Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 124205 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Dini Alia
"Sebagai makhluk sosial, manusia dituntut untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Salah satu hubungan sosial yang paling awal dan yang mempunyai pengaruh besar adalah hubungan dengan ibu. Dimana interaksi antara ibu dan anak dimulai sejak anak masih berada dalam kandungan ibu. Kemudian ibu melahirkan anak, merawat dan mengasuhnya hingga dewasa. Besamya pengaruh pengasuhan ibu terhadap perkembangan anak dapat dilihat pada basil penelitian (dalam Lemma, 1995) menunjukkan pada ibu yang memiliki kehangatan dan kepedulian maka anak perempuannya lebih hangat dan anak lakilakinya lebih bahagia.
Pengasuhan ibu pada masa kecil tentu juga berperan dalam proses pembentukan sikap anak ketika memasuki usia dewasa. Saat anak menjadi dewasa, mulai ada perubahan peran dan status masing-masing anggota keluarga berkaitan dengan tugas perkembangan anak pada masa dewasa muda Mi. Menurut penelitian Duval (1985) komunikasi kerap menjadi sulit dengan adanya tekanan teman pada anak yang beranjak dewasa, karena itu dibutuhkan fondasi hubungan orang tua dan anak yang kuat di tahun-tahun awal (masa kecil dulu). Pada masa dewasa muda ini, anak akan banyak menjalin hubungan sosial dengan orang lain sebagai tempat bercerita selain kepada ibu. Namun demikian, masih banyak pula yang menjadikan ibu sebagai tempat mereka untuk bercerita.
Bercerita tentang diri sendiri kepada ibu merupakan salah sate bentuk keterbukaan. Keterbukaan diri adalah suatu usaha dalam menjadikan diri "transparan" terhadap orang lain dengan meialui komunikasi, misalnya ketika mengatakan mengenai dirinya, tentunya akan membantu orang lain untuk melihat keunikan orang tersebut sebagai manusia (Jourard dalam Hirokawa, 2004),
Keterbukaan diri anak pada ibu menjadi hal yang sangat panting untuk perkembangan seperti yang terlihat pada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa anak laki-saki dan anak perempuan yang terbuka akan mendapatkan dukungan emosional dari ibu dan ayahnya (Hagestad dalam Fischer, 1987). Keterbukaan diri anak kepada ibunya didasari oleh rasa percaya anak kepada ibu. Ketika rasa percaya sudah terbentuk maka keterbukaan diri anak kepada ibu menjadi lebih intensif dan topik yang dibicarakan menjadi lebih pribadi (Knapp & Vangelisti dalam Derlega, 1993). Kepercayaan itu send iri terbentuk dari persepsi anak terhadap sikap penerimaan ibu terhadap dirinya.
Penerimaan adalah pandangan positif yang diterima individu dari orang lain sebagai orang yang berharga dan tidak mempermasalahkan kondisi, tingkah laku, ataupun perasaan yang melatarbelakangi (Rogers,1961). Secara teoritik dikatakan bahwa sikap dan perlakuan orang tua akan memiliki pengaruh terhadap keinginan anak untuk melakukan keterbukaan dui (Penelitian Fagot dalam Rotenberg, 1995). Sikap dan perlakuan ibu kepada anak yang menunjukkan penerimaan kepada anak, seperti mau mendengarkan cerita anak, menghargai pendapat anak dan memberikan perhatian kepada anak, tentu akan dipersepsikan oleh anak sebagai penerimaan ibu bagi dirinya. Sedangkan ibu yang menampilkan sikap tidak menghargai pendapat anak, tidak mau mendengarkan cerita anak dan kurang memberikan perhatian kepada anak, akan dipersepsikan anak sebagai penolakan ibu terhadap dirinya. Oleh karena itu faktor persepsi merupakan hal yang panting dalam merasakan ada atau tidaknya penerimaan dari ibu bagi dirinya. Anak yang mempersepsikan ibu sebagai orang yang perhatian, mau mendengarkan dan mampu memahaminya, maka anak akan merasa dekat untuk rnau terbuka bercerita tentang segala hal yang dialaminya. Sebaliknya, anak yang mempersepsi ibu sebagai orang yang kaku, tidak memahami dirinya dan tidak mau mendengarkan keluhannya, maka anak akan menjaga jarak dengan ibunya dan tidak terbuka menceritakan tentang segala hal yang dialaminya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi terhadap penerimaan ibu dan keterbukaan diri anak dewasa muda kepada ibunya. Penelitian yang dilakukan bersifat kualitatif, dengan metode penelitian studi kasus. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 4 orang, terdiri dari 2 perempuan dan 2 laki-laki. Karakteristik subjek adalah berusia antara 18-35 tahun atau termasuk dalam tahap perkembangan dewasa muda, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, ibu masih hidup dan masih bisa berkomunikasi serta taraf pendidikan subjek minimal SLTA.
