Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 51204 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Florentina Carolin Puspita Hapsari
"Latar belakang: Populasi usia lanjut dengan penyakit jantung koroner yang menjalani tindakan intervensi koroner perkutan (IKP) menunjukkan tren meningkat. Di sisi lain, kelompok usia lanjut juga dihadapkan dengan major adverse cardiac events pasca tindakan IKP. Identifikasi faktor prediktor yang mempengaruhi terjadinya MACE 30 hari diharapkan dapat menjadi sarana stratifikasi risiko pratindakan, meningkatkan luaran klinis serta menjadi pertimbangan pemilihan strategi intervensi pada pasien PJK usia lanjut.
Tujuan: Mengetahui insidens MACE 30 hari, faktor prediktor MACE 30 hari pada pasien PJK usia lanjut yang menjalani tindakan IKP, dan pengembangan model prediksi MACE 30 hari.
Metode: studi kohort retrospektif dengan menulusuri rekam medis pasien usia lanjut yang menjalani IKP di RSCM periode Januari 2017-Desember 2021. Dilakukan analisis bivariat chi-square antara faktor usia, jenis kelamin, hiperglikemia saat admisi, kreatinin serum, kelas Killip, status fungsional, status nutrisi, status frailty, dan jenis PJK dengan kejadian MACE 30 hari pascatindakan IKP. Analisis multivariat dan model prediksi dilakukan dengan metode regresi logistik.
Hasil: Terdapat 616 subjek penelitian untuk diteliti. Insidens MACE 30 hari pada pasien PJK usia lanjut sebesar 5,4%. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan antara faktor hiperglikemia saat admisi, kelas Killip, status fungsional, status nutrisi, dan jenis PJK dengan kejadian MACE 30 hari (p<0,05). Hasil regresi logistik menunjukkan Kelas Killip dan jenis PJK merupakan faktor prediktor independen terjadinya MACE 30 hari dengan adjusted OR 8,841 (IK95% 3,339-23,410) untuk kelas Killip dan adjusted OR 3,774 (1,365-10,426) untuk PJK. Model prediksi MACE 30 hari memiliki nilai AUC 0,7995 (IK95% 0,712-0,886)
Kesimpulan: MACE 30 hari pada pasien PJK usia lanjut yang menjalani IKP sebesar 5,4% dengan faktor prediktor independen kelas Killip dan jenis PJK.

Background: The elderly with coronary heart disease undergoing percutaneous coronary intervention (PCI) shows an increasing trend. On the other hand, the elderly group is also faced with major adverse cardiac events after PCI. Identification of predictors that influence the occurrence of 30-day MACE is expected to be a means of preprocedural risk stratification, improve clinical outcomes and become a consideration for selecting intervention strategies in elderly CHD patients.
Objectives: To determine the incidence of 30-day MACE, the predictors of 30-day MACE in elderly CHD patients undergoing PCI, and the development of 30-day MACE prediction model.
Methods: Retrospective cohort study by reviewing medical records of elderly patients undergoing PCI at RSCM for the period January 2017-December 2021. Chi-square bivariate analysis was performed between predictors of age, sex, hyperglycemia at admission, serum creatinine, Killip class, functional status, nutritional status, frailty status, and type of CHD with MACE events 30 days after PCI. Multivariate analysis and prediction models were performed using the logistic regression.
