Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 98834 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andrew Rizky Prabowo
"Presbytis rubicunda merupakan satwa endemik Kalimantan dengan status konservasi vulnerable (VU) pada tahun 2020, yang sebelumnya berada pada status konservasi least concerned (LC) pada tahun 2008. Perubahan status konservasi ini diakibatkan oleh adanya kerusakan habitat alaminya, yaitu hutan gambut. Upaya telah dilakukan untuk menanggulangi atau mencegah kerusakan hutan gambut. Katingan Mentaya Project (KMP) merupakan usaha restorasi dan konservasi ekosistem gambut yang berlokasi di Kalimantan Tengah. KMP berusaha untuk mewujudkan pemulihan fungsi ekologis lahan gambut sebagai habitat alami bagi satwa-satwa salah satunya Ordo Primata. Telah dilakukan penelitian mengenai deteksi keberadaan P. rubicunda di wilayah selatan kawasan restorasi gambut KMP untuk mengetahui lokasi titik-titik perjumpaan dan jumlah P. rubicunda di wilayah tersebut. Penelitian dilakukan dengan metode line transect yang dikombinasi dengan metode-metode lainnya, seperti penggunaan camera trap dan melakukan wawancara dengan beberapa responden. Hasil menunjukkan bahwa terdapat 8 titik dengan frekuensi jumlah individu mencapai 11 individu dengan total effort line transect sejumlah 72.800 m. Selain itu, terdapat hasil deteksi P. rubicunda menggunakan camera trap. Penggunaan camera trap dinilai kurang efektif karena mekanisme pemasangan dan pelepasan camera trap cukup sulit dilakukan dan memiliki banyak risiko kerusakan atau gagal, serta data yang didapatkan sedikit. Wawancara dengan beberapa staff KMP dilakukan untuk membandingkan effort dalam menjumpai P. rubicunda.

Presbytis rubicunda is a Kalimantan endemic animal with a vulnerable conservation status (VU) in 2020, which was previously in the least concerned conservation status (LC) in 2008. This change in conservation status was caused by damage to its natural habitat, namely peat forests. Efforts have been made to mitigate or prevent damage to peat forests. The Katingan Mentaya Project (KMP) is an effort to restore and conserve peat ecosystems located in Central Kalimantan. KMP is trying to realize the restoration of the ecological function of peatlands as a natural habitat for animals, one of them is Order of Primate. Research has been carried out on the detection of P. rubicunda in the southern region of the KMP peat restoration area to determine the location of the encounter points and the number of P. rubicunda in the area. The research was conducted using the line transect method in combination with other methods, such as using camera traps and conducting interviews with several respondents. The results show that there are 8 points with a frequency of up to 11 individuals with a total effort line transect of 72,800 m. In addition, there are results of P. rubicunda detection using camera traps. The use of camera traps is considered ineffective because the mechanism for attaching and removing camera traps is quite difficult to do and has a lot of risk of damage or failure, and less data is obtained. Interviews with several KMP staff were conducted to compare efforts in finding P. rubicunda."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aditya Rachman Rony Putra
"Penelitian ini dilatarbelakangi adanya potensi kerentanan pengawasan importasi barang akibat vitalnya posisi pelabuhan Tanjung Periok pada perdagangan internasional Indonesia. Kerentanan yang timbul membutuhkan evaluasi pengawasan yang dilakukan dari sudut pandang intelijen strategis untuk perbaikan kinerja pengawasan di masa yang akan datang. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menggunakan data dari hasil wawancara terhadap sejumlah narasumber yang terkait dengan aktivitas importasi barang di Pelabuhan Tanjung Priok. Hasil penelitian menunjukan pengawasan yang dilakukan belum sepenuhnya menerapkan pendekatan intelijen strategis pada pengawasan importasi barang. Kendala utama yang menjadi penghalang adalah keterbatasan sumber daya baik faktor manusia dan teknologi pendukungnya. Disamping itu, metode yang digunakan dalam mengelola data intelijen dan kebijakan yang mengatur aktifitas intelijen juga menjadi penghambat kinerja intelijen Bea dan Cukai di Tanjung Priok memaksimalkan tugas dan fungsi Revenue collector, Communicaty protection, Trade facilitator dan Industrial Assistance. Kata Kunci: Kepabeanan, Intelijen Strategis, Revenue collector, Communicaty protection, Trade facilitator, Industrial Assistance.