Hasil utama yang diperoleh dalam penelitian ini adalah anak yang mempersepsikan adanya penerimaan ibu bagi dirinya, cenderung membuka diri secara mendalam kepada ibunya, begitu pula sebaliknya. Anak yang mempersepsikan tidak ada penerimaan ibu bagi dirinya, cenderung tidak terbuka kepada ibunya. Setiap subjek memiliki pengalaman yang berbeda tentang ibunya, sehingga mempengaruhi subjek dalam mempersepsikan ada atau tidak penerimaan dui ibunya. Keterbukaan diri anak kepada ibu bervariasi dalam hal topik-topik yang dibicarakan."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T17883
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1995
S2146
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ince Siti Nurmala
"Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia memiliki tahap-tahap perkembangan yang akan dijalani. Ketika sudah memasuki rentang usia dewasa muda (20-40 tahun), individu akan dihadapkan pada tugas-tugas perkembangan manusia, seperti memilih pasangan hidup, mulai membina keluarga, dan mengasuh anak. Dalam kultur tradisional, yang menganggap pernikahan sebagai bagian penting dalam masyarakat (Schwartzberg et al., dalam Darrington, 2005), menjadi perempuan lajang tentunya alma menimbulkan efek yang dapat bersifat positif ataupun negatif bagi individu yang bersangkutan. Apalagi jika kita berbicara tentang peran gender dalam masyarakat, di mana perempuan umumnya dipandang sebagai individu yang identik dengan ruang lingkup domestik, yaitu menjadi ibu dan mengurus rumah tangga (Levinson, dalam Papalia & Olds, 1998) maka munculnya fenomena perempuan lajang yang berpendidikan tinggi dan memiliki karir yang baik, akan menjadi suatu topik yang menarik untuk dibahas.
Berkaitan dengan itu, penelitian ini membahas tentang gambaran hubungan perempuan lajang dengan figur ibu. Mengenai keunikan hubungan ibu dan anak perempuannya, sejumlah ahli mengatakan bahwa hubungan ibu dan anak perempuan cenderung memiliki suatu kedekatan khusus, suatu hubungan yang paling dekat dan paling penting dalam interaksi dengan keluarga, dan anak perempuan lebih sering mengunjungi ibunya daripada anak laki-laki (Chodorow; Wilmott & Young, dalam Fischer, 1987). Menurut Bowen (dalam Rastogi & Wampler, 1999), hubungan ibu dan anak perempuan merupakan hubungan yang signifikan karena menyajikan suatu mode transmisi mengenai pola kedekatan (closeness), kecocokan (enmeshment), jarak (distance), dan konflik antara satu generasi dengan generasi lainnya dalam keluarga.
Rastogi dan Wampler (1999) mengajukan tiga dimensi utama dalam meneliti hubungan ibu dan anak perempuan dewasa, yaitu: (1) Closeness, yaitu suatu perasaan keterikatan (sense of connection) dan keakraban (intimacy) dalam hubungan, tetapi tidak terbatas pada jarak geografis antara ibu-anak; (2) reliability, yaitu mengetahui bahwa ibu atau anak akan selalu ada ketika dibutuhkan. Dengan perkataan lain, ibu dan anak dapat saling mengandalkan diri masing-masing sebagai tempat bergantung; (3) Collectivism, yaitu keseimbangan antrra individualitas seseorang dan kebutuhan akan kelompok. Dalam penelitian berikut, peneliti merujuk pada teori ini dalam menentukan panduan wawancara dan analisis hasil wawancara.