Results: There were 616 research subjects to be studied. The incidence of 30-day MACE in elderly CHD patients was 5.4%. The results of bivariate analysis showed a relationship between hyperglycemia at admission, Killip class, functional status, nutritional status, and type of CHD with 30-day MACE (p<0.05). Logistic regression results showed Killip class and CHD type were independent predictors of 30-day MACE with adjusted OR 8.841 (95%CI 3.339-23.410) for Killip class and adjusted OR 3,774 (1.365-10.426) for type of CHD. The 30-day MACE prediction model has an AUC value of 0.7995 (95%CI 0.712-0.886)
Conclusion: Incidence of 30-day MACE in elderly with CHD undergoing PCI is 5.4% with Killip class and type of CHD as independent predictor factors.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tessa Oktaramdani
"Latar belakang. Kondisi iskemia pada penyakit jantung koroner (PJK) berkorelasi dengan disfungsi sistem saraf otonom. Revaskularisasi melalui percutaneous coronary intervention (PCI) dapat mengembalikan keseimbangan fungsi saraf otonom dan memperbaiki prognosis. Di sisi lain, perasaan cemas yang muncul menjelang prosedur PCI, dapat memicu hiperaktivitas simpatis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ansietas terhadap perbaikan heart rate variability (HRV), sebuah teknik non-invasif untuk mengevaluasi aktivitas sistem saraf otonom; setelah tindakan PCI.
Metode. Studi dengan desain potong lintang, korelasi pretest-posttest; melibatkan 44 subjek dengan PJK stabil yang menjalani PCI elektif di Pelayanan Jantung Terpadu, Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Pengukuran HRV dilakukan sebelum PCI, kemudian diulang pasca tindakan PCI. Ansietas dinilai menggunakan kuesioner hospital anxiety depression score (HADS). Pengolahan data serta analisis statistik dilakukan dengan bantuan software SPSS 20.0.
Hasil. Sebanyak 54,5% subjek mengalami ansietas saat akan menjalani PCI. Pada kelompok tanpa ansietas, ditemukan perbaikan signifikan pada parameter HRV sebelum-setelah PCI; yaitu SDNN [standard deviation of normal to normal intervals] (Median = 26,19 vs. Median = 39,60 ; Z = -3,621 ; p < 0,001) dan parameter RMSSD [root mean square of the successive differences] (Median = 21,90 vs. Median = 30,99; Z = -2,501; p = 0,012). Sementara itu, tidak didapatkan perbaikan bermakna parameter HRV sebelum-setelah PCI, pada kelompok ansietas. Terdapat perbedaan bermakna pada kenaikan nilai SDNN antara kelompok tanpa ansietas dibandingkan dengan kelompok ansietas ansietas (Median = 9,11 vs. Median = 2,83 ; U = 154,00 ; p = 0,043).
Simpulan. Ansietas yang terjadi sebelum PCI elektif dapat menghambat perbaikan HRV pasca tindakan sehingga mempengaruhi prognosis penyakit. Diperlukan penelitian lanjutan mengenai peranan terapi ansietas menjelang PCI dihubungkan dengan luaran klinis serta prognosis pasca PCI.

Background. Chronic ischemic condition in coronary artery disease (CAD) was associated with autonomic dysfunction. Percutaneous coronary intervention (PCI) could restore perfusion so that improving autonomic balance and disease prognosis. On the other hand, pre-PCI anxiety was known to produce sympathetic hyperactivity. The aim of this study was to determine whether pre-PCI anxiety may influence heart rate variability (HRV) improvement, a noninvasive technique for the evaluation of the autonomic nervous system activity; after successful PCI.
Methods. A cross sectional studies, pretest-posttest correlation; enclose 44 patients with stable CAD undergoing PCI in Integrated Heart Service, Cipto Mangunkusumo National Hospital. HRV measurement was done before and after PCI. Anxiety symptoms was collected using hospital anxiety depression score (HADS) questionnaires. Data input and statistical analysis was carried out using SPSS 20.0 for Windows.
Results. As many as 54.5% stable CAD patients undergoing elective PCI experienced anxiety symptoms. In the anxiety group, there were significant post-PCI improvement of SDNN [standard deviation of normal to normal intervals] (Median = 26.19 vs. Median = 39.60; Z = -3.621; p < 0.001) and RMSSD [root mean square of the successive differences] (Median = 21.90 vs. Median = 30.99; Z = -2.501; p = 0.012). Post-procedure HRV improvement was not significant in patients with anxiety symptoms. There was significant difference of the SDNN improvement between non-anxiety and anxiety patients (Median = 9.11 vs. Median = 2.83; U = 154.00; p = 0.043).
