Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 148735 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rienna Diansari
"Latar Belakang: Menurut Global and Regional Burden of Aortic Dissection and Aneurysm, laju kematian akibat patologi aorta torakalis di negara berkembang lebih tinggi dibandingkan negara maju, dengan median pertambahan percepatan +0,71 per 100.000 vs +0,22 per 100.000 pada tahun 1990 dibandingkan 2010. Asia Tenggara merupakan salah satu negara dengan penambahan laju kematian tertinggi yaitu 41%. Di Indonesia, pasien datang dalam kondisi penyakit lanjut karena keterlambatan diagnosis dan manajemen dan hal ini menjadikan pasien berada pada kondisi patologi aorta yang kompleks. Kondisi patologi aorta yang kompleks tentunya membutuhkan tindakan bedah aorta yang kompleks pula. Sejauh ini belum terdapat studi yang secara khusus meneliti luaran klinis bedah aorta torakalis kompleks dibandingkan dengan non-kompleks, terutama pada populasi di negara berkembang.
Tujuan: Mengetahui hubungan kompleksitas pembedahan dengan mortalitas in-hospital dan kesintasan jangka menengah pasca bedah aorta torakalis serta faktor lain yang berhubungan.
Metode: Studi kohort retrospektif ini menggunakan data sekunder. Dilakukan pengambilan data dasar melalui rekam medis dan registri terhadap pasien pasca bedah aorta torakalis (1 Januari 2018 – 31 Desember 2021) di PJNHK. Analisa kesintasan 1 dan 3 tahun dilakukan dengan follow up melalui telepon dan pesan digital. Kemudian dilakukan analisa statistik untuk mencari hubungan antara kompleksitas pembedahan sebagai prediktor utama serta variabel lainnya dengan luaran primer (mortalitas in-hospital) dan sekunder (kesintasan jangka menengah).
Hasil: Total 208 pasien diinklusikan ke dalam analisis luaran primer; 157 (75,5%) menjalani bedah aorta torakalis kompleks dan 51 (24,5%) menjalani bedah aorta torakalis non-kompleks. Mortalitas in-hospital serupa pada kedua kelompok (23,6% vs 13,7%; p = 0,194). Pada analisa multivariat, sindrom malperfusi (OR 3,560; p = 0,002), durasi CPB > 180 menit (OR 4,331; p = 0,001), dan prioritas pembedahan (urgent OR 4,196; p = 0,003; emergency OR 10,879; p = 0,001) adalah prediktor independen mortalitas in-hospital. Follow-up kesintasan 1 dan 3 tahun pasca bedah aorta torakalis adalah 92,6% dan 80,3%, secara berurutan. Regresi Cox mengidentifikasi diabetes (HR 4,539; p = 0,025) dan status prosedur emergensi (HR 9,561; p = 0,015) sebagai prediktor independen mortalitas 1 tahun, dan diabetes (HR 3,609; p = 0,004), diseksi aorta (HR 2,795; p = 0,029) dan diameter aorta maksimum (HR 1,034; p = 0,003) sebagai prediktor independen mortalitas 3 tahun. Kompleksitas pembedahan tidak berhubungan dengan peningkatan mortalitas in-hospital maupun kesintasan jangka menengah.
Kesimpulan: Pada pasien yang menjalani tindakan bedah aorta torakalis terbuka, kompleksitas pembedahan tidak berhubungan dengan mortalitas in-hospital maupun kesintasan jangka menengah. Kesintasan jangka pendek dan menengah lebih banyak dipengaruhi faktor komorbid maupun faktor durante pembedahan

