Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 187266 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Leginem
"Anemia gizi merupakan masalah gizi yang besar dan Iuas diderita oleh penduduk Indonesia. Anemia gizi biasanya disebabkan jumlah zat besi yang dikonsumsi tidak sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Di samping itu berbagai faktor juga dapat mempengaruhi terjadinya anemia gizi yaitu, kurangnya konsumsi zat gizi antara lain protein, besi, vitamin C, energi, infeksi, menstruasi, sanitasi Iingkungan, status gizi, pengetahuan dan sosial ekonomi. Konsekuensi yang timbul akibat terjadinya anemia gizi adalah menurunnya aktifitas, produktivitas rendah, terhambatnya perkembangan mental dan kecerdasan (penurunan prestasi belajar), menurunnya kekebalan terhadap penyakit infeksi dan meningkatnya kesakitan. Prevalensi anemia gizi remaja putri berdasarkan beberapa hasil penelitian ternyata cukup tinggi. Hasil SKRT tahun 1995 sebesar 57,1% bahkan studi terhadap siswi SMU Padang tahun 1995 diketahui prevalensi anemia sebesar 80%. Prevalensi ini tergolong dalam masalah kesehatan masyarakat berat, sementara upaya penanggulangan anemia belum mengarah kepada sasaran remaja/mahasiswi ini.
Tujuan penelitian ini untuk memperoleh gambaran prevalensi anemia dan faktor-faktor yang berhubungan serta faktor yang paling berhubungan dengan status anemia mahasiswi Akademi Kebidanan (Akbid) di Banda Aceh tahun 2002. Desain penelitian menggunakan crossectional. Populasi adalah seluruh mahasiswi Akbid di Banda Aceh sebanyak 836 orang dan yang menjadi sampel sebanyak 198 orang. Penelitian dilakukan pada 3 Akbid yaitu Akbid Depkes Banda Aceh, Akbid Mona dan Akbid Muhammadiyah pads tingkat I, II dan III dari bulan Juli - Agustus 2002. Penetapan besar sampel berdasarkan alokasi sama rata yaitu 66 orang tiap akademi dan 22 orang pada tiap tingkat. Pengambilan sampel pada masing-masing tingkat dengan sistematic random sampling. Data dikumpulkan dengan beberapa cara yaitu status anemia dengan pemeriksaan kadar Hemoglobin (Hb) menggunakan metoda cyanmethemoglobin, wawancara untuk kebiasaan minum teh, frekuensi haid, lama haid, pengetahuan tentang anemia, tingkat pendidikan ibu dan status tempat tinggal, food recall 2x24 jam untuk konsumsi zat gizi, pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk Indeks Masa Tubuh (IMT) dan pengukuran LILA. Variabel dependen penelitian ini adalah status anemia mahasiswi sedangkan variabel independen meliputi konsumsi zat gizi (energi, protein, besi dan vitamin C), status gizi (IMT dan LILA), kebiasaan minum teh, pola haid (frekuensi haid dan lama haid), pengetahuan tentang anemia, tingkat pendidikan ibu dan status tempat tinggal. Analisa data meliputi : univariat dengan distribusi frekuensi (semua variabel), mean, median, standart deviasi, minimum dan maksimum (variabel yang memiliki data numerik), analisis bivariat dengan chi square dan analisis multivariat dengan regresi logistik ganda. Hasil penelitian diketahui prevalensi anemia sebesar 88,9% (anemia ringan 57,1%, anemia sedang 29,8% dan 2% anemia berat). Pada analisis bivariat diperoleh variabel yang bermakna secara statistik (p<0.05) dengan status anemia adalah konsumsi besi, konsumsi vitamin C, kebiasaan minum teh, tingkat pendidikan ibu dan status tempat tinggal dan dalam analisis multivariat variabel yang berhubungan adalah konsumsi besi, konsumsi vitamin C, kebiasaan minum teh dan status ternpat tinggal, selanjutnya variabel yang berhubungan paling dominan dengan status anemia adalah konsumsi zat besi (OR = 6,565).