Conclusions. Pre-PCI anxiety may affect HRV improvement after revascularization thus influence disease prognosis. Further studies are needed to determine the impact of pre-PCI anxiety treatment on cardiac outcomes.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2018
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agill Agassi Tsalitsa
"Implantasi stent koroner yang tidak adekuat berhubungan dengan terjadinya major adverse cardiac event (MACE). Prosedur post dilatasi pasca implantasi stent terbukti memberikan ekspansi stent yang optimal. Namun, studi mengenai aplikasi strategi ini dalam intervensi koroner perkutan primer (IKPP) masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengetahui luaran klinis dari post dilatasi pasca implantasi stent pada pasien infark miokard akut elevasi segmen ST (IMA-EST) yang menjalani IKPP dalam kurun waktu satu tahun. Penelitian ini merupakan studi kohort retrospektif. Luaran klinis primer berupa MACE yang terdiri dari kejadian infark miokard berulang, total repeat revascularization, kematian kardiovaskular dan kematian semua sebab. Luaran klinis sekunder berupa trombosis stent. Total 288 pasien yang dianalisis (130 kelompok post dilatasi dan 158 kelompok tanpa post dilatasi). Tanpa post dilatasi memiliki perbedaan bermakna dengan angka kejadian MACE yang lebih tinggi (adjusted OR 1,82 (95% IK 1,003 – 3,32, p 0,049), kematian kardiovaskular, (adjusted OR 5,29 (95% IK 1,4 – 19,2, p 0,012) dan kematian semua sebab (adjusted OR 4,05 (95% IK 1,45 – 11,3, p 0,007) dalam waktu satu tahun. Proporsi juga meningkat untuk kejadian infark miokard berulang (6,9% vs 11,4%; p 0,19) walaupun tidak bermakna secara statistik. Post dilatasi pasca implantasi stent menunjukkan luaran klinis yang lebih baik pada tindakan IKPP.

Inadequate coronary stent implantation is associated with a major adverse cardiac event (MACE). Post-dilation procedure after stent implantation has been shown to provide optimal stent expansion. However, studies regarding this application in primary percutaneous coronary intervention (PPCI) are still limited. This study aims to investigate clinical outcomes of post-dilatation after stent implantation in patients with ST segment elevation myocardial infarction (STEMI) undergoing PPCI within one year. This study is a retrospective cohort study. Primary clinical outcome is MACE which consists of recurrent myocardial infarction, total repeat revascularization, cardiovascular death and all causes of death. Secondary clinical outcome is stent thrombosis. A total of 288 patients were analyzed (130 post-dilatation groups and 158 without post-dilatation groups). Without post-dilatation, there was a significant difference with a higher incidence of MACE (adjusted OR 1.82 (95% CI 1.003 - 3.32, p 0.049), cardiovascular death, (adjusted OR 5.29 (95% IK 1.4 - 19.2, p 0.012) and all-cause mortality (adjusted OR 4.05 (95% CI 1.45 - 11.3, p 0.007) within one year. Proportion also increased for the incidence of recurrent myocardial infarction (6.9 % vs 11.4%; p 0.19) although not statistically significant. Post-dilatation procedures after stent implantation showed better clinical outcomes in patients undergoing PPCI."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2019
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Murdiati
"ABSTRAK
Latar belakang. Mean Platelet Volume (MPV) adalah penanda ukuran aktivitas
platelet. MPV yang lebih besar menunjukkan platelet aktif dan lebih adhesif.
Peningkatan MPV berhubungan dengan peningkatan angka kematian akibat
arterosklerosis, termasuk IMA-EST. Intervensi koroner perkutan primer (IKPP)
merupakan standar terapi pada IMA-EST. Tetapi pada IKPP terdapat masalah
Obstruksi Mikrovaskular (OMV) yang signifikan. Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan antara MPV dengan MB QuBE pada pasien IMA-EST
yang menjalani IKPP.
