Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 173558 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Aryono D. Pusponegoro
"Dengan kemajuan teknologi dan ekonomi maka di Indonesia, seperti juga di negara maju maupun berkembang lainnya, kejadian kecelakaan pun meningkat, terutama kecelakaan lalu lintas (KLL). KLL selalu berisiko menyebabkan trauma, baik trauma tumpul maupun trauma tajam. Namun penanganan trauma ini kurang memperoleh perhatian para dokter, sehingga sering dikatakan bahwa trauma merupakan the neglected disease. Keadaan terlihat pada data di bawah ini.
Menurut data dari Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 1986, pada tahun tersebut terdapat 2.500.000 orang Indonesia yang mendapat trauma, di antaranya 125.000 dirawat di Rumah Sakit (RS) dan 50.000 meninggal, tetapi hanya 4000 yang meninggal di RS. Jadi ada 46.000 orang Indonesia yang meninggal karena kecelakaan, yang meninggal dalam perjalanan ke RS, di tempat kejadian, atau di tempat pengobatan lain - lainnya. Menurut SKRT 1991, secara keseluruhan trauma merupakan penyebab kematian nomor empat di Indonesia setelah penyakit infeksi, penyakit kardiovaskular, dan penyakit degenerasi seperti kanker. Kalau dipilah menurut kelompok umur, tampak bahwa kelompok umur 5-14 tahun trauma merupakan penyebab kematian nomor empat, kelompok umur 15-24 tahun merupakan penyebab kematian nomor satu karena trauma, kelompok umur 25-34 tahun penyebab kematian nomor dua karena trauma bersama dengan ibu hamil dan kelompok umur 35-44 tahun penyebab kematian nomor tiga.
Kematian karena KLL di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun; pada tahun 1991 tercatat 9000 kematian meningkat menjadi sekitar 11.000 pada tahun 1994. Pada tahun-tahun yang sama, kematian akibat KLL di Jakarta meningkat dari 345 sampai menjadi 582 orang. Namun di Kamar Jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo (RSUPNCM)/ Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) kematian akibat KLL dilaporkan meningkat dari 1201 pada tahun 1991 menjadi 1580 pada tahun 1994. Di Jakarta diperkirakan sekitar 850 sampai 1000 pasien trauma karena KLL yang pada waktu polisi tiba di tempat kejadian masih hidup, meninggal dalam perjalanan ke RS, di unit gawat darurat (UGD) atau di unit rawat intensif (ICU). Ini menujukkan bahwa pelayanan gawat darurat pra-RS kita masih buruk, meskipun Perhimpunan Spesialis Bedah "IKABI" (IKABI) sudah memprakarsai diadakannya ambulans gawat darurat 118 (AGO 118)4?."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2004
D480
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Emil Agustiono
"Kasus cedera kepala di Instalasi Gawat Darurat rumah sakit (IGD) cenderung meningkat yang memerlukan penanganan yang khusus sehingga terdapat pemulihan cedera yang memadai. Penelitian ini untuk menilai peranan skor Glasgow Coma Scale (GCS) dan faktor risiko lainnya terhadap kegagalan menjadi skor 15 pada cedera kepala pada jam ke 24 di IGD.
Metode: Penelitian dilakukan di RSUPCM dan RS FK UKI Jakarta pada bulan Agustus 1997 dengan desain kohor, pasien cedera kepala baru yang datang berobat di IGD dilakukan pemeriksaan dan diamati skor GCSnya, penyakit penyerta lain, karakteristik demografi lainnya setiap 6 jam selama 24 jam pertama yang dilakukan oleh dokter.
Hasil: Diperoleh 133 subyek cedera kepala, pada pemeriksaan GCS pertama 37 di antaranya mempunyai skor GCS 3-14, dan sisanya dengan skor 15. Faktor rumah sakit tempat perawatan dan anjuran tirah baring memberikan pengaruh risiko kegagalan secara bermalrna terhadap kegagalan pasien cedera kepala pada jam ke 24 perawatan di IGD rumah sakit. Apabila dibandingkan dengan kasus yang dianjurkan tirah baring, maka kasus yang tanpa tirah baring mempunyai risiko kegagalan 102 kali lipat (ratio kegagalan suaian 102,53; 95% interval kepercayaan 5,69-1848,27).