Background: According to Global and Regional Burden of Aortic Dissection and Aneurysm, a prominent increase of overall global death rate is seen on developing country compared to developed country, with relative change in median daeath rate of +0,71 per 100.000 vs +0,22 per 100.000 in 1990 vs 2010. South-east Asia is nation with highest increase of 41%. This is due to delayed in diagnosis and treatment and leads to late stage and complex aortic disease. The more complex the disease, the more complex the surgical procedure will be. Up until now, there is no data regarding the impact of surgical complexity on short and mid-term survival in patients underwent aortic surgery, especially in developing country.
Objectives: This study aimed to investigate the impact of surgical complexity on short and mid-term mortality and other influencing factors.
Methods: This retrospective cohort study used secondary data. Basic data was obtained through medical record and registry of patients underwent thoracic aortic surgery (January 1st, 2018 to December 31st, 2021) in National Cardiovascular Center Harapan Kita (NCCHK). One-year and 3-year survival analysis was obtained through phone calls and digital messages. Statistical analysis was done to investigate the impact of surgical complexity as the main predictor and other variables on primary (in-hospital mortality) and secondary (mid-term survival) outcome.
Results: A total of 208 patients were included in the analysis; 157 (75,5%) underwent complex surgery, and 51 (24,5%) underwent non-complex surgery. In-hospital mortality was similar actoss 2 groups (23,6% vs 13,7%; p = 0,1240). On multivariable analysis, malperfusion syndrome (OR 3,560; p = 0,002), CPB duration > 180 minutes (OR 4,331; p = 0,001), and surgical priority (urgent OR 4,196; p = 0,003; emergency OR 10,879; p = 0,001) were identified as independent predictor of in-hospital mortality. One and 3-year survival were 92,6% and 80,3%, respectively. Cox regression identified diabetes (HR 4,539; p = 0,025) and emergency procedure (HR 9,561; p = 0,015) as independent predictors for 1-year mortality, and diabetes (HR 3,609; p = 0,004), aortic dissection (HR 2,795; p = 0,029), and maximum aortic diameter (HR 1,034; p = 0,003) for 3-year mortality. Surgical complexity was not associated with early and mid-term mortality.
Conclusions: In patients undergoing thoracic aortic surgery, surgical complexity was not associated with early and mid-term survival. Short and mid-term survival was largely determined by patient comorbidities and intra-surgery factors.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lubis, Andika Rizki
"Latar belakang: Waktu yang tepat untuk pembedahan katup aorta masihmerupakan tantangan saat ini. Pasien sering datang dengan kondisi lanjut denganperubahan geometri ventrikel kiri sebagai mekanisme kompensasi terhadappeningkatan beban tekanan dan volume berkepanjangan yang akan mempengaruhiluaran klinis pascabedah.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiapakah terdapat pengaruh karakter ventrikel kiri meliputi ukuran dimensi ventrikelkiri EDD, ESD, FEVKi, indeks massa ventrikel kiri LVMI terhadapmorbiditas dan mortalitas di rumah sakit pascabedah katup aorta pada pasiendengan regurgitasi aorta kronik serta luaran klinis jangka menengah.
Metode: 168 pasien dengan regurgitasi aorta kronik yang menjalani pembedahankatup aorta terseleksi sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, pascapembedahandilakukan follow-up terhadap luaran klinis morbiditas dan mortalitas di rumahsakit, kemudian diikuti 1 tahun hingga 5 tahun setelah operasi, morbiditas danmortalitas dievaluasi,
Hasil: Tidak terdapat perbedaan bermakna pada tiap tiapparameter ventrikel kiri EDD, ESD, FEVKi, LVMI terhadap morbiditas danmortalitas saat di rumah sakit p>0,05, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhimorbiditas intrahospital yaitu laju filtrasi ginjal p< 0,001 dan usia p=0,001 ,riwayat Penyakit Jantung Koroner PJK, riwayat PPOK dan riwayat stroke, sedangkan morbiditas jangka menengah dipengaruhi oleh kejadian aritmia pascapembedahan p=0,009, terdapat perbaikan pada NYHA functional class.Mortalitas di rumah sakit dipengaruhi oleh usia p=0,001 dan laju filtrasi ginjal p

Background: The optimal timing of aortic valve replacement is still challenging.The patients often come to hospital in end stage clinical performance withalteration in left ventricular LV geometry due to compensatory mechanism tovolume and pressure overload in long term period.
Objective: This study soughtto determine the effect of left ventricular characters diameter of the left ventricle,end diastolic diameter EDD, end systolic diameter ESD, left ventricularejection fraction LVEF, left ventricular mass index LVMI to in hospitalmorbidity and mortality following aortic valve replacement in patients withchronic aortic regurgitation and postoperative mid term outcome.
Methods: 168 patients with chronic aortic regurgitation underwent aortic valve replacementselected according to inclusion and exclusion criteria. Outcomes morbidity andmortality were observed during hospitalization and 1 year until 5 years aftersurgery. Mid term outcomes consisted of NYHA functional class, rehospitalizationand redo operation.
Results: There was no significant difference to in hospitalmorbidity and mortality for each of left ventricular characters p 0,05. Other factors which influenced in hospital morbidity were glomerularfiltration rate p
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2017
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Alfin Ridha Ramadhan
"Regurgitasi Aorta (RA) merupakan penyakit jantung katup terbanyak ketiga setelah stenosis aorta dan regurgitasi mitral dengan prevalensi sebesar 0.5% dari total populasi global. Berbagai faktor prediktor mortalitas dan kesintasan pada pasien RA telah banyak dipelajari diberbagai negara. Akan tetapi, studi yang mempelajari mengenai faktor prognostik terhadap kesintasan paska PKA pada pasien RA berat belum pernah dilakukan di Indonesia. Studi ini merupakan penelitian prognostik eksploratif dengan pendekatan kohort retroprospektif melibatkan 964 pasien dengan RA Berat yang berobat di RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita sejak Januari 2016 sampai Desember 2022. Dilakukan pengambilan data klinis, data ekokardiografi transtorakal, data prosedur pembedahan. Luaran primer adalah angka kesintasan dan angka mortalitas. Sebanyak total 383 pasien berhasil dilakukan analisis akhir. Sebagian besar subjek laki-laki (73,1%) dengan median usia 44 tahun (15-81). Prediktor bermakna terhadap angka kesintasan dan mortalitas pasien RA berat adalah penyakit ginjal kronis (OR 1,81, 95% CI 1,11-2,96; p<0,017), DASVKi ≥48,2 mm (OR 1,54, 95% CI 0,94-2,52;p<0,087), IMVK ≥173,5 g/m2 (OR 2,22, 95% CI 1,14-4,33;p<0,019), IVAK >34 mm/m2 (OR 2,38, 95% CI 1,18-4,79;p<0,015), Tanpa PKA (OR 4,33, 95% CI 2,68-7,00;p<0,001). Variabel Tanpa PKA merupakan prediktor angka kematian bermakna paling tinggi dengan peningkatan risiko kematian sebesar 4,33 kali (95% IK 2,688-7,00), p<0,001. Penyakit Ginjal Kronis, DASVKi ≥48,2 mm, IMVK ≥173,5 g/m2 IVAK >34 mm/m2 dan Tanpa PKA merupakan prediktor mortalitas bermakna pada pasien RA berat. Penyakit Ginjal Kronis merupakan prediktor kematian bermakna dari faktor klinis, ukuran DASVKi, IVMK, dan IVAK merupakan prediktor kematian bermakna dari faktor ekokardiografi serta Tanpa PKA merupakan prediktor kematian bermakna dari faktor prosedur bedah. Tanpa PKA merupakan prediktor angka kematian bermakna paling tinggi dengan peningkatan risiko kematian sebesar 4,33 kali.

