Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 164014 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mantik, Fred Andi
"ABSTRAK
Masalah limbah di kota-kota besar sudah merupakan persoalan lingkungan yang sangat serius yang harus ditangani secara serius pula. Di Jakarta dihasilkan sekitar 5.000 sampai dengan 6.000 ton limbah rumah tangga dan sekitar 500 ton limbah non-rumah tangga (kantor, pabrik dan pasar) setiap harinya. Sebagian besar (74%) dari limbah tersebut merupakan limbah organik yang dapat dihancurkan atau diserap oleh alam dan sisanya tergolong limbah nonorganik yang tidak dapat diserap oleh alam yang menimbulkan masalah pencemaran lingkungan yang serius, seperti plastik, kaca/beling, dan jenis metal lainnya. (Surindo Utama 1992, Studi Potensi Limbah Kertas dan Plastik).
Penanganan limbah sebanyak itu harus melibatkan semua pihak khususnya masyarakat yang memproduksi limbah itu sendiri (masyarakat konsumen, pabrik, perkantoran dan rumah tangga). Pada umumnya limbah nonorganik dapat diproses kembali (recycle) untuk dijadikan barang-barang yang berguna dan mempunyai nilai ekonomi.
Program PEDULI'92 direncanakan sebagai upaya memecahkan masalah lingkungan hidup yang sekaligus mengangkat kemiskinan. Gagasan program ini sebenarnya adalah penerapan berbagai intervensi terhadap sistem daur ulang tradisional yang telah lama ada di Indonesia.
Atas dasar hal tersebut di atas maka permasalahan yang diteliti adalah : 1. Bagaimana dampaknya terhadap mata rantai distribusi limbah daur ulang (limbah padat); 2. Apakah peran serta ibu-ibu rumah tangga secara aktif berdampak terhadap pendapatan keluarga, pemulung dan pelapak; 3. Apakah adanya penyuluhan dan pembagian kantong-kantong plastik dapat menumbuhkan peran serta dan keaktifan ibu-ibu rumah tangga dalam memilah limbah.
Penelitian ini bertujuan : 1. Untuk mengetahui dampak program Peduli '92 terhadap mata rantai distribusi limbah daur ulang (limbah padat) limbah padat; 2. Untuk mengetahui dampak Program Peduli terhadap pendapatan keluarga, pemulung dan pelapak; 3. Untuk mengetahui dampak Program Peduli '92 terhadap peran serta dan keaktifan ibu-ibu rumah tangga dalam pemilahan limbah.
Hipotesis Kerja 1. Diduga bahwa mata rantai sistem distribusi limbah padat semakin pendek, volume dan mutu limbah padat akan semakin tinggi; 2. Diduga bahwa program Peduli dapat memperbaiki tingkat pendapatan Keluarga, pemulung dan pelapak; 3. Diduga terdapat korelasi positif program Peduli terhadap peran serta dan keaktifan ibu-ibu rumah tangga dalam memilah limbah.
Dalam penelitian ini ada dua macam jenis data yang diperlukan, yakni data primer dan data sekunder. Metode pengumpulan data penelitian ini dilaksanakan melalui dua tahapan yaitu tahapan pengamatan lapangan dan survei. Metode pengambilan data primer dilakukan terhadap responden penelitian yang diambil secara sampel dari populasi ibu-ibu rumah tangga, pemulung dan pelapak. Pengambilan data secara sampel ini dilakukan dengan pertimbangan adanya keterbatasan tenaga, biaya dan waktu.
Dalam populasi (1.137 ibu rumah tangga) terdapat kelompok ibu-ibu rumah tangga yang pernah dapat penyuluhan dan yang tidak pernah dapat penyuluhan. Dengan keadaan populasi seperti itu, maka metode pengambilan sampel yang tepat terhadap populasi dilakukan dengan stratified random sampling (acak berstrata), sehingga diperoleh 41 orang yang pernah mengikuti penyuluhan dan 19 orang yang tidak pernah mengikuti penyuluhan. Jadi jumlah sampel ibu-ibu rumah tangga sebanyak 60 orang.
Untuk melihat dampak program peduli diteliti 30 orang pemulung dan 3 pelapak yang berada di RW 07 Kelurahan Sunter Jaya yang selain diwawancarai juga diberi kuesioner untuk meneliti persepsi, peran serta dan sampai berapa jauh dampak program peduli mempengaruhi pendapatan dan kewiraswastaan mereka. Metode pengambilan sampel untuk pemulung dan pelapak adalah dengan Random Sampling.
Untuk analisis ada tidaknya pengaruh program peduli terhadap mata rantai distribusi, ibu-ibu rumah tangga, pemulung dan pelapak dipergunakan analisis deskriptif dengan menggambarkan keterkaitan/hubungan masing-masing pelaku dalam suatu jaringan mata rantai distribusi. Untuk analisis perbedaan pendapatan ibu-ibu rumah tangga, pemulung dan pelapak sebelum dan sesudah program peduli digunakan uji dua rata-rata, dengan bantuan perhitungan komputer menggunakan program SPSS. Untuk analisis ada tidaknya hubungan serta tingkat hubungan antara program peduli dengan keaktifan ibu-ibu rumah tangga dalam memilah-milah limbah padat dipergunakan analisis deskriptif dengan pendekatan persentase.