Kesimpulan: Pada semua penderita cedera kepala dengan skor GCS 14 atau lebih rendah diperlukan tirah baring.

Background: Head injuries currently tend to increase and need special management in the hospital emergency departments. In order to achieve appropriate recovery, the assessment of Glasgow Coma Scale (GCS) score and other risk factors should be managed properly. The purpose of this research is to assess the risk factors related to the consciousness recovery of head injury patients at.
Methods: The research was held Jakarta Dr Cipto Mangunkusumo, and Indonesian Christian University School of Medicine hospitals in August 1997 among new head injury patients and were 6 hourly for the first 24 hours of hospitalization physically examined by the doctors and special attention was taken for GCS score, and accompanying diseases.
Results: 133 new head injury patients admitted to the emergency department and in the first GCS examination, 37 of them had GCS 3-14 score and the rest had GCS score 15, has been identified that the first GCS score statistically significant influenced the failure risk factors of the observed patients after 24 hours hospitalization, and compared to subjects who had bed rest, the patients did not have bed rest had 102-folds of failure to recover (adjusted failure ratio 102.53; 95% confidence intervals 5.69-1848.27).
Conclusion: All head injury cases need a bed rest to minimize the failure to be recover.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Roh, Jung Ju
"Peristiwa 1965 dan 1998 adalah salah satu sejarah traumatis bangsa Indonesia yang memiliki dampak besar terhadap eks tapol, aksi mahasiswa, dan keluarganya. Disertasi ini berupaya mengungkapkan pengalaman traumatis korban kekerasan Orde Baru dan perjuangan mereka dari peristiwa 1965 dan 1998 dalam novel Pulang (2012) dan Laut Bercerita (2017). Untuk dapat menyampaikan pengalaman traumatis itu, karya sastra meniru mekanisme trauma. Hal tersebut menyebabkan trauma bukan hanya ada pada tataran isi namun juga tecermin dalam strukturnya. Dengan menggunakan metode symptomatic reading, konsep kekerasan negara (Kira, Ashby & Lewandowski, 2013), memori kolektif dan personal (Halbwachs, 1992), dan narasi trauma (Caruth, 1996) analisis dilakukan bukan hanya menggali makna yang ada dipermukaan teks melainkan mengungkap hal yang tidak disampaikan atau disembunyikan oleh teks. Melalui struktur narasi trauma, kedua teks merepresentasikan resistensi sebagai penggambaran korban kekerasan Orde Baru yang berdaya yang melawan dan bernegosiasi dengan opresi rezim Orde Baru. Resistensi mereka untuk mempertahankan hidup melalui peristiwa tersebut di bawah opresi dan persekusi menunjukkan kemungkinan upaya mengatasi traumanya. Hal ini direpresentasikan dalam bentuk bersuara, pemilihan saluran untuk lepas dari trauma, dan working through. Dengan demikian dialektik kematian dan kesintasan, bungkam dan besuara dalam kedua teks tersampaikan tidak hanya melalui gambaran kekerasan dan traumanya, tetapi juga melalui narasi resistensi untuk lepas dari kekerasan Orde Baru.

