Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 33075 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Agus Sjahrurachman
"Salmonellosis, khususnya dalam bentuk demam enterik, merupakan masalah kesehatan utama di negara berkembang, tidak hanya karena insiden dan angka kematiannya yang tinggi, tetapi juga karena waktu yang diperlukan agar penderita "fully recover" dapat berbulan-bulan.
Ditinjau dari segi tatalaksana, angka kesakitan dan kematian yang tinggi itu secara teoritis dapat ditekan jika penderita terdiagnosis secara pasti lebih dini. Sayangnya, gambaran klinisnya seringkali serupa dengan banyak penyakit infeksi lain, seperti rickettsiosis, leptospirosis. Disamping itu baku diagnosis, yaitu isolasi kuman dan pemeriksaan serologis yang ada masih merupakan masalah besar karena rumit dan hasilnya lama, sehingga sangat kurang bermanfaat sebagai panduan untuk tata laksana kasus dan pencegahan transmisi kuman ke orang lain. Karena tata laksana kasus penderita demam enterik dasarnya sama, maka dalam jangka panjang terbuka peluang untuk mengembangkan diagnostik serologik cepat tepat. Pada sisi lain diketahui bahwa flagel adalah struktur kuman terluar dan karenanya merupakan antigen yang paling awal terpapar pada, sistim kekebalan tubuh. Lebih lanjut telah merupakan pengetahuan umum bahwa pada setiap infeksi, respon imun paling awal adalah pembentukan IgM dan keberadaan IgM ini bersifat transient, yaitu hanya untuk beberapa bulan saja. Berdasarkan ide tersebut, disusun rencana penelitian yang tujuannya adalah mendapatkan cara deteksi IgM anti Salmonella sebagai langkah awal untuk pembuatan prototipe diagnostik kit untuk Salmonellosis secara cepat dan mudah.
Dengan metode IgM anti-salmonella capture DIA. Penelitian dimulai dengan menganalisa flagelasi kuman, mengisolasi flagel dan selanjutnya melabel flagel dengan biotin. Dilakukan pula imunisasi kelinci dengan berbagai species Salmonella dan selanjutnya antibodi tersebut diuji reaksi silangnya dengan cara aglutinasi dan direct DIA dengan tujuan memperkirakan komposisi antigen yang selayaknya dipakai pada pengembangan format IgM capture DIA untuk serum manusia. Selain itu dikumpulkan serum dari tersangka penderita demam tifoid, orang normal dan penderita demam berdarah. Konfirmasi diagnosa klinis dilakukan dengan mengisolasi kuman, milakukan uji aglutinasi cara slaid dengan kit komersial dan penetapan kenaikan titer anti H secara makro. Untuk mengembangkan format IgM capture DIA, flagel yang terbiotinilasi telah diuji antigenisitasnya. Saat ini sedang dimulai pengerjaan uji format IgM capture DIA tersebut pada serum manusia."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, [2000, 2000]
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Lies Dina Liastuti
"Deteksi dini gagal jantung (GJ) penting untuk mengurangi angka kesakitan, kematian dan rawat ulang, terutama pada era pandemi COVID-19. Kecerdasan buatan berdasarkan data ekokardiografi berpotensi mempermudah identifikasi GJ, tetapi tingkat kesahihan belum diketahui. Oleh karena itu, dikembangkan model Learning Intelligent for Effective Sonography (LIFES) dengan metode deep learning menggunakan algoritme visual geometry group (VGG)-16 untuk menilai validitas model kecerdasan buatan dalam deteksi GJ dan membedakan jenis GJ dengan atau tanpa penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri (FEVKi) di berbagai alat ekokardiografi. Penelitian uji diagnostik ini menggunakan desain potong lintang yang dibagi dua fase yaitu fase pertama populasi pasien normal dan GJ dengan atau tanpa FEVKi menurun di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita dan fase kedua di 10 RS jejaring pada bulan Januari 2020–Maret 2022. Pada fase pertama dilakukan analisis 141 rekaman video ekokardiografi dan fase kedua dianalisis 685 video meliputi tampilan apical 4 chamber (A4C), apical 2 chamber (A2C), dan parasternal long axis (PLAX). Dataset setiap fase dibagi untuk melatih (tahap training) dan menguji (tahap testing) model LIFES dalam membedakan dua kelas diagnosis (GJ dan individu normal) dan