Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 86304 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sibarani, Sudjana
"Studi pengaruh konsumsi tempe sebagai sumber besi dan seng terhadap pencegahan diare telah dilakukan pada kelinci yang diinokulasi dengan E. coll.
Lima puluh satu ekor kelinci jantan berumur 8 minggu dibagi dalam tiga grup. Kelinci-kelinci tersebut masing-masing ditempatkan dalam sebuah kandang yang terbuat dari bambu, makan dan minum diberikan adlibitum.
Selama lima minggu, dua dari tiga grup diberi ransum 25 % dari kebutuhan normal sehari per ekor. Maksudnya supaya kelinci-kelinci tersebut menjadi kelaparan.
Grup kedelai dan grup tempe kemudian masing-masing diberi ransum kedelai dan ransum tempe selama empat minggu. Pada akhir minggu keempat, ketiga grup tersebut diinokulasi dengan bakteri E. coil serotipe 0126K71(B)H2 sebanyak 2x2x108 koloni.
Berat badan, kandungan seng dan besi dalam serum serta sIgA dari kelinci-kelinci tersebut ditentukan setiap akhir periode adaptasi, periode kelaparan, periode eksperimen dan beberapa hari setelah periode infeksi.
Hasilnya adalah sebagai berikut:
Berat badan, kandungan sang dan besi serum dari ketiga grup, sama pada akhir periode adaptasi. Berat badan dan kandungan besi dan seng dalam ransum grup kedelai dan grup tempe turun pada akhir periode kelaparan. Penurunan tersebut disebabkan karena ransumnya dikurangi.
Berat badan grup kedelai dan grup tempe masing-masing naik 35 % dan 41 % pada akhir periode eksperimen. Kenaikan berat badan dari kedua grup tersebut berbeda nyata. Kandungan seng dan besi serum grup tempe lebih tinggi dari pada grup kedelai. Hal ini mungkin karena absorpsi seng dan besi lebih balk pada grup tempe dari pada grup kedelai.
Kelinci yang diare pada grup kedelai 14 ekor dari 17 ekor; pada grup tempe 2 dari 17 ekor sedangkan pada grup kontrol 9 dari 16 ekor. Rata-rata lamanya diare untuk grup kedelai, kontrol dan tempe berturut-turut adalah 4.2, 2.9 dan 0.4 hari. Hal ini menunjukkan kelinci grup tempe lebih imun dari pada kelinci kedua grup lainnya.
Berat badan grup tempe dan kontrol sama pada akhir infeksi, tetapi tidak sama dibandingkan dengan grup kedelai yang nyata lebih rendah pada akhir periode infeksi. Kandungan seng dan besi serum grup tempe lebih tinggi dari pada grup kedelai, tetapi antara grup tempe dan kontrol tidak berbeda nyata.
Tidak ditemukan slgA dalam kotoran kelinci pada tiap akhir dari periode adaptasi, kelaparan dan eksperimer.
Kandungan sIgA dalam cairan mukosa usus halus grup kedelai dan kontrol ditemukan tapi tidak pada grup tempe. Ditemukannya sIgA dalam cairan mukosa usus erat hubungannya dengan adanya infeksi. Pada kelinci-kelinci grup kedelai dan kontrol terjadi infeksi yang ditandai dengan timbuInya diare. Oleh karena itu sIgA ditemukan.

The Effect of Tempe on Preventing Diarrhea of Rabbits Against Escherichia Coli Regular consumption of tempe as a source of iron and zinc on preventing diarrhea of rabbits inoculated with E. Coli has been studied.
Fifty-one male rabbits, 8 weeks of age were divided into three groups. All the rabbits were housed individually in bamboo cages, feed and drink were given ad libitum. During the following 5 weeks, 2 of the 3 groups were fed only 25 % of the average normal daily intake to cause starvation.
Soybean and tempe groups (of the starved rabbits) were fed with soybean and tempe rations respectively for four weeks before being infected. All groups including the control group at the end of the experimental period were inoculated with 2x2x108 colonies of enterotoxigenic E. coli serotype 0126K71(B)H2. Body weight, serum zinc and iron tents and sIgA of all the rabbits were determined at the end of the adaptation, starvation, experimental and infection periods.
