Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 165310 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Effi Setiawati
"Dehidroepiandrosteron (DHEA) dan konjugat sulfatnya (DHEAS) adalah hormon steroid adrenal yang paling banyak diproduksi di dalam tubuh manusia. DHEA merupakan salah satu prekursor utama pads biosintesis hormon steroid endogen. Zat ini walaupun diklasifikasikan sebagai androgenik lemah dapat membentuk androgenik kuat sesuai jalur metabolismenya melalui androstenedion menjadi testosteron dan 5a-dihidrotestosteron (5a-DHT). Oleh sebab itu, maka mulai Januari 1997 penggunaan DHEA eksogen ini dimasukkan ke dalam daftar anabolik steroid androgenik sebagai doping bagi atlet oleh International Olympic Committee (IOC). Di Indonesia steroid ini dapat dibeli secara babas tanpa resep dokter sebagai suplemen atau health food. Untuk mengetahui pengaruh pemberian DHEA eksogen terhadap beberapa hormon steroid androgenik dan untuk melihat apakah terdapat suatu perubahan yang signifikan dan konsisten pada rasio metabolit setelah pemberian DHEA eksogen, dilakukan penelitian terhadap pengaruh pemberian DHEA terhadap beberapa metabolit hormon steroid androgenik dalam urine yaitu konjugat glukuronat dari testosteron (T), epitestasteron (Epi-T), 5a-androstan-3a,1713-dio1 (5a-diol), 5¢-androstan-3a-17P-dio1 (50-dio1), androsteron (A), etiokolanolon (Elio), DIVA dan konjugat sulfat dari DHEA (DHEAS), yang ditunjukkan pads perubahan rasio yang terjadi pada metabolit tersebut. Rasio metabolit yang diteliti adalah rasio TfEpiT, AJEtio, 5a-dio1J5~3-dial, DHEASIDHEA glukuronat dan AIT. Penelitian ini melibatkan 13 sukarelawan pria, bangsa Indonesia, memenuhi kriteria inidusi yaitu berbadan sehat, berumur 20 - 30 tahun, tidak minuet obat atau vitamin apapun serta makanan yang diduga mengandung hormon minimal dua minggu sebelum penelitian dilaksanakan dan selama penelitian berlangsung serta bersedia menandatangani informed consent. Kriteria sehat didasarkan pada tidak dijumpainya kelainan selama anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yang meliputi fungsi ginjal (ureum, kreatinin), fungsi hati (SGOT, SGPT), hematologi rutin (kadar hemoglobin, jumlah lekosit, hitung jenis lekosit dan laju endap darah), dan foto toraks. Pengambilan sampel urine baseline dilakukan 1 hari sebelum pemberian obat yaitu pada pukul 08.00, 12.00, 16,00, dan pukul 20.00. Setelah itu kapsul DHEA 50 mg diberikan setiap pukul 08.00 pagi selama lima hari berturut-turut dengan 200 ml air putih. Sampel urine diambil pada hari kelima setelah minum obat yang dilakukan pada jam ke-0 (pukul 8.00), 1 (9.00), 2 (10.00), 4 (12.00), 5 (13.00), 7 (15.00), 8 (16,00), 10 (18.00), 12 (20.00), 14 (22.00) dan 24 (pukul 8.00 hari berikutnya). Urin dikumpulkan dan diuji terhadap kadar masing-masing hormon steroid dengan menggunakan metode Gas Chromatography./Mass Selective Detector (GCIMSD).