tiga kelas diagnosis (GJ dengan FEVKi menurun, GJ dengan FEVKi terjaga, dan individu normal). Pada fase 1 performa terbaik model LIFES dalam membedakan dua kelas ditunjukkan pada tampilan A2C dengan skor F1 0,94 dan area under the curve (AUC) 0,93. Klasifikasi tiga kelas terbaik ditunjukkan pada tampilan A2C dengan F1 0,78 dan AUC 0,83 sampai 0,92. Pada fase 2 klasifikasi dua kelas terbaik ditunjukkan oleh tampilan PLAX dengan skor F1 mencapai 0,93 dan AUC 0,91. Klasifikasi tiga kelas terbaik ditunjukkan pada tampilan PLAX dengan F1 0,82 dan AUC berkisar dari 0,91 hingga 0,94. Waktu pemrosesan model LIFES sekitar 0,15 sampai 0,19 detik untuk memprediksi satu sampel. Disimpulkan model LIFES berfungsi baik untuk deteksi dini GJ sesuai konsensus ahli, sekaligus dapat membedakan jenis GJ dengan atau tanpa FEVKi menurun pada berbagai mesin ekokardiografi.

Early detection of heart failure (HF) is important to reduce morbidity, mortality, and re-hospitalization, especially in the era of the COVID-19 pandemic. Artificial intelligence based on echocardiographic data has the potential to facilitate the identification of HF, but the level of validity is unknown. Therefore, Learning Intelligent for Effective Sonography (LIFES) model was developed with a deep learning method using the visual geometry group (VGG)-16 algorithm to assess the validity of the artificial intelligence model in the detection of HF and distinguish the type of HF with reduced ejection fraction (HFrEF) or preserved in left ventricular ejection fraction (HFpEF) in various echocardiographic devices. This diagnostic test study used a cross-sectional design, which was divided into two phases, namely the population of normal and HFrEF or HFpEF patients at the Harapan Kita National Heart Center Hospital and ten network hospitals from January 2020 to March 2022. In the first phase, 141 echocardiographic video recordings were analyzed and in the second phase, 685 videos were analyzed, including apical-4 chamber (A4C), apical-2 chamber (A2C), and parasternal-longaxis (PLAX) displays. The dataset for each phase was divided between training and testing the LIFES model in distinguishing two-diagnostic classes (HF and normal individuals) and three-diagnostic classes (HFrEF, HFpEF, and normal individuals). In phase 1, the best performance of the LIFES model in distinguishing the two classes is shown on the A2C display with an F1 score of 0.94 and an area under the curve (AUC) 0.93. The best three-class classifications are shown on the A2C display with an F1 of 0.78 and an AUC of 0.83 to 0.92. In phase 2, the best twoclass classifications are shown by the PLAX display with F1 scores reaching 0.93 and AUC 0.91. he best three-class classifications are shown on the PLAX display, with an F1 of 0.82 and an AUC ranging from 0.91 to 0.94. The
processing time of the LIFES model is about 0.15 to 0.19 seconds to predict a single sample. It is concluded that the LIFES model works well for the early detection of HF, according to expert consensus while at the same time being able to distinguish the type of HF (HFrEF or HFpEF) on various echocardiographic machines.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
R. Lia Kusumawati
"ABSTRAK
Salah satu penyebab kegagalan pengendalian tuberkulosis di Indonesia, adalah karena lemahnya diagnosis untuk deteksi dini kasus infeksi disamping kegagalan terapi kasus tuberkulosis yang resisten terhadap beberapa obat anti tuberkulosis dan hambatan dalam melakukan kontrol tuberkulosis secara global. Dengan ditemukannya teknik molekuler "spoligotyping" (spacer olygonucleotide typing) yang dilakukan berdasarkan analisis keragaman jumlah dan letak daerah diantara lokus direct repeat (DR) DNA M, tuberculosis dan hibridisasi menggunakan pelacak spacer oligonucleotide yang terletak diantara daerah DR ini akan dapat memperlihatkan perbedaan antar galur. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan deleksi cepat sekaligus dapat membedakan galur M. tuberculosis langsung dari spesimen klinik tanpa melakukan kultur kuman.