The results were as follows:
During the adaptation period the feed intake was the same. The feed intake during the starvation period decreased to 25 % per rabbit per day for two groups. The feed intake of the soybean and tempe groups during the experimental period were almost the same, but changed during the infection period.
Body weight, serum zinc and iron of the three groups were similar at the end of the adaptation period.
Body weight, serum zinc and iron in two groups were reduced proportionally at the end of the starvation period. The decrease was caused by the reduction of the standard ration.
The body weight of the soybean and tempe groups increased with 35 % and 41 % respectively, at the end of the experimental period. The increase of the body weight between those two groups was significantly different. The serum zinc and iron of the tempe group were significantly higher than that of the soybean group. It could be concluded that the absorption of zinc and iron of the tempe group was better than that of soybean group.
The incidence of diarrhea in the soybean group was 14 of the 17 rabbits, the tempe group 2 of the 17 rabbits and 9 of the 16 rabbits in the control group. The average duration of diarrhea among the soybean, control and tempe groups was 4.2, 2.9, and 0.4 days. This fact indicated that the rabbits in the tempe group were more immune than those in the other two groups.
The body weight of the tempe and control groups were similar but not compared with the soybean group which was lower at the end of the infection period. The serum zinc and iron level of the tempe group was significantly higher than that of the soybean group, but between the tempe and control groups were not significantly different.
There was no sIgA in the faces at the end of every three periods (adaptation, starvation and experimental periods).
The sIgA of the intestinal mucosa of the soybean and control groups was detected, but not of the tempe group. The presence of sIgA in the secretion of intestinal mucosal surface correlated well with recent infection. There was infection in the soybean and control groups as indicated by diarrhea therefore the slgA could be detected."
1997
D308
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sibarani, Sudjana
"ABSTRAK
Studi pengaruh konsumsi temps sebagai sumber besi dan sang terhadap pencegahan diare telah dilakukan pada kelinci yang diinokulasi dengan E. coli. Lima puluh satu ekor kelinci jantan berumur 8 minggu dibagi dalam tiga grup. Kelinci-kelinci tersebut masing-masing ditempatkan dalam sebuah kandang yang terbuat dari bambu, makan dan minum diberikan ad libitum.
Selama lima minggu, dua dari tiga grup diberi ransum 25 % dari kebutuhan normal sehari per ekor. Maksudnya supaya kelinci-kelinci tersebut menjadi kelaparan Grup kedelai dan grup tempe kemudian masing-masing diberi ransum kedelai dan ransum tempe selama empat minggu. Pada akhir minggu keempat ketiga grup tersebut diinokulasi dengan bakteri E. coli serotipe 0126K71(B)F12 sebanyak 2x2x108 koloni.
Berat badan, kandungan seng dan besi dalam serum serta sIgA dari kelinci-kelinci tersebut ditentukan setiap akhir periode adaptasi, periode kelaparan, periode eksperimen dan beberapa hari setelah periode infeksi.
Hasilnya adalah sebagai berikut:
Berat badan, kandungan seng dan besi serum dari ketiga grup, sama pada akhir periode adaptasi. Berat badan dan kandungan besi dan seng dalam ransum grup kedelai dan grup tempe turun pada akhir periode kelaparan. Penurunan tersebut disebabkan karena ransumnya dikurangi.
Berat badan grup kedelai dan grup tempe masing masing naik 35 % dan 41 % pada akhir periode eksperimen. Kenaikan berat badan dari kedua grup tersebut berbeda nyata. Kandungan seng dan besi serum grup tempe lebih tinggi dari pada grup kedelai. Hal ini mungkin karena absorpsi seng dan besi lebih baik pada grup tempe dari pada grup kedelai.

ABSTRACT
Regular consumption of tempe as a source of iron and zinc on preventing diarrhoea of rabbits inoculated with E. coli has been studied.
Fifty one male rabbits, 8 weeks of age were divided into three groups. All the rabbits were housed individually in bamboo cages, feed and drink were given ad libitum. During the following 5 weeks, 2 of the 3 groups were fed only 25 % of the average normal daily intake to cause starvation.