Aortic Regurgitation (AR) is the third most common valvular heart disease after aortic stenosis and mitral regurgitation, with a prevalence of 0.5% of the global population. Various predictors of mortality and survival in AR patients have been extensively studied in different countries. However, studies focusing on prognostic factors for survival post-AVR in severe AR patients have not been conducted in Indonesia. To investigate clinical, echocardiographic, and AVR procedure predictors of survival in patients with severe AR. Methods: This is an exploratory prognostic study with a retrospective cohort approach involving 964 patients with severe Aortic Regurgitation treated at the National Heart Center Harapan Kita from January 2016 to December 2022. Data collection included clinical data, transthoracic echocardiographic data, and surgical procedure data. Primary outcomes analyzed were survival and mortality rates assessed over >1 year. A total of 383 patients were included in the final analysis. The majority of subjects were male (73.1%) with a median age of 44 years (15-81). Significant predictors of survival and mortality rates in severe RA patients are chronic kidney disease (OR 1.81, 95% CI 1.11-2.96; p < 0.017), LVESD ≥ 48.2 mm (OR 1.54, 95% CI 0.94-2.52; p < 0.087), LVMI ≥ 173.5 g/m2 (OR 2.22, 95% CI 1.14-4.33; p < 0.019), LAVI > 34 mm/m2 (OR 2.38, 95% CI 1.18-4.79; p < 0.015), and No AVR (OR 4.33, 95% CI 2.68-7.00; p < 0.001). The No AVR variable exhibits the highest significant mortality prediction with OR 4,33, 95% CI 2.688-7.00 and p < 0.001. Chronic kidney disease, LVESD ≥ 48.2 mm, LVMI ≥ 173.5 g/m2, LAVI > 34 mm/m2, and No AVR are significant mortality predictors in severe RA patients. Chronic kidney disease is a predictor of significant mortality among clinical factors, while LVEDS, LVMI, and LAVI are predictors among echocardiographic factors, and No AVR is a predictor of procedural factors. No AVR represents the highest significant mortality predictor with a 4.33-fold increased risk of death."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Dhany Nugraha Ramdhany
"Sistem urinari hewan dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu sistem urinari bagian atas dan sistem urinari bagian bawah. Ginjal yang merupakan bagian dari sistem urinari memiliki 2 fungsi penting, yaitu filtrasi dan reabsorpsi. Dalam mendiagnosis penyakit yang diderita hewan pada sistem urinarinya terdapat beberapa kendala. Pada penelitian ini, dikembangkan model untuk mendiagnosis gangguan sistem urinari pada anjing dan kucing dengan menggunakan algoritma VFI 5 berdasarkan gejala klinis (terdapat 37 feature) dan pemeriksaan laboratorium (39 feature). Percobaan dilakukan baik pada feature gejala klinis dan juga pada feature pemeriksaan laboratorium. Hasil pengamatan yang dilakukan menunjukkan bahwa akurasi rata-rata sebesar 77,38% untuk percobaan dengan feature gejala klinis, dan 86,31% untuk percobaan dengan feature pemeriksaan laboratorium. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa dalam mendiagnosis penyakit dalam sistem urinari, pemeriksaan laboratorium masih sangat dibutuhkan dalam menentukan hasil diagnosis suatu penyakit."
[Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, IPB. Departemen Ilmu Komputer], 2009
PDF
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Mitari Nuzullita
"Latar belakang: Kanker ovarium merupakan jenis kanker ke-3 yang paling sering dialami oleh wanita di Indonesia. Diagnosis yang terlambat berperan besar dalam tingginya angka mortalitas. Metode skrining cepat kanker ovarium semakin penting untuk diteliti, dengan beragam biomarker penanda kanker seperti CA-125, HE4, dan FOLR1 yang menawarkan indeks diagnostik dan kemudahan prosedur yang menjanjikan.
Metode: Studi deskriptif desain potong lintang ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta pada Januari 2022 hingga Januari 2023. Kadar serum CA-125, HE4, dan FOLR1 dianalisis dari 48 subjek yang terbagi dalam kelompok tumor ovarium ganas dan jinak. Diagnosis pasti tumor merujuk hasil pemeriksaan histopatologis dan pencitraan. Data demografis pasien seperti usia, status menopause, ukuran tumor, hingga hasil analisis sitologi cairan asites dikumpulkan.
Hasil: Hasil analisis demografis menunjukkan kecenderungan subjek menopause untuk memiliki tumor ovarium non-maligna (57,6% vs. 26,7%; p < 0,05), dan subjek dengan cairan asites ganas cenderung memiliki tumor ovaium maligna (3,0% vs. 40,0%; p < 0,05). Kadar ketiga biomarker serum meningkat pada kelompok tumor maligna, namun hanya HE4 (median 12,43 vs. 42,03; p < 0,05) yang memiliki perbedaan bermakna (CA-125 median 102,50 vs. 461,85; p = 0,062; FOLR1 median 0,070 vs. 0,172; p=0,213). Area under the curve (AUC) pada hasil analisis kurva receiver operating characteristic (ROC) menunjukkan hasil 0,630, 0,747, dan 0,794 secara berturut-turut untuk biomarker FOLR1, Ca125, dan HE4, dengan analisis beda proporsi signifikan pada titik potong 0,1165 ng/mL (Se 66,7%, Sp 60,6%), 208,00 U/mL (Se 73,3%, Sp 84,8%), dan 19,66 pg/mL (Se 86,7%, Sp 60,6%). Analisis kombinasi biomarker menunjukkan peningkatan sensitifitas namun penurunan spesifisitas.
Kesimpulan: Kadar serum ketiga biomarker memiliki kemampuan yang baik sebagai prediktor keganasan tumor ovarium maligna. Pada populasi penelitian, HE4 secara tunggal memiliki indeks diagnostik terbaik, dan kombinasi biomarker tidak memberikan peningkatan kemampuan diagnostik.