The events of 1965 and 1998 are part of the traumatic history of the Indonesian nation which had a major impact on former political prisoners, student activists and their families. This dissertation seeks to reveal the traumatic experiences of victims of New Order violence and their struggles from the events of 1965 and 1998 in the novels Pulang (2012) and Laut Bercerita (2017). To convey this traumatic experience, literary works imitate the mechanisms of trauma. This causes trauma not only at the content level but also reflected in the structure. By using the symptomatic reading method, the concept of state violence (Kira, Ashby & Lewandowski, 2013), collective and personal memory (Halbwachs, 1992), and trauma narratives (Caruth, 1996) the analysis is carried out not only to explore the meaning on the surface of the text but also to reveal things not conveyed or hidden by the text. Through a trauma narrative structure, both texts represent resistance as a depiction of empowered victims of New Order violence who resisted and negotiated with the oppression of the New Order regime. Their resistance to survive through these events under oppression and persecution suggests a possible attempt to overcome the trauma. This is represented in speaking up, choosing channels to escape trauma, and working through. In this way, the dialectic of death and survival, silence and voice in both texts is conveyed not only by images of violence and trauma, but also by narratives of resistance to escape the violence of the New Order."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
D-pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabilla Fitryfany
"Kematian orang tua bukanlah hanya sebuah kejadian traumatis yang berkonotasi negatif, tetapi juga peristiwa yang dapat menghasilkan dampak positif yang disebut sebagai post-traumatic growth (PTG). Salah satu faktor yang dapat memengaruhi pencapaian PTG yaitu kepribadian, secara spesifik faktor openness to experience dan extraversion dari Model Big-Five Personality. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara PTG dan kedua faktor kepribadian tersebut, dengan juga mempertimbangkan perbedaan tahap perkembangan anak saat peristiwa kematian orang tua terjadi. Sebanyak 80 partisipan (M = 21,56, SD = 2,57) emerging adulthood diuji menggunakan instrumen Post Traumatic Growth Inventory (PTGI) dan Big Five Inventory (BFI). Berdasarkan hasil analisis korelasi menggunakan Pearson product moment, ditemukan bahwa PTG berhubungan secara positif dan signifikan dengan masing-masing openness to experience (r(80) = 0,28, p < 0,01, one-tailed) dan extraversion (r(80) = 0,60, p < 0,01, one-tailed). Sebagai data tambahan, hasil analisis komparatif menggunakan Independent sample t-test menunjukan tidak adanya perbedaan skor PTG pada masing-masing kelompok tahap perkembangan saat peristiwa kematian terjadi (t(78) = 0,26, p = 0,79, two tailed, d = 0,06). Implikasi terkait hasil temuan serta limitasi dan saran dari penelitian ini disediakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutnya di masa depan.
.....Death of (a) parent(s) is not only considered as a traumatic experience with negative connotations, but also something with a positive impact usually known as post-traumatic growth (PTG). One of the factors that can affect PTG is personality, specifically openness to experience and extraversion of the Big-Five Personality Model. This study aims to examine the relationship between PTG and the two personality factors, by also considering the different stages of the child’s development in which the death occurs. Eighty participants (M = 21.56, SD = 2.57) consisting of emerging adults were tested using Post Traumatic Growth Inventory (PTGI) and Big Five Inventory (BFI) instruments. Result of correlation analysis using the Pearson product moment shows that PTG is positively and significantly correlated with openness to experience (r(80) = 0.28, p < 0.01, one-tailed) and extraversion (r(80) = 0.60, p < 0.01, one-tailed) respectively. As additional data, the result of comparative analysis using the Independent sample t-test shows no difference in PTG scores for each developmental stage (t(78) = 0.26, p = 0.79, two tailed , d = 0.06). Implications related to the findings as well as limitations and suggestions from this study are provided as reference material for further research in the future."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Almira Khalisa Pradiansyah
"Penelitian ini ditujukan untuk menggali lebih mendalam tentang strategi coping dan dukungan sosial pada remaja yang pernah mengalami perundungan. Perundungan merupakan tindakan negatif individu atau kelompok yang bertujuan untuk menyakiti pihak lain, dilakukan secara berulang dan memiliki kekuatan yang tidak seimbang. Korban perundungan kerap kali menghadapi berbagai dampak berkepanjangan dan dapat berpengaruh baik secara akademis maupun nonakademis terhadap mereka hingga setelah lepas dari peristiwa tersebut. Studi kualitatif ini dilakukan dengan melakukan wawancara semi-terstruktur kepada empat orang remaja yang pernah menjadi korban perundungan berusia 17-19 tahun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk perundungan yang dialami oleh para partisipan adalah perundungan verbal, fisik, dan relasional. Untuk mengatasi dampak negatif perundungan, partisipan melakukan strategi emotion-focused coping terlebih dahulu. Setelah kondisi emosinya dirasa tenang, partisipan melakukan problem-focused coping. Dukungan sosial yang diperoleh secara menyeluruh pada partisipan adalah dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan komunitas, dan dukungan kepercayaan diri. Penerimaan dan pemberian bantuan terhadap individu yang pernah menjadi korban perundungan dapat membuat mereka lebih terbuka dan merasa didukung. Dengan demikian lebih besar kemungkinannya untuk dapat bangkit dari trauma masa lalu.