HASIL DAN KESIMPULAN
Hasil penelitian menunjukkan rasio TIEpiT baseline pada pukul 8.00 sebesar 1,07 ± 1,15, mencapai puncak pada pukul 16.00 yaitu 1,18 ± 1,21, dan setelah pemberian DIVA eksogen pada pukul 8.00 sebesar 1,03 ± 1,15 dan mencapai puncaknya pada pukul 16.00 : 2,11 ± 2,53. Seorang sukarelawan yang mempunyai rasio TIEpiT baseline sebesar 3,4 pada pukul 8.00, menunjukkan peningkatan yang berarti setelah pemberian DHEA eksogen yaitu pada pukul 15.00, 16.00 dan 18.00 berturut-turut sebesar 9,71; 9,13 dan 8,55. Rasio AlEtio baseline pada pukul 8.00 sebesar 1,45 ± 0,54, mencapai puncak pada pukul 20.00 : 1,82 ± 0,68 ; setelah pemberian DHEA eksogen pada pukul 8.00 : 0,77 ± 0,49, mencapai puncak pads pukul 12.00: 1,51 ± 0,67. Kurva AlEtio sebelum pemberian DHEA (baseline) berada di atas nilai yang diperoleh setelah pemberian DHEA eksogen. Kurva rasio 5or-diol15 G3-diol sedikit berubah setelah pemberian DHEA eksogen dibandingkan dengan baseline, tetapi secara statistik tidak signifikan. Rasio DHEASIDHEA glukuronat setelah pemberian DHEA eksogen meningkat signifikan dibandingkan dengan baseline pada semua semua sukarelawan, rasio DHEASIDHEA glukuronat mencapai nilai maksimum pada pukul 16.00 sebesar 158,03 ± 95,63 setelah pemberian DHEA eksogen, berbeda bermakna dengan baseline pada jam yang sama yaitu: 18,49 ± 16,32 (p < 0,05). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian DHEA eksogen secara oral dengan dosis 50 mg per hari selama 5 hari (1) mengubah rasio-rasio metabolit TIE, AlEtio dan DHEASIDHEA glukuronat ; (2) Seorang sukarelawan yang mempunyai rasio TIEpiT baseline relatif tinggi yaitu sebesar 3,4 mengalami peningkatan rasio T/EpiT menjadi 9,7. Angka ini melebihi batas rasio TIEpiT yang diperbolehkan oleh IOC yaitu 6 : 1 ; (3) Rasio DHEASIDHEA glukuronat meningkat signifikan setelah pemberian DHEA eksogen.

SCOPE AND METHODS : Dehydroepiandrosterone (DHEA) and its sulfate ester dehydroepiandrosterone sulfate (DHEAS) are quantitatively the largest products of adrenal cortex and the most abundant steroids in peripheral blood. DHEA is one of the major precursors for the biosynthesis of the endogenous steroids. It is classified as having weak androgenic activity, but it can be converted in peripheral tissues via androstenedione to testosterone and 5a-dihydrotestosterone (5a-DHT), both are classified as having strong androgenic activity. Exogenous DHEA is considered to be a doping drug and listed in the class of prohibited anabolic agents by International Olympic Committee since January 1997. In Indonesia, this steroid can be purchased legally as healthfood and over the counter product. In the present study, we investigate the effects of DIVA oral administration to the urinary excretion of some DHEA metabolites in healthy volunteers. Thirteen volunteers, 20 - 30 years old, all men, fulfilled the inclusion criteria (healthy, no previous or chronic disease), passed the medical examination (physical exams, blood chemistry determination, chest X-ray), and signed a letter of informed consent. All volunteers had undergone 2 weeks wash-out periode of free medicines, vitamines and all kind of food that influence hormonal level. Each volunteer took 50 mg of exogenous DHEA orally in the morning at h. 8.00 for 5 days. Baseline urine value was collected a day before exogenous DHEA at hour 8.00, 12.00, 16.00 and 20.00 and at h. 8.00, 9.00, 10.00, 12.00, 13.00, 15.00 16.00 18.00, 20.00, 22.00 and 8.00 (next day) respectively after exogenous DHEA. Urinary excretion glucuronide (and free) metabolites of testosterone (T), epitestosteron (E), androsterone (A), etiocholanolone (Elio), 5a-androstane-3a, 173-diol (5a-dial), 5¢-androstane-3a,170-dio1 (50-diol) and DHEA, and also sulfate metabolite of DHEA was determined by Gas Chromatography/Mass Selective Detector (GCIMSD).