Sebanyak 30 sampel yang terdiri dari 29 sampel klinik bakteri Al tuberculosis yang dikumpulkan dari 28 penderita tuberkulosis dan I sampel kuman standard Al BGC dilakukan pemeriksaan mikroskopik BTA, kultur pada media Lowenstein Jensen, uji bioldmia, uji resistensi serta ekstraksi DNA. DNA hasil ekstraksi kemudian diamplifikasi dengan menggunakan oligonukleotida DRa dan DRb 5'biotinylated sebagai primer untuk amplifikasi lokus direct repeat (DR) DNA M tuberculosis. DNA hasil amplifikasi dihibridisasi dengan pelacak (probe) yang terdiri dari I set oligonukleotida (43 jenis spacer oligonucleotides). Deteksi DNA hasil hibridisasi dilakukan dengan alat deteksi substrat kemiluminesen ECL (Amersham) dan dipaparkan pada film sinar-X ( Hyperfilm ECL; Amersham).
Dari hasil penelitian terlihat bahwa ekstraksi DNA M. tuberculosis dengan menggunakan metode Boom maupun Fenol-Kloroform dapat menghasilkan DNA dengan tingkat kemurnian atau nilai rasio absorbansi (a. 2601280) berkisar 1,4-1,9. Keberhasilan isolasi DNA ini telah dibuktikan dengan adanya pita DNA dalam gel agarosa dari hasil amplifikasi PCR dengan ukuran 541 bp, yang sesuai dengan fragmen DNA Al tuberculosis yang disintesis dengan menggunakan primer Pt8 dan Pt9. Hibridisasi telah dilakukan untuk menentukan galur pada 9 dari 30 sampel yang berhasil dikumpulkan dan di dapatkan 8 pola pita hibridisasi unik yang menunjukkan adanya 8 galur yang berbeda. Pada 2 sampel sputum yang dikumpulkan dalam 2 waktu pengambilan yang berbeda dari seorang penderita tuberculosis, memberikan pola pita hibridisasi yang sama. 4 galur MDR-TB (Multi Drug Resistance - Tuberculosis) dalam sampel penelitian ini mempunyai pola kekerabatan yang lebih dekat dibandingkan dengan 3 galur lainnya yang sensitif terhadap semua jenis Obat Anti Tuberculosis. Dari ke 9 sampel yang diidentifikasi dengan teknik spoligotyping, dapat menunjukkan perbedaan antar galur dan diperoleh 8 pola pita hibridisasi DNA Al. tuberculosis yang dapat digunakan sebagai penanda epidemiologi untuk bakteri penyebab penyakit tuberkulosis di Indonesia.
Teknik spoligotyping dapat menjadi alternatif disamping isolasi M. tuberculosis untuk mendeteksi adanya bakteri M. tuberculosis sekaligus dapat membedakan galur kuman pada penderita tuberkulosis, sehingga dapat digunakan untuk memantau penyebaran kuman penyakit tuberkulosis yang sangat penting untuk dikembangkan lebih lanjut."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Tatik Mufidah
"[ABSTRAK
Aeromonas hydrophila merupakan foodborne dan waterborne patogen, yang banyak
ditemukan pada lingkungan perairan. Bakteri ini dapat menginfeksi manusia, hewan
teresterial dan hewan air seperti ikan mas, Infeksi A. hydrophila dapat mengakibatkan
komplikasi gastrointestinal dan non-gastrointestinal pada manusia dengan penularan
terjadi secara oral maupun luka yang terinfeksi bakteri. Sedangkan infeksi A.
hydrophila pada ikan mas dapat menjadi sumber penularan ke manusia dan
mengakibatkan kematian ikan mas budidaya yang berdampak pada kerugian ekonomi.