Soybean and tempe groups (of the starved rabbits) were fed with soybean and tempe rations respectively for four weeks before being infected. All groups including the control group at the end of the experimental period were inoculated with 2x2x1O8 colonies of erlterotoxigenic E.Coli serotype O126K71(B)H2. Body weight, serumzinc and iron contents and sIgA of all the rabbits were determined at the end of the adaptation, starvation, experimental and infection periods.
The results were as follows:
During the adaptation period the feed intake was the same. The feed intake during the starvation period decreased to 25 % per rabbit per day for two groups. The feed intake of the soybean and tempe groups during the experimental period were almost the same, but changed during the infection period.
Body weight, serum zinc and iron of the three groups were similar at the end of the adaptation period. Body weight, serum zinc and iron in two groups were reduced proportionally at the end of the starvation period.The decrease was caused by the reduction of the standard ration.
The body weight of the soybean and tempe groups increased with 35 % and 41 % respectively, at the end of the experimental period. The increase of the body weight between those two groups was significantly different. The serum zinc and iron of the tempe group were significantly higher than that of the soybean group.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1991
D376
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Helena Golang Nuhan
"Diare merupakan penyebab utama kematian balita di Indonesia. Kejadian diare pada balita dapat dicegah dengan pemberian pendidikan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan diare terhadap kemampuan ibu merawat area perineal anak balita. Desain penelitian menggunakan quasi eksperimen dengan rancangan pre test and post test control group. Pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling dari 44 responden di RSUD Budhi Asih Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh pendidikan kesehatan diare terhadap kemampuan ibu pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok intervensi (p < 0,05) dibandingkan kelompok kontrol. Ada hubungan bermakna antara karakteristik pendidikan dan pengetahuan responden merawat anak diare. Disarankan pendidikan kesehatan dilakukan terus menerus dan terstruktur untuk meningkatkan kemampuan keluarga merawat anak balita diare.

Diarrhea is the first cause of mortality among children in Indonesia. In fact, the incidence of diarrhea can be prevented by providing health education. The purpose of this research was to identify the impact of health education about diarrhea on mother’s ability caring for child’s perineal area. This research used quasi experimental design with pretest and post-test control group. Total sample was 44 respondents in District Hospital Budi Asih Jakarta and the data was collected with consecutive sampling technique. The results found that health education showed more influence on mother’s knowledge, attitude, and skill among intervention group than those of control group (p value < 0.05). There was also a significant relationship between mother’s level of education and knowledge with mother’s ability caring for children experiencing diarrhea. It is suggested to provide more structured health education and simultaneously to improve the ability of family caring for diarrhea among their children.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T35723
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mimi Karminingsih
"Di Indonesia, diare penyebab kematian balita kedua terbesar (SKRT, 2007). Rata-rata prevalensi diare di Provinsi DKI Jakarta 8%. Jakarta Utara prevalensi diare 10,2% (Riskesdas, 2007). Studi kasus kontrol diare balita berumur 2-59 bulan di Kecamatan Cilincing tujuh faktor risiko dapat dibuktikan berpengaruh: kualitas bakteriologis air minum, kualitas bakteriologis makanan balita, kualitas bakteriologis tangan ibu/pengasuh balita, kondisi higiene sanitasi makanan, kondisi jamban keluarga, perilaku cuci tangan ibu/pengasuh balita, penyakit penyerta dan satu faktor risiko tidak dapat dibuktikan: status ekonomi keluarga. Faktor risiko paling berpengaruh: kualitas bakteriologis makanan balita OR 4,945(95% CI 2,014-12,141), perilaku cuci tangan ibu/pengasuh balita OR 5,155 (95% CI 2,974-8,936) dan kondisi higiene sanitasi makanan OR 2,643 (95% CI 1,514-4,615). Upaya penanggulangan diare antara lain dengan pengelolaan makanan yang sehat dan aman melalui praktek higiene sanitasi makanan di rumah, membudayakan cuci tangan pakai sabun di masyarakat.