Hasil penelitian ini di dapat kesimpulan I. Adanya Program Peduli telah merubah status sebagian pemulung, dari pemulung yang memungut limbah di tempat-tempat pembuangan limbah menjadi pemulung yang berfungsi sebagai pedagang keliling. Sedangkan sebagian lagi tetap sebagai pemulung yang memungut limbah di tempat pembuangan limbah; 2. Adanya Program Peduli telah meningkatkan pendapatan ibu-ibu rumah tangga, pemulung dan pelapak; 3. Adanya Program Peduli berdampak positif terhadap masyarakat (ibu rumah tangga) terhadap lingkungan, hal ini dapat dilihat bahwa sebagian besar ibu-ibu rumah tangga secara meyakinkan menyatakan bersedia dan bersedia sekali masing-masing sebesar 66,7% dan 6,7%, serta cukup bersedia sebesar 20,0%. Sisanya yang hanya 6,7% menyatakan kurang bersedia dan tidak bersedia. Kesediaan berperan serta dalam pemilahan limbah oleh ibu-ibu rumah tangga. Sebagian besar ibu-ibu rumah tangga menyatakan aktif melakukan pemilahan limbah, sebanyak 58,3% dan yang menyatakan cukup aktif sebesar 23,3%, sisanya 18,3% menyatakan kurang dan tidak aktif.

ABSTRACT
Waste issue in big cities has become a very serious environmental problem which must be handled seriously as well.
Jakarta generates about 5000 till 6000 tonnes household waste and about 500 tonnes other waste (office, industry and market) each day.
A greater part (74t) of the waste is organic waste which can be deteriorated and volatilize by nature and the rest, comprised of inorganic waste which is unbiodegradable by nature and it will cause a serious environmental pollution problem as plastic, glass/porcelain, other sort of metal (Surindo Utama, 1992).
Dealing with such a lot of waste should invole all parties especially people who produce waste themselves (consumers, factories, offices and households).
In general, inorganic waste could be recycled to make useful things and has economic value. Peduli Programme'92 was planned as an effort to solve out the environmental problem and at the same time to eliminate poverty.
Actually the concept of this program is applying many kinds of interventions on the traditional recycling system which has already exist for along time in Indonesia.
Based on the case above, the problems which were investigated are: 1. What is the impact towards the distribution system of solid waste. 2. Do the participation and the activities of housewives influence income of the family, scavengers and pelapak. 3. Could enlightment and distribution of plastic bags develop the participation and the activities of housewives in selecting waste.
The purpose of the research is to know the impact of Peduli Programme 92 on: the distribution system of solid waste the income of the family, scavengers and pelapak the participation and the activities of housewives in selecting waste.
Work Hypothesis: 1 It is assumed that the distribution system, becomes shorter, volume and quality of solid waste will raise. 2. It is assumed that Peduli Programme could improve family income, scanvengers and pelapak. 3 It is assumed that there's a positive correlation between Peduli Programme, participation and the activities of housewives in selecting solid waste..
This research, required two kind of data's, the primary and secondary data's. The collecting method was done in two stages, field observation, and survey. The method of collecting primary data was done towards research respondent by sampling from the respondents housewives, scanvengers and pelapak. The sampling method was done in consideration of the lack of energy, cost and time. In the population (1,137 housewives), there was a group of housewives who was enlighted and a group who has never been enlighted. in such a population, the right sampling method was stratified random sampling, so there are 41 persons who had attended the training and were enlighted and 19 persons were not enlighted. So the housewives sample were 60 persons.
Two evaluate the impact of Peduli Programme, 30 scavengers and 3 pelapak in RW 07 Kelurahan Sunter Jaya were investigated. Besides being interviewed, they also allowed to fill the questionnaire in order to know their perception, participation and how far the impact of Peduli Programme influenced their income and enterpreneurship.
The sampling method for scavengers and pelapak was random sampling. To analyze the impact of Peduli Programme towards the distribution system of solid waste, the housewives, scavenger and pelapak. Descriptive analyzes is done to evaluate the relationship of each party in the distribution system. To analyze the difference incomes of housewives, scavengers and pelapak before and after Peduli Programme is used average test by means computer programme, using SPSS.
To analyze the relationship and the gradation of relationship between Peduli programme providinginformation and facilities with the activities of housewives in selecting solid waste is used descriptive analyzes through percentage approach.
The conclusion of the result of this research is: The intervention of Peduli Programme has changed the status of part of the scavengers, from scavengers who picked up waste from the disposal place and become a street vendor, a part of them were still? scavenger who picked up waste from the disposal place. The intervention of Peduli Programme had raised the income of housewives, scavengers and pelapak.The intervention of Peduli Programme has a positive impact on the society's attention (housewives) to the environment, it could be seen that most of housewives undoubtedly stated ready and very ready each 66,7% and 6,7% and fair ready 20,0%.The rest wich was only 6,7% stated less ready and not ready participate in selecting waste.Most of the housewives stated active in selecting waste (58,3%) and some stated fair active (23,3%) the rest (18,3%) stated less,and not active.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1995
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erna Witoelar
"Ringkasan
Permasalahan lingkungan hidup yang dihadapi manusia semakin
banyak, Iuas, dan kompleks, karenanya semakin mendesak pula
peningkatan partisipasi semua orang dalam pemecahan masalahnya.
Solusi Iingkungan tidak saja harus Iebih holistik, juga perlu ditangani
secara Iintas wilayah/negara, lintas sektoral, Iintas disiplin llmu, dan
oleh seluruh Iapisan masyarakat. Tanggung jawab lingkungan tidak saja global, nasional, lokal dan komunal, melainkan juga sudah harus
disertai tanggung jawab perorangan.
Konsumerisme hijau adalah suatu fenomena sosial yang tumbuh
dengan pesat pada dekade 1980an sebagai artikulasi tanggung iawab
perorangan tersebut. Dalam fungsinya sebagai konsumen, semua orang
mempunyai hak atas Iingkungan hidup yang bersih dan sehat. Selain itu
semua konsumen juga mempunyai tanggung jawab akan dampak
konsumsinya terhadap kerusakan dan penurunan kualitas lingkungan.
Tanggung jawab konsumen ini dapat diartikulasikannya dalam kegiatan
yang secara populer disebut 4R, yaitu reuse (penggunaan kembali),
recycle (daur ulang), reduce (pengurangan konsumsi) dan replace
(mengganti konsumsi dengan yang lebih ramah lingkungan).