This research is motivated by the potential vulnerability of monitoring the import of goods due to the vital position of the Tanjung Periok port in Indonesia's international trade. The vulnerabilities that arise require an evaluation of supervision carried out from the perspective of strategic intelligence to improve supervisory performance in the future. Using a qualitative approach, this study uses data from interviews with a number of informants related to the activity of importing goods at the Port of Tanjung Priok. The results of the study show that the supervision carried out has not fully implemented the strategic intelligence approach in controlling the import of goods. The main obstacle that becomes a barrier is the limited resources of both the human factor and its supporting technology. In addition, the methods used in managing intelligence data and policies governing intelligence activities also hinder the performance of Customs and Excise intelligence at Tanjung Priok in maximizing the duties and functions of Revenue collector, Communication protection, Trade facilitator and Industrial Assistance. Keywords: Customs, Strategic Intelligence, Revenue collector, Communication protection, Trade facilitator, Industrial Assistance"
Depok: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Celia Nova Felicity
"Owa kalimantan (Hylobates albibarbis) merupakan spesies owa endemik yang hanya dapat ditemukan di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Populasi H. albibarbis termasuk ke dalam kategori Endangered (terancam) menurut IUCN dan terus mengalami penurunan akibat degradasi dan fragmentasi habitat, perdagangan ilegal dan perburuan liar, serta perubahan iklim. Penelitian mengenai distribusi H. albibarbis telah dilakukan di kawasan restorasi lahan gambut bagian selatan, Katingan Mentaya Project, Kalimantan Tengah. Penelitian bertujuan untuk menghasilkan peta distribusi H. albibarbis dan memperoleh data estimasi jumlah kelompok H. albibarbis yang berada di kawasan tersebut. Pengambilan data dilakukan 5 hari sepekan selama 7 pekan dari bulan Maret hingga Juni 2022. Metode yang digunakan adalah triangulasi (auditory sampling) dan ground survey. Triangulasi dilakukan di 4 lokasi dengan jumlah pengulangan sebanyak 3 kali di setiap lokasi. Selama 12 hari pengambilan sampel suara, tercatat sebanyak 124 suara vokalisasi H. albibarbis. Hasil metode triangulasi menunjukkan bahwa 11 kelompok H. albibarbis terdistribusi di hutan gambut wilayah selatan pada jenis vegetasi hutan rawa gambut campuran. Selama periode penelitian, terjadi perjumpaan langsung dengan H. albibarbis sebanyak 8 kali. Hasil metode ground survey menunjukkan bahwa terdapat 20 spesies pohon pakan dan 10 spesies pohon tidur yang berada di sekitar wilayah distribusi dan titik perjumpaan dengan H. albibarbis. Hasil tersebut menunjukkan bahwa wilayah hutan yang dihuni oleh H. albibarbis masih mampu mendukung pergerakan dan menyediakan sumber daya bagi H. albibarbis, meskipun kebakaran pernah terjadi di bagian hutan tersebut.

The bornean white-bearded gibbon (Hylobates albibarbis) is an endemic species that can only be found in Central Kalimantan and West Kalimantan. The population of H. albibarbis is classified as Endangered (threatened) according to IUCN and continues to decline due to habitat degradation and habitat fragmentation, illegal trade and hunting, and climate change. Research on the distribution of H. albibarbis has been conducted in the southern peatland restoration area, Katingan Mentaya Project, Central Kalimantan. This study was aimed to generate a map of the distribution of H. albibarbis and obtain estimation data for the number of H. albibarbis groups in the area. Data collection was carried out 5 days a week for 7 weeks from March to June 2022. The method used is triangulation (auditory sampling) and ground survey. Triangulation was conducted at 4 locations with a total of 3 times in each location. During 12 days of voice sampling, 124 vocalizations of H. albibarbis were recorded. The results of the triangulation method showed that 11 groups of H. albibarbis were distributed in the southern peat forest on mixed peat swamp forest vegetation types. During the study period, there were 8 direct encounters with H. albibarbis. The results of the ground survey method showed that there were 20 species of feeding trees and 10 species of sleeping trees around the distribution area and the point of encounter with H. albibarbis. These results indicate that the forest area inhabited by H. albibarbis can still support movements and provide resources for H. albibarbis, even though there have been fires in those parts of the forest."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alifia Salsabila
"Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) merupakan Primata endemik Kalimantan Tengah yang memiliki kecerdasan dan keterampilan khususnya dalam membuat sarang sesuai dengan kebutuhan, kenyamanan, dan kondisi habitat. Orangutan tergolong dalam kategori Critically Endangered (CR) berdasarkan kriteria IUCN, karena tingginya ancaman yang menyebabkan populasinya yang terus menurun setiap tahunnya. Sebagian besar penurunan populasi orangutan disebabkan oleh perburuan serta degradasi hutan akibat kebakaran dan perluasan perkebunan kelapa sawit. Salah satu habitat orangutan di Kalimantan berada di hutan Desa Perigi, Mendawai, Katingan, Kalimantan Tengah. Habitat satwa tersebut mengalami isolasi akibat perluasan perkebunan kelapa sawit. Sebelumnya, penelitian mengenai populasi dan karakteristik sarang orangutan di hutan Desa Perigi belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis populasi dan karakteristik sarang orangutan di hutan Desa Perigi untuk mendukung upaya restorasi ekosistem dan meningkatkan harmonisasi antara kelangsungan hidup orangutan dengan masyarakat Desa Perigi. Pengamatan dan pengumpulan data di lapangan dilakukan selama dua pekan dengan menggunakan metode transek garis dan survei aerial pada tiga jalur transek. Karakteristik sarang orangutan yang diamati meliputi kelas ketahanan sarang, tipe posisi dan tinggi sarang, spesies pohon sarang, keliling (cBH) pohon sarang, tinggi pohon sarang, dan tipe kanopi pohon lokasi sarang. Berdasarkan pemetaan sarang, terdapat 83 sarang orangutan dengan estimasi kerapatan sarang menggunakan metode King sebesar 1.197,6 sarang/km2. Nilai tersebut kemudian diolah sehingga didapat estimasi kepadatan populasi orangutan sebesar 4,5 individu/km2. Penelitian ini menemukan beragam karakteristik sarang yang mengindikasikan bahwa preferensi karakteristik sarang tidak hanya dipengaruhi oleh dominansi suatu spesies atau tipe pohon sarang tertentu, melainkan dipengaruhi struktur pohon sarang yang tersedia, ketersediaan pohon pakan, keberadaan satwa lain, dan kondisi habitat tempat orangutan tersebut tinggal. Hasil tersebut menunjukkan bahwa meskipun wilayahnya terisolasi dan mengalami kerusakan akibat kebakaran dan banjir, hutan Desa Perigi jika dikelola dengan baik masih berpotensi untuk menyediakan kebutuhan dan mendukung pergerakan orangutan.

Orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) is an endemic subspecies of great ape in Central Kalimantan. It is classified as Critically Endangered (CR) according to IUCN due to high level of threats leading to decreasing population number. The population decline is caused by hunts and forest degradation due to fires and expansion of oil palm plantations. One of the orangutan habitats in Kalimantan is in the forest of Perigi Village, Mendawai, Katingan, Central Kalimantan. This habitat has increasingly become isolated due to the expansion of oil palm plantations in the nearby areas. The research on the population and nest characteristic of orangutan in Perigi Village forest had never been conducted previously. This research aimed at understanding the population condition especially nest characteristic of the orangutan in Perigi Village forest. This study is expected to contribute in the ecosystem restoration and promote harmony between the life of the orangutan and the people of Perigi Village. Data were collected using aerial survey and line transects method. Orangutan nest characteristics observed and noted included nest resistence class, nest position and height on its tree, species of nest tree, circumference (cBH) and height of nest tree, and canopy type of the nest tree. Based on the nest mapping, there were 83 orangutan nests which then processed using the King’s method to obtain the estimation of nest density is 1.197,6 nests/km2. The nest density value then processed to obtain an estimated orangutan density of 4,5 individuals/km2. Based on the analysis of nest characteristics, there are various nest characteristics which indicate that the nest characteristics are not only influenced by a dominant species or type of nest tree, instead they are influenced by the structure of available nest trees, available feeding trees, the presence of other animals, and the conditions of the Perigi Village forest itself. These results show that even though the area is isolated and damaged by fires and floods, the Perigi Village forest is still has the potential to provide and support the needs of orangutan."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indah Septiyana
"Katingan Mentaya Project (KMP) merupakan habitat bagi beragam flora dan fauna namun beberapa spesies sudah dinyatakan dengan status konservasi terancam punah. Tujuan penelitian ini adalah menginventarisasi keanekaragaman dan menganalisis kelimpahan jenis mamalia berdasarkan tingkat perjumpaan yang terdeteksi camera trap di DAS Mentaya, KMP. Hasil dari 171 unit camera trap dengan trap night effective 14.033 hari di DAS Mentaya ditemukan sebanyak 29 spesies, 18 famili dan 7 ordo dari Kelas Mamalia. Nilai indeks keanekaragaman mamalia (H’) dihitung menggunakan perhitungan Shannon-Weiner dengan nilai sebesar 2,60 atau memiliki keanekaragaman sedang. Satwa dengan tingkat perjumpaan tertinggi adalah bajing kelapa (Callosciurus notatus) dengan total 2,32 foto/100 hari trap night effective (TN), kemudian diikuti oleh pelanduk kanchil (Tragulus kanchil) dengan 1,59 foto/100 hari TN, dan monyet beruk (Macaca nemestrina) dengan 1,19 foto/100 hari TN. Pada penelitian ini nilai kelimpahan diasumsikan sebanding dengan tingkat perjumpaan. Satwa dengan nilai kelimpahan jenis tertinggi adalah bajing kelapa, diikuti oleh pelanduk kanchil, dan monyet beruk.

