechanism between nutritional status and host defense in TB remains unclear, particularly the role of antioxidant status. This study was undertaken to investigate the antioxidant level (vitamin C, β-carotene, α-tocopherol), food intake and nutritional status in active pulmonary TB patients and healthy subjects."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002
T2736
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lumbantobing, Christin Santun Sriati
"ABSTRAK
Pasien skizofrenia cenderung berisiko mengalami gangguan metabolik karena
risikonya yang cukup tinggi untuk mengalami obesitas. Obesitas meningkatkan
risiko morbiditas dislipidemia dan risiko mortalitas kardiovaskuler. Risiko
obesitas pada pasien ini diyakini disebabkan oleh beberapa faktor yang
berhubungan dengan penyakit skizofrenia itu sendiri, efek samping antipsikotik,
diet dan pola gaya hidup yang tidak sehat, seperti tingkat aktivitas yang rendah,
kebiasaan merokok, dan mengonsumsi alkohol. Penelitian potong lintang
dilakukan di Poliklinik Jiwa Dewasa RSUPN Cipto Mangunkusumo pada bulan
Mei−Juni 2014 untuk menilai tentang profil lipid pada pasien skizofrenia serta
korelasinya dengan indikator status gizi dan pola gaya hidup. Sebanyak 47 subjek
berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian protokol penelitian. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa kadar trigliserida pada pasien skizofrenia berkorelasi dengan
indeks massa tubuh (r=0,29, p<0,05) dan lingkar pinggang (r=0,34, p<0,05).
Kadar kolesterol HDL berkorelasi negatif dengan konsumsi rokok harian (r=-0,35,
p<0,05). Sebagian besar subjek pada penelitian ini memiliki profil lipid dalam
batas normal, namun perlu diperhatikan bahwa 80,8% subjek memiliki indeks
massa tubuh melebihi normal dan 74,5% subjek mengalami obesitas sentral.
Diperlukan penelitian lebih lanjut mengingat keadaan obesitas khususnya obesitas
sentral berhubungan erat dengan risiko morbiditas dislipidemia dan risiko
mortalitas kardiovaskuler

ABSTRACT
Patients with schizophrenia tend to be at risk of metabolic disorders because of
their higher risk of obesity. Obesity increases the risk of morbidity of
dyslipidemia and cardiovascular mortality risk. The risk of obesity in these
patients is believed to be caused by several factors associated with schizophrenia
itself, antipsychotic side effects, poor diet, and unhealthy lifestyle, such as low
levels of activity, smoking, and alcohol consumption. A cross-sectional study was
conducted in Adult Mental Clinic RSUPN Cipto Mangunkusumo in May−June
2014 to assess on lipid profile in patients with schizophrenia and their correlation
with indicators of nutritional status and lifestyle patterns. A total of 47 subjects
successfully completed the entire series of the study protocol. The results showed
that triglyceride levels in schizophrenic patients were correlated with body mass
index (r = 0.29, p <0.05) and waist circumference (r = 0.34, p <0.05). HDL
cholesterol levels were negatively correlated with daily cigarette consumption (r =
-0.35, p <0.05). Most of the subjects in this study had a lipid profile within the
normal range, but it should be noted that 80.8% of the subjects had a body mass
index above normal and 74.5% of the subjects had central obesity. Further
research is needed in view of the state of obesity especially central obesity is
closely related to morbidity risk of dyslipidemia and cardiovascular mortality risk."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanto Ciputra
"Latar belakang. Transfusi trombosit ditujukan untuk mencegah dan mengatasi perdarahan pada pasien trombositopenia. Trombosit dapat mengalami aktivasi walaupun tidak terjadi perdarahan sehingga dapat menimbulkan suatu keadaan yang disebut hiperagregasi seperti pada trombosit dari seseorang dengan hiperlipidemia. AABB menganjurkan untuk membuang semua produk darah yang berasal dari donor dengan plasma yang lipemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh status lipid donor trombosit aferesis terhadap fungsi trombosit dan kadar malondialdehid selama penyimpanan.
Metodologi. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik pada 31 sediaan trombosit aferesis yang berasal dari donor trombosit aferesis yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sediaan trombosit aferesis dibagi menjadi dua grup, yaitu grup hiperlipidemia dan normolipidemia. Dilakukan pengujian terhadap kandungan trombosit, fungsi agregasi dan kadar MDA pada hari pertama, kedua dan keempat penyimpanan.