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, disarankan agar penanggulangan anemia gizi mahasiswi/remaja putri; sudah harus diprioritaskan. Memasyarakatkan Gerakan membuat taman gizi dengan menanam pohon buah-buahan dan sayur-sayuran sumber vitamin C dan zat besi. Penyuluhan kepada mahasisiwi/remaja putri dan ibu-ibu serta memotivasi mahasiswi untuk mengkonsumsi tablet tambah darah harga murah secara mandiri. Pemeriksaan kadar Hb pada mahasiswi secara berkala yang dimulai sejak mahasiswa baru dan pengobatan bagi penderita anemia terutama anemia berat dan sedang serta memasukkan bahasan anemia pada mata ajaran tertentu. Penyuluhan kepada para pengelola makanan asrama tentang pentingnya variasi makanan terutama makanan sumber vitamin C dan zat besi yang murah dan mudah diperoleh disekitarnya serta cara pengoaahan makanan yang baik. Pada penelitian selanjutnya agar menggunakan desain yang lebih baik, variabel yang berbeda dan sampel pada kelompok rawan anemia lainnya.

Nutritional anemia is a wide and huge nutrition problem suffered by many Indonesian people. Nutritional anemia usually caused by inadequate amount of iron consumption. Besides, other factors could influence the occurrence of nutritional anemia including inadequate nutrient consumption such as protein, vitamin C, energy, infections, menstruation, poor environmental sanitation, poor nutritional status, lack of knowledge, and poor socioeconomic conditions. As consequences, there is a decrease in activity, low productivity, occurrence of mental retardation, and Iow intelligence, decrease in immunity, and increase in morbidity. According to several studies, prevalence of anemia among teenage girls was high. SKRT result in 1995 showed prevalence of 57.1%. One study among high school girl student in Padang in 1995 showed prevalence as high as 80%. The problem could be categorized as severe public health problem, while the current existing intervention on anemia was not targeted to this segment of population. The aim of this study is to obtain a description on anemia prevalence and its related factors as well as the most associated factors on anemia status among female students of Midwife Academies in Banda Aceh in the year of 2002. The design of the study was cross sectional. Population was all female students in Midwife Academies in Banda Aceh (836 students), with 198 subjects as sample. There were 3 academies, that is, Midwife Academy of Depkes Banda Aceh, Mona Midwife Academy, and Muhammadiyah Midwife Academy including students of all grades in the period of July-August 2002. Sampling was equally distributed among three academies, resulted in 66 students for each academy and 22 students for each grade. Sample in each level was obtained through systematic random sampling. Data was collected using several methods including cyanmethemoglobin to examine Hb level as to determine anemia status, face-to-face interview to know the habit of drinking tea, frequency of menstruation, duration of menstruation, knowledge, mother's educational background and living condition status, 2 X 24 hours recall to predict nutrient consumption, weight and height measurements to calculate body mass index (BMI) and mid upper arm circumference (MUAC) measurement. Dependent variable in this study was anemia status while the independent variables included nutrient consumption (energy, protein, iron, and vitamin C), nutritional status (BMI and MUAC), habit of drinking tea, menstruation pattern (frequency and duration), knowledge, mother's education level and living conditions status. Data analyses included univariate with frequency distribution (for all variables), mean, median, standard deviation, minimum and maximum (for numeric variables), bivariate using chi square, and multivariate analysis using multiple logistic regression.
