Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 203574 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ma’alim Fithoriq Aqwam
"Peningkatan jumlah penduduk memberikan dampak terhadap lingkungan, salah satu contoh yaitu menurunnya kualitas air akibat aktivitas penduduk yang dilakukan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan monitoring kualitas air sebagai upaya penjagaan lingkungan yang dapat dilakukan dengan cara pengujian kualitas air. Namun, diperlukan adanya waktu tunggu dalam menguji sampel sehingga konsentrasi pencemar yang dihasilkan tidak akurat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan konsentrasi, menganalisis laju perubahan yang terjadi terhadap konsentrasi total coliform dan fecal coliform akibat adanya waktu tunggu, serta menyimulasikan proses perubahan konsentrasi untuk memprediksi konsentrasi awal. Simulasi dilakukan berbasis prinsip kesetimbangan massa yang diolah dengan menggunakan persamaan ODE Linear dengan metode separable equation. Model dibangun menggunakan data hasil uji laboratorium, dimana sampel yang digunakan adalah sampel air Danau Mahoni. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa terdapat adanya perubahan nilai konsentrasi walaupun masih dalam rentang waktu tunggu maksimum pengujian sampel. Nilai laju degradasi (k) untuk total coliform dari sampel tanpa pengawetan dan dengan pengawetan memiliki rata-rata sebesar 2,64 dan 2,05. Sedangkan nilai k untuk fecal coliform dari sampel tanpa pengawetan dan dengan pengawetan memiliki rata-rata sebesar 2,48 dan 1,53. Kemudian, nilai k tersebut digunakan dalam persamaan perhitungan pemodelan untuk memperkirakan konsentrasi awal. Dari hasil simulasi yang telah dilakukan, dapat dikatakan bahwa pemodelan untuk sampel tanpa pengawetan hanya reliable saat hari ke-0, sedangkan sampel dengan pengawetan dapat digunakan hingga hari ke-2 setelah pengambilan sampel.

An increase in population has an impact on the environment, one example of which is the decrease in water quality due to the activities of residents in the area. Therefore, it is necessary to monitor water quality as an effort to protect the environment which can be done by testing water quality. However, waiting time is required in testing the sample so that the resulting pollutant concentration is not accurate. This study aims to analyze the dynamics of concentration changes, analyze the rate of change that occurs in total coliform and fecal coliform concentrations due to waiting time, and simulate the process of changing concentrations to predict initial concentrations. The simulation is carried out based on the pemisses balance principle, which is processed using the Linear ODE equation with the separable equation method. The model was built using data from laboratory tests, where the sample used was Lake Mahoni water. Laboratory test results showed that there was a change in the concentration value even though it was still within the maximum waiting time range for sample testing. The rate of degradation (k) for total coliform from samples without preservation and with preservation had an average of 2.64 and 2.05. While the k values ​​for fecal coliform from samples without preservation and with preservation had an average of 2.48 and 1.53. Then, that k value is used in modeling calculation equations to estimate the initial concentration. From the simulation results that have been carried out, it can be said that modeling for samples without preservation is only reliable on day 0, while samples with preservation can be used up to day 2 after sampling."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Owen John Raharjo Davys
"Sampel air limbah sering kali tidak dapat langsung diuji untuk parameter mikrobiologis, sehingga adanya waktu tunggu sampel. Oleh karena itu, penelitian ini akan menganalisis dinamika dan laju perubahan konsentrasi total coliform dan fecal coliform akibat adanya waktu tunggu, serta menyimulasikan perubahan tersebut agar dapat memprediksi konsentrasi awal. Pengujian sampel air limbah menggunakan metode Multi-tube Fermentation Technique (MFT). Simulasi akan menggunakan prinsip kesetimbangan massa yang diolah menggunakan “Solver” pada Microsoft Excel. Model dibangun menggunakan data dari hasil pengujian sampel di laboratorium. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa terjadi pengurangan konsentrasi seiring bertambahnya waktu tunggu, baik bagi sampel yang diawetkan maupun tidak diawetkan. Di mana, sampel yang diawetkan mengalami pengurangan konsentrasi lebih kecil dibandingkan sampel yang tidak diawetkan. Decay rate constant konsentrasi parameter total coliform sebesar 0,24/hari untuk yang diawetkan dan sebesar 0,37/hari untuk yang tidak diawetkan, sedangkan untuk parameter fecal coliform sebesar 0,17/hari untuk yang diawetkan dan sebesar 0,48/hari untuk yang tidak diawetkan. Hasil pemodelan menggunakan nilai decay rate constant tersebut menghasilkan perkiraan nilai awal yang reliable bagi kedua parameter bila sampel diawetkan, sedangkan pada sampel yang tidak diawetkan hasil perkiraan nilai awal cukup reliable.