Diarrhea is one of the second biggest cause of deaths in Indonesia (SKRT,2007). The average prevalence of diarrhea in DKI Jakarta Province is 8%. Prevalence of diarrhea in North Jakarta is 10,2% (Riskesdas, 2007). Study of Case Control of diarrhea on children under the age of five 2-59 months in District Area of Cilincing, show that seven risk factors that can be proved. They are bacteriological quality of drinking water, food, hand quality of Mother/Caretaker, food hygiene and sanitation condition, sanitation conditions (Latrine), hand washing behaviour of Mother/Caretaker, involved diseases, one of risk factor which is unproved is family economic status. The most risk factor that influencing the diseases are bacteriological quality of food under the age of five OR 4,945 (95% CI 2,01-12,141), hand washing behavior of mother/caretaker OR 5,155 (95% CI 2,974-8,936) and food hygiene sanitation condition OR 2,643 (95% CI 1,514-4,615). Prevention of diarrhea can be done by controlling hygienic and safe food through food hygiene sanitation pactice in household, and habit of hand washing by soap in community."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2010
T30835
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
M. Sholah Imari
"ABSTRAK
Penanganan diare di rumah, merupakan :ara yang tapat untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada penderita diare. Tetapi penelitian untuk membuktikannya belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian cairan dan makanan selama diare terhadap terjadinya dehidrasi. Desain penelitian adalah kasus kontrol, pada anak berumur kurang dari 36 bulan, dengan kasus adalah dehidrasi berat sedang kontrol adalah bukan dehidrasi berat. Keduanya adalah penderita diare yang dirawat imap di rumah sakit
Bagian Anak Di Bngor. Analisis regresi Iugistik multivariat digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh setiap faktor yang diteliti dengan mengendalikan semua faktor laan yang ikut mempengaruhi asosiasi tersebut. Dari 73 kasus dan 113 kontrol yang dianalisis dapat
diketahui bahwa oralit yang diberikan pada anak yang menderita diare dapat mencegah terjadinya dehidrasi sebesar 73,5 % dibandingkgn dangan cairan biasa. Sedang pemberian makan yang cukup selama anak menderita diare dapat mencegah terjadinya dehidrasi sabesar 63,0 % dibandingkan apabila tidak diberikan makanan apapun selama diare. Anak yang menderita diare disarankan untuk segera mendapat oralit, haik sebagai cairan tunggal ataupun kumbinasi dengan cairan lain. Disamping itu, selama anak diare makanan tetap diberikan.
"
1991
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Selama beberapa dekade, diare telah menjadi masalah kesehatan utama pada bayi dan
balita di semua negara berkembang termasuk Indonesia. Data yang menunjukan
besarnya masalah diare di Indonesia diantaranya adalah hasil Survey Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) pada 1991, 1994, dan 1997 yang dikutip Pradono (1999)
menyebutkan frekuensi diare pada balita rata-rata 10% dari seluruh balita dengan
incidence rate 7%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi seberapa besar
Faktor risiko eksternal (pengetahuan ibu/ pengasuh dalam memilih, menyimpan dan
menyajikan makanan) yang mempengaruhi insiden diare pada balita. Penelitian ini
dilakukan di rumah sakit Fatmawati dengan jumlah responden sebanyak 41 orang.
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif sederhana dengan instrumen
penelitian kuisioner. Analisis data yang digunakan adalah analisa univariate dengan
tabel proporsi unluk melihat seberapa besar proporsi variabel yang diteliti. Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa pengetahuan ibu/ pengasuh mengenai pemilihan
makanan adalah kategori baik sebesar 73,05 % (n=41) responden dan pengetahuan
sedang sebesar 21.95 % dengan median 76,12. Pengetahuan ibu/ pengasuh tentang
penyimpanan, dan penyajian makanan juga dalam kategori baik yaitu sebanyak 118,05 % (n=41) responden dan sedang 24.4% dengan median 78,87. Penelitian ini
merekomendasikan agar penyuluhan prenatal Iebih ditekankan pada pentingnya
perawatan payudara dan pemberian ASI eksklusif. Selain penyuluhan kesehatan atau
discharge planning ditekankan pada akibat dari diare agar motivasi ibu untuk berprilaku
Iebih higienis dalam penyimpanan dan penyajian makanan."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2006
TA5447
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ace Yati Hayati
"Indonesia sebagai suatu negara yang sedang berkembang dengan keadaan lingkungan dan perilaku masyarakat yang kurang menguntungkan maka penyakit menular masih merupakan masalah dari kesehatan masyarakat. Penyakit yang mendapat prioritas untuk diadakan upaya pemberantasan adalah penyakit yang memiliki angka kesakitan dan kematian yang tinggi, terutama yang menyerang golongan anak-anak dan golongan usia produktif yang diantaranya adalah penyakit diare. Oleh karena itu dilakukannya penelitian ini untuk mengetahui faktor - faktor air bersih dan jamban yang berpengaruh terhadap kesakitan diare pada balita.