Hingga saat ini informasi mengenai infeksi A. hydrophila pada manusia masih jarang
dilaporkan. Hal tersebut dapat terjadi karena hingga saat ini metode diagnosa antibodi
anti A. hydrophila belum banyak berkembang, sedangkan uji kekebalan penting bagi
skrining, diagnosa banding dan uji konfirmasi terhadap infeksi A. hydrophila. Untuk
itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode ELISA dan uji deteksi
cepat berdasarkan modifikasi ELISA menggunakan imunostik untuk mendeteksi
antibodi anti A. hydrophila. Sebagai hewan uji digunakan enam ekor kelinci (New
Zeland White) dan enam ekor ikan mas (Cyprinid carpio) yang diimunisasi dengan
antigen sel utuh bakteri A. hydrophila yang diiaktivasi dengan formalin 0,3%.
Imunisasi pada ikan mas dilakukan secara intraperitoneal, diulang satu minggu setelah
imunisasi pertama, sedangkan imunisasi pada kelinci dilakukan satu kali dengan
emulsi antigen dan Freund?s complete adjuvant kemudian dilanjutkan dengan dua kali
booster menggunakan emulsi antigen dan Freund?s incomplete adjuvant. Koleksi
serum hewan uji dilakukan setiap minggu hingga minggu ke-6 dari koleksi serum
pertama. Hasil optimasi terhadap uji ELISA menunjukkan bahwa uji ELISA yang
dikembangkan mampu mendeteksi antibodi anti A. hyrophila, demikian pula dengan
imunostik yang dirakit mampu memdeteksi antibodi anti A. hyrophila pada serum ikan
mas dan kelinci.

ABSTRACT
Aeromonas hydrophila is foodborne and waterborne pathogens. The bacteria that
occur ubiquitously and autochthonously in aquatic environments. These bacteria can
infect humans, animals terrestrial and aquatic animals such as goldfish, infection of A.
hydrophila can lead to complications of gastrointestinal and non-gastrointestinal
infection in humans and transmitted by oral and infected wounds contamination. The
infected carp with A. hydrophila is a source of transmission to humans, resulting in the
death of farmed fish that have an impact on economic disadvantage. Till now there are
lacking information of A. hydrophila infection in humans reported. This can be occur
because to the current diagnostic methods antibodi A. hydrophila undeveloped, while
the immunity test is important for screening, differential diagnosis and confirmation
test of A. hydrophila infection. Therefore, the aims of this research is to develop
ELISA methods and rapid detection test based on the modified ELISA using
imunostick to detect antibodies against A. hydrophila. For animals models, 6 rabbits
(New Zeland White) and 6 carp (Cyprinid carpio) were immunized with whole cell
antigen A. hydrophila bacteria which inactivated using 0.3% formalidehide. Carp
immunized intraperitoneally with antigen, and repeated one week after the first
immunization, whereas immunization in rabbits done once with antigen emulsion and
Freund's complete adjuvant followed by two booster using emulsion of antigen and
Freund's incomplete adjuvant. Collection of animal serum done every week, till the
sixth week from the first serum collection. The results of the optimization of the
ELISA test showed that the developed ELISA test is able to detect antibodies against
A. hyrophila, as well as the assembled imunostik capable to detect antibodies against
A. hyrophila both in carp and rabbit serum respectively, Aeromonas hydrophila is foodborne and waterborne pathogens. The bacteria that
occur ubiquitously and autochthonously in aquatic environments. These bacteria can
infect humans, animals terrestrial and aquatic animals such as goldfish, infection of A.