Wastewater samples often cannot be tested immediately for microbiological parameters, resulting in sample holding times. Therefore, this research will analyze the dynamics and rate of change in total coliform and fecal coliform concentrations due to waiting time, and simulate these changes in order to predict the initial concentration. Wastewater samples were tested using the Multi-tube Fermentation Technique (MFT) method. The simulation will use the principle of mass balance which is processed using "Solver" in Microsoft Excel. The model was built using data from sample testing results in the laboratory. Laboratory test results show that there is a reduction in concentration as the waiting time increases, for both preserved and unpreserved samples. Where, preserved samples experience a smaller reduction in concentration than unpreserved samples. The degradation rate of total coliform concentration parameters was 0.24/day for preserved ones and 0.37/day for unpreserved ones, while for fecal coliform parameters it was 0.17/day for preserved ones and 0.48/day for preserved ones. not preserved. The modeling results using the degradation rate values ​​produce reliable initial value estimates for both parameters if the samples are preserved, whereas for unpreserved samples the initial value estimates are quite reliable."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dio Pratama Mu`Asry
"DAS Citarum hulu termasuk ke dalam wilayah Perencanaan Sumberdaya Air Wilayah Sungai (PSDWS) sejak tahun 2016, yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air utama dari Sungai Citarum. DAS Citarum hulu mengalami pengembangan secara pesat dan dimanfaatkan sebagai daerah pemukiman, pertanian, dan industri. Kondisi eksisting pada Sungai Citarum hulu memiliki konsentrasi fecal coliform dan total coliform yang berada dibawah baku mutu kelas II untuk fecal coliform 2000 MPN/100 ml dan total coliform 10000 MPN/100 ml. Penelitian ini bertujuan untuk mensimulasikan pencemaran bakteri fecal coliform dan total coliform di aliran sungai Citarum hulu menggunakan QUAL2Kw, mengevaluasi strategi Rencana Aksi Citarum Harum serta memberikan rekomendasi untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas di DAS Citarum Hulu menggunakan QUAL2Kw, dan menganalisis sensitivitas paramater permodelan pencemaran fecal coliform dan total coliform. Hasil simulasi konsentrasi fecal coliform dan total coliform belum memenuhi baku mutu sungai level II, diatas 2000 MPN/100 ml, dengan memiliki nilai eror sebesar 11802,412 fecal coliform dan 16656,663 total coliform. Hasil simulasi pada skenario Strategi Rencana Aksi Citarum Harum tidak efektif, karena hasil simulasi pada fecal coliform tidak memenuhi baku mutu dan total coliform pada segmen 1 – 10 belum memenuhi baku mutu, pada segmen 11 – 13 memenuhi baku mutu. Pada simulasi skenario II pada fecal coliform segmen 1 – 10 belum memenuhi dan pada segmen 11 – 13 memenuhi baku mutu, pada total coliform segmen 2 – 13 memenuhi baku mutu, tetapi pada segmen 1 belum memenuhi baku mutu dan sudah sangat mendekati baku mutu. Pada skenario III fecal coliform dan total coliform segmen Cirawa – Nanjung sudah berada dibawah baku mutu. Hasil dari analisis sensitivitas untuk konsentrasi fecal coliform dan total coliform, parameter sungai yang paling mempengaruhi pada Manning, Light Eff Factor pengurangan 5%, Bot Width pengurangan 5%, dan slope pengurangan 5%. Pada total coliform parameter sungai yang adalah Manning peningkatan 5% dan penurunan 5%, Bot Width pengurangan 5%, Pathogen Light Eff Factor pengurangan 5%, dan Bot Width peningkatan 5%.