Metode dan Hasil. Tujuh puluh dua pasien (umur 30 sampai 80 tahun) dengan
IMA-EST dengan awitan kurang dari 12 jam diikutkan dalam studi ini. Setelah
dilakukan IKPP dilakukan pemeriksaan myocardial blush (MB) dengan QuBE
dan dilihat hubungannya dengan nilai MPV. Hasil penelitian ini didapatkan hasil
rerata MPV adalah 9,6 fl, rerata QuBE adalah 15,3. Analisa hubungan MPV
dengan MB QuBE memakai regresi Spearman didapatkan r= 0,03, P=0,78.
Kesimpulan. Pada populasi ini tidak terdapat hubungan antara MPV dengan nilai
QuBE dalam menilai MB pasca reperfusi.

ABSTRACT
Background. Mean Platelet Volume (MPV) is a marker of platelet activity. MPV
showed greater platelet and more active platelet and adhesive. Increased MPV is
associated with increased mortality due to atherosclerosis, including IMA-EST.
Primary percutaneous coronary intervention (PPCI) is a standard therapy in IMAEST.
But there is a problem on PPCI were microvascular obstruction (MVO)
became significant. This study aims to determine the relationship between MPV
with MB QuBE in patients undergoing PPCI.
Methods and Results. Seventy-two patients (aged 30 to 80 years) with IMAEST
with onset less than 12 hours were included in this study. After PPCI
examination myocardial blush (MB) with QuBE was done due to views related to
MPV value. The results of this research, the average of MPV was 9.6 fl, QuBE
average is 15.3. Statistic analysis using Spearman regression to look relationship
between MPV with MB QuBE obtained with result r = 0.03, P = 0.78.
Conclusion. MPV values in this population on the initial entry no relationship
with QuBE in assessing the value of post-reperfusion MB."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nababan, Saut Horas H
"ABSTRAK
Pendahuluan
Studi sebelumnya menunjukkan tebal adiposa epikardial pasien sindrom koroner akut (SKA) berhubungan dengan cardiovascular adverse event dalam tiga puluh hari.
Tujuan
Mengetahui peran tebal adiposa epikardial dalam memprediksi cardiovascular adverse event pada pasien SKA di ICCU RS Cipto Mangunkusumo.
Metode
Dilakukan studi kohort prospektif berbasis studi prognostik pada seratus dua puluh satu pasien SKA. Tebal adiposa epikardial dinilai dengan ekokardiografi transtorakal pada fase sistolik akhir (end-systole) tampilan parasternal long axis dari tiga siklus jantung. Dilakukan follow-up dalam tiga puluh hari pada semua pasien.
Hasil
Nilai median tebal adiposa epikardial adalah 2,23 mm (kisaran 0,37 – 10,8 mm). Cardiovascular adverse event terjadi pada 23 pasien (19%) dalam 30 hari; 9 subjek mengalami syok kardiogenik, 3 subjek mengalami infark miokard berulang, 4 subjek mengalami stroke iskemik, dan 7 subjek meninggal. Titik potong terbaik tebal adiposa epikardial dalam memprediksi cardiovascular adverse event adalah 2,95 mm dengan sensitivitas 65%, spesifisitas 70%, nilai duga positif 34%, nilai duga negatif 90% dengan AUC sebesar 0,690 (IK 95% 0,564-0,816, p=0,005).
Simpulan
Tebal adiposa epikardial 2,95 mm dapat digunakan untuk memprediksi cardiovascular adverse event dalam tiga puluh hari pada pasien SKA dengan sensitivitas 65%, spesifisitas 70% dan AUC 0,690.

ABSTRACT
Background
Previous study showed that epicardial adipose thickness in acute coronary syndrome (ACS) patients was associated with cardiovascular adverse events during thirty days.
Objective
To determine the role of epicardial adipose thickness in predicting cardiovascular adverse events in ACS patients at ICCU of Cipto Mangunkusumo Hospital
Method
A prospective cohort prognostic study was conducted on one hundred twenty-one ACS patients. Epicardial adipose thickness was measured with transthoracic echocardiography at end-systole from parasternal long-axis view of three cardiac cycles. 30 days follow-up was obtained in all patients.