hydrophila can lead to complications of gastrointestinal and non-gastrointestinal
infection in humans and transmitted by oral and infected wounds contamination. The
infected carp with A. hydrophila is a source of transmission to humans, resulting in the
death of farmed fish that have an impact on economic disadvantage. Till now there are
lacking information of A. hydrophila infection in humans reported. This can be occur
because to the current diagnostic methods antibodi A. hydrophila undeveloped, while
the immunity test is important for screening, differential diagnosis and confirmation
test of A. hydrophila infection. Therefore, the aims of this research is to develop
ELISA methods and rapid detection test based on the modified ELISA using
imunostick to detect antibodies against A. hydrophila. For animals models, 6 rabbits
(New Zeland White) and 6 carp (Cyprinid carpio) were immunized with whole cell
antigen A. hydrophila bacteria which inactivated using 0.3% formalidehide. Carp
immunized intraperitoneally with antigen, and repeated one week after the first
immunization, whereas immunization in rabbits done once with antigen emulsion and
Freund's complete adjuvant followed by two booster using emulsion of antigen and
Freund's incomplete adjuvant. Collection of animal serum done every week, till the
sixth week from the first serum collection. The results of the optimization of the
ELISA test showed that the developed ELISA test is able to detect antibodies against
A. hyrophila, as well as the assembled imunostik capable to detect antibodies against
A. hyrophila both in carp and rabbit serum respectively]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Enny Nugraheni Sulistyorini
"Virus dengue (DENV) adalah penyebab penyakit infeksi yang endemik di 100 negara di dunia. DENV dapat menyebabkan infeksi primer dan sekunder. Infeksi sekunder diperkirakan lebih berat dan akan menyebabkan menjadi Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Renjatan Dengue (SRD). Penatalaksanaan yang lebih dini dan tepat akan membantu mengurangi terjadinya kasus berat seperti DBD dan SRD. Teknik diagnostik yang dikembangkan belum ada yang dapat mendeteksi secara cepat dan tepat pada awal infeksi terutama untuk virus dengue strain Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan kondisi yang optimal untuk deteksi DENV dan analisis validasi tehnik in house multiplek realtime Reverse Transcriptase-Polimerase Chain Reaction (rRT-PCR) sehingga dapat digunakan untuk deteksi dini dan cepat infeksi DENV.
Rancangan penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium. Strain standar DENV diisolasi dengan kit Roche® dan spesimen diekstraksi dengan kit Qiagen®. Strain standar DENV digunakan untuk optimasi suhu annealing dan konsentrasi primer masing-masing serotipe DENV dengan metode in house multiplek rRT-PCR berbasis SYBR green. Sebagai pembanding digunakan RT-PCR konvensional dengan menggunakan primer di daerah C-PrM. Primer in house multiplek rRT-PCR didesain di daerah envelope pada masing masing serotipe. Analisis limit of detection (LOD) dilakukan dengan pengenceran titer virus 105, 104, 103, 102, 10 dan 1 FFU/ml (in house multiplek rRT-PCR) pada keempat serotipe.
Hasil in house multiplek rRT-PCR dibandingkan dengan hasil RT-PCR konvensional Lanciotti pada pasien dengue yang telah masuk dalam kriteria inklusi dan eksklusi. Suhu annealing optimal didapatkan pada suhu 58oC sedangkan konsentrasi optimal masing-masing primer untuk in house multiplek rRT-PCR adalah 4 pmol. LOD RNA pada DENV-1, DENV-2, DENV-3, DENV-4 adalah 1 FFU/ml, 10 FFU/ml, 104 FFU/ml dan 1 FFU/ml. In house multiplek rRT-PCR dibandingkan RT-PCR konvensional mempunyai sensitivitas sebesar 100%, spesifisitas 94,2 %, nilai prediksi positif 85,7% dan nilai prediksi negatif 100 %. In house multiplek rRT-PCR berbasis SYBR green merupakan metode yang dini, cepat dan tepat untuk deteksi DENV pada awal infeksi dengan sensitivitas dan spesifisitas yang baik sebagai metode diagnostik infeksi dengue dimasa mendatang.

Dengue virus (DENV) is an infectious disease that is endemic in 100 countries in the World. Dengue virus infections can cause primary and secondary. Secondary infection is estimated to be more severe DHF and SDD. Developed diagnostic technique that no one has been able to quickly and accurately detect the infection early, especially for the Indonesian strain of dengue virus. The purpose of this study is to obtain optimal conditions for the detection of dengue infection and analysis techniques in-house validation of multiplex real-time Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (rRT-PCR) for the Indonesian strain of dengue virus.