Peneliti menyadari bahwa setiap individu tentunya memiliki keunikan sendiri dalam hal menghayati pengalaman dalam hidupnya. Oleh karena itu, pendekatan yang menurut peneliti paling tepat untuk membahas topik ini adalah desain penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan terhadap tiga orang perempuan dewasa muda (25-35 tahun), belum pernah menikah, pendidikan D3 atau S1, dan sudah bekerja. Perempuan lajang dipilih sebagai salah satu karakteristik sampel karena menurut penelitian Fischer (1987), dibandingkan dengan perempuan yang sudah menikah, perempuan lajang cenderung memiliki hubungan yang dependent dengan ibu, mereka merasa kesulitan menjawab pertanyaan : mengenai gambaran diri mereka sebagai ibu di masa yang akan datang (apakah kelak mereka akan menjadi ibu seperti ibu mereka aiau tidak?), dan cenderung rnenganggap masa depan sebagai suatu hal yang berada di luar kendali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga responden tidak menggambarkan hubungan yang dependent dengan ibu. Pada dimensi closeness, hanya satu responden yang melaporkan bahwa ia merasa dekat dengan figur ibu, sementara dua orang lainnya tidak menggambarkan adanya hubungan yang dekat. Pada dimensi reliability, hanya satu responden yang melaporkan bahwa ia dan ibu dapat saling mengandalkan satu sama lain, terutama sebagai tempat untuk berbagi cerita. Dua responden lainnya melaporkan bahwa ibu lebih sering meminta bantuan atau menceritakan masalah kepada orang lain (kakak) daripada kepada responden. Pada dimensi collectivism, ketiga responden menggambarkan tingkat trust in hierarchy yang tinggi. Sementara mengenai tingkat diferensiasi, dua responden menggambarkan tingkat diferensiasi yang rendah dan yang lainnya pada tingkat menengah. Pada aspek life structure, yaitu suatu pengertian subyektif tentang diri pada saat ini dan di masa yang akan datang, ketiga responden nampak relatif kesulitan memberikan gambaran tentang diri masing masing sebagai ibu di masa yang akan datang."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2006
T18094
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muthia Dwi Larasati
"Penelitian ini dilakukan untuk melihat gambaran stres dan penyesuaian diri pada wanita dewasa muda yang baru pertama kali menjadi ibu. Stres didefinsikan sebagai respon fisik dan psikis seseorang yang berasal dari tuntutan internal maupun eksternal, juga dari masalah-masalah sulit lainnya. Penyesuaian diri didefinisikan ketika seorang individu terbiasa hidup terhadap suatu situasi, atau belajar untuk hidup pada situasi tersebut (Haber & Runyon, 1984). Pendekatan kuantitatif dipilih dalam melaksanakan penelitian ini. Alat ukur yang digunakan adalah Meeasure of Transition Difficulty untuk mengukur variabel penyesuaian diri, dan Perceived Stress Scale-14 untuk mengukur variabel stres. Sebanyak 140 responden berpartisipasi dalam penelitian ini, dengan kriteria wanita dewasa muda usia 20 - 40 tahun, sudah menikah, dan memiliki satu anak dengan usia 0 - 18 bulan. Penelitian ini menghasilkan temuan bahwa wanita dewasa muda yang pertama kali menjadi ibu tidak mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian diri. Di samping itu, tingkat stres yang dialami juga rendah.