Background : Ovarian cancer is the third most common cancer in women in Indonesia. Late diagnosis significantly contributes to high mortality rates. Rapid screening methods for ovarian cancer are increasingly important, with biomarkers such as CA-125, HE4, and FOLR1 offering promising diagnostic indices and procedural ease.
Methods: This cross-sectional descriptive study was conducted at Dr. Cipto Mangunkusumo National Central General Hospital, Jakarta from January 2022 to January 2023. Serum levels of CA-125, HE4, and FOLR1 were analyzed in 48 subjects divided into malignant and benign ovarian tumor groups. Tumor type diagnosis was based on histopathological examination and imaging. Patient demographic data including age, menopausal status, tumor size, and cytology analysis of ascitic fluid were collected.
Results: Demographic analysis showed tendencies of menopausal subjects to have non-malignant ovarian tumors (57.6% vs. 26.7%; p < 0.05), and subjects with malignant ascitic fluid were more likely to have malignant ovarian tumors (3.0% vs. 40.0%; p < 0.05). Serum levels of all three biomarkers were higher in the malignant group, but only HE4 (median 12.43 vs. 42.03; p < 0.05) showed significant differences (CA-125 median 102.50 vs. 461.85; p = 0.062; FOLR1 median 0.070 vs. 0.172; p = 0.213). The area under the curve (AUC) for the receiver operating characteristic (ROC) curve analysis showed 0.630, 0.747, and 0.794 for FOLR1, CA-125, and HE4, respectively. Significant cut-off points were 0.1165 ng/mL (Se 66.7%, Sp 60.6%), 208.00 U/mL (Se 73.3%, Sp 84.8%), and 19.66 pg/mL (Se 86.7%, Sp 60.6%). Biomarker combination analysis increased sensitivity but decreased specificity.
Conclusion: Serum levels of the three biomarkers are good predictors of malignancy in ovarian tumors. In this study population, HE4 alone had the best diagnostic index, and combining biomarkers did not enhance diagnostic capability.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Isman Firdaus
"

Kebutuhan akan dukungan sirkulasi mekaniksecara diniuntuk meningkatkan perfusi organ harus dipertimbangkandalam manajemen pasien pasca henti jantungPompa Balon Intra-Aorta (PBIA)merupakan alat bantu sirkulasi mekanik yang paling mudah dipakai dan tersedia di negara berkembang seperti Indonesia.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas insersi diniPBIA terhadap mortalitas pasien pasca henti jantungkarena sindrom koroner akut (SKA).