Hasil. Terjadi peningkatan kandungan trombosit selama penyimpanan pada kedua grup, yang berhubungan dengan proses apoptosis. Pada hari keempat terjadi kenaikan kandungan trombosit yang lebih banyak pada grup hiperlipidemia. Pada hari kedua didapatkan perbedaan yang bermakna pada agregasi trombosit dengan agonis ADP 2 μM. Pada hari keempat didapatkan perbedaan kadar MDA yang bermakna. Didapatkan korelasi yang positif dan bermakna antara kolesterol total, LDL dan trigliserida terhadap kadar MDA. Tidak didapatkan korelasi yang bermakna antara kolesterol total, trigliserida dan kadar MDA terhadap agregasi trombosit.
Simpulan. Status lipid donor meningkatkan terjadinya apoptosis trombosit aferesis, lebih sensitif terhadap agonis ADP dan peningkatan kadar MDA. Perlunya mengingatkan donor trombosit aferesis untuk diet rendah lemak sebelum proses aferesis dilaksanakan. Perlunya penelitian lebih lanjut untuk menentukan kadar lipid yang masih dapat ditoleransi.

Background. Platelet transfusions is intended to prevent and resolve bleeding in patients with thrombocytopenia. Platelet activation may have occured although there were no bleeding that can lead to a condition called hyperaggregation as in someone with hyperlipidemia. AABB recommends to dispose of all products from donors with plasma lipemia. This study aimed to determine the effect of lipid status of the donor platelet apheresis to platelet function and levels of malondialdehyde with in storage.
Methodology. This study used descriptive analytic design in 31 platelet apheresis concentrates. Samples were divided into two groups, hyperlipidemia and normolipidemia. The assay for the content of platelets, aggregation functions and levels of MDA was tested on the first day, second and fourth of platelet storage.
Results. An increase in the content of platelets during storage in both groups, which are associated with the process of apoptosis. On the fourth day there was higher of contents platelets in hyperlipidemic grup than normolipidemic grup. There were significant difference in platelet aggregation with ADP 2 μM at second day and levels of MDA at fourth day. There were positive and significant correlations between total cholesterol, LDL and triglyceride to the levels of MDA. There were no significant correlation between total cholesterol, triglycerides and MDA levels to platelet aggregation.
Conclusion. Improved of the lipid status of the donor platelet apheresis will increase platelet apoptosis, more sensitive to agonist ADP and increase MDA levels. The need to remind donors platelet apheresis to a low fat dietary before apheresis process implemented. Need for further research to determine the lipid levels that can still be tolerated.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
"Latar belakang: Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan penyakit genetik multifaktorial, bersifat endemik dan mempunyai perbedaan signifikan dalam distribusi geografi s. Selain faktor virus Epstein Barr (EBV), insiden KNF juga dipengaruhi oleh faktor genetik seperti polimorfi sme gen reseptor sel T lokus β (TCR-β). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan polimorfi sme gen TCR-β dengan suseptibilitas individu untuk berkembang menjadi KNF pada populasi Indonesia. Metode: Penelitian dilakukan dengan teknik PCR-RFLP menggunakan enzim restriksi Bgl II pada gen TCR-β. Analisis PCR-RFLP gen TCR-β digunakan untuk mendeterminasi alotip gen TCR-β pada penderita KNF dan kontrol dan pada kelompok etnis Cina dan pribumi dalam populasi Indonesia. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi alotip gen TCR-β pada penderita KNF dan kontrol tidak berbeda bermakna (p > 0,05). Frekuensi alel A meningkat pada penderita KNF. Distribusi alotip gen TCR-β antara etnis Cina dan kelompok pribumi tidak memperlihatkan perbedaan bermakna (p> 0,05). Kesimpulan: Distribusi alel gen TCR-β antara kelompok KNF dengan kelompok kontrol tidak menunjukkan perbedaan. Distribusi alel gen TCR-β antara etnis Cina dan pribumi tidak menunjukkan perbedaan. Polimorfi sme gen TCR-β tidak berhubungan dengan KNF dan etnis pada populasi Indonesia.