Results
Median value of epicardial adipose thickness was 2.23 mm (range 0.37-10.8 mm). Cardiovascular adverse events were developed in 23 patients (19%) during 30 days; 9 cases of cardiogenic shock, 3 of recurrent myocardial infarction, 4 of ischemic stroke, and 7 of death. Best cut-off point of epicardial adipose thickness in predicting cardiovascular adverse events was 2.95 mm with a sensitivity of 65%, specificity 70%, positive predictive value 34%, negative predictive value 90% and AUC of 0.690 (95% CI 0.564 - 0.816, p = 0.005).
Conclusion
Epicardial adipose thickness with cut-off point 2.95 mm could be used to predict cardiovascular adverse events during thirty days in ACS patients with a sensitivity of 65%, specificity 70% and AUC of 0.690."
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
T32758
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irvantri Aji Jaya
"Intervensi koroner perkutan primer (IKPP) merupakan tindakan Angioplast dengan atau tanpa stent untuk membuka lesi yang tersumbat pada manajemen akut STEMI. Keterlambatan waktu door to ballon lebih dari 90 menit akan meningkatkan angka mortalitas pada pasien akut STEMI di rumah sakit. Faktor faktor yang berhubungan dengan lamanya waktu door to ballon memerlukan perhatian khusus bagi tenaga kesehatan khususnya perawat yang berkontribusi dalam layanan tindakan IKPP. Penelitian ini merupakan studi coss sectional dengan pengambilan data secara retrospektif yang berasal dari data sekunder 200 sampel rekam medis pasien akut STEMI yang menjalani tindakan IKPP.
Hasil analisa data teridentifikasi ada 4 faktor yang mempunyai hubungan signifikan terhadap lamanya waktu door to ballon lebih dari 90 menit yaitu: jaminan kesehatan pasien, kecepatan waktu pengaktifan kateterisasi, kecepatan waktu trsnfer pasien dan kecepatan inflate ballon. Pada akhir model multivariat menunjukan bahwa faktor yang paling dominan mempengaruhi lamanya waktu door to ballon lebih dari 90 menit adalah kecepatan waktu transfer pasien akut STEMI.

Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) is a coronary angioplasty procedure to revascularize obstructive lession in acute ST-segment-elevation myocardial infraction (STEMI) management, with or without using stent. Prolonged foor to ballon time (> 90 minutes ) will incerase hospital mortality rate in patients with STEMI. Contributing factors in door to ballon time is important for health practitioner, especially nurses who are involved in Primary PCI procedure. This was cross sectional study with a retrospective data collection. Secondary data from 200 medical records of patients were collected underwent primary PCI samples.
Data analysis showed that there are 4 factors that have significant relationship with prolonged door to ballon duration time (>90 minutes), namely patient insurance, catheterization activation time, patient transfer time, and ballon inflated time. A multivariate model showed that the most dominant factor in prolonged door to ballon time (>90 minutes) is patient transfer time. This study suggests that hospital which have primary facilities could have efforts to decrease prolonged door to ballon time.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T31961
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Basuki Hardjojo
"ABSTRAK
Tesis ini membahas perubahan tingkat pengetahuan dan sikap pegawai Universitas
Terbuka (UT) yang berpotensi penyakit jantung koroner setelah mendapat
penyuluhan Penyakit Jantung Koroner. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif
dengan desain quasi experimental. Metode intervensi yang dipilih adalah ceramah,
tanya jawab dan konsultasi. Hasil intervensi penyuluhan menunjukkan bahwa
tingkat pengetahuan meningkat secara bermakna α<0,05 dengan p.value 0,000
dibanding sebelum penyuluhan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah intervensi
penyuluhan Penyakit Jantung Koroner berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan
pegawai Universitas Terbuka yang berpotensi penyakit jantung koroner, tetapi tidak
merubah sikap sehingga disarankan manajemen UT untuk mengadakan intervensi
lagi untuk mendapatkan perubahan sikap pegawai UT yang berpotensi penyakit
jantung koroner.