Katingan Mentaya Project (KMP) is a habitat for variety of flora and fauna but several species have been declared endangered. The purpose of this study was to inventory the diversity and analyze the abundance of mammals based on encounter rates detected by camera traps in the Mentaya Watershed, KMP. The results of 171 camera traps with 14.033 days of effective trap night found 29 species, 18 families and 7 orders from the Mammal Class. The index value of mammalian diversity (H') was calculated using the Shannon-Weiner calculation with a value of 2.60 or had moderate diversity. The animal with the highest encounter rate was the plantain squirrel (Callosciurus notatus) with a total of 2.32 photos/100 days trap night effective (TN), followed by the lesser mouse deer (Tragulus kanchil) with 1.59 photos/100 days TN, and the pig-tailed macaque (Macaca nemestrina) at 1.19 photos/100 days TN. In this study, the abundance value is assumed to be proportional to the encounter rate. The animal with the highest species abundance value was the plantain squirrel, followed by the lesser mouse deer, and the pig-tailed macaque."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dani Nathaniel Pasamboan
"Keberadaan satwa mamalia memiliki peran penting dalam ekosistem hutan, yaitu sebagai penyubur tanah, penyerbuk bunga, dan pemencar biji. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman dan dominansi mamalia yang berada pada lokasi pemasangan camera trap pada DAS Katingan di kawasan restorasi lahan gambut Katingan Mentaya Project, Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilakukan dengan mengolah data camera trap yang terpasang di lokasi pemasangan camera trap di DAS Katingan. Data yang digunakan merupakan data camera trap yang telah dipasang dari tahun 2019—2021 (3 tahun) di lokasi pemasangan camera trap pada DAS Katingan yang terdiri dari Klaru, Bakumin, dan Hantipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis mamalia yang berhasil dideteksi camera trap pada ketiga lokasi pemasangan camera trap adalah sebanyak 43 spesies dari 20 famili dan 7 ordo. Dari 43 spesies tersebut terdapat 6 jenis mamalia yang merupakan satwa endemik Kalimantan, yaitu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus), owa kelawo (Hylobates albibarbis), bekantan kahau (Nasalis larvatus), lutung buhis (Presbytis rubicunda), kijang kuning (Muntiacus atherodes), dan sukau pukang (Exilisciurus exilis). Nilai Indeks Keanekaragaman Shannon-Weiner (H’) pada DAS Katingan adalah 2,82 sehingga dikategorikan kenanekaragaman sedang, nilai Indeks Kemerataan Simpson (E) 0,75 sehingga dikategorikan kemerataan populasi tinggi, nilai Indeks Dominansi Simpson (D) 0,08 sehingga tidak ada spesies yang mendominansi. Lima jenis mamalia dengan nilai kelimpahan jenis dan encounter rate (ER) tertinggi secara urutan adalah babi nangui (Sus barbatus), monyet beruk (Macaca nemestrina), bajing kelapa (Callosciurus notatus), beruang madu (Helarctos malayanus), dan tupai akar (Tupaia glis).