Abstract
Background: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is a multifactorial genetic disease, characteristically endemic and shows considerable differences in its geographical distribution. Besides infection with EBV, genetic factors such as polymorphisms of TCR-β gene contribute to the incidence of NPC. This study investigates the association of TCR-β gene polymorphisms with individual susceptibility to develop NPC in Indonesian ethnic groups. Methods: The study was carried out by the PCR-RFLP method using Bgl II restriction enzyme to digest TCR-β gene. The PCR-RFLP analysis of TCR-β gene was used to determine allotypes of TCR-β gene in NPC patients and control among ethnic Chinese and indigenous groups in the population of Indonesia. Results: The results indicate that the distribution of TCR-β gene allotypes between NPC patients and controls are not signifi cantly different (p > 0.05); however, the frequency of A allele tends to increase in NPC patients. The distribution of TCR-β gene allotypes between Chinese ethnic group was not signifi cantly different from indigenous groups (p > 0.05). Conclusion: The distribution of TCR-β gene allele between NPC group and control groups showed no difference. The distribution of TCR-β gene between ethnic Chinese and indigenous groups showed no difference. Polymorphisms of TCR-β gene are not associated with NPC and ethnic groups in Indonesian population. "
[Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia], 2011
pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Syarif Husin
"Tujuan : Untuk mengetahui gambaran status vitamin B-12, asam folat, nutrisi dan profit lipid serum pada lanjut usia, agar dapat dimanfaatkan untuk pertimbangan pencegahan dan terapi penyakit jantung ; coroner (PJK) dan aterosklerosis.
Tempat : Sepuluh puskesmas kecamatan di Jakarta Selatan,
Cara : Studi cross-sectional pada lanjut usia z 60 tahun, subjek dipilih secara acak pada tingkat puskesmas. Data yang dikumpulkan meliputi sosio-demografi; pola makan; asupan energi, karbohidrat, lemak, protein, kolesterol, vitamin B-12, asam folat; kadar vitamin B-12; asam folat dan lipid serum, indeks massa tubuh (A.fl) dan rasio LPe-LPa.
Hasil : Prevalensi kekurangan vitamin B-12 serum 34,6% dan kekurangan asam folat serum 34,0%. Konsentrasi vitamin B-12 serum dan asam folat serum pada pria lebih rendah dari wanita. Pada pria dan wanita vitamin B-12 serum kelompok umur z 70 tahun lebih rendah dibanding kelompok umur 60-69 tahun. Prevalensi hiperkolesterolemia dan kolesterol LDL serum yang tinggi (z 160 mg/dL) adalah, 42,6% dan 24,1%. Pada pria dan wanita kolesterol total serum pada kelompok umur z 70 tahun lebih rendah dibanding kelompok umur 60-69 tahun. Di lain pihak kolesteroI HDL serum pada pria dan wanita kelompok umur Z 70 tahun lebih tinggi dibanding kelompok umur 60-69 tahun. Rata-rata IMl' untuk pria 23,9 dan wanita 24,1 dan rata-rata rasio LPe-LPa untuk pria 0,93 dan wanita 0,85. Pada lanjut usia dengan konsentrasi vitamin B-I2 serum < 350 pg/mL berkorelasi positif dengan kolesterol HDL serum (r = 0,29; P = 0,03), tetapi tidak berkorelasi dengan kolesterol total serum, kolesterol LDL serum, rasio kolesterol total/ kolesterol HDL dan rasio kolesterol LDLlkolesterol HDL. Di lain pihak lanjut usia dengan konsentrasi vitamin B-I2 serum Z 350 mg/mL tidak berkorelasi dengan lipid serum.
Kesimpulan : Melalui pendekalan faktor resiko PiK, prevalensi kekurangan vitamin B-12 dan kekurangan asam folat di Indonesia relatif tinggi dan sesuai dengan penelitan-penelitian yang telah dilakukan di negara-negara maju. Interaksi antara vitamin B-12 serum dan lipid serum belum dapat ditentukan sebagai interaksi yang linier tanpa adanya informasi mengenai homosistein serum. Kecukupan vitamin B-12 serum untuk lanjut usia sangatlah esensial untuk memperkecil terjadinya dislipidemia sebagai salah satu faktor resiko PJK.

Objective : To determine vitamin B-l2, folic acid, anthropometric and serum lipid profiles of the Indonesian elderly which are considered to be important in the prevention and treatment of coronary atherosclerosis.
Place : Ten PHC in the district of South Jakarta.
Methods : A cross-sectional study on the elderly (z 60 year) was carried out in 10 PHCs, Subjects were drawn randomly at the PHC levels. Data collected were sosio-demography; food habits; intakes of energy, carbohydrate, fat, protein, cholesterol, vitamin B-12, and folic acid; serum vitamin B-12, serum folic acid, serum lipids; anthropometry [body mass index (BMI) and waist-hip ratio].