Abstract
The thesis was to discuss the changes in knowledge level and attitudes of the
Indonesian Open University (UT) employees who potentially coronary heart
disease after receiving education of coronary heart disease. The research is a
quantitative study with a quasi experimental design. Intervention method chosen is
lecture, discussion and consultation. Results indicate that counseling intervention
significantly increased knowledge level of α <0.05, p.value=0.000 compare with
before the extension. The conclusion of this research is the extension of coronary
heart disease intervention effect on knowledge level of the UT's employees
potentially coronary heart disease, but did not change the attitude, so it is
recommended to UT's management to hold intervene again to get a UT's employee
attitude changes that potentially coronary heart disease."
2012
T30321
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Rochmayanti
"Penyakit jantung koroner menyebabkan penurunan fungsi fisik dan psikologis yang berdampak pada kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui faktor yang mempengaruhi kualitas hidup pasien penyakit jantung koroner. Adapun variabel independen dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, status perkawinan, ansietas, depresi, koping dan dukungan sosial. Penelitian ini menggunakan analitik korelasi dengan desain cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini ada 100 responden. Pada analisi regresi linier ganda didapat 3 variabel yang berpengaruh terhadap kualitas hidup yaitu usia, penghasilan dan depresi. Hasil penelitian lebih lanjut didapatkan depresi sebagai faktor yang paling berhubungan dengan kualitas hidup (p=0.0005). Berdasarkan hal tersebut perawat perlu mendeteksi secara dini depresi yang dialami oleh pasien dan memberikan pendidikan kesehatan.

Coronary heart disease caused decrease in physical function and psychological impact on quality of life. The aims of this study was to quality of life of patients with coronary heart disease. The independent variables in this study were age, gender, education, occupation, income, marital status, anxiety, depression, coping and social support. This study used the analytic correlation with cross-sectional design. The number of samples in this study there were 100 respondents. In multiple linear regression analysis found three variables that affect the quality of life: age, income and depression. The study further found that depression as the factors most associated with quality of life (p = 0.0005). Based on this study nurses need to be early detect patients depression and provided health education."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2011
T-Pdf
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Heni Asnah Nurjannah
"Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit adalah salah satu bagian penting dalam sistem pelayanan kesehatan Rumah Sakit yang berfokus pada pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai serta pelayanan farmasi klinik. Rumah Sakit Universitas Indonesia (RS UI) menyediakan berbagai fasilitas dan pelayanan kesehatan, salah satunya yaitu Unit Central Operation Theater (COT) yang berfokus pada penyediaan layanan prosedur tindakan operasi atau pembedahan, salah satunya yaitu tindakan CAG/PCI. Tindakan CAG/PCI adalah rangkaian tindakan terhadap jantung. Depo Instalasi Farmasi OK (Operatio Kamer) berperan dalam mendukung kegiatan unit COT dengan menyediakan berbagai paket kebutuhan tindakan operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan standar paket tindakan CAG/PCI yang telah disiapkan untuk mengoptimalkan efisiensi dan efektivitas pelayanan dan pengelolaan sediaan farmasi di unit farmasi OK RS UI. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif menggunakan data periode Juni – Agustus 2023. Data kemudian diolah menggunakan Microsoft Excel dan dinilai kesesuaiannya per pasien, per item, dan per bulan. Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan item tindakan CAG/PCI pada 77 tindakan pasien tidak sesuai dengan paket standar. Penggunaan 14% item paket standar telah sesuai dengan jumlah pada paket standar, sedangkan 51% item melebihi paket standar dan 35% lainnya di bawah paket standar. Selama bulan Juni – Agustus 2023, penggunaan item untuk tindakan CAG/PCI melebihi dari paket standar.