The result showed that prevalence of anemia was 89.4% (mild anemia 47.5%, moderate anemia 40.4%, and severe anemia 1.5%). Bivariate analysis showed that variables that statistically significantly (p
It is recommended to prioritize intervention to overcome nutritional anemia among female students/teenagers. Socialize movement to plant vitamin C sources is to be embarked as well as iron source plant garden. Education to female students/teenagers and mothers and motivating them to consume iron tablet by self payment. Hb examination should be routinely conducted as to early detect anemia. Those with severe anemia should be intensively treated. Inclusion of anemia topic in certain subjects/courses is also recommended, Boarding house managers (including canteen managers) should also be exposed to education on environmental sanitation and the importance of food variety and balanced menu, particularly iron source food and foods which can enhance iron absorption, as well as better food management in general. Other research to be conducted should employ better study design, including different variables, and different anemia risk group subjects."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T4030
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Linny Luciana Kurniawan
"Anemia defisiensi besi merupakan komplikasi terbanyak pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis. Evaluasi status besi menggunakan pemeriksaan hematologi yang canggih diperlukan dalam menilai ketersediaan besi untuk eritropoiesis khususnya pada keadaan inflamasi. Parameter ini sangat penting digunakan untuk monitor dan menilai respon terapi anemia. Sebanyak 127 pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis yang berusia lebih dari 18 tahun di RSUPN Cipto Mangunkusumo diikutsertakan dalam penelitian ini. Automated Hematology Analyzer SYSMEX XN 3000 digunakan untuk menilai kadar hemoglobin, persentase eritrosit mikrositik (MICRO-R), persentase eritrosit hipokrom (HYPO-He), dan reticulocyte haemoglobin content (RET-He). Kadar feritin diperiksa dengan Cobas e411 dan saturasi transferin diperiksa dengan alat Architect. RET-He dengan titik potong 29,2 pg digunakan sebagai baku emas defisiensi besi. Mean haemoglobin pada kelompok anemia adalah 9,5±1,5g/dL. Pada kelompok defisiensi besi berdasarkan klasifikasi RET-He didapatkan median MICRO-R 7,2 (2,5-42,8) % dan HYPO-He 2,0 (0,3-51,9) %, dan menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik dengan kelompok tidak defisiensi besi (p=0,000). Terdapat korelasi negatif yang kuat antara parameter MICRO-R (r = -0,683) dan HYPO-He (r = -0,679) dengan parameter RET-He. Korelasi MICRO-R dan HYPO-He didapatkan negatif lemah dan bermakna terhadap saturasi transferin. Uji diagnostik pada titik potong parameter MICRO-R 4,15% didapatkan sensitivitas 91,2% dan spesifisitas 72%. Parameter HYPO-He dengan nilai titik potong 1.05% didapatkan sensitivitas 82,4% dan spesifisitas 73,1%. MICRO-R and HYPO-He merupakan parameter hematologi baru yang cukup terpercaya dan murah dalam menilai ketersediaan besi untuk eritropoiesis.

Iron deficiency anaemia was one of the most common complications in chronic kidney disease patients undergoing hemodialysis. Iron profile determinations using advanced haematology analyzers were needed to measure iron-deficient erythropoiesis in the background of inflammation. In this diagnostic study, a total of 127 chronic kidney disease patients who underwent hemodialysis over 18 years old at RSUPN Cipto Mangunkusumo were recruited. Haemoglobin concentration, percentage erythrocyte microcytic (MICRO-R), percentage erythrocyte hypochromic (HYPO-He), and reticulocyte haemoglobin (RET-He) were measured with SYSMEX XN 3000. The gold standard to define iron deficiency was RET-He < 29.2 pg. The mean haemoglobin value in the anaemia group was 9,5±1,5g/dL. In iron deficiency group based on RET-He classification, median MICRO-R of 7,2 (2,5-42,8) % and HYPO-He of 2,0 (0,3-51,9) % showed statistical different with no iron deficiency status (p=0,000). The correlation between MICRO-R (r = -0,683) and HYPO-He (r = -0,679) with RET-He was a strong negative correlation and a weak correlation with transferrin saturation. We identified MICRO-R cutoff was 4,15% (sensitivity 91,2%, specificity 72%) and HYPO-He cutoff was 1.05% (sensitivity 82,4%, specificity 73,1%). MICRO-R and HYPO-He were new haematological parameters. Those parameters were reliable and inexpensive to measure iron-deficient erythropoiesis. "
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Triana Hardianti Gunardi
"Latar belakang: Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas GPPH disebabkan oleh berbagai faktor, seperti genetik dan lingkungan. Zat besi berperan sebagai kofaktor enzim tirosin-hidroksilase dalam proses modulasi produksi dopamin dan epinefrin, yang berpengaruh pada kontrol perilaku motorik normal.