Results : The prevalence of biochemical vitamin B-12 and folic acid deficiencies were 34.6% and 34.0% respectively. Serum vitamin B-12 and folic acid concentrations of the elderly men were lower than those of the elderly women. Serum vitamin B-12 of both elderly men and women aged Z 70 years was lower than their younger counterparts aged 60-69 years. The prevalence of hypercholesterolemia and high serum LDL cholesterol (z 160 mg/di.) was 42.6% and 24.1% respectively. Mean serum total cholesterol of both elderly men and women aged z 70 years was lower than those aged 60-69 years old. On the other hand, serum HOL cholesterol of both elderly men and women aged z 70 years was higher than their younger counterparts aged 60-69 years. Mean BMI values were 23.9 kglm2 for the elderly men and 24,1 kglrn2 for the elderly women. Mean waist-hip ratios for the elderly men and women were 0.93 and 0.85 respectively, In the elderly subjects with low serum vitamin B-12 (< 350 pg/mL), positive correlations were found between serum vitamin B-12 and serum HDL cholesterol (r 0.29; P = 0.03), but not with any of serum total cholesterol, serum LDL cholesterol, total cholesterol/HDL cholesterol ratio, and LDLIHDL ratio. On the other hand, in the elderly subjects with normal and high serum vitamin B-12 (z 350 pglmL), there were no correlations between serum vitamin B-I2 and serum lipids.
Conclusions: Using the CHD-risk approach, the prevalence of biochemical vitamin B-12 and folic acid deficiencies of the Indonesian elderly was relatively high and comparable with existing studies in developed countries. Without information on serum homocysteine concentration, the interactions between serum vitamin B-12 and lipids were not linear. Clearly, adequacy of serum vitamin B-12 for the elderly is essential to minimize disorder of lipid metabolism as one amongst other CHD risk factors.
"
1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rusdi
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian: Pre-eklampsia merupakan kelainan kehamilan dengan gejala meningkatnya tekanan darah. Salah satu teori yang mencoba menjelaskan terjadinya patofisiolgi pre-eklampsia adalah rusaknya endotel akibat serangan radikal bebas dan menurunnya antioksidan dalam tubuh. Kerusakan jaringan endotel mengaktivasi netrofil untuk menghasilkan radikal oksigen dan juga mengaktivasi trombosit. Selanjutnya kerusakan endotel, netrofil, dan trombosit berinteraksi menyebabkan reaksi pembekuan darah dan memperkuat vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan kerusakan jaringan makin meningkat. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional untuk meneliti kadar peroksida lipid plasma, status antioksidan total, dan vasokonstriksi pembuluh darah plasenta fetalis pada penderita pre-eklampsia. Pengukuran kadar peroksida lipid dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 530 nm dengan trichloroacetic acid (TCA) 20 % untuk mempresipitasikan protein dan, thiobarbituric acid (TEA) 0,67 % sebagai kromogen. Pengukuran status antioksidan total dengan spektrofotometer pada panjang glombang 600 nm dengan kit dari Randox. Vasokonstriksi pembuluh darah merupakan rasio antara lumen pembuluh darah dibagi dengan lumen pembuluh darah ditambah 2 tebal dinding pembuluh darah. Data dianalisis dengan uji t independen, uji korelasi sederhana yang dilanjutkan ke uji Z Fisher setelah sebelumnya diuji normalitas data dengan uji Kolmogorov Smirnov dan uji kesamaan variansi dengan uji F pada alfa 0.05.
Hasil dan Kesimpulan: Dari penelitian ini diperoleh basil (1) kadar peroksida lipid plasma lebih tinggi pada penderita pre-eklampsia dibanding pada wanita hamil normal (p < 0.01), (2) status antioksidan total pada penderita pre-eklampsia tidak lebih rendah dibanding pada wanita hamil normal (p > 0.05), (3) vasokonstriksi pembuluh darah plasenta fetalis pada penderita pre-eklampsia lebih kuat dibanding pada wanita hamil normal (p < 0,01), (4) tidak terdapat hubungan berbanding terbalik antara kadar peroksida lipid plasma dengan status antioksidan total (p > 0,05), koefisien korelasi antara kadar peroksida lipid dengan status antioksidan total pada penderita pre-eklampsia dan wanita hamil normal tidak berbeda bermakna (p > 0,05), (5) terdapat hubungan berbanding terbalik antara kadar peroksida lipid dengan vasokonstriksi pembuluh darah plasenta fetalis (p < 0,05), terdapat perbedaan koefisien korelasi antara kadar peroksida lipid plasma dengan vasokonstriksi pembuluh darah plasenta pada penderita pre-eklampsia dan wanita hamil normal (p < 0,05)."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T6399
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faqih Ruhyanudin
"Kanker adalah pertumbuhan sel baru yang tidak terkontrol, mampu menyebar dan menginvasi sehingga mengancam kehidupan. Insiden kanker dilaporkan dari tahun ke tahun terjadi peningkatan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas kanker.