The upstream of Citarum watershed has been included in the River Basin Water Resources Planning area since 2016, which functions as the main water catchment of ​​the Citarum River. The upstream of Citarum watershed is experiencing rapid development and is used as a residential, agricultural and industrial area. Now, in the upstream of Citarum River have fecal coliform and total coliform concentrations which are below the class II based on PP No. 21 Tahun 2021, the standar number of fecal coliform are 2000 MPN/100 ml and total coliform are 10000 MPN/100 ml. This research aims to simulating fecal coliform and total coliform bacterial contamination in the upstream of Citarum river using QUAL2Kw, evaluating the Citarum Harum Action Plan strategy and providing recommendations to maintain and improve quality in the Upper Citarum watershed using QUAL2Kw, and analyze the sensitivity of the modeling parameters for fecal coliform and total coliform pollution. The simulation results of fecal coliform and total coliform concentrations not qualified based on the river quality standard level II on PP NO. 21 Tahun 2021 which is above 2000 MPN/100 ml, with an error value of 11802.412 for fecal coliform and 16656.663 for total coliform. The simulation results in the Citarum Harum Action Plan Strategy scenario are not effective, because the simulation results on fecal coliforms   not fullfil the quality standards and total coliforms in segments 1-10 also not fullfil the quality standards, but in segments 11-13 meet the quality standards. In scenario II simulation, fecal coliform segments 1-10 not fullfil the standard but in segments 11-13 the fecal coliform fullfil the standard, in total coliform segments 2-13 fullfil the quality standard, however in segment 1, it does not fullfil the quality standard but very close to the number of the quality standard. In scenario III, the fecal coliform and total coliform in the Cirawa – Nanjung segment are already below the quality standard. The results of the sensitivity analysis for the concentration of fecal coliform and total coliform, the river parameters that most influence for the results are Manning, Light Eff Factor with 5% reduction, Bot Width with 5% reduction, and slope with 5% reduction. Meanwhile, in total coliform river parameters the most influential parameters are the incretion of 5% Manning number and decretion 5% manning number, Bot Width with 5% reduction, Pathogen Light Eff Factor with 5% reduction, and Bot Width with 5% increation."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Akmal Al Afghani
"UI merencanakan pembangunan IPAM dengan sumber air baku dari Danau Kenanga. Namun berdasarkan penelitian sebelumnya didapatkan konsentrasi melebihi Baku Mutu Air Kelas I pada PP No.82 Tahun 2001. Dibutuhkan identifikasi kualitas parameter mikrobiologis pada aliran yang menyuplai Danau Kenanga, yaitu sudetan Kali Baru.Penelitian ini melakukan identifikasi menggunakan pemodelan kualitas aliran menggunakan QUAL2Kw dengan 3 skenario. Hasil dari pemodelan diketahui terdapat peningkatan konsentrasi pencemar di hilir mencapai 3645 MPN/100mL untuk fecal coliform   dan  31574 MPN/100mL untuk total coliform. Pada skenario intervensi dilakukan pengukuran beban pencemar untuk setiap jenis kegiatan dan perencanaan pembangunan IPAL. Kegiatan pemukiman, ruko, stasiun, dan pasar meghasilkan beban pencemar paling signifikan. Intervensi yang digunakan berupa IPAL activated sludge untuk sumber pencemar signifikan pada segmen 1 hingga segmen 3 serta IPAL anaerobic filter dan sand filter pada segmen 4. Dengan intervensi, kualitas aliran sudetan Kali Baru mengalami peningkatan hilir atau inlet Danau Kenanga sehingga memenuhi Baku Mutu Air Kelas III. Berdasarkan hasil penelitian, pengendalian sumber pencemaran dapat meningkatkan kualitas aliran sudetan Kali Baru.