Tujuan: Mengetahui hubungan antara risiko tinggi defisiensi besi dengan GPPH.
Metode: Studi kasus kontrol menggunakan kuesioner untuk uji tapis pertama GPPH dan defisiensi besi, melibatkan 376 siswa SD 01, 03, dan 05 Kenari, Jakarta periode 2015/2016.
Hasil: Melalui uji Chi-square, ditemukan hubungan bermakna secara statistik antara risiko tinggi defisiensi besi dengan GPPH pada siswa dengan odds ratio 2,447 1,354 ndash; 4,422, IK 95 , p = 0,002.
Kesimpulan: Risiko tinggi defisiensi zat besi merupakan salah satu faktor risiko GPPH pada siswa sekolah dasar di Jakarta. Kecukupan asupan zat besi pada anak perlu dijaga sejak dini.

Background: Attention Deficit Hyperactivity Disorder ADHD is caused by many factors, including genetics and environmental factor, e.g. iron. Iron acts as a cofactor in the modulation of dopamine and epinephrine production, affecting control in motoric behavior.
Aim: of study To find the association between the high risk of iron deficiency and ADHD.
Method: A case control study using questionnaire to screen ADHD and iron deficiency in 376 elementary students in SD Kenari Jakarta.
Results: Positive correlation between the high risk of iron deficiency and ADHD, using Chi square method with odds ratio 2.447 1.354 ndash 4.422, IK 95 , p 0.002.
Conclusion: High risk of iron deficiency is a risk factor of ADHD in elementary school students in Jakarta. Children should maintain adequate iron intake since early hood.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Intan Anugraheni
"Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan dengan prevalensi yang tinggi di Indonesia, yaitu 22 pada perempuan tidak hamil. Anemia merupakan salah satu penyebab tidak langsung kematian ibu yang tersering di Indonesia. Dalam rangka membantu upaya pencegahan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada remaja perempuan di Depok. Penelitian ini dilakukan dengan desain penelitian analitik menggunakan studi cross-sectional menggunakan data sekunder pemeriksaan kesehatan pada 2112 mahasiswa baru perempuan Universitas X tahun ajaran 2015/2016 di Depok.
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi anemia pada remaja perempuan di Depok adalah 10,8 9,4 -12,1. Melalui analisis bivariat, didapatkan asal daerah p=0,038 dan dismenorrhea p=0,001 berhubungan dengan anemia. Pada analisis multivariat, didapatkan variabel yang memiliki hubungan yang signifikan dengan anemia adalah dismenorrhea OR, 0,617; IK 95 , 0,467-0,815; p:0,001 , dengan hubungan terbalik bahwa kejadian anemia 1,6 kali lebih banyak pada remaja perempuan yang tidak dismennorhea.

Anemia is one of the health problem with high prevalence in Indonesia. It accounts for 22 proportion in non pregnant women. Anemia is one of the most common indirect cause of maternal death in Indonesia. In order to assist prevention efforts, this study aimed to determine the factors associated with anemia in adolescent girls in Depok. A cross sectional study using secondary data from medical checkup results was performed on 2112 female freshman of University X academic year 2015 2016 in Depok.
