Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 52129 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sitepu, Tabir
"Disertasi ini berjudul Hakikat dan Fungsi Cerita "Manuk Sidanggur Dawa-dawa" ("MSD"). Tema pokok tulisan ialah hakikat dan fungsi cerita "MSD" bagi masyarakat pendukungnya, folk-nya, atau kolektif Karo. Lokasi penelitian ialah beberapa desa di Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Daerah ini didiami oleh kolektif Karo. Analisis hakikat cerita "MSD" dilakukan berdasarkan ciri-ciri folklor, hukum-hukum epos, dan mite. Atas dasar analisis itu, cerita "MSD" adalah epik dan mite. Kejadian cerita umumnya berlangsung di dunia atas (Banua Kacikaci) dan dunia bawah (Banua Koling) serta cerita ditokohi oleh para dewa. Sebagai epik, cerita "MSD" disoroti berdasarkan hukum-hukum epos (epic laws). Hukum epos ini dilengkapi dengan hukum yang muncul dari kebutuhan teks cerita. Dari segi mite, cerita "MSD" memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan hukum mite pada umumnya. Namun demikian, cerita "MSD" memiliki ciri-ciri khas. Ciri tersebut melengkapi hukum mite pada umumnya. Analisis fungsi cerita "MSD" dilakukan berdasarkan fungsi (guna) folklor bagi masyarakat pendukungnya. Atas dasar analisis itu, cerita "MSD" berfungsi sebagai alat upacara persilihi, ngarkari, dan muncang. (Ketiga upacara ini merupakan upacara mengusir roh jahat, exorcise; mengambil hati dan mendamaikan roh-roh lelulur (placate)."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1998
D366
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Murti Bunanta
"ABSTRAK
Di Indonesia cukup banyak dilakukan penulisan kembali dan penerbitan cerita rakyat, baik untuk keperluan cerita anak-anak, maupun untuk kepentingan dokumentasi dan inventarisasi. Melalui pendataan yang dilakukan untuk kepentingan penelitian ini, dapat dilihat bahwa cerita rakyat untuk anak paling banyak diterbitkan dalam kurun waktu dua puluh tahun belakangan ini. Paling tidak ada enam penggunaan dari buku-buku tersebut yang dapat disebutkan di sini, yaitu: (1) sebagai bacaan penghibur (leisure reading) yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa daerah, (2) sebagai teks bacaan buku pelajaran bahasa Indonesia, (3) sebagai teks bacaan buku pelajaran bahasa Belanda dan bahasa daerah, (4) sebagai teks bacaan buku pelajaran bahasa Inggris, (5) sebagai bacaan pendidikan yang berkaitan dengan budi pekerti, dan (6) sebagai bacaan pendidikan yang berkaitan dengan nilai-nilai moral Pancasila.
Penulisan kembali cerita rakyat untuk bahan bacaan anak mengundang berbagai argumentasi. Paling tidak ada lima masalah yang telah dilontarkan oleh para peneliti Barat. Pertama, berkaitan dengan asal cerita rakyat. Karena berasal dari tradisi Iisan, maka ada pendapat yang mengatakan bilamana cerita rakyat sudah menjadi bahan bacaan, maka tak dapat disebut lagi sebagai cerita rakyat (Shannon, 1986: 117). Kedua, berkaitan dengan kejujuran pengarang. Seseorang yang menuliskan kembali suatu cerita rakyat seyogyanya mencantumkan dalam bukunya selain data-data dari sumbernya, juga memberikan keterangan apakah cerita tersebut merupakan saduran, versi pendek, atau penceritaan kembali (lihat Ord, 1986:115). Ketiga, berkaitan dengan mutu penulisan atau ketrampilan penulis. Tidak semua pengarang menghasilkan versi yang baik; ada versi yang bersifat moralistis, ada yang sangat disederhanakan, ada yang memberikan keterangan panjang lebar dan amat membosankan pada setiap kejadian, dan ada pula yang memberikan banyak detil-detil seperti sebuah novel (lihat Nodelman, 1982: 9 dan lihat pula Smith, 1980: 18). Keempat, berkaitan dengan maksud penulisan kembali cerita tersebut. Misalnya: 1. Untuk kepentingan target pembaca, seperti yang dilakukan Charles Perrault. la mengubah beberapa bagian dongeng Cinderella supaya cocok dengan pembaca bukunya, yaitu anak-anak yang berasal dari golongan bangsawan; 2. Untuk menghilangkan hal-hal yang dianggap tabu supaya dapat dibaca anak, seperti yang dilakukan oleh Grimm bersaudara; 3. Untuk kepentingan suatu paham, yaitu feminisme yang bermaksud mengubah citra tokoh wanita dalam cerita rakyat (lihat Lurie, 1990: 16-28). Perubahan-perubahan semacam ini antara lain dianggap sebagai penyebab cerita rakyat mengalami distorsi (Nodelman, 1990: 145). Kelima, berkaitan dengan asal usul koleksi. Timbul pertanyaan, apakah cerita yang diberikan pada anak sebaiknya yang berasal dari koleksi di lapangan ataukah yang sudah dituliskan kembali (lihat Lurie, 1990: 22 dan lihat pula Smith, 1980: 18).