Dilaksanakan oleh banyak orang, 4R dapat mendorong peningkatan
tanggung jawab lingkungan para produsen.
Di Indonesia, proses daur ulang limbah secara tradisional telah
berlangsung cukup Iama. Program PEDULl 92 yang diprakarsai Dana
Mitra Lingkungan di Jakarta mencoba melalui berbagai intervensi
meningkatkan kondisi dan kemampuan para pelapak (penampung
limbah dari pemulung) dan bandar (penampung dari pekapak) untuk
mengelola limbah daur ulang lebih baik.
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah dengan
intervensi seperti Program PEDULI 92 dapat ditingkatkan kuantitas dan
kualitas Iimbah yang didaur ulang. lngin diketahui apakah dalam jangka panjang adanya intervensi semacam ini ini beban lingkungan dapat dikurangi, penghasilan pemulung dapat ditingkatkan sebagai upaya mengangkat kemiskinan, dan daur ulang limbah dapat menjadi titik masuk pengembangan konsumerisme hijau di Indonesia.
Penelitian dilakukan terhadap 109 responden pelapak dengan sampling
secara acak dan proporsional berdasarkan distribusi populasi di 5
wilayah DKI Jakarta. Penelitian berbentuk wawancara menggunakan
kuesioner dan pengamatan langsung. Juga diadakan penelitian
retrospektif dengan menelaah dokumen-dokumen yang ada serta studi
literatur mengenai konsumerisme hijau dan daur ulang di berbagai
negara.

Abstract
Environmental problems facing humankind have become more diverse
and complicated, demanding increased popular participation in
implementing solutions. The solutions should be approached not only
holistically, but also : cross-sectoral, transending national boundaries
as well as scientific disciplines and at all levels of community. There
should be individual responsibility as well as global, national, local,
and communal concerns to deal with the issues.
Green consumerism is a social phenomena that emerged rapidly in the
80s as articulation of this individual responsibility. As consumers,
everybody has the right to a clean and healthy environment. At the
same time everybody has responsibility for the impacts of consumption
that could lead to the deterioration of environmental quality.
The consumers' responsibility can be articulated into their daily
activities, which is popularly known as 4R (reuse, recycle, reduce,
and replace). If implemented by a substantial numbers of people,
4R can certainly push environmental responsibility of producers.
ln Indonesia, traditional waste recycling processes has been
present for a long time. PEDULI 92 Program which was initiated by
Dana Mitra Lingkungan in Jakarta, through various means endeavours
to improve conditions and capabilities of the pelapak (a person
who collects waste from scavengers) and bandar (a person who
collects waste from pelapaksl in managing waste recycling).
The main objective of this research is to observe whether the
intervention of a program such as PEDULI 92 in traditional waste
recycling processes can increase the quality and quantity of waste to
be recycled. lt is also to ascertain whether in the long run this
intervention can reduce environmental burden & increase scavengers'
income to improve their quality of life; and whether waste recycling
can become the entry point of green consumerism in Indonesia.
This research involved 109 pelapaks using purposive proportional size
sampling, based on scavengers' population distribution in 5
municipalities of Jakarta."
1993
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Untung Sukaedi
"ABSTRAK
Latar belakang penelitian didasarkan pada pernyataan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara 1993 bahwa pembangunan perkotaan pada dasarnya harus dibarengi dengan perlindungan lingkungan. Atas dasar ini masyarakat DKI Jakarta bersama-sama dengan Pemerintah setempat, memandang perlu merencanakan dan melaksanakan pembangunan perkotaan dengan tetap memperhatikan terciptanya lingkungan yang bersih, indah, manusiawi, aman. dan nyaman. Untuk itu pula Pemerintah mencanangkan Rencana Strategi Penelitian 1992-1997 dengan sasaran utama antara lain adalah mengatasi masalah masyarakat dan perumahan kumuh.
Hadirnya permukiman kumuh sering kali diikuti oleh kondisi lingkungan yang kotor, tercemari, dan rentan. Hal ini terjadi di wilayah permukiman kumuh kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, di mana ciri yang cukup menonjol adalah merosotnya ndai keindahan, sampah padat yang menumpuk sehingga sangat berpotensi mengganggu kesehatan dan mengurangi keindahan.
Berdasarkan pada survai awal pada bulan Januari 1995, keberadaan sampah seperti tersebut diduga disebabkan oleh Cara pengelolaan sampah padat rumah-tangga yang tidak memadai. Kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga di permukiman kumuh Kelurahan Sunter Agung memiliki karakteristik yang berbeda-beda antara wilayah yang satu dengan lainnya. Beda kualitas ini diduga ada faktor-faktor penentu yang esensial menentukan, yaitu antara lain oleh tingkat pendidikannya; pendapatan; besarnya jumlah anggota keluarga; persepsi yang berbeda-beda.; kebiasaan hidup; peranan wanita; latar permukimannya; dan partisipasi masyarakat setempat.
Mengacu pada uraian di atas, tujuan utama penelitian ini adalah ingin mengetahui:
1. Apakah ada hubungan antara kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga yang dilakukan oleh masyarakat permukiman kumuh di Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, dengan (a) tingkat pendidikannya; (b) tingkat pendapatan kel ya; (c) besarnya anggota keluarga; (d) persepsinya terhadap pengelolaan limbah padat rumah-tangga di lingkungannya; (e)kebiasaan hidupnya sehari-hari (sikap); (f) peranan wanitanya; (g) latar permukimannya; dan (h) partisipasinya dalam pembangunan lingkungan di sekitarnya.
2. Faktor-faktor apa saja, dari beberapa variabel di atas, yang menentukan kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga yang dilakukan oleh masyarakat permukiman kumuh tersebut.