The results showed that the prevalence of anemia among adolescent girls in Depok was 10.8 9.4 12.1. Through the bivariate analysis, it was found that the freshman's hometown p 0.038 and dysmenorrhea p 0.001 were associated with anemia. On multivariate analysis, it was found that dysmenorrhea was associated with anemia OR, 0.617 CI 95, from 0.467 to 0.815 p 0.001, with an inverse association that the incidence of anemia 1,6 times greater among gilrs without dysmenorrhea.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2016
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lia Fitrianingsih
"Anemia menunjukkan rendahnya konsentrasi hemogloblin darah, yang penyebab utamanya secara signifikan karena kekurangan zat besi. Selama masa remaja, anemia diperkirakan merupakan masalah gizi terbesar, baik di negara maju maupun negara berkembang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada remaja usia 15-19 tahun di provinsi Sumatera terpilih. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional memanfaatkan data Survey Aspek Kehidupan Rumah Tangga Indonesia SAKERTI tahun 2007.
Hasil penelitian menyatakan bahwa prevalensi anemia pada remaja usia 15-19 tahun di provinsi Sumatera terpilih sebesar 15,5 . Variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian anemia antara lain jenis kelamin dan tingkat pengeluaran konsumsi sayur serta buah.

Anemia show the low concentrate of hemoglobin blood, which main cause significantly due to a deficiency of iron. During adolescent, anemia estimated is a largest nutrition problem that faced not only in developed countries but also on developing countries.
This study aims to determine the factors related to anemia in adolescent in selected Sumatera province. This study using cross sectional study design based on data of Indonesian Family Life Survey IFLS in 2007.
Results of this study declare that the prevalence of anemia in adolescent 15 19 years old in selected Sumatera province is 15,5 . Variables that have a significant relationship with the incidence of anemia are gender and expenditure consumption vegetables and fruits.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2017
S66802
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Richa Aprilianti
"Anemia merupakan akibat sekunder dari Gagal Ginjal Terminal (GGT) yang terjadi pada 80-95% pasien, seiring dengan penurunan laju filtrasi glomerulus pada pasien hemodialisis. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan anemia pada pasien hemodialisis rutin. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 116 orang.
Hasil penelitian menunjukkan penyakit inflamasi merupakan faktor yang paling berhubungan dengan anemia ( p = 0,05; OR = 2,7), kedua adekuasi hemodialisis (p = 0,04; OR = 2,3) dan ketiga status nutrisi (p = 0,04; OR = 0,31). Pelaksanaan asuhan keperawatan yang komprehensif dan peran perawat dalam memastikan adekuasi hemodialisis tercapai untuk setiap pasien dengan frekuensi dialisis 3x/minggu selama 4 - 5 jam/sesi hemodialisis merupakan kunci keberhasilan manajemen anemia sebagai salah satu indikator kualitas pelayanan ruang hemodialisis.

Anemia is a secondary effect of Chronic Renal Failure (CRF), which occurs in 80-95% of patients, in line with the decline of glomerular filtration rate. The purpose of this research was to identify the factors associated with anemia in hemodialysis patient. This study used cross-sectional design with a sample of 116 people.
Results showed inflammatory disease was the most influential factor on the incidence of anemia (p = 0.05, OR = 2.7), then the adequacy of hemodialysis (p = 0.04; OR = 2.3) and third nutritional status (p = 0.04; OR = 0.31). Implementation of comprehensive nursing care and the role of nurses ensure adequacy of hemodialysis is achived for each patient with the frequency of hemodialysis performed 3 times a week for 4-5 hour per session of hemodialysis is the key indicator of adequacy of treatment of anemia as a service quality hemodialysis."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T38674
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eka Siyanti Sumarlan
"Latar Belakang: Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan jenis anemia yang tersering pada remaja. Dampak defisiensi besi mulai dari berkurangnya kemampuan kerja fisis hingga gangguan fungsi kognitif. Pada saat memasuki kehamilan, ADB dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas pada ibu maupun pada bayi. Faktor risiko ADB pada remaja multifaktorial.