Penelitian uji klinis yang melibatkan 60 pasieninidilakukan pada pasca henti jantung karena SKA di dilakukan RSJPDHKperiodeOktober 2017Desember 2018K.Kriteria inklusi adalah semua pasien pasca henti jantung karena sindrom koroner akut, berusia 1875 tahun.Kriteria eksklusi adalah terdapat riwayat strokeberdasarkan anamnesis, pupil anisokor, sudah menggunakan PBIA sebelumnya, regurgitasi aorta, sindrom brugada dan congenital long QT.Pasien dirandomisasi menjadi kelompok pelakuan dan kontrol.Pasien dibagi menjadi dua kelompok yaitu perlakuan (n= 30) dan kontrol (n =30). Kelompok perlakuan diberikan intervensi insersi PBIA sedini mungkin dalam 3 jam pertama setelah sirkulasi spontan kembali.Pemeriksaan kadar interleukin-6, bersihan laktat efektif (BLE)beklin-1, kaspase-3, curah jantung (CJ), VTI, TAPSE, fraksi ejeksi (FE), a-vO2 diff, dan ScvO2 dilakukan di jam ke-0 dan jam ke-6 pasca kembali sirkulasi spontan.Luaran primer yang dinilai adalah mortalitas rumah sakit.,Luaransekunder yang dinilai adalahperbaikan hemodinamik, dan marka apoptosisdan kemampuanprediksi beklin-1, kaspase-3, interleukin-6 dan laktat jam ke-0 terhadap kematian. Analisisregresi cox dilakukan untuk menilai kesintasan pasien di RSdengan prinsip intention-to treat.

Sebanyak 60 pasien pasca henti jantung karena SKA, 30 di kelompok perlakuan dan 30 di kelompok kontroldiikutsertakan dalam penelitian ini.Mortalitas pada kelompok perlakuan adalah 18 (60%) pasien, sedangkan pada kelompok kontrol adalah 17 (56,67%) pasien.  ([p=0,793; hazard ratio 1,29; [IK] 95% 0,662,52). Tidak terdapat perbedaan kadar IL-6, BLE, beclinbeklin-1, caspasekaspase-3, curah jantung (CJ), VTI, TAPSE, fraksi ejeksi (FE), a-vOdiff, dan ScvO2di jam ke-6 pasca SSK antara dua kelompok.Laktat, IL-6dan kaspase-3 dapat memprediksi mortalitas pasien pasca henti jantung karena SKA, sedangkan Beklin-1 tidak dapat memprediksi kematian.

Simpulan:Pemasangan PBIA dini tidakmemperbaiki mortalitas pasien SKA pasca henti jantung.Laktat, IL-6, dan kaspase-3 dapat memprediksi mortalitas pasien pasca henti jantung karena SKA.


The need formechanical circulatory support to improve organ perfusion may be considered inthemanagement of post cardiac arrest syndrome patients. Intra-Aortic Balloon Pump (IABP) is the most available and convenient used mechanical circulation aid especially in developing countries such as Indonesia.1This study aimed to find out whether early insertion of IABP can reduce in-hospital mortality, length of stay and death markers of cardiac arrest complicating acute myocardial infarction.

A randomized trial conducted in National Cardiovascular Center Harapan Kita (NCCHK) Hospital from October 2017–December 2018. Inclusion criteria were all post cardiac arrest due to acute coronary syndrome (ACS) patients aged 18–75 years. Exclusion criteria were history of stroke, anisocoric pupil, previous IABP use, aortic regurgitation, brugada syndrome, and congenital long QT syndrome.The intevention group was given IABP inserted as early as possible in the first 3 hours after spontaneous circulation returned.  Patients were randomized into two groups, intervention and controls. Assessment of interleukin-6, lactate clearence, beclinbeclin-1, caspasecaspase-3, cardiac output, VTI, TAPSE, ejection fraction (EF), a-vO2 Diff, and ScvO2 was done in first hour and 6 hours afterreturn of spontaneous circulation (ROSC). Primary outcome was in-hospital mortality. Secondary outcome was improved hemodynamics, apoptotic markers, and predictive ability of beclin-1, caspase-3, IL-6 and lactate in first hour after ROSC to mortality. Cox regression analysis was performed to assess in-hospital survival with the intention-to-treat principle.

A total of 60 post cardiac arrest due to ACS patients, 30 in intervention group and 30 controls included in this study. In hospital mortality of intervention group vs control was 18 (60%) vs.17 (56.67%) respectively ([p=0.793; hazard ratio 1.29; [CI] 95% 0,662.52). There’s no difference in IL-6, lactate clearence, beclinbeclin-1, caspasecaspase-3, cardiac output, VTI, TAPSE, ejection fraction (EF), a-vO2Diff, and ScvO2in 6 hours after ROSC between two groups. Lactate, IL-6, and caspase-3 predicts mortality of post cardiac arrest due to ACS patients while beclin-1 does not.

Conclusion:Early insertion of IABP is not improvemortality outcome of post cardiac arrest complicating acute myocardial infarctionpatients. Lactate, IL-6, and caspase-3 predicts mortality of post cardiac arrest due to ACS patients.