The existence of mammals has an important role in forest ecosystems, namely as soil fertilizer, flower pollinator, and seed spreader. The purpose of this study is to analyze the diversity and dominance of mammal at the camera trap installation location in Katingan Watershed in the peatland restoration area of ​ Katingan Mentaya Project, Central Kalimantan. This research was conducted by processing camera trap data at the camera trap installation location in the Katingan Watershed. The camera trap data used in this study is camera trap data that has been installed from 2019-2021 (3 years) at the camera trap installation location in the Katingan Watershed which consists of Klaru, Bakumin, and Hantipan. The results showed that the number of mammal species detected by the camera trap at the three camera trap installation location is 43 species from 20 families and 7 orders. From 43 species, there are 6 types of mammals which are endemic to Kalimantan, namely borneo orangutan (Pongo pygmaeus), white bearded gibbon (Hylobates albibarbis), proboscis monkey (Nasalis larvatus), maroon leaf monkey (Presbytis rubicunda), bornean yellow muntjac (Muntiacus atherodes), and plain pygmy squirell (Exilisciurus exilis). The Shannon-Weiner Species Diversity Index (H') value in the Katingan Watershed is 2.82 so it is categorized as moderate diversity, Evenness Index (E) value is 0.75 so it is categorized as high population evenness, Dominance Index (D) value is 0.08 so there is no dominating species. The five species of mammals with the highest Species Abundance and Encounter Rate (ER) values ​​in order are the banded pig (Sus barbatus), pig-tailed macaque (Macaca nemestrina), plantain squirell (Callosciurus notatus), sun bear (Helarctos malayanus), and common treeshrew (Tupaia glis)."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dumilah Ayuningtyas
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2023
PGB-pdf
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Domingus Elcid Li
"The analytical view exploers in this paper represent the perspective of subsistent farmers in NTT Province when integrated with market
economy. It tries to explain why the subsistent community are so vulnerable to become migrant workers and uprooted from their land; it
is also attempt to investigate the relation between economic policy on free labour market with death and torture received by migrant workers. While the victims, especially women and children, are publicized and attracted attention from mass media and also social media. However,
the publication over the suffering of migrant workers from the margin of Indonesia such as NTT Province, does not get direct impact over the policy makers with the willingness to renew regulation to protect migrant workers. This paper focuses on investigating why the poor migrant women and children are being neglected by policy makers under the neoliberal order. It also tries to explain why the subsistent members are easily uprooted from their land and become migrant
workers during modernization. It also tries to answer why the are often in position as the losers or victims during globalization. The
hope that the State is able to protect the vulnerables is fading away under the domination of pro market policy. Children and women as the
silent victims are the evidence of absolute surrender of the subsistent community. State incapacity to protect the most vulnerable citizens is the evidence of the coming of new wave of neocolonialism. This is also a proof the modernization is also part of conquering when halfhearted modernization has placed them at the bottom of the pyramid of modernity which is vulnerable to be exploited without the ability to
speak and to be listened."
Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 2020
305 JP 23:2 (2020)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Salaki, Larissa Deviani
"ABSTRAK
Studi ini menyediakan analisis awal mengenai komunikasi vokal pada kelasi
(Presbytis rubicunda). Bagian pertama dari studi ini mengidentifikasi dan
mendeskripsikan repertoar vokal yang dimiliki oleh kelasi beserta konteks
penggunaan dan struktur akustiknya. Bagian kedua menganalisis fungsi dari salah
satu jenis vokalisasi pada kelasi, yaitu loud call, dengan mengidentifikasi variasi
akustik pada loud call antarkonteks dan antarindividu. Sebanyak 574 rekaman
vokal dari 3 kelompok kelasi di Laboratorium Alam Hutan Gambut, Sabangau,
Kalimantan Tengah digunakan dalam analisis. Analisis dilakukan secara akustik
dan secara statistik menggunakan statistik deskriptif dan fungsi diskriminan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa repertoar vokal kelasi terdiri dari setidaknya
10 jenis vokalisasi yang dapat dibedakan berdasarkan struktur akustiknya (p <
0,05). Kelasi betina dewasa memiliki jenis vokalisasi terbanyak (5 jenis), diikuti
oleh bayi (4 jenis), dan jantan dewasa (2 jenis). Kelasi menggunakan repertoar
vokal tersebut dalam berbagai macam konteks yang digunakan untuk
berkomunikasi ke luar kelompok (saat bertemu kelompok kelasi lain, melihat
predator atau manusia) atau dengan sesama anggota kelompok (berpindah, makan,
dan interaksi antara ibu dan bayi). Hasil analisis fungsi diskriminan juga
menunjukkan bahwa loud call kelasi memiliki variasi akustik yang signifikan (p <
0,05) antarindividu maupun antarkonteks yang memungkinkan pendengarnya
untuk mengetahui identitas kelasi pemanggil dan konteks dari panggilan tersebut

ABSTRACT
This study provides a preliminary analysis on maroon langurs? (Presbytis
rubicunda) vocal communication. The first section of this study identified maroon
langurs? vocal repertoire as well as its associated contexts and acoustic structure.