Tujuan: Mengetahui status besi, prevalens dan faktor risiko ADB pada remaja perempuan usia 12-15 tahun di Jakarta Pusat.
Metode: Studi potong lintang pada remaja perempuan usia 12-15 tahun di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Subjek dibagi menjadi kelompok status sosial ekonomi (SSE) menengah-keatas dan menengah-kebawah. Pada subjek dinilai status gizi, status dan karakteristik menstruasi, pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan orangtua, serta asupan besi. Pada subjek juga dilakukan pemeriksaan laboratorium hematologis, biokimia besi, dan (C-reactive protein) CRP. Uji tuberkulin dilakukan untuk menyingkirkan APK akibat tuberkulosis, penyakit kronik tersering di Indonesia.
Hasil: Diantara 163 subjek, prevalens status besi normal sebesar 69,3%. Prevalens defisiensi besi non anemia lebih tinggi (17,2%, berupa deplesi (3,1%) dan defisiensi besi (14,1%) dibandingkan prevalens ADB (13,5%). Prevalens ADB pada kelompok status sosial ekonomi (SSE) menengah-keatas lebih rendah daripada SSE menengah-kebawah (11,5% dan 15,8%). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara prevalens ADB dengan status gizi, status dan karakteristik menstruasi, SSE, dan pendidikan maupun penghasilan orangtua. Asupan besi bioavailable pada seluruh subjek kurang dari angka kecukupan gizi (AKG), namun tidak didapatkan hubungan yang bermakna dengan prevalens ADB.
Simpulan: Prevalens deplesi dan defisiensi besi yang lebih tinggi dari prevalens ADB berpotensi meningkatkan prevalens ADB pada masa mendatang. Meskipun tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara prevalens ADB dengan faktor risikonya, namun asupan besi yang kurang dari AKG pada seluruh subjek perlu diperhatikan. Suplementasi besi sesuai rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia perlu dilaksanakan dalam upaya pencegahan dan penanggulan defisiensi besi pada remaja.

Background: Iron deficiency anemia (IDA) is the most common anemia in adolescents. Iron deficiency cause decreased physical performance as well as cognitive impairment. In pregnancy, IDA increases maternal and fetal mortality and morbidity. Risk factors of IDA in adolescents are multifactorials.
Objectives: To identify iron status, prevalence dan risk factors of IDA in 12 to 15-year old adolescents girls in Central Jakarta.
Methods: Cross-sectional study in 12 to 15-year old adolescent girls who study in Junior High School. Subjects were classified into higher and lower social economy status (SES). Assessment of nutritional status, menstruation status and characteristics, occupation, parents education level and income, as well as iron intake. Subjects were undergo supporting examinations, such as hematological, iron parameters and C-reactive protein (CRP). Tuberculin test was done to rule out anemia of chronic disease due to tuberculosis, the most common chronic disease in Indonesia.
Results: Out of 163 subjects, prevalence of normal iron status was 69,3%. Non anemia iron deficiency prevalence was higher (17,2%, consists of 3,1% iron depletion and 14,1% iron deficiency) than IDA prevalence (13,5%). Prevalence of IDA in higher SES was lower than that in lower SES (11,5% and 15,8%). There was no significant association betwen prevalence of IDA and nutritional status, menstruation status and characteristics, SES, as well as parents’ education level and income. Bioavailable iron intake in all subjects was less than RDA, no significant association betwen bioavailable iron intake and IDA prevalence.
Conclusions: Non anemic iron deficiency prevalence that was higher than prevalence of IDA is potensial to increase prevalence of IDA in the future. Altough there is no significant association betwen IDA and its risk factors, iron intake that is less than RDA in all subjects requires more attention. Iron supplementation based on Indonesian Pediatric Society need to be reinforced to prevent and overcome iron deficiency in adolescent.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ramiro, Georgina E.