RESULTS AND CONCLUSION : The results showed that the TIE ratio at h. 8.00 was 1.07 ± 1.15, peaked at h. 16.00: 1.18 ± 1.21 before and at 8.00: 1.03 ± 1.15, peaked at h. 16.00 :2.11 ± 2.53 after exogenous DHEA. One volunteer had a high baseline TIE ratio of 3.4 at h. 8.00 before and at h. 15.00, 16.00, and 18.00 respectively were 9.71; 9.13 and 8.55 after exogenous DHEA. The AfEtio ratio at h. 8.00 was 1.45 ± 0.54; peaked at h. 20.00 : 1.82 ± 0.68 before and at h. 8.00 : 0.77 ± 0.49, peaked at h. 12.00 : 1.51 ± 0.67 after exogenous DHEA. The AJEtio curve before exogenous DHEA was entirely above the value obtained after exogenous DHEA. Although the curve of ratio of 5a-dio11513-dial after exogenous DHEA was slightly different from that of the curve before exogenous DHEA, it was not statistically significant. The DHEASIDHEA glucuronide at various time points after exogenous DHEA was significantly higher than that before exogenous DHEA; the ratio of DHEASIDHEA glucuronide reached a maximum value of 158.03 ± 95.63 after exogenous DHEA in comparison with 18.49 ± 16.32 at h. 16.00 before exogenous DHEA (p < 0,05). To conclude, oral administration of exogenous DHEA of 50 mg once daily for 5 days (1) alter ratios TIE, AlEtio and DHEASIDHEA glucuronide; (2) One volunteer had a high baseline TIE ratio of 3.4 and after receiving exogenous DHEA the ratio was further increased to 9.71, significantly exceeding the limit value permitted by IOC 6:1 ; (3) The ratios of DHEASIDHEA glucuronide after receiving exogenous DHEA in comparison with those before exogenous DHEA were significantly increased at various time points.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001
T8260
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Djoni Hendradjaja
"Steroid Sapogenin Adalah Sumber Utama Prekursor untuk Sintesa Parsial Hormon-Hormon Steroid Secara Komersil Meliputi Corticosteroid, Senyawa-Senyawa Pengontrol Fertilitas, Hormon-Hormon Sex dan Anabolic Agent, Terutama Kontraseptika Oral. Pada Saat ini Diosgenin Pensuplai Terbesar dari Kebutuhan Prekursor Hormon Steroid yang Berasal dari Tanaman. Industri Hormon Steroid Selama ini Bergantung pada Pengumpulan Tanaman Dioscorea yang Liar, Tetapi karena Permintaan Diosgenin Bertambah Terus dan Semakin Habisnya Sumber Liar Sapogenin ini, maka Keperluan untuk Mengkultivasi Tanaman yang Mengandung Diosgenin atau Tanaman yang Mengandung Sapogenin lain Menjadi Essensial,. Karana Sukarnya Mengkultivasi Species Dioscorea, maka Penelitian Tanaman yang Menagandung Diosgenin yang Tumbuh Cepat Seperti Costus Speciosus Smith, Terutama dari Sumber-Sumber Liar yang Ada di Indonesia Menjadi Sangat Penting untuk Menjamin Suplai Diosgenin Secara Kontinyu dan Teratur Dimasa Mendatang.

Steroidal Sapogenins are the Major Source of Precursors for the Commercial Synthesis of Steroid Hormones Include the Corticosteroids, the Fertiltity Control Compounds, the Sex Hormones and Anabolic Agents, Especially the Oral Contraseptives. At Present Diosgenin, Which is the Greatest Supplier Principal Starting Material of the Need Precursors Steroid Hormones Derived from Plants. The Steroid Industry is Dependent Upon the Collection of Wild Dioscorea Plants, But as the Demand for Diosgenin Increases and With the Depletion of Wild Sources of These Sapogenins, the Need Cultivate Either Diosgenin-Containing Plants or Other Suitable Sapogenin Containing Plants Becomes Essential. Because of Difficulties Associated of the Cultivation of Dioscorea Species, the Investigation of Rapidly-Growing Diosgenin-Containing Plants Like Costus Speciosus Smith, Especially of Wild Sources in Indonesia is Becoming More Urgen to Ensure a Continuing and Regular Supply of Diosgenin in the Future."