Penelitian ini menggunakan analisis data sekunder dengan pengumpulan data secara "cross-sectional" di Kabupaten Belu Prop. NTT. Desain penelitiannya adalah "case-control".
Kasus adalah rumah tangga yang ada balita sakit diare, sedangkan kontrol adalah rumah tangga yang ada balita tidak sakit diare di daerah yang sama.
Penelitian ini dilakukan pada 49 kasus dan 260 kontrol, dengan 11 variabel independen dan 1 variabel dependen, yaitu diare balita. Dari analisis regresi logistik multivariat diketahui besarnya pengaruh setiap faktor yang diteliti dengan mengendalikan semua faktor lain yang ikut mempengaruhi asosiasi tersebut.
Telah dibuktikan dengan analisis bivariat adanya faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko diare pada balita, yaitu, kuantitas air, kondisi jamban dan faktor yang secara tidak langsung mempengaruhi yaitu jumlah anggota rumah tangga dan kekayaan yang dimiliki.
Penelitian ini berrnaksud untuk mempelajari dampak penyediaan air bersih dan jamban terhadap diare balita daiam Skala terbatas di daerah pedesaan. Dari penelitian ini dapat diungkapkan bahwa hubungan antara air bersih dan kejadian diare balita merupakan "Water Washed Mechanism" disamping itu, ada kemungkinan lain yang dapat diungkapkan yaitu "Water Borne Mechanism", namun hal ini masih perlu ditegaskan dengan pemeriksaan bakteriologis air.
Dengan demikian disarankan kepada masyarakat setempat untuk mengupayakan dalam pengadaan air bersih yang mencukupi dan kualitas yang memenuhi syarat kesehatan untuk kebutuhan rumah tangga sehari-hari disamping memiliki serta memelihara sarana jamban.

Diseases which require the greatest attention are those that lead to high rates of morbidity and mortality, especially among children and people at productive age. A typical example is diarrhea.
Research is therefore needed to identify factors which influence diarrhea in children under five years of age such as water supply and excreta disposal.
This research uses secondary data from Puslitbang, Ministry of Health, and "cross sectional" data collected in Kabupaten Belu, NTT Province. It is designed as a "case control" study.
The case study involves households where child diarrhea is present and the control group consists of households in the same area where child diarrhea is not present.
The data analysis involved 49 eases of child diarrhea and 260 control samples. There were 11 independent variables and 1 dependent variable that was child diarrhea.
Logistic regression multivariate analysis was used to determine the magnitude of influence the risk factor variables on the dependent variable.
Using bivariate analysis it is shown that there are factors which can increase the diarrheal risk in children. These factors include water quality, the condition of latrines and indirect factors such as the number of household members and the level of household prosperity.
This research intends to investigate the impact of water supply and excreta disposal on child diarrhea on a village scale. From this research, it can be shown that the connection between water supply and child diarrhea is "water washed mechanism" as well. However, the latter needs to be proven by water bacteriological analysis.
It is therefore suggested that the local community provide a potable water storage capacity sufficient to meet their daily needs and that latrines are properly maintained.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1992
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Neti Mustikawati
"Diare pada anak dapat menimbulkan masalah kerusakan integritas kulit yang berupa Incontinence Associated Dermatitis (IAD), dibutuhkan perawatan perianal yang tepat guna mengatasi dan mencegah IAD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi perawatan perianal terhadap praktik ibu merawat perianal dan derajat IAD pada anak diare.