Sesuai dengan keadaan di Indonesia, masalah yang disoroti dalam disertasi ini adalah penulisan kembali (retelling) cerita rakyat untuk anak di Indonesia ditinjau dari penyajian cerita. Hal ini berkaitan dengan masalah ketiga di atas, yaitu kualitas penulisan. Untuk itu, dibahas 22 versi dongeng Bawang Merah Bawang Putih dari 21 pencerita kembali (untuk selanjutnya disebut pengarang). Penelitian dilaksanakan dengan membandingkan penyajian cerita 22 versi tersebut. Perlu dikemukakan, bahwa pada awalnya telah diteliti 128 cerita rakyat yang terdiri dari 8 judul cerita (tema). Kedelapan judul ini merupakan tema yang paling sering dituliskan dan diterbitkan kembali sehingga muncul dalam berbagai versi tulis. Cerita-cerita ini berjenis dongeng, legenda, dan mite. Berhubung metode kerja dan metode penelitian yang dipakai ternyata dapat diterapkan pada ketiga jenis cerita rakyat ini, maka diputuskan untuk menggunakan dan menuliskan satu contoh saja, yaitu Bawang Merah Bawang Putih.
Masalah yang ditinjau dalam mengembangkan 22 versi dongeng Bawang Merah Bawang Putih adalah sebagai berikut:
  1. Apa perbedaan dan persamaan versi-versi tersebut dan bagaimana persamaan ini membentuk suatu verisi kelompok atau versi kebudayaan
  2. Bagaimana pengarang menggarap elemen-elemen penyajian cerita
  3. Bagaimana dampak penyajian pada makna cerita
Metode penelitian yang dipakai dalam disertasi ini adalah penelitian pustaka. Secara keseluruhan, penelitian ini mengetengahkan 29 versi dongeng Bawang Merah Bawang Putih, 22 versi diantaranya akan dibahas secara mendalam dan ditabelkan, sedangkan 7 versi lainnya akan disinggung seperlunya sebagai materi pembanding (dua berasal dari buku anak Malaysia dan 5 lainnya berasal dari wawancara). Tahun penerbitan yang tertua yang dapat dilacak adalah keluaran tahun 1904 dan yang termuda keluaran tahun 1994 (sampai saat disertasi ditulis). Selain dalam bentuk buku, dongeng yang diteliti juga ditemukan dalam bentuk tulisan dalam majalah, lontar, dan dokumentasi. Mengenai bahasa yang dipakai tercatat lima versi menggunakan bahasa Belanda, satu versi bahasa Jawa aksara jawa, satu versi bahasa Bali, satu versi bahasa Inggris, dan 14 versi bahasa Indonesia. Sebagian besar buku-buku ini diterbitkan sebagai bacaan anak dan remaja. Sedangkan yang bukan dikhususkan untuk anak dan remaja tetap akan dibahas dan digunakan sebagai materi pembanding...

ABSTRACT
Folktales written for children in Indonesia have been done for more than 100 years. And in 1993 publication of folktales as children's reading was even included in the National Guidelines, Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN 1993).
The research is aimed at finding out the problems in retelling folktales seen from the story presentation. There are two approaches applied in this research comprising children literature and folklore approaches based upon a structural theory.