This research is intended to dig deeper into coping strategies and social support for adolescents who have experienced bullying. Bullying is an unjustified, persistent negative action that can be committed by an individual or a group. Bullying victims frequently have a variety of long-lasting effects, which can persist both academically and non-academically long after the incident. Additionally, the social support they receive from a variety of sources (family, the school environment, and peers) is frequently inadequate. The purpose of this study was to learn more about the process participants went through, the coping strategies they employed, and the social support they experienced when confronted with bullying. In order to gather qualitative data for this study, semi-structured interviews with four bullied adolescents between the ages of 17 and 19 were undertaken. The results showed that the forms of bullying experienced by the participants were verbal, physical, and relational bullying. To overcome the negative impact of bullying, participants carried out an emotion-focused coping strategy first. After their emotional state is calm, the participants then do problem- focused coping. Social support obtained as a whole for participants is emotional support, instrumental support, community support, and confidence support. Accepting and providing assistance to individuals who have been victims of bullying can make them more open and feel supported. Thus it is more likely to be able to recover from past trauma."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fajar Firsyada
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T57263
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ananda Febriyani
"Kambing Saanen merupakan salah satu kambing perah penghasil susu yang baik. Guna meningkatkan efisiensi reproduksi kambing Saanen, dikembangkan teknologi inseminasi buatan (IB). Salah satu faktor pendukung keberhasilan IB yaitu tersedianya semen beku sesuai kriteria. Tujuan dari penelitian yaitu mengetahui pengencer semen yang optimal untuk semen beku kambing Saanen dengan membandingkan pengencer semen berbasis lesitin (Andromed®) dan liposom (Optixcell®) dengan penambahan maltosa 0,4%. Metode koleksi semen dilakukan dengan menggunakan vagina buatan. Semen kambing Saanen kemudian diperiksa secara makroskopis dan mikroskopis. Teknik penyimpanan semen beku dengan teknik kriopreservasi pada suhu -196ºC selama 10 menit. Evaluasi kualitas semen meliputi motilitas, viabilitas, dan membran plasma utuh (MPU). Hasil yang diperoleh diuji secara statistik dengan uji ANAVA satu faktor kemudian uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat perbedaan nyata (P>0,05) pada nilai rata-rata persentase motilitas perlakuan Andromed® (50,83±3,76); Andromed® + Maltosa 0,4% (50,83±3,76); Optixcell® (50,83±3,76); Optixcell® + Maltosa 0,4% (48,33±6,06), nilai rata-rata persentase viabilitas Andromed® (54,67±3,50); Andromed® + Maltosa 0,4% (54,50±2,51); Optixcell® (56,50±3,45); Optixcell® + Maltosa 0,4%(52,83±5,78), dan nilai rata-rata persentase MPU spermatozoa Andromed® (56,00±3,80); Andromed® + Maltosa 0,4% (56,50±5,47); Optixcell® (53,83±5,31); Optixcell® + Maltosa 0,4% (53,33±6,06). Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pengencer semen liposom menghasilkan kualitas yang sama baik dengan pengencer semen berbasis lesitin dan penambahan maltosa 0,4% pada pengencer semen berbasis liposom dan lesitin tidak berpengaruh terhadap kualitas semen beku kambing Saanen yang dihasilkan