"Female adolescents are vulnerable to iron deficiency anemia (IDA) and if it persists into their reproductive years has serious implications not only for the health of their offsprings but for their own as well. An iron supplementation is warranted in order to provide sufficient iron stores prior to pregnancy and to effect desirable birth outcomes. A communication component of the supplementation is regarded as essential for improving compliance.
Therefore, an experimental community trial involving adolescent female students in two public high schools in Metro Manila was conducted between October-December 1997. The objective of the study was to asses the effect of communication on compliance to weekly iron supplementation. The students were assigned to three groups: iron plus communication (FeC group, n = 82), iron (Fe group, n = 89), and control group (n=78). The FeC and Fe groups received iron tablets containing 60 mg. Elemental iron and 250 mcg. Folic acid while the control group received placebo tablets from Physical Education Health and Music (PEHM) teachers once a week of eight subsequent weeks. Teachers assigned to the FeC group were trained communication. Comparison were made between the three groups on compliance as communication. Comparisons were made between the three groups on compliace as measured by attendance to tablet distribution and actual ingestion through stool test, record on index card and interview. Additionally, levels and prevalence of anemia were measured before and after intervention and a pre and post test about knowledge on IDA and possible causes and treatments were included. Data about side-effects, reaction from students, parents and teachers about the supplementation-communication activities and suggestions for futher improvements in conductiong such future undertaking were obtained from focus group discussions (FGDs).
Comparisons of actual tablet ingestion between the three groups showed significantly higher compliance in the FeC group (P<0.001) than in the other two group as measured by record on index card and interview desoite more side effects felt. Changes from pre to post-test knowledge scores o iron were significantly greater for the FeC group (p<0.001) than in the Fe and control groups. However, hemoglobin levels improved significantly in the Fe group (p<0.05) but not in the FeC group and remained the same in the control group. Reactions obtained through focus group discussions from parent (as reported by students), teachers and the participants found the program beneficial and feasible for implementation on a larger scale. Compliance enhancing strategies and motivational approaches for adolescent female students must consider the potential influence of family, fiends and teachers as revealed by the Venn diagram in planning iron supplementation programs with communication for this target group."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1998
T2037
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gayuh Siska Laksananno
"Anemia defisiensi besi merupakan masalah gizi yang banyak diderita oleh remaja putri karena usia remaja berada pada masa petumbuhan dan juga dampak dari menstruasi yang didapat setiap bulannya. Beberapa penelitian menunjukkan tingginya anemia pada remaja putri. Penyebab anemia defisiensi besi adalah kurangnya pemasukan zat besi, meningkatnya kebutuhan akan zat besi, kehilangan darah kronis, penyakit malaria, cacing tambang dan infeksi-infeksi lain serta pengetahuan yang kurang tentang anemia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya anemia defisiensi besi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi SMLJ Muhammadiyah Kota Tegal. Jumlah sampel 113 orang. Data diambil menggunakan kuesioner, sedangkan untuk pemeriksaan kadar Hb dan Ferritin serum, responden diambil sampel darahnya kemudian dilakukan pemeriksaan di laboratorium klinik. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat, bivariat dengan independen t-lest dan chi square serta analisis multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan pada 95% Cl terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan (p value 0.003), kebiasaan diet (p value 0.000), asupan zat besi (p value 0-014), kebiasaan konsumsi vitamin C (p value 0.003), kebiasaan minum teh (p value 0.01), siklus (p value 0.02) dan lama menstruasi (p value 0.000) dengan anemia defisiensi besi. Sedangkan faktor yang tidak berhubungan dengan anemia defisiensi besi adalah umur (p value 0.566), tingkat pendapatan orang tua (p value 0.054) dan jumlah anggota keluarga (p value 0.672). Dari analisis multivariat menunjukkan faktor yang paling berkontribusi adalah kebiasaan konsumsi vitamin C (OR = 4,321). Rekomendasi dari penelitian ini adalah remaja putri untuk meningkatkan konsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi, meningkatkan konsumsi vitamin C dan mengurangi minum teh.