Karya Ilmiah Akhir (KIA) ini adalah sebagai laporan praktik residensi keperawatan medikal bedah peminatan onkologi di RS Kanker Dharmais Jakarta. Karya ilmiah ini berisi tentang: (1) penerapan teori Peaceful End of Life (PEOL) pada pasien kanker tyroid, (2) penerapan RIDcancerPain untuk menurunkan nyeri sebagai Evidence Based Nursing Practice (EBNP), (3) proyek inovasi integrasi ESAS kedalam pengkajian pasien rawat inap.
Kesimpulan: bahwa teori peaceful end of life tepat digunakan dalam perawatan paliatif pasien kanker. Intervensi edukasi dengan pendekatan RIDcancerPain dapat digunakan sebagai salah satu alternatif pilihan manajemen nyeri nonfarmakologi. Instrumen ESAS memerlukan kompilasi dengan instrumen pengkajian lain agar mendapatkan data yang komprehensif.

Cancer is an uncontrolled new growth of the cell which capable of metastasis and invasion that threatens host survival. The incidence of cancer reported from year to year there was an increase. Various attempts have been made to decrease the morbidity and mortality of cancer.
Method: The paper is a report medicalsurgical nursing practice residency specialization in oncology at Dharmais Cancer Hospital in Jakarta. Its consists of: (1) a report on the nursing care of thyroid cancer patients with peaceful end of life theory approach focused on not being in pain, experience of comfort, experience of dignity and respect, being at peace, and closeness to significant others. (2) the application of RIDcancerPain to reduce pain as the evidence based nursing practice (EBNP), (3) the innovation project of the integration of an ESAS into assessment inpatients.
Conclusion: The peaceful end of life theory is suitable for used in the palliative care. Educational intervention with RIDcancerPain approach can be used as an alternative of the non-pharmacological pain management. ESAS is requires compilation with other assessment instruments in order to obtain comprehensive data.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Thyrza Laudamy Darmadi
"Karsinoma kandung kemih merupakan keganasan nomor empat terbanyak. Dampak beban ekonomi karsinoma kandung kemih cukup nyata, sehingga diperlukan deteksi dini keganasan kandung kemih untuk menurunkan beban ekonomi. Sistoskopi merupakan pemeriksaan baku emas untuk identifikasi karsinoma kandung kemih, tetapi pemeriksaan tersebut invasif dan menyebabkan ketidaknyamanan bagi pasien. Sitologi urin tidak invasif, tetapi hasilnya tidak bisa didapatkan dengan cepat dan terdapat ketergantungan interpretasi pemeriksa.Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan nilai diagnosis dua penanda tumor, yaitu ELISA NMP-22, ELISA UBC urin, serta kombinasi keduanya pada pasien karsinoma kandung kemih. Penelitian uji diagnostik ini terdiri dari 25 orang pasien dengan indikasi sistoskopi dan trans ureteral resection bladder tumor (TUR-BT)/biopsi tumor. Pasien yang memenuhi kriteria masukan dan tolakan dilakukan pengambilan urin pasien kemudian dilakukan pemeriksaan ELISA NMP-22 dan ELISA UBC urin. Hasil pemeriksaan ELISA NMP-22 dan ELISA UBC urin akan dibandingkan dengan pemeriksaan sistoskopi disertai dengan hasil histopatologi.Permeriksaaan ELISA NMP-22 urin dengan cut-off 10 U/ml mempunyai sensitivitas 62,3% dan spesifisitas 83,3%, nilai prediksi positif 81,8% dan nilai prediksi negatif71,4%,likelihood ratio positif3,73 dan likelihood ratio negatif0,45. Jika kasus sistitis dieksklusi maka didapatkan sensitivitas adalah 69,2%, spesifisitas 75%, nilai prediksi positif 81,8%, nilai prediksi negatif 60%, likelihood ratio positif 2,76 , likelihood ratio negatif0,42. Pemeriksaan ELISA UBC dengan cut-off 12 ug/Lmempunyai sensitivitas 38,5% dan spesifisitas 91,7%, nilai prediksi positif 83,3% dan nilai prediksi negatif57,9%,likelihood ratio positif4,63 dan likelihood ratio negatif0,67. Jika kasus