Jakarta: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 1978
S70525
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Diana Novia
"ABSTRAK
Berbagai macam penelitian dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan teknologi reproduksi berbantu, salah satunya adalah dengan memprediksi tingkat maturasi oosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hormon progesteron pada hari pematangan folikel dengan tingkat maturasi serta upaya penyelamatan oosit yang tidak matur dengan maturasi in vitro(MIV). Analisis dan uji statistik dilakukan terhadap kadar progesteron pada hari pematangan folikel dan penyelamatan MIV dengan mengkultur oosit yang tidak matur pada medium MIV, medium FIV, dan medium blastokista. Kadar progesteron tinggi terbukti memiliki efek buruk terhadap tingkat maturasi oosit. Kelompok progesteron rendah memiliki tingkat maturasi dan fertilisasi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kelompok progesteron tinggi dan normal. Nilai progesteron yang tinggi dapat dijadikan sebagai prediktor terhadap penurunan tingkat kematangan oosit. Hasil MIV pada medium FIV dan medium blastokista terbukti memiliki hasil yang sama dengan medium MIV. Kualitas embrio baik dari ketiga jenis medium memiliki tingkat yang sama. Namun, medium MIV dapat menghasilkan fertilisasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan medium lainnya. Medium FIV dan medium blastokista dapat digunakan sebagai medium alternatif untuk penyelamatan oosit yang tidak matur.

ABSTRACT
Various studies have been conducted to increase success rate of assisted reproductive technology. This study aims to determine the relationship of progesterone level on follicular maturation day with oocyte maturation rate and immature oocyte rescue by using in vitro maturation (IVM) method. Progesterone were analyzed and immature oocytes were rescued by culturing them in IVM medium, IVF medium, and blastocyst medium. High progesterone has an adverse effect on oocyte maturation. Group with low progesterone have a higher maturation and fertilization rate when compared with high and normal progesterone groups. High progesterone can be used as a predictor of decreased oocyte maturity. The maturation results on IVF and blastocyst medium have the same results with IVM medium. It is also shown that the good quality embryos produced from all three types of medium are comparable. IVM medium is able to produce higher fertilization compared to the other medium. IVF and blastocyst medium can be used as an alternative to rescue immature oocytes."
2020
T55359
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Djoko Prijanto
"Hormon steroid adalah senyawa yang sangat penting
dalam oat obat kontarasepsi Dengan semakirt populernya pro
gram Keluarga ]3ererLcana dimasyarakat, rnaka penggimaan obat
kontrasepSi oral akan bertambah luas
Dalam rarigka pengawasari dan pemeriksaan kualitas,
perlu suatu metode analisis bagi hormon steroid.
Tujuan penelitian mi adalab rnendapatkan metode yang
haik urituk mengidenti±'ikasi hormon steroid dalam obat kontra
sepsi oral.
Untuk mencapai tujuan mi, maka dicoba metocle metode
yang berdasarkan reaksi warns, krornatografi lapisan tipis
spektrofotometri ultra ungu, spektrofotometri infra merah,
dan spektrofluorometri untuk identifikasi etinodiol diasetat,
ettmil estradiol, linestrenol, mestrsnol, noretisteron asetat,
dan riorgestrel i'etode yang dinilai paling sesuai kemudian
diuji coba untuk identifikasi hormon hormon tersebut dalam sed±aan kontrasepsi oral yaitu Agestin ED, Anovlar-21,
Euynon ED, Lyndiol, Neogrnon, Noracyclin, Ovostat-28, O'sn.-
len 50-Fe-28, dan Restovar 28-micro, setelah terlebih dahulu
dilakukan penarikan memakai kioroform.
Dan hasil percobaan mi dapat disirnpu.lkan bahwa metode
yang dapat dianju.rkan untuk identifikasi hormon steroidkapi dengan spektrofotometri ultra ungu, spektrofotometri
infra merah, dan spektrofiuorometri."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1984
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gabriella Castoria
"Breast and prostate cancers are both hormone-dependent, at least in some stages of their progression. Hormonal manipulation represents an important therapeutic approach. Although most of breast and prostate cancers initially respond to hormone therapy, most tumors reinitiate to growth. Finally, hormone-resistant and metastatic breast and prostate cancers may develop. Thus, the challenge is the dissection of mechanisms by which steroid receptor signaling pathways continue to influence cell growth and invasiveness. Compelling evidence indicates that steroid hormones elicit non-genomic responses in extra-nuclear compartment of target cells. In this cellular location, steroid-coupled receptors rapidly recruit signaling effectors or scaffold proteins and activate multiple pathways leading to proliferation, survival, migration and invasiveness. The immediate challenge is the dissection of key events regulating the steroid response of target tissues to prevent progression and improve treatment of breast and prostate cancers."