The Saanen goat is a notable domestic goat that performs nicely in dairy production, such as milk. Efforts to improve the reproduction efficiency of Saanen goats, include the development of artificial insemination (IB) technology. A significant factor that effect AI is the availability of frozen semen according to satisfactory criteria. This research aims to determine the optimal semen extender for Saanen goat frozen semen by comparing lecithin‒based extender (Andromed) and liposomes (Optixcell) when added 0.4% maltose. Semen collection utilises artificial vagina, then is examined macroscopically and microscopically. The semen storage technique used in this study was the cryopreservation technique at -196 for 10 minutes. Criteria of semen quality includes motility, viability, and intact plasma membrane. The result obtained were statistically tested with the ANAVA one way factor test then Tukey test. The result showed that there was no significant difference (P>0.05) in the average value of the motility percentage of treatments Andromed (50.83±3.76); Andromed + Maltosa 0.4% (50.83±3.76); Optixcell (50.83±3.76); Optixcell + Maltosa 0.4% (48.33±6.06), viability Andromed (54.67±3.50); Andromed + Maltosa 0.4% (54.50±2.51); Optixcell (56.50±3.45); Optixcell + Maltosa 0.4% (52.83±5.78), and intact plasma membrane Andromed® (56.00±3.80); Andromed + Maltosa 0.4% (56.50±5.47); Optixcell (53.83±5.31); Optixcell + Maltosa 0.4% (53.33±6.06). The results of the study concluded that the liposomes extender produced the same quality as the lecithin-based extender and the addition of 0.4% maltose in liposomes and lecithin‒based extender had no effect on the quality of the frozen semen Saanen goat."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2020
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Pria Agustus Yadi
"Dilakukan studi Kohort retrospektif untuk menilai pengaruh kelebihan cairan pasca operasi terhadap hasil akhir penatalaksanaan trauma dengan syok hemoragik di RSUPN Dr.Cipto Mangunkusumo. Data diperoleh dari rekam medik 42 penderita yang terbagi menjadi kelompok I (24 penderita) menerima cairan ~ 10.000 cc dan kelompok II (18 penderita) yang menerima cairan < 10.000 cc selama 24 jam I. Dari seluruh penderita, 18 penderita diantaranya meninggal dunia dan kelompok I mempunyai risiko kematian 6 kali lebih tinggi dibanding kelompok II dan perbedaan diantara keduanya bermakna secara statistik (p < 0,05). Timbulnya 2 atau 3 dari kematian (koagulopati, asidosis metabolik dan hipotermi) meningkatkan risiko kematian 28 kali lebih tinggi dan hubungannya bermakna (p < 0,001). Mereka yang hidup dan menerima cairan ~ 10.000 cc mempunyai lama rawat lebih panjang dibandingkan mereka yang menerima cairan <10.000 cc (P<0,05). Resusitasi cairan masih meningkatkan risiko kematian dan lama perawatan lebih panjang dan risiko kematian terutama dihubungkan dengan ditemukannya 2 atau 3 dari trias kematian. Diperlukan pemahaman kompleksitas respon tubuh yang terjadi pasca trauma dan syok hemoragik sehingga dapat melakukan resusitasi yang benar diikuti monitoring yang ketat untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas penatalaksanaan trauma dengan syok hemoragik.