3. Berapa proses masing-masing variabel, yang telah terbukti sebagai penentu, menentukan kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga yang dilakukan oleh masyarakat permukiman kumuh di Keluiaban Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Metode penelitian menggunakan pendekatan statistik deskriptif dan inferensial. Statistic deskriptif digunakan untuk menggambarkan tampilan-tampilan karakteristik umum daerah penelitian yaitu dengan menggunakan statistica modus untuk: (1) tingkat pendiddcannya; (2) tingkat pendapatan keluarganya; (3) besarnya jumlah anggota keluarga; (4) persepsi masyarakat; (5) kebiasaan hidupaya sehari-hari (slap); (6) peranan wanita; (7) latar permukimannya; (8) partisipasi dan (9) pengelolaan sampah padat rumah-tangga di lokasi penelitian. Sedangkan statistic inferensial digunakan untuk menguji hipotesis dan m ngambil beberapa kesimmpulan dari hipoteis yang telah diuji. Teknik pengambilan sample digunakan pendekatan "cluster sampling" dengan cara "three stages sampling". Pengumpulan data menggunakan instrumen berupa wawancara terstruktur, observasi dan studi dokumentasi. Dalam mengolah data digunakan pendekatan prosentase tampilan; ranking; dengan kategorisasi data berpedoman pada nilai persentil 50 (Pm). Adapun analisis data menggunakan modus distri'busi frekuensi, rumus statistic nonparametrik antara lain r Spearman (rho), Khi kuadart (V), koelisien kontingensi (C dan Cmaks) serta ideks determinan (C2).
Hasil penelitian yang dipandu selama kurang-lebih lima bulan, mulai bulan Februari sampai dengan Juni 1995, diperoleh beberapa temuan sebagai berikut:
1. Secara umum Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, sampai pada bulan.Tuni 1995 menghadapi masalah akumulasi sampah padat tidak kurang dari 229 m3 setiap harinya atau sekitar 6.870 m3 setiap bulannya. Dari upaya penanggulangan sehari-hari terbukti masih sebanyak 39 m3 per hari atau rata-rata tidak kurang dari 1.170 m3 setiap bulannya yang tidak terangkut karena keterbatasan armada dan personil. Apabila tidak mendapatkan perlakuan yang tepat diramalkan, pada tahun 1997 akan menunrpuk sekitar 62.244 m3 dan sekitar 124.488 m3 pada tahun 2000. Khusus sampah rumah-tangga tidak kurang dari 30rn3, yakni sekitar lima mobil "truck" sampah setiap bulannya, tidak terangkut oleh armada sampan yang tersedia. Akuniula-si sampah tersebut bila dipilah menurut bahannya sekitar 80% adalah sampah plastik, sedangkan sekitar 20% lairmya sampah kertas, daun, kayo, dan lain-lain.
2. Sampah yang tidak terangkut terebut berakumulasi di lahan-lahan kosong, rawarawa, sungai, menyumbat got-got, tertahan sementara di gerobag sampah, di tiang bawah jembatan, berseralcan di mana-mana, sehingga mengganggu keindahan dan tidak jarang menjadi tempat tumbuhnya bibit dan media penyakit. Adapun wilayah yang paling terkena akumulasi sampah tertinggal ini terutama adalah wilayah RW.01; 02, dan 03.
3. Di wilayah RW Kurwh, Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, ternyata tidak setiap tempat adalah kumuh, tetapi beberapa RT tertentu, dan bahkan beberapa rumah tertentu. Dari hasil survai terhadap 108 responden, diperoleh gambaran bahwa (1) tingkat pendidikan masyarakat umumnya adalah SLP ke alas; (2) tingkat pendapatan keluarga sebagian besar antara Rp 200.000,-sampai dengan Rp 400.000,-; (3) besarnya jumlah keluarga umumnya 4 jiwa per KK, (4) persepsi masyarakat terhadap pengelolaan sampah padat rumah tangga umumnya cukup baik; (5) kebiasaan hidup 'sehari 'sehari-hari relatif cukup baik; (6) peranan wanita dalam pengelolaan sampah padat rumah tangga umumnya baik; (7) latar permukiman umumnya cukup baik, (8) partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah padat rumah tangga umumnya baik, namun (9) kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga umumnya kurang balk, karena berbagai faktor.
4. Hasil uji hubungan di antara variabel penelitian menunjukkan, bahwa :
a. Tidak semua variabel berkorelasi siginifikan menurut signifikansi 0,05. Ini berarti bahwa adanya kualitas tampilan tertentu tidak selalu diikuti oleh adanya kualitas tampilan lainnya, melainkan sangat tergantung pada karakteristik variabel yang bersangkutan.
b. Di antara variabel penelitian yang memuiki koefsien korelasi yang signifikan adalah (1) pendapatan keluarga dengan peranan wanita (2) persepsi masyarakat dengan kebiasaan hidup; partisipasi dan kualitas pengelolaan sampah padat (3) kebiasaan hidup dengan peranan wanita; latar permukiman; partisipasi masyarakat; dan kualitas pengelolaan sampah, (4) peranan wanita dengan kualitas pengelolaan sampah, (5) latar permukiman dengan partisipasi masyarakat dan kualitas pengelolaan sampah, dan (6) partisipasi masyarakat dengan kualitas pengelolaan sampah, dan akhirnya (7) kualitas pengelolaan sampah diketahui, berkorelasi dengan persepsi masyarakat; kebiasaan hidup; peranan wanita; latar permukiman dan partisipasi masyarakat.
e. Dengan menggunakan signifikansi 0,05, hipotesis (1) tentang adanya hubungan antara kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga yang dilakukan oleh masyarakat permulciman kumuh di Kelurahan Sunter Agung dengan:
(1) Tingkat pendidikannya, tidak terbukti;
(2) Tingkat pendapatan keluarganya, tidak terbukti;
(3) Besarnya anggota keluarga, tidak terbukti;
(4) Persepsfnya terhadap pengelolaan sampah padat rumah-tangga di lingkungannya adalah terbukti;
(5) Kebiasaan hidupnya sehari-hari (sikap), terbukti;
(6) peranan wanitanya, terbukti;
(7) latar permukimannya, terbukti; partisipasinya dalam pembangunan lingkungan di sekitarnya juga terbukti.
f. Hasil analisis lanjutan, untuk mengetahui seberapa besar variabel yang memilild hubungan signifikan menentukan kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga dapat diterangkan berturut-turut sebagai berrikut: latar permukiman (21,4%); partisipasinya dalam pembangunan lingkungan sekitar (16,8%); peranan wanita (16,3%); dan kebiasaan hidupnya sehari-hari atau sikap sebanyak (4,3%). Dengan demikian ada sekitar 41,2% ditentukan oleh faktor-faktor lain yang memerlukan penelitian lebih lanjut.