Design of this study is an experimental research laboratory. Standard strains of dengue virus was isolated with a kit Roche® and the specimen was extracted with Qiagen® kit. Standard strains of dengue virus is used for optimization primer annealing temperature and the concentration primers of each serotype dengue virus by multiplex rRT-PCR method based on SYBR green. Primers for RT-PCR conventional based lanciotii et al while rRT-PCR primer was designed in the envelope gen at each serotype. Limit of detection (LOD) by diluting the virus titer 105, 104, 103, 102 FFU /ml performed by rRTPCR in all four serotypes.
The results of multiplex rRT-PCR compared with results of conventional RT-PCR in patients with dengue lanciotti superbly into the criteria inclusion and exclusion. Optimal annealing temperature results obtained at a temperature of 58oC and optimal primer concentration of 4 pmol of each primer for 25 ul total reaction. LOD RNA in DENV-1, DENV-2, DENV-3 and DENV-4 at titer of 1 FFU / ml, 10 FFU/ml, 104 FFU/ml and 1 FFU/ml. .In house multiplex rRT-PCR compared with RT-PCR has a sensitivity of 100%, specificity 95,2%, positive predictive value 85,7% and negative predictive value of 100%. In-house multiplex rRT-PCR with SYBR green-based research is a method that is rapid and precise detection of dengue virus in early infection with good sensitivity and specificity compared to RT-PCR as a diagnostic method in the future dengue infection.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"Anthurium merupakan salah satu spesies dari famili araceae yang paling populer. Tanaman ini mempunyai nilai ekonomi tinggi karena bunganya menarik , bervariasi dan memiliki ketahanan yang panjang dalam vas (Sarwono 1992; Bhudiprawira dan Saraswati 2006)...."
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Oktania Sandra Puspita
"Demam tifoid adalah penyakit infeksi umum akut yang disebabkan oleh Salmonella typhi. Penyakit yang tersebar hampir di seluruh dunia ini merupakan penyakit tropik sistemik, bersifat endemis dan masih merupakan problem kesehatan masyarakat di dunia, terutama di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Uji Widal merupakan salah satu uji serologis yang sampai saat ini masih digunakan secara luas, khususnya di negara berkembang termasuk Indonesia. Uji serologi Widal memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang rendah serta sering memberikan hasil positif palsu maupun negatif palsu. Oleh karena itu dilakukan deteksi molekuler real time PCR terhadap gen penyandi secretion system ATPase type III ssaN Salmonella enterica subsp.enterica dari spesimen darah pasien demam tifoid.
Uji spesifisitas teknik real time PCR didapatkan bahwa primer dan probe yang digunakan tidak bereaksi silang terhadap mikroorganisme lain yang diuji pada penelitian ini. Pada uji sensitivitas teknik didapatkan kemampuan deteksi minimal adalah 10 cfu/ml pada spesimen darah. Pada penerapan uji terhadap spesimen darah, didapatkan real time PCR dapat mendeteksi 19 38 sampel positif Salmonella enterica subsp.enterica dari 50 spesimen darah pasien yang diduga terinfeksi demam tifoid. Sebelas sampel dengan serologi Widal negatif memberikan hasil positif pada real time PCR. Dengan demikian, uji real time PCR terhadap target gen ssaN yang digunakan dalam penelitian ini dapat meningkatkan tingkat pengujian positif sebesar 22 dibandingkan uji Widal.

Typhoid fever is an acute infectious disease caused by Salmonella typhi. Diseases spread almost all over the world is a tropical disease systemic, endemic and remains a public health problem in the world, especially in developing countries, including Indonesia. In areas where typhoid fever occur, the clinical diagnosis of typhoid fever is inadequate, because the symptoms are not specific and overlapping with other febrile illnesses. Diagnosis of typhoid fever is often enforced only based on clinical symptoms and serological tests alone. Widal test is a serological test which is still widely used, particularly in developing countries, including Indonesia. Widal serological test has a very low sensitivity and specificity and often give false positives or false negatives result. Therefore, were performed detection of gene encoding secretion system ATPase type III ssaN in Salmonella enterica subsp.enterica from blood specimen of typhoid fever patients.