UI has been planning the construction of WTP which uses Kenanga Lake for its raw water source. However, the previous research concluded that Kenanga's Lake inlet didn't meet the 1st class water quality standard in PP No.82 of 2001.  It's required an identification of microbiology parameter from Kali Baru waterway diversion (WD) stream which supplies water to Kenanga Lake. The research main objective is to identify the Kali Baru WD stream quality using QUAL2Kw modelling with 3 scenarios. The modelling result indicated that there were increasing number of pollutant in the downstream, with 3645 MPN/100mL for fecal coliform and 31574 MPN/100mL for total coliform. The intervention scenario is started with measurement of pollutant load in every segment and WWTP construction planning. The settlement, shop house, train station, and market are the activites that produce the most significant loading.  Activated sludge and combination of anaerobic filter and sand filter will be used as intervention technology for significant loading from 1st to 3rd segment and for 4th segment.  There were increasing quality of Kali Baru WD downstream, so the 3rd class water quality standard achieved. Based on the research result, pollutant source management can increase the quality of Kali Baru waterway stream."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Faradila Keiko
"Enterobacteriaceae merupakan salah satu penyebab terpenting infeksi nosokomial dan komunitas. Resistensi Enterobacteriaceae terhadap agen antimikroba menyulitkan tatalaksana penyakit serta meningkatkan biaya pelayanan kesehatan. Salah satu mekanisme resistensinya adalah produksi enzim extended-spectrum beta-lactamase (ESBL). Salah satu faktor yang memudahkan timbulnya infeksi bakteri resisten adalah penggunaan alat medis invasif, contohnya tracheal tube. Oleh karena itu, diperlukan data mengenai kejadian infeksi ESBL di rumah sakit Indonesia yang dihubungkan dengan penggunaan tracheal tube sehingga dapat dilakukan usaha pencegahan dan kontrol ESBL. Penelitian ini merupakan studi cross sectional analitik menggunakan data sekunder hasil pemeriksaan kultur mikrobiologi sputum dan rekam medik 111 pasien ICU Pusat RSCM dari bulan Januari 2011 sampai Agustus 2011. Kultur sputum pasien yang menggunakan tracheal tube maupun tidak diuji resistensinya. Data dianalisis dengan uji Chi-square, p=0,05. Hasil perbandingan data antara proporsi pasien yang positif terinfeksi Enterobacteriaceae penghasil ESBL dan menggunakan tracheal tube dengan proporsi pasien yang positif terinfeksi Enterobacteriaceae penghasil ESBL dan tidak menggunakan tracheal tube adalah RR >1 dengan nilai kemaknaan p=0.003. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan tracheal tube merupakan faktor risiko terhadap kejadian infeksi Enterobacteriaceae penghasil ESBL.

Enterobacteriaceae is one of the most important cause of nosocomial and community-acquired infection. Resistance of Enterobacteriaceae to antimicrobial agents causes difficult choice of antimicrobial agents and increase healthcare cost. One of the mechanism of resistance is the production of extended-spectrum beta-lactamase (ESBL) enzyme. One of the factors contributing to the infection of resistant bacteria is the use of invasive medical devices, for example tracheal tube. Therefore, data for the emergence of ESBL-producing Enterobacteriaceae infection associated with the use of tracheal tube in hospitals in Indonesia is needed so that prevention and control of infection can be established. This research is an analytic cross sectional study using secondary data results from microbiological examination of sputum culture and medical records of 111 patients from the Adult ICU RSCM in January 2011 until August 2011. Sputum culture of patients using and not using tracheal tube were tested for resistance. The data is analyzed with Chi-square, p=0,05. The result of data comparison between proportion of patients with positive ESBL-producing Enterobacteriaceae infection using tracheal tube to the proportion of patients not using tracheal tube is RR > 1 with significance value p=0.003. This suggests that the use of tracheal tube is the risk factor of ESBL-producing Enterobacteriaceae infection."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arcci Pradessatama
"Enterobacter penghasil extended spectrum beta-lactamse (ESBL) merupakan organisme yang resisten terhadap beta-lactamase jenis baru seperti sefalosporin. Kejadian ESBL pada instansi kesehatan diketahui meningkatkan lama rawat pasien, biaya perawatan, dan angka kematian. Prevalensi ESBL juga terus meningkat secara signifikan sehingga ESBL merupakan masalah yang serius bagi dunia kesehatan. Pasien yang di rawat di rumah sakit, khususnya Intensive Care Unit (ICU) cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kolonisasi ESBL.Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui prevalensi ESBL di ICU dan hubungannya dengan salah satu faktor risiko kolonisasi, yaitu riwayat rawat inap. Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan sampel sejumlah 97 orang yang merupakan pasien ICU Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) dalam tahun 2011. Identifikasi ESBL dilakukan dengan uji laboratorium mikrobiologi sesuai standar The Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) 2010. Data riwayat rawat inap didapatkan dari rekam medik pasien yang kemudian dikategorikan menjadi pernah dirawat dan tidak pernah dirawat. Hasil uji labotatorium menunjukkan 26 dari 97 sampel (26.8%) mengalami kolonisasi ESBL. Data kemudian dianalis menggunakan uji hipotesis chi-square. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara riwayat rawat inap dengan kejadian ESBL (p=0.798). Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara riwayat rawat inap sebelum masuk ICU dengan angka kejadian ESBL di ICU RSCM pada tahun 2011.