5. Menyimak kembali indeks determinan yang ada, secara tidak langsung dapat disimpulkan bahwa kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga di permukiman kumuh kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, Jakarta Utara, akan dapat terus ditingkatkan bila selalu ada upaya-upaya:
(1) Peningkatan kualitas latar permukiman mereka, antara lain: dengan jalan pengaturan tata-letak dan peningkatan fungsi tata ruang bagi permukiman penduduk, pembangunan fasilitas "rumah susun" yang dapat diperoleh dengan murah dan murah, penambahan sarana dan fasilitas pembuangan sampah, container, dipo, LPS, kendaraan, personil, dan penyuluhan masyarakat.
(2) Peningkatan partisipasi masyaralcat dalam pengelolaan sampah padat rumah-tangga, antara lain: melalui cara insentif, lomba-lomba wilayah yang memberikan penghargaan kepada pemenang, merealisasikan dana kebersihan yang disumbangkan oleh masyarakat secara transparan;
(3) Leblh menggalakkan peranan wanita dalam mengelola sampah padat rumah tangga, antra lain melalui peningkatan kader PKK di tiap wilayah RT, meningkatkan kegiatan PKK di tingkat RT (selama ini yang aktif baru tingkat Kelurahan);
(4) Pembinaan yang baik mengenai kebiasaan hidup sehari-hari dalam mengelola sampah padat rumah-tangga melalui penyuluban untuk semua umur, kanak-kanatc, remaja, dan jugs pada prang tua.
Untuk merealiasai saran-saran dari basil temuan ini diakui cukup sulit, mengingat kesadman masyarakat untuk itu masib perlu peningkatan yang terus menerus. Lebih dari itu karena keadaan ekonomi keluarga sering kali memaksa untuk tidak bisa berbuat lebih baik dari yang sekarang, misalnya: karena tidak ada tempat alternatif untuk membuang sampah kecuali di kali atau di pinggir rel kereta api.
Diketahui bahwa ada korelasi sigriifikan terjadi pada (1) keadaan later permukiman dengan kebiasaan hidup sehari-hari; (2) partisipasi masyarakat, berhubungan erat dengan kebiasaan hidup sehari-hari dan latar permukiman; (3) peranan wanita juga berhuban erat dengan kebiasaan hidup sehari-hari; dan (4) kebiasaan hidup seha.ribari berhubungan erat dengan ketiga faktor lainnya Maka temuan tentang "KUNCI" untuk mengatasi permasalahan dalam rangka meningkatkan kualitas pengelolaan sampah padat rumah-tangga labia berada pada "kebiasaan hidup sehari-hari mereka dalam mengelola sampah padat rumah tangga". Untuk itu, tekad dan upaya meningkatkan kebiasaan yang lebih baik dalam mengelola sampah padat rumah-tangga, merupakan langkah dan cara yang paling tepat, khususnya di wilayah permukiman kumuh, Kelurahan Sumter Agung, Tanjong Priok, Jakarta Utara.

ABSTRACT
The background of this study was based on the statements in GBHN 1993 (Main State Policy, 1993) that basically an urban development has to be accompanied by environmental protection. On such a basis the people and the government of DKI Jakarta planed and implemented urban sustainable development where the environment is considered as integrated part of the process to achieve a clean, beautiful, humane; safe and comfortable environment for all citizens. The Local Government has launched a "Renstra 1992-1997" (a Plan of Development Strategy) which the main target is to combat the problems of slum settlement and slum communities.
Wherever it is, slum areas tend to be an agent of dirty, polluted, and resistant environment. These situations can easily be observed in part of the areas in Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, North Jakarta where the major characteristics indicated that household solid waste disposal accumulated in most part of environmental settings. It , of course, can be the cause of decreasing the quality of aesthetical and environmental health as well.
Based on the preliminary study conducted in January 1995, the existing accumulated household solid waste in this area was the result of improper management. The quality of household solid waste management was attended differently in every single areas. It was hypothetically affected by specific determinants, such as level of local people's education, families' income, total families' member, varied perception toward waste management local people's attitude, role of women, its environmental settings, and local people's participation.
Referring to the background above, the main objectives of this research was to find out an answer toward a set of research questions as follows:
(1) Are there correlations between the quality of household solid waste management conducted by slum area community in Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, North Jakarta with (a) the level of people's education,(b) the families' income, (c) the total famalias' member, (d) the people's perception toward household solid waste management, (e) the people's attitude, (f) the role of women, (g) the environmental settings, and (h) the people's participation?
(2) What are the main factors that determine the quality of household solid waste management conducted by shun area community?
(3) What percentage of each variables determines the quality of household solid waste management conducted by slum area community in Kelurahan Sunter Agung, Tanjong Priok, North Jakarta ?