Specificity test of real time PCR technique showed that the primers and probes used are not cross react against other microorganisms tested in this study. On the sensitivity test techniques obtained minimal detection is at least 10 cfu ml of blood specimen. On the application of test in blood clinical specimens, real time PCR could detect 19 38 Salmonella enterica subsp.enterica positive samples of 50 blood specimen from suspected typhoid fever patients. Eleven samples with negative Widal serology gives positive results in real time PCR. Thus, real time PCR test with the ssaN gene target used in this study could increase rate of positive testing about 22 compared with Widal test.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Mirawati
"Resistensi terhadap obat anti tuberkulosis merupakan masalah yang memperberat suksesnya program penanggulangan dan pemberantasan tuberkulosis. Diperkirakan 90% isolat yang resisten terhadap rifampisin juga resisten terhadap isoniazid, sehingga resisten terhadap rifampisin dianggap sebagai "Surrogate marker" bagi resisten obat anti tuberkulosis Iainnya. Sekitar 95% isolat yang resisten rifampisin mengalami mutasi pada gen rpoB dan 70% mengalami mutasi pada kodon 531. Seiring dengan perkembangan teknik molekuler, hibridisasi dot blot dengan menggunakan pelacak oligonukleotida dapat digunakan untuk mendeteksi adanya mutasi pada gen. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi mutasi gen resisten rifampisin pada Mycobacterim tuberculosis dan mengembangkan teknik hibridisasi dot blot untuk deteksi resisten OAT. Sebanyak 30 sampel isolat Mycobacterium tuberculosis yang resisten terhadap rifampisin telah diisolasi DNA dengan teknik boiling lalu diamplifikasi dengan PCR dengan menggunakan primer TR8 dan TR9. Setelah itu produk PCR dielektroforesis untuk mengetahui kebenaran hasil amplifikasi. Lalu dilakukan hibridisasi dot blot untuk dengan pelacak rpoB 531 mu untuk mengetahui adanya mutasi gen rpoB pada kodon 531 sebagai tanda terjadinya resistensi terhadap rifampisin. Hasil penelitian ditemukan 6 sampel (20%) Ban 30 sampel yang mengalami mutasi gen rpoB pada kodon 531. Berarti 6 sampel yang resisten terhadap rifampisin sedangkan 24 sampel lainnya yang tidak mengalami mutasi pada kodon 531 mungkin mengalami mutasi gen rpoB pada kodon lainnya yang akan terdeteksi dengan menggunakan pelacak lainnya. Dari penelitian juga didapat beberapa keuntungan penggunaan teknik ini yaitu hemat waktu, hemat biaya , sederhana dan akurat. Berdasarkan basic tersebut maka dapat disimpulkan bahwa telah ditemukan mutasi gen rpoB pada kodon 531 dan teknik hibridisasi dot blot sangat cocok dikembangkan sebagai teknik deteksi resisten terhadap rifampin dan OAT lainnya."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2005
T 16202
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lisawati Susanto
"Toxoplasma gondii adalah protozoa intraselular yang dapat menyebabkan toksoplasmosis. Pada orang sehat (imunokompeten) inteksi biasanya tidak disertai gejala klinis, sedangkan pada penderita imunokomipromais terutama pada penderita AIDS infeksi dapat berakibat fatal. Infeksi primer pada wanita hamil dapat mengakibatkan terjadinya transmisi melalui plasenta ke janin. Karena iti pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk menentukan adanya infeksi T.gondii, sehingga pengobatan dapat diberikan dengan segera untuk menghindari kerusakan lebih lanjut. Diagnosis Toxoplasmosis biasanya dilakukan dengan uji serologi."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2000
LP-Pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Lisawati Susanto