New York: Springer, 2012
e20401394
eBooks  Universitas Indonesia Library
cover
Lichten, Edward M
Birmingham: Edward M.Lichten, 2007
571.74 LIC t
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Ali Baziad
Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2021
612.45 ALI h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Klijn, Jan G.M.
New York: Raven press , 1987
616.994 KLI h
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sinta Deviyanti
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Dalam rangka mencari bahan kontrasepsi pria yang ideal, penyuntikan TE (Testosterone Enanthate) dan DMPA (Depot Medroxy Progesterone Acetate) sebagai bahan kontrasepsi hormonal pria menunjukkan hasil penekanan spermatogenesis yang berbeda antara pria bangsa Asia (azoospermia 90-100%) dan Kaukasia (azoospermia < 70%). Diduga ada dua faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil tersebut yaitu faktor genetik dan konsumsi makanan/ diet berbeda yang mempengaruhi kadar SHBG. Sebagai glikoprotein plasma homodimerik, SHBG memiliki kemampuan spesifik mengikat hormon-hormon steroid seks (dehidrotestosteon, testosteron dan estradiol) dan membawanya menuju ke jaringan target. Kadar SHBG normal dalam plasma adalah 10-73 nmol/L. Bila dihubungkan dengan proses spermatogenesis, kadar SHBG secara tidak langsung mungkin dapat mempengaruhi spermatogenesis dengan merubah kadar testosteron babas yang bekerja menimbulkan efek umpan balik negatif melalui poros hipotalamus-hipofisis-testis. SHBG manusia dikode oleh suatu gen autosom tunggal yang memiliki dua alel kodominan yaitu alel normal dan alei varian. Alei SHBG varian muncul akibat mutasi titik pada ekson 8 dari gen pengkode SHBG yang terletak di lengan pendek 12-13 (p12-13) dari kromosom 17. Mutasi titik tersebut menyebabkan substitusi basa tunggal pada kodon 327 dari GAC-)AAC yang mengkode perubahan asam amino aspartat menjadi asparagin (Asp327Asn) dan menyebabkan penambahan rantai karbohidrat atau N-linked glikosilasi pada posisi ini. Glikosilasi berpengaruh terhadap waktu paruh dan penambahan berat molekul SHBG varian. Penambahan waktu paruh selanjutnya dianggap dapat mempengaruhi kadar SHBG. Penelitian sebelumnya terhadap SHBG manusia produk cDNA (complementary DNA) yang diekspresikan pada jamur Pichia pastoris menyebutkan bahwa SHBG yang mengalami deglikosilasi enzimatik menghasilkan kadar SHBG yang lebih rendah dibandingkan SHBG normal. Apakah SHBG varian seharusnya menghasilkan kadar SHBG yang Iebih besar, masih perlu diteliti. Melalui teknik SDS PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate Gel Electrophoresis), deteksi SHBG normal dan SHBG varian dalam serum manusia menampakkan pola fenotip SHBG dua pita dan tiga pita dengan berat molekul berbeda yaitu 49,52 dan 56 kDa. Untuk mengetahui efektifitas penekanan spermatogenesis oleh bahan kontrasepsi hormonal TE dan D1VIPA, maka perlu diteliti kadar SHBG serta faktor yang dianggap turut mempengaruhi kadar SHBG tersebut (dalam hal ini adalah faktor genetik atau variasi fenotip SHBG).Penelitian ini dilakukan dengan tujuan mendeteksi variasi fenotip SHBG dan melihat kemungkinan pengaruhnya terhadap kadar SHBG pada populasi pria Indonesia dewasa sehat. Deteksi variasi fenotip SHBG dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik SDS PAGE dan Western blot. Sedangkan pengukuran kadar SHBG dilakukan dengan teknik IRI/ IA (Immunoradiometric assay). Data yang diperoleh kemudian dianalisa secara statistik menggunakan program komputer SPSS versi 10.