Desain yang digunakan adalah quasi eksperiment dengan pendekatan pre test and post test nonequivalent control group. Sampel diambil dengan menggunakan metode consecutive sampling. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 60 (30 intervensi; 30 kontrol). Analisis data menggunakan T-test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada pengaruh antara pemberian edukasi perawatan perianal terhadap praktik ibu merawat perianal (p=0,000), namun ternyata pemberian edukasi ini tidak berpengaruh terhadap derajat IAD pada anak (p=0,573). Diperlukan adanya dukungan untuk memotivasi ibu melakukan perawatan perianal pada saat anak mengalami diare dan bimbingan yang terus menerus.

Diarrhea among children causes impaired skin integrity, called Incontinence Associated Dermatitis (IAD). Perianal care should be given to prevent and resolved IAD. The thesis aimed to identify the impact of perianal care education among mother and it's practice of perianal care and degree of Incontinence Associated Dermatitis among children with diarrhea.
The study used quasi experiment design with pre test and post test nonequivalent control group approach. The number of participants was 60 that devided by two groups (30 intervention group, 30 control group).
The results showed a significant impact of health education on mother's practical skill in perianal care (p=0,000). However, there was no significant effect on the degree of IAD (p=0,573). It's recommended, the health provider should support, motivate and supervise perianal care practice to mother?s who has children experiencing diarrhea.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T35758
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Budi Hardiyansyah
"Latar Belakang : Hingga saat ini penyakit Diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Angka kasus diare di Kabupaten Pandeglang termasuk yang tertinggi di provinsi Banten. Puskesmas Labuan, Pagelaran dan Cibaliliung merupakan daerah yang berulang kali terjadi KLB Diare antara lain disebabkan oleh kondisi sanitasi lingkungan yang masih kurang baik. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare akut pada balita.
Metodologi : Desain penelitian kasus kontrol dan dilaksanakan pada bulan Mei 2013. Populasi seluruh balita yang berusia 9 bulan sampai 59 bulan serta tinggal di 3 wilayah Puskesmas (Labuan, Pagelaran dan Cibaliung) Kabupaten Pandeglang tahun 2013 dengan balita menjadi unit analisisnya dan ibu sebagai respondennya. Total sampel 180 sampel, dengan perincian 90 sampel kasus dan 90 sampel kontrol. Variabel dalam penelitian ini adalah Faktor Lingkungan (sarana air bersih, pengelolaan tinja, pengelolaan sampah, saluran pembuangan air limbah, dan e.coli pada air minum) dan Faktor Ibu (Umur, tingkat pengetahuan, pendidikan, pekerjaan, penghasilan keluarga, perilaku mencuci tangan, perilaku BAB, perilaku mencuci peralatan makan/minum) dan Faktor Balita (Umur, Jenis Kelamin, status gizi, tatus imunisasi campak, pemberian asi eksklusif). Dilakukan analisis univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariate dengan unconditional logistic regression.
Hasil : Dari hasil analisis bivariat berdasarkan faktor balita diketahui status gizi mempunyai hubungan bermakna secara statistik dengan kejadian diare dengan OR 2,20 (95% CI: 1,01 – 4,96). Berdasarkan Faktor Ibu didapatkan bahwa Pengetahuan Ibu OR 2,60 (95% CI: 1,36- 4,98), Perilaku BAB OR 0,53 kali (95% CI: 0,28 - 1.00) dan perilaku cuci tangan OR 2,16 kali (95% CI: 1.14 - 4.12) mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian diare akut pada balita. Dari hasil analisis multivariat diketahui bahwa faktor risiko yang paling berisiko terhadap kejadian diare akut pada balita adalah variabel pengetahuan ibu dengan OR 2,66 pada rentang (95% CI: 1,44 - 4,90) nilai p 0,002.
Kesimpulan : Ibu dengan pengetahuan rendah mempunyai risiko 2,66 kali untuk menderita diare pada balita (95%CI: 1,44 - 4,90) jika dibandingkan dengan ibu yang memiliki tingkat pengetahuan baik.

Background: Until now diarrhea disease is one of community health problems in Indonesia. Figure of diarrhea case in Pandenglang Regency is categorized as the highest in Banten province. Community Health Centers Labuan, Pagelaran and Cibaliliung represent the regions which many times affected by Diarrhea Extraordinary Occurrence among them caused by bad environmental sanitation conditions. The objective of this research is to identify the factors related to the acute diarrhea occurrence in babies.