Iron deficiency anemia is nutrient problem on many female adolescence because in growth process and the effect of their menstruation. The studies shown increasing amount of anemia on female adolescence. The cause of iron deficiency anemia are less of intake iron, increasing iron needed, chronic bleeding, malariae and other infection, also less of knowledge about anemia. The objective of this sludy is to identify contribute factor to event of iron deficiency anemia. This research use descriptive metode with cross sectional approach. The population are students Muhammadiyah Senior High School at Kota Tegal. They were 113 respondents. The data taken with questionaire, therefore assesment of Hb level and serum ferritin level were use blood sample in laboratory. The data analyze that use was univariat, bivariat with independent t-test and chi-square, also multivariat with logistic regretion. The result show at 95 Cl, there is the correlation between knowledge (p value 0,003), dietary history (p value 0,000), iron intake (p value 0,014), consumption of vitamin C (p value 0,003), tea drink history (p value 0,01), menstruation cycle (p value 0,02) and duration of menstruation (p value 0,000) with iron deficiency anemia.Therefore factors not correlated with iron deficiency anemia are age (p value 0,566), level of parents income (p value 0,054) and family member (p value 0,672). Multivariat analyze shown consumption of vitamin C is dominant factor to contribute iron deficiency anemia (OR = 4,321). Recomendation of this studyis increasing consumption of iron and vitamin C and decreasing drink of tea to prevent iron deficiency anemia."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2009
T26572
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Maudita Dwi Anbarani
"Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia, terutama negara berkembang. Dampak anemia tidak hanya pada kesehatan saja, namun juga pada perkembangan sosial dan ekonomi. Ibu hamil merupakan kelompok risiko tinggi anemia, karena saat hamil terjadi perubahan fisiologis dalam tubuh untuk mendukung kehamilannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian anemia pada Ibu hamil pengunjung Puskesmas Kecamatan Jatinegara Jakarta Timur tahun 2017. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dengan sumber data berupa kartu status Ibu hamil. Faktor-faktor yang diteliti adalah umur Ibu, status gizi, pendidikan, status pekerjaan, paritas, dan jarak kelahiran. Jumlah sampel penelitian adalah 308. Analisis data menunjukkan proporsi kejadian anemia Ibu hamil pengunjung Puskesmas Jatinegara tahun 2017 adalah 37,3. Dari enam faktor, hanya status gizi yang diukur berdasarkan LILA yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian anemia Ibu hamil p value < 0.000, PR: 2,105 95 CI: 1,582-2,801. Intervensi gizi berupa pemberian makanan tinggi protein dan zat gizi mikro yang berisiko mengalami defisiensi saat hamil diperlukan untuk membantu menurunkan angka kejadian anemia Ibu hamil

Anemia is a public health problem all over the world, especially in developing countries. Anemia affects not only health, but also the economic and social development of a country. Pregnant women are a high risk group of anemia due to the physiological changes in the body to support the pregnancy. This research aims to determine factors associated with maternal anemia among pregnant women visiting Puskesmas Kecamatan Jatinegara East Jakarta in 2017. This research is cross sectional, using data obtained from maternal medical record. Factors studied in this research are age, nutritional status, education, occupational status, parity, and birth interval. Total samples used in this research was 308 pregnant women. Data analysis shows that the proportion of maternal anemia among pregnant women visiting Puskesmas Kecamatan Jatinegara in 2017 was 37,3 and nutritional status based on MUAC assessment is the only significance factor of maternal anemia p value 0.000, PR 2,105 95 CI 1,582-2,801. Nutrition intervention in the form of accomodating pregnant women with high protein food and micronutrient supplementation which are proned to be deficient during pregnancy is needed to help lower down maternal anemia rate. "
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>