The research method used a set of statistical approaches: descriptive and inferential analysis. Descriptive analysis was to describe performances of general characteristics of research location, level of local people's education, families' income, total families' member, varied perception toward waste management, people's attitude, role of women, its environmental settings, people's participation and the quality of household solid waste management. Then, inferential statistics was used to verify hypothesis, finding out conclusions referred to the hypothesis. Sampling techniques of this research is "cluster sampling" where a set of samples were taken by "three stages sampling". Data collection facilitated by instruments: systematic interview, observation, and documentation study. Data management was conducted by percentage technique, ranking, and data categorization where which the percentile (P50) was used. Data analysis was carried out by using a set of mathematical approaches such as modus, distribution frequency, and nonparametric statistics such as r Spearman (rho), Chi Square (X2), Coefficient Contingency (C and Cmax), and determinant index (Co).
This research was conducted in about five months from February until June 1995, and the findings can be summarized as follows:
1. In general, Kelurahan Smiler Agung, Tanjung Priok, North Jakarta, until the end of June 1995 faced the problem of solid waste disposal accumulation which was never less than 229 m3 per day or around 6.870 m3 per month.The daily waste management conducted, however, left behind around 39 m3 per day or around 1.170 m3 per month solid waste left, due to the insufficient equipments and personnel If there were no changes, it can be predicted that in the year of 1997 there will accumulate around 62.244 m' and will be around 124.488 m' at the end of the year 2000. Specifically toward household solid waste disposal, up to now 30m' per month were left behind (around the capacity of 5 small dump-trucks). Those waste accumulation consist of 80% plastic materials, and around 20% non-plastic such as papers, vegetable, wooden materials, and so on.
2. Such residual wastes which accumulate on areas such as open field, swamp, watershed, drainage, temporary in the garbage, pool carriage, scattered over the places everywhere, the result of which is decreasing the quality of aesthetical aspect, becoming a medium for pests. The locations hit by accumulated solid wastes were actually the area of -- RW.01, 02, and 03.
3. In Kelurahan. Sunter Agung Taajung Priok, North Jakarta not all areas are really a "slum". Only certain RT and even certain families. Based on the survey of 108 respondents, the findings can be described as follows: generally (1) the level of local people education was dominated by Junior High School (SLP upward); (2) the level of families' income was in between Rp200.000; to. Rp 400.000,-; (3) the family' member was four people per family (4) the performance of people's perception toward household solid waste management was not so good; (5) the people's attitude is relatively not so good; (6) the role of women in household solid waste management was relatively good; (7) the quality of environmental settings was not so good, (8) The people's participation in household solid waste management was generally good, but (9) the quality of household solid waste management was generally not quite good.
4. The research findings based on the correlation tests are as follows:
a. Not all variables have significant correlations. It means that the quality of specific perforce of variables was not often followed by other factors, but it depends on certain characteristics of the variable in question.
b. Some of the variables with significant correlations are as follows: (1) the family income correlated with the people's perception and the role of women; (2) the people's perception is correlated with the people's attitude, participation, and the quality of household solid waste management; (3) the people's attitude is correlated with the role of women, environmental setting, people's participation, and the quality of house bold solid waste management, (4) the role of women is correlated with the quality of household solid waste management, (5) the environmental settings are correlated with the people's participation and the quality of household solid waste management , (6) the people's participation is correlated with the quality of household solid waste management, and finally, (7) the quality of household solid waste management is correlated with the people's perception, attitude, role of women, environmental settings, and people's participation.
e. By using the 0,05 significance, the hypothesis on the presence of correlation between the quality of household solid waste management, conducted by slum community in Kelurahan Sunter Agung, with:
(1) the level of education is rejected;
(2) the level of families' income is rejected;
(3) the number of families' member is rejected;
(4) the people's perception on the household solid waste management may is accepted;
(5) the people's attitude is rejected;
(6) the role of women may is accepted;
(7) the environmental settings is accepted;
(8) the people's participation may is accepted.
f. Further analysis in order to know what percentage of each variables, which have significant correlations, determine the quality of household solid waste management, 'and the findings were that: an environmental setting determines about 21,4%; people's participation was about 16,8%; the role of women was 16,3%; and the people's attitude was 4,3%. Thus, it is approximately 41,2% that need to be studied further to find out responsible factors.
5. Reviewing the findings of the determinant factors above, it can be concluded that the quality of household solid waste management of slum community in Kelurahan Sumter Agung will increase if there are efforts such as:
(1) Improving the quality of environmental settings, such as: re-arranging the quality of housings; developing a set of public facilities, affordable housings to low income families; additional facilities for garbage, landfill, container, public temporary waste disposal site, dump-truck, water supply, and so on.
(2) Developing public participation in the program of household solid waste management through the program of incentive or disincentive, appreciation of a positive competition among the regions, realizing the budget donated by them transparently.
(3) Encouraging the role of women in household solid waste management through many kinds of activities, such as the promotion of role of youth in PKK at RT (local) level , and so on.
(4) Proper guidance on living habits and to the daily people's attitude in managing household solid waste through the process of education to the children, youth, and also all the parents.
It is quite difficult to realize the recommendations proposed as the results of the findings, because the people's awareness is still low and need to be improved continuously. Another factor was the economical conditions of the families. It imposed on the people to do what it was not supposed to do, for instance, there were no alternative to dispose household solid wastes except on river banks or on the side of rail way, and so on.
It is known that the significant correlation's exist s, namely: (I) the environmental settings correlated with the daily people attitude in managing household solid waste management; (2) the people participation correlated with the people's attitude and environmental settings, (3) the role of women correlated with the people's attitude in managing household solid waste, and (4) the people's attitude correlated with those environmental settings; people's participation; and the role of women. Referring to those findings, the "key" issue of the specific factor to improve the quality of household solid waste management in slum area of Kehnrahan Sunter Agung is "the people's attitude in managing household solid vste ". Thus, serious efforts addressed to the improved daily people's attitude, in managing household solid waste, is the best solution, especially in the slum area of Kelurahan Sunter Agung, Tanjung Priok, North Jakarta."