A retrospective cohort study was conducted! to assess the effect of postoperative excess fluid on the final outcome of trauma management with hemorrhagic shock at RSUPN- Dr.Cipto Mangunkusumo. Data was obtained from the medical records of 42 patients who were divided into group I (24 patients) receiving ~ 10,000 cc of fluid and group II (18 patients) who received 10,000 cc < liquid for 24 hours I. Of all the patients, 18 of them died and group I was at risk mortality was 6 times higher than group II and the difference between the two was statistically significant (p < 0.05). The occurrence of 2 or 3 of mortality (coagulopathy, metabolic acidosis and hypothermy) increased the risk of death 28 times higher and the association was significant (p < 0.001). Those who lived and received ~10,000 cc of fluid had a longer treatment time than those who received < 10,000 cc (P <0.05). Fluid resuscitation still increases the risk of death and length of treatment longer and the risk of death is mainly associated with the discovery of 2 or 3 of the triad of death. Understanding is required the complexity of the body's response that occurs after trauma and hemorrhagic shock so that it can perform correct resuscitation followed by strict monitoring to reduce morbidity and mortality in the management of trauma with hemorrhagic shock."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1997
T-pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Heka Priyamurti
"ABSTRAK
Penelitian osteoarthritis (OA) memerlukan model hewan karena progresifitas penyakit yang lambat. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan metode induksi injeksi papain 5% intraartikular dengan menisektomi pada lutut kambing kacang sebagai model OA. Sembilan kambing menjadi subjek, satu ekor sebagai kontrol, grup papain dan menisektomi masing-masing empat ekor. Evaluasi dengan penilaian radiologis, makroskopis dan histologis. Penilaian makroskopis menunjukkan hasil tidak bermakna secara statistik tetapi penilaian menisektomi menunjukkan kerusakan pada kartilago dengan derajat yang lebih tinggi baik makroskopis maupun histologis.

ABSTRACT
Researches on osteoarthritis need animal model because slow progression of the disease. The aim of this study is to compare induction methods of papain 5% intraarticular injection and meniscectomy in Javanesse goat’s stiffle joints as animal model. Nine goats were involved in this study, one goat as control, four goats in papain and meniscectomy group each. Evaluation using radiologic, macroscopic and histologic scoring. Macroscopic scoring showed unsignificant finding statistically, but meniscectomy showed higher score of cartilage damage clinically and statistically."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Erna Kristiani
"[ABSTRAK
Latar Belakang: Karsinoma papiler tiroid (KPT) merupakan keganasan tersering
organ endokrin dengan prognosis yang sangat baik, namun pada beberapa kasus
dapat terjadi rekurensi dan mortalitas. Beberapa faktor prognostik dan mutasi Btype
rapidly accelerated fibrosarcoma V600E (BRAF V600E) dikatakan
berhubungan dengan prognosis yang lebih buruk. Pemeriksaan imunohistokimia
protein BRAF V600E dipercaya dapat mendeteksi adanya mutasi dengan
spesifisitas 100% dan sensitivitas 89%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui
imunoekspresi BRAF V600E dan hubungannya dengan faktor-faktor prognostik.
Bahan dan Cara: Penelitian dilakukan secara retrospektif, desain deskriptif
analitik studi potong lintang. Sampel penelitian berasal dari RSCM berjumlah 50
kasus KPT yang dinilai ulang untuk menentukan faktor-faktor prognostik secara
mikroskopik. Pemeriksaaan mutasi BRAF V600E menggunakan tehnik
imunohistokimia dan penilaian menggunakan H score.
Hasil: Nilai H score ³ 326,5 ditentukan sebagai mutasi BRAF V600E positif dan
< 326,5 sebagai mutasi BRAF V600E negatif. Terdapat 17 (34%) kasus positif
mengalami mutasi BRAF V600E. Rerata usia pada kasus dengan mutasi BRAF V600E
positif adalah 44,71 tahun. Ukuran tumor pada kasus dengan mutasi BRAF V600E positif
berkisar antara 0,1-4cm. Tujuh belas kasus yang mengalami mutasi, 6 dlaki-laki dan 11
perempuan. Tujuh kasus dengan perluasan keluar tiroid, 11 kasus dengan metastasis
kelenjar getah bening (KGB), dan 8 kasus dengan varian histopatologik tall cell.