Methodology: Design of the research is control case and conducted in May 2013. Population is all babies aged 9 to 59 months and reside in 3 regions of Community Health Centers (Labuan, Pagelaran and Cibaliung) of Pandeglang Regency in 2013 with babies become its analysis unit and mothers as its respondent. Total sample are 180 samples, with details 90 case samples and 90 control samples. Variable in this research is environmental factors (clean water facility, septage management, waste management, drainage, and e.coli in drinking water) and factor of mother (age, knowledge level, education, occupation, family income, behaviors in hand washing, defecating, behavior of in washing meal/drink utensils) and factor of baby (age, sex, nutrition status, measles immunization status, exclusive breast milking). It is subjected to univariate, bivariate analysis with chi-square and multivariate tests with unconditional logistic regression.
Results: Of the results of bivariate analysis based on baby factor it is found that the nutrition status has a significant relation statistically with diarrhea occasion with OR 2,20 (95% CI: 1,01 - 4,96). Based on factor of mother it is found that the mother's knowledge OR 2,60 (95% CI: 2,36-4.98), defecating behavior OR 0,53 time (95% CI:0,28 - 1.00) and hand washing behavior OR 2,16 times (95% CI:1.14-4.12) have a significant relation with acute diarrhea occurrence in babies. Of the results of multivariate analysis it is found that the riskiest factor which to the acute diarrhea occurrence in babies is variable of mother’s knowledge with OR 2,66 in value range of (95% CI:1,44-4,90) p 0,002.
Conclusion: Mothers with low education have a risk 2,66 times to have diarrhea in babies (CI 95%: 1,44-4,90) if compared to mothers which have better education level.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2013
T36765
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Karyana
"Diseluruh dunia, setiap tahun ada 12 (dua belas) juta anak meninggal sebelum berusia 5 (lima) tahun, terbanyak pada usia satu tahun pertama. Paling tidak 4-5 juta kematian tersebut disebabkan oleh diare. Di Indonesia diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena 40 % kematian di kelompok usia < 2 tahun disebabkan oleh diare. Angka kejadian diare pada tahun 2000 sebanyak 300 kasus per 1.000 orang. Tingginya kejadian penyakit diare ini dapat menyebabkan kerugian yang besar baik bagi masyarakat maupun bagi pemerintah. Namun selama ini informasi tentang jumlah biaya akibat penyakit diare masih kurang, khususnya untuk biaya yang ditanggung keluarga akibat balita menderita diare akut. Informasi ini dapat digunakan dalam advokasi ke penentu kebijakan dalam usaha menururkan angka insiden diare.
Pemilihan lokasi penelitian di Puskesmas Kelurahan Tugu Selatan yang berada di Kecamatan Koja Kotamadya Jakarta Utara, disebabkan karena wilayah ini mempunyai tingkat kepadatan tinggi di DKI Jakarta, rata-rata tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, sosial ekonomi yang kurang, dan banyak pemukiman kumuh yang sangat berpengaruh terhadap kejadian diare.
Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran tentang biaya yang ditanggung oleh keluarga akibat dan penyakit diare akut pada balita. Penelitian ini difokuskan untuk mendapat gambaran keadaan kerugian biaya bagi penderita yang datang berobat ke puskesmas, karena puskesmas merupakan ujung tombak fasilitas pelayanan kesehatan. Perhitungan biaya dilakukan terhadap biaya langsung, biaya tidak langsung dan biaya peluang dalam penanganan balita diare. Penelitian ini dilakukan terhadap 42 balita yang terkena diare akut dan datang berobat ke Puskesmas Tugu Selatan pada bulan Pebruari 2003. Data primer dikumpulkan langsung dari keluarga balita yang menderita diare akut dengan cara wawancara yang dilakukan pada saat kunjungan kerumah 14 hari setelah balita berobat ke puskesmas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh keluarga apabila ada balita menderita diare sebesar Rp. 28.040 per episodnya. Jika dihitung rata-rata per hari biaya yang dikeluarkan oleh keluarga apabila ada balita menderita diare, yaitu sebesar Rp. 4.210. Komponen biaya tersebut terdiri atas biaya konsultasi sebesar 4,7 %, biaya obat 14,7 %, biaya administrasi 8,4 %, biaya transportasi 6,3 %, biaya konsumsi 5,4 %, biaya peluang 60,6 %. Sehingga tampak komponen biaya yang menyebabkan kerugian biaya terbesar akibat penyakit diare pada balita adalah biaya peluang yaitu sebesar 60,6 %.