This study aimed to see the description of stress and adjustment among first-time mothers. Quantitative research is chosen in this study, by using Measure of Transition Difficulty for measuring adjustment, and Perceived Stress Scale-14 for measuring stress. As much as 140 respondents completed those questionnaires, which are women age 20 – 40 years old, married, and have one child age 0 – 18 months old. This study showed that there were no difficulties to made an adjustment among first-time mothers. In addition, there were low degree of stress experienced by the first-time mothers.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S55424
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sofia Etty Adistambha
2007
T34201
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sofia Etty Adistambha
"ABSTRAK
Penelitian ini berfokus pada gambaran penerimaan diri pada penyandang tuna
netra yang berusia dewasa muda dimana secara lebih lanjut ingin melihat
mengenai dinamika seorang penyandang tuna netra dalam melalui tahapan
penerimaan diri, karakteristik penerimaan diri yang dimiliki oleh seorang
penyandang tuna netra serta faktor yang mempengaruhi penerimaan diri pada
seorang penyandang tuna netra. Penelitian ini termasuk penelitian kualitatif
dengan desain deskriptif. Subyek dalam penelitian ini terdiri dari 3 orang laki-laki penyandang tuna netra
yang berada dalam rentang usia dewasa muda. Pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara mendalam, sedangkan analisis dilakukan dengan mereduksi
data dan transformasi data mentah yang muncul dari catatan tertulis maupun
rekaman di lapangan serta penarikan kesimpulan dari data mentah. Dari analisis terhadap hasil wawancara, disimpulkan bahwa : 1) Dua orang
subyek sudah berhasil mencapai tahap syukur, sedangkan satu orang subyek
masih berada dalam tahap tawar menawar (bargaining) 2) Dua orang subyek
memiliki karakteristik yang menunjang penerimaan diri dan kecacatannya,
sedangkan satu orang subyek belum memiliki karakteristik yang menunjang
penerimaan dirinya. 3) Dua orang subyek memiliki faktor-faktor yang menunjang
penerimaan diri, sedangkan satu orang subyek tidak memiliki faktor yang
menunjang penerimaan diri. Penelitian selanjutnya disarankan untuk lebih
memperhatikan formulasi pertanyaan agar lebih mudah dipahami oleh subyek,
terutama untuk pertanyaan yang bersifat konseptual. Selain itu, disarankan pula
untuk membedakan antara penyandang tuna netra sejak lahir dengan penyandang
tuna netra dalam peijalanan hidupnya."
2007
T37863
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
cover
Christine Paruliana
"Perceraian merupakan hal yang paling buruk yang teljadi pada perempuan karena pemikahan merupakan pusat dari kebahagiaan perempuan (Mitchell, 1996). Perceraian mempunyai dampak yang negatif tetapi juga memiliki dampak Konstruktif.
Penyesuaian diri yang baik sctelah bercerai dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: usia bercerai & jenis kelamin, pendidikan & status social-ekonomi, lamanya usia perkawinan & kualitas perkawinan, siapa yang menjadi inisiator untuk bercerai, dukungan sosial yang diperoleh, mempunyai anak aiau tidak, memiliki rasa percaya diri yang tinggi atau tidak, komitmen sebelum bercerai, mempunyai perasaan yang positif dan bergantung atau tidak pada pasangan, bagaimana perceraian itu ditangani, dan bagaimana kemampuan seseorang ketika hidup melajang (sebelum menikah).
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mcngetahui gambaran penyesuaian diri perempuan yang bercerai. Tujuan khususnya adalah untuk mengetahui pcnyebab perceraian, faktor demografis apa saja yang turut mempengaruhi perceraian, pada tahap apa perceraian, masalah apa saja yang dihadapi akibat perceraian, bagaimana penyesuaian diri dan factor apa saja yang mcmpengaruhi responden untuk menyesuaikan diri dengan lebih baik setelah bercerai.
Peneliti menggunakan pendekatan kualitatit] hal ini dimaksudkan agar peneliti memperoleh gambaran keseluruhan mengenai penyesuaian diri perempuan yang bercerai dengan Iebih lengkap dan sistematis. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara dan observasi.
Karakteristik responden yaitu perempuan yang bercerai 53 tahun, dewasa muda, mempunyai anak kandung 5 I0 tahun, pendidikan minimal SMA, tidak menikah kembali, dan berdomisili di Jabotabek.