"
2019
D-Pdf
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Septi Kurniasih
"Kecelakaan akibat kendaraan bermotor meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah kendaraan bermotor di wilayah perkotaan. Fraktur ektremitas bawah sering menjadi akibat dari berbagai jenis kecelakaan bermotor. Karya tulis ilmiah penganalisis asuhan keperawatan kepada pasien dengan fraktur tibia. Klien dengan fraktur tibia mengalami 3 masalah keperawatan utama yaitu: nyeri, hambatan mobilitas fisik, dan cemas. Intervensi diberikan antara lain manajemen nyeri, latihan rentang pergerakan sendi (RPS) dan pendidikan kesehatan. Setelah dilakukan intervensi, klien dapat mengontrol nyeri yang dirasakan, mengalami peningkatan Luas Gerak Sendi (LGS) dari 27o menjadi 35o dan cemas berkurang. Dari hasil ini karya tulis ini, penulis menyarankan pada instansi rumah sakit untuk melakukan asuhan keperawatan yang mencegah terjadinya komplikasi pada fraktur.

Accidents because of motor vehicle increases with the increasing number of motor vehicles in urban areas. Lower extremity fractures are often the result of different types of motor accidents. This scientific papers analyze nursing care to patients with fractures of the tibia. Clients with tibia fractures had 3 major nursing diagnoses are: pain, impaired physica mobility, and anxiety. Interventions provided include pain management, joint range of motion exercises (ROM) and health education. After the intervention, the client can control the pain, increase joint motion area from 27o to 35o and reduced anxiety. From these results of this paper, the authors recommend the hospital authorities to conduct nursing care to prevent the occurrence of complications in fractures.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Arini Purwono
"Latar Belakang: Efusi pleura ganas menunjukkan prognosis yang buruk sehingga sitologi cairan pleura berperan penting dalam mempersingkat waktu diagnosis. Teknik barbotage diketahui bermanfaat dalam meningkatkan nilai diagnostik sitologi pada karsinoma urotelial, namun belum diketahui perannya pada keganasan rongga toraks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan deteksi sel ganas dan hitung jumlah sel tumor antara pungsi pleura konvensional dan dengan teknik barbotage pada keganasan rongga toraks.
Metode: Penelitian ini merupakan uji kesesuaian dengan desain potong lintang yang dilakukan di IGD, poli intervensi paru dan ruang rawat inap RSUP Persahabatan pada bulan November 2022 – Juni 2023. Subjek penelitian adalah pasien keganasan rongga toraks dengan EPG yang dipilih sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Sitologi cairan pleura diperiksa menggunakan pewarnaan Papanicolaou dan Giemsa dari sampel pungsi pleura konvensional dan barbotage pada subjek yang sama. Data karakteristik klinis, radiologis, laboratorium dan histopatologis diambil dari rekam medis.
Hasil: Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 34 dari 84 subjek EPG menunjukkan sitologi positif pada keseluruhan teknik (40,5%). Teknik konvensional dan barbotage menunjukkan hasil serupa yaitu 39,3%. Deteksi sel ganas dengan teknik konvensional dan barbotage menunjukkan kesesuaian sangat baik yang bermakna (ĸ=0,950; p<0,001). Deteksi sel ganas dengan pewarnaan Papanicolaou dan Giemsa juga menunjukkan kesesuaian sangat baik (ĸ=0,899 dan 0,924; p<0,01). Hitung jumlah sel tumor antara kedua teknik dengan masing-masing pewarnaan menunjukkan kesesuaian cukup (ĸ=0,556 dan 0,520; p<0,01). Analisis multivariat menunjukkan bahwa lokasi lesi primer di paru (OR 4,61; IK 95% 1,33 – 16,03) dan cairan pleura yang keruh (OR 3,41; IK 95% 1,19 – 9,83) memengaruhi hasil sitologi positif cairan pleura.
Kesimpulan: Studi ini merupakan studi pertama yang meneliti mengenai penggunaan teknik barbotage pada tindakan pungsi pleura. Pungsi pleura dengan teknik barbotage merupakan alternatif diagnostik yang secara umum aman dan setara dengan teknik konvensional.