This second section analyzed the function of maroon langurs? loud call by
identifying variations in its acoustic feature between contexts and individuals. A
total of 574 recordings from 3 maroon langur groups in Sabangau Natural
Laboratory of Peat Swamp Forest, Central Kalimantan were used in this study.
Analyses were performed acoustically and statistically using descriptive statistics
and discriminant function analysis. Our analyses showed that maroon langurs?
vocal repertoire consisted of at least 10 types of vocalization that can be
discriminated by its acoustic structure (p < 0.05). Adult females had the largest
repertoire (5 types), followed by infants (4 types), and adult males (2 types).
Maroon langurs used vocalizations in various contexts to facilitate extragroup
communication (such as group encounter, presence of predator or human) or
intragroup communication (traveling, feeding, and mother-infant interaction).
Discriminant function analysis also showed that maroon langurs? loud calls
possessed significant acoustic variation (p < 0.05) between individuals and
contexts, which may inform the receivers about the identity of the caller and the
context of the call."
2016
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Salaki, Larissa Deviani
"ABSTRAK
Studi ini menyediakan analisis awal mengenai komunikasi vokal pada kelasi
(Presbytis rubicunda). Bagian pertama dari studi ini mengidentifikasi dan
mendeskripsikan repertoar vokal yang dimiliki oleh kelasi beserta konteks
penggunaan dan struktur akustiknya. Bagian kedua menganalisis fungsi dari salah
satu jenis vokalisasi pada kelasi, yaitu loud call, dengan mengidentifikasi variasi
akustik pada loud call antarkonteks dan antarindividu. Sebanyak 574 rekaman
vokal dari 3 kelompok kelasi di Laboratorium Alam Hutan Gambut, Sabangau,
Kalimantan Tengah digunakan dalam analisis. Analisis dilakukan secara akustik
dan secara statistik menggunakan statistik deskriptif dan fungsi diskriminan.
Hasil analisis menunjukkan bahwa repertoar vokal kelasi terdiri dari setidaknya
10 jenis vokalisasi yang dapat dibedakan berdasarkan struktur akustiknya (p <
0,05). Kelasi betina dewasa memiliki jenis vokalisasi terbanyak (5 jenis), diikuti
oleh bayi (4 jenis), dan jantan dewasa (2 jenis). Kelasi menggunakan repertoar
vokal tersebut dalam berbagai macam konteks yang digunakan untuk
berkomunikasi ke luar kelompok (saat bertemu kelompok kelasi lain, melihat
predator atau manusia) atau dengan sesama anggota kelompok (berpindah, makan,
dan interaksi antara ibu dan bayi). Hasil analisis fungsi diskriminan juga
menunjukkan bahwa loud call kelasi memiliki variasi akustik yang signifikan (p <
0,05) antarindividu maupun antarkonteks yang memungkinkan pendengarnya
untuk mengetahui identitas kelasi pemanggil dan konteks dari panggilan tersebut.

ABSTRACT
This study provides a preliminary analysis on maroon langurs? (Presbytis
rubicunda) vocal communication. The first section of this study identified maroon
langurs? vocal repertoire as well as its associated contexts and acoustic structure.
This second section analyzed the function of maroon langurs? loud call by
identifying variations in its acoustic feature between contexts and individuals. A
total of 574 recordings from 3 maroon langur groups in Sabangau Natural
Laboratory of Peat Swamp Forest, Central Kalimantan were used in this study.
Analyses were performed acoustically and statistically using descriptive statistics
and discriminant function analysis. Our analyses showed that maroon langurs?
vocal repertoire consisted of at least 10 types of vocalization that can be
discriminated by its acoustic structure (p < 0.05). Adult females had the largest
repertoire (5 types), followed by infants (4 types), and adult males (2 types).
Maroon langurs used vocalizations in various contexts to facilitate extragroup
communication (such as group encounter, presence of predator or human) or
intragroup communication (traveling, feeding, and mother-infant interaction).
Discriminant function analysis also showed that maroon langurs? loud calls
possessed significant acoustic variation (p < 0.05) between individuals and
contexts, which may inform the receivers about the identity of the caller and the
context of the call."
2016
T47173
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>