sistitis dieksklusi maka didapatkan sensitivitas adalah 38,5%, spesifisitas 87,5%, nilai prediksi positif 83,3%, nilai prediksi negatif 46,7%, likelihood ratio positif 3,08 , likelihood ratio negatif0,70. Kombinasi pemeriksaan ELISA NMP-22 dengan UBC urin mempunyai sensitivitas 76,9% dan spesifisitas 75%, nilai prediksi positif 76,9% dan nilai prediksi negatif75%,likelihood ratio positif3,08 dan likelihood ratio negatif0,31. Jika kasus sistitis dieksklusi maka didapatkan nilai sensitivitas adalah 78,5%, spesifisitas 71,4 %, nilai prediksi positif 84,6 %, nilai prediksi negatif 62,5%, likelihood ratio positif2,74 , likelihood ratio negatif0,30. Kami menyimpulkan kombinasi pemeriksaan ELISA NMP-22 dengan ELISA UBC urin lebih baik karena mempunyai sensitivitas paling tinggi sehingga adanya tumor di kandung kemih baik primer maupun rekuren tidak akan luput dari diagnosis, meskipun harus dipastikan lagi dengan pemeriksaan sistoskopi.

Bladder cancer is the forth most common cancer. Bladder cancer posseses a significant economic burden so that early detection of baldder cancer may decrease the economic burden. Cystoscopy is the reference standard for identification of bladder carcinoma, but it is invasive andcauses significant discomfortto the patient. Urinary cytology is noninvasive but time consuming and hampered by inter-observer variations. The aim of this study is to compare the diagnostic value of the urine NMP-22 ELISA test, UBC-ELISA test and combination of both tests on suspect bladder carcinoma patients.This diagnostic study included25 patients who were indicated for cystoscopy and trans uretheral resection bladder tumor / tumor biopsy. From patients who met requirements for the inclusion and exclusion criteria, the urine voided sample was taken and used for NMP-22 ELISA test and UBC ELISA test. The results of NMP-22 ELISA test and UBC ELISA test were evaluated against the cystoscopy and histological findings as the reference standard.The result of diagnostic study of NMP-22 ELISA test with cut-off 10 U/mlshowed that it had a sensitivity of 62,3% and a specificity of 83,3%, a positive predictive value of 81,8% and a negative predicitive value of 71,4%, a positive likelihood ratio of 3,73 and a negative likelihood ratio of 0,45. If the cystitis case was excluded, it had a sensitivity of 69,2%, and a specificity of 75%, a positive predictive value of 81,8%, and a negative predicitive value of 60%, a positive likelihood ratio of 2,76 , and a negative likelihood ratio of0,42. Diagnostic value of UBC ELISA test with cut-off 12 ug/L had a sensitivity of 38,5% and a specificity of 91,7%, a positive predictive value of 83,3% and a negative predicitive value of 57,9%, a positive likelihood ratio of 4,63 and a negative llikelihood ratio of 0,67. If the cystitis case was excluded, it had a sensitivity of 38,5%, and a specificity of 87,5%, a positive predictive value of 83,3%, and a negative predicitive value of 46,7%, a positive likelihood ratio of 3,08 , and a negative likelihood ratio of0,70.Diagnostic value of combined NMP-22 ELISA test with UBC ELISA test had a sensitivity of 76,9% and a specificity of 75%, a positive predictive value of 76,9% and a negative predicitive value of 75%, a positive likelihood ratio of 3,08 and a negative llikelihood ratio of0,31. If the cystitis case was excluded, it had a sensitivity of 78,5%, and a specificity of 71,4%, a positive predictive value of 84,6%, and a negative predicitive value of 62,5%, a positive likelihood ratio of 2,74 , and a negative likelihood ratio of0,30.The conclusion was that the combined NMP-22 ELISA test with UBC test had the highest sensitivity, thus itwould not miss any primary or recurrent tumour in the bladder, although this neededto be confirmed by cystoscopy."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>