Dengan hasil yang diperoleh, apabila dilakukan perhitungan kerugian ekonomi yang menjadi beban masyarakat akibat sakit diare di Jakarta Utara didapatkan angka biaya sebesar Rp. 12.072.986.520 setiap tahunnya. Tampak penyakit diare akan memberikan efek memperburuk status sosial ekonomi masyarakat. Sehingga perlu perhatian lebih terhadap pelaksanaan program pemberantasan diare, agar kerugian akibat sakit diare dapat diturunkan.
Saran yang disampaikan adalah perlu penelitian perhitungan kerugian biaya akibat diare yang lebih lengkap, meliputi perhitungan kerugian biaya dan pihak pemerintah dan pihak masyarakat, mengingat diare merupakan salah situ penyakit dengan angka kejadian dan kematian yang tinggi. Bagi divas kesehatan perlu melakukan analisis biaya satuan pelayanan kesehatan di puskesmas dan bagi pemerintah daerah Kotamadya Jakarta Utara perlu memberikan perhatian khusus terutama perbaikan sanitasi lingkungan di pemukiman penduduk, karena sangat berpengaruh terhadap penurunan kejadian diare.

In the whole world, there are 12 (twelve) million children die before five years old in every year; the most is on the beginning of the first year of age. At least 4-5 million of deaths were caused by diarrhea. In Indonesia, diarrhea is still being public health problem because 40% of the death in age group under 2 years old was caused by diarrhea. Diarrhea prevalence in year 2000 was 300 cases per 1000 persons. This high prevalence of diarrhea can cause a big loss to the public and also to the government.
But all this time, information about the cost of diarrhea still less, especially for the cost that the family has to bear because of children under five suffering acute diarrhea. This information can be used in advocacy to the policy makers in the way of decreasing diarrhea prevalence.
Tugu Selatan Sub district Health Center which located in Koja District North Jakarta being selected as the study location because this area has high population density in DKI Jakarta, low education level rate, low social economic rate, and a lot of slum area that affecting to the diarrhea prevalence.
This study is aims at to get the description of financial loss that being a burden of the family as a consequence of diarrhea at children under five. This study being focus to get the description about financial lost of the patient who came to the Health Center, because Health Center is the most important thing in health service facility. Cost calculation was performed to Direct cost, Indirect cost and Opportunity cost in treating diarrhea at children under five. This Study was performed to 42 children under five who have diarrhea and came to Tugu Selatan Health Canter on February 2003. The primary data were collected direct from the family of the children under five who suffering acute diarrhea by interview in their home 14 days after visiting the Health Center.
The results of research shows that the average cost that the family spent when children under five suffering diarrhea is Rp. 28.040 in each episode. If we calculate average cost per day, the cost that being spent when children under five suffering diarrhea is Rp. 4.210. Component of the cost consists of 4,7 % Consultation Cost, 14,7 % Medicine Cost, 8,4 % Administration Cost, 6,3 % Transportation Cost, 5,4 % Consumption Cost, 60,6 % Opportunity Cost. So that seen the cost component that cause the biggest financial lost because of diarrhea at children under five is opportunity cost which is 60,6
The extrapolation to prevalence of diarrhea in North Jakarta use prevalence based study, shows that in North Jakarta is Rp. 12.072.986.520 in every year. Obviously diarrhea will make the social economic status in the community worst. It need to pay more attention to the implementation of diarrhea eliminating program, in order to eliminate the financial lost because of diarrhea.
Suggestion for farther action is that it needs more complete study about calculation of financial lost caused by diarrhea, including calculation of financial lost in the government and in the community, considering diarrhea is one of disease with high prevalence and mortality rate. For the Health Service it necessary to perform cost analysis health service unit cost in Health Center and for the North Jakarta Municipality territory government need to give special attention especially in environment sanitary improvement in habitant residential, because it affecting a lot to the diarrhea prevalence reduction.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12960
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>