As the corpus of study, 29 versions of Bawang Merah Bawang Putih were chosen, 22 versions of which were profoundly discussed while the necessary discussion of the rest 7 versions were used as comparison. The oldest publication was in 1904 and the latest in 1994. Each version was retold by different author. And the languages used in these resources are Dutch (5), Javanese in Javanese Character (1), Balinese (1), English (1), and Indonesian (14).
The research was carried out through three stages. The first stage was version analysis. The second stage was an analysis around the literary qualities such as characterization, plot, setting, theme, style and diction. Since the presentation of these elements might influence the meaning of story, the impact of presentation on meaning was then discussed in the third stage.
It could be concluded from the analysis of versions that the story published earlier seems to be the only source of reference for later works. There was no indication that the writers have tried to seek for or add other sources in order to improve the quality of their creative process.
From the analysis of presentation, it could be concluded that the literary folktales as the products of writers? creation are often didactic, moralistic, sentimental, and demonstrate moral explicitly. In treating the theme of story, the writer's attention is especially focused on the central theme (stepchild abuse) so that the values evoked on side themes seem to be ignored or deserved less consideration.
Although the tales are fantasy, but the writers' inability to sustain it and present the stories realistically caused settings in the stories do not look like to take place in a fairyland but in a real world and happen not so long ago.
Regarding the characterization, in general the protagonist appears only in a single character, kind hearted, diligent and hard working, obedience, self-surrender, not greedy, not revengeful and devoted. The result is that the story fails to present victory, recognition, and justice for the good.
The problems coming out of plots result from the numerous interpolated unconnected events which then bring about considerable sub-plots. Consequently, the story seems not to directly touch on the core of story and its conflicts. This makes the meaning of the story vague.
The language style of the folktale should be brief and simple. Nevertheless, many versions use language style with long sentences. Besides, in some version the style used does not fit the age of intended readers.
The research also shows that the interpretation of meaning is only based upon what has been explicitly presented due to the unawareness of its symbolic meaning. Besides creation and improvisation done by the authors are merely focused on the step children's sufferings and the cruelty of step mother. Consequently, events having the elements of fantasy which are potential to be developed without ruining the central theme are ignored or even forgotten.
Another thing that contributes to the problems is related to retellings which are not intended for leisure readings but as educational aids and informational readings instead. This has made the children unable to interpret the meaning of story freely as it is strictly tied to certain intended answers.
In addition to discussing the problems in retelling a folktale, the research also shows how the concept of Type-Index and Motif-Index derived from folklore study could be applied on literary study. Moreover, the research has also identified the uniqueness of Bawang Merah Bawang Putih story as having two tale-types namely "Cinderella" and "The Kind and the Unkind Girls". And unlike the most European fairytales, the main woman character is not stereotype.
To conclude, a good retelling depends upon three aspects. Firstly, to enforce creation not strictly to plots connected to the central theme alone. Secondly, the ability to sustain the fantasy and imagination contained in fairy tales. And thirdly, meaning interpretation should be considered from literal and psychological prospective. In this way the retellings will not be destructive creations, but innovative instead.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1997
D77
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Suripan Sadi Hutomo
"ABSTRAK
Karangan ini berisi studi tentang sastra. Dengan istilah sastra lisan yang dimaksud ialah karya sastra yang diciptakan dan disampaikan secara lisan dengan mulut, baik di dalam sesuatu pertunjukan seni maupun di luarnya.
Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan guna atau fungsi dari cerita kentrung pada umumnya dan cerita Sarahwulan pada khususnya. Berhubung guna atau fungsi terpenting adalah pendidikan, maka di dalam penelitian ini juga diungkapkan pesan dan nilai budaya yang ditanamkan oleh dalang kentrung kepada para p"
1987
D142
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hardwick, Patricia
Batam: 2018
Multimedia  Universitas Indonesia Library
cover
Achadiati Ikram, 1930-
"Hanya berisi bab VII dan VIII disertasi, yaitu suntingan hikayat Sri Rama dan Aparatus Kritikus"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1978
D146
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bantacut
Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 1983
398.215 BAN b
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Makassar: Kantor Bahasa Maluku, 2020
398.212 ANT
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Sarmianti
Jakarta: Pusat Bahasa Depdiknas RI, 2009
398.3 SAR s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
R. Niken Pramanik
"ABSTRAK
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk mengetahui fungsi-fungsi atau motifeme yang terdapat dalam cerita rakyat yang bermotif Oedipus sehingga dapat disusun suatu struktur dari cerita rakyat yang bermotif Oedipus. Tujuan lain dari penulisan skripsi ini adalah menentukan konsep yang terdapat dalam cerita rakyat yang bermotif Oedipus. Data yang dipergunakan dalam skripsi ini adalah tiga cerita dari tiga daerah yang berbeda. Ketiga cerita itu adalah cerita rakyat Watu Gunung dari daerah Nusa Tenggara Barat, cerita rakyat Sangkala Gunung Kupak dari daerah Jawa Barat, dan cerita rakyat Batu Darah Muning dari daerah Kalimantan Barat. Hasil analisis menunjukkan bahwa tiga cerita rakyat tersebut mempunyai struktur sebagai berikut: pahlawan ditandai -> pahlawan meninggalkan rumah -> satu larangan diberitahukan kepada pahlawan -> larangan dilanggar -> pahlawan kembali pulang -> pahlawan yang tidak dikenali tiba di negerinya -> pahlawan menikah -> pahlawan dikenali -> pahlawan mendapat hukuman

"
1996
S11029
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mohammad Khaifaz Drinanda
"

Kisah hidup manusia selalu menarik untuk ditulis dari waktu ke waktu. Penelitian ini membahas tentang cerita rakyat Siyung Wanara. Pada umumnya masyarakat mengenal cerita Siyung Wanara berasal dari Jawa barat. Namun dalam penelitian ini cerita yang menjadi pusat perhatian adalah cerita Siyung Wanara yang  diambil dari Babad Tanah Jawi  versi prosa karya Ng. Kertapradja (1987). Fokus penelitian ini adalah melihat stuktur cerita Siyung Wanara untuk mendapatkan tema dan amanat cerita. Tujuan dari penelitian ini adalah mengangkat  tema dan amanat yang disampaikan melalui cerita Siyug Wanara. Tema dan amanat cerita biasa disampaikan secara implisit dalam cerita. Dengan menggunakan prosedur penelitian kualitatif maka peneliti punya kesempatan untuk menginterpretasikan data yang diperoleh dari penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, cerita Siyung Wanara adalah cerita rakyat yang mengangkat tentang sebuah persahabatan dan perhatian manusia terhadap lingkungan alam sekitarnya. Cerita Siyung Wanara dalam teks Babad Tanah Jawi ini merupakan bentuk varian yang berbeda dari cerita Siyung Wanara yang berasal dari Jawa barat. Dalam cerita Siyung Wanara digambarkan kehidupan masyarakat dan lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Untuk mencapai tujuan tersebut analisis struktur cerita yang dilakukan untuk menemukan struktur inti cerita akan di dalami melalui pembahasan tantang tema dan amanat yang ada dalam cerita. Terutama yang terkait dengan lingkungan alam dan manusia.


The story of human life is always interesting to write from time to time. This study discusses the Siyung Wanara folklore. In general, people know the story of Siyung Wanara originating from West Java. But in this study the story that became the center of attention was Siyung Wanara's story taken from the Babad Tanah Jawi prose version by Ng. Kertapradja (1987). The focus of this research is to look at the story structure of Siyung Wanara to get the theme and the message of the story. The purpose of this study is to raise the theme and mandate conveyed through the Siyug Wanara story. Themes and messages are usually conveyed implicitly in stories. By using qualitative research procedures, researchers have the opportunity to interpret the data obtained from this study. The results showed that, Siyung Wanara's story was a folklore that raised about a friendship and human concern for the surrounding natural environment. The story of Siyung Wanara in the Babad Tanah Jawi text is a form of a different variant from the story of Siyung Wanara originating from western Java. In Siyung Wanara's story the life of the community and the surrounding natural environment is described. To achieve these objectives, story structure analysis is carried out to find the core structure of the story will be explored through discussion of the themes and mandates contained in the story. Especially those related to the natural and human environment.

"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2020
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>