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hadyanti Ghassanie
"ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis kualitas pelayanan pada Unit Pelaksana Pelayanan Terpadu Satu Pintu (UPPTSP) Kelurahan Sunter Jaya. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori The Flower of Services menurut Lovelock (1994). Penelitian ininmerupakan penelitian kuantitatif menggunakan analisis mix metodh dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara melakukan survei kuesioner dengan skala likert, observasi, dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan beberapa narasumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden menyatakan kualitas pelayanan UPPTSP Kelurahan Sunter Jaya termasuk dalam kategori baik. Namun dalam beberapa hal pemohon masih merasa kualitas UPPTSP Kelurahan Sunter Jaya termasuk buruk yaitu pada dimensi konsultasi sehingga perlu diperbaiki. Saran yang dapat diberikan untuk Kepala Unit PTSP Kelurahan Sunter Jaya dan Lurah Sunter Jaya agar dapat segera merealisasikan pengadaan ruang konsultasi untuk kebutuhan pemohon PTSP serta juga untuk petugas UPPTSP Kelurahan Sunter Jaya agar dapat menyelesaikan permintaan dengan tepat waktu.

ABSTRACT
The purpose of this study is to analyze the quality of service at the One Stop Integrated Service Implementation Unit (UPPTSP) of Kelurahan Sunter Jaya. The theory used in this research is The Flower of Services theory according to Lovelock (1994). This research is a quantitative study using mix method analysis with quantitative and qualitative approaches. The instrument used in this study was by conducting a questionnaire survey with a Likert scale, observation, and in-depth interviews with several speakers. The results showed that the majority of respondents stated the service quality of UPPTSP Kelurahan Sunter Jaya was included in the good category. However, in some cases the applicant still felt that the quality of the UPPTSP K Kelurahan Sunter Jaya was poor, namely in the consultation dimension so it needed to be improved. Advice can be given to the Head of PTSP Unit in Kelurahan Sunter Jaya and Head of Kelurahan Sunter Jaya in order to immediately realize the procurement of consultation space for the needs of PTSP applicants as well as for UPPTSP Kelurahan Sunter Jaya officials in order to be able to complete the request on time.
"
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Theresia Setionegoro
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2000
TA3642
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Santo Ignatius
"ABSTRAK
Ada sekitar 40% dataran di Jakarta yang tidak dapat mengalirkan air secara gravitasi menurut studi dari Jakarta Coastal Defense Strategy. Hal ini mengakibatkan beberapa daerah di Jakarta terjadi genangan banjir. Untuk mengatasi hal tersebut dibuatlah suatu sistem drainase untuk kawasan yang tidak dapat mengalirkan air secara gravitasi, yaitu sistem polder. Ide awal dari sistem polder di Jakarta sebenarnya sudah tercetus sejak zaman penjajahan Belanda, tetapi ide tersebut baru terealisasikan dalam sebuah kajian yang dilakukan oleh NEDECO tahun 1973 berupa masterplan dari sistem drainase di Jakarta. Pada masterplan tersebut diketahui bahwa Jakarta dibuat menjadi suatu sistem polder dengan Banjir Kanal Barat dan Banjir Kanal Timur sebagai pembatasnya. Beberapa kawasan di Jakarta juga dibuat menjadi sistem polder. Salah satunya adalah Sistem Polder Waduk Sunter Utara. Pada kenyataannya walaupun kawasan Sunter Utara sudah dalam bentuk sistem polder, masih terdapat genangan banjir di kawasan tersebut. Untuk mengetahu penyebab genangan banjir di kawasan tersebut dilakukan dengan simulasi menggunakan aplikasi HEC-HMS dan HEC-RAS. Berdasarkan hasil simulasi tersebut diketahui bahwa penyebab genangan banjir di Sistem Polder Waduk Sunter Utara akibat dari kurangnya kapasitas saluran utama dan operasi pompa di sistem polder yang kurang optimum. Sehingga untuk mengatasi genangan banjir tersebut dapat dilakukan dengan memperbesar dimensi saluran utama dan menambah kapasitas serta mengubah elevasi operasi pompa.

ABSTRACT
There are around 40% of the plains in Jakarta that cannot drain water by gravity according to a study from the Jakarta Coastal Defense Strategy. This resulted in several flood areas in Jakarta. To overcome this problem, a drainage system is created for areas that cannot drain water by gravity, which was named polder system. The initial idea of ​​a polder system in Jakarta had actually emerged since the Dutch colonial era, but the idea was actualized in a study conducted by NEDECO in 1973 in the form of a master plan of a drainage system in Jakarta. In the master plan, it is known that Jakarta is made into a polder system with the West Flood Canal and the East Flood Canal as a barrier. Some areas in Jakarta are also made into polder systems. One of them is the North Sunter Polder System. In fact, even though the North Sunter area is already in the form of a polder system, there is still flood in this area. To find out the cause of flood inundation in the area, it can be known by simulation using the HEC-HMS and HEC-RAS applications. Based on the simulation results it is known that the cause of flood inundation in the North Sunter Polder System is due to the lack of main channel capacity and less optimum pump operation in the polder system. So that to overcome the flood inundation can be done by enlarging the dimensions of the main channel and increasing capacity and changing the pump operating elevation.
"
2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mega Arfiah
"Dalam kenyataannya ternyata hingga kini tanah-tanah di Indonesia, masih banyak dijumpai tanah yang belum terdaftar di Kantor Pertanahan, antara lain adalah tanah yang berstatus bekas Hak Milik Adat di Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok Kotamadya Jakarta Utara, dimana mereka tidak memiliki sertifikat. Mereka hanya mempunyai surat tanda pembayaran pajak atas tanah yang secara yuridis formal bukan merupakan alat bukti hak alas tanah, melainkan sebagai alat pelengkap untuk pendaftaran hak atas tanah.