Enterobacter producing extended spectrum beta lactamases (ESBL) are organisms which develop resistance to new type beta-lactam antibiotic. ESBL in health instances are known to increase hospital length of stay, costs, and mortality rate. ESBL prevalences increase significantly nearly in every part of the world. Hospitalized patient, especially those in Intensive Care Unit (ICU) tend to have an increased risk of ESBL colonization. Thus ESBL is a serious threat. The objectives of this study is to identify the prevalence of ESBL in ICU and its correlation with hospital admission history. This study used cross-sectional design with 97 samples taken from ICU Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) in 2011. Identification of ESBL used the standardized method according to The Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) 2010. The hospital admission history data was taken from patient’s medical record in ICU. Laboratory test results show 26 of 97 samples (26.8%) were colonized with ESBL. Chi-square is used to analyze the data which shows that there is no correlation between hospital admission history and ESBL colonization (p=0.798). It is concluded that there is no correlation between hospital admission history and ESBL colonization in ICU RSCM in 2011."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alya Iranti
"Resistensi antibiotika merupakan tantangan dalam praktik kedokteran. Salah satu prevalensi resistensi yang cenderung meluas secara global adalah terhadap Enterobacteriaceae penghasil ESBL, suatu kelompok bakteri yang mampu menghancurkan antibiotika beta-laktam, seperti halnya E. coli dan K. pneumoniae. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kepekaan antibiotika golongan kuinolon dan karbapenem terhadap bakteri penghasil ESBL berdasarkan data yang diperoleh dari LMK FKUI sepanjang tahun 2018-2019. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi E. coli dan K. pneumoniae ESBL positif, kurang dari 5% terhitung tahun 2018 hingga 2019. Prevalensi terbanyak berasal dari kisaran usia > 50 tahun dengan jenis kelamin perempuan. Secara umum sensitivitas ESBL terhadap antibiotika golongan kuinolon kurang dari 50% terhadap E. dan K. pneumoniae ESBL positif dari total 7 pasien yang diperiksa. Sementara itu, sensitivitas antibiotika golongan karbapenem terhadap E. coli dan K. pneumoniae ESBL positif mencapai 100% dari total 7 pasien yang diperiksa. Saran untuk menurunkan prevalensi infeksi ESBL dapat dilaksanakan melalui pengendalian infeksi, meningkatkan kesiagaan transmisi, dan pengendalian tingkah laku dalam penggunaan antibiotika.

Antibiotic resistance is considered as a challenging issue in the field of medicine. One of the highest prevalences of antibiotics resistance which tends to constantly increase occurs amongst Enterboacteriaceae that produces extended spectrum beta lactamase (ESBL) such as E. coli and K. pneumoniae, a group of enzyme-producing bacteria that could hydrolyze the beta lactam components. This study aims to compare the sensitivity of class of antibiotics quinolone and carbapenem towards the incidences of ESBL infection during the periods of 2018-2019 at the Clinical Microbiology Laboratory of Faculty of Medicine University of Indonesia. The results showed that the prevalence of both E. coli and K. pneumoniae infection were less than 5%, both in 2018 and 2019. The highest prevalence of ESBL infection occured in females aged 50 and above. Generally, the sensitivity of ESBL towards class of quinolone were less than 50% from total of 7 patients that examined. On the otherside, the sensitivity of ESBL towards class of carbapenem reached 100% from total of 7 patients that examined. From this study, it can be suggested to decrease the prevalence of ESBL infections, several measures that should be applied are controlling and preventing the infection, increasing the awareness of transmission-based precautions, and improving rationalization patients behavior of antibiotics."
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Ramadhan Naratama
"Standar Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa setiap makanan dan minuman tidak boleh mengandung Escherichia coli. Tujuan penelitian adalah menentukan kualitas mikrobiologis dari makanan siap saji dan minuman yang dijajakan di kantin kampus FMIPA UI Depok. Sebanyak 15 sampel, terdiri dari 10 jenis makanan siap saji, empat jus yang berbeda, dan air keran diperkaya dalam medium Buffered Peptone Water BPW sebelum diuji koliform. Uji koliform dari setiap sampel dilakukan pada medium kromogenik Chromocult Coliform Agar - Enhanced Selectivity CCA - ES dan Harlequin E. coli Coliform Agar HEC dan medium fluorogenik Readycult Coliform 100 RC 100 pada suhu 37oC. Hasil menunjukkan bahwa semua sampel mengandung bakteri koliform non - E. coli dan 12 di antaranya mengandung Escherichia coli. Isolasi dari sampel memperoleh 12 strain E. coli dan 15 isolat koliform non-E. coli. Uji koliform fekal dilakukan dengan menggunakan medium RC 100 pada suhu 44,5oC serta diperkuat dengan uji indol menggunakan reagen Kovac rsquo;s. Hasil uji menunjukkan bahwa E. coli yang terdapat pada 12 sampel berasal dari fekal. Hanya 7 dari 15 isolat koliform non - E. coli merupakan koliform fekal non - E. coli. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa kualitas mikrobiologis dari makanan dan minuman siap saji kantin FMIPA UI tidak memenuhi standar dari Kementerian Kesehatan.