Background: Malignant pleural effusion is a predictor of poor prognosis, therefore pleural fluid cytology is an important tool to shorten the time of diagnosis. Barbotage technique is known to increase diagnostic value in urothelial malignancy, but its role in thoracic malignancies is still unknown. This study aims to compare pleural fluid cytology positivity and tumour cell count between thoracentesis with conventional and barbotage technique in thoracic malignancies.
Methods: This study is a measurement of reliability using a cross-sectional design which was carried out in emergency department, pulmonary intervention clinic and ward of National Respiratory Center Persahabatan Hospital in November 2022 – June 2023. The subjects of this study were thoracic malignancy patients with MPE who met the inclusion and exclusion criterias. Pleural fluid cytology was examined using Papanicolaou and Giemsa stains from conventional and barbotage thoracentesis samples taken on the same subject. Clinical, radiological, laboratory and histopathology data were collected from medical records.
Results: Pleural fluid cytology using both techniques was diagnostic in 34 of 84 (40,5%) MPE patients and 39,3% in each conventional and barbotage technique. Thoracentesis with both techniques showed significantly almost perfect agreement in malignant cell detection (ĸ=0.950; p<0,001). Papanicolaou and Giemsa stains also showed significantly almost perfect agreement in malignant cell detection (ĸ=0.899 and 0.924; p<0.001). Tumour cell count between both techniques using each stain showed significantly moderate agreement (ĸ=0.556 and 0.520; p<0.01). Multivariate analysis showed that primary lesion in the lung (OR 4.61; 95% CI 1.33 – 16.03) and cloudy pleural fluid (OR 3.41; 95% CI 1.19 – 9.83) increased the odds of positive pleural cytology.
Conclusion: To the best of our knowledge, this is the first study to evaluate thoracentesis with barbotage technique. Thoracentesis with barbotage technique is a generally safe alternative procedure and equivalent to conventional technique.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Akhmad Fajrin Priadinata
"Latar Belakang: Frailty pada penyakit ginjal kronik (PGK) memiliki prevalensi yang cenderung meningkat tiap tahun. PGK juga meningkatkan risiko seseorang untuk jatuh ke dalam kondisi frailty, namun kejadian frailty pada PGK sering tidak terdiagnosis dan berdampak terhadap meningkatnya mortalitas dan morbiditas pasien hemodialisis kronik. Sampai saat ini belum ada alat yang mudah, murah, dan validitasnya mendukung untuk mendiagnosis frailty pada PGK hemodialisis. Indeks frailty index-40 questions (FI-40) memiliki penilaian yang lengkap dan mendetail namun sulit dilaksanakan dalam praktik klinis sehari-hari. Penelitian ini bertujuan menilai performa diagnostik dari indeks FRAIL dan indeks CHS, yang memiliki kriteria yang sederhana sehingga lebih mampu-laksana dalam praktik sehari-hari.
Metode: Penelitian potong lintang dengan data primer dilakukan pada penderita PGK yang menjalani hemodialisis di RSUPN Cipto Mangunkusumo. Frailty dinilai dengan tiga instrumen: FI-40, indeks FRAIL dan indeks CHS. Riwayat medis dan hasil pemeriksaan laboratorium diperoleh dari rekam medis. Karakteristik pasien dan prevalensi frailty berdasarkan masing-masing instrumen dideskripsikan, lalu dilakukan penilaian parameter performa diagnostik indeks FRAIL dan Indeks CHS dengan table 2x2.
Hasil: Prevalensi frailty 28,6% (IK 95%;19,2-38%) dengan FI-40. Indeks FRAIL memiliki sensitivitas 88,46% (IK 95%: 69,86 – 97,55%) dan spesifisitas 86,15% (IK 95%: 75,34 – 93,47%). Sementara indeks CHS memiliki sensitivitas 88,46% (IK 95%: 69,86% - 97,55%) dan spesifisitas 92,31% (IK 95%: 82,95 – 97,46%). Indeks CHS unggul pada spesifisitas, positive predictive value, dan positive likelihood ratio, sehingga memiliki kemampuan lebih baik sebagai diagnostik sekunder.
Kesimpulan: Indeks FRAIL dan Indeks CHS yang diuji memiliki performa diagnostik yang baik dalam menilai status frailty frailty pada PGK hemodialisis.