Kesimpulan: Terdapat hubungan bermakna antara mutasi BRAF V600E dengan
perluasan keluar tiroid, metastasis kelenjar getah bening (KGB), dan varian
histopatologik tall cell. Tidak terdapat hubungan bermakna antara mutasi BRAF
V600E dengan usia, jenis kelamin, dan ukuran tumor.

ABSTRACT
Backgroud: Papillary Thyroid Carcinoma (PTC) is the most common malignant
neoplasm of the endocrine organ with an excellent prognosis, but in some cases
present with recurrency and mortality. There are prognostic factors and BRAF
V600E mutation that related to worse prognosis. Immunohistochemical
investigetion of BRAF V600E protein believe can detect mutation wth 100%
specificity and 89% sensitivity. Recent study suggest PTC with BRAF V600E
mutation do thyroidectomy with prophylactic lymph node dissection. BRAF
V600E specific inhibitor effective to the patient with advance stadium, patient
with metastases, and resistant to iodium radioactive. Aim of this study is to obtain
BRAF V600E and the relation with prognostic factors.
Material and Methods: This is a retrospective descriptive-analytic crosssectional
study. Fifty patient with PTC comes from Ciptomangunkusumo Hospital
and reviewed to determine prognostic factors microscopicaly. BRAF V600E
mutation detected by immunohistochemical staining and assesed with H score.
Result: H score ³ 326,5 determined as positive BRAF V600E mutation and <
326,5 as negative BRAF V600E mutation. BRAF V600E mutation was detected
in 17 (34%) cases by immunohistochemistry. The mean age of the cases with
positive BRAF V600E mutation was 44.71 years, while the negative 41.58. The
size of the tumor in cases with BRAF V600E mutation positive range between
0,1-4cm, while negative 0,1-9cm. Seventeen cases have mutations, 6 of them sex
male and 11 female. Seven cases with extrathyroidal extension (ETE), 11 cases
with lymph node metastasis (KGB), and 8 cases with tall cell variant.
Conclusion: There are significant correlation between BRAF V600E mutation
with extrathyroidal extension, lymph node metastases, and tall cell variant. There
are no significant correlation between BRAF V600E mutation with age, gender,
and size of the tumor, Backgroud: Papillary Thyroid Carcinoma (PTC) is the most common malignant
neoplasm of the endocrine organ with an excellent prognosis, but in some cases
present with recurrency and mortality. There are prognostic factors and BRAF
V600E mutation that related to worse prognosis. Immunohistochemical
investigetion of BRAF V600E protein believe can detect mutation wth 100%
specificity and 89% sensitivity. Recent study suggest PTC with BRAF V600E
mutation do thyroidectomy with prophylactic lymph node dissection. BRAF
V600E specific inhibitor effective to the patient with advance stadium, patient
with metastases, and resistant to iodium radioactive. Aim of this study is to obtain
BRAF V600E and the relation with prognostic factors.
Material and Methods: This is a retrospective descriptive-analytic crosssectional
study. Fifty patient with PTC comes from Ciptomangunkusumo Hospital
and reviewed to determine prognostic factors microscopicaly. BRAF V600E
mutation detected by immunohistochemical staining and assesed with H score.
Result: H score ³ 326,5 determined as positive BRAF V600E mutation and <
326,5 as negative BRAF V600E mutation. BRAF V600E mutation was detected
in 17 (34%) cases by immunohistochemistry. The mean age of the cases with
positive BRAF V600E mutation was 44.71 years, while the negative 41.58. The
size of the tumor in cases with BRAF V600E mutation positive range between
0,1-4cm, while negative 0,1-9cm. Seventeen cases have mutations, 6 of them sex
male and 11 female. Seven cases with extrathyroidal extension (ETE), 11 cases
with lymph node metastasis (KGB), and 8 cases with tall cell variant.
Conclusion: There are significant correlation between BRAF V600E mutation
with extrathyroidal extension, lymph node metastases, and tall cell variant. There
are no significant correlation between BRAF V600E mutation with age, gender,
and size of the tumor]"
2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>