Hasil dari penelitian ini adalah ada dua faktor penting yang ada pada responden yang sangat membantu mereka dalam menyesuaikan diri dengan lebih baik setelah perceraian yaitu kehadiran anak dan dukungan dari orangiua. Walctu juga menentukan bagaimana penyesuaian diri individu, semakin lama usia perceraian maka semakin baik penyesuaian diri individu."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zani Afrinita
"Kerja merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan dewasa muda. Seorang dewasa yang normal adalah orang yang mampu untuk mencintai dan bekerja (Freud dalam Craig, 1986). Yang dimaksud dengan kerja adalah pekerjaan dimana individu mendapatkan bayaran sebagai imbalan. Dalam bekerja, individu pada umumnya mempunyai tujuan-tujuan tertentu namun kadangkala tujuan ini tidak selalu dapat dipenuhi. Tidak terpenuhinya tujuan ini dapat menimbulkan stres bagi individu (Quick & Quick, 1983). Stres yang dialami individu dalam dunia kerja ini disebut sebagai stres kerja (Soewondo, 1991). Stres kerja dapat dibedakan menjadi stres yang bersumber dari pekerjaan dan kehidupan sehari-hari (Greenberg 8. Baron, 1993).
Salah satu hal yang dapat digunakan untuk mengatasi stres kerja adalah dukungan sosial (Quick & Quick, 1983). Lobel (1994) mengemukakan dukungan sosial ini dapat diberikan dalam 4 bentuk, yaitu dukungan emosional, instrumental, informasional dan penilaian. Adanya dukungan sosial dapat menurunkan stres pada individu karena dengan mempersepsi adanya orang lain yang dapat dan akan membantunya maka individu akan menilai bahwa ancaman yang tadinya berada di luar kemampuannya dapat diatasi sehingga individu tidak lagi memandang hal tersebut sebagai ancaman.
Di tempat kerja dukungan sosial ini dapat diperoleh individu dari sahabat. Yang dimaksud dengan sahabat di sini adalah sahabat ditempat kerja. Mengingat pentingya fungsi dukungan sosial dalam mengatasi stres dan salah satu sumber dukungan sosial di tempat kerja adalah sahabat, maka penalitian ini bertujuan untuk melihat persepsi dewasa muda mengenai fungsi sahabat sebagai sumber dukungan sosial dalam menghadapi stres kerja.
Penelitian dilakukan dengan mengumpulkan data melalui skala yang mengukur persepsi dewasa muda mengenai fungsi sahabat sebagai sumber dukungan sosial dalam menghadapi stres kerja. Subyek penelitian adalah dewasa muda dengan pendidikan minimal SLTA dan bekerja purna waktu sekurang-kurangnya selama 6 bulan pada perusahaan swasta. Jumlah keseluruhan subyek adalah 119 orang yang terdiri dari 55 subyek pria dan 64 subyek wanita.
Hasil pengolahan data dengan menggunakan metode statistik deskriptif menunjukkan bahwa dewasa muda mempersepsi sahabat sebagai sumber dukungan sosial dalam menghadapi stres kerja. Dukungan sosial ini dipersepsi diberikan dalam bentuk dukungan emosional, informasional dan penilaian dalam menghadapi stres kerja yang bersumber dari pekerjaan. Sedangkan pada stres kerja yang bersumber dari kehidupan sehari-hari, subyek mempersepsi sahabat memberikan dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional, informasional, penilaian dan instrumental.
Di samping itu uji perbedaan dengan menggunakan teknik t-test diperoleh hasil bahwa pada persahabatan lawan jenis subyek pria dan wanita tidak mempersepsi adanya perbedaan dukungan sosial yang diberikan oleh sahabatnya, namun pada persahabatan sesama jenis subyek wanita mempersepsi sahabatnya lebih tinggi memberikan dukungan emosional dibandingkan dengan persepsi subyek pria terhadap dukungan emosional yang diberikan oleh sahabatnya. Hal ini tampaknya dipengaruhi oleh pola persahabatan yang berbeda antara pria dan wanita dimana persahabatam wanita lebih menekankan pada aspek emosional. Namun pada pesahabatan lawan jenis, perbedaan ini tidak muncul karena baik subyek pria maupun subyek wanita mempersepsi adanya dukungan sosial yang sama diberikan oleh sahabat pria maupun wanita."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 1997
S2760
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>