Background: Frailty in chronic kidney disease (CKD) is a condition with yearly increasing prevalence. CKD itself predisposes patients for frailty, but this is often underdiagnosed and impacts on mortality and morbidity, especially in chronic hemodialysis patients. Until now, there are no effective, efficient, and valid tools to diagnose frailty in hemodialysis patients. the Frailty Index-40 questions (FI-40) is a comprehensive and detailed assessment of frailty, but is hard to use in everyday practice. This research was done to assess the diagnostic performances of the FRAIL and CHS indices, which are simpler and therefore easier to execute in daily practice.
Methods: This is a cross-sectional study with primary data from the hemodialysis unit of Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) with age over 40 years old and various characteristics were included in this study. Frailty was measured using the FI-40, FRAIL index, and CHS index. Medical history and laboratory results were acquired through medical records. Patients’ characteristics and frailty prevalences according to each instruments were described, and diagnostic parameters for each instruments were calculated based on a constructed 2x2 table.
Results: Frailty in this cohort was measured at 28.6% with FI-40, 35.2%. FRAIL index has a sensitivity of 88.46% (95%CI: 69.86 – 97.55%) and specificity of 86.15% (95%CI: 75.34 – 93.47%). Meanwhile, the CHS index has a sensitivity of 88.46% (95%CI: 69.86% - 97.55%) and specificity of 92.31% (95%CI: 82.95 – 97.46%). The CHS index offers better specificity, positive predictive value, and positive likelihood ratio. This ensures a greater and suited for secondary diagnosis.
Conclusions: FRAIL scale and CHS scale tested instruments offered excellent diagnostic capabilities for frailty in CKD patients with hemoadialysis.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Randy Satria Nugraha Rusdy
"Dermatosis autoimun bulosa (DAB) adalah sekumpulan penyakit kronik autoimun dengan ciri lepuh dan lecet pada kulit dan/atau mukosa; termasuk di dalamnya adalah pemfigus dan pemfigoid. Gangguan psikologis yang berat, hingga misalnya keinginan bunuh diri, terkadang dijumpai. Tetapi, depresi pada DAB belum banyak diteliti. Sebuah studi potong lintang observasional-analitik dilakukan di sebuah rumah sakit rujukan tersier di Jakarta pada Desember 2020-Maret 2021 untuk mengetahui prevalensi depresi pada pasien DAB serta faktor sosiodemografi dan klinis yang berhubungan. Sejumlah 33 orang subjek berusia minimal 18 tahun yang terdiagnosis DAB, tidak sedang remisi, tanpa riwayat depresi sebelum diagnosis tersebut ataupun gangguan psikiatrik lainnya, mengikuti penelitian. Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) versi Bahasa Indonesia yang telah divalidasi digunakan untuk menapis depresi dengan nilai cut-off ≥10. Beberapa variabel sosiodemografi dan klinis, termasuk tingkat risiko stres berdasarkan life events (Skala Stres Holmes dan Rahe), serta keparahan penyakit berdasarkan Autoimmune Bullous Skin Disorder Intensity Score (ABSIS) diidentifikasi. Sebagian besar subjek adalah perempuan (69,7%), berusia 47,36±13,5 tahun, menikah (78,8%), tingkat pendidikan menengah (57,6%), tidak bekerja (57,6%), penghasilan rendah (60,7%), tidak memiliki riwayat depresi pada keluarga (100%), tingkat risiko stressful life events rendah (63,6%), terdiagnosis pemfigus vulgaris (60,6%), lama sakit 1-5 tahun (72,7%), median skor ABSIS 8,75, tanpa lesi mukosa (54,5%), bergejala terkait DAB (60,6%), keterlibatan lokasi terbuka (69,7%), disertai komorbid (78,8%), menggunakan kortikosteroid sistemik ≥4 minggu (78,8%) dengan rerata dosis harian <40mg/hari (87,9%), serta mendapat juga imunosupresan lain (66,7%). Prevalensi depresi pada pasien DAB adalah 24,2%, sedangkan pada pemfigus vulgaris sebesar 40%. Berdasarkan uji bivariat, terdapat hubungan depresi dengan tingkat pendidikan (p=0,082), tingkat stressful life events (p=0,015), diagnosis pemfigus vulgaris (p=0,012), dan keterlibatan lokasi terbuka (p=0,071). Analisis multivariat mendapatkan peningkatan risiko depresi pada tingkat pendidikan tinggi (adjusted OR 9,765; p=0,039), serta skor ABSIS yang lebih tinggi daripada 1 angka di bawahnya (adjusted OR 1,039; p=0,038). Prevalensi depresi pada DAB lebih tinggi daripada di populasi umum Indonesia. Penapisan disarankan khususnya pada pasien pemfigus vulgaris, berpendidikan tinggi, dan/atau dengan kondisi yang parah. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan temuan studi pendahuluan ini.

Autoimmune bullous diseases (AIBD) is a group of chronic autoimmune dermatoses characterized by blisters and sores on the skin and/or mucosa; among them are pemphigus and pemphigoids. Severe psychological problems, even leading to suicidal thought, are not uncommonly encountered. However, depression in AIBD is rarely studied. A cross-sectional, observational analytical study was conducted in a tertiary referral hospital in Jakarta from December 2020 through March 2021 to determine the prevalence of depression among AIBD patients and related sociodemographic and clinical characteristics. Thirty-three AIBD subjects aged 18 years or older, not in remission, without recorded depression prior to diagnosis or other psychiatric disorders, were recruited. A validated Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) in Indonesian language was used to screen depression with cut-off score ≥10. Several sociodemographic and clinical characteristics, including stress-risk level according to life events by Holmes and Rahe Scale and disease severity by Autoimmune Bullous Skin Disorder Intensity Score (ABSIS) were identified. Majority of subjects were women (69.7%), aged 47.36±13.5 year-old, married (78.8%), had middle-level education (57.6%), unemployed (57.6%), low income (60.7%), without family history of depression (100%), experiencing low-risk stressful life events (63.6%), diagnosed with pemphigus vulgaris (60.6%), disease duration 1-5 years (72.7%), median of ABSIS score 8.75, without mucosal lesion (54.5%), suffering from symptoms related to AIBD (60.6%), showing involvement of exposed areas (69.7%), with comorbidities (78.8%), treated with systemic corticosteroids ≥4 weeks (78.8%) with daily doses <40mg/day (87.9%), and receiving also other immunosuppressive agents (66.7%). Prevalence of depression was 24.2% among AIBD and 40% among pemphigus vulgaris patients. Bivariate analysis showed significant correlation between depression and education level (p=0.082), stressful life events score (p=0.015), diagnosis of pemphigus vulgaris (p=0.012), and involvement of exposed areas (p=0.071). Multivariate analysis showed increased risk of depression at high level of education (adjusted OR 9.765; p=0.039) and ABSIS score higher than 1 point below (adjusted OR 1.039; p=0.038). Prevalence of depression among AIBD patients was higher than that among Indonesia’s general population. Screening is advised especially among those with pemphigus vulgaris, high level of education and/or severe condition. Further study is needed to confirm these early findings."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>