"Toxoplasma gondii adalah protozoa intraselular yang dapat menyebabkan toksoplasmosis. Pada orang sehat (imunokompeten) infeksi biasanya tidak disertai gejala klinis, sedangkan pada penderita imunokompromais terutama pada penderita AIDS infeksi dapat berakibat fatal. Infeksi primer pada wanita hamil dapat mengakibatkan terjadinya transmisi melalui plasenta ke janin. Karena itu pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk menentukan adanya infeksi T.gondii, sehingga pengobatan dapat diberikan dengan segera untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah Polymerase chain reaction (PCR) dengan menggunakan gen P30 dapat mendeteksi DNA T.gondii. Pada DNA yang diisolasi dilakukan PCR terhadap target gen P30 menurut metode menurut metode Weiss dkk. dan Chang & Ho. Primer gen P30 terdiri dari oligo 1 : 5'CACACGGTTGTATGTCGGTTTCGCT3' dan oligo 2 : 5'TCAAGGAGCTCAATG TTACAGCCT3'. Sampel DNA yang digunakan untuk PCR dengan target gen P30 terdiri dari berbagai macam bahan yaitu : (a) DNA murni T.gondii dengan berbagai konsentrasi, (b) campuran DNA murni T.gondii dengan DNA darah manusia sehat, (c) DNA dari takizoit yang berasal dari campuran 99 ml darah manusia sehat dengan 1 ml suspensi takizoit yang masing-masing mengandung 1000,100, 50, 40, 30, 20 dan 10 takizoit. PCR dengan target gen P30 yang dilakukan menurut metode Weiss dkk. memberikan pita yang tidak spesifik. Pada metode Chang & Ho penggunaan siklus sebanyak 30, 35, 40 dan 45 siklus tidak memberikan gambaran pita, sedangkan penggunaan 50 siklus baru memberikan hasil pita spesifik T.gondii pada elektroforesis.
Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa konsentrasi minimal DNA T.gondii yang masih terdeteksi pada sampel DNA murni T.gondii adalah 1 pg, pada sampel DNA murni T.gondii yang dicampur dengan DNA manusia sehat adalah 0,025 ng dan pada sampel darah manusia sehat yang dicampur dengan suspensi takizoit adalah DNA yang berasal dari minimal 20 takizoit. Dengan demikian dapat disimpulkan PCR dengan menggunakan target gen P30 dapat digunakan untuk mendeteksi DNA T.gondii.

Detection of P30 gene to diagnosis of toxoplasmosis by using polymerase chain reaction. Toxoplasma gondii is an intracellular protozoan which causes toxoplasmosis. In healthy persons (immunocompetent) the infection is usually asymptomatic; however in immunocompromised patients, especially AIDS patients, the infection can be fatal. Primary infection in pregnant women can be transmitted to the fetus via the placenta. Therefore laboratory examination is absolutely neccesary to assess the presence of T.gondii infection hence prompt treatment can be given to prevent further damage.
The aim of this study is to know whether by using P30 gene as target the Polymerase chain reaction (PCR) can detect T.gondii DNA in Indonesia. The PCR was performed on the DNA which had been isolated against P30 gene as target by using the method described by Weiss et al and Chang & Ho. The P30 gene primers consisted of oligo 1: 5'CACACGGTTGTATGTCGGTTTCGCT3' and oligo 2: 5'TCAAGGAGCTCAATGTTAC GCT3'. The DNA samples used in the PCR with P30 gene as target were derived from the following materials: (a) pure T.gondii DNA of various concentrations, (b) a mixture of pure T.gondii DNA and normal human blood DNA, (c) tachyzoite DNA derived from the mixture of 99 ml normal human blood and 1 ml tachyzoite suspension with the following amount of tachyzoites :1000,100, 50, 40, 30, 20 and 10 tachyzoites. It was shown that no specific bands were observed in the PCR with P30 gene as target (performed according to the method described by Weiss et al). The PCR according to the method described by Chang & Ho did not show any band when 30, 35, 40 and 45 cycles of PCR were used however, by using 50 cycles a specific band was observed.
The results obtained showed that the minimal DNA concentrations which still could be detected using P30 gene as target were as follows : 0.001 ng DNA in 50 ml PCR solution from samples of pure DNA, 0.025 ng DNA in 50 ml PCR solution from samples of pure DNA mixed with normal human blood and the amount of DNA originated from at least 20 tachyzoites. It was concluded that the assay using P30 gene as target could be used for detecting T.gondii DNA in Indonesia."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2001
AJ-Pdf
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>