The standards from the Ministry of Health state that food and drinks should be free of Escherichia coli. The aim of this research was to assess the microbiological quality of ready to eat foods and drinks that were offered at a canteen in the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Indonesia, Depok. Fifteen samples comprising of 10 different foods, four different juices, and tap water were enriched in buffered peptone water BPW before tested for the presence of coliforms using two chromogenic media Chromocult Coliform Agar Enhanced Selectivity CCA ES and Harlequin E. coli agar HEC and a fluorogenic medium Readycult Coliform 100 RC 100 at 37oC. Results showed that all samples contained non E. coli coliforms and 12 of them contained Escherichia coli. Twelve E. coli strains and 15 non E. coli coliform isolates were isolated. Fecal coliform tests were conducted for the E. coli strains and coliform isolates by performing a coliform test with Readycult coliform 100 at 44.5oC. The tests were strengthened with an indole test that uses a Kovac rsquo s reagent. The tests showed that the isolated E. coli from 12 samples were of fecal origin while only 7 out of 15 coliform isolates were fecal non E. coli coliforms. It was concluded that the microbiological quality of the canteen rsquo s ready to eat food and drinks did not fulfill the standards from the Ministry of Health. "
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2017
S68168
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Adiba Putri Rahmahakim
"Air merupakan sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup dan harus selalu terjaga kualitasnya. Pengujian kualitas air perlu dilakukan segera setelah pengumpulan sampel, namun seringkali laboratorium tidak dapat menganalisis sampel air secara langsung dan memungkinkan penyimpanan sampel memerlukan waktu tunggu (holding time). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan konsentrasi terhadap waktu tunggu, menganalisis laju reaksi penguraian, serta menyimulasikan perubahan konsentrasi BOD dan COD untuk mengetahui konsentrasi awal. Perubahan konsentrasi terhadap waktu tunggu diketahui melalui metode pengujian parameter BOD dan COD yang diambil dari sampel air Danau Mahoni dan diuji di laboratorium pada t(0), t(0,25), t(2), t(5), t(7), dan t(14) dalam satuan hari. Adapun analisis laju reaksi dilakukan perhitungan kesetimbangan massa dan disempurnakan menggunakan ‘Solver’ pada Microsoft Excel. Sedangkan simulasi perubahan konsentrasi BOD dan COD untuk mengetahui konsentrasi awal dilakukan dengan perhitungan solusi persamaan diferensial dari model yang telah dibuat. Berdasarkan analisis, diperoleh bahwa perubahan konsentrasi parameter BOD dan COD terhadap holding time cenderung menurun pada semua sampel. Konsentrasi BOD secara keseluruhan mengalami penurunan signifikan konsentrasi BOD yang terjadi setelah pengukuran t(2). Konsentrasi COD sampel dengan pengawetan mengalami penurunan signifikan pada pengukuran t(2). Sedangkan konsentrasi COD sampel tanpa pengawetan menurun signifikan setelah waktu pengukuran t(2) dan t(7). Nilai KD BOD dengan pengawetan 1 dan 2 berturut-turut adalah 0,064/hari dan 0,059/hari. Sementara itu, KD BOD pada sampel tanpa pengawetan 1 dan 2 berturut-turut adalah 0,124/hari dan 0,0827. Nilai KD COD dengan pengawetan 1 dan 2 berturut-turut yaitu 0,004/hari dan 0,0169/hari. Sementara itu, pada sampel tanpa pengawetan 1 dan 2, diperoleh nilai KD COD berturut-turut yaitu 0,039/hari dan 0,047/hari. Nilai KD BOD dan COD pada sampel dengan pengawetan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan sampel tanpa pengawetan. Hal ini menunjukkan bahwa pengawetan mampu memperlambat laju penguraian BOD dan COD dalam sampel air. Pemodelan parameter BOD dan COD sampel dengan pengawetan maupun tanpa pengawetan untuk memperkirakan nilai konsentrasi awal secara efektif dapat digunakan hingga t(2).