Penelitian ini difokuskan kepada pokok¬pokok permasalahan mengenai faktor-faktor yang menjadi penyebab banyaknya tanah bekas Hak Milik Adat yang belum terdaftar di Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok Kotamadya Jakarta utara, dan upaya pemerintah melalui Kantor Pertanahan dalam memberikan kesadaran hukum bagi masyarakat untuk mendaftarkan tanahnya. Metode penelitian yang dipakai adalah penelitian kepustakaan dengan pendekatan normatif yang disertai dengan analisis data sekunder yang didukung dengan penelitian lapangan melalui studi dokumen dan wawancara.
Hasil penelitian dirumuskan sebagai kesimpulan bahwa faktor-faktor penyebab banyaknya tanah bekas Hak Milik Adat yang belum terdaftar adalah faktor kurangnya pengetahuan dari masyarakat mengenai mekanisme atau tata cara untuk mendaftarkan tanahnya, faktor ketidak pahaman masyarakat mengenai pentingnya pendaftaran atas tanah yang dimilikinya. Faktor ekonomi dan jangka waktu yang lama merupakan penyebah masih banyaknya tanah khususnya yang berstatus bekas Hak Milik Adat yang belum terdaftar di Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok Kotamadya Jakarta Utara. Pemerintah melalui Kantor Pertanahan, yang bekerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat mulai dari tingkat Kecamatan dalam hal ini ada Kecamatan Tanjung Priok hingga ke tingkat Kelurahan, tclah membual program Kelompok Sadar Tertih Pertanahan (POKDARTIBNA) yang memberikan himbauan kepada masyarakat mengenai pentingnya mendaftarkan hak atas tanahnya dan penyuluhan tata cara pendaftaran tanah secara sporadik.

In Reality, it is apparent that presently lands in Indonesia are still often come across of not yet being registered at the land office, among others, land which are having the status of former Costumay Right of Ownership in Sunter Jaya Sub-district, Tanjung Priok District, North Jakarta Municipality, in which the owners do not have land certificates. They only have tax payment statementlrecept over the Iand, which in formal juridical manner, is not the evidence of right over land, instead, merely a supplementing instrument for the registration of right over land.
This research is focused on the main issues regarding factors which become the causes of large number of former costumay Right of Ownership lands which are not yet registered in Sunter Jaya Sub-district, Tanjung Priok District, North Jakarta Municipality, and the efforts of the government through Land Office in providing legal awareness service to the community to register their lands. The method of research being used is documentary research with normative approach supplemented by secondary data analysis supported by field research through documentary study and interview.
The result of research is composed as conclusion that the causing factors of large number of former Indigenous Right of Ownership Lands which are not yet registered are the factor of lack of knowledge of the community regarding the mechanism or procedure for registering their lands, the factor of unawareness of the community regarding the importance of registration of the land which they own. Economic factor and long period of process are the causes of large number of lands, especially having the status of former costumay Right of Ownership, which are not yet registered in Sunter Jaya Sub-district, Tanjung Priok District, North Jakarta Municipality. The Government through Land Office, in cooperation with the local Regional Government, starting from the level of District, in this case from Tanjung Prink District until Sub-District level, has prepared land order Awareness Group Program (POKDARTIBNA) that appeals to the community regarding the importance of registering their rights over lands and provides counseling regarding the procedure for sporadic land registration.
"
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2008
T24262
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sri Bebassari
"Sistem pengelolaan sampah secara garis besar terdiri dari: subsistem pengumpulan, subsistem pengangkutan, subsistem pengelolaan, subsistem pengolahan dan subsistem pembuangan sampah. Lingkup penelitian ini dilakukan khusus dalam hal subsistem pengumpulan sampah yang merupakan Subsistem terdepan yang berkaitan langsung dengan partisipasi masyarakat yang merupakan sumber penghasil sampah.
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam memilah sampah basah dan sampah kering dari sumbernya, yang merupakan bagian dari sistem pengelolaan sampah.

Solid Waste Management system is derived into four subsystems. These are Collection, Transportation, Treatment and Disposal subsystems. The scope of the study is particularly focused on the subsystem of waste collection, of which directly related to the community as waste generators.
The general objective of this research is to know the level of community participation in waste separation collection at source between wet and dry solid waste."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 1996
T1027
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pratiwie Azsmi
"Penelitian ini membahas mengenai timbulan dan komposisi sampah di Kawasan Rekreasi Ancol. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung besar timbulan sampah, persentase komposisi sampah, dan merancang unit pengolahan sampah. Hasil penelitian ini adalah desain unit pengolahan sampah untuk Kawasan Rekreasi Ancol. Timbulan sampah yang dihasilkan Kawasan TIJA sebesar 0,42 kg/orang/hari atau 2,2 L/orang/hari. Komposisi sampah Kawasan TIJA terdiri atas 76,278% organik, 6,377% kertas, 8,910% plastik, 1,167% adsorbent, 0,192% logam, 0,086% karet, 1,84% kaca, 1,154% tissue, 0,258% tekstil, 2,53% kayu, 0,724% Styrofoam, 0,05% B3 dan 0,43% untuk sampah lainnya. Desain unit pengolahan sampah terdiri atas area penerimaan, pemilahan, pemrosesan, penyimpanan, dan kantor.

This research focuses on the generation and composition of solid waste at Ancol Recreation Area. This research aims to quantify the major solid waste generation, percentage of solid waste composition, and design of Material Recovery Facilities. The result of this research is a MRF design for Ancol Recreation Area. The generation of solid waste generated in TIJA is equal to 0,42 kg/person/day or 2,2 L/person/day. The composition of solid waste in TIJA consists of 76,278% organic, 6,377% paper, 8,910% plastic, 1,167% adsorbent, 0,192% metal, 0,086% rubber, 1,84% glass, 1,154% tissue, 0,258% textile, 2,53% wood, 0,724% styrofoam, 0,05% B3 and 0,43% for the others. MRF consists of receiving area, sorting area, processing area, storage area, and an office.;"
Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
S57769
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>