Pharmaceutical services in hospitals are an important part of the hospital health service system which focuses on the management of pharmaceutical supplies, medical devices and consumable medical materials as well as clinical pharmacy services. The University of Indonesia Hospital (Rumah Sakit Universitas Indonesia) provides various health facilities and services, one of which is the Central Operation Theater (COT) Unit which focuses on providing surgical procedures or surgical procedures, one of which is CAG/PCI procedures. The OK (Operatio Kamer) Pharmacy Unit plays a role in supporting the activities of the COT unit by providing various packages of operational needs. This study aims to evaluate the use of the standard CAG/PCI action package that has been prepared to optimize the efficiency and effectiveness of service and management of pharmaceutical preparations in the OK UI Hospital pharmacy unit. Data collection was carried out retrospectively using data for the period June – August 2023. The data was then processed using Microsoft Excel and assessed for suitability per patient, per item and per month. The results of the analysis showed that the use of CAG/PCI action items in 77 patient procedures was not in accordance with the standard package. The use of 14% of standard package items is in accordance with the amount in the standard package, while 51% of items exceed the standard package and the other 35% are below the standard package. During June – August 2023, item usage for CAG/PCI actions exceeds that of the standard package.
"
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Vera Febriani
"Menurut badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) pada tahun 2015, sebanyak 70% penyebab kematian pada penyakit jantung disebabkan oleh penyakit jantung koroner (PJK). Tercatat 17,5 juta kematian atau setara dengan 30,0 % dari total kematian di dunia disebabkan oleh penyakit jantung koroner (WHO, 2017). Penyakit jantung koroner merupakan gangguan fungsi jantung yang disebabkan adanya plaque yang menumpuk di dalam pembuluh darah arteri sehingga mengganggu supply oksigen ke jantung. Hal ini menyebabkan aliran darah ke otot jantung menjadi berkurang dan terjadi defisiensi oksigen. Pada keadaan yang lebih serius dapat mengakibatkan serangan jantung. Faktor risiko penyakit jantung koroner diantaranya adalah Usia, Jenis Kelamin, Hipertensi, Kolesterol, Riwayat Keluarga dan sebagainya. Jika kemungkinan seseorang untuk menderita penyakit jantung koroner dapat diprediksi sejak awal berdasarkan faktor risiko yang ada, maka tingkat kematian akibat penyakit jantung koroner dapat ditekan menjadi lebih rendah.
Tesis ini mengusulkan Model Regresi Logistik Fuzzy untuk memprediksi kemungkinan seseorang untuk menderita penyakit jantung koroner. Tahap pertama dari penelitian ini adalah membangun model prediksi, kemudian mengestimasi nilai parameter dengan menggunakan metode least square. Selanjutnya pada tahap ketiga mengaplikasikan model yang didapatkan untuk memprediksi penyakit jantung koroner. Setelah itu melakukan uji kelayakan atau kesesuaian model dengan metode Mean Degree of Membership dan yang terakhir menghitung akurasi prediksi dengan menggunakan Confusion Matrix.

According to the World Health Organization (WHO) in 2015, as many as 70% of the causes of death in heart disease were caused by coronary heart disease (CHD). It was recorded that 17.5 million deaths or the equivalent of 30.0% of the world's total deaths were caused by coronary heart disease (WHO, 2017). Coronary heart disease is a disorder of heart function caused by plaque that builds up in the arteries so it interferes with oxygen supply to the heart. This causes blood flow to be reduced and oxygen deficiency occurs. In more serious situations it can prevent heart attacks. Risk factors for coronary heart disease are Age, Gender, Hypertension, Cholesterol, Family History and so on. If there is someone who is a victim of coronary heart disease can be predicted from the beginning, then there is likely to arise more.
This thesis proposes a Fuzzy Logistic Regression Model to predict the possibility of a person suffering from coronary heart disease. The first stage of this research is to build a predictive model, then estimate the parameter values using the least square method. Furthermore, in the third stage, apply a model to predict coronary heart disease. After that, test the feasibility or suitability of the model with the Mean Degree of Membership method and finally calculate the prediction accuracy using the Confusion Matrix.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>