Water is a natural resource that is very important for the life of living things and its quality must always be maintained. Water quality testing needs to be done immediately after sampling, but laboratories often cannot analyze water samples directly and allow sample storage to require holding time. This study aims to analyze the dynamics of changes in concentration during holding time, analyze the rate of decomposition reactions, and simulate changes in concentrations of BOD and COD to determine initial concentrations. The change in concentration during holding time is known through the BOD and COD parameter testing methods taken from Lake Mahoni water samples and tested in the laboratory at t(0), t(0.25), t(2), t(5), t(7) ), and t(14) in days. The reaction rate was carried out by calculating the mass balance and using 'Solver' in Microsoft Excel. Meanwhile, the simulation of changing the concentration of BOD and COD to determine the initial concentration was carried out with differential solutions from the model that had been made. The analysis found that changes in the concentration of BOD and COD during holding time tended to decrease in all samples. BOD concentration as a whole experienced a significant decrease in BOD concentration that occurred after t(2) measurement. The COD concentration of the samples with preservation decreased significantly in the t(2) measurement. In contrast, the COD concentration of samples without preservation was significantly reduced after the measurement time t(2) and t(7). KD BOD values with preservation 1 and 2 were 0.064/day and 0.059/day, respectively. Meanwhile, the samples without preservation 1 and 2 were 0.124/day and 0.0827 respectively. The KD COD values with preservation 1 and 2 were 0.004/day and 0.0169/day, respectively. Meanwhile, the KD COD values were obtained for samples without preservation 1 and 2, respectively, 0.039/day and 0.047/day. KD BOD and COD values in samples with preservation tended to be lower than those without preservation. This condition shows that pickling can slow down the rate of decomposition of BOD and COD in water samples. BOD and COD modeling with or without preservation to determining initial concentration values can be used up to t(2)."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Debbie Valonda S.
"Latar Belakang Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui waktu yang efektif dalam menurunkan kadar total coliform dengan menggunakan sinar ultraviolet pada air limbah terolah di outlet Instalasi Pengolahan Air Limbah Puskesmas X Jakarta Tahun 2022.  
Metode Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain studi eksperimen. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 64 sampel air limbah terolah pada outlet di Instalasi Pengolahan Air Limbah Puksesmas X Jakarta. Data kadar total coliform didapatkan dari hasil pemeriksaaan sampel di laboratorium terakreditasi. Sinar ultraviolet menggunakan lampu TL UVC merk Philips dengan daya  15 watt. 
Hasil  Berdasarkan rata-rata persentase penurunan kadar Total Coliform pada sampel setelah mendapatkan perlakuan dengan sinar ultarviolet setelah 2 menit sebesar 10%,  setelah 4 menit sebesar 21,25%, setelah 6 menit sebesar 26,75%, setelah 8 menit sebesar 42,5%, setelah 10 menit sebesar 58,75%. Persentase penurunan total coliform setelah 10 menit penyinaran memiliki efektifitas yang paling tinggi. Dari uji korelasi diketahui bahwa ada hubungan yang kuat antara lama penyinaran ultraviolet dengan penurunan total Coliform.

Background This study aims to determine the effective time to reduce total coliform levels by using ultraviolet light in treated wastewater at the outlet of the Wastewater Treatment Plant of Health Center X in Jakarta in 2022.
Methods This research uses quantitative research methods with an experimental study design. The number of samples in this study were 64 samples of treated wastewater at the outlets of the Wastewater Treatment Plant of Public Health Center X Jakarta. Data on total coliform levels were obtained from the results of examination of samples in an accredited laboratory. Ultraviolet light using Philips brand TL UVC lamp with 15 watts of power.
Results Based on the average percentage decrease in Total Coliform levels in the sample after receiving treatment with ultraviolet light after 2 minutes by 10%, after 4 minutes by 21.25%, after 6 minutes by 26.75%, after 8 minutes by 42.5 %, after 10 minutes of 58.75%. The percentage of total coliform decrease after 10 minutes of irradiation had the highest effectiveness. From the correlation test, it is known that there is a strong relationship between the duration of ultraviolet irradiation and the decrease in total Coliform.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>