Hasil dan Kesimpulan : Dari total sampel serum pria Indonesia dewasa sehat yang dideteksi melalui SDS PAGE dan Western blot, tampak gambaran ekspresi gen SHBG yang terdiri dari dua jenis pola fenotip SHBG dengan berat molekul yang berbeda. Pola fenotip SHBG dua pita (SHBG normal) dijumpai sebanyak 61% (11 sampel serum), terdiri dari sub unit heavy dengan perkiraan berat molekul 51 kDa dan sub unit light dengan perkiraan berat molekul 46 kDa. Sedangkan pola fenotip SHBG tiga pita (SHBG varian) dijumpai sebanyak 39% (7 sampel serum), memiliki tambahan sub unit ketiga yaitu sub unit super heavy dengan berat molekul 56 kDa. Hasil perhitungan rata-rata kadar SHBG normal dan SHBG varian yang diperoleh dalam penelitian ini masing-masing adalah 42,24 nmolll dan 39,44 nmolll. Analisa data melalui perhitungan statistik menggunakan program komputer SPSS versi 10 menyimpulkan bahwa fenotip SHBG tiga pita (SHBG varian) temyata menghasilkan kadar SHBG yang tidak berbeda bermakna dibandingkan dengan fenotip SHBG dua pita (SHBG normal) (pada tingkat signifikan 5%, 1 = 0,343 dengan P= 0,736, 2-tail test)."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2002
T1407
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahayu Yekti
"Dalam pengembangan kontrasepsi pria, penggunaan TE (Testosteron Enantat) atau kombinasinya dengan DMPA (Depot Medroxy Progesterone Acetate) sebagai bahan kontrasepsi hormonal pria menunjukkan perbedaan penekanan spermatogenesis antara pria bangsa Asia dan pria bangsa Kaukasia, pada bangsa Asia menyebabkan azoopermia 90-100% sedangkan pada bangsa Kaukasia mencapai azoospermia < 70%. Faktor yang diduga menimbulkan perbedaan hasil yaitu variasi genetik dan konsumsi makanan yang berbeda. Variasi genetik merupakan perbedaan urutan nukleotida menetap diantara individu. Perubahan nukleotida atau mutasi di dalam gen mungkin berperan pada formasi sebuah protein varian. Insiden dan distribusi alel varian dalam suatu populasi sebagai akibat menyeluruh dari tiga macam proses utama melalui generasi yang terdahulu yaitu mutasi, seleksi alam, peluang atau penyimpangan genetik secara acak. SHBG manusia di kode oleh dua alel autosom kodominan yaitu alel normal dan alel varian. Alel SHBG varian muncul akibat mutasi titik pada ekson 8 dari gen pengkode SHBG yang terletak di lengan pendek 12 - 13 dari kromosom 17. Mutasi titik tersebut menyebabkan substitusi basa tunggal pada kodon 327 dari GAC menjadi AAC yang mengkode perubahan asam amino aspartat menjadi asparagin, disertai penambahan tempat untuk N-glikosilasi pada posisi ini. Glikosilasi berpengaruh terhadap waktu paruh dan penambahan berat molekul SHBG varian. Melalui tehnik SDS-PAGE (Sodium Dodenji Sulfate Gel Electroforesis) deteksi SHBG normal dan SHBG varian dalam serum manusia menampakkan pola fenotip SHBG dua pita dan tiga pita dengan berat molekul yang berbeda yaitu 49, 52 dan 56 kDa. Karena latar belakang genetik antar ras/populasi berbeda dalam hal ini antara ras/populasi Indonesia dan Kaukasia, diduga ada perbedaan variasi genetik yang mengaldbatkan proses penekanan spermatogenesis yang berbeda.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan membandingkan variasi fenotip SHBG antara populasi pria Indonesia dan pria Kaukasia dewasa. Deteksi variasi fenotip SHBG dalam penelitian ini dilakukan dengan tehnik SDS-PAGE dan Western blot.
Dari keseluruhan sampel serum pria Indonesia dan Kaukasia yang dianalisis dengan SDS-PAGE dan Western blot, menunjukkan gambaran 2 macam pola fenotip SHBG yaitu gala fenotip SHBG dua pita dan pola fenotip SHBG tiga pita. Pala fenotip SHBG dua pita mempunyai subunit light dengan berat molekul 46 kDa, subunit heavy dengan berat molekul 51 kDa, sedangkan poly fenotip SHBG tiga pita mempunyai tambahan subunit super heavy dengan berat molekul 56 kDa. Dari 31 sampel serum pria Indonesia dijumpai sebanyak 65% (20 sampel) mempunyai pola fenotip SHBG dua pita (SHBG normal) sedangkan 35% (11 sampel) mempunyai pola fenotip SHBG tiga pita (SHBG varian). Pada 26 sampel serum pria Kaukasia dijumpai sebanyak 77% (20 sampel) mempunyai pola fenotip SHBG dua pita (SHBG normal) dan 23% (6 sampel) mempunyai pola fenotip SHBG tiga pita (SHBG varian). Analisa data melalui perhitungan statistik menggunakan uji Chi Square menunjukkan tidak berhubungan antara ras/populasi dengan variasi fenotip SHBG pada tingkat kepercayaan 95%. ]adi tidak berbeda bermakna variasi fenotip "SHBG antara ras/populasi Indonesia dan ras Kaukasia.

Phenotype Variation of Sex Hormone Binding Globulin (Shbg) in Health Adult Indonesian and Caucasian MaleIn the development of male contraception, the use of TE (Testosteron Enantat) or its combination with DMPA (Depo Medroxy Progesteron Acetat) as a material for male hormonal contraception shows different result of suppression of spermatogenesis between Asian and Caucasian. In Asian it causes 90-100% azoospermia while in Caucasian it reaches azoospermia < 70%. The possible factors that cause different result are genetic variation and different variety of food consumption. Genetic variation is different of nucleotides order resides in each individual. Nucleotide change or gene mutation probably play role in protein variant formation. The incidence and the distribution of variant allele in one population as cumulative result from 3 kind of main process through previous generation that is mutation, natural selection, the change or random of genetically deviation. Human SHBG is encoded by two codominant autosome allele, those are normal and variant alleles. SHBG variant allele appears as a result of mutation at exon 8 of SHBG gene that locates at the short arm (p12 - pI 3) of chromosome 17. This mutation is a single base substitution at codon 327 from GAC to AAC that underly amino acid changing from aspartat to asparagin, along with additional place for N-glycocilation at this position. Glycocilation affects the half life and addition of molecular weight. By SDS-PAGE (Sodium Dodecyl Sulfate Gel Electroforesis) technique detection of normal SHBG and variant SHBG in human serum shows two and three bands of SHBG phenotype pattern respectively, which has different molecular weight that is 49, 52 and 56 k Da. Since inter race/population genetically is different, in this case between Indonesian race/population and Caucasian, causes different genetic variation, it will probably cause different pressure on spermatogenesis.
The aim of this research is to compare SHBG phenotype variant between adult male of Indonesian and Caucasian population. The detection of phenotype SHBG variation in this research is done with SDS-PAGE and Western blot technique.
Serum samples of Indonesian and Caucasian analyzed with SDSPAGE and Western blot show two kind of SHBG phenotype pattern that is two bands and three bands SHBG phenotype pattern. Two bands SHBG phenotype consist of light subunit with molecular weight 46 k Da and heavy subunit with molecular weight 51 kDa. Three bands SHBG phenotype pattern has an additional subunit, which is super heavy with molecular weight 56 k Da. In 31 male Indonesian serum samples, 66% (20 samples) has two bands SHBG phenotype pattern (normal SHBG) and 34% (II samples) has three bands SHBG phenotype pattern (variant SHBG). Of 26 male Caucasian serum samples, 77% (20 samples) has two bands SHBG phenotype pattern (normal SHBG) and 23% (6 samples) has three bands SHBG phenotype pattern (variant SHBG). Statistical analysis using Chi Square test shows 95% validity is not match between race/population with SHBG phenotype variation. So the difference of SHBG phenotype variation between Indonesian race/population and Caucasian is